Kategori
Fiksi

Pergi ke Toserba, Kim Aeran

Aku pergi ke toko serba ada. Paling banter beberapa kali dalam sehari, paling sedikit seminggu sekali, aku pergi ke sana. Dan tentu saja, seringnya, aku selalu berakhir memerlukan sesuatu.

Seoul, 2003, ketika perjanjian-perjanjian dan kesempatan saling bertemu serta bencana-bencana berlalu seperti kotak-kotak yang dipakai untuk pindahan. Bagi kami, sambil menatap hampa pada tangan kosong kami, hadirlah toserba, seperti sebuah legenda yang asal-usulnya telah hilang dalam kabut waktu. Seperti seorang simpanan suami yang duduk di ruang tamu, bertingkah tanpa perasaan berdosa. Atau seperti waktu vakum – tertutup dalam kaleng makanan. Tak ada yang membangkitkan kecurigaan.

Bagi orang Seoul tahun 2003, kebiasaan menjadi isu yang sama pentingnya dengan keselamatan. Dan bagi mereka yang pucat pasi, orang-orang yang terus-menerus memeras otaknya untuk mengatasi masalah yang dihadapi orang Seoul tahun 2003, toserba datang. Bertebaran di sana. Mereka muncul dalam sekejap.

Banyak orang datang dan pergi ke toserba. Siapa mereka? Tidak mungkin kita tahu pasti, tetapi mereka semua adalah orang-orang yang setidaknya punya satu album foto mereka sendiri. Orang-orang yang, berada di tempat kedua saat lomba lari di hari olahraga sekolah, terkejut bersitatap dengan bocah di tempat pertama yang melirik ke belakang; atau yang mengemis minta uang dari saudara mereka untuk kencan dengan seorang gadis; atau melihat pertanyaan-pertanyaan di halaman pertama di tiap buku ujian memuakkan yang mereka dapatkan; atau yang mencari kata-kata seperti “alat kelamin” atau “hubungan seksual” di kamus, meski mereka tahu betul apa artinya. Atau orang yang akan melakukannya suatu hari nanti. Tetapi kita tetap tidak bisa saling mengenal. Hal semacam itu bukan kebiasaan kami – belum.

Orang yang pernah kujumpai sekali, atau mungkin tidak sama sekali, mampir di toserba beberapa kali dalam sehari. Di antara mereka, akan ada pasangan muda yang makan ramyeon setelah berhubungan seks di ruang video pribadi, dan mungkin ada wanita yang membeli susu, haus setelah melakukan aborsi di rumah sakit terdekat, lalu seorang sarjana pengangguran yang hendak membeli rokok setelah mendapat cacian dari ayahnya, seorang seniman yang berkarya dengan menyembunyikan namanya, seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan, mata-mata, atau mungkin Yesus yang menyamar jadi pengemis. Tetapi toserba tidak akan bertanya. Itu benar-benar penyambutan yang paling hangat dan murah hati.

Tempat ini adalah lingkungan perumahan di dekat sebuah universitas. Ada tiga toserba. Berpusat di sekitar perumahan, tiga toserba itu membentuk pola sebuah segitiga, terpisah satu sama lain kurang dari tiga puluh meter. LG25 berada di samping perumahan, Family Mart berada tepat di seberang jalan, dan 7-Eleven agak jauh dari Family Mart.

Dalam garis lurus dari perumahan adalah LG25, berbelok sedikit ada Family Mart, dan berbelok lagi ada 7-Eleven.

Aku tidak ingat kapan ketiga toserba itu berdiri di sana. Hal-hal akan terus muncul dan menghilang di tempat ini, dan toko-toko yang muncul sekali kemudian akan muncul lagi. Motel murah, warnet, kedai kopi, pub, gereja … Dan tak lama kemudian, toserba mulai nongkrong di antara toko-toko ini seperti siswa pindahan berpakaian rapi yang duduk di antara murid lain.

*

 

Toko yang paling sering kukunjungi adalah 7-Eleven. Tidak ada alasan khusus, hanya karena lokasinya; saat berjalan pulang, toko itulah yang pertama kali terlihat. Aku selalu mampir ke toserba itu saat jam kerja ketika mobil-mobil membentuk karangan bunga Natal yang panjang dan berkelap-kelip. Dalam perjalanan pulang, 7-Eleven akan berdiri di sana, papan tandanya bersinar terang. Tempat itu, memamerkan isi perutnya dari lantai ke langit-langit lewat dinding kaca, seolah-olah tidak ada yang disembunyikan. Ketika aku melewati 7-Eleven, aku mulai ragu, “Mungkinkah tidak ada satu pun yang kuperlukan di antara banyak barang itu?” Kemudian, seperti seorang guru dengan lembut menepuk kepala muridnya, memberi tahu jawaban yang benar untuk sebuah soal matematika yang dijawab salah, 7-Eleven selalu menawarkan sesuatu yang akan kubawa.

Aku masih punya tisu toilet di rumah, tetapi kita tidak pernah tahu kapan semua akan habis, jadi aku akan membeli tisu toilet. Aku tidak punya persediaan nasi di rumah, tetapi karena nasi adalah sesuatu yang selalu ada, aku akan membeli sekaleng tuna. Karena aku sudah membeli sekaleng tuna, aku harus memakannya dengan nasi, dan jika aku punya sajian makanan seperti itu, aku ingin menutupnya dengan pencuci mulut yang manis, jadi aku akan beli yoghurt.

Suatu hari pemilik 7-Eleven dengan rompi seragam hijau menyapaku.

”Halo.”

Saat mata kami bertemu tak terduga, alat pembaca barcode memindai ramyeon kemasan dengan tangan terlatihnya.

“Kamu tinggal di sekitar sini?”

Dia memiliki kulit berwarna tembaga dan perawakan gempal. Saat aku menyerahkan 650 won untuk ramyeon kemasan, kujawab, “Ya,” dan aku bergegas keluar dari toserba itu. Tetapi sejak itu, setiap kali aku ke 7-Eleven, lelaki itu mulai tanya macam-macam tiap kali aku membayar belanjaanku.

“Kamu mahasiswa, ya?”

“Iya.”

“Tahun ketiga?”

“Iya.”

“Tinggal sendiri?”

“Iya.”

“Kuliah di Universitas K?”

“Bukan.”

“Di universitas mana?”

Pelahan kusebut nama universitasnya. Dan setelah itu, kupikir, ya tuhan, pertanyaan berikutnya semoga bukan, “Apa yang kamu pelajari?” Dan ternyata pertanyaannya memang ini:

“Apa yang kamu pelajari?”

Tak diragukan lagi, jika kukatakan bahwa yang kupelajari kesusastraan, tentu dia akan memberikan pidato yang berapi-api tentang pandangan sastrawinya, dan jika kukatakan bahwa aku kuliah di jurusan seni, dia akan mengabsen nama-nama seniman terkenal yang dia tahu. Jika kukatakan bahwa aku mempelajari manajemen pementasan atau hubungan internasional, boleh jadi aku akan dilempari dengan lebih banyak pertanyaan lagi, seperti, “Apa itu?” “Kapan dilaksanakan?” “Apa yang akan kaulakukan setelah lulus?” Dan kemudian dia akan mengatakan bahwa dia “tahu” siapa aku.

Aku berbohong padanya. Kuliner. Dengan itu ia mencoba berseloroh, “Wah! Pasti kamu hebat ngurus rumah!” Lelaki itu akan mulai lagi melanjutkan, “Jadi, kapan kamu akan lulu…”

Jika pada saat itu microwave tidak mengeluarkan bunyi ping, dan semangkuk nasi yang telah dipanaskan tidak diserahkan padaku, dia mungkin akan bertanya lagi, “Jadi, nanti mau kerja di mana?” Ketika aku mulai bergegas pergi, membawa sebuah tas plastik dengan logo 7-Eleven, dia berbicara pada gadis SMA yang telah menunggu di belakangku.

“Bagaimana kakak perempuanmu? Yang ada di universitas kota itu …”

Sejak saat itu, aku tak lagi pergi ke 7-Eleven.

Sebuah jongko makanan ringan muncul di antara LG25 dan perumahan. Kios itu menjual barang-barang seperti tteokbokki, sundae, dan kue ikan kenyal dengan kaldu bening. Pramusajinya seorang wanita paruh baya dan anak lelakinya. Jongko itu selalu ramai oleh orang-orang yang bosan dengan makanan ringan tengah malam yang disediakan di toserba. Saat aku lapar malam-malam, aku pergi ke sana juga, tentu saja. Di sana kubeli pangsit goreng berbentuk jelek dicampur tteokbokki seharga dua ribu won. Ibu dan anak itu tidak bertanya, apa yang sedang kupelajari, tetapi ketika aku membeli tteokbokki saja, mereka akan menambahkan potongan pangsit goreng atau irisan ubi goreng. Sebagai pelayanan ekstra, wanita tua itu akan selalu membungkukkan tubuhnya ke arahku saat aku berdiri.

Seperti di waktu-waktu lainnya, aku pergi ke jongko itu untuk membeli tteokbokki. Hari itu, tidak ada si wanita tua. Jadi anak laki-lakinya itu yang menjalankan jongkonya sendirian. Ia tampak berusia sekitar akhir dua puluhan dan berkulit gelap, namun memiliki cara bicara yang tak biasa. Saat dia sedang melapisi pangsit goreng dengan saus tteokbokki pedas, seperti yang pernah dilakukan pemilik 7-Eleven,
dia mulai bertanya kepadaku ini itu. Aku menanggapi pertanyaannya dengan seperlunya. Seperti yang dilakukan ibunya, dia membungkuk untuk pelayanan ekstra. Aku menahan napas sampai dia kembali ke postur tubuhnya yang biasa. Dia bertanya, apa yang kupelajari. Setelah ragu sejenak, aku berbohong: “Sastra Korea.” Dengan rasa ingin tahu yang tulus, dia bertanya lagi, apa yang dapat kulakukan dengan gelar sarjana sastra Korea. Aku berkata, apa yang terlintas dalam pikiran, “Nah, Anda bisa menjadi seorang akademisi, atau mungkin seorang jurnalis, atau guru.” Memikirkan tentang hal itu sekarang, aku mengatakannya tanpa ketulusan, tetapi juga tidak membuat sakit hati. Di balik asap yang mengepul dari tong berisi sup, ekspresi lelaki itu tampak muram. Berdiri di hadapanku, mengaduk kaldu ikan dengan sendok panjang, tampak ia berpikir sebentar, lalu bicara dengan nada tertekan.

“Aku juga lulusan universitas. Kerja begini sekadar menjalankan kehidupan yang sederhana.”

Keheningan yang aneh menyapu kami sejenak.

Sejak itu, aku tidak lagi pergi ke jongko itu.

Setelah itu, tiba-tiba segalanya seperti menjadi masalah, apakah aku harus menyapa mereka saat aku lewat, terutama si lelaki. Jika aku menyapanya, tentu akan merepotkan, sebab aku harus melewatinya beberapa kali setiap hari, tetapi kemudian aku khawatir tentang bagaimana mereka akan memandangku, jika aku tak mampir ke jongkonya. Ketika aku harus jalan melewatinya, beberapa meter sebelumnya pikiran itu akan mulai menggangguku. Melewatinya tanpa menyapa sepatah kata pun, bagiku terasa lebih alami dan lebih nyaman. Jika mereka dan aku menghindari tatapan masing-masing, aku pura-pura tidak tahu, seolah-olah sudah ada kesepakatan bersama.

Toserba kedua yang sering kukunjungi adalah Family Mart. Di Family Mart, penjaga konternya wanita, yang kutaksir, berusia di empat puluhan akhir. Rambutnya acak-acakan dengan alis disulam. Dikelilingi barang dagangan di semua sisi, perempuan itu selalu tampak mampus kebosanan. Kadang aku makan ramyeon kemasan di sana dengan punggung membelakangi wanita itu, berusaha keluar dari jangkauan temperamen buruknya.

Family Mart menjalankan bisnisnya paling boyot dibanding tiga toserba yang ada. Mungkin karena, tidak seperti 7-Eleven, pemiliknya tidak merasa wajib someah. Hanya ada satu waktu ketika Family Mart ramai. Saat toserba LG25 di seberang jalan tutup. Plang toko LG25 diturunkan dan bagian dalamnya benar-benar dikosongkan dengan cepat. Hal pertama yang dilakukan Family Mart saat itu adalah menyingkirkan meja plastik tempat pelanggan biasa duduk dan makan ramyeon atau bubur instan. Wanita itu tampak sibuk dan jengkel, dan meja plastik tempat pelanggan makan atau duduk-duduk membunuh waktu membuatnya tambah sebal. Dia mungkin tidak membayangkan bahwa beberapa bulan kemudian Q-Mart yang jauh lebih besar dan mentereng akan muncul di tempat LG25. Setelah pembukaan Q-Mart di seberang jalan, bisnis di Family Mart kembali bergerak tenang seperti sebelumnya. Tapi aku terus pergi ke Family Mart. Seseorang yang hidup sendiri seperti aku memang membutuhkan jalur gerak yang tetap dan kebiasaan tetap. Yang membuatku tak lagi ke Family Mart adalah saat wanita penjaga konter itu meminta identitasku saat aku menyodorkan satu pak kondom di meja kasir. Alasanku membeli kondom di toserba itu, karena mesin penjual otomatis di stasiun kereta bawah tanah terlalu jauh, dan aku tidak punya keberanian untuk masuk, atau keberanian untuk keluar dari toko khusus orang dewasa. Berpikir kalau perasaan malu lebih baik daripada tidak bertanggung jawab, aku meletakkan satu pak kondom seperti pada permainan kartu; dan tepat pada saat itu, pemilik toko yang tampak bosan, atau mungkin juga karena dia benar-benar bosan, bertanya dengan pandangan penuh curiga, “Berapa umurmu?”

Saat aku mengeluarkan dompet untuk mengambil KTP, aku sadar ada tatapan penasaran dari orang-orang yang mengantre di belakangku. Mereka bertanya, mengapa begitu lama membayar, aku berkeringat. Dalam sekejap, wanita itu sudah sembarangan mempermalukan seorang pelanggan perempuan yang untuk membeli satu kotak kondom harus berpikir sepuluh kali, dan harus membeli makanan ringan yang sebenarnya tidak dia butuhkan untuk mengakalinya. Sejak itu, setelah 7-Eleven, aku tidak lagi pergi ke Family Mart. Untuk toko kelontong besar, macam 7-Eleven atau Family Mart, kehilangan satu pelanggan bukanlah masalah serius, tetapi tetap saja, saat itu aku berpikir bahwa aksi boikotku merupakan sebuah balas dendam mematikan. Bayanganku, setiap kali aku membeli sesuatu di Family Mart, wanita itu mungkin akan berpikir, “Cewek yang beli kondom, cewek yang beli kondom.” Ya, pikiran itu juga yang ikut berperan pada keputusanku untuk tidak lagi pergi ke sana.

*

Jadi, melalui pengalaman yang memalukan dan sepele ini, dengan alasan yang cukup adil, pilihan terakhirku Q-Mart. Fitur pertama yang paling kentara dari Q-Mart adalah pintu otomatisnya. Seperti binatang buas dengan indera penciuman yang tajam, pintu otomatis Q-Mart akan meringkuk, dan kemudian jika ada pelanggan yang masuk ke dalam, ia akan terbuka lebar-lebar, menyalak. Pintu otomatis selalu terbuka seolah menawarkan keselamatan.

Pasangan yang menjalankan bisnis Q-Mart berusia akhir empat puluhan. Mereka mungkin membuka Q-Mart dengan kelebihan dana talangan dari krisis keuangan beberapa tahun yang lalu. Aku tidak tahu pasti. Tetapi karena pasangan itu punya wajah yang lembut, aku yakin tentang dugaanku. Orang-orang dengan kepribadian begitu, jarang mencurigai orang bahkan pada usia seperti itu, cenderung memilih tinggal di lingkungan yang membuat mereka tetap jatmika. Mereka tidak tahu tentang penipuan, pengkhianatan, eksploitasi, atau ketidaksetaraan. Mereka mungkin orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan setara dengan kerja keras mereka, atau bahkan memperoleh lebih. Ada semacam kekejaman yang tersembunyi dalam kelembutan ini, yang tidak mereka sadari. Jika itu bukan kebenaran, alasanku memaksakannya menjadi kenyataan adalah bahwa setelah melakukannya, keadaanku terasa agak nyaman. Dalam hal itu, tanpa disadari, aku mungkin menyerupai salah seorang pemuda kulit hitam yang menjarah Koreatown selama kerusuhan 1992 di LA. Dengan melunakkan pandangan pada pasangan yang lembut ini, aku bisa sedikit iri pada lingkungan mereka. Aku jujur dan sangat miskin, dan mereka kaya berkat ketidakjujuran mereka. Kebajikan adalah kelebihanku; sifat baik seperti barang dagangan di toko kelontong, bisa ditukar dengan kapan saja.

Hal kedua tentang Q-Mart adalah musiknya. Selalu ada musik yang diputar, biasanya musik klasik yang santai dan menenangkan. Musik di Q-Mart membuat para pelanggan bertahan lebih lama dengan produknya. Seperti tindakan sederhana membungkuk pelan-pelan untuk memungut bunga cantik yang jatuh di jalan setapak, di Q-Mart, gerakanku yang mengambil sebungkus rumput laut siap makan Yangban atau air mineral Jeju SamDaSoo terasa jadi elegan. Alasanku merasakan semacam kepastian setiap kali aku pergi ke toserba mungkin karena, dengan pergi kesana, aku berpikir bahwa aku bisa membeli kehidupan sehari-hari, bukan hanya barang dagangan. Ketika aku pulang dengan suara gemerisik kantong plastik, aku merasa bukan mahasiswa yang sedang bergulat atau wanita yang hidup dalam kesendirian, tidak hanya merasa menjadi konsumen biasa dan pemerhati kota Seoul. Di toko itu, aku membeli kertas toilet Klean Nara, minuman yoghurt Io, kantong sampah sepuluh liter yang dikeluarkan kantor distrik Dongdaemun, pembalut NiceFeel, dan sabun Dove.

Hal terakhir tentang Q-Mart adalah perkara pekerja paroh-waktu. Karyawannya seorang pemuda di usia pertengahan dua puluhan yang tampak apatis dan tidak banyak bicara. Dia bukan lelaki yang tampan, tetapi dia punya wajah yang tampak akrab saat kita melihatnya. Terasa semacam kehangatan. Tetapi, wajahnya seperti seseorang yang bisa kita lihat beberapa kali setiap lima menit jika kita berdiri di stasiun kereta bawah tanah. Tentu saja, apakah dia yang paling ganteng atau paling jelek, tidak berpengaruh bagiku. Yang penting bagiku hanyalah, apakah dia banyak bicara atau tidak. Pemuda di Q-Mart hanya mengatakan apa yang benar-benar diperlukan. Seperti, “Totalnya 2.500 won” atau “Perlukah ini dipanaskan microwave dulu?” Atau “Butuh sedotan?” Tetapi, aku sangat menyukainya. Ketika dia meletakkan tanda barcode dari berbagai produk ke pemindai, monitor yang menghadap pelanggan menunjukkan segalanya, harga setiap item dan jumlah total yang harus dibayar. Jika kami menginginkannya, kami tidak perlu mengatakan apa-apa.

Q-Mart itu biasanya dijalankan si pemuda tadi. Pemiliknya tidak punya banyak waktu. Mungkin saja aku akan sering melihat pemuda itu karena giliran paruh waktunya dan perjalananku ke toserba bertepatan.

Berseragam rompi kerja hijau dengan logo Q-Mart, dia cocok dengan Q-Mart. Dia formal dan profesional, dan bagiku, terlihat seksi. Terkadang karena berbicara dengan gaya Times New Roman, terkadang karena sikap diamnya atau karena status sosialnya yang ditunjukkan lewat baju seragam — dengan “mengenakan” peran tertentu, aku membayangkan diri tersembunyi di baliknya.

*

Setelah selalu pergi ke Q-Mart, aku kembali ke 7-Eleven untuk pertama kalinya. Tiba-tiba aku ingin makan gimbap berbentuk segitiga yang dijual di sana. Tiga toko swalayan semuanya memiliki barang yang sama, ada beberapa produk yang bervariasi sedikit. Sementara ada yang menjajakan banyak produk impor, yang lain menyajikan beberapa produk Korea tersendiri, ada juga pilihan bagus untuk penganan tengah malam. Di tengah malam, saat aku menyeberang dengan pakaian olahraga menuju 7-Eleven, pemiliknya tersenyum lebar seperti yang selalu dia lakukan.

“Lama tak jumpa, ke mana saja?”

Aku mengangguk sedikit sebagai respons sopan. Menanggapi reaksiku, dia bertanya lagi, dengan lembut.

“Mengapa tidak pernah ke sini?”

Setelah memilih gimbap, kulihat-lihat sekeliling toko. Semuanya ada di tempat yang sama.

“Totalnya 700 won.”

Lelaki di kasir menatap lurus ke arahku. Dia menunggu dengan penuh semangat untuk bayaran belanjaanku. Sorot matanya tampak begitu naif, seolah aku baru memikirkannya, aku merogoh jaketku. Tetapi tidak ada sama sekali di sakuku. Aku meraba-raba mencari dompetku. Di depan, lelaki itu tersenyum saat melihatku begitu bingung, aku berkeringat dingin.

“Hm … kurasa aku lupa membawa dompetku.”

Ketika aku beralasan dengan suara lemah, lelaki itu dengan lembut menarik gimbap berbentuk segitiga ke arahnya dan berkata, “Sebaiknya kamu ambil dulu.”

*

lite2_4

Q-Mart berukuran sekitar 700 kaki persegi. Di sepanjang dinding di kedua sisi toko itu ada freezer dan mesin pendingin kaca besar. Barang-barang tersusun rapi di dalamnya, seperti produk daging dan susu serta makanan beku. Di dinding dengan jarak paling jauh dari pintu otomatis, ada mesin pendingin tinggi, terutama untuk minuman. Di balik dinding kaca sebelah pintu otomatis, ada freezer lain dan di dalamnya ada es krim. Jadi,  bagian dalam Q-Mart diselimuti sekotak pendingin raksasa dan freezer. Dan itu tidak berbeda dengan toserba lainnya. Toko adalah tempat berbagai jenis waktu membeku ketimbang di dunia luar.

Konter di Q-Mart berada tepat di sebelah pintu otomatis. Di balik konter, berbagai minuman keras dan rokok dipamerkan, dan di sebelah kanan ada pesawat telepon. Di bagian depan konter ada surat kabar dan kupon lotre. Koran-koran ditampilkan di bawah, yang berarti pelanggan menjingjing air mineral, tisu toilet, dan pisau cukur yang ingin mereka beli di atas jenggot Chan Ho Park, di atas senyuman Presiden Kim Dae-jung, atau di atas potret kepala yang tertunduk dari seorang bintang rock yang tertangkap basah kasus narkoba.

Setelah kembali dari mudik, aku menyadari bahwa aku ketinggalan charger teleponku. Sebuah panggilan datang dari rumah mengatakan bahwa mereka akan mengirimkannya. Sampai saat paket tiba, aku memutuskan untuk mengisi ulang teleponku di konter isi ulang di Q-Mart. Masing-masing toserba dilengkapi dengan konter isi ulang baterai telepon semacam itu. Biayanya seribu won untuk tiga puluh menit. Kuberikan teleponku pada pemuda di Q-Mart. Dengan rompi hijau, pemuda itu membuka bagian belakang teleponku untuk memeriksa baterai jenis apa dan kemudian memasukkannya ke salah satu kompartemen di konter isi ulang.

“Kode rahasianya mau apa?” tanya pemuda itu.

Tak tahu, bahwa aku perlu membuat password untuk itu, aku tidak bisa berpikir apa pun dan mulai bingung. Dengan jarinya yang siap di atas keypad, pemuda itu menatapku dengan tatapan kosong.

Aku berseru, “Nol-tujuh-dua-empat.”

Itu adalah hari ulang tahunku. Aku bergumam, “Nol-tujuh-dua-empat …” pemuda itu menekan angka yang mungkin “kode” mungkin “rahasia,” siapa yang tahu, ke dalam mesin. Aku melihat sebentar saat dia mengetik angka ulang tahunku.

“Berapa won?” kataku segera akan membayar biayanya.

Seorang lelaki berada di depanku. Lelaki itu menyodorkan botol bayi dan pemuda itu memindainya. Penasaran seperti apa orang yang membeli botol bayi itu, aku menoleh, tetapi dia sudah bergegas keluar. Setelah menerima pembayaran 1.000 won, pemuda itu tidak lagi punya urusan denganku. Aku berdiri menunggu di konter selama tiga puluh menit. Ketika aku merasa agak malu berdiri tepat di depan pemuda itu, aku mencuri pandang ke dalam Q-Mart, berpura-pura melihat produk yang dijual. Tak terasa, aku sudah terlalu dekat dengan pintu otomatis, jadi ia terbuka lebar. Aku terkejut, dan seolah-olah untuk membuktikan ketakbersalahanku, aku mundur ke belakang. Tampaknya, pemuda itu tidak benar-benar memperhatikanku. Setelah berkeliling di sekitar lorong rak logam, aku membeli beberapa barang yang sebenarnya tak kuperlukan.

Setelah tiga puluh menit, pengisi baterai telepon akhirnya memancarkan cahaya berkelebat yang menandakan pengisian baterai sudah selesai, dan pemuda itu bertanya lagi padaku.

“Tolong, nomornya.”

Bersamaan dengan saat aku membisikkan “Nol-tujuh-dua-empat….” seorang lelaki berkata, “Bisakah saya dulu?”

Lelaki itu menaruh lima bungkus tusuk gigi di meja kasir. Itulah lelaki sarjana “lulusan universitas” dari jongko makan yang belum lama kukunjungi. Kami berpandangan. Syukurlah dia cepat pergi, pura-pura tidak memperhatikanku.

Beberapa saat setelah itu, aku kembali ke Q-Mart untuk mengisi ulang teleponku. Dengan pengisian berkecepatan tinggi, baterai telepon tidak bisa bertahan lama. Pemuda itu akan bertanya nomor rahasia dan setiap kali pula aku menjawab sama dengan “nol-tujuh-dua-empat.” Bahkan setelah paket kiriman dari kampung datang, beberapa kali aku masih mengisi teleponku di Q-Mart.

*

Meski sering ke Q-Mart ini, khayalan terbesarku yang kupikirkan adalah karena aku tidak mengatakan apa pun tentang diriku kepada pemuda berseragam hijau muda itu, kehidupan pribadiku tidak akan terungkap sedikit pun. Sejauh yang kutahu, Q-Mart adalah dunia “Selamat Datang” dan“Terima kasih.” Tepatnya, ketertarikannya pada barang yang dia jual, ketertarikanku pada barang-barang yang kubeli. Tapi setelah menjadi pelanggan tetap Q-Mart untuk beberapa lama, aku baru ngeh, bahwa tanpa kesadaran atau kehendakku, informasiku diakses melalui pemindai yang dipegang pemuda itu dari hari kehari. Misalnya, dia tahu semua preferensiku. Seperti air kemasan yang paling kusuka di antara empat atau lima jenis produk yang ditawarkan, minuman yoghurt yang sering kubeli adalah rasa stroberi atau apel, yang kusukai antara nasi hitam dan nasi putih biasa. Jika dia mau, dia bisa mengetahui ukuran kamarku. Kerap aku membeli kantong sampah ukuran sepuluh liter, tidak mungkin aku tinggal di ruangan yang besar. Dia juga bisa tahu status hubunganku. Seorang wanita yang datang sepanjang malam untuk membeli nasi yang dipanaskan microwave, seorang perempuan muda yang membeli kebutuhan rumah tangganya sendiri, perempuan yang hanya mengambil satu set sumpit sekali pakai, pasti ia masih lajang dan tinggal sendirian. Dia juga tahu kampung halamanku. Ketika aku pergi untuk mengirim sekotak pakaian musim dingin, dia mengkonfirmasi alamatku saat dia menerima biaya layanan. Dia tahu frekuensi menstruasiku. Dia melihat saat aku membeli pembalut secara berkala. Dia melihatku meletakkan satu pak kondom di meja menghadap ke bawah. Dari kebiasaan makan sampai kehidupan seksku, dia tahu dan “melihat” semuanya, karena toserba tempat menjual segala sesuatunya. Dengan kebaikan Q-Mart sebagai tempatku yang paling lama berjalan berkeliling saat berbelanja, tanpa ada percakapan, tanpa sepatah kata pun tentang diriku, tetapi dia lebih mengenalku daripada orang lain. Bahkan, mungkin dia tahu pula kebiasaanku saat aku tidak sadar akan diriku sendiri.

Dia tidak bertanya apa yang kupelajari. Aku ingin memberitahunya. Ini akan membedakan diriku dari sekadar seorang perempuan yang datang untuk membeli kantong sampah. Aku tak berkata, bahwa aku ingin memulai hubungan asmara dengannya. Hanya saja aku merasa tidak senang padanya, karena tahu kehidupan pribadiku. Dia tahu semua, tetapi dia tetap diam, ketidakpeduliannya, telah menjadi tidak meyakinkan. Aku penasaran pada pemuda yang tidak mengatakan apa pun selama satu menit dan tiga puluh detik yang dibutuhkan untuk memanaskan satu pak nasi di microwave, atau dua puluh detik yang diperlukan untuk menghangatkan sebotol Seoul Milk. Aku mengambil bagian dari tubuhku beberapa kali sehari dan mengungkapkan kebiasaan makan dan ekskresiku, tapi engkau, dengan seragam hijaumu itu, selalu acuh tak acuh. Aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Tapi di lingkungan di mana mereka mengenalku di 7-Eleven sebagai mahasiswa teknik kuliner, di jongko makan sebagai mahasiswa jurusan sastra Korea, di Family Mart sebagai cewek di bawah umur yang beli kondom, dialah satu-satunya orang yang mungkin benar-benar tahu kebenaran sekecil apa pun.

Aku membayangkan. Suatu hari, di tengah jalan yang dikepung ketiga toserba itu, seorang perempuan tertabrak mobil dan terbunuh. Pemilik ketiga toko, jadi saksi, keluar dan bersaksi bahwa mereka “mengenalnya”, tetapi semua pernyataan mereka berbeda. Dalam kesaksian mereka yang berbeda-beda itu, para pemilik toko kelontong akan mulai meragukan ingatan mereka, dan mengubah pikiran mereka, lalu mengatakan bahwa sebenarnya, mereka tidak mengenalnya, mereka “tidak tahu” dia. Dalam menghadapi tiga bantahan seperti itu, lalu, apa yang terjadi dengan perempuan yang jadi korban itu? Siapa dia? Sama seperti cara itu, saat si pemuda mengetik teks dengan punggungnya ke meja kasir, tidak ada yang tahu siapa pembeli yang menaruh hati pada pemuda itu. Bahkan jika seseorang lari ke jalan sekarang, penasaran dengan semua ini, jawabannya tidak akan ditemukan. Jadi aku tidak pergi ke tengah jalan, aku malah pergi ke toserba.

*

Saat itu malam Natal dan Seoul membeku parah. Jalan sepi, lingkungan sepi, banyak orang merayakan Natal di pusat kota. Perusahaan asuransi telah beriklan sejak musim gugur bahwa jika salju turun pada Hari Natal, mereka akan memberikan semua polis kepada kliennya. Salju turun sejak pagi, dan adik perempuanku yang baru saja mengikuti ujian masuk universitas, akan datang ke Seoul untuk mengunjungi beberapa tempat bimbingan belajar persiapan ujian. Rencananya, pertama-tama dia akan datang ke tempatku dan menginap, lalu pergi ke Noryangjin keesokan harinya untuk mencari tahu tentang beberapa universitas pilihan, dan kemudian pulang lagi ke kampung. Setelah mendapat telepon bahwa dia sedang dalam perjalanan, aku berjalan-jalan di antara warnet dan restoran-restoran di dekatnya, tidak keluar dari lingkungan sekitar. Tapi sekitar pukul sepuluh, tidak lama ada telepon dari adik perempuanku yang mengatakan bahwa dia baru saja tiba di Seoul dengan bus terakhir, aku mendapat telepon darurat dari seorang teman. Dengan suara sedih dia mengeluh karena sakit perut dan memintaku untuk datang. Aku mengambil kartu ATM dan teleponku, lalu berangkat. Tetapi, sesaat kemudian, aku tidak tahu harus berbuat apa. Adik perempuanku tidak punya kunci kamarku. Jika hanya sekitar satu atau dua jam, aku bisa menyuruhnya menunggu di warnet, tapi tidak ada yang tahu berapa lama aku bisa berada di rumah sakit bersama temanku. Selain itu, adik perempuanku juga tidak tahu jalan di sekitar Seoul. Aku bisa mencoba meninggalkan kunci itu di salah satu toko yang sering kukunjungi, tetapi hari sudah malam dan ini malam Natal sehingga sebagian besar toko-toko itu pasti tutup sepanjang hari. Aku tidak ingin meninggalkan kunci kamar pada siapa pun yang tidak kukenal. Tidak tahu harus berbuat apa, aku tercenung ragu di dekat pintu. Dan hanya ada satu orang yang terlintas dalam pikiranku – pemuda berompi hijau di Q-Mart. Dia salah seorang dari sedikit orang di lingkungan ini yang mengenalku. Aku langsung menuju ke sana.

Ketika sampai di Q-Mart, pemuda itu sibuk mengurus barang-barangnya sendirian. Dia sedang memindai dosi rak plastik; mengambil uang tunai dari sakunya dan memasukkannya ke kasir. Sepertinya dia hendak mengambil kesempatan untuk makan memanfaatkan waktu kosong. Ketika aku berdiri di depan meja sambil menarik napas, pemuda itu menatapku seolah-olah memandangku sebagai makhluk aneh. Aku ragu sejenak dan kemudian mulai berbicara dengan suara perlahan.

“Hm, permisi, maaf, boleh saya minta tolong.”

Tanpa menaruh makanan yang akan dimakannya, dia menjawab, “Ya?”

Sebelum membicarakan pokok masalahnya, kupikir akan membantu jika pertama-tama aku menjelaskan seberapa akrab kami mengenal satu sama lain.

“Anda kenal saya, kan?”

Ia masih memegang makanan kemasan plastik. Dia menatapku. “Saya … tinggal di sekitar sini … saya yang selalu membeli air Jeju SamDaSoo dan rokok Plus itu …” Ekspresi pemuda itu masih kosong, jadi aku mulai menjejalnya lagi, “Saya suka beli tisu toilet Klean Nara dan kantong sampah ukuran 10 liter, dan jika saya membeli nasi microwave, selalu yang berwarna hitam – Anda kenal saya, kan?”

Dia tampak begitu canggung, seolah-olah dia mencoba mengingat perempuan yang menghabiskan malamnya dengan mabuk. Dan akhirnya, dia membuka mulut, “Maaf Nona, tapi SamDaSoo dan semua barang itu dibeli banyak orang.” Kata-kata itu membuatku menciut. Dia menatapku dengan tenang. Kunci kamar masih berada di sakuku, telapak tanganku berkeringat.

Pada waktu itu, jongko makan pun lenyap. Ada kabar bahwa mereka telah membuka restoran besar di lingkungan yang berbeda, bahwa pemilik toserba telah melaporkan mereka ke pihak berwenang, atau bahwa perempuan setengah baya yang melayani jongko makanan itu jatuh sakit. Aku sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka, tetapi aku merasa lega bahwa aku tidak lagi harus mengatasi ketidaknyamanan melewati kios itu.

*

Tepat enam hari setelah Natal, aku terbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa pun. Tanpa televisi di kamar, aku hanya meringkuk dengan santai di bawah selimut. Siaran berita yang meliput acara Tahun Baru terdengar sebentar-sebentar dari sebelah. Suara itu penuh dengan kegembiraan menyambut Tahun Baru. Sama seperti di hari Natal, banyak orang pergi ke pusat kota. Merasa haus, aku membuka kulkas mini. Di dalamnya ada botol air kosong dan selebihnya kosong. Aku tetap meringkuk beberapa saat dan akhirnya aku bangun. Pergi mengenakan jaket hangat, dengan telepon genggamku dan membawa beberapa ribu won. Sekarang aku bangun dan merasa sedikit lapar. Ketika melangkah keluar, salju turun. Q-Mart begitu sunyi. Pukul sebelas malam pada tanggal 31 Desember 2002. Di toko yang benar-benar kosong, pegawai paruh waktu dengan rompi berwarna hijau, mengirim SMS kepada seseorang. Pesannya segera akan diteruskan ke penerimanya. Aku melewati lorong yang panjang dan berdiri di depan lemari pendingin. Aku mengambil sebotol air, dan dari pendingin berikutnya aku mengeluarkan satu porsi pangsit. Ketika sampai di depan kasir, pemuda itu berhenti menulis pesan teksnya dan meletakkan ponselnya di atas rak di belakangnya. Mengingat kejadian saat Natal itu, aku mencoba menduga-duga, apa yang sedang dipikirkannya. Seperti saat itu, ternyata dia sama sekali tidak mengenaliku. Atau kalau tidak, dia bersikap acuh tak acuh. Tapi tidak jadi masalah sekarang. Temanku telah pulih dari sakitnya dalam waktu singkat, dan dengan bantuan pemilik rumah, adik perempuanku bisa masuk kamarku. Pemuda itu memegang botol air dan membaca barcode. Saat itu ada sinyal berdengung. Di tengah apa yang sedang dilakukannya, pemuda itu berpaling ke rak di belakangnya dan memeriksa teleponnya.

“Semuanya 2.800 won.”

Setelah memeriksa pesan, pemuda itu menunjukkan ekspresi yang sedikit kecewa, dan mengeluarkan kantong barang.

“Tolong, panaskan ini.”

Aku menyerahkan kue pangsit. Terdengar himne Injil yang diputar di toserba. Sekarang hanya kami berdua di dalam. Sambil bersandar di meja bar di sepanjang jendela, aku melihat pemandangan di luar. Jalan itu kosong. Begitu aku pindah dari meja kasir ke meja lain, pemuda itu mengangkat teleponnya lagi dan mulai menekan tombolnya. Seperti yang akan kita lakukan ketika seseorang baru saja duduk di kursi di sebelah kita dalam bus antarkota, aku hanya menatap ke luar jendela. Mobil-mobil melaju dengan kecepatan apa pun yang mereka suka. Setiap kali seseorang melewati lapisan tipis salju di tanah, segalanya terbawa dalam kesibukan. Plang 7-Eleven bersinar terang seperti biasa, dan plang hijau Family Mart juga menyilaukan mata. Pemuda itu memeriksa teleponnya beberapa kali lagi, tetapi tidak ada suara yang menunjukkan ada pesan masuk.

Seseorang masuk ke Q-Mart. Seorang lelaki berusia sekitar akhir dua puluhan. Ia mengenakan topi bisbol biru yang ditarik rendah. Lelaki itu melewati rak-rak logam untuk memilih ini dan itu.

Saat itulah, mendadak di jalan terdengar suara keras. Aku, pemuda si pegawai Q-Mart, dan lelaki bertopi bisbol, seketika melihat ke luar. Di balik dinding kaca toko, tepat di depan mata kami, seorang gadis SMA melayang ke udara dan terhempas ke aspal. Di depan persimpangan, ada mobil Sonata warna perak berhenti seolah-olah ikut kaget. Kemudian, seperti hendak menenangkan diri, Sonata itu tiba-tiba berhenti mendadak setelah tadi melaju dengan kecepatan penuh. Pemuda karyawan Q-Mart berlari ke luar. Aku hanya berdiri di sana membeku di tempat. Melalui jendela aku bisa melihat, orang-orang mulai berkumpul. Di antara mereka adalah wanita dari Family Mart. Sepertinya beberapa orang menggunakan ponsel mereka untuk menelepon polisi, kekasih atau keluarga mereka. Batok kepala gadis itu hancur, bagian bawah tubuhnya yang pucat terbuka lebar di balik rok seragam sekolahnya yang tersingkap. Orang-orang membentuk lingkaran di sekitar tempat kejadian, tetapi mungkin karena sangat mengerikan, tidak ada yang berani mendekat.

Aku pergi ke konter. Laki-laki dengan topi bisbol biru yang sudah usang, baru saja mengambil segenggam kartu lotre yang ada di meja dan memasukannya ke dalam jaketnya. Dengan tergesa-gesa aku beralih melihat ke layar di rak, tetapi pada saat yang sama, terdengar bunyi pesan masuk dari telepon yang tergeletak di rak. Untuk sesaat, lelaki bertopi bisbol biru itu dan aku bertatapan. Sepertinya aku berhenti bernapas. Sekali lagi, aku coba menghindari tatapannya, tapi dengan bunyi ping, gerakan berputar microwave, berhenti. Dalam tatapan tegang diantara kami, suara itu keluar begitu jelas, seolah-olah suara yang keluar dari senar alat musik. Mata kecil itu menatapku. Di tempat inilah segala sesuatu terasa segar, dan karena beberapa alasan matanya tampak sangat terluka. Dan … rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya. Sambil pura-pura tetap tenang, aku menjelajahi ingatanku. Di mana ya? Apakah aku melihatnya di Family Mart? Di LG25? Di mana lagi? Aku tidak bisa mengingatnya. Hanya pikiran yang terlintas di belakangnya, dia juga mungkin sepertiku, mungkin seseorang itu tidak ada jika tidak ada toserba ini. Segera setelah itu, pemuda si karyawan tadi kembali ke dalam Q-Mart dengan napas tersengal-sengal. Lelaki bertopi bisbol biru dan aku sendiri berdiri tenang di depan konter.

“Anda melihatnya? Celana dalamnya kelihatan jelas.”

Tanpa sedikit pun memberi respons terhadap provokasi pemuda karyawan Q-Mart itu, lelaki bertopi bisbol biru itu langsung membayar sebungkus permen karet dan bergegas keluar. Aku berdiri diam untuk beberapa saat, wajahku pucat kehabisan warna. Setelah menatap wajahku, tiba-tiba menyadari, dia menuju ke microwave.

“Maaf,” katanya.

Aku mengambil sebungkus pangsit panas yang disodorkannya padaku. Setelah transaksi selesai, aku berdiri tak bergerak di depan pemuda itu, dan dia menatapku seolah-olah aku makhluk aneh. Kupikir tidak benar jika aku tak mengatakan apapun padanya. Tapi pikiranku kosong. Aku mengatakan sesuatu dan bermaksud pergi.

“Anda mendapat pesan masuk.”

Baru saat itulah aku mendekati tempat kejadian. Masih banyak orang berkumpul, dan di jalan salju jatuh pada genangan darah. Tetapi, salju mencair begitu menyentuh darahnya. Yang aneh adalah bahwa orang dari Family Mart sangat sibuk. Sambil menunjuk-nunjuk pada siswi SMA yang terbaring di sana, tampak mata si korban terbelalak seperti kuda kayu yang ada di tempat sirkus, wanita itu bersikeras menjelaskan sesuatu kepada orang banyak.

“Percayalah, dia mau beli sekotak coke, jadi saya pergi ke gudang, dan pada saat itu dia mengambil rokok dan kabur. Jadi saya mengejarnya, dan karena dia terburu-buru, dia langsung berlari ke jalan.”

Sepertinya mobil polisi dan ambulans belum sampai. Siswa SMA yang tadi mencuri rokok dan kini masih tergeletak di jalan, belum tersentuh, dan orang-orang yang berkumpul di sekitar mengusir beberapa bocah dan remaja yang ingin melihat jasad korban. Saat itulah aku melihat lelaki bertopi bisbol biru, menunggu di lampu penyeberangan jalan, berjalan kemudian melangkah ke arah kerumunan orang. Aku memperhatikannya dengan saksama. Lelaki yang tadi mencuri segenggam kartu lotre, tampak seperti menghadapi kepahitan yang mendalam, ia semakin dekat kerumunan orang dan jasad korban yang terbaring di jalan dengan kepalanya yang hancur, kakinya terbuka, dan celana dalamnya kelihatan. Aku melihat sosok lelaki bertopi bisbol biru itu dalam keadaan waspada. Dia berjalan melalui kerumunan, mendekati korban dan membungkuk. Lalu dengan hati-hati ia menurunkan rok anak sekolah itu.
Bahkan setelah lelaki itu datang dan pergi, mata si korban masih terbelalak.

*

lite2_5

Aku pergi ke toserba keesokan harinya, dan sehari setelah itu. Tidak ada kejadian apa-apa. Pemuda berompi hijau di Q-Mart berubah beberapa kali, tetapi karena karyawan di sana selalu mengenakan rompi kerja berwarna hijau, segalanya seperti tidak ada masalah. Aku pergi untuk mengisi teleponku di sana beberapa kali lagi, tapi pemiliknya menyingkirkan konter isi baterai dan mulai menjual baterai telepon sekali pakai. Ada hujan deras, dan kabut, tetapi tidak masalah karena tidak ada kejadian yang tak terduga. Jika, sesekali kita ingin mendengar “gosip”, pergilah ke 7-Eleven bertemu pemiliknya yang cerewet. Guru yang menangkap basah pasangan yang mengunci diri di ruang video sambil makan ramyeon instan; Lelaki yang memaksa si wanita melakukan aborsi, yang haus dan datang untuk membeli bir; dan pemuda pengangguran, yang masih dimarahi ayahnya, karena kehabisan rokok lagi. Dan dengan itu, catatan ini akhirnya tampak sepele.

Di tempat yang tidak pernah ada hari libur nasional, aku – di tempat itu pura-pura tahu apa yang kubutuhkan, tidak perlu bertemu dengan seseorang, tidak perlu pula menahan siapapun di dekatnya. Di saat antara perjalanan ke toserba, aku mengalami perpisahan, pergi menemui seseorang, dan menyadari bahwa aku, orang yang bisa membunuh seseorang. Tapi tidak ada yang tahu semua ini. Sambutan yang paling hangat dan paling murah hati itu begitu asing sehingga aku melayang-layang tidak tahu harus menatap ke mana. Jika kita kebetulan pergi ke toserba, lihat baik-baik di sekitar kita. Ketika wanita di sebelah membeli air di toko itu untuk minum pil, dan saat lelaki di belakang kita membeli pisau cukur, mereka pasti bakal menyayat pergelangan tangannya, saat bocah laki-laki di depan membeli tisu toilet, itu untuk menyeka ibunya yang sakit. Setidaknya kamu tidak pernah tahu. Kamu bisa sering memikirkan hal ini, atau tidak, semua sama saja. Q-Mart, 7-Eleven, Family Mart, tidak akan tahu. Toserba tidak peduli padaku, mereka hanya peduli pada air, tisu toilet, dan pisau cukur. Jadi aku pergi ke toko serba ada. Paling banter beberapa kali dalam sehari, paling sedikit seminggu sekali, aku pergi ke sana. Dan anehnya, seringnya, aku selalu berakhir memerlukan sesuatu.

***

Diterjemahkan dari I Go to the Convenient Store dari Koreana. Kim Aeran (김애란) lahir di Incheon pada 1980, lulusan Korea National University of Arts. Aeran melakukan debut sastranya dengan memenangkan Penghargaan Sastra Daesan untuk Mahasiswa, dan cerpen ini di rilis di tahun yang sama. Bercerita tentang kunjungan ke toko serba ada yang ditulis menjadi pengalaman eksistensial.

Kategori
Fiksi

Nestapa, Han Yujoo

hantan han yujoo

Dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran masih sehat dan tubuh yang membusuk. Dia meninggal. Dia tidak cukup muda untuk punya sebab kematian tertentu, atau cukup muda untuk mati karena kesedihan luar biasa mendalam. Hanya ada kesedihan yang samar seputar kematian itu sendiri. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan dia tidak punya siapa pun yang akan sedih atas kematiannya. Tidak ada orang yang akan mengingatnya. Karena dia sudah meninggal, dia bahkan tidak bisa mengklaimnya. Kematian berarti kehilangan semua hal, orang-orang, diri sendiri, dan kepemilikan apapun atas ruang dan waktu. Saya menemukan bahwa itu sesuatu yang benar-benar tragis. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan saya tidak merasa sedih. Saya pikir ini benar-benar menyedihkan.

Lalu saya terbangun.

Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Meski begitu, saya rasa saya belum kehilangan sedikit pun kemampuan saya untuk membuat sebuah kalimat. Saya tidak punya masalah menulis, “Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun.” Karena itu, kalimat sebelumnya bohong. Saya tidak tahan dengan kebohongan. Yang tidak bisa saya tahan adalah memulai dengan kalimat itu, “Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun.” Saya duduk di meja kerja saya untuk waktu yang lama, mencoba untuk tidak menulis bahwa saya tidak bisa menulis satu kalimat pun sebagai kalimat pertama saya. Beberapa kali saya menulis bahwa saya tidak bisa menulis satu kalimat pun sebagai kalimat pertama dan beberapa kali saya menghapusnya. Saya tertidur dan bermimpi, dan dalam mimpi itu saya membaca sebuah buku yang dimulai dengan kalimat yang mengatakan bahwa dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran yang sehat dan tubuh yang membusuk. Untuk mengingat kalimat-kalimat dalam buku itu—karena saya tahu saya sedang bermimpi—saya membaca kalimat itu berkali-kali, berjuang keras untuk menghapalnya. Tapi bahkan dalam mimpi, saya tahu saat saya terbangun, seketika halaman mimpi saya tertutup, kalimat yang telah saya hafal akan lenyap. Kalimat dalam mimpi saya itu indah, mengingatkan pada Peter Handke. Tokoh berusia lima puluh empat tahun itu berlaku seperti karakter dalam novel Peter Handke. Bahkan dalam mimpi, saya tahu saya belum bisa menulis satu kalimat pun untuk waktu yang lama. Karena itulah saya tidak ingin kehilangan kalimat tersebut, meski bisa saja ini jadi tiruan mutu rendah dari Peter Handke. Bahkan dalam mimpi, saya tidak tahu apakah saya pernah menulis yang begini, atau pernah ditulis orang lain. Meski begitu, saya ingin menjadikannya milik saya. Saya ingin mengklaim kepemilikan atasnya. Bahkan dalam mimpi kalimat itu sungguh luar biasa, tapi saya tahu kalimat itu tidak punya kekuatan. Meski begitu, saya ingin membuat kalimat itu sepenuhnya milik saya. Saya ingin membuat setiap komanya jadi milik saya. Bahkan dalam mimpi, saya tahu saya hanya bermimpi. Saya mencoba merobek halaman itu, tapi tidak robek. Saya pernah bermimpi bahwa saya telah mati berkali-kali. Saya berjuang mati-matian untuk merobek halaman itu, tapi tidak robek. Karena saya pernah meninggal berkali-kali, jika saya berjuang mati-matian, bisa saja saya mati. Teks itu berkeras tetap berada di halaman itu. Tidak. Teks itu bahkan tetap begitu. Setiap koma tetap sama. Tidak. Halaman begitu keras kepala terpaku pada teks. Meskipun saya merobek teks, tidak robek sedikit pun. Hari menjadi cerah. Bahkan dalam mimpi, saya bisa merasakan fajar. Awalnya, saya duduk di antara teks itu, dan kemudian saya menutupi semua celah di antara teks tanpa meninggalkan tempat saya, dan pada akhirnya saya bisa merasakan matahari sedang terbit—fajar yang menguasai semua kalimat. Saya tidak mati dalam mimpi. Saya bahkan tidak merasa lelah. Saya hanya berjuang keras untuk mengulangi tindakan tanpa arti untuk merobek halaman itu lagi dan lagi. Saya merobeknya, tapi tidak robek. Saya mencengkeram halaman yang tidak ada. Saya hafal kalimat yang tidak ada. Karakter-karakter yang tidak nyata mengulangi tindakan-tindakannya yang tidak nyata. Lalu saya terbangun. Beberapa kalimat terlewat, tapi bukan yang dari mimpi saya. Saya merasa sedih. Tapi tidak benar-benar sedih. Saya bahkan tidak tahu kapan dan di mana dan bagaimana saya bisa menggunakan ungkapan “benar-benar sedih.”

Maka saya mulai menulis dengan meminjam kalimat dari mimpi itu. Tapi tiba-tiba, saya merasa bahwa saya tidak akan bisa menyelesaikannya jika saya tidak dapat mengingat kalimat yang telah lenyap saat saya terbangun. Tapi saya tidak pernah menemukan apapun yang telah hilang dalam mimpi atau apapun yang lenyap menjadi mimpi. Dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran sehat dan tubuh yang membusuk. Dan kemudian di kalimat berikutnya dia meninggal. Menurut ingatan saya yang redup, dia bukan teknisi perakitan atau pemain sepak bola, bukan orang Korea atau Austria. Saya menyukai novel Peter Handke, tapi saya tidak pernah berpikir untuk menyalin kalimatnya. Saya belum bisa menulis satu kalimat pun untuk waktu yang lama. Itu bohong. Saya menulis banyak kalimat tapi menghapus semuanya. Tapi ada kalanya kamu harus menulis lebih dari satu kalimat, meski mungkin itu kebohongan. Seperti sekarang. Saya masih tidak bisa menulis satu kalimat pun. Tapi saya rasa saya belum kehilangan sedikit pun kemampuan saya untuk membuat sebuah kalimat. Saya tidak punya masalah menulis soal saya yang tidak bisa menulis satu kalimat pun. Ini invasif. Ini berbahaya. Ini tak terlihat. Itu tak terhapuskan. Ini tidak akurat. Ini tidak memadai. Ini tidak koheren. Ini belum lengkap. Ada banyak kata sifat seperti ini. Saya memikirkan kalimat yang telah saya tulis dengan mudah sampai sekarang. Saya pernah menulis begitu mudah. Kata-kata. Kalimat-kalimat. Fragmen-fragmen. Memikirkannya bikin saya ingin menangis sekarang, saya ulangi kalimatnya, “Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun.” Saya rasa saya harus melepaskan sentimentalisme seperti itu karena ingin menangis, tapi saya juga berpikir betapa menyenangkannya jika saya bisa melakukannya. Menangis dan menulis kalimat apapun. Apakah air mata adalah bagian dari tubuh? Apa jenis kepemilikan yang bisa kamu klaim atas air mata? Saya tidak menangis. Saya menulis. Saya tidak menulis. Saya menangis. Ini semua bohong.

Saya membolak-balik buku catatan saya. Catatan-catatan yang telah saya tulis tanpa metode. Catatan-catatan itu tidak mengandung insiden yang mempertarungkan. Tanaman itu membeku sampai mati di dalam rumah. Setelah Anda meninggal, saya tidak menyiram tanaman Anda. Musim dingin datang dan pemanasnya rusak. Saya tidak tahu nama tanamannya. Itu adalah tanaman dengan banyak daun hijau besar. Daun hijau berangsur-angsur berubah menjadi kuning dari ujungnya. Tanaman itu sekarat. Tapi sebelum layu sampai mati, ia mati membeku. Saya kesal karena bukan saya yang telah membunuhnya. Udara dingin yang telah membunuhnya. Air membeku di dalam rumah. Udara dingin sangat parah. Ada baris dari puisi Choi Hayeon yang telah saya hafal seperti mantra: Bekukan sampai mati, bekukan sampai mati. Saya tidak ingat baris sebelum atau sesudahnya. Saya ingin membunuh tanaman itu tanpa menggunakan tangan saya sendiri. Daya tahannya sungguh luar biasa. Tanaman itu bertahan tanpa air selama hampir dua bulan. Dan kemudian membeku sampai mati sebelum bisa layu sampai mati. Sementara saya sedang mencari-cari di dalam kotak, saya menemukan bantal elektrik. Stekernya 110 volt. Itu adalah barang yang tidak bisa saya gunakan. Cuaca memanas. Ketika saya minum air es, saya tidak layu kemudian mati atau mati membeku.

Inilah yang tertulis di buku catatan. Di bagian belakang halaman, “bekukan sampai mati, bekukan sampai mati” mengisi seluruh halaman. Saya memutuskan untuk memikirkan orang dari mimpi saya yang meninggal pada usia lima puluh empat tahun sebagai orang yang sama yang meninggal dan menelantarkan tanaman. Dan kemudian saya gagal. Saya ingin menunjukkan sesuatu dan saya juga tidak ingin menunjukkan apapun. Saya ingin mengungkapkan sesuatu dan saya juga tidak ingin mengungkapkan apapun. Saya ingin menunjukkan sesuatu dengan sesuatu yang tidak nampak, dan saya ingin menunjukkan sesuatu dengan sesuatu yang tidak nampak. Saya merasa sudah habis. Tapi saya tidak tahu persis apa artinya habis. Rasanya salah menuliskan kata-kata tertentu sembarangan. Tapi saya selalu menuliskan semuanya dengan ceroboh. Tidak mungkin menulis apapun jika kamu tidak menulis dengan ceroboh. Rasanya salah menuliskan semua kata sembarangan. Saya tidak bisa dipercaya. Saya selalu berbohong. Saya, yang berbohong bahwa saya berbohong, tidak bisa dipercaya. Bahkan sekarang saya sedang berbohong. Itu karena saya tidak bisa menulis apapun. Saya bisa terus selamanya, mengatakan bahwa saya tidak bisa menulis apapun. Saya memiliki kemampuan untuk mengulanginya berulang kali. Ini adalah kemampuan yang ingin saya buang.

Lalu saya terbangun.

Musim dingin, saya kedinginan bahkan saat di dalam rumah. Suhu di bawah nol. Orang mulai berhamburan masuk ke dalam ruangan. Saya mencium aroma kopi. Seseorang memulai percakapan. Hari ini adalah hari terakhir seminar. Ada pendakian yang direncanakan besok. Nama sungainya adalah Hantan. Nestapa. Saya diberitahu bahwa kami bisa melihat burung dan binatang liar. Jika kami tidak beruntung, es bisa retak dan kaki kami mungkin basah, dan jika kita beruntung, kita mungkin melihat seekor elang. Sulit untuk mengatakan mana yang tidak beruntung dan mana yang beruntung hanya dengan mendengarkan deskripsi. Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang bagaimana anak gadis seorang kerabat jauh yang telah pindah ke Amerika Serikat beberapa dekade yang lalu membawa anjingnya untuk ditangkap oleh seekor elang. Saya juga mendengar bahwa di lingkungan yang sama, tinggal seorang wanita yang bayinya baru lahir direnggut oleh seekor elang. Ketika saya menceritakan kisah-kisah ini, orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa elang Korea lebih kecil dan bahwa pada pendakian besok, tidak ada yang punya seekor anjing atau bayi yang baru lahir. Saya mencium aroma kopi. Meski saya tidak minum kopi, saya bisa membaui kelebat rasa. Rasanya manis dan pahit. Orang-orang mengambil tempat duduk masing-masing. Pembicara berjalan ke depan. Orang-orang bertepuk tangan. Persamaan disalin di papan tulis. Tetapkan teori. Hitung. Zermelo-Fraenkel. Saya tidak mengerti sebagian besar dari yang disampaikan pembicara. Nama Zermelo membuat saya berpikir tentang “cello” dan “Portobelo.” Saya pernah melihat cello sebelumnya dan saya belum pernah ke Portobelo. Penampakan belakang orang yang duduk di depanku mulai terlihat. Rambut pendeknya dengan warna agak keabuan. Dia mungkin berusia pertengahan lima puluhan. Saya memutar kepala saya sedikit dan mempelajari profilnya. Saya tahu siapa dia. Pembicara membaca sebuah persamaan lainnya. Bosan karena saya tidak mengerti apa yang disampaikan pembicara, saya memutuskan untuk mempelajari orang yang duduk di depan saya. Dia adalah seorang akademisi. Dari apa yang telah saya dengar, dia telah menulis dan menerjemahkan banyak buku. Saya melihat ke sekeliling ruangan. Saya akhirnya melakukan kontak mata dengan seseorang. Seseorang yang tidak saya kenal. Sekitar setengah orang di seminar itu sudah tidak asing lagi dan sekitar setengahnya tidak dikenal. Mungkin tidak persis setengahnya. Dan ada orang yang saya kenal namun dia tidak mengenal saya. Mereka masuk bagian dari setengah dalam setengah yang saya tidak yakin setengahnya itu. Sebagian besar orang memusatkan perhatian pada papan tulis dan berfokus pada apa yang disampaikan oleh presenter. Saya bersandar di kursi saya dan mulai mengamati dengan sungguh-sungguh pria yang ada di hadapan saya. Dari apa yang saya dengar, dia mungkin berusia pertengahan lima puluhan. Di kursi di sebelah kirinya ada tasnya dan di atas kursi di sebelah kanannya ada mantel jasnya. Tidak ada yang duduk di kedua sisinya. Dia memakai baju putih. Kerahnya bersih. Sepenglihatan saya paling tidak itu bersih. Dia memakai celana korduroi hitam. Saya tidak bisa melihat sepatunya, karena kursinya menghalangi pandangan saya. Dia fokus pada apa yang pembicara sampaikan. Dia terlihat seperti itu, paling tidak. Kertas diskusi, pulpen Monami, dan sepasang kacamata ada di mejanya. Dia memakai kacamata. Dengan kata lain, ia memiliki dua pasang kacamata. Dia mengenakan jaket wol di atas kemeja putihnya. Pakaian cendikiawan. Saya tidak tahu persis jenis pakaian apa yang cendikiawan itu. Tapi nampaknya dia akan terlihat seperti cendikiawan dimanapun dia berada. Dia melepaskan kacamatanya dan mengenakan yang ada di mejanya. Satu pasang mungkin untuk rabun jauh dan yang lain mungkin untuk membaca. Pembicara menggunakan kalimat yang terdiri dari kata benda bahasa Inggris dan kata belakang Korea, kata kerja bahasa Inggris dan sufiks Korea. Saya mulai mencatat kata-kata pembicara dalam pikiran saya dan kemudian berhenti. Saya tidak bisa membuat persamaan sesuai dengan kalimatnya. Bulu jaket wol cendekiawan itu sudah usang. Dia sedang menulis sesuatu di kertas diskusi kosong dengan pena Monami. Saya tidak bisa melihat teksnya. Tiba-tiba, saya penasaran dengan usianya. Dia mungkin berusia pertengahan lima puluhan. Dia mungkin tidak berumur lima puluh empat tahun. Pikirannya kemungkinan besar masih sehat dan tubuhnya tidak tampak membusuk. Dia melepas kacamatanya dan tidak memakai kacamata satunya. Di mejanya ada dua pasang kacamata. Dia menundukkan kepalanya seolah-olah dia membungkuk di atas mejanya dan kemudian meluruskan dan mengangkat kertas diskusi itu ke matanya. Dia mengangkat kertas itu sampai ke wajahnya. Tas dan mantel jasnya berada di kedua sisinya. Persamaan yang berbeda tertulis di papan tulis. Kertas di tangannya bergetar. Bisa jadi karena udara panas yang berasal dari pemanas dan bisa juga karena tangannya gemetar. Jika ia mengalami getaran tangan, kertasnya tidak akan terlalu bergetar. Saya ingin menghadiahinya mata saya.

Tidak. Saya ingin penglihatannya seperti saya. Saya bisa melihat papan tulis, kertas, teks, kalimat, wajah, es, dan elang. Saya bisa melihatnya dengan sangat baik. Saya ingin menghadiahinya mata saya. Dia akan bisa menggunakan mata saya untuk melihat sesuatu yang jauh lebih baik, jauh lebih jelas, jauh lebih luas. Saya berasumsi bahwa dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran sehat tapi tubuh yang sedang membusuk. Saya mungkin bisa mempelajarinya dan menulis tentang kematian yang konkret. Tapi apa itu kematian yang konkret? Dan mengapa saya selalu menuntut kematian seseorang?

Presentasi berakhir. Tepuk tangan. Pembicara berikutnya berjalan ke depan. Tepuk tangan. Saya membuka kertas diskusi. Tertulis di atasnya adalah judul “Alain Badiou’s Set-Theoretical Ontology.” Alain Badiou adalah nama yang saya tahu. Tapi mengetahui namanya tidak menjelaskan set ontologi teoritisnya. Cendekiawan yang duduk di depan saya masih mengintip kertas di depan matanya. Berada tepat di depan matanya. Saya ingin memberinya mata saya. Di samping papan tulis ada jendela. Salju turun. Seseorang batuk. Kelebat rasa kopi yang saya tidak minum terasa di lidah saya. Pahit dan manis. Diam-diam saya mendorong kursi saya ke belakang dan berdiri, dan dengan diam saya membuka pintu dan melangkah ke lorong. Kelebat rasa rokok yang belum saya habiskan di lidah saya. Pahit dan tak berdaya. Bagaimana saya bisa eksis?

Jika saya tidak bisa menulis satu kalimat pun, tidak masalah jika saya tidak ada. Bahkan jika saya tidak bisa membaca, cukup baik jika saya bisa menulis. Saya membaca, setidaknya. Tapi jika saya tidak bisa menulis satu kalimat pun, saya tidak bisa membaca. Bahkan saya. Saat saya membuka pintu kaca, udara dingin bergerak dari ujung jari ke bagian dalam kepala saya. Apakah saya merasakan kedinginan atau apakah karena saya memikirkannya? Udara luar terasa dingin. Benarkah udara luar terasa dingin? Apakah kebenaran yang terhubung dengan sensasi sebenarnya memang kebenaran? Saya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Salju turun. Saya menyentuh kunci mobil di saku saya dan menekan satu tombol. Sebuah lampu berkedip dari tempat parkir yang jauh. Saya menekan tombol lagi. Lampu depan berkedip lagi. Salju menumpuk di atas mobil. Ada pendakian yang direncanakan besok. Apakah sungai cukup beku? Salju menumpuk bahkan di atas abu rokok. Saya memutuskan untuk berjalan di sekitar gedung. Saya ingin meninggalkan jejak kaki saya di salju. Saya ingin melihat tumpukan salju putih di atas salju putih, di atas jejak kaki. Di atas lapisan waktu. Saya melewati kotak bunga kecil dan ketika saya di tikungan, saya mendengar suara seseorang. Suara dua orang.

“Apa sudah mencair? ”

Saya melemparkan rokok saya ke tanah. Salju jatuh menutupi puntung rokok.

“Bagian dalam diri saya bukan bagian dalam diri saya.”

Salju turun.

“Maksud Anda masih terhalang?”

Saya memutari tikungan. Dua orang menatap. Saya tidak mengenali. Mereka mungkin adalah penjaga atau orang-orang dari kantor daerah. Seseorang melepaskan rokok yang dipegangnya dan orang lain terus berbicara di telepon genggamnya.

“Salju akan berhenti saat malam. . . ”

Orang yang mematikan rokok itu mengatakan kepada orang yang menelepon, “Anda tahu betapa kedinginannya saya?”

Orang yang memegang telepon terus berbicara di telepon. “Tidak akan ada apa-apa. . . ”

Saya menginjak puntung rokok saya. Saya melindasnya. Salju akan menutupinya. Orang yang mematikan rokok itu menatap. Saya menoleh dan berjalan menuju pintu masuk. Pintu kaca. Lorong. Lampu neon. “. . . Yang satu itu bukan. . . ” Dengan saksama, saya mendengar suara pembicara. Rokok yang saya sesap itu pahit dan manis. “. . . apa yang tidak bisa dijelaskan Matematika, puisi bisa menjelaskannya. . ” Saya masuk kamar.

Lalu saya terbangun.

Tidak ada mimpi. Mungkin saya yang tidak bisa mengingatnya. Ketika saya pergi ke kafetaria, sebagian besar orang sudah selesai sarapan. Seseorang berteriak, “Berkumpul di depan pintu masuk setengah jam nanti!” Seseorang mendekat dan menyapa saya. Saya melihat-lihat kafetaria dan mendapati cendikiawan yang ingin saya hadiahi mata saya sebelumnya. Dia memakai jaket wol. Dia menyeka mulutnya. Hari ini saya tidak ingin menghadiahinya mata saya. Masih ada hal yang ingin saya lihat. Saya hanya tidak tahu apa itu. Saya pernah melihat sebuah film yang bercerita tentang seseorang yang secara tiba-tiba pergi ke kota besar untuk menemukan perempuan yang telah berulang kali muncul dalam mimpinya. Karena ada lebih banyak perempuan di kota besar, yang memiliki populasi lebih tinggi, dia mengatakan ada kemungkinan besar perempuan dalam mimpinya juga akan ada di sana. Dia benar. Dia mungkin tidak akan bertemu perempuan itu. Tapi dia punya kesempatan meski sangat kecil. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lihat. Tapi sementara saya masih memiliki kedua mata ini, saya punya kesempatan kecil untuk bisa melihat apa yang ingin saya lihat. Sementara saya minum kopi dan mengunyah roti, saya memikirkan hal-hal yang belum pernah saya lihat. Tidak mungkin memikirkan hal-hal yang belum pernah kamu lihat. Tidak mungkin melihat hal-hal yang belum pernah kamu lihat. Seseorang tersandung tongkat hiking orang lain. Gelas kacanya pecah. Sementara saya mendengarkan kaca yang jatuh dan pecah, saya pikir saya pernah melihat kaca pecah sebelumnya. Tidak, itu tidak seharusnya benar. Saya belum pernah memakai kacamata sebelumnya.

Ada sekop di bagasi mobil saya. Sementara saya menunggu bus, saya bertanya-tanya apakah saya harus mengambil sekop dari bagasi. Saya telah mengubur anjing dengan itu. Kata “anjing” itu memang anjing betulan. Saya tidak akan pernah punya seekor anjing lagi. Saya takut soal pendakiannya. Itu karena saya merasa bahwa saya akan mendapati mayat seekor binatang liar. Itu sebabnya saya berpikir untuk membawa sekopnya. Saya ingin mengubur mayat binatang itu dalam es. Tapi kemungkinan melihat mayat binatang saat pendaikan tidak bagus. Orang lain mungkin melihatnya di hadapan saya. Bagaimanapun, saya bertanya-tanya apakah saya harus membawa sekop. Saya mungkin bisa menggunakannya sebagai tongkat hiking. Tapi alih-alih menggunakannya untuk mengubur mayat hewan di es, saya ingin mengubur sekop yang telah saya gunakan untuk mengubur anjing itu. Pada saat es mencair saya tidak akan berada di sana. Bahkan saat es mencair, memunculkan mayat dan sekop, saya tidak akan ada di sana untuk melihat. Saya lega anjing itu sudah mati. Seekor anjing mati tidak bisa mati lagi. Karena anjing itu sudah meninggal, saya bahkan tidak bisa mengklaim kepemilikan atas anjing yang tidak ada. Saya ingin melepas kepemilikan saya atas sekop itu juga. Tapi busnya tiba. Orang masuk satu-satu. Nama sungai itu adalah Hantan. Ini pertama kalinya saya pergi ke Sungai Hantan.

Kami menyusuri sungai untuk waktu yang lama. Kami tiba di tempat dimana sungai itu padat membeku. Orang-orang pergi ke sungai. Salju yang jatuh sehari sebelumnya menumpuk di atas lempengan es. Saya tidak membawa tongkat. Seharusnya saya membawa sekop. Saya ingin mengubur salju di bawah es. Saya ingin mengubur mata saya di bawah es. Dua orang berjalan di depan saya. Salah satunya adalah seorang matematikawan yang telah menjadi salah satu pembicara sehari sebelumnya. Mereka bertukar beberapa kata. Saya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Saya memakai sepatu lari. Saya sudah merasa seolah jari kaki saya membeku. Sinar matahari menyilaukan. Karena cahaya menyilaukan, saya menaungi mata saya dengan tangan. Saya mengantuk. “Tidak banyak makalah yang dirilis dari Korea. . . ” Saya mendengar apa yang dia katakan. Saya bertanya-tanya bagaimana bisa ada kata-kata seperti itu yang membuatmu tidak memikirkan apapun.

“Apa Anda tidak punya sepatu yang lebih sesuai?” Seseorang bertanya dari belakang.

Saya menoleh ke belakang. Dia adalah pembicara ketiga. Dia seorang novelis. Alih-alih mendengarkan tanggapan saya, dia berbalik ke samping dan mengambil gambar. Saya menunduk menatap sepatu hiking-nya. Saya pikir ini pertama kalinya saya melihat sepatu hiking dari dekat. Sinar matahari sama membutakannya seperti sebelumnya. Sebuah formasi granit terlihat. Batu granit yang tertutup salju seperti jamur raksasa atau piring terbang. Saya belum pernah melihat jamur raksasa atau piring terbang. Tetapi bahkan jika saya melihat jamur raksasa atau piring terbang, saya tidak akan berpikir bahwa mereka tampak seperti batu granit. Saya tidak punya sepatu yang tepat. Saya memikirkan teka-teki yang membuatmu memikirkan benda-benda serupa. “Mereka bilang ini batuan beku. .” Sekali lagi, saya mendengar apa yang dia katakan. Karena saya ingin mendengar apa yang terjadi selanjutnya, saya cepat-cepat menggerakkan kaki saya. Dan kemudian saya jatuh. Beberapa orang berpaling untuk melihat, dan beberapa dari mereka tertawa terbahak-bahak.

“Apa Anda tidak punya sepatu yang tepat?”

Itu adalah kata-kata yang tidak ingin saya dengar. Saya berdiri dengan canggung dan menyapu salju. Umur saya tiga puluh tiga tahun dengan pikiran sehat dan tubuh yang membusuk. Atau justru sebaliknya? Dengan pikiran membusuk dan tubuh yang sehat. Tidak. Dengan pikiran yang sehat dan tubuh yang sehat. Tidak. Begitu saya tergelincir dan jatuh, kata “bagasi” muncul dalam pikiran. Apakah ada sekop di bagasi? Apakah saya mengubur anjing dengan sekop? Apakah anjing itu mati? Apakah saya punya anjing? Saya mulai berjalan lagi. Orang-orang diam-diam berjalan di sepanjang sungai untuk beberapa lama. Sungai makin sempit dan sebuah tenda terlihat. Sepasang sepatu hiking berjajar di luar tenda. Saya ingin mencurinya dan melarikan diri. Tapi saya akan tergelincir dan jatuh sebelum saya bisa melarikan diri. Apakah sebelum saya mencuri sepatu hiking itu saya tergelincir dan jatuh, atau setelah saya mencurinya? Sebuah façade batu terjal terlihat. Saya tahu kata benda yang menggambarkan topografi semacam ini. Tapi saya tidak bisa mengingatnya. Apakah kamu tetap menyebut itu pengetahuan jika kamu tidak bisa mengingat pengetahuan itu? Tiba-tiba sebuah titik muncul di langit. Saya menatap langit melalui jari saya. Titik bergerak secara horisontal. Itu elang. Orang-orang bersorak. Seseorang mengeluarkan teropong. Bukan si cendekiawan. Kalau dipikir-pikir, dia tidak ada di sana. Dia mungkin tidak membawa pakaian musim dingin. Dia tidak akan mempertimbangkan untuk pergi mendaki dengan jaket wol dan mantel jas. Dia mungkin juga tidak membawa sepatu yang tepat. Saya tidak membawa sekop. Titik yang telah bergerak secara horisontal melonjak tiba-tiba. Bayangan elang menjadi noda kecil dan menyulitkan mata. Saya merasa bisa menulis fragmen berdasarkan ingatan hari ini. Tapi tidak banyak yang saya lihat. Seharusnya saya membawa sekop. Saya ingin menulis tentang kematian. Saya ingin melihat mayat binatang dengan mata kepala sendiri dan menulis tentang kematian, berdasarkan hal itu. Bagaimana rasanya melihat mayat manusia? Tapi berpikir bahwa saya ingin melihat mayat manusia untuk tulisan kecil saya terasa tak bermoral. Tapi ini juga berlaku untuk mayat binatang. Saya bingung. Saya tidak tahu apa yang harus saya tulis dan apa yang seharusnya tidak saya tulis. Saya tidak tahu bagaimana saya harus menulis dan bagaimana saya tidak boleh menulis. Tapi untuk waktu yang lama saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Saya ingin menulis sesuatu, entah tentang mayat seseorang, ingatan memalukan, masa kecilmu yang kejam, penyakitnya yang sulit, amnesia seseorang, pemikiran saya yang harus disalahkan, penyangkalan, atau kematiannya. Kalau saja saya bisa menulis satu kalimat saja. Kalau saja saya bisa memulai sebuah kalimat yang bukan berarti saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Saya melihat banyak kematian. Tapi saya tidak bisa menulis secara konkret tentang kematian mereka. Bukan berarti saya belum mencobanya. Begitu juga dengan kematian anjing itu. Mereka dan anjing itu meninggal secara abstrak. Dan mereka bertahan seperti kalimat yang telah ditulis dengan mudah. Bayangan elang jadi lebih kecil. Saya mendongak. Tapi saya tidak bisa melihat apapun, karena matahari menyilaukan. Lalu saya tergelincir dan jatuh lagi.

“Apa Anda tidak punya sepatu yang sesuai?” Seseorang bertanya.

Ini untuk ketiga kalinya saya mendengar pertanyaan itu. Mengapa orang bertanya tentang sesuatu yang bisa mereka lihat? Saya tidak datang dengan sepatu yang tepat. Saya tidak tahu apa sepatu yang tepat lagi. Pertanyaan apakah saya punya sepatu yang tepat terdengar seperti pertanyaan apakah saya bisa menulis kalimat yang tepat. Ini adalah kompleks inferioritas saya. Saya mengeluarkan sebungkus rokok. Orang yang menanyakan pertanyaan itu meminta rokok. Saya katakan itu rokok terakhir dan saya bertanya padanya apakah dia ingin merokok punya saya. Dia tertawa canggung dan menolak. Dia melihat pak yang penuh dengan rokok. Kali ini dia tidak bertanya tentang apa yang dilihatnya. Dan kemudian dia pergi. Dia berjalan ke depan. Seseorang berdiri di puncak berterika kalau es tidak membeku padat dan kita harus mendaki ke tepi sungai. Dengan cepat, orang-orang memanjat. Ini disebut columnar jointing. Fasad batu terjal dari sebelumnya disebut columnar jointing. Pikiran saya menyala sebentar. Tapi definisi kamus tentang columnar jointing tidak akan menjadi façade batu yang terjal. Ada batas kemampuan saya untuk mengungkapkan sesuatu. Jadi wajar kalau saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Saya merasa malu. Saya mengambil telepon saya dan menjalankan aplikasi kamus saya dan mengetikkan “columnar jointing.” “Jointing mengacu pada patah tulang di batu. . “Sebuah fraktur di batu. . . Saya mendengar suara es retak. Untuk sesaat, saya berpikir bahwa saya pernah melihat es retak sebelumnya. Dan untuk beberapa saat, saya tidak memikirkan apapun. Bukannya saya tidak berpikir—saya tidak bisa memikirkan apapun. Saya merasa kedinginan. Kali ini sensasinya lebih cepat dari pikiran saya. Tapi inilah pikiran saya yang mengatur sensasi. Saya melihat ke bawah. Kaki kiri saya ada di bawah es. Sementara saya mencari definisi kamus “jointing kolumnar,” sebagian besar orang telah naik ke tepi sungai. Mereka sepertinya tidak pernah mendengar saya jatuh ke sungai. Saya menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Orang-orang bergerak lebih jauh. Saya menarik kaki saya keluar. Ini menakutkan dan dingin. Tidak. Tidak ada sensasi. Lubang dingin masuk ke tubuh saya seperti jarum. Saya tidak memakai sepatu yang tepat. Umur saya tiga puluh tiga tahun dengan pikiran dan tubuh saya tidak yakin apakah masih sehat atau membusuk, dan kaki kiri saya membeku. Saya ingin memotong kaki kiri saya dan menguburnya di bawah es. Karena sungai mengalir di bawah es, potongan kaki kiri saya akan mengalir deras dengan arus sungai. Saya tidak membawa sekop. Tapi apakah saya mengubur anjing itu? Paling tidak, saya mengubur anjing itu dalam kalimat yang saya tulis dengan mudah. Orang-orang bergerak lebih jauh. Cabang pohon telanjang di bawah es tampak seperti pembuluh darah. Sebelum kaki kanan saya juga jatuh ke sungai, saya naik ke tepi sungai. Saya melepas sepatu dan kaus kaki yang tidak semestinya. Kaki saya berwarna biru dan merah dan putih. Saya harus kembali sebelum kaki saya membeku. Berapa lama jalannya kembali? Apa yang akan saya lihat saat saya melewati columnar jointing dan batuan granit lagi? Fraktur. Ini adalah kata yang aneh.

Lalu saya terbangun.

Matahari sepertinya sudah terbenam. Saya meraba-raba dinding dan menyalakan lampu. Kaki kiri saya terasa tertusuk dan perih. Tapi saya bisa menahan rasa sakitnya. Dalam mimpi, kaki kiri saya tidak perlu dipotong. Saya bahkan tidak jatuh ke sungai. Saya bahkan tidak melihat elang itu. Saya mengambil sepasang kaus kaki baru dan menariknya, lalu menarik sepatu saya yang masih basah. Saya mengemasi barang-barang dan keluar dari asrama. Kaki kiri saya perih. Orang-orang belum kembali. Begitu sepi. Saya mengambil kunci mobil saya dan menekan sebuah tombol. Lampu berkedip. Pembukaan pintu terdengar sangat keras. Saya memasukkan tas di jok belakang dan membuka bagasi. Ada sekop di dalamnya. Ada kotoran kering di sekop. Apakah saya benar-benar mengubur anjing itu? Jauh di dalam bagasi ada sekaleng bir. Saya mengambilnya dan mengguncangnya. Saya tidak mendengar ada cairan di dalamnya. Saya lupa kata “fraktur”. Saya sapu salju yang menumpuk di atas mobil dan duduk di kursi pengemudi. Saya menyalakan kunci kontak. Mobil tidak menyala. Saya coba lagi. Masih tidak menyala. Akinya mungkin mati. Saya berjalan kembali menuju asrama untuk mencari penjaga. Saat saya menekan bel di atas meja, dia muncul tak lama setelahnya. Inilah orang yang pernah saya lihat sehari sebelumnya. Tapi saya tidak ingat apakah dia adalah orang yang sedang berbicara di telepon atau orang yang sedang berbicara dengan orang yang sedang berbicara di telepon. Dia melirik saya dan berkata sebelum saya mengatakan sesuatu, “Akan sulit pergi ke Seoul. Saljunya tebal.”

Tetap saja, dia menyalakan mobil saya dengan benda yang tidak saya kenal.

“Jangan matikan mesin sampai sekitar tiga puluh menit.”

Saya ingin menanyakan nama benda itu, tapi saya menghentikan diri. Saat mobil menyala, radio menyala. Sebelum saya akan berterima kasih padanya, dia sudah berjalan kembali ke gedung. Saya mengecek jam. Pukul 7:43. Saya tidak bisa mematikan mesin sampai jam 8:13. Tapi tidak perlu mematikan mesin sebelum itu. Saya keluar dari tempat parkir dan melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, saya merasa harus mengeluarkan sekop dan membiarkannya di kursi penumpang depan. Tapi sudah terlambat. Saya merasakan firasat buruk. Saya mungkin harus menggunakan sekop untuk membersihkan salju. Salju ditumpuk lebih tinggi dari perkiraan saya. Ada timbunan salju di kedua sisi jalan. Jalannya sedingin es. Saya perlahan menuju jalan raya. Penunjuk arah terlihat. Jika saya belok kiri, itu menuju Sungai Hantan. Tiba-tiba, saya ingat kata “fraktur”. Ini adalah kata yang aneh.

Ketika saya kembali, saya harus menulis. Saya tidak perlu melakukannya. Tapi saya ingin. Tapi saya tidak akan melakukannya. Saya ingin menulis fragmen yang terdiri dari satu kalimat. Judul dari fragmen itu adalah “Fraktur.” Saya beruntung bahwa kaki kiri saya yang basah. Kaki kiri saya basah, tidak akan tahu persis kapan atau berapa banyak tekanan yang harus saya terapkan pada pedal rem. Tapi saya tidak memiliki cukup pengalaman berkendara untuk merasakan kapan waktu yang tepat atau berapa jumlah yang tepat, terutama di jalan yang dingin. Tapi saya sudah cukup merasakan bahwa kata “fraktur” tidak sesuai dengan judul. . . Cukup pengalaman, yaitu. . . Saya memutuskan untuk membuang “Fraktur.” Lalu bagaimana dengan “Jangan Matikan Mesin”? Sebuah cerita tentang bagaimana seseorang meninggal karena dia tidak bisa mematikan mesin mobil selama tiga puluh menit. Tidak. Mengapa saya selalu berusaha menulis kematian seseorang? Selain itu, tidak tepat untuk memakai “Jangan Matikan Mesin” sebagai judul cerita di mana seseorang terjebak di dalam mobil dan akhirnya mati karena dia tidak bisa mematikan mesin. “Matikan Mesin” mungkin lebih baik. Tidak. Judul ironis seperti “Jangan Matikan Mesin” mungkin lebih baik.

Saya maju ke jalan raya empat jalur. Tidak banyak mobil. Mobil-mobil di depan bergerak pelan. Ini kasus yang sama dengan lalu lintas yang lewat. Lampu depannya menyilaukan. Laporan lalu lintas terdengar di radio. Ini tidak menyangkut daerah tempat saya berada. Laporan tersebut mengatakan bahwa ada sebuah kecelakaan di Seoul Ring Expressway. Dikatakan bahwa ada kendaraan macet di Gangbyeon Expressway. Dikatakan ada kemacetan luar biasa di seantero Seoul karena hujan salju lebat. Saya memutuskan untuk membuang “Jangan Matikan Mesin.” Telepon saya berdering. Mungkin seseorang mencari saya, karena saya lenyap tanpa penjelasan apapun. Bisa jadi orang lain. Bisa jadi penipu. Ponsel saya ada di jok belakang. Saya mengulurkan lengan, tapi saya tidak bisa mencapainya. Saya melepas sabuk pengaman dan memutar, meraba-raba kursi belakang. Tapi saya tidak bisa mencapainya. Saya menyerah. Tanda peringatan sabuk pengaman berhenti. Kaki kiri saya sakit.

Saya memikirkan saat saya pergi ke Pulau Cheju. Di jalan sambil melewati Gunung Halla, saya mendengar ada banyak insiden mobil-mobil yang menabrak dan membunuh rusa. Saya menyetir sepanjang jalan itu, berharap bisa menabrak seekor rusa. Saya pergi sekali, dua kali, tiga kali. Tapi saya tidak melihat satu pun rusa. Saat itu musim panas. Ketika saya menurunkan kaca jendela, saya bisa merasakan angin yang lengket dan sejuk. Di arboretum, saya benar-benar melihat seekor rusa, atau sesuatu yang serupa dengan seekor rusa. Ketika saya lewat di lapangan golf, saya melihat sebuah rusa. Saya melihat dari jauh untuk beberapa lama, menunggu seekor rusa terhantam bola golf. Rusa itu segera lenyap ke hutan. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lihat. Saya tidak tahu apa sebenarnya yang ingin saya lihat. Bisa jadi saya sendiri yang ingin saya tabrak dan bunuh dengan mobil. Bisa jadi saya yang ingin terkena lemparan bola golf, membuat kepala saya bocor. Salju turun. Kepingan salju mendarat di kaca depan dan segera meleleh. Jendela berkabut. Saya menyalakan pemanas sampai titik penuh. Saya mengantuk. Tapi saya tidak boleh tertidur. Sudah tiga puluh menit belum. Sudah jam 7:59. Dengan cemas, saya menunggu sampai jam 8:00. Apakah semenit bisa begitu lama? Saya perlu melaju lebih jauh sebelum sampai ke pompa bensin. Di sana, saya akan makan sesuatu dan tidur sebentar. Saya akan bermimpi di mana saya menabrak dan membunuh seekor rusa. Dan dengan mimpi itu, saya akan menulis sebuah kalimat. Sekali lagi, mudah. Terlalu mudah. Kalimat tunggal yang mudah sekali.

Lalu saya terbangun.

Saya mendengar sirene dari jauh. Saya buru-buru memindai jalan di depan. Saya melihat plat mobil di depan saya. 1477. Ketika saya menambahkan jumlahnya, saya akan mendapat angka 19. Jam menunjukan pukul 8:00. Di radio terdengar lagu yang akrab. Saya tidak tahu nama lagunya. Sepertinya saya tertidur selama sekitar lima belas detik. Karena saya berjalan lambat, jarak yang ditempuh dalam lima belas detik tidak begitu bagus. Sirene semakin dekat. Datang dari belakang. Saya bertanya-tanya apa yang salah dengan orang yang berada di ambulans yang melaju di sepanjang jalan yang tertutup salju. Saya melihat ke belakang melalui kaca spion. Ambulans semakin dekat. Mobil-mobil di belakang terlihat seperti mereka tidak mau menyingkir. Pemandangan salju yang kulihat di Sungai Hantan terlintas dalam pikiran. Pemandangan semacam itu mungkin disebut hamparan salju. Tenda dan ranting pohon di bawah es. Bayangan elang dan puntung rokok. Sirene makin melengking. Saya menoleh ke belakang lagi. Ambulans semakin dekat. Mobil-mobil di belakang bergerak lamban keluar dari jalan untuk membiarkan ambulans lewat. Tiba-tiba, saya memikirkan kata “hamparan salju” dan tenda di tepi sungai dengan sepatu hiking di luar. Apakah sepatu hiking itu juga basah di sungai? Apakah pemiliknya telah mencoba mengeringkannya? Atau mungkinkah pemiliknya membiarkannya basah? Sesuatu yang tidak basah belum terikat untuk menjadi basah. Sesuatu yang belum mati pasti akan mati. Saya menginjak pedal gas. Peringatan sabuk pengaman mulai berpadu. Bunyi peringatan mengisi saat istirahat sangat singkat di sirene. Bunyi peringatan makin sering. Sirene dan tanda peringatan membuat konsonan yang mengejutkan. Telinga saya berderak. Mereka menusuk begitu banyak sehingga saya ingin mati. Itu bohong. Saya menoleh ke belakang lagi. Ada dua mobil antara saya dan ambulans. Saya pikir saya pasti menggunakan “Jangan Matikan Mesin” sebagai judulnya. Saya memutar kemudi ke samping. Saya tidak memiliki cukup pengalaman berkendara untuk mengetahui seberapa banyak saya harus memutar roda kemudi agar aman, terutama di jalan yang dingin. Saat memutar roda kemudi, saya pikir akan lebih baik memakai sabuk pengaman lagi. Jika peringatan berpadu tidak segera berhenti, maka sampai pada titik dimana saya ingin mati. Saya merasa seolah-olah saya telah melihat ambulans yang ada di belakang saya sebelumnya. Saya bisa melihat lampu merahnya meski saya tidak melihat. Sirene merah memenuhi penglihatan saya. Bahkan celaan peringatannya merah. Pada siang hari saya melihat hamparan salju. Sekarang di malam hari, saya melihat warna merah. Kepingan salju yang jatuh di kaca depan meleleh. Saya ingin menulis kecepatan itu dalam sebuah kalimat. Saya ingin menulis tentang kemerahan itu dalam sebuah kalimat. Berapa banyak kepingan salju yang kamu butuhkan untuk membuat timbunan salju? Seharusnya saya menghadiahi mata saya kepada siapapun; tidak mesti hanya cendikiawan. Saya ingin menghadiahi mata saya pada siapapun. Seharusnya saya mengeluarkan sekop dari bagasi. Seharusnya saya menggunakannya untuk mengubur diri saya sendiri. Tapi bagaimana mungkin saya, orang yang sudah mati, mengubur diri saya sendiri? Jika saya tidak menguburkan diri, siapa yang akan mengubur saya? Cahaya peringatan mulai bergejolak spasmodik. Saya tidak tahu apa peringatan itu adalah peringatan. Sudah terlambat untuk peringatan. Lebih cepat dan lebih cepat. Mesin tidak bisa dimatikan. Kaki kanan saya mencari rem. Kaki kanan saya tidak basah, tapi sudah terlambat. Lebih lambat dan lebih lambat. Kecepatannya lenyap. Saya suka kalimat yang kecepatannya lenyap. Saya akan menulis itu sebagai kalimat pertama saya. Sekarang setelah saya menulis kalimat pertama saya, saya ingin menulis kalimat berikutnya. Tapi apa yang saya lihat sekarang? Kemerahan menghapus kalimat saya. Saya menemukan bahwa ini menyedihkan. Tidak, saya seharusnya tidak menggunakan bentuk lampau. Siapa yang akan menulis kalimat saya jika saya meninggal? Siapa yang akan menulis kalimat saya yang tidak ada jika saya sudah meninggal? Bagaimana kalimat saya yang tidak ada bisa ada jika saya mati? Bagaimana saya mengubur kalimat saya yang tidak ada jika saya mati? Siapa yang akan membaca kalimat saya yang tidak ada jika saya mati? Lebih cepat dan lebih cepat. Lebih lambat dan lebih lambat. Kecepatannya lenyap. Ini lenyap bahkan sebelum kalimat yang telah kehilangan kecepatan bisa ada. Lebih cepat atau lebih lambat. Semua kecepatan adalah salah satu dari keduanya. Lebih keras dan keras. Lebih keras dan keras. Lebih keras dan keras. Suara mengalahkan kecepatan. Kemerahan makin mendekat. Semuanya merah.

*

Han Yujoo lahir di Seoul pada tahun 1982. Dia belajar sastra Jerman di Universitas Hongik, memperoleh gelar Master di bidang estetika dari Universitas Nasional Seoul, juga sastra komparatif di kampus yang sama. Dianggap sebagai anak liar dalam skena sastra avant-garde Korea Selatan.

Diterjemahkan dari 한탄 (Hanta), mengacu pada nama sungai. Selain itu, dalam kebudayaan Korea ada yang namanya ‘han’, istilah yang sulit diterjemahkan dan tak bisa dihayati non-Korea. Penjelasan singkatnya, ini adalah kemarahan sekaligus melankolia kultural orang Korea. Lebih lengkap bisa baca Amuk dan Hwabyeon: Kemarahan Kultural yang Mematikan.

 

 

Kategori
Fiksi

Pembunuhan Diri, Kim Young-ha

young-ha-kim-napkin-lg

Dia berumur dua puluh satu tahun, dengan kulit kuning langsat yang mulus. Bahkan tanpa rias muka, wajahnya bersinar, selalu bersih dan berseri. Inilah mengapa klinik dokter kulit mempekerjakannya sebagai resepsionis. Pekerjaannya sederhana. Yang harus dia lakukan hanya menulis nama pasien, mengarahkan mereka dengan suara ramah, “silahkan duduk sampai kami memanggil nama Anda,” mencari bagan mereka, dan menyerahkan ke perawat. Kulitnya yang bercahaya dan kinclong menciptakan harapan tinggi, mendorong pasien agar percaya pada klinik ini, yang ditandai dengan peningkatan jumlah pasien yang tiba-tiba.

Tapi suatu hari, wajahnya kehilangan kerupawanannya. Masalahnya dimulai dengan munculnya jerawat kecil, semakin memburuk dan memburuk sampai menyebar ke seluruh wajahnya. Tidak ada yang tahu. Awalnya, si dokter muda itu, yang baru bisa memulai bisnis dengan bantuan pinjaman bank, memperlakukannya dengan biasa saja, tapi kemudian memusatkan perhatian padanya dengan penuh keputusasaan. Dan semakin si dokter memusatkan perhatian padanya, semakin kondisi si resepsionis memburuk. Bintik-bintik merah menutupi wajahnya, membuatnya seperti pizza yang lumer kalau dilihat dari jauh. Dokter yang putus asa itu menjambak rambut si resepsionis dan perawat membencinya. Suatu hari di musim semi, dia meninggalkan sebuah catatan – “Saya minta maaf kepada semua orang, saya minta maaf” – lalu bunuh diri. Klinik tadi menyewa seorang resepsionis baru. Kulitnya yang sangat bercahaya sampai-sampai bikin mata semua orang langsung tertutup.

*

Diterjemahkan dari Honor Killing. Fiksimini dari Kim Young-ha yang dimuat di Esquire ini bercerita seperti judulnya, yang kalau diterjemahkan tepatnya berarti pembunuhan demi menjaga kehormatan. Juga mengkritisi budaya kontemporer Korea Selatan yang mengkultuskan visual seseorang.

Kategori
Fiksi

Setelah Suara Tembakan

soju

Terjemahan dari After the Gunshot dari Lee Ji Myung, mantan propagandis Korea Utara yang membelot ke Selatan. “Tidak ada ruang di Korea Utara bagi seorang individu untuk mempublikasikan hal-hal dari kehendak bebas mereka sendiri,” ungkapnya, dan merasa malu karena pernah menulis untuk kepentingan pemerintah.

Awan hitam berarak rendah dan gundah-gulana menghiasi langit, melimbang di atas aliran merayap sungai. Seperti biasa, Sungai Aprok bergema mengaliri jurang yang dalam. Air naik setelah badai datang tiba-tiba, dan tampak melimpah di bawah bulan yang berkilau.

Sebuah tembakan keras terdengar tidak jauh.

Saat suara tadi, seekor burung malam yang tengah tertidur di batang pohon willow mengepakkan sayapnya dan terbang, dengan terkaget, ke langit. Pada saat yang sama, seorang pemuda berpakaian hitam muncul di tepi sungai, terengah-engah.

Dia bersembunyi di balik batu, menahan napas, memandang cemas ke bawah sungai. Sekarang dia hati-hati melangkah keluar dan menuju ke dalam air. Saat ia melihat ke kedalaman sungai, matanya penuh ketakutan.

Dia terhenti selama satu detik. Bayangan-bayangan gelap bergerak maju di pegunungan yang barusan ia lalui, bergegas ke arahnya. Sorotan senter mengenai punggungnya dan sebuah suara nyaring berteriak, “Jangan bergerak!” Pada saat itu, keraguannya menghilang dan dia menceburkan diri ke air dan lenyap.

Bayangan-bayangan gelap tadi mengarahkan senternya ke dalam air yang mengalir tapi tidak bisa melihat lelaki tadi.

“Sial!” Pria berperut buncit, yang tampaknya bertanggung jawab, bersumpah keras dan menembakkan pistolnya ke udara. Bang! Tetapi gema itu ditelan oleh arus keras dari sungai.

Dikejutkan oleh keributan di sisi lain sungai, dua penjaga perbatasan yang sedang bertugas saling memandang seolah-olah mereka baru saja melihat sesuatu yang gila.

“Apa yang salah dengan bajingan itu malam ini?”

“Yah, dia menembak pistol, jadi dia jelas bukan penjaga perbatasan.”

“Kau mungkin benar,” kata yang paling tinggi. “Berani-beraninya bajingan itu menembak! Haruskah kita balas menembak?” Seolah-olah hendak menembak, pria tinggi mengangkat senapannya.

“Hei, kau gila? Kau tidak bisa menembak di perbatasan.”

“Nah, bajingan itu melakukannya, jadi mengapa kita tidak bisa?”

“Ke mana kau akan menembak? Ke dalam air? Ke udara? Pikirkan kembali.”

Untuk sementara, para pria di sisi lain terus berteriak. Kemudian, karena letih oleh usahanya, mereka berjalan pergi dan suara mereka memudar. Dua penjaga perbatasan mengawasi mereka sampai mereka menghilang, dan kemudian melanjutkan patroli mereka.

*

Di ruang sempit dekat pintu masuk ke jalan kecil tak jauh dari pinggir sungai, seorang perempuan jenjang dan benar-benar cantik menunggu dengan gelisah. Jang Sin-mi: tinggi dan cantik—itu namanya. Dia melirik jam di dinding: baru saja melewati pukul 3:00 pagi. Tapi dia terlalu takut meski hanya memunculkan pikiran untuk tidur.

Ruang kecil itu mempunyai dapur mungil dan tempat tidur yang menghadap dinding bagian dalam. Di sebelahnya terdapat kotak kayu besar. Sisanya, ruangan itu kosong. Ada dua tanda tempat itu dihuni: tas coklat di jendela, dan cermin kecil yang mungkin miliknya.

Dinding itu ditutupi kertas untuk menutupi dinding semen, dan beberapa pakaian tergantung di paku. Selimut terlipat di ujung tempat tidur, buatan Cina, dengan pola merak. Perempuan itu sedang menunggu seorang lelaki yang seharusnya sudah tiba. Kang Ki-su: seorang pria kuat—itu namanya.

Perempuan tadi mendengar suara tembakan dari tepi sungai dan suaranya masih tergiang di telinganya. Kang Ki-su harusnya sudah kembali dua jam yang lalu. Pada sekitar tengah malam, dia menyeberangi sungai dengan membawa ranselnya, sesuai kesepakatan.

Orang yang seharusnya menyerahkan lima belas kilo opium belum datang, pikirnya. Dan kemudian suara tembakan terdengar.

Tentu saja, ketika Kang Ki-su menyeberang, belum hujan. Badai yang datang sekitar satu jam setelah dia pergi benar-benar telah membuat air sungai meninggi, tapi dia adalah jenis orang yang akan tetap kembali dengan melintasinya. Dalam tiga puluh menit, pikir Jang Sin-mi, matahari akan terbit. Sin-mi merasa seperti ada yang terbakar dalam dirinya.

Sin-mi tidak pernah membayangkan bahwa menunggu seseorang bisa sesulit ini. Meskipun mereka belum menikah, hubungan mereka bukan sebatas teman. Ketika mereka pergi ke sini untuk menuju Hyesan, mereka selalu berbagi tempat tidur. Dua muda-mudi berusia dua puluhan berdarah panas tinggal bersama di sebuah ruangan kecil? Semua tetangga menganggap mereka sepasang sejoli.

Sin-mi sangat menderita. Dia tidak bisa memutuskan apakah dia harus pergi keluar atau menunggu lebih lama.

Mereka telah membuat satu aturan: tidak pergi ke luar pada malam hari. Tapi menunggu seseorang yang tidak datang-datang di ruangan gelap tanpa lampu menyala—sungguh tak tertahankan. Karena ia harus kembali, dan penantian ini menekan dada Sin-mi. Lebih buruk lagi, sebuah tembakan terdengar ketika ia seharusnya telah menyeberang! Itu bukan perkara kecil! Dan sekarang sudah dua jam sejak tembakan menyayat hati tadi terdengar dari sungai.

Seorang lelaki belum kembali, dan setelah suara tembakan! Mata Sin-mi lurus menatap pintu. Air mata menggenang dan mulai turun. Sesuatu pasti berjalan tidak sesuai rencana. Jika itu yang terjadi, ia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi? Mereka melakukan ini berkali-kali dan selama bertahun-tahun, tapi belum pernah seperti ini. Dan sekarang, akhirnya. . .

Bahu perempuan itu mulai gemetar dan kemudian, namun bunyi berderit membuatnya terkejut, dan pintu terbuka. Sin-mi bahkan tidak menyeka matanya. Dia berlari ke arahnya.

Kang Ki-su, tubuh kuat itu basah kuyup, menatap kosong Jang Sin-mi dan membenamkan diri ke lantai. Mungkin dia kehilangan kesadaran. Dia menutup matanya dan tidak bergerak sama sekali.

“Hei?” Air matanya menetes ke wajahnya, Jang Sin-mi memanggil dengan suara rendah, tapi tidak ada jawaban. Air dari tubuh Kang mengalir ke arah tungku yang menghangatkan ruangan dan Sin-mi bisa mendengar suara tetesannya.

Jang Sin-mi cepat menuju pintu dan menguncinya rapat. Lalu ia berlutut di samping Kang dan menatap wajahnya yang pucat. Kang bernapas. Sin-mi bangkit, mengambil sebotol minuman keras dari lemari di dapur, membukanya, dan hati-hati menuangkan beberapa tetes di antara bibir Kang. Minuman menetes sedikit, maka Kang meminum cairan itu dengan suara tegukan. Beberapa saat kemudian, Kang mengerang dan membuka matanya. Mata Sin-mi berubah cerah penuh sukacita.

“Tunggu sebentar,” kata Sin-mi. “Aku akan membantumu membuka pakaianmu.” Dia melepas baju yang robek-robek dan kotor itu. Ketika ia mencoba untuk membuka baju yang tertahan antara tubuh dan lantai, Kang bergeser sedikit untuk memudahkannya. Setelah Sin-mi sudah melepas celana dalam Kang, Sin-mi mengisi baskom dengan air hangat, membasahi handuk, dan dengan hati-hati mengelap tubuh Kang.

Kang lecet di beberapa tempat dan ada darah juga. Dengan kain, Sin-mi menyeka Kang sampai kering, kemudian merangkulnya untuk mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur. Kang langsung tertidur. Sin-mi meliputinya dengan selimut dan berbalik menuju kompor, dia menyalakan api. Dia mencuci setiap robek pakaian, menggantungnya pada tali yang membentang di seberang ruangan, dan kemudian mencuci beras. Dia memasukkannya ke dalam panci untuk dimasak.

*

Sebuah sarapan yang telat. Akhirnya, beberapa jam setelah fajar, Kang Ki-su bangkit dan pindah untuk duduk di meja rendah di tengah ruangan. Matanya masih kusam karena kelelahan. Sin-mi membawa botol minuman keras ke meja dan menuangkan beberapa teguk.

“Kamu harus ikut minum juga,” kata Kang.

“Jangan terlalu banyak. Aku begitu senang bisa menuangkannya untukmu.”

Sin-mi mengambil gelas lain dan meletakkannya. Kali ini, Kang Ki-su yang menuangkan.

“Cukup segitu, setengah saja.”

*

Saat Sin-mi menyentuh botol, dia tersenyum lebar. Pada siang hari, dia begitu cantik. Kau bisa melihat tak ada cacat, dan wajahnya betul-betul sebuah keindahan. Kulit Sin-mi mulus: Kang tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Itu wajah yang Kang kenal betul dan ia tidak akan pernah bosan karenanya, dan ketika Sin-mi memberengut pada Kang, ia tersenyum malu-malu dan memalingkan muka.

“Ayo, segelas lagi,” kata Kang. Sin-mi menyentuh gelas. “Baik.”

Sin-mi melihat lelaki itu saat ia minum lagi, menyesap seteguk, dan meletakkan gelas kembali. Itu adalah minuman keras yang kuat dan Sin-mi merasa panas di tenggorokannya saat minuman itu turun, meskipun dia cuma meneguk sedikit.

“Ngomong-ngomong, uangnya tidak basah,” kata Sin-mi.

“Bagaimana aku bisa membuatnya basah? Itu adalah hidupku.” Kang menyeringai. “Apakah kamu merasa lebih baik?”

“Ya. Apakah kamu khawatir bahwa aku akan mati?”

“Aku pikir aku yang sedang sekarat, karena hatiku begitu tertekan.” Sin-mi memberengut lagi.

“Bagaimana aku bisa mati ketika seorang gadis cantik sepertimu menungguku? Tidak masuk akal.”

“Kau serius?”

“Tentu saja. Apakah aku serius atau tidak, bagaimanapun, itu sesuatu yang penting. Maksudku, ketika ada seorang gadis menunggu.” Kang tertawa kecil. “Itulah sumber kekuatan lelaki.”

“Aku selalu akan menunggu selamanya. Tapi. . .”

“Ya?” Kang memandang Sin-mi sambil meletakkan sesendok besar ayam dan tahu rebus dalam mulutnya.

“Apa yang tadi itu . . . suara tembakan?”

“Ah—tak tahu kenapa mereka bisa menemukanku. Mereka menyudutkanku dan hampir menangkapku. Bagaimana mereka bisa tahu?”

“Mereka membuatmu terpojok?” Mata Sin-mi melebar.

“Aku rasa ini sudah berakhir. Sampai kita menemukan jalan lain.”

Kang mengangkat gelasnya. Dia mengguncang tetes terakhir ke dalam mulutnya. Sin-mi meminta, “Ceritakan apa yang terjadi.”

“Biarkan aku makan dulu, aku kelaparan.”

Sin-mi menyorongkan piring di meja. “Maaf. Ini, makan ini. Jangan kebanyakan minum.”

Sin-mi menatapnya dan tersenyum. Kang telah melewati kematian. Jika bayangan tebal kematian menutupi diri Kang, dan jika dia bisa menghindarinya karena seorang gadis penuh kerinduan sedang menunggunya, Sin-mi akan terus menunggu—bahkan jika itu untuk seumur hidupnya. Kang telah membuat jelas bahwa itu sesuatu yang penting. Sin-mi ingin menanamkan itu pada ingatannya.

*

Sin-mi berharap bahwa apa yang Kang katakan adalah sebuah janji, dan bahwa ia akan menepatinya. Sin-mi tahu mereka tidak bisa hidup seperti ini selamanya. Dia tidak ingin terus-terusan berada dalam situasi aneh macam begini.

Di mana pun itu terjadi, Sin-mi ingin satu hari mereka memiliki tempat yang aman dan nyaman di mana dia bisa memegang kepala Kang dan hidup dengan lelaki yang dicintainya itu. Sin-mi membenci kehidupan ini. Kang telah mengatakan semua ini sudah berakhir, dan Sin-mi mengharapkan hal ini. Dia ingin Kang untuk memahami hal ini.

“Ini lezat. Sin-mi, kau koki yang hebat.””Beneran?”

“Tentu saja. Maksudku tidak ada yang akan menolak makanan, kan. Ini enak. Sini kucium.”

Bibir Kang masih basah oleh sup tetapi ia menekan bibirnya menuju pipi putih Sin-mi dan menciumnya dua kali.

“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa begitu bahagia setelah apa yang terjadi tadi malam.” “Huh. Apa gunanya memikirkan tentang itu? Lagi pula, itu memang kejadian sial tadi malam. Aku sudah menyalurkan barangnya dan punya uang dan sekarang ada di tasku. Mereka memintaku untuk tinggal untuk minum jadi aku setuju. Kemudian . . . ”

Kang berhenti sebentar dan meletakkan rokok di mulutnya. Sin-mi cepat menyalakan api untuknya. Kang mengisap dalam-dalam dan kemudian menghembuskan. Kang menggigil. Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

“Sebenarnya, kau tidak boleh minum bila kau sudah dapat uangnya. Dan selain itu, meski mereka sama-sama orang Korea seperti kita, mereka sudah tinggal bersama orang-orang Cina. Bagaimana bisa kau benar-benar mempercayai mereka? Jadi aku berkata aku akan ke kamar mandi dan menyelinap keluar dari pintu belakang. Maka kau tahu apa yang aku dengar dalam gelap? Bunyi kerikil, bergulir menuruni bukit curam.

“Pikiranku sedang dalam kondisi siaga tinggi dan aku punya firasat tiba-tiba. Lari. Jika aku tertangkap, bakal mati. Jadi aku berlari ke arah sungai. Mungkin mereka melihatku, dan mereka bahkan melepaskan tembakan saat mereka mengejarku.” Dia tertawa. “Tapi aku bisa pulang kembali kepadamu.”

Sin-mi menaruh tangannya di belakang leher Kang, dan menariknya ke arahnya. Dia mengusap pipinya yang lembut ke rambut Kang. Air mata menetes dari mata Sin-mi. Kang membungkuk ke arahnya dan berbisik ke telinga Sin-mi.

“Apakah kau tahu apa yang aku pikirkan ketika aku melompat ke dalam air yang gelap?” “Apa?”

“Ketika aku berada di bawah air, Sin-mi, kau muncul dan tertawa dan memanggilku. Kemudian aku harus fokus. Mungkin jika aku tidak sadar, aku bakal. . .”

Kang ketakutan, dan ia memeluk Sin-mi lebih erat.

Kategori
Fiksi

Menanti Sang Gajah, Jo Kyung-Ran [2/2]

menanti sang gajah jo kyung-ran cerpen korea

Sampai sekarang hatiku masih terpukul ketika aku mendengar langkah kaki ibuku saat datang menaiki tangga ke kamar lotengku. Malam itu, ibu datang ke kamarku. Dia mengatakan kami harus meninggalkan rumah kami ini. Ada begitu banyak hal yang orang tuaku sembunyikan dari kami. Dia mengatakan kalau rumah kami akan diambil alih dan akan segera dilelang. Kakak tertua ayahku telah meminjam uang dari ayahku dua kali kemudian kabur. Aku tak bisa menyalahkan ayahku. Semua orang hanya mencoba untuk melakukan apa yang dianggapnya baik. Untuk pertama kalinya, aku mengerti ungkapan, “Suatu hari kita bakal menemukan diri kita keluar ke jalanan.”

Ayahku berhenti merokok. Berdiam di kamarnya sepanjang hari. Makan makanannya sendirian. Wajahnya menghitam dan jadi tirus seperti Paman Dosong-ku yang sudah meninggal itu. Dari telinga ibuku menetes darah. Aku hanya berharap adikku bisa tetap sekolah. Aku pikir tak ada bedanya orang tuaku menyembunyikan hal-hal mengerikan ini dari kami tiga anak perempuannya ini. Aku menusuk-nusukkan pisau dapur ke  batu bata merah dinding rumah. Rumah ini memang kokoh. Kami mulai bertengkar. Aku berlarian berputar-putar—ke semua ruangan—untuk menjaga barang-barang. Ini penting dan harus ada seseorang melakukannya.

Maaf aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu, katanya.

Aku tidak takut kehilangan rumah seperti setakut aku kehilanganmu, aku berseru kepadanya, ketakutan.

Dia menangis. Jangan menangis, aku menghibur dia.

Aku tidak menangis. Air mataku terpendam dan meledak justru ketika sang gajah datang mendatangiku lagi. Aku membenamkan wajahku di perut besarnya, serta menutup mulutku dengan tanganku, aku menangis dan terus menangis.

Sesekali dia meneleponku. Apa kabar? Suaranya sedih dan lembut. Aku tertawa meremehkan. Apa kabar? Dia bertanya kepadaku, lalu dia bertanya soal rumah. Kemudian dia bertanya hal lain. Apakah gajah itu datang lagi? Ada saat-saat ketika dia tampaknya lebih tertarik pada si gajah ketimbang padaku.

*

Hari ketika aku pergi ke kebun binatang, aku mengambil tiga foto: Gajah dengan kaki depannya di atas pagar, gajah yang tiba-tiba mengangkat belalainya tinggi ke langit, dengan pantatnya yang menggeliat saat berjalan, gajah yang berjalan kepayahan menuju matahari terbenam dengan kepalanya yang membungkuk rendah. Oh gajahku yang kesepian.

Kadang-kadang aku bertanya pada diri sendiri kenapa aku bisa bertahan tinggal di rumah ini sampai selama ini. Tentunya, ada kesempatan bagiku untuk pergi lalu tinggal di tempat lain selain di sini. Salah satu kesempatan itu adalah saat aku menginjak usia dua puluh, dan itu insiden yang sangat membekas bagi keluargaku—penculikanku. Ini aneh, aku tidak bisa mengingat saat usia dua puluhan. Mungkin karena aku tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang saat-saat itu.

Musim gugur yang lalu, aku memberi kuliah sebagai dosen tamu di Universitas S. Saat aku hendak memasuki ruang kuliah, seseorang menghadang jalanku. Dia menyebut namaku. Aku menatap wajahnya, lalu berkata sambil mendesah, Ah, Yonjong rupanya. Dia mengatakan dia telah melihat sebuah poster acara di papan buletin kampus. Aku benar-benar ingin tahu apakah itu kau—seseorang yang aku kenal. Aku merasa tidak nyaman. Aku mengambil kartu namanya dan buru-buru pamit. Dia pasti telah mempelajari komputer grafis selama ini. Melihat kartunya, aku tahu kalau dia sekarang menjadi peneliti senior di Electronic Visual Media Research Center di universitas.

Aku ingat bahwa setelah aku masuk ke ruang kuliah, aku tidak bisa berbicara untuk sementara dan hanya duduk di sana. Yonjong adalah salah satu dari orang-orang yang mengenalku saat itu. Aku bilang aku akan tetap menjalin komunikasi dengannya, tapi ternyata tidak. Setahun pun berlalu. Akhirnya, beberapa waktu yang lalu, aku mengirimnya surat elektronik: Yonjong, saya bertanya-tanya soal orang-orang yang saat itu tetap bisa mengingat saya. Dan di mana mereka semua sekarang? Apakah kamu masih ingat tampang saya saat itu? Aku baru saja makan malam dengan editor kepala dari sebuah situs web, dan kami berjalan sepanjang jalan di Shinsadong mencari tempat untuk minum teh, kemudian seseorang memanggilku dari belakang. Hei, Jo Gendut! Aku tidak menghentikan langkahku. Aku bahkan tidak melihat ke belakang. Mengapa begitu sulit menemukan tempat minum teh? Aku berjalan lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Teman jalanku itu dengan lembut menyikutku. Aku pikir seseorang memanggilmu dari sebelah sana. Ketika aku mendengar Hei! Aku langsung teringat pada suaranya itu. Ini aneh. Aku baru dua puluh dua ketika aku bertemu orang itu—ini sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Aku masih bisa mendengar suara ngototnya memanggilku. Aku menoleh untuk melihatnya dengan pandangan acuh tak acuh.

Hei, Jo Gendut!

*

Ah, apa kabar?

Hei, itu benar-benar Anda?

Sudah lama. Aku menyambut Direktur Jong dan Asisten Manajer Pak dengan sopan. Wow! Lihat wanita ini! Mereka tertawa. Ini pertama kalinya aku pergi kerja dengan gaya rambut keriting, yang diikat ke belakang seperti gadis desa. Aku keramas setiap pagi dan aku memakai stoking. Setiap kali aku mengeringkan rambutku yang basah, aku sering berpikir, kemana aku harus pergi hari ini? Aku sering tidak masuk kerja.  Sekali waktu, aku bolos kerja selama tiga hari berturut-turut dalam minggu yang sama. Saat jam makan siang, aku pergi sendirian ke toko buku besar di seberang jalan, yang dulu ada tempat makanan cepat saji di basemennya. Aku makan hamburger dan baca buku. Seluruh buku. Kalau aku lelah membaca, aku akan menelepon seseorang lewat telepon umum. Aku juga akan melihat-lihat pameran dekat tempat kerja.

Ketika aku kembali ke tempat kerja—biasanya empat jam setelah makan siang—rekan kerjaku akan menatapku dengan sikap menuduh.  Aku tidak pergi makan dengan rekan kerjaku dan aku tidak bersosialisasi dengan mereka setelah kerja. Kadang-kadang aku akan tinggal sendirian di kantor dan membaca buku atau menghabiskan waktu yang lama melihat-lihat grafis 4-D yang telah mereka kerjakan.  Lewat komputer, rekan kerjaku menciptakan bintang, mereka membuat unta yang berjalan di padang pasir, mereka membangun apartemen. Mereka juga menciptakan animasi CF. Sekarang sudah tidak ditampilkan lagi, tapi dulu ada iklan obat flu yang disebut Blupen dari sebuah perusahaan farmasi. Itu adalah iklan komersial animasi yang menayangkan sebotol Blupen yang melesat cepat layaknya kereta api menuju bocah yang terkena demam. Aku ikut membantu menciptakan frame untuk iklan itu. Tidak ada yang mereka tidak bisa buat.

Suatu hari, aku berdiam di kantor setelah bekerja. Ketika aku sendirian, aku meraih tetikus dan mengklik tombol secara acak. Di pagi hari, aku mendengar rekan kerjaku mengutuk, Siapa yang melakukan ini? Siapa yang menghapus semuanya? Ekspresiku datar saja.

Ketika aku turun tangga untuk ke kamar mandi, seseorang menyambarku dari belakang dan menarik bagian belakangku ke pangkal pahanya. Apakah kau tidak tahu caranya tersenyum? Dia adalah seorang desainer interior yang sering masuk dan keluar dari kantor kami.

Setelah jam kerja habis, Asisten Manajer Pak mengatakan ia akan mengantarkanku ke dekat rumahku. Aku masuk ke mobilnya. Dia mengatakan kepadaku untuk menempatkan sabuk pengamanku. Aku mengeluarkan sabuk pengaman, terlalu lama. Aku ragu-ragu, kemudian meletakkannya di leherku.

Hei, Anda tidak tahu caranya memakai sabuk pengaman ya?

Ada masalah dengan ini? Aku menimpali. Aku menatapnya dengan wajah cemberut. Ekspresi terperangahnya masih jelas dalam ingatanku. Bahkan sekarang, setiap kali aku mendapatkan tumpangan di mobil seseorang, aku sangat khawatir bahwa aku mungkin salah menempatkan sabuk pengaman seperti yang kulakukan saat itu.

Jadi Anda menulis! Direktur Jong dan Asisten Manajer Pak tahu tentang situasi aku saat ini.

Iya.

Mari kita sama-sama bertemu dengan Yonjong dan Asisten Manajer Kim Jonghui lain kali.

Baik.

Mereka benar-benar senang mengantarkanku. Direktur Jong dan Asisten Manajer Pak terus tertawa. Mereka memintaku untuk menulis kontakku. Aku menulis sembarang nomor telepon. Aku bahkan tidak tahu nomor siapa itu. Aku benci diriku karena gemuk, aku benci diriku sendiri karena bolos bekerja, aku benci diriku karena tidak bisa memahami buku manual grafis komputer yang dipaksa untuk kupelajari.

Aku bekerja di perusahaan itu selama tujuh bulan. Lalu aku mengajukan pengunduran diriku. Direktur Jong yang mengatakan kepadaku untuk mempertimbangkan kembali. Apa lagi yang akan Anda lakukan? Dia bertanya. Kadang-kadang, ketika aku pergi ke Shinsadong atau Gangnam, aku berkunjung ke World Book Center. Aku masih bisa melihat diriku berdiri di dalam toko buku saat usia dua puluh dua, terpaku diantara tumpukan buku. Aku dulu tinggal di kota ini saat itu. Aku tidak pernah mendapat balasan dari Yonjong. Jika saja aku tidak kembali pulang ke rumah setelah kejadian itu, ini bukan tempat yang akan kutinggali sekarang. Dan keluargaku tidak akan menjadi keluarga yang kumiliki sekarang.

*

Aku diculik ketika aku berusia empat tahun oleh seorang wanita setengah baya yang tidak punya anak. Dia membawaku ke sebuah salon kecantikan untuk mengubah penampilanku. Dia pasti meminta mereka untuk membuat rambutku dikeriting. Dia melangkah keluar untuk sementara waktu. Itu adalah kesempatanku. Aku menangis tersedu-sedu. Bahkan pada usia empat tahun, aku masih bisa mengingat Gereja Bongshin. Pemilik salon kecantikan memegang tanganku dan membawaku ke sana, dan itulah bagaimana aku kembali ke rumah. Rumah tempat tinggalku yang kemudian dihancurkan, tetapi Gereja Bongshin masih ada.

*

Aku sudah makan tak menunggu ayahku, sebelum ia mengangkat sendoknya. Ketika saudaraku telat pulang kerja, mereka memanggilku pertama, meskipun aku masih tertidur. Ayahku merokok lagi. Di pagi hari ibuku yang mengelap sepatuku. Di kamar lonteng, tumpukan buku terus beranak-pinak. Ada terlalu banyak barang-barang di kamarmu, ayahku khawatir. Aku tidak peduli. Aku membeli satu set TV, juga sebuah printer. Tidak ada ruang untuk melangkah. Aku memindahkan beberapa bukuku ke ruang tamu. Aku membeli beberapa rak buku baru. Aku menyingkirkan sofa ruang tamu. Ada sofa lain sebelah kulkas, dan aku meletakkan rak buku di sana. Setiap kali aku memasang rak buku baru, aku merasa seolah-olah sedang mencabut rumpun pohon, tapi perasaan ini tidak pernah berlangsung lebih dari setengah hari.  Barang-barang di ruang tamu, dan lemari yang kami bertiga pakai bersama, dipindahkan ke kamar tidur utama. Ayahku memasang penyangga di ruang bawah tangga untuk menopang kamar lotengku. Tetapi dia masih berjalan mondar-mandir setiap hari, cemas kalau sewaktu-waktu langit-langit akan runtuh karena terlalu berat, sementara itu aku bertanya-tanya apakah orang tuaku bisa meregangkan kaki dan bisa benar-benar tidur di kamar yang jadi penuh sesak oleh barang-barang putri mereka.

Pada malam yang sama ia berkata, aku minta maaf aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu, ia menulis sebuah surat panjang. Itu tentang dirinya, yang penuh dengan ketidakberdayaan dan penyesalan. Pada akhir surat ia menambahkan ini: Pada akhirnya semua tak bisa membantu. Dia menulis: Orang tidak dapat menjalani hidup dan cinta dengan cara yang sama; tidak akan ada yang tetap sama seperti pada awalnya. Dia menulis: Kita harus berubah agar tetap sama. Dan ia juga menulis ini: Itulah mengapa cinta harus tumbuh.

Sebuah surat. Sebuah kata yang sangat menyedihkan, “surat.” Setelah kami berpisah, aku tidak pernah mengambil surat itu untuk membacanya lagi.

Dan ada surat lain yang aku tak pernah bisa membaca lagi. Sesekali aku memikirkannya. Dan aku pikir, Jadi mengapa kita berpisah? Pada akhirnya, untuk menyelamatkan rumah, aku kehilangan dia.

Aku melihat foto keluargaku—yang aku ambil saat ulang tahunku ketika aku sampai di rumah setelah putus dengan dia. Mereka tidak tahu bahwa meja itu adalah kepala gajah, sofa adalah punggung gajah; mereka hanya tersenyum, terpingkal-pingkal. Dengar, aku bilang ini adalah gajah! Jika aku mengatakan ini, mereka semua hanya tertawa dan menimpali, Dia sedang menulis cerita lain. Gajah itu berpura-pura tidur dan matanya ditutup, tapi aku tahu dia tidak tidur. Aku tidak pernah lupa untuk menyimpan biskuit kelapa atau pisang, untuk jaga-jaga. Karena aku tidak tahu kapan gajah itu akan datang lagi.

*

Ayahku pergi ke Yeosu, memamerkan tiga putrinya layaknya medali. Itu tahun 1996, saat aku berusia dua puluh enam tahun—aku baru mulai masuk kuliah. Malam itu ada pesta minum. Seseorang mabuk dan menangis. Aku bercampur dengan kerabatku, dan aku minum sebanyak yang kubisa. Keesokan harinya, seluruh keluarga pergi bersama-sama untuk piknik. Kami menyewa sebuah minibus Bongo dan melesat jauh menyusur sisi pantai. Kami naik perahu di sana. Pulau Odong terlihat di kejauhan. Waktu itu sedang pertengahan musim panas yang gerah. Tidak ada yang bisa mengingat nama pulau itu sekarang. Aku juga lupa—tak peduli seberapa keras aku berpikir tentang hal itu, aku tidak ingat dimana pulau yang kami datangi hari itu. Yeosu adalah tempat dengan begitu banyak pulau tak bernama yang saking banyaknya tidak bisa dihitung. Tapi itu terjadi kepadaku sekarang bahwa mungkin pulau itu bahkan bukan di Yeosu.

Bibi Yonsook mengatur dan membawa semua makanan. Pamanku, sepupu, dan bibi berdiri di depan panggangan dan memasak daging dan darah kerang. Mereka berlari ke laut untuk berenang dan bermain bola. Sepupu yang diajak ayah mereka semua ramping dan berkaki panjang. Mereka tertawa riang di bawah terik matahari. Suara mereka mengejutkanku. Aku menjatuhkan payung yang kubawa, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ayahku berenang. Dia cepat, percaya diri, dan tangkas seperti anjing laut. Ini pertama kalinya aku melihatnya berenang. Aku sepenuhnya lupa kalau ini adalah tempat ayahku dilahirkan. Paman Dosong, baru saja kembali dari peregangan di laut, membawa botol besar Soju yang menggantung di mulutnya. Paman, jangan minum terlalu banyak—aku mengatakan kepadanya sesuatu yang tidak ingin dia dengar, seperti aku sedang berbicara dengan ayahku saja. Aku pikir itu ketika penyakit pada hatinya Paman Dosong bermula. Tinggalkan dia sendirian, kata ayahku.

Bibi Yonsook membawa makanan, tapi dia hampir tidak punya waktu untuk makan apa-apa. Dia terlalu sibuk membersihkan panggangan daging, memasak kerang dan makanan laut yang sudah dia bekukan selama berbulan-bulan dalam freezer, juga memasak ayam. Bibiku yang lain mencuci piring di bawah komando suaranya yang keras. Mereka berbagi sebotol besar Soju juga. Mereka dengan cepat pergi mendekati panci berisi kimchee daun dengan saus Dolsan. Ibuku, mabuk setelah tiga gelas soju, menggelar tikar dan berbaring di atasnya. Matahari benar-benar panas. Laut tampak dalam tak terhingga. Paman dan sepupuku melambaikan tangan kepadaku dari dalam air. Aku menggeleng. Tidak ada salah satu dari kami tiga bersaudara perempuan ini tahu bagaimana caranya berenang. Mereka melemparkanku ke laut pada hari aku dilahirkan, kata Bibi Yonsook.

Aku melepas kaus kaki dan melemparnya ke samping. Butuh keberanian untuk masuk ke dalam air. Memegang tangan saudaraku, aku berjalan ke laut satu langkah pada satu waktu. Kemudian paman ketigaku, Doyoon, tiba-tiba mendorongku keras dari belakang dan aku jatuh dengan semua pakaian yang kukenakan. Aku bisa mendengar bibi, paman, dan sepupuku semua tertawa bahkan dari bawah air yang dalam. Aku tidak takut. Aku tidak yakin, tapi mungkin lengan dan kakiku akan bergerak secara naluriah dan aku akan bisa berenang seperti Bibi Yonsook. Aku adalah putri ayahku, bagaimanapun juga, dan ia adalah seorang garam tua yang bisa melihat kotoran ikan teri dan menebak apa yang telah dimakannya.

Aku berjalan keluar dari air dengan penuh kebingungan. Di sekitarku, ayahku, tiga pamanku, tiga bibi, dan enam sepupu sedang berenang-renang santai. Sekarang, dua telah pergi. Mereka yang menelepon ibuku secara teratur. Aku mendengar bahwa salah satu pamanku lututnya bengkak beberapa waktu lalu, dan lain terluka punggungnya dan tidak dapat melaut lagi. Ini membuatku takut bahwa orang-orang terus sekarat. Aku benci musim hujan, aku benci badai salju, dan aku benci perang. Ada saat-saat ketika aku ingin melihat wajah-wajah orang mati sekali lagi, tapi itu hanya akan mungkin terjadi masa depan yang jauh.

Matahari terbenam. Soju tak bersisa, dan semangka, gurita, bulgogi panggang, selada—semuanya telah ludes. Suami bibi Yonsook ini mengambil alih dan membersihkan semuanya. Dia juga yang mengemudi. Dia tidak terlihat seperti tipe orang yang akan memukul seseorang seperti layaknya menyiksa anjing, tapi sorot matanya yang tajam menggangguku. Kami semua kembali ke rumah salah satu pamanku. Sangat jauh. Ayahku, pamanku, dan bibiku begadang sambil minum-minum sampai fajar. Dan seseorang mulai berdebat dan menangis, tetapi kemudian, segera, mereka semua terkekeh dengan tawa membuncah lagi. Ibu kedua ayahku berusia lebih dari delapan puluh—mungkin ketika dia meninggal aku akan pergi ke Yoesu lagi. Rambut hitam mulai menyodok lagi di kepala nenekku.

Ketika ayahku mabuk, ia mengungkit-ungkit tamasya saat musim panas. Dan ia bercerita tentang masa mudanya di Arab Saudi, Iran, dan Kuwait. Ia menyurati kami dua kali seminggu. Ibuku menulis surat kepadanya setiap hari, dan karena mendesaknya, kami tiga saudara perempuan patuh menyuratinya sekali seminggu. Surat yang berbunyi: Papa, kami semua sehat dan sekolah kami juga baik-baik saja, kita akan belajar keras—dan tidak lebih, hanya sebatas ini. Surat ayahku, yang melintasi udara berpasir dari padang tandus, sama saja: Dengarkan ibumu dan fokus pada studi kalian. Papa juga baik-baik saja. Hanya tanggal yang berbeda. Surat-surat yang terus berlangsung selama sepuluh tahun ini disimpan di wadah tembikar besar yang ada di loteng. Ini seperti mengubur kimchee musim dingin—plastik membungkus surat-surat dalam wadah itu. Ayahku yang melakukannya. Sampai hari ini, aku tidak pernah membuka wadah itu. Tapi aku mulai khawatir apa yang harus aku lakukan dengan surat-surat setelah sepeninggal ayahku.

*

Setiap hari kami menyicil pelunasan rumah, dan setiap hari kita kehilangan rumah, tapi untungnya belum ada perubahan nyata sejauh ini. Di pagi hari, ayahku membawa koran dari tangga depan, ibuku menyemir sepatu, dan kami tiga bersaudara perempuan ini berangkat kerja. Ketika aku sedang tidak dalam jarak pendengaran, ayahku sedih mengeluh bahwa tak seorang pun melihat kaktus tua yang mekar, dan ibuku kemudian melihatnya. Dia tidak datang ke kamarku. Ketika aku mendapatkan panggilan telepon, ia menempatkan penerima di luar pintu dan kembali turun. Sampai kapan ibuku naik turun tangga dengan rasa sakit di sendinya? Aku jadi lebih sering turun tangga, bahkan ketika aku membaca buku atau menulis. Aku berharap salah satu dari kami akan bergegas menikah lalu meninggalkan rumah ini. Jika ruang bebas, kami bisa memindahkan barang-barang dari kamar tidur utama dan kami bisa menempatkan sofa kembali di ruang tamu. Tapi aku takut aku mungkin menjadi yang terakhir dari para saudara-saudara yang lain, yang tersisa di rumah ini sampai akhir. Ayahku masih khawatir bahwa kamar loteng akan runtuh—jantungnya berdebar-debar—dan aku khawatir bahwa harta dan buku putrinya telah menginvasi kamar tidurnya.

Aku bukan orang yang paling bahagia di dunia, tapi aku bukan yang paling menyedihkan. Ketika aku dibuat marah atau kebanggaanku terluka, aku duduk di meja selama satu jam atau dua teri pemangkasan. Jika kami tidak memiliki apapun, maka aku akan menguliti kacang. Sering aku berdandan dan pergi ke sebuah restoran Italia untuk makan pasta dan minum anggur. Ibuku masih menasihatiku bahwa orang harus belajar untuk merasa puas dengan apa yang didapat. Sekarang aku mengerti. Meski memang aku butuh waktu lama untuk memahami ini. Aku masih tinggal di rumah ini. Di sinilah momen paling bahagia dan tidak bahagia buatku. Kamar lotengku hangat. Sekarang sedang musim dingin. Aku bisa mendengar sendok yang sedang disiapkan di atas meja di lantai bawah. Mari makan! ibuku berteriak ke kamarku. Baik! Aku langsung menjawab. Dan tuk tuk tuk aku menuruni tangga.

Kadang-kadang aku menunggu telepon darinya. Dia satu-satunya yang mengerti cerita gajahku. Dia mendengarkan. Aku bisa mengangkat telepon dan mengoceh selama satu jam tentang gajahku. Aku tidak mengambil foto lagi, tapi dia masih muncul. Sekarang dan kemudian rumah bergerak—itu menggeliat—dan aku membatin, Ah, si gajah sudah datang.

+

Cerpen Jo Kyung-Ran yang dimuat dalam Munhakdongne. Diterjemahkan dari Korea ke Inggris oleh Heinz Insu Fenkl dengan judul “Looking for the Elephant”, rilis di Fifty-Two Stories. Juga ada dalam antologi internasional Words Without Borders.

Kategori
Fiksi

Menanti Sang Gajah, Jo Kyung-Ran [1/2]

menanti sang gajah jo kyung-ran cerpen korea

Kamera Polaroid yang kumiliki adalah Polaroid Spectra. Memakai film yang 1,5 kali lebih besar dari Polaroid umumnya, dan lebih mahal. Dia membelikan ini untuk hadiah ulang tahunku beberapa tahun yang lalu. Aku masih ingat betapa bahagianya aku ketika membuka kado dan mendapati bahwa ini kamera yang sangat aku idamkan. Dia mengambil foto pertama. Fotoku yang sedang menengok ke bawah, kepalaku sedikit mendongak. Bekas lipstik pada gelas anggurku masih jelas terlihat. Aku merasa harus meminta padanya, bolehkah aku memotretmu? Dia menggeleng. Dengan satu paket film kita dapat mengambil sepuluh foto – yang sekarang tersisa sembilan. Dia tidak ingin dipotret, tapi aku berharap aku punya fotonya untuk kenang-kenangan hari itu. Karena kami tiba-tiba putus tak lama setelah itu. Dan sekarang aku tak bisa mencintainya, aku pun tak bisa membencinya lagi.

Kameranya sendiri aku bawa pulang untuk kemudian memotret keluargaku yang sedang berkumpul mengelilingi meja.

*

Aku biasa tidur berbaring telentang, dengan punggung sebagai tumpuan. Ketika perutku terasa tak enak, baru aku berguling ke sisi kiri dan tidur menghadap dinding. Tetapi tak peduli apapun posisi tidurku, salah satu lengan selalu mengulur – seperti sudah jadi keharusan – dan berakhir menggantung turun dari tempat tidur. Tiba-tiba, aku merasakan sensasi tanganku dipegang seseorang dengan lembutnya. Aku terbangun dengan kaget. Ruangan gelap. Kehangatan tetap terasa di telapak tanganku. Aku mencoba meregangkan jari-jari tangan yang menggantung dari tempat tidur. Aku merasa seperti ada seseorang yang menyelinap masuk – dia berbaring di lantai atau duduk di kaki tempat tidur, tapi tak terasa ada semacam gerakan sekecil apapun. Meski begitu aku bahkan tak punya niat untuk melompat dari tempat tidur atau cepat-cepat menyalakan lampu. Untuk beberapa alasan aku berpikir kalau melakukan sesuatu justru akan berakhir tak baik.

Sangat menyebalkan awalnya memang. Kehadiran itu membuatku takut – sangat menganggu sampai-sampai aku harus tidur dengan lampu menyala untuk waktu yang lama. Tapi sekarang aku cukup terbiasa dengan kehadiran itu. Perlahan-lahan, aku memberanikan diri. Maksudku, aku berharap sesuatu itu akan menampakkan diri ketika aku terjaga. Setelah beberapa saat aku menyalakan lampu. Tidak ada seorang pun di sana. Tidak ada jejak siapapun yang tertinggal. Pada awalnya aku bertanya-tanya mungkinkah itu salah satu hantu yang mendiami rumah ini. Atau itu roh nenekku yang sudah meninggal, atau bibiku, atau pamanku? Tapi sekarang aku tahu. Itulah dia.

*

Ayahku berasal dari Yeosu. Aku pernah di sana hanya sekali waktu saat aku telah dewasa. Aku tidak menyukai tempat itu karena di situlah ayahku dilahirkan. Terlalu banyak hal-hal buruk terjadi di sana.

Saudara-saudara ayahku selalu kebanyakan minum-minum – mereka selalu bertengkar dan menangis. Salah satu pamanku pergi ke laut lepas selama berbulan-bulan pada suatu waktu untuk menangkap ikan yang akan dijualnya di pasar. Ayahku meninggalkan kampung halamannya ketika ia berusia sembilan tahun, setelah ibunya meninggal.

Nenekku itu meninggal pada hari ulang tahunnya. Untuk pertama kalinya, kakekku, paman-pamanku yang pelaut, dan bibi-bibiku bisa berkumpul di satu tempat. Nenekku harus menunggu lama untuk hari itu. Dia memasak sup ikan kembung dan bunuh diri dengan memakan semuanya. Dan bukan sembarang hari – itu di hari ulang tahunnya.

Aku melihat nenekku dari salah satu foto peninggalan dari dirinya. Seperti nenek dari garis ibuku yang mati muda karena kanker payudara, dia sama-sama berpakaian serba putih, mengerutkan kening. Kedua nenekku memiliki alis hitam tebal. Aku memutuskan untuk lebih suka pada nenek dari garis ayahku – karena aku pikir kematiannya sungguh dramatis.

Setelah nenek meninggal, ayahku pergi dari rumah untuk tinggal di Seoul, dan ketika ia menikah, ia mendaftarkan kota ini sebagai alamat tetapnya. Tapi aku tahu dia mencintai Yeosu. Aku tahu bahwa dia secara pribadi bermimpi suatu saat akan kembali lagi ke sana. Aku juga tahu bahwa setiap kali segala tentang Yeosu muncul di TV seperti dalam acara My Hometown at 6, ia menatapku. Ha! Tak mau! Aku memalingkan kepalaku dan melihat ke arah lain.

Bibi Yonsook adalah bungsu dari keluarga ayahku. Dia sangat menyukai anak-anak ayahku, dengan kata lain keponakannya: kakak-kakakku dan aku. Setiap musim, dia akan mengirimi ikan lewat jasa kurir – ikan kering, ikan croaker, dan pari – dan dia menelepon kami sepanjang waktu. Dia ingin pindah ke Seoul, tapi sampai aku dewasa, dia tidak pernah berkunjung sekalipun. Setiap hari libur atau kalau ada upacara peringatan dia akan berkata, aku harus pergi, aku benar-benar harus pergi dan melihat kalian semua, kemudian dia akan menangis. Dia adalah orang yang menangis paling sering di keluarga ayahku. Itu sebabnya aku takut padanya.

Ketika bibi menikah, dia dengan cantiknya memakai gaun panjang dengan rambut hitamnya yang tergerai panjang sampai pinggang. Aku mendengar bahwa suaminya yang pelaut itu (aku hanya melihat wajahnya sekali) sering memukulnya. Bibi punya dua anak dari suaminya itu sebelum dia bercerai. Aku juga mendengar bahwa bibi selalu mengirimkan uang dari penghasilannya bekerja di toko dan pekerjaan sampingan di tepi pantai untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Mereka mengatakan bibi seorang yang tangguh. Ibuku sangat menyukai Bibi Yonsook. Itulah semangat muda, dia akan berkata. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya usia kami tidak ada banyak perbedaan meskipun memang aku keponakannya.

Kemudian Bibi Yonsook bertengkar dengan kekasihnya dan melompat dari lantai lima apartemennya. Tindakan bunuh diri. Kerabat-kerabat ayahku memuntahkan kemarahan pada kekasih bibi dan menuduhnya yang membunuh bibi. Pada hari otopsi, adik ayahku, Paman Dosong, yang pergi ke kamar mayat bukannya ayah. Ayahku masih mabuk berat – ia tak henti-hentinya terus muntah. Hingga kini, ayahku telah berhenti merokok tepat tiga kali. Yang pertama adalah hari ketika ia pulang setelah mengkremasi bibi. Otopsi tidak dapat menentukan apakah kematiannya adalah tindak bunuh diri atau pembunuhan. Mereka mengatakan bahwa lelaki yang jadi kekasihnya itu mengurus pemakaman bibi. Aku kira itu berarti dia yang bakal membayar segala biaya. Aku mendengar semua ini dari sini di Seoul. Pergi ke Yeosu? Aku bergidik.

Pemakaman berubah menjadi kekacauan. Lima saudara ayah yang masih hidup semuanya pada mabuk, dan mereka berteriak dan menangis, mencengkeram kerah satu sama lain. Itu adalah malam pertamaku merasakan kehadiran aneh di kamarku. Setelah menahan napas dan berbaring untuk waktu yang lama, aku mengangkat tubuhku. Aku melihat kaki tempat tidur dan lantai. Aku memanggil nama bibiku yang sudah mati itu dalam kamar gelap ini: Bibi Yonsook? Aku merasa dingin menampar wajahku.

Malam seperti ini berlangsung selama waktu yang sangat lama. Aku tidak bercerita tentang hal ini kepada ibu atau kakakku. Keluargaku takut untuk berbicara tentang orang mati. Aku harus membiasakan diri. Dan setelah beberapa waktu aku tak merasakan kehadiran sama sekali, tidak sampai malam setelah pamanku meninggal.

Paman Dosong, yang melihat otopsi Bibi Yonsook dengan mata kepalanya sendiri – dua tahun setelah bibi meninggal, paman didiagnosis kanker hati di Rumah Sakit Pensiunan. Dia datang dan tinggal di rumah kami saat masih menjadi pasien rawat jalan. Semua saudara ayahku memiliki badan tinggi dan tegap, tapi sekarang Paman Dosong menjadi kurus kering; wajahnya bertambah gelap. Dalam kondisi itu, ia menolak tidur di kasur orangtuaku dan memilih tidur dalam posisi janin di sofa ruang tamu. Ketika aku ingin pergi ke kamar mandi di tengah malam, aku tidak bisa turun ke bawah. Aku takut kalau mendapati pamanku sudah terbaring mati di sana. Rasanya kandung kemihku mau meledak saja.

Pamanku kembali ke Yeosu dengan wajahnya yang makin menghitam serupa muka kambing. Dia meninggal dua bulan kemudian. Meski begitu, aku tak pergi ke Yeosu. Ayahku berhenti merokok lagi. Aku mulai sering terbangun sekitar dini hari. Aku tidak bisa mengusir perasaan bahwa seseorang sedang duduk di kaki tempat tidur atau meringkuk di lantai meski hampir mustahil ada cukup ruang bagi seseorang untuk berbaring. Telapak tanganku selalu basah oleh keringat. Aku mencoba memanggil, Paman Dosong? Tidak ada yang menjawab – tidak Bibi Yonsook, atau Paman Dosong, atau nenekku yang bunuh diri sudah lama itu. Akhirnya, aku tertidur dengan kamera Polaroid yang selalu dalam genggaman.

*

Setiap hasil foto Polaroid memiliki nomor seri yang tercetak. Foto pertama yang ia ambil – fotoku pada hari ulang tahunku, yang sedang duduk di sebuah kafe dengan kepala tertunduk – memiliki nomor 0318 4149 yang dapat ditemukan di bagian belakang. Jika saja aku memotret wajahnya setelah itu, maka nomornya 0318 4150. Tapi nomor 0318 4150 adalah foto keluargaku. Mereka baru saja pulang ke rumah setelah acara malam selesai dan kami semua berkumpul melingkari meja dengan kue kecil di atasnya. Oke, perhatian semua, lihat kesini semuanya! Aku baru saja putus dengan pacarku ketika aku mengklik tombol shutter.

Aku sampai di foto kesepuluh dalam kemasan, nomor 0318 4158, potret temanku saat ulang tahunnya – dan ketika pacar adik bungsuku datang, aku memotret mereka berdua yang berpose di ruang tamu. Aku memotret bunga magnolia yang mulai menyebar kelopaknya, kemudian aku memotret sepatu kets lamaku. Saat aku memakai 4152, 4155, hingga 4157 – sebelumnya telah memotret nomor 0318 4151- musim dingin berlalu, musim semi datang, sampai musim panas pergi lagi. Aku tidak punya kesempatan lain untuk mendapatkan foto wajahnya.

Aku sampai di foto terakhir, nomor 0318 4158. Aku tidur sambil memegang Polaroid-ku. Aku bangun. Aku menahan napas dan – klik – aku menekan tombol shutter seolah-olah aku sedang berada dalam penyergapan. Kertas film meluncur keluar seolah-olah aku telah menyambarnya dari kamera. Aku segera menyalakan lampu, menekan kertas film keras-keras di telapak tangan panasku yang berkeringat agar prosesnya lebih cepat. Perlahan-lahan, bentuk samar mulai tampak. Keasyikan Polaroid adalah saat penantian proses pembentukan hasil foto yang begitu singkat itu, kita bisa langsung melihat hasil foto kita segera, saat itu juga. Ini seperti menunggu harap-harap cemas di pintu, dan setiap kali pintu terbuka, kita pikir mungkin orang yang kita tunggu sudah datang. Tapi aku tidak bisa merasakan semacam kegembiraan malam itu. Kegembiraan! Aku malah ketakutan, rasanya seperti seseorang mencengkeram tengkuk leherku dengan kedua tangannya.

Aku menatap lekat-lekat hasil fotonya, warna dan bentuknya begitu nyata dalam foto 9 x 7,3 cm itu. Bukan nenekku yang sudah meninggal, bukan Bibi Yonsook, bukan Paman Dosong, dan bukan juga semacam hantu penunggu rumah. Itulah dia – seekor gajah yang besarnya bukan main.

*

Aku mulai tinggal di rumah ini sebelas tahun yang lalu. Ini rumah yang bisa dipakai keluarga besar sekarang, tapi awalnya ini hanya rumah kecil berlantai satu dengan halaman yang sempit. Ayahku yang membeli rumah ini. Dia merobohkannya dan membangun kembali sesuai sketsa yang ia buat sendiri. Sementara rumah baru ini sedang dibangun, keluarga kami yang berlima ini tinggal di satu ruangan di dekatnya. Saat mereka harus menaikkan suara untuk berdebat tentang sesuatu, ibu dan ayahku akan pergi ke penginapan terdekat. Ayahku membangun satu ruangan lagi, ruang di loteng tempat aku tinggal sampai sekarang, kamar tempat aku menulis semua ini.

Ini seharusnya kamar untuk adik bungsuku. Aku biasa menulis di lantai bawah, berjongkok di lantai. Aku ingin punya meja besar. Ketika adik bungsuku pergi untuk sementara waktu, aku memanggil beberapa teman pria adik perempuanku yang lain dan mereka membantuku mengosongkan kamarku di lantai bawah untuk memindahkan barang-barang ke atas sini. Malam itu aku menyurati adik bungsuku. Jawabannya: Terserah saja, kak. Kamar di loteng ternyata tak punya cukup ruang untuk menempatkan meja, jadi aku membeli meja kecil baru yang mengkilap. Sekarang pernisnya memang sudah mengelupas dari tiap tepiannya dan kaki mejanya mulai goyang, tapi masih bisa digunakan. Bahkan jika aku mendapatkan kamar yang lebih besar, aku merasa tidak ingin mengganti mejaku dengan yang lain. Tapi aku tetap punya impian untuk memiliki meja besar dengan banyak laci dan kompartemen. Orang harus belajar untuk bersyukur terhadap apa yang dipunya, ibuku selalu menasehati.

Di kamar lotengku, aku bisa membaca, menulis, dan menelepon saat tengah malam. Tahun-tahun berlalu dalam sekejap mata. Ketika aku tidak bisa menulis, atau setiap kali aku bertengkar hebat dengan salah satu anggota keluarga, aku merasa seperti ingin kabur dari rumah ini. Saat aku turun di malam hari untuk pergi ke kamar mandi, aku secara sengaja akan menginjak kaki atau perut anggota keluargaku yang sedang tidur dalam gelap di lantai ruang tamu. Kami akan menyentak satu sama lain dalam gelap dan berteriak, Siapa itu!? Siapa woy? Aku menggedor dinding kamarku dengan kedua tanganku. Ternyata tidak runtuh. Rumah ayahku dibangun lebih kokoh jauh dari perkiraanku.

*

Minggu sore aku pergi ke Seoul Grand Park di Gwachon. Itu beberapa hari setelah aku melihat sang gajah. Hari yang sangat berangin, dan taman itu penuh sesak dengan orang-orang. Di kebun binatang sedang berlangsung festival bunga serunai. Orang-orang mengambil gambar di depan kembang krisan warna-warni yang mekar sempurna, dan di kandang sebelahnya kawanan flamingo berkaki panjang sedang mengepakkan sayap mereka.

Aku langsung menuju kandang gajah. Seekor gajah Afrika yang belalai panjangnya bergoyang berjalan perlahan-lahan di dalam kandang luas yang berbentuk S itu. Aku tidak bisa menahan perasaan kecewa. Gajah itu jauh dari yang diharapkan. Itu kejauhan – tidak bagus untuk diambil fotonya. Aku bergerak mendekat: ketika ia bergerak ke kiri aku berlari mengikutinya, ketika ia berbalik lagi aku cepat-cepat berlari kembali ke kanan.

Gajah ini benar-benar populer. Sejauh mata memandang, pagar melengkung itu penuh sesak dengan anak-anak dan orang dewasa. Aku menduga gajah di kandang adalah seekor pejantan tua. Jantan tua yang tinggal sendirian. Di pagi hari dan malam gajah-gajah mencari makan dari pepohonan, dan kemudian mereka beristirahat di bawah naungan pohon saat siang hari. Mereka tidur sambil berdiri – meskipun ada saat-saat ketika mereka tidur berbaring. Gajah yang datang ke kamarku berbaring di lantai yang sempit dan tidur dengan tubuh besarnya sambil meringkuk begitu ketat. Belalainya itu melingkar dan menarik ke dalam tubuhnya. Sepertinya tak mau jika aku mencoba untuk mencurinya atau melakukan sesuatu terhadapnya. Aku tidak tahu apakah gadingnya besar, sehingga tidak ada cara untuk mengetahui apakah dia jantan atau betina.

Gajah ini, yang berada dalam kandang, telah berjalan bolak-balik di jalan yang sama; sesekali tampak pikirannya kosong lalu berhenti dengan kaki ditekuk, menatap kami. Kemudian, seolah-olah mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa, ia bergerak dengan langkah berat kembali, menapaki tiap langkahnya. Setiap kali gajah mengepakkan kupingnya, ia mengirim angin dingin menembus bagian depan pakaianku. Aku mengambil kamera Polaroid dari tas bahuku. Aku masukkan paket film baru. Jika ada kamera Polaroid yang lebih baik dari Spectra, ia mungkin akan membelinya untukku. Tapi tidak mudah untuk menemukan filmnya. Aku memesan khusus dari pemilik toko foto. Ketika aku mengambil filmnya, pemilik toko itu mengatakan kepadaku bahwa Spectra tidak didistribusikan secara luas, sehingga akan selalu sulit untuk mendapatkan film ini. Dia mengatakan jika aku mengembalikannya ke tempat pembelian, mereka akan menukarnya dengan Polaroid biasa. Semacam refund. Aku memesan tiga bungkus film sekaligus. Itu hadiah terakhir untukku.

Tiba-tiba, gajah berhenti berjalan dan – dengan sebuah dentuman – meletakkan kaki depannya di atas rel dalam di sisi kandang kami. Ada kandang dua atau tiga meter jauhnya; sebagai pembatas digali sebuah selokan, tapi tampak seolah-olah gajah bisa dengan mudah melompat ke seberang. Aku tegang. Aku tidak bisa yakin apakah gajah itu tiba-tiba akan meloncat terbang tinggi ke arahku seperti layaknya burung. Aku menekan tombol shutter sesaat ketika ia mengangkat belalai panjangnya. Hasilnya segera muncul. Gajah itu menaruh kembali kaki depannya ke bawah dan membalikan tubuhnya. Binatang pintar. Mustahil memang ia bisa mendengar suara shutter, tapi aku yakin ia mendengarnya, pasti. Penjaga kebun binatang membuka pintu baja dan muncul. Dia memberi gajah itu roti, lalu si gajah mengambilnya dengan belalai kemudian memakannya.

04:40 PM. Gajah itu mengikuti pawangnya melalui gerbang baja dan menghilang. Begitu ia hilang, semua orang yang berada di depan kandang ikut bubar secara serempak. Aku pergi ke kandang berikutnya, melihat gajah Asia. Tapi gajah Asia pun sudah tak ada. Aku pernah membaca: Gajah Asia memiliki penglihatan yang lemah. Karena lehernya pendek, tidak dapat menoleh ke belakangnya sendiri. Tidak bisa menoleh ke belakangnya sendiri: Sekarang aku yakin. Gajah yang datang kepadaku malam itu bukan Asia, tapi Afrika. Gajah: Memiliki mata lemah tetapi pendengaran dan indera penciumannya sangat tajam. Dapat berlari hingga 50 KM per jam. Permukaan tubuhnya ditutupi dengan bulu tebal. Gigi depan di rahang atasnya tumbuh menjadi gading panjang. Gajah: hewan darat terbesar di muka bumi.

*

Aku merasa tidak puas dengan sesuatu. Tapi aku tidak ingin tahu apa tepatnya. Aku jadi jarang pulang, ingin mangkat dari rumah, meskipun tak punya tempat untuk dituju. Suatu hari ia datang dengan setumpuk selebaran flyer yang berbeda. Dia menggenggam tanganku dan kami berkeliling untuk melihat kamar. Secara kebetulan, empat tempat yang kita lihat adalah kamar loteng. Aku merobek selebaran itu tepat di wajahnya. Kami makan sup panas dan nasi. Kami menyeberangi jalan melalui jembatan penyeberangan dan masuk ke gedung officetel dua puluh lantai yang baru dibangun. Penjaga gedung memberi kami kunci. Ada meja besar, lemari, tempat tidur, wastafel mengkilap. Aku tarik dia dengan tangan. Aku menunjuk keluar jendela mengeluhkan riuh mobil yang saling mendesing.

Tempat ini tidak akan cocok.

Mungkin tidak.

Ya, terlalu berisik.

Aku juga berpikir begitu.

Kami mengembalikan kunci dan keluar dari officetel tersebut. Kami pergi makan ayam goreng. Nah, itu terjadi kurang dari setengah jam setelah kami makan malam.

*

Cerpen Jo Kyung-Ran yang dimuat dalam Munhakdongne. Diterjemahkan dari Korea ke Inggris oleh Heinz Insu Fenkl dengan judul “Looking for the Elephant”, rilis di Fifty-Two Stories. Juga ada dalam antologi internasional Words Without Borders.