Kategori
Non Fakta

Seratus Tahun Pengampunan, Clarice Lispector

1200px-eugenia_uniflora_fruits

Seseorang yang tidak pernah mencuri tidak akan mengerti diriku. Dan seseorang yang tidak pernah mencuri mawar tidak akan pernah bisa mengerti diriku. Ketika aku masih kecil, aku mencuri mawar.

Di Recife ada banyak sekali jalan. Di jalan-jalan orang kaya berjajar istana-istana mungil yang dibangun di tengah-tengah taman luas. Temanku dan aku suka bermain mengaku-aku milik siapa istana kecil tadi. “Yang putih itu punyaku.” “Tidak, aku sudah bilang yang putih itu punyaku.” “Tapi yang ini enggak putih semua. Jendelanya hijau.” Kadang kami menghabiskan waktu yang lama seharian dengan wajah menempel di pagar, memandangi.

Begitulah awalnya. Suatu hari, saat permainan “rumah ini punyaku,” kami berhenti di depan sebuah rumah yang tampak seperti kastil kecil. Di belakangnya, kami bisa melihat kebun buah luas, dan di depan, ada taman terawat, ditanami bunga.

Ngomong-ngomong, di taman bunga tadi ada mawar setengah terbuka dengan rona merah muda. Aku kagum, menatap dengan takjub pada mawar angkuh ini, yang belum jadi wanita sepenuhnya. Dan kemudian hal itu terjadi: dari lubuk hatiku aku ingin mawar ini untuk diriku sendiri. Aku menginginkannya, ah, betapa aku menginginkannya. Dan tidak ada cara untuk mendapatkannya. Jika datang tukang kebun, aku akan meminta mawar itu, meski tahu kalau ia akan mengusir kami seperti seseorang mengusir bocah-bocah nakal. Tidak ada tukang kebun yang terlihat, tidak ada seorang pun. Dan karena sengatan matahari, jendelanya ditutup. Di jalan itu trem tidak melintas dan mobil jarang berseliweran. Di antara kesunyianku dan kesunyian sang mawar, ada hasratku untuk memilikinya — sesuatu yang hanya milik diriku. Aku ingin menggenggamnya. Aku ingin mencium baunya sampai aku pingsan, sampai penglihatanku diredupkan oleh wangi yang memusingkan.

Lalu aku tidak tahan lagi. Rencana itu datang kepadaku dalam sekejap, dalam gelombang gairah. Tapi, karena aku sutradara hebat, aku beralasan dengan temanku, menjelaskan kepadanya apa perannya: mengawasi jendela rumah atau mengawasi kemungkinan adanya tukang kebun, mengawasi orang-orang yang lewat di jalan. Sementara itu, aku perlahan mendorong gerbang di pagar yang berkarat, tahu bahwa akan sedikit berderit. Aku membukanya sedikit agar tubuh mungilku bisa lewat. Dan, berjingkat-jingkat, tetapi dengan cepat, aku melintasi kerikil di sekitar taman bunga. Pada saat aku mencapai mawar, satu abad detak jantung telah berlalu.

Di sinilah akhirnya aku berada di depannya. Aku berhenti sejenak, meskipun ada bahaya, karena dari dekat mawar itu bahkan lebih indah. Akhirnya aku mulai mematahkan batangnya, yang durinya menusuk jariku dan aku menghisap darah dari jari-jariku.

Dan tiba-tiba … ini dia, semuanya, di tanganku. Perjalanan balik ke gerbang juga harus diam. Aku melewati gerbang yang setengah terbuka, mencengkeram mawar. Dan kemudian, dengan wajah pucat, kami berdua, mawar dan aku, kami berlari jauh dari rumah itu.

Dan apa yang aku lakukan dengan mawar itu? Aku melakukan ini: mawar itu adalah punyaku.

Aku membawanya ke rumahku, aku menaruhnya di dalam vas berisi air tempat ia berkuasa, dengan kelopaknya yang tebal dan seperti beludru penuh warna. Makin ke tengah warnanya lebih pekat dan kulubnya tampak hampir merah.

Terasa begitu menyenangkan.

Terasa begitu menyenangkan sehingga, sederhananya, aku mulai mencuri mawar. Prosesnya selalu sama: gadis itu berjaga-jaga saat aku masuk, aku mematahkan batangnya, dan melarikan diri dengan bunga mawar di tanganku. Selalu dengan jantungku yang berdebar kencang dan selalu dengan kemenangan yang tak seorang pun bisa mengambilnya dariku.

Aku juga mencuri beri merah. Ada sebuah gereja Presbyterian di dekat rumahku, dikelilingi oleh pagar semak hijau yang begitu tinggi dan rapat sehingga menghalangi pandangan ke gereja. Aku tidak pernah berhasil melihat sudut atap gereja. Pagar semaknya adalah buah beri pitanga. Tapi pitanga adalah buah tersembunyi. Aku tidak pernah melihat satu pun. Jadi, pertama-tama melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang datang, aku meletakkan tanganku di antara pagar semak. Aku memasukkannya ke pagar semak dan mulai merasakan sampai jariku menyentuh buah yang lembab. Sering kali, dengan tergesa-gesa, aku menghancurkan buah yang sudah matang, yang membuat jari-jariku tampak berlumuran darah. Aku mengambil banyak dan memakannya langsung di sana, dan aku membuang yang masih hijau.

Tidak ada yang tahu ini. Aku tidak menyesalinya: seorang pencuri mawar dan pitanga memiliki seratus tahun pengampunan. Pitanga, misalnya, meminta untuk dipetik, alih-alih matang dan sekarat, dalam keadaan perawan, di tangkainya.

*

Diterjemahkan dari One Hundred Years of Forgiveness karya Clarice Lispector, yang dialihbahasakan dari Bahasa Portugis oleh Rachel Klein.

Kategori
Non Fakta

Sang Korban, Junichiro Tanizaki

image-20170224-32714-vz865q-1

Hal-hal ini terjadi pada sebuah masa saat kebajikan adiluhung, tingkah laku tak keruan, masih berkembang, ketika pergulatan tanpa henti untuk eksistensi seperti hari ini belum dikenal. Wajah para aristokrat muda dan tuan tanah tidak menggelap oleh awan apa pun; di istana para pelayan kehormatan dan gundik agung selalu menyunggingkan senyum di bibir mereka; pekerjaan badut dan peracik teh profesional dijunjung tinggi; hidup begitu damai dan penuh sukacita. Di teater dan dalam tulisan-tulisan pada waktu itu, keindahan dan kekuatan digambarkan sebagai suatu yang tak terpisahkan.

Keindahan fisik, memang, adalah tujuan utama hidup dan dalam pencapaiannya orang-orang melangkah lebih jauh dengan menato dirinya. Di tubuh mereka, garis-garis dan warna-warna cemerlang terurai dalam semacam tarian. Ketika mengunjungi tempat-tempat keriaan, mereka akan memilih para pengusung untuk penandu mereka yang tubuhnya ditato dengan terampil, dan gundik dari Yoshiwara dan Tatsumi memberikan cinta mereka kepada pria yang tubuhnya penuh tato yang indah. Pengunjung setia sarang judi, pemadam kebakaran, pedagang, dan bahkan samurai akan mencari para tukang tato lihai. Pameran tato sering digelar, dan para peserta, dengan meraba tato di tubuh masing-masing, akan memuji desain asli yang satu dan mengkritik kekurangan yang lain.

Ada satu tukang tato muda berbakat dengan talenta luar biasa. Dia sangat penuh gaya dan reputasinya menyaingi para master tua yang hebat: Charibun dari Asakusa, Yakkôhei dari Matsushimachô dan Konkonjirô. Karya-karyanya sangat dihargai di pameran tato dan sebagian besar pengagum seni ini bercita-cita untuk menjadi kliennya. Sementara seniman Darumakin dikenal karena gambar-gambarnya yang bagus dan Karakusa Gonta adalah penguasa tato vermilion, lelaki ini, Seikichi, terkenal dengan orisinalitas dari komposisinya dan kualitasnya yang menggairahkan.

Sebelumnya ia telah mencapai reputasi tertentu sebagai pelukis, seperguruan dengan Toyokuni dan Kunisada dan berspesialisasi dalam lukisan bergenre. Turun kelas ke seni tato, ia masih mempertahankan semangat sejati seorang seniman dan kepekaan yang besar. Dia menolak untuk mengeksekusi karyanya pada orang-orang yang kulit atau fisiknya tidak menarik baginya, dan pelanggan seperti yang dia terima harus setuju secara implisit dengan desain yang dipilihnya dan juga dengan harganya. Selain itu, mereka selama satu atau dua bulan harus menanggung rasa sakit yang menyiksa dari jarum suntiknya.

Dalam hati penato muda ini tersembunyi gairah dan kesenangan yang tidak terduga. Ketika tusukan jarum-jarumnya menyebabkan daging membengkak dan darah merah mengalir, klien-kliennya, yang tidak bisa menahan rasa sakit, akan mengeluarkan erangan penuh derita. Semakin mereka mengerang, semakin besar kesenangan seniman yang tak dapat dijelaskan ini. Dia sangat menyukai desain vermilion, yang dikenal sebagai tato paling menyakitkan. Ketika kliennya telah menerima lima atau enam ratus tusukan jarum dan kemudian mandi air panas agar warnanya keluar lebih jelas, mereka sering jatuh seperti orang mati di kaki Seikichi. Ketika mereka berbaring di sana tidak bisa bergerak, dia akan bertanya kepada mereka dengan senyum puas, “Jadi memang benar-benar sakit, ya?”

Ketika dia harus berurusan dengan pelanggan yang lemah hati yang giginya akan bergemelatukan atau yang menjerit mengeluhkan kesakitan, Seikichi akan berkata, “Sungguh, aku pikir Anda adalah penduduk asli Kyoto yang orang-orangnya sangat berani. Baiklah, cobalah bersabar. Jarumku tidak biasanya sakit luar biasa.” Dan melirik dari sudut matanya ke wajah korban, sekarang basah oleh air mata, ia akan melanjutkan pekerjaannya dengan sangat tidak peduli. Jika, sebaliknya, pasiennya menanggung penderitaan tanpa tersentak, ia akan berkata, “Ah, Anda jauh lebih berani daripada yang Anda lihat. Tapi tunggu sebentar. Segera Anda tidak akan dapat menanggungnya dalam keheningan, cobalah sebisa mungkin.” Dan dia akan tertawa, menunjukkan giginya yang putih.

Selama bertahun-tahun, ambisi besar Seikichi adalah untuk menusukkan jarumnya di kulit berkilau dari seorang wanita cantik, yang ia impikan untuk menatonya, layaknya itu adalah jiwanya sendiri. Wanita imajiner ini harus memenuhi banyak syarat, baik fisik maupun karakter; hanya wajah yang cantik dan kulit yang halus tidak akan memuaskan Seikichi. Sia-sia dia mencari di antara pelacur terkenal untuk seorang wanita yang akan sesuai dengan cita-citanya. Bayangannya terus-menerus ada dalam benaknya, dan meskipun tiga tahun telah berlalu sejak dia memulai pencarian ini, keinginannya malah bertambah seiring waktu.

Pada malam musim panas saat berjalan di distrik Fukagawa, perhatiannya teralihkan oleh kaki feminin yang begitu putih yang mempesona dan menghilang di balik tirai tandu. Sebuah kaki dapat menyampaikan banyak variasi ekspresi seperti halnya wajah, dan kaki wanita putih ini bagi Seikichi bagaikan permata yang paling langka. Jari-jari kaki yang berbentuk sempurna, kuku berwarna-warni, tumit bundar, kulitnya berkilau seolah-olah telah dicuci berabad-abad oleh air jernih dari beberapa sungai gunung — boleh dibilang kaki yang punya kesempurnaan mutlak yang dirancang untuk menggerakkan hati seorang pria dan menginjak-injak jiwanya. Seikichi langsung tahu bahwa ini adalah kaki wanita yang selama bertahun-tahun dia cari! Dengan gembira dia bergegas mengejar tandu, berharap bisa melihat penghuninya, tetapi setelah mengikutinya ke beberapa jalan, dia kehilangan di sudut jalan. Sejak saat itu, apa yang tadinya merupakan kerinduan yang samar-samar berubah menjadi hasrat yang paling keras.

Suatu pagi setahun kemudian Seikichi menerima kunjungan di rumahnya di distrik Fukagawa. Dia adalah seorang gadis muda yang dikirim dalam suatu tugas oleh seorang teman, seorang geisha dari kuartal Tatsumi.

“Maaf, Tuan,” katanya dengan takut-takut. “Nyonya telah memintaku untuk mengirimkan mantel ini kepada Anda secara pribadi dan meminta Anda untuk membuat desain di atas kain ini.”

Saat mengatakan hal tersebut, si gadis menyerahkan sepucuk surat dan mantel wanita, yang dibungkus kertas bertuliskan potret aktor Iwai Tojaku. Dalam suratnya, geisha memberi tahu Seikichi bahwa utusan muda itu adalah perwaliannya yang baru diadopsi dan segera memulai debutnya sebagai geisha di restoran-restoran di ibukota. Dia memintanya untuk melakukan apa yang dia bisa untuk meluncurkan gadis itu dalam karier barunya.

Seikichi memandangi pengunjung itu, yang meskipun tidak lebih dari enam belas atau tujuh belas tahun, memiliki sesuatu yang aneh di wajahnya. Di matanya tercermin impian semua pria tampan dan wanita cantik yang pernah tinggal di ibu kota ini, di mana kebajikan dan kejahatan seluruh negeri bertemu. Lalu pandangan Seikichi berpindah ke kakinya yang halus, bersepatu bakiak jalanan ditutupi dengan anyaman jerami.

“Mungkinkah Anda yang meninggalkan Restoran Hirasei Juni lalu dalam tandu?”

“Ya, Tuan, itu diriku,” katanya, menertawakan pertanyaan anehnya. “Ayahku masih hidup saat itu dan dia biasa membawaku sesekali ke Restoran Hirasei.”

“Aku sudah menunggumu selama lima tahun,” kata Seikichi. “Ini pertama kalinya aku melihat wajahmu tapi aku mengenalmu lewat kakimu … Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu. Silakan masuk, dan jangan takut.”

Karena itu, dia mengambil tangan gadis yang enggan itu dan membawanya ke lantai atas, ke sebuah ruangan yang menghadap ke sungai besar. Seikichi mengambil dua gulungan gambar besar dan membentangkan salah satunya di hadapannya.

Itu adalah lukisan Mo Hsi, putri favorit kaisar Tiongkok kuno, Chou si Bengis. Dengan lembut si gadis bersandar pada pagar tangga, dan bagian bawah gaun brokatnya yang semarak jatuh di tangga menuju ke sebuah taman. Kepala mungilnya tampak hampir terlalu halus untuk menopang berat mahkotanya, yang bertatahkan lapiz-lazuli dan karang. Di tangan kanannya dia memegang cangkir, sedikit miring, dan dengan ekspresi malas, dia melihat seorang tahanan yang akan dipenggal kepalanya di taman di bawah. Menopang tangan dan kaki ke tiang, dia berdiri di sana menunggu saat terakhirnya; matanya tertutup, kepalanya tertunduk. Gambar-gambar pemandangan semacam itu cenderung vulgar, tetapi pelukisnya begitu terampil menggambarkan ekspresi sang putri dan lelaki terkutuk itu, sehingga gulir gambar ini adalah karya seni yang sempurna.

Untuk sementara, gadis muda itu menatap lukisan aneh itu. Tanpa sadar matanya mulai bersinar dan bibirnya bergetar; lambat laun wajahnya mirip dengan putri Cina muda.

“Semangat Anda tercermin dalam lukisan itu,” kata Seikichi, tersenyum senang ketika dia menatapnya.

“Mengapa Anda menunjukkan padaku gambar yang mengerikan?” Tanya gadis itu, menggerakan tangannya ke dahinya yang pucat.

“Wanita yang digambarkan di sini adalah diri Anda. Darahnya mengalir melalui pembuluh darah Anda.”

Seikichi kemudian membuka gulungan yang lain, yang berjudul “Sang Korban”. Di tengah-tengah gambar seorang perempuan muda bersandar pada pohon ceri, menatap sekelompok mayat pria yang tergeletak di sekitar kakinya; kebanggaan dan kepuasan harus terlihat di wajahnya yang pucat. Melompat-lompat di antara mayat-mayat, segerombolan burung kecil berkicau dengan gembira. Mustahil untuk mengatakan apakah gambar itu mewakili medan pertempuran atau taman musim semi.

“Lukisan ini melambangkan masa depan Anda,” kata Seikichi, menunjukkan wajah perempuan muda itu, yang anehnya mirip dengan tamunya. “Orang-orang yang jatuh di tanah adalah mereka yang akan kehilangan nyawanya karena Anda.”

“Oh, aku mohon,” serunya, “singkirkan gambar itu.” Dan seolah-olah untuk melepaskan diri dari kekagumannya yang menakutkan, dia membalikkan punggungnya pada gulungan dan melemparkan dirinya ke atas tikar jerami. Di sana dia berbaring dengan bibir bergetar dan seluruh tubuhnya bergetar.

“Tuan, aku akan mengaku pada Anda … Seperti yang sudah Anda tebak, aku memiliki sifat wanita itu. Kasihanilah aku dan sembunyikan fotonya.”

“Jangan bicara seperti pengecut! Sebaliknya, Anda harus mempelajari lukisan itu lebih hati-hati dan kemudian Anda akan segera berhenti merasa takut karenanya.”

Gadis itu tidak sanggup mengangkat kepalanya, yang tetap tersembunyi di lengan kimononya. Dia berbaring sujud di lantai mengatakan berulang-ulang, “Tuan, biarkan aku pulang. Aku takut bersama Anda.”

“Anda akan tinggal sebentar,” kata Seikichi angkuh. “Aku sendiri yang memiliki kekuatan untuk menjadikan Anda wanita cantik …”

Dari antara botol dan jarum di raknya Seikichi memilih botol berisi obat bius yang kuat.

*

Matahari bersinar terang di sungai. Sinar pantulannya membuat pola gelombang emas di pintu geser dan wajah wanita muda yang sedang tidur itu. Seikichi menutup pintu dan duduk di sampingnya. Sekarang untuk pertama kalinya dia dapat sepenuhnya menikmati kecantikan si gadis yang aneh, dan Seikichi berpikir bahwa dia bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun duduk di sana memandangi wajah sempurna dan tidak bergerak itu.

Tetapi keinginan untuk memenuhi desainnya mengalahkannya segalanya. Setelah mengambil alat-alat rajahnya dari rak, Seikichi membuka tubuh gadis itu dan mulai menandai punggungnya dengan ujung pena, yang dipegang di antara ibu jari, jari manis dan jari kelingking tangan kirinya. Dan jarum, dipegang di tangan kanannya, dia menusuk sepanjang tarikan garis. Karena orang-orang Memphis pernah menghiasi dengan sphinx dan piramida di tanah Mesir yang indah, maka Seikichi sekarang menghiasi kulit murni gadis muda ini. Seolah-olah roh penata tato itu masuk ke dalam desain, dan setiap tetes vermillion yang disuntikkan seperti setetes darahnya sendiri menembus tubuh gadis itu.

Dia tidak sadar akan berlalunya waktu. Tidak ada yang datang dan pergi, dan hari musim semi yang tenang bergerak secara bertahap menuju penutupannya. Tanpa kenal lelah tangan Seikichi mengejar pekerjaannya tanpa pernah membangunkan gadis itu dari tidur nyenyaknya. Saat ini bulan tergantung di langit, menuangkan cahayanya di atas atap di sisi lain sungai. Tato itu belum selesai. Seikichi menyela pekerjaannya untuk menyalakan lampu, lalu duduk lagi dan meraih jarumnya.

Sekarang setiap pukulan menuntut usaha, dan seniman itu akan mendesah, seolah jantungnya sendiri merasakan tusukan itu. Sedikit demi sedikit mulai tampak garis besar seekor laba-laba besar. Ketika cahaya fajar menyingsing memasuki ruangan, hewan iblis yang jahat ini menyebarkan delapan kakinya ke seluruh permukaan punggung gadis itu.

Malam musim semi hampir berakhir. Orang sudah bisa mendengar kemiringan dayung ketika perahu-perahu dayung melintas naik atau turun sungai; di atas layar kapal penangkap ikan, bengkak karena angin semilir, orang bisa melihat kabut terangkat. Dan akhirnya Seikichi membawa kuasnya ke bawah. Sambil berdiri di samping, dia mempelajari laba-laba betina besar yang tertato di punggung gadis itu, dan ketika dia menatapnya, dia menyadari bahwa dalam karya ini dia memang telah mengungkapkan esensi seluruh hidupnya. Sekarang setelah selesai, seniman itu menyadari kehampaan yang luar biasa.

“Untuk memberikan Anda kecantikan, aku telah mencurahkan seluruh jiwaku ke dalam tato ini,” gumam Seikichi. “Mulai sekarang, tidak ada wanita lajang di Jepang yang bisa melampauimu! Tidak akan pernah lagi Anda tahu rasa takut, seperti di masa lalu. Semuanya, semua pria akan menjadi korbanmu … ”

Apakah dia mendengar kata-katanya? Erangan naik ke bibirnya, anggota tubuhnya bergerak. Perlahan-lahan dia mulai sadar kembali, dan ketika dia berbaring bernapas, kaki laba-laba bergerak di punggungnya seperti kaki binatang yang hidup.

“Anda pasti menderita,” kata Seikichi. “Itu karena laba-laba merangkul tubuhmu begitu erat.”

Gadis itu setengah membuka matanya. Pada awalnya pandangan kosong, lalu pupil matanya mulai bersinar dengan kecerahan yang dipantulkan cahaya bulan di wajah Seikichi.

“Tuan, biarkan aku melihat tato di punggungku! Jika Anda telah memberikanku jiwa Anda, aku pasti menjadi cantik.”

Gadis itu berbicara seperti dalam sebuah mimpi, namun dalam suaranya ada nada percaya diri, kekuatan.

“Pertama, Anda harus mandi untuk mencerahkan warnanya,” jawab Seikichi. Dan dia menambahkan dengan perhatian yang tulus, “Itu akan menyakitkan, paling menyakitkan. Dapatkan keberanian!”

“Aku akan menanggung apa pun untuk menjadi cantik,” kata gadis itu.

Gadis itu mengikuti Seikichi menuruni beberapa tangga ke kamar mandi, dan ketika dia melangkah ke dalam air yang mengepul, matanya berkilau kesakitan.

“Ah, ah, betapa perihnya!” erang si gadis. “Tuan, tinggalkan aku dan tunggu di atas. Aku akan bergabung dengan Anda ketika aku siap. Aku tidak ingin ada orang yang melihatku menderita.”

Tetapi ketika dia keluar dari bak mandi, si gadis bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengeringkan dirinya sendiri. Dia menyingkirkan bantuan tangan Seikichi dan jatuh ke lantai, diliputi rasa sakit. Sambil mengerang, dia berbaring di sana, rambutnya yang panjang menutupi lantai. Cermin di belakangnya memantulkan telapak dua kaki, berwarna-warni seperti karang mutiara.

Seikichi naik ke atas untuk menunggunya, dan ketika akhirnya gadis itu bergabung dengannya dia berpakaian dengan hati-hati. Rambutnya yang basah telah disisir dan digantung di bahunya. Mulutnya yang halus dan alisnya yang melengkung tidak lagi mengkhianati penderitaan akibat cobaannya, dan ketika dia memandang keluar ke sungai, ada kilatan dingin di matanya. Terlepas dari masa mudanya, dia memiliki sikap seorang wanita yang telah menghabiskan bertahun-tahun di rumah-rumah geisha dan memperoleh seni menguasai hati pria. Kagum karenanya, Seikichi merenungkan perubahan yang terjadi pada gadis pemalu sejak hari sebelumnya. Pergi ke ruangan lain, Seikichi mengambil dua gulungan gambar yang telah dia tunjukkan pada si gadis.

“Aku menawarkan lukisan-lukisan ini kepada Anda,” katanya. “Dan juga, tentu saja, tato itu. Itu milik Anda untuk dibawa pergi.”

“Tuan,” jawabnya, “hatiku sekarang bebas dari segala ketakutan. Dan Anda … Anda akan menjadi korban pertamaku!”

Gadis itu melemparkan pandangan pada Seikichi, menusuk layaknya pedang tajam yang baru diasah. Itu adalah tatapan putri Cina muda, dan juga wanita lain yang bersandar pada pohon ceri yang dikelilingi oleh nyanyian burung dan mayat. Perasaan kemenangan mengaliri Seikichi.

“Biarkan aku melihat tato Anda,” kata Seikichi. “Tunjukkan padaku tato Anda.”

Tanpa sepatah kata pun, gadis itu memiringkan kepalanya dan membuka gaunnya. Sinar matahari pagi jatuh di punggung gadis muda itu dan sinar keemasannya membakar sang laba-laba.

*

Diterjemahkan dari cerpen berjudul The Victim dari Junichiro Tanizaki, yang dialihbahasakan Ivan Morris di Paris Review.

Kategori
Non Fakta

Naga Cina, Jorge Luis Borges

n2949

Kosmogoni Tiongkok mengajarkan bahwa Sepuluh Ribu Hal atau Arketip (dunia) lahir dari konjungsi berirama dari dua prinsip abadi yang saling melengkapi, yin dan yang. Yang termasuk yin adalah konsentrasi, kegelapan, kepasifan, angka genap, dan dingin; sementara yang, pertumbuhan, cahaya, aktivitas, angka ganjil, dan panas. Simbol yin adalah perempuan, bumi, warna oranye, lembah, dasar sungai, dan harimau; yang, laki-laki, langit, biru, gunung, pilar, naga.

Naga Cina, atau lung, adalah salah satu dari empat makhluk ajaib. (Yang lain adalah unicorn, phoenix, dan kura-kura.) Seringnya, Naga Barat menyebarkan teror; paling buruk, ia adalah sosok yang penuh olok-olok. Namun, lung dalam mitos Tiongkok adalah ilahi dan seperti malaikat yang juga seekor singa. Kita membaca dalam Catatan Sejarah Ssu-ma Ch’ien bahwa Konfusius pergi untuk berkonsultasi dengan arsiparis atau pustakawan Lao-tzu, dan setelah kunjungannya berkata:

Burung terbang, ikan berenang, binatang lari. Hewan yang berlari dapat ditangkap dengan sebuah jerat, yang berenang dengan sebuah jaring, dan yang terbang dengan sebuah panah. Tapi ada Naga; aku tidak tahu bagaimana dia menunggang angin atau bagaimana mencapai surga. Hari ini aku bertemu Lao-tzu dan aku dapat mengatakan bahwa aku telah melihat Naga.

Itu adalah Naga, atau Kuda Naga, yang muncul dari Sungai Kuning untuk mengabarkan kepada seorang kaisar soal diagram lingkaran terkenal yang melambangkan permainan timbal balik dari Yang dan Yin. Seorang raja memiliki di istananya pelana Naga dan anggitan Naga; seorang kaisar memakan Naga, dan kerajaannya makmur. Seorang penyair terkenal, untuk mengilustrasikan risiko kebesaran, menulis: Unicorn berakhir dengan daging mentah; naga sebagai pai daging.”

Dalam I Ching atau Kitab Perubahan, Naga menandakan kebijaksanaan. Selama berabad-abad ia adalah lambang kekaisaran. Tahta kaisar disebut Singgasana Naga, wajahnya adalah Wajah Naga. Saat mengumumkan kematian seorang kaisar, dikatakan bahwa ia telah naik ke surga di belakang Naga.

Imajinasi populer menghubungkan Naga dengan awan, dengan curah hujan yang dibutuhkan oleh petani, dan untuk sungai-sungai besar. ‘Bumi menggandeng naga’ adalah ungkapan umum untuk hujan. Sekitar abad keenam, Chang Seng-yu mengeksekusi lukisan dinding yang menggambarkan empat Naga. Para penonton mengeluh bahwa dia telah meninggalkan mata mereka. Terganggu, Chang mengambil kuasnya lagi dan menyelesaikan dua dari figur yang cacat. Kemudian ‘udara dipenuhi dengan guntur dan kilat, dinding retak dan dua Naga itu naik ke surga. Tapi dua Naga tanpa mata lainnya tetap ada di tempatnya’.

Naga Cina memiliki tanduk, cakar, dan sisik, dan tulang punggungnya terdapat duri yang menusuk. Biasanya digambarkan dengan mutiara, yang ditelan atau dimuntahkan. Di dalam mutiara ini terletak kekuatannya; Naga dijinakkan jika mutiara diambil darinya.

Chuang Tzu menceritakan kepada kita tentang seorang lelaki teguh yang pada akhir dari tiga tahun yang menyusahkannya dalam menguasai seni membunuh Naga, dan selama sisa hidupnya tidak diberi kesempatan untuk mempraktikkan seninya.

*

Diterjemahkan dari Chinese Dragon dalam The Book of Imaginary Beings dari Jorge Luis Borges. Makhluk mitos naga, meski terdapat perbedaan detail, baik di Barat atau Timur sama-sama mengimajinasikannya. Kita acuh soal makna naga, sebut Borges, seperti halnya kita acuh soal makna alam semesta. Ada semacam fenomana yang bisa digali dari imajinasi manusia.

Kategori
Non Fakta

Kematian Seorang Teolog, Jorge Luis Borges

vincent_van_gogh_-_van_goghs_bedroom_in_arles_-_google_art_project-1

Para malaikat menuturkan kepadaku bahwa ketika Melancthon wafat, dia diberi sebuah rumah yang menyerupai rumahnya di dunia ini. (Hal ini terjadi pada kebanyakan para pendatang baru di alam baka pada awal kedatangan mereka – itu sebabnya mereka tidak menyadari kematian mereka dan mengira masih berada di alam dunia.) Semua benda di kamarnya serupa dengan yang dulu pernah dimilikinya – meja, meja tulis berlaci, rak-rak buku. Begitu bangun di kediaman baru ini, Melancthon duduk di mejanya, memulai karangannya, dan berhari-hari menulis – seperti biasa – tentang pengampunan dosa melalui iman semata-mata, tanpa sepatah pun kata tentang amal. Pengabaian ini dipergoki oleh para malaikat, mereka mengirimkan utusan untuk menanyainya. “Aku telah membuktikan tanpa dapat disangkal lagi,” jawab Melancthon kepada mereka, “Bahwa amal tak mengandung apa pun yang hakiki bagi jiwa. Untuk meraih penebusan, iman saja sudah cukup.” Dia berbicara dengan penuh keyakinan, tanpa syak sedikit pun bahwa dia sudah mati dan jatahnya ada di luar Surga. Demi mendengar ucapannya itu, para malaikat pun pergi.

Setelah beberapa minggu, perabotan di kamarnya mulai mengabur dan lenyap hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa selain kursi malas, meja, kertas, wadah pena dan tintanya. Yang lebih parah lagi, dinding kamarnya menjadi berlabur kapur dan lantainya terlapisi beling kuning. Pakaian Melanchthon sendiri kini lebih kasar. Dia heran dengan perubahan ini, namun terus saja menulis tentang iman seraya mengingkari amal. Begitu ngototnya dengan pengesampingan ini sampai-sampai dia mendadak terjeblos ke semacam rumah tahanan yang dihuni kaum teolog seperti dirinya. Terpenjara selama beberapa hari, Melancthon mulai menyangsikan doktrinnya dan dia diperkenankan kembali ke kamarnya semula. Dia kini hanya terbungkus kulit berbulu, namun dia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru terjadi padanya tidak lebih daripada halusinasi. Dia kembali menyanjung iman dan meremehkan amal.

Pada suatu petang Melancthon merasa kedinginan. Dia mulai memeriksa rumah dan segera menemukan bahwa ruangan lain tak sama lagi dengan yang ada di rumah lamanya di alam dunia. Sebuah ruangan tampak berantakan diseraki alat-alat yang tidak dipahaminya: ruangan lain menyusut jadi sedemikian kecil hingga mustahil dimasuki; ruangan ketiga tidak berubah, tapi pintu-pintu dan jendelanya menghadap ke hamparan pesisir pasir yang luas. Salah satu ruangan di belakang rumah dipenuhi orang yang memujanya dan tak henti-henti mengatakan kepadanya bahwa tidak ada teolog yang sebijaksana dia. Puja-puji ini membuatnya senang, namun karena sejumlah tamu itu tak berwajah dan lainnya tampak seperti orang mati, akhirnya dia benci dan tak percaya kepada mereka. Di titik inilah dia memutuskan untuk menulis sesuatu tentang amal. Satu-satunya kesulitan adalah bahwa apa yang ditulisnya hari ini tidak bisa dilihatnya pada keesokan harinya. Ini karena halaman-halaman itu ditulisnya tanpa keyakinan.

Melancthon menerima banyak kunjungan dari orang-orang yang baru mati, namun dia merasa malu kedapatan tinggal di pondokan yang begitu buruk. Untuk membuat mereka percaya bahwa dia berada di Surga, disewanya tukang sihir setempat, yang mengecoh rombongan tamu dengan tampilan kesentosaan dan kemegahan. Begitu tamu-tamunya pergi – kadang tak lama sebelum pergi – riasan-riasan ini pun sirna, menyisakan plesteran dan keadaan berangin semula.

Kabar terakhir yang kudengar tentang Melancthon adalah bahwa tukang sihir itu dan salah seorang laki-laki tak berwajah melarikannya ke perbukitan pasir, di mana kini dia menjadi semacam hamba setan.

Dari Arcana Calestia (1749-1756)
oleh Emanuel Swedenborg

*

Ditulis ulang dari salah satu kisah dalam Sejarah Aib terjemahan Arif Bagus Prasetyo.

Kategori
Non Fakta

Di Mana Kamu?, Joyce Carol Oates

oates-where-are-you-now

Suami itu punya kebiasaan memanggil istrinya dari suatu tempat di rumah — kalau si istri ada di lantai atas, si suami ada di lantai bawah; jika si istri ada di lantai bawah, si suami ada di lantai atas — dan ketika si istri menjawab, “Ya? Apa?,” si suami akan terus memanggilnya, seolah-olah si suami tidak mendengar dan dengan nada kesabaran yang tegang: “Halo? Halo? Di mana kamu?” Maka si istri tidak punya pilihan selain buru-buru mendekat kepadanya, di mana pun si suami berada, di tempat lain di rumah, di lantai bawah, di lantai atas, di ruang bawah tanah atau di teras luar, di halaman belakang atau di jalan masuk. “Ya?” panggil si istri, berusaha tetap tenang. “Ada apa?” Dan si suami akan memberitahu si istri — keluhan, komentar, pengamatan, pengingat, pertanyaan — dan kemudian, tak begitu lama, si istri akan mendengar si suami memanggil lagi dengan urgensi lainnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan si istri akan memanggil balik, “Ya? Ada apa?,” mencoba untuk menentukan di mana si suami berada. Si suami akan terus memanggil, tidak mendengar si istri, karena si suami tidak suka memakai alat bantu dengar di sekitar rumah, di mana hanya ada si istri yang didengar. Si suami mengeluh bahwa perangkat plastik mungil berbentuk siput itu menyakiti telinganya, telinga bagian dalam yang lembut memerah dan bahkan berdarah, dan si suami akan memanggil, dengan kekanak-kanakan, “Halo? Di mana kamu?”—karena wanita itu selalu pergi ke suatu tempat di luar jangkauan pendengaran si suami, dan ia tidak pernah tahu di mana si istri berada atau apa yang dilakukannya; kadang-kadang, si istri sangat jengkel pada si suami — sampai akhirnya si istri menyerah dan kehabisan nafas untuk mencarinya, dan ketika si suami melihat si istri, dia berkata dengan mencela, “Di mana kamu? Aku khawatir padamu ketika kamu tak menjawab.” Dan si istri berkata, tertawa, mencoba tertawa, meskipun tidak ada yang lucu, “Tapi aku selalu di sini!” Dan si suami menimpali, “Tidak, kau tidak ada. Kau tidak ada. Aku ada di sini, dan kau tidak ada di sini.” Dan kemudian pada hari itu, setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya, kecuali sebelum makan siang dan setelah tidur siang, si istri mendengar suaminya memanggilnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan pikiran itu datang kepadanya, Tidak. Aku akan bersembunyi darinya. Tapi si istri tidak akan melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu. Sebaliknya dia berdiri di tangga dan menangkupkan tangan ke mulutnya dan memanggilnya, “Aku di sini. Aku selalu di sini. Di mana lagi aku akan berada?” Tetapi suaminya tidak dapat mendengarnya dan terus memanggil, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” sampai akhirnya si istri berteriak, “Apa yang kamu inginkan? Aku sudah beritahu kamu, aku ada di sini.” Tetapi suaminya tidak dapat mendengar dan terus memanggil, “Halo? Di mana kamu? Halo!,” dan akhirnya si istri tidak punya pilihan selain menyerah, karena sang suami terdengar kesal dan marah dan cemas. Turun tangga, si istri tersandung dan jatuh, jatuh keras, dan lehernya patah dalam sekejap, dan dia meninggal di kaki tangga, sementara di salah satu kamar di lantai bawah, atau mungkin di ruang bawah tanah, atau di teras di bagian belakang rumah, si suami terus memanggil, dengan suatu desakan, “Halo? Halo? Di mana kamu?”

*

Diterjemahkan dari cerpen Where Are You? karangan Joyce Carol Oates yang terbit di The New Yorker. Joyce Carol Oates adalah seorang penulis Amerika. Oates menerbitkan buku pertamanya pada tahun 1962 dan sejak itu menerbitkan lebih dari 40 novel, serta sejumlah drama dan novel, dan banyak volume cerita pendek, puisi, dan nonfiksi.

Kategori
Non Fakta

Tali, Charles Baudelaire

rope-slipknot-in-concept-suicide-macro-shot_vg-qdqkv9x__f0000

“Téténjoan mah,” cék babaturan, “sigana hamo kabilang cara rupaning hubungan ti antara papada manusa, atawa hubungan manusa jeung naon baé. Mun téténjoan, dina harti nu ngajirim atawa nu nyata di luareun diri urang, les ilang, urang sok ngarasa hémeng, tagiwur antara handeueul alatan nu ngajirim ngiles kitu baé, jeung reuwas alatan baris pinanggih jeung nu anyar, nu enya-enya nyata. Tapi aya hiji hal nu pohara écésna, déét, teu weléh sarua tur hamo nimbulkeun salah harti, nyaéta kanyaah indung. Teu kacipta aya indung teu boga kanyaah, lir seuneu teu panas. Tétéla, pan, yén pohara benerna mun urang matalikeun sakur laku lampah katut kekecapan hiji indung kana kanyaah indung, paling copélna ka nu jadi anak? Tapi pék regepkeun ieu carita pondok, ngeunaan hiji mangsa nalika déwék éstuning kabandang ku hiji téténjoan nu pohara lumrahna.

“Kangaranan jurulukis, puguh wé déwék sok niténan paroman jalma nu kasampak di pasampangan. Lah, ku ilaing gé kajudi sakumaha geunahna boga kamampuh kawas kitu, kawantu nu katémbong ku seniman mah leuwih hirup tur leuwih jero batan nu katémbong ku jalma réa. Ari di pasisian tempat déwék matuh, nu jujukutanana pohara ngejejembrung tur upluk-aplakna tepi ka imah nu hiji paanggang jeung imah lianna, déwék pohara katajina ku hiji budak lalaki ti barang tepung, kawantu paroman katut paripolahna leuwih narik batan anon baé ogé. Leuwih ti sakali éta budak jadi modél déwék; kalan-kalan mah sok sina jadi gypsy, malaikat, atawa déwa asmara. Hég manéhna sina nyepeng piul tukang jajaluk, maké Makuta Thorns katut Paku Salib, jeung Obor Cinta. Pokona mah nganggap pohara resepna cacampuran jeung éta budak masakat téh, tepi ka sakali mangsa mah ménta ka kolotna, nu miskin, sangkan éta budak bisa milu ka déwék kalawan kayid rék diperhatikeun boh makéna boh jajanna, jeung hamo diutuh-étah ku pagawéan bareurat ari lain meresihan koas jeung sagawé-gawé mantuan déwék mah. Barang geus didangdanan éta budak beuki cahayaan, tur moal boa manéhna ngarasa yén sanggeus milu ka déwék mah hirupna lir di sawarga mun seug dibandingkeun jeung kaayaan di imah kolotna. Orokaya, teu bisa disumput-sumput yén éta budak téh kadang-kadang matak hémeng kawantu sok ujug-ujug ceurik teu pupuguh, ari karesepna kana gula jeung sopi amis asa ku kabina-bina; beuki lila beuki kamalinaan, tepi ka sakali mangsa mah, lantaran manéhna sok ceceremed kana nu kararitu, bari jeung tara nurut kana panyaram, ku déwék diancam rék dititah balik deui ka kolotna. Geus kitu, léos déwék indit ka luar, tur ku rupa-rupa urusan déwék tara aya di imah.

“Kacipta tangtuna gé sakumaha reuwas tur colohokna déwék, barang jol ka imah, nu pangheulana katénjo téh budak leutik téa, batur déwék nu lucu, ngagulantung dina lawang jamban! Sukuna méh antel kana lanté; gigireunana aya korsi tibalik, nu tangtuna gé balas najong. Sirahna ngulahék kana taktak; ari beungeutna nu ngabeukahan eung panonna nu molotot, kalawan teuteupna nu pikasieuneun, saharita nimbulkeun téténjoan yén manéhna hirup kénéh. Nurunkeunana teu gampang cara cék panyangka. Awakna geus jeger, éstuning matak kukurayeun ana mikirkeun sakumaha déwék geuwat nurunkeun manéhna. Awakna disangkéh ku leungeun sabeulah, ari leungeun nu sabeulah deui neukteuk tali. Tapi teu bérés kitu baé: mangkeluk téh maké kawat ipis, nu teurak kana kulitna; kapaksa déwék kudu maké gunting leutik, keur ngudar tali tina sela-sela beuheungna nu bukekeng.

“Aéh, enya, harita kénéh déwék gogorowokan ménta tulung, tapi kabéh tatangga taya nu daék nulungan, bakating ku pengkuh kana kabiasaan jalma nyakola, nu nyao atuh tara bet pipilueun kana perkara nu ngagantung manéh mah. Tungtungna jol dokter; pok nerangkeun yén éta budak téh geus tiwas sawatara jam kalarung. Basa mayit keur dipulasara, na da bet heuras kabina-bina, éstuning hésé wé ngaleuleuskeunana deui téh, tepi ka kapaksa bajuna disoéhkeun.

“Opsir pulisi, nu puguh wé kudu meunang laporan ti déwék, kalah muncereng bangun nu hémeng bari pokna, ‘Ké, lanan, asa aya nu nyurigakeun yeuh!’, tangtuna gé kajurung ku panyangka katut kabiasaanana, cara ilaharna dina unggal perkara, nyingsieunan boh ka nu teu salah boh ka nu boga dosa.

“Aya hiji deui pikiraneun, nu pohara matak bingungna: ngabéjaan kolotna. Suku téh bet siga nu teu bisa dipaké ngaléngkah pikeun nepungan maranéhna. Estuning lahlahan wé antukna mah. Ngan, nu matak héran kabina-bina, éta indungna hih da taya riuk kitu kieu; taya cimata sakeclak-sakeclak acan. Jero pikir, tangtu sikepna nu mahiwal téh aya patalina jeung beuratna katunggara nu karandapan ku manéhna, keuna ku babasan: ‘awahing ku pohara tunggarana antukna teu bisa nyarita naon-naon’, Ari bapana, ukur ngabeberah manéh bari jeung teuing sadar teuing henteu: “Nya; dalah dikumaha, ari geus kitu kudan mah – pangna kitu gé meureun geus tepi kana titis tulisna.’

“Sabot layon digolérkeun dina dipan, tur déwék sibuk mémérés itu ieuna, dibantuan ku nu ngaladénan, torojol indungna budak téa asup ka studio. Hayang ningali layon, cenah. Teu bisa majar kumaha da puguh keur sakitu tunggarana bari jeung biheung kumaha ngabeberah haténa. Geus kitu, manéhna ménta déwék nuduhkeun tempat anakna ngagulantung. ‘Euh! Saéna mah teu kedah ningal, Bu,’ omong déwék, “Bilih janten kitu kieu.” Teu ngahaja, rét ka lawang jamban nu pikasieuneun, katingali bari jeung haté tagiwur antara baluas jeung keuheul, yén paku urut nu ngagulantung téh masih kénéh naplok, tur talina ngambay kénéh. Gancang ku déwék dilaanan éta sésa-sésa balai téh. Barang rék lung pisan dibalangkeun kana jandéla, gap leungeun dicepeng ku éta awéwé miskin, pok manéhna ngomong semu nu melas-melis, ‘Euh, punten, Pa! Sawios, kanggo abdi wé! Panuhun teu dipiceun! Abdi nyuhunkeun!’ Jero pikir, geus tangtu katunggarana sakitu beuratna tepi ka manéhna kagégéloan, tepi ka kanyaahna ngait kana pakakas urut budakna palastra, hayang ngarawatan, itung-itung titilar pangalaman nu matak ketir. Eta paku jeung tali téh dirawu.

“Pamustunganana! Tah, pamustunganana! Bérés wé sagala rupana. Taya deui nu kudu dipilampah iwal ti digawé deui – leuwih sumanget batan sasari, bari laun-laun nyieuhkeun budak leutik nu teu weléh kadeuleu baé, sangkan panonna nu molotot teu terus-terusan ngajungjurigan. Orokaya, isukna déwék narima surat mani numpuk. Sawaréh ti papada nu nyéwa imah, sawaréh deui ti tatangga deukeut; aya nu ti lanté hiji, lanté dua, lanté tilu, jeung saterusna; sawaréh mah ditulisna téh bangun bari heureuy, sasat keur nyamurkeun maksudna nu daria; aya deui nu eusina ngambek teu didingding kelir bari jeung teu puguh salang surupna; nu sidik, kabéh gé maksudna mah sarua: nyaéta ménta tali kabuyutan. Ari nu nyaruratan téh leuwih réa awéwé batan lalaki; tapi, sing percaya, teu kabéh ti golongan handap. Ku déwék surat téh kabéh gé dirawatan.

“Ujug-ujug bréh wé aya nu kapikir, tur ti harita déwék ngarti naon pangna indung budak téa pohara hayangna ngarawatan éta tali, satékah polah metakeun tarékah enggoning ngabeberah manéh,”

*

Disundakeun ku Atép Kurnia jeung Hawé Setiawan tina carpon “The Rope”, beunang nginggriskeun Pierre Schenider tina “La Corde”, nu dipidangkeun dina French Stories and Tales (The Pocket Library, 1956) kaca 112-115. Carpon terjemahan ieu aya dina majalah Cupumanik edisi no. 49, Agustus 2007.