Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Seratus Tahun Pengampunan” Karya Clarice Lispector

Seseorang yang tidak pernah mencuri tidak akan mengerti diriku. Dan seseorang yang tidak pernah mencuri mawar tidak akan pernah bisa mengerti diriku. Ketika aku masih kecil, aku mencuri mawar.

Di Recife ada banyak sekali jalan. Di jalan-jalan orang kaya berjajar istana-istana mungil yang dibangun di tengah-tengah taman luas. Temanku dan aku suka bermain mengaku-aku milik siapa istana kecil tadi. “Yang putih itu punyaku.” “Tidak, aku sudah bilang yang putih itu punyaku.” “Tapi yang ini enggak putih semua. Jendelanya hijau.” Kadang kami menghabiskan waktu yang lama seharian dengan wajah menempel di pagar, memandangi.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Sang Korban” Karya Junichiro Tanizaki

Hal-hal ini terjadi pada sebuah masa saat kebajikan adiluhung, tingkah laku tak keruan, masih berkembang, ketika pergulatan tanpa henti untuk eksistensi seperti hari ini belum dikenal. Wajah para aristokrat muda dan tuan tanah tidak menggelap oleh awan apa pun; di istana para pelayan kehormatan dan gundik agung selalu menyunggingkan senyum di bibir mereka; pekerjaan badut dan peracik teh profesional dijunjung tinggi; hidup begitu damai dan penuh sukacita. Di teater dan dalam tulisan-tulisan pada waktu itu, keindahan dan kekuatan digambarkan sebagai suatu yang tak terpisahkan.

Kategori
Fiksi

Naga Cina, Jorge Luis Borges

n2949

Kosmogoni Tiongkok mengajarkan bahwa Sepuluh Ribu Hal atau Arketip (dunia) lahir dari konjungsi berirama dari dua prinsip abadi yang saling melengkapi, yin dan yang. Yang termasuk yin adalah konsentrasi, kegelapan, kepasifan, angka genap, dan dingin; sementara yang, pertumbuhan, cahaya, aktivitas, angka ganjil, dan panas. Simbol yin adalah perempuan, bumi, warna oranye, lembah, dasar sungai, dan harimau; yang, laki-laki, langit, biru, gunung, pilar, naga.

Naga Cina, atau lung, adalah salah satu dari empat makhluk ajaib. (Yang lain adalah unicorn, phoenix, dan kura-kura.) Seringnya, Naga Barat menyebarkan teror; paling buruk, ia adalah sosok yang penuh olok-olok. Namun, lung dalam mitos Tiongkok adalah ilahi dan seperti malaikat yang juga seekor singa. Kita membaca dalam Catatan Sejarah Ssu-ma Ch’ien bahwa Konfusius pergi untuk berkonsultasi dengan arsiparis atau pustakawan Lao-tzu, dan setelah kunjungannya berkata:

Burung terbang, ikan berenang, binatang lari. Hewan yang berlari dapat ditangkap dengan sebuah jerat, yang berenang dengan sebuah jaring, dan yang terbang dengan sebuah panah. Tapi ada Naga; aku tidak tahu bagaimana dia menunggang angin atau bagaimana mencapai surga. Hari ini aku bertemu Lao-tzu dan aku dapat mengatakan bahwa aku telah melihat Naga.

Itu adalah Naga, atau Kuda Naga, yang muncul dari Sungai Kuning untuk mengabarkan kepada seorang kaisar soal diagram lingkaran terkenal yang melambangkan permainan timbal balik dari Yang dan Yin. Seorang raja memiliki di istananya pelana Naga dan anggitan Naga; seorang kaisar memakan Naga, dan kerajaannya makmur. Seorang penyair terkenal, untuk mengilustrasikan risiko kebesaran, menulis: Unicorn berakhir dengan daging mentah; naga sebagai pai daging.”

Dalam I Ching atau Kitab Perubahan, Naga menandakan kebijaksanaan. Selama berabad-abad ia adalah lambang kekaisaran. Tahta kaisar disebut Singgasana Naga, wajahnya adalah Wajah Naga. Saat mengumumkan kematian seorang kaisar, dikatakan bahwa ia telah naik ke surga di belakang Naga.

Imajinasi populer menghubungkan Naga dengan awan, dengan curah hujan yang dibutuhkan oleh petani, dan untuk sungai-sungai besar. ‘Bumi menggandeng naga’ adalah ungkapan umum untuk hujan. Sekitar abad keenam, Chang Seng-yu mengeksekusi lukisan dinding yang menggambarkan empat Naga. Para penonton mengeluh bahwa dia telah meninggalkan mata mereka. Terganggu, Chang mengambil kuasnya lagi dan menyelesaikan dua dari figur yang cacat. Kemudian ‘udara dipenuhi dengan guntur dan kilat, dinding retak dan dua Naga itu naik ke surga. Tapi dua Naga tanpa mata lainnya tetap ada di tempatnya’.

Naga Cina memiliki tanduk, cakar, dan sisik, dan tulang punggungnya terdapat duri yang menusuk. Biasanya digambarkan dengan mutiara, yang ditelan atau dimuntahkan. Di dalam mutiara ini terletak kekuatannya; Naga dijinakkan jika mutiara diambil darinya.

Chuang Tzu menceritakan kepada kita tentang seorang lelaki teguh yang pada akhir dari tiga tahun yang menyusahkannya dalam menguasai seni membunuh Naga, dan selama sisa hidupnya tidak diberi kesempatan untuk mempraktikkan seninya.

*

Diterjemahkan dari Chinese Dragon dalam The Book of Imaginary Beings dari Jorge Luis Borges. Makhluk mitos naga, meski terdapat perbedaan detail, baik di Barat atau Timur sama-sama mengimajinasikannya. Kita acuh soal makna naga, sebut Borges, seperti halnya kita acuh soal makna alam semesta. Ada semacam fenomana yang bisa digali dari imajinasi manusia.

Kategori
Fiksi

Kematian Seorang Teolog, Jorge Luis Borges

vincent_van_gogh_-_van_goghs_bedroom_in_arles_-_google_art_project-1

Para malaikat menuturkan kepadaku bahwa ketika Melancthon wafat, dia diberi sebuah rumah yang menyerupai rumahnya di dunia ini. (Hal ini terjadi pada kebanyakan para pendatang baru di alam baka pada awal kedatangan mereka – itu sebabnya mereka tidak menyadari kematian mereka dan mengira masih berada di alam dunia.) Semua benda di kamarnya serupa dengan yang dulu pernah dimilikinya – meja, meja tulis berlaci, rak-rak buku. Begitu bangun di kediaman baru ini, Melancthon duduk di mejanya, memulai karangannya, dan berhari-hari menulis – seperti biasa – tentang pengampunan dosa melalui iman semata-mata, tanpa sepatah pun kata tentang amal. Pengabaian ini dipergoki oleh para malaikat, mereka mengirimkan utusan untuk menanyainya. “Aku telah membuktikan tanpa dapat disangkal lagi,” jawab Melancthon kepada mereka, “Bahwa amal tak mengandung apa pun yang hakiki bagi jiwa. Untuk meraih penebusan, iman saja sudah cukup.” Dia berbicara dengan penuh keyakinan, tanpa syak sedikit pun bahwa dia sudah mati dan jatahnya ada di luar Surga. Demi mendengar ucapannya itu, para malaikat pun pergi.

Setelah beberapa minggu, perabotan di kamarnya mulai mengabur dan lenyap hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa selain kursi malas, meja, kertas, wadah pena dan tintanya. Yang lebih parah lagi, dinding kamarnya menjadi berlabur kapur dan lantainya terlapisi beling kuning. Pakaian Melanchthon sendiri kini lebih kasar. Dia heran dengan perubahan ini, namun terus saja menulis tentang iman seraya mengingkari amal. Begitu ngototnya dengan pengesampingan ini sampai-sampai dia mendadak terjeblos ke semacam rumah tahanan yang dihuni kaum teolog seperti dirinya. Terpenjara selama beberapa hari, Melancthon mulai menyangsikan doktrinnya dan dia diperkenankan kembali ke kamarnya semula. Dia kini hanya terbungkus kulit berbulu, namun dia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru terjadi padanya tidak lebih daripada halusinasi. Dia kembali menyanjung iman dan meremehkan amal.

Pada suatu petang Melancthon merasa kedinginan. Dia mulai memeriksa rumah dan segera menemukan bahwa ruangan lain tak sama lagi dengan yang ada di rumah lamanya di alam dunia. Sebuah ruangan tampak berantakan diseraki alat-alat yang tidak dipahaminya: ruangan lain menyusut jadi sedemikian kecil hingga mustahil dimasuki; ruangan ketiga tidak berubah, tapi pintu-pintu dan jendelanya menghadap ke hamparan pesisir pasir yang luas. Salah satu ruangan di belakang rumah dipenuhi orang yang memujanya dan tak henti-henti mengatakan kepadanya bahwa tidak ada teolog yang sebijaksana dia. Puja-puji ini membuatnya senang, namun karena sejumlah tamu itu tak berwajah dan lainnya tampak seperti orang mati, akhirnya dia benci dan tak percaya kepada mereka. Di titik inilah dia memutuskan untuk menulis sesuatu tentang amal. Satu-satunya kesulitan adalah bahwa apa yang ditulisnya hari ini tidak bisa dilihatnya pada keesokan harinya. Ini karena halaman-halaman itu ditulisnya tanpa keyakinan.

Melancthon menerima banyak kunjungan dari orang-orang yang baru mati, namun dia merasa malu kedapatan tinggal di pondokan yang begitu buruk. Untuk membuat mereka percaya bahwa dia berada di Surga, disewanya tukang sihir setempat, yang mengecoh rombongan tamu dengan tampilan kesentosaan dan kemegahan. Begitu tamu-tamunya pergi – kadang tak lama sebelum pergi – riasan-riasan ini pun sirna, menyisakan plesteran dan keadaan berangin semula.

Kabar terakhir yang kudengar tentang Melancthon adalah bahwa tukang sihir itu dan salah seorang laki-laki tak berwajah melarikannya ke perbukitan pasir, di mana kini dia menjadi semacam hamba setan.

Dari Arcana Calestia (1749-1756)
oleh Emanuel Swedenborg

*

Ditulis ulang dari salah satu kisah dalam Sejarah Aib terjemahan Arif Bagus Prasetyo.

Kategori
Fiksi

Di Mana Kamu?, Joyce Carol Oates

oates-where-are-you-now

Suami itu punya kebiasaan memanggil istrinya dari suatu tempat di rumah — kalau si istri ada di lantai atas, si suami ada di lantai bawah; jika si istri ada di lantai bawah, si suami ada di lantai atas — dan ketika si istri menjawab, “Ya? Apa?,” si suami akan terus memanggilnya, seolah-olah si suami tidak mendengar dan dengan nada kesabaran yang tegang: “Halo? Halo? Di mana kamu?” Maka si istri tidak punya pilihan selain buru-buru mendekat kepadanya, di mana pun si suami berada, di tempat lain di rumah, di lantai bawah, di lantai atas, di ruang bawah tanah atau di teras luar, di halaman belakang atau di jalan masuk. “Ya?” panggil si istri, berusaha tetap tenang. “Ada apa?” Dan si suami akan memberitahu si istri — keluhan, komentar, pengamatan, pengingat, pertanyaan — dan kemudian, tak begitu lama, si istri akan mendengar si suami memanggil lagi dengan urgensi lainnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan si istri akan memanggil balik, “Ya? Ada apa?,” mencoba untuk menentukan di mana si suami berada. Si suami akan terus memanggil, tidak mendengar si istri, karena si suami tidak suka memakai alat bantu dengar di sekitar rumah, di mana hanya ada si istri yang didengar. Si suami mengeluh bahwa perangkat plastik mungil berbentuk siput itu menyakiti telinganya, telinga bagian dalam yang lembut memerah dan bahkan berdarah, dan si suami akan memanggil, dengan kekanak-kanakan, “Halo? Di mana kamu?”—karena wanita itu selalu pergi ke suatu tempat di luar jangkauan pendengaran si suami, dan ia tidak pernah tahu di mana si istri berada atau apa yang dilakukannya; kadang-kadang, si istri sangat jengkel pada si suami — sampai akhirnya si istri menyerah dan kehabisan nafas untuk mencarinya, dan ketika si suami melihat si istri, dia berkata dengan mencela, “Di mana kamu? Aku khawatir padamu ketika kamu tak menjawab.” Dan si istri berkata, tertawa, mencoba tertawa, meskipun tidak ada yang lucu, “Tapi aku selalu di sini!” Dan si suami menimpali, “Tidak, kau tidak ada. Kau tidak ada. Aku ada di sini, dan kau tidak ada di sini.” Dan kemudian pada hari itu, setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya, kecuali sebelum makan siang dan setelah tidur siang, si istri mendengar suaminya memanggilnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan pikiran itu datang kepadanya, Tidak. Aku akan bersembunyi darinya. Tapi si istri tidak akan melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu. Sebaliknya dia berdiri di tangga dan menangkupkan tangan ke mulutnya dan memanggilnya, “Aku di sini. Aku selalu di sini. Di mana lagi aku akan berada?” Tetapi suaminya tidak dapat mendengarnya dan terus memanggil, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” sampai akhirnya si istri berteriak, “Apa yang kamu inginkan? Aku sudah beritahu kamu, aku ada di sini.” Tetapi suaminya tidak dapat mendengar dan terus memanggil, “Halo? Di mana kamu? Halo!,” dan akhirnya si istri tidak punya pilihan selain menyerah, karena sang suami terdengar kesal dan marah dan cemas. Turun tangga, si istri tersandung dan jatuh, jatuh keras, dan lehernya patah dalam sekejap, dan dia meninggal di kaki tangga, sementara di salah satu kamar di lantai bawah, atau mungkin di ruang bawah tanah, atau di teras di bagian belakang rumah, si suami terus memanggil, dengan suatu desakan, “Halo? Halo? Di mana kamu?”

*

Diterjemahkan dari cerpen Where Are You? karangan Joyce Carol Oates yang terbit di The New Yorker. Joyce Carol Oates adalah seorang penulis Amerika. Oates menerbitkan buku pertamanya pada tahun 1962 dan sejak itu menerbitkan lebih dari 40 novel, serta sejumlah drama dan novel, dan banyak volume cerita pendek, puisi, dan nonfiksi.

Kategori
Fiksi

Tali, Charles Baudelaire

rope-slipknot-in-concept-suicide-macro-shot_vg-qdqkv9x__f0000

“Téténjoan mah,” cék babaturan, “sigana hamo kabilang cara rupaning hubungan ti antara papada manusa, atawa hubungan manusa jeung naon baé. Mun téténjoan, dina harti nu ngajirim atawa nu nyata di luareun diri urang, les ilang, urang sok ngarasa hémeng, tagiwur antara handeueul alatan nu ngajirim ngiles kitu baé, jeung reuwas alatan baris pinanggih jeung nu anyar, nu enya-enya nyata. Tapi aya hiji hal nu pohara écésna, déét, teu weléh sarua tur hamo nimbulkeun salah harti, nyaéta kanyaah indung. Teu kacipta aya indung teu boga kanyaah, lir seuneu teu panas. Tétéla, pan, yén pohara benerna mun urang matalikeun sakur laku lampah katut kekecapan hiji indung kana kanyaah indung, paling copélna ka nu jadi anak? Tapi pék regepkeun ieu carita pondok, ngeunaan hiji mangsa nalika déwék éstuning kabandang ku hiji téténjoan nu pohara lumrahna.

“Kangaranan jurulukis, puguh wé déwék sok niténan paroman jalma nu kasampak di pasampangan. Lah, ku ilaing gé kajudi sakumaha geunahna boga kamampuh kawas kitu, kawantu nu katémbong ku seniman mah leuwih hirup tur leuwih jero batan nu katémbong ku jalma réa. Ari di pasisian tempat déwék matuh, nu jujukutanana pohara ngejejembrung tur upluk-aplakna tepi ka imah nu hiji paanggang jeung imah lianna, déwék pohara katajina ku hiji budak lalaki ti barang tepung, kawantu paroman katut paripolahna leuwih narik batan anon baé ogé. Leuwih ti sakali éta budak jadi modél déwék; kalan-kalan mah sok sina jadi gypsy, malaikat, atawa déwa asmara. Hég manéhna sina nyepeng piul tukang jajaluk, maké Makuta Thorns katut Paku Salib, jeung Obor Cinta. Pokona mah nganggap pohara resepna cacampuran jeung éta budak masakat téh, tepi ka sakali mangsa mah ménta ka kolotna, nu miskin, sangkan éta budak bisa milu ka déwék kalawan kayid rék diperhatikeun boh makéna boh jajanna, jeung hamo diutuh-étah ku pagawéan bareurat ari lain meresihan koas jeung sagawé-gawé mantuan déwék mah. Barang geus didangdanan éta budak beuki cahayaan, tur moal boa manéhna ngarasa yén sanggeus milu ka déwék mah hirupna lir di sawarga mun seug dibandingkeun jeung kaayaan di imah kolotna. Orokaya, teu bisa disumput-sumput yén éta budak téh kadang-kadang matak hémeng kawantu sok ujug-ujug ceurik teu pupuguh, ari karesepna kana gula jeung sopi amis asa ku kabina-bina; beuki lila beuki kamalinaan, tepi ka sakali mangsa mah, lantaran manéhna sok ceceremed kana nu kararitu, bari jeung tara nurut kana panyaram, ku déwék diancam rék dititah balik deui ka kolotna. Geus kitu, léos déwék indit ka luar, tur ku rupa-rupa urusan déwék tara aya di imah.

“Kacipta tangtuna gé sakumaha reuwas tur colohokna déwék, barang jol ka imah, nu pangheulana katénjo téh budak leutik téa, batur déwék nu lucu, ngagulantung dina lawang jamban! Sukuna méh antel kana lanté; gigireunana aya korsi tibalik, nu tangtuna gé balas najong. Sirahna ngulahék kana taktak; ari beungeutna nu ngabeukahan eung panonna nu molotot, kalawan teuteupna nu pikasieuneun, saharita nimbulkeun téténjoan yén manéhna hirup kénéh. Nurunkeunana teu gampang cara cék panyangka. Awakna geus jeger, éstuning matak kukurayeun ana mikirkeun sakumaha déwék geuwat nurunkeun manéhna. Awakna disangkéh ku leungeun sabeulah, ari leungeun nu sabeulah deui neukteuk tali. Tapi teu bérés kitu baé: mangkeluk téh maké kawat ipis, nu teurak kana kulitna; kapaksa déwék kudu maké gunting leutik, keur ngudar tali tina sela-sela beuheungna nu bukekeng.

“Aéh, enya, harita kénéh déwék gogorowokan ménta tulung, tapi kabéh tatangga taya nu daék nulungan, bakating ku pengkuh kana kabiasaan jalma nyakola, nu nyao atuh tara bet pipilueun kana perkara nu ngagantung manéh mah. Tungtungna jol dokter; pok nerangkeun yén éta budak téh geus tiwas sawatara jam kalarung. Basa mayit keur dipulasara, na da bet heuras kabina-bina, éstuning hésé wé ngaleuleuskeunana deui téh, tepi ka kapaksa bajuna disoéhkeun.

“Opsir pulisi, nu puguh wé kudu meunang laporan ti déwék, kalah muncereng bangun nu hémeng bari pokna, ‘Ké, lanan, asa aya nu nyurigakeun yeuh!’, tangtuna gé kajurung ku panyangka katut kabiasaanana, cara ilaharna dina unggal perkara, nyingsieunan boh ka nu teu salah boh ka nu boga dosa.

“Aya hiji deui pikiraneun, nu pohara matak bingungna: ngabéjaan kolotna. Suku téh bet siga nu teu bisa dipaké ngaléngkah pikeun nepungan maranéhna. Estuning lahlahan wé antukna mah. Ngan, nu matak héran kabina-bina, éta indungna hih da taya riuk kitu kieu; taya cimata sakeclak-sakeclak acan. Jero pikir, tangtu sikepna nu mahiwal téh aya patalina jeung beuratna katunggara nu karandapan ku manéhna, keuna ku babasan: ‘awahing ku pohara tunggarana antukna teu bisa nyarita naon-naon’, Ari bapana, ukur ngabeberah manéh bari jeung teuing sadar teuing henteu: “Nya; dalah dikumaha, ari geus kitu kudan mah – pangna kitu gé meureun geus tepi kana titis tulisna.’

“Sabot layon digolérkeun dina dipan, tur déwék sibuk mémérés itu ieuna, dibantuan ku nu ngaladénan, torojol indungna budak téa asup ka studio. Hayang ningali layon, cenah. Teu bisa majar kumaha da puguh keur sakitu tunggarana bari jeung biheung kumaha ngabeberah haténa. Geus kitu, manéhna ménta déwék nuduhkeun tempat anakna ngagulantung. ‘Euh! Saéna mah teu kedah ningal, Bu,’ omong déwék, “Bilih janten kitu kieu.” Teu ngahaja, rét ka lawang jamban nu pikasieuneun, katingali bari jeung haté tagiwur antara baluas jeung keuheul, yén paku urut nu ngagulantung téh masih kénéh naplok, tur talina ngambay kénéh. Gancang ku déwék dilaanan éta sésa-sésa balai téh. Barang rék lung pisan dibalangkeun kana jandéla, gap leungeun dicepeng ku éta awéwé miskin, pok manéhna ngomong semu nu melas-melis, ‘Euh, punten, Pa! Sawios, kanggo abdi wé! Panuhun teu dipiceun! Abdi nyuhunkeun!’ Jero pikir, geus tangtu katunggarana sakitu beuratna tepi ka manéhna kagégéloan, tepi ka kanyaahna ngait kana pakakas urut budakna palastra, hayang ngarawatan, itung-itung titilar pangalaman nu matak ketir. Eta paku jeung tali téh dirawu.

“Pamustunganana! Tah, pamustunganana! Bérés wé sagala rupana. Taya deui nu kudu dipilampah iwal ti digawé deui – leuwih sumanget batan sasari, bari laun-laun nyieuhkeun budak leutik nu teu weléh kadeuleu baé, sangkan panonna nu molotot teu terus-terusan ngajungjurigan. Orokaya, isukna déwék narima surat mani numpuk. Sawaréh ti papada nu nyéwa imah, sawaréh deui ti tatangga deukeut; aya nu ti lanté hiji, lanté dua, lanté tilu, jeung saterusna; sawaréh mah ditulisna téh bangun bari heureuy, sasat keur nyamurkeun maksudna nu daria; aya deui nu eusina ngambek teu didingding kelir bari jeung teu puguh salang surupna; nu sidik, kabéh gé maksudna mah sarua: nyaéta ménta tali kabuyutan. Ari nu nyaruratan téh leuwih réa awéwé batan lalaki; tapi, sing percaya, teu kabéh ti golongan handap. Ku déwék surat téh kabéh gé dirawatan.

“Ujug-ujug bréh wé aya nu kapikir, tur ti harita déwék ngarti naon pangna indung budak téa pohara hayangna ngarawatan éta tali, satékah polah metakeun tarékah enggoning ngabeberah manéh,”

*

Disundakeun ku Atép Kurnia jeung Hawé Setiawan tina carpon “The Rope”, beunang nginggriskeun Pierre Schenider tina “La Corde”, nu dipidangkeun dina French Stories and Tales (The Pocket Library, 1956) kaca 112-115. Carpon terjemahan ieu aya dina majalah Cupumanik edisi no. 49, Agustus 2007.