Kategori
Movie Enthusiast

12 Film tentang Penulis dan Kegamangannya

Kemanapun kamu menengok sejarah kebudayaan, sebut Umberto Eco, kamu akan menemukan daftar-daftar. Pemikir Italia ini emang sering bilang kalau daftar-daftar selalu menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya. Tapi alasan saya bikin daftar enggak semulia itu, iseng aja sih karena enggak ada kerjaan. Ditambah, saya bukan snob apalagi kritikus film yang kredibel.

Sebelumnya saya pernah bikin 7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya, dan sekarang saya bikin daftar yang lebih panjang. Karena yang panjang lebih panjang aja sih.

Following (1998)

Sebelum Memento, film yang menggebrakkannya, Christopher Nolan membuat debut yang mengesankan dengan film noir sederhana, pendek, tapi menawan ini. Lewat film berbiaya rendah ini, kita bisa mengetahui kalau Nolan sudah memusatkan perhatian pada tema sinematik favoritnya: obsesi. Following sendiri mengisahkan Bill yang seorang penulis muda belum jadi mencari inspirasi dengan menguntit orang-orang enggak dikenalnya di seputar London, untuk mengamati mereka. Sampai dia bertemu maling eksentrik dan malah jadi tangan kanannya. Pemuda penuh kebingungan dan penyendiri ini masuk jebakan.

The Hours (2002)

Nyonya Dalloway bilang kalau dia bakal beli sendiri bunganya. Cerita tentang bagaimana novel Mrs. Dalloway mempengaruhi tiga wanita berbeda generasi, yang kesemuanya punya keterikatan karena harus berhadapan dengan kasus bunuh diri dalam kehidupan mereka. Adaptasi dari novel karya Michael Cunningham. Virginia Woolf yang diperankan Nicole Kidman sedang dalam proses merampungkan Mrs. Dalloway. Pada 1951, Julianne Moore yang berperan sebagai seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil, merencanakan pesta untuk suaminya, dengan enggak bisa berhenti baca novel karya Woolf tadi. Di era sekarang, Meryl Streep berperan seorang wanita modern, versi Nyonya Dalloway masa kini, yang akan mengadakan pesta perayaan untuk temannya yang seorang penulis terkenal yang sekarat karena AIDS.

Sylvia (2003)

Cerita tentang hubungan sejoli penyair Ted Hughes dan Sylvia Plath. Plot dari kisah nyata sudah sesuai, suasananya sudah lumayan, dan pemandangannya indah, tapi Sylvia Plath butuh biopic yang lebih cemerlang. Penggambaran karakternya agak melenceng. Dengan hanya sedikit menyinggung puisinya, versi Gwyneth Paltrow ini kayak gadis paling menyebalkan di kelas, orang yang selalu membaca keseluruhan puisi misterius hanya untuk membuktikan betapa cerdasnya dia. Sekali lagi, Sylvia Plath butuh biopic yang lebih baik, lebih gamang dan lebih hampa.

2046 (2003)

Dia adalah seorang penulis. Dia pikir dia menulis tentang masa depan, tapi itu justru kenangan masa lalu. Dalam novel futuristiknya, sebuah kereta misterius sesekali menuju tempat bernama 2046. Setiap orang yang pergi ke sana memiliki niat yang sama – untuk menangkap kembali kenangan yang hilang. Konon di 2046, enggak ada yang berubah. Tapi enggak ada yang tahu pasti apakah itu benar, karena enggak ada orang yang pernah pergi ke sana dan kembali – kecuali seorang. Dia seorang. Dia memilih untuk pergi. Dia ingin berubah. Film ini sendiri adalah kelanjutan dari In the Mood for Love. Bagi saya, selain fatalisme romantiknya, yang paling saya nantikan dari film-film Wong Kar Wai adalah saat Tony Leung mengesap rokoknya. Begitu sinematik dan eksistensial.

Factotum (2005)

Apa saran Anda buat penulis muda? tanya seseorang pada Charles Bukowski. Mabok, ewean dan udud sebanyak-banyaknya, jawab penulis Amerika itu enteng. Film ini sendir berpusat pada tokoh Hank Chinaski, alter-ego dari Bukowski, yang menggelandang di Los Angeles, mencoba untuk menjalani berbagai pekerjaan, dengan prinsip enggak boleh mengganggu kepentingan utamanya, yaitu menulis. Sepanjang perjalanan, dia mengatasi beragam distraksi yang ditawarkan dari kelemahan-kelemahannya: wanita, minum-minum dan berjudi.

Capote (2005)

Mengambil tugas untuk menulis sebuah artikel untuk ‘The New Yorker’, Truman Capote ditemani Harper Lee pergi ke kota kecil di Kansas. Capote mempelajari kasus pembunuhan sekeluarga di sana dan tertarik untuk menuliskannya menjadi sebuah buku. Saat proses pembuatan novel nonfiksi berjudul In Cold Blood-nya itu, Capote membentuk hubungan akrab dengan salah satu pembunuhnya yang dijatuhi hukuman mati. Kinerja sentral Philip Seymour Hoffman yang berperan sebagai Truman Capote begitu memukau dan memandu sebuah reka cerita yang terbangun dengan baik dari periode paling sensasional dan signifikan dalam kehidupan penulis ini.

Roman de Gare (2007)

Novelis sukses diinterogasi di kantor polisi tentang hilangnya sang ghost writer-nya. Seorang pembunuh berantai melarikan diri dari sebuah penjara di Paris. Di jalan tol, seorang penata rambut dicampakkan di sebuah pompa bensin oleh tunangannya saat hendak bertemu dengan keluarganya. Seorang pria misterius menawarkan tumpangan padanya dan dia mengajak si pria misterius itu untuk akting jadi tunangannya selama 24 jam agar enggak mengecewakan ibunya. Siapa pria misterius itu dan apa yang nyata dan apa yang fiksi?

Eungyo (2012)

Ada yang pengen lihat sang pengantin Goblin bugil dan beradegan ranjang di atas tumpukan buku? Film ini sendiri memang debut dari seorang Kim Goeun. Menyontek premis cerita Lolita-nya Vladimir Nabokov. Penyair terhormat berusia 70 tahun punya murid berusia 30 tahun yang telah jadi penulis terkenal. Dunia kedua penulis tadi goyah karena datangnya seorang siswi sekolah menengah yang masih berusia 17 tahun, yang membangunkan pikiran dan hasrat seksual mereka. Eungyo.

Pod mocnym aniolem (2014)

Bukowski dan Nabokov terkenal sebagai penulis yang juga alkoholik. Film Polandia ini juga menyorot penulis serupa. Sebagai pengunjung yang sering mengunjungi pusat rehab, dia bertemu dengan sesama pecandu dari semua lapisan masyarakat dan latar belakang sosial.

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Harry Potter sudah kayak bubuk teh hijau, mau dibikin yang baru masih menjual. Ini sebuah spin-off yang melompat ke belakang untuk menjelajahi skena sihir tahun 1926 di New York. Seorang penyihir cum penulis muda British yang diperankan Eddie Redmayne tiba di kota ini sebagai bagian dari risetnya tentang binatang-binatang fantastis. Namun ia terjebak dalam konflik ketika beberapa makhluk magis dalam kopernya lepas secara tak sengaja. Film ini mengingatkan saya pada The Book of Imaginary Beings-nya Jorge Luis Borges.

Genius (2016)

Berdasarkan biografi “Max Perkins: Editor Genius”. Sebuah film cukup asyik tentang persahabatan yang kompleks dan hubungan profesional transformatif antara editor buku terkenal Maxwell Perkins dan raksasa sastra Thomas Wolfe yang berumur pendek. Perkins sendiri adalah editor yang membidani Ernest Hemingway dan F. Scott Fitzgerald.

Neruda (2016)

Seperti novel terakhir Tetralogi Buru-nya Pram, Jejak Langkah. Gael Garcia Bernal jadi seorang inspektur, seperti Pagemanann, yang bertugas memburu Pablo Neruda. Sang inspektur dan Neruda harus main kucing-kucingan. Tapi entah siapa yang jadi kucingnya. Neruda sendiri adalah seorang komunis romantis, penyair Chile berpengaruh yang memenangkan Hadiah Nobel, teman dari Pablo Picasso yang harus jadi buronan di negara sendiri karena pandangan politiknya. Film ini campuran menyenangkan dari dua genre berbeda: biopic dan noir.

Kategori
Celotehanku

Hanya Ada Kosong di Jok Belakang

1

Usianya 15, masih tolol, dan akan selalu begitu. Ketika hidup hanya disesaki tugas sekolah, saat masa depan terbentang lebar – hanya diburamkan ramalan kiamat 2012. Secara hukum, tentu bocah ingusan umur segini belum boleh mengendarai motor, dan jadi sasaran empuk untuk diperas polisi kalau sedang ada razia. Tapi apa asyiknya hidup jika hanya tunduk pada aturan. Saya berontak; maka saya mengada. Tanpa pamitan, saya membawa kabur Yamaha Mio 2008, yang masih mulus, yang baru beres dibikin plat nomornya, untuk kemudian membawa pulang motor tadi dengan keadaan kaca depan pecah, bodi penuh baret dan dengkul yang terluka. Saat itu bacaan saya masih sebatas komik hentai, dan masih dalam tahap belajar naik motor. Momotoran perdana saya tersebut, berakhir memalukan. Pertama, hampir membuat momotoran ke Kawah Putih yang sudah setengah jalan ini dibatalkan. Selanjutnya, dimarahi orang tua tentu saja suatu keniscayaan, tapi berkatnya saya dibebaskan memakai motor untuk pergi sekolah. Kejadiannya seperti baru kemarin saja. Entah kenapa, saya masih jelas mengingatnya. Padahal secara umum, kita sangat baik untuk melupakan hal-hal sepele. Bahkan, banyak dari pikiran kita, hilang begitu saja. Kita cenderung untuk mengingat hanya hal-hal yang kita pikirkan begitu sering atau yang memiliki ikatan emosi – sebuah masalah, sebuah tanggal, sebuah pertemuan. Untuk mengingat momen, mencatat atau mengabadikannya dalam foto adalah upaya paling sering dilakukan manusia. Saat itu saya belum menulis catatan seperti sekarang. Satu-satunya catatan yang bisa mengkonfirmasi pengalaman ini bisa dilihat di pos teman saya yang berjudul 9 April 2009 . Kawah Putih with x1. Meski belum tau apa pentingnya menulis, bisa dibilang berkat Raditya Dika dan dia yang bikin catatan harian ala-ala Raditya Dika itu, yang membuat saya mau-maunya ngeblog. Membaca kembali catatan-catatan terdahulu, meski penulisannya buruk, adalah sebuah keasyikan tersendiri. Beragam kenangan lain ikut menyerbu. Teringat setelah kecelakan itu, saya yang harus dibonceng diceramahi teman saya sendiri, dengan bahasa Sunda, yang intinya: 1) Jangan dikendalikan motor, tapi kitalah yang harus mengendalikannya; 2) Jangan hanya mengikuti yang di depan, tapi perhatikan jalan yang harus kita lalui. Dua nasihat sok bijak, yang memang bisa diaplikasikan buat hal-hal lainnya, dalam hidup ini.

+

2

Ketika melihat rombongan bermotor, saya sering berdoa agar mereka jatuh masuk jurang berjamaah. Sialnya, doa macam begini jarang ditanggapi. Rombongan motor yang saya maksud adalah mereka yang menganggap dirinya ambulans, yang harus meminggirkan yang lain karena menganggap dirinya sang raja jalanan, yang sebenarnya mereka yang layak masuk ambulans dan dilarikan ke rumah sakit jiwa. Soal momotoran, atau touring motor, atau bermotor beriringan, tentu enggak dilarang, kecuali kalau masuk jalan tol, yang masih sering dilakukan para bebal. Saat masih berseragam putih abu, saya sering momotoran ke selatan Bandung atau jalan-jalan ke kota, ke Kota Bandung maksudnya. Momotoran tentu sesuatu yang seru, begitupun bermotor sendirian. Mungkin banyak yang mengeluh soal macet, saya pun begitu, tapi kadang menikmatinya. Bagi saya, bermotor saat macet, atau ketika menunggu lampu merah, adalah waktu yang berharga bagi hama-hama penggerutu dalam kepala saya untuk melingkar berdiskusi beragam pokok: Dunia ini sungguh absurd karena enggak bisa menerangkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya; Dunia ini irasional karena enggak bisa menerangkan soal adanya kemalangan, bencana, ataupun tujuan hidup manusia; Dunia seringnya enggak kasih yang kita minta. Beragam pikiran selintas, yang seringnya akan masuk tong sampah dalam korteks serebral. Ada lagi kebiasaan aneh saya lainnya, saya sering menguntit seorang perempuan yang bermotor sendirian, enggak berusaha untuk menyusulnya. Seperti Kanae Sumida yang mengikuti laju Takaki Tohno di depannya dalam film anime tiga babak 5 Centimeters per Second. Hanya meneliti cara dia berkendara, atau stiker yang ditempel di spatbor atau helmnya, atau setelan yang dia pakai. Apakah ini perilaku cabul? Saya enggak tahu, tapi tentu saya enggak berniat jahat. Apalagi kalau malam hari, saya hanya berusaha meneranginya. Meski bejatnya, saya kadang iseng berdoa agar perempuan itu jatuh tergelincir, untuk kemudian saya bisa membantunya. Beruntung, doa macam begini jarang ditanggapi. Bermotor sendiri, meski tragis, kadang bisa romantis. Saya bukan orang yang menggebu-gebu dalam bermotor, juga dalam apapun. Mungkin karena inilah saya suka membaca Yasunari Kawabata, menonton Christopher Nolan, atau Makoto Shinkai, mendengar Radiohead, berlaku seperti tokoh dalam cerpen Utuy T. Sontani, juga layaknya protagonis dalam Haruki Murakami. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya. Atau, karena mengubah realita begitu sulit, yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita. Apapun itu, sikap pesimisme sebagai bentuk kebijaksanaan kuno, yang masih termaktub dalam konsep bersyukur, juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Kenapa pula manusia begitu susah payah, saling berkejaran, untuk mendapat yang namanya kebahagiaan?

+

3

Semua ini, semua cinta yang kita bicarakan ini, hanya akan jadi kenangan. Mungkin bukan sebuah kenangan. Apakah aku salah? Apakah aku sesat? Karena aku ingin kalian meluruskanku jika kalian pikir aku salah. Aku ingin tahu. Maksudku, aku tak tahu apapun, dan aku orang pertama yang mengakuinya.

– Raymond Carver, Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Cinta

Kenapa harus mencintai dia yang enggak bakal balik mencintaimu padahal ada beragam masalah yang harus dipikirkan, upaya menggulingkan kapitalisme, misalnya? Mencintai harusnya saling menguntungkan kedua belah pihak, sarana menumbuhkan kesadaran kolektif. Cinta adalah komunisme mungil, kelakar pemikir Alain Baidou. Apa yang didapat dari cinta satu arah coba? Yang satu enggak tahu kalau ada yang mencintainya, yang satunya lagi harus mencintai dengan menyakiti diri sendiri. Sama aja kayak perilaku ganjil masokis, kayak landak yang pengen ngentot, harus kena tusuk duri pasangannya. Entah, mungkin karena itulah disebut cinta. Ya, ya, di sini saya hanya bertugas seperti komentator sepakbola, yang mungkin kalau disuruh bermain bola malah garuk-garuk bokong. Ada dua nasihat dari saya, pelajaran pertama: untuk mencintai, jangan berpura-pura. Pelajaran kedua: jangan percaya nasihat orang yang payah kisah cintanya. Untuk praktek cinta searah, bisa dibilang saya jagonya, saya bahkan bisa mencintai kepada entah siapa, seseorang yang jauh. Kita semua sebagai makhluk sosial memiliki keinginan mendalam dan mendasar untuk menemukan bahwa ada satu orang yang sempurna untuk menghabiskan sisa hari-hari kita. Bahwa ketika kamu bertemu dengannya, kamu merasakan daya tarik enggak terkendali dan rasa akrab yang enggak logis. Seolah-olah kamu sudah tahu orang itu untuk seumur hidupmu. Apa pun yang kamu ingin sebut, film dan serial TV dan buku telah meromantisasi fenomena ini dengan sebutan belahan jiwa atau jodoh. Tapi apa yang benar-benar kita tahu tentang pasangan yang sempurna atau pasangan yang ideal itu? Kenapa ada yang sampai berganti pacar dan berganti suami atau istri? Apakah dengan berpacaran atau bahkan ketika sudah menikah, kita bisa bebas dari yang namanya kesepiaan? Saya enggak mau jadi sinis, tapi dua orang bisa saja tidur di ranjang yang sama dan masih akan merasa sendirian saat mereka berdua menutup mata mereka. Pada akhirnya, entah karena kita sering membaca kalimat “dan mereka bahagia selamanya,” dalam penutup kisah, barangkali begitulah nasib manusia. Kita butuh sebuah tujuan, seilusif apapun: untuk bisa menemukan belahan jiwa kita, untuk bisa mengecupnya, meremas tangannya dengan kuat, untuk memimpikan sebuah tatanan baru dunia, atau sekadar agar bisa bebas ngobrol cabul. Karena tanpa tujuan, mungkin kita akan jadi makhluk yang lebih menyedihkan dan mengerikan. Terus bergerak, meski entah kemana, meski hanya ada kosong di jok belakang kita, dan meski hanya 5 cm/detik secepat gugurnya kelopak sakura untuk sampai ke tanah. Haha, kenapa aing jadi mendayu begini.

Baiklah, entah dialamatkan untuk siapa, tapi saya ingin mengirim video ini. Mungkin, entah kapan, seperti Park Chanyeol, saya akan melancarkan bahasa Jepang dan menyanyikan lagu ini secara langsung buat dia, atau mungkin dia itu kamu yang sedang membacanya. Entah kenapa, orang Jepang sangat paham soal kesepian dan kehampaan.

Kategori
Movie Enthusiast

Top 5 Film Christopher Nolan

“Ini seperti membaca novel Haruki Murakami,” sebut Ellen Page yang berperan sebagai Ariadne di film Inception (2010), “Ini memang fantasi, tapi bukannya merasa seperti dunia sureal yang aneh justru film ini terasa sangat jujur.”

Ya, kalau dalam dunia sastra ada Haruki Murakami, maka untuk perfilman ada Christopher Nolan. Mereka berdua sama-sama pandai meramu beragam genre. Nolan membuat film bergenre science-fiction, dia juga bikin film superhero. Dan kita bisa merasakan bahwa film science-fiction dan superhero buatan Nolan sungguh-sungguh berbeda. Sama halnya dengan Murakami dalam novel. Lintas genre. Film Nolan selalu berakar pada filosofis, sosiologis dan konsep etis, menjelajah moralitas manusia, konsep pembangunan waktu serta memori dan identitas pribadi. Karya-karyanya juga menyerap elemen metafiksi, pergeseran temporal, perspektif solipsistik, cerita nonlinier, efek khusus yang praktis, dan komparasi antara bahasa visual dan elemen narasi.

Produser, sutradara dan screenwriter Christopher Jonathan James Nolan lahir pada 30 Juli 1970 di London ini dikenal karena gaya berceritanya yang nonlinier. Selama 15 tahun bergelut dalam pembuatan film, Nolan telah membuat film independen dengan anggaran rendah sampai bekerja pada beberapa film blockbuster besar.

5. The Dark Knight Trilogy (2005, 2008, 2012)

Film superhero yang nggak hanya bermodal aksi-aksi dan efek visual berlebihan.

4. Interstellar (2014)

“Once you’re a parent, you’re the ghost of your children’s future,” ucap Cooper. Sebuah kutipan paling berkesan dari film ini, selebihnya, silahkan saja nikmati film sains fiksi super ciamik ini.

3. Inception (2010)

Gara-gara film ini bikin saya belajar yang namanya Lucid Dream, dan gali pengetahuan soal tidur serta dunia mimpi. Dan berkat film inilah saya jadi suka Music Director bernama Hans Zimmer.

2. The Prestige (2006)

Batman vs Wolverine! 😆

1. Memento (2000)

Pokoknya tonton film ini, dan bagi yang baru pertama kali nonton siap-siap aja sakit kepala pas beresnya.

Kategori
Movie Enthusiast

Cinta Lintas Spesies di Februari 2014

lpj tontonan film februari 2014

Cinta itu melumpuhkan logika. Hubungan asmara ternyata bisa tercipta antara manusia dengan zombie, ada juga yang sama manusia serigala, dan terakhir ada yang sama alien dari planet Krypton. Ya, emang cuma film sih. Dan hubungan asmara lintas spesies tadi merupakan kisah-kisah dalam film yang saya tonton di bulan Februari. Ini ga ada hubungannya sama valentine ya.

Untuk bulan kedua di tahun 2014 ini total ada 8 film yang saya tonton. 3 Hollywood, 3 Korea, dan 2 sisanya anime Jepang.

Kategori
Movie Enthusiast Review

Akhir Trilogi Sang Manusia Kelelawar

The Dark Knight Rise

Big-time Hollywood filmmaking at its most massively accomplished, film terakhir dari trilogi Batman versi Christopher Nolan ini membuat lawannya dari Marvel Universe terlihat konyol dan kekanak-kanakan.” (Todd McCharty – The Hollywood Reporter)

Yups, Batman merupakan salah satu superhero terpopuler, berada di kasta tertinggi bersama Superman. Semua orang mengenal superhero yg diciptakan oleh Bob Kane dan Bill Finger pada 1939 ini. Maklum lah, Batman ini terbilang paling banyak dibuatkan ceritanya dalam bentuk komik, serial kartun, serial tv, hingga layar lebar.

Sejak dipercaya menjadi pemegang kendali atas trilogi Batman teranyar ini, Christopher Nolan, sineas pujaan saya, konsisten menyuntikan berbagai unsur realisme ke dalam kisah fantasi ini. Batman merupakan superhero yg sebenarnya memiliki tidak memiliki kekuatan super, hanya bermodalkan kemampuan bela diri dan dukungan berbagai teknologi tingkat tinggi.