Kategori
Fanfiction Non Fakta

Dance Dance Dance!

dance dance dance kinal jkt48

Aku bermimpi tentang lumba-lumba. Dalam mimpi itu, aku duduk bersila di ujung sebuah dermaga yang menjorok ke laut, dan si lumba-lumba masyuk berenang tepat di hadapanku. Dermaga, atau mungkin jembatan kayu itu sangat panjang, tak begitu jelas memang, sampai aku tak bisa melihat bibir pantai. Hanya lautan biru semata tanpa ombak. Dan si lumba-lumba memulai perbincangan denganku.

Suatu perbincangan seru, kurasa, namun aku tak begitu ingat soal apa itu. Mungkin bukan perbincangan, karena yang kulakukan hanya mendengarkan, beberapa kali mengangguk, dan sesekali menanggapi (rupanya, dalam mimpi pun aku masih orang yang irit bicara), sementara si lumba-lumba yang terus berbicara, atau lebih tepatnya mengeluarkan suara – dia menghasilkan dua jenis suara: suara bersiul melengking dan semacam suara “klik”. Si lumba-lumba memakai bahasanya sendiri, bahasa lumba-lumba, dan aku di mimpi itu, bisa menangkap maksud dari si lumba-lumba. Tentunya karena ini bunga tidur, segala keajaiban pasti tercipta. Andai saja keajaiban pun tercipta saat mataku melek, setidaknya aku hanya ingin ingat apa yang si lumba-lumba coba sampaikan. Bagaimanapun, adegan-adegan dalam mimpi itu bisa kuingat, atau begitulah yang kurasa, tapi untuk omongan si lumba-lumba nol besar.

Secara umum, kita sangat baik untuk melupakan hal-hal sepele. Bahkan, banyak dari pikiran kita, bukan hanya yang kita miliki saat bermimpi, hilang begitu saja. Kita cenderung untuk mengingat hanya hal-hal yang kita pikirkan begitu sering atau yang memiliki ikatan emosi – sebuah masalah, sebuah tanggal, sebuah pertemuan. Korteks serebral, suatu wilayah otak yang memainkan peran kunci dalam memori, pemikiran, bahasa dan kesadaran, punya semacam prosedur otomatis untuk menghapus bunga tidur kita, sebuah memori yang tak berguna untuk disimpan. Begitulah yang kutahu. Sehabis menonton film Inception, aku begitu terobsesi untuk mempelajari yang namanya mimpi. Dari The Interpretation of Dreams-nya Sigmund Freud sampai penelitian-penelitian terbaru kubaca dengan lahap.  Itu sudah lama, sekarang, segala macam ilmu yang kupelajari tadi menguap sedikit demi sedikit. Aku lupa bagaimana jadi pengingat mimpi yang ahli. Bahwa dalam semalam kita bisa mimpi sampai 5 kali atau lebih, tapi ketika bangun, biasanya hanya mimpi terakhir yang kita ingat.

Adapun adegan terakhir dalam mimpi itu, aku dan si lumba-lumba saling berhadap muka, dan saling berciuman. Saat terbangun, aku bahkan masih merasa sensasi basah di bibirku. Tak hanya itu, aku pun merasakan celana dalamku ikut basah. Meski menjijikan untuk membayangkannya, aku pikir, kami, aku dan si lumba-lumba, tak hanya saling berkomunikasi, tak hanya berciuman, tapi sampai bersetubuh.

Tentu, pikiran ini menggangguku, dan aku tak mau mengiyakan spekulasi ini. Aku pria dengan orientasi seksual normal, pria yang masih doyan perempuan. Perempuan dalam wujud manusia, tentu. Meski si lumba-lumba itu betina, aku pikir aku tak akan terangsang, meski dalam mimpi sekalipun. Jadi aku memutuskan untuk memikirkan berbagai kemungkinan lain, salah satunya bahwa si lumba-lumba sedang mengisahkan soal cerita-cerita erotis, dan saat itulah air maniku keluar.

Begitulah, aku terbangun dari mimpi basah, mimpi  yang aku tak ingat di mana letak erotisnya, tahu-tahu bibir dan celanaku sudah basah. Lagu ‘Dance, Dance, Dance’ dari Beach Boys yang kujadikan alarm segera kumatikan.

*

Lumba-lumba itu terbangun dan mendapati dirinya bermetamorfosis jadi perempuan berusia 20 tahun.

“Ceritakan sebuah kisah untukku,” pintanya setengah memaksa.

Aku masih dalam kebingungan. Aku tidak tahu sedang berada di mana, atau apa yang harus kulakukan (atau apa yang sudah kulakukan). Yang aku tahu adalah bahwa aku sekarang sedang sekasur bersamanya. Dan kami sedang berada dalam sebuah kamar, dari suasanya seperti dalam kamar penginapan. Semuanya serba putih: kasur, bantal, selimut, cat tembok, bingkai jendela, langit-langit, gorden, vas bunga, dan kembang di dalamnya. Tak semuanya putih, hanya saja cahaya matahari yang merembes jendela menerangi kamar itu begitu terangnya, menimbulkan kesan magis, hangat, sekaligus menenangkan.

Dia, lumba-lumba yang jadi perempuan berusia 20 tahun itu adalah orang yang sangat kukenal, atau mungkin lebih tepatnya dia orang terkenal.

“Ayolah, mungkin sebuah cerita pendek.”

Aku secara spontan mengambil buku di sebelahku, dan secara kebetulan sudah ada buku di sana, ‘Most Beautiful Woman in The Town’, kumpulan cerpen dari Charles Bukowski. Haruskah kubacakan karya dari penulis Amerika jorok ini? batinku. Aku tetap membuka sembarang dan membacakan salah satu ceritanya. Bukan sebuah cerita romantis, seperti sudah kuduga sebelumnya, lebih ke arah erotis. Satir dan lucu juga. Dia hanya tertawa, tanpa memberikan keluhan, atau semacam keberatan karena cerita dewasa yang kubacakan itu.

“Aku hari ini berusia dua puluh tahun. Dan aku bingung.”

Aku kira aku tidak benar-benar memahamimu,” kataku. “Aku bukan orang pintar. Aku membutuhkan waktu untuk memahami hal-hal. Tetapi jika aku punya waktu, aku akan selalu ada untuk memahamimu. Lebih baik dari orang lain di dunia ini.

“Bagaimana aku bisa bertemu kau kembali?”

“Sekali waktu, tulis seorang filsuf, ada sebuah waktu di mana berbagai hal dan kenangan dipisahkan oleh kedalaman metafisikal.”

Aku tak habis pikir bisa berbicara segombal dan seberani, juga sebanyak ini pada perempuan. Aku kira perbincangan antara kami berdua seperti dialog dalam novel-novel yang kubaca. Yang pasti sejurus kemudian, bibir kami saling beradu.

Mari menari bersamaku.

*

Bagaimana menulis fanfiction yang baik? Jangan lakukan ini: memasukkan dirimu sendiri dalam narasi fanfiction-mu sebagai karakter utama. Ini adalah ide buruk! Ini hanya akan menjadikannya semacam masturbasi, hanya karya narsistik untuk pemenuhan hasratmu saja. Mengalahkan niat mulia dari sebuah fanfiction.

Sialnya, atau mungkin beruntungnya, aku bukan penulis yang baik. Jadi kurasa sah-sah saja bagiku melakukan tindakan nakal ini. Begitulah, aku masih mencoba mereka-reka mimpi basah yang aku tak ingat di mana letak erotisnya itu. Dan menuliskannya dalam fiksi yang kuyakin tak sekadar fiksi. Kamu tahu kamu benar-benar mencintai seseorang, jika setelah membuatmu bahagia di dunia nyata, ia merasuk pula ke mimpimu. Tapi percayalah, aku dan lumba-lumba yang berubah jadi perempuan berusia 20 tahun itu tak sampai melakukan persetubuhan, kurasa begitu.

Ah baru kuingat, yang berbincang di dermaga kayu itu mungkin bukan lumba-lumba, tapi seorang putri duyung, dan dia tidak sedang berenang, tapi duduk di sampingku. Memori manusia memang begitu adanya, kadang saling berbenturan dengan mimpi-mimpi usang, yang pada akhirnya membentuk memori baru.

Kategori
Celotehanku

Apa Asyiknya Jadi Fans Tottenham?

Mungkin, saya memilih Tottenham Hotspur di EPL, sama seperti ketika menambatkan hati pada Kinal di JKT48. Saya hanya jadi fans layar kaca. Mengikuti dan menekuri akun Twitter resminya (@SpursOfficial dan @Kinal_JKT48), memasuki fandom mereka (meski tak terlalu fanatik amat), dan sebatas sampai beli merch yang berhubungan dengan mereka.

Untuk klub kesukaan di Liga Inggris ini, saya termasuk fans abal-abal yang alay, seperti anak-anak yang mudah terdistraksi pada layangan lepas yang terombang-ambing angin. Kalau tak salah, saya pernah menyukai Arsenal, lalu Manchester United, kemudian Manchester City, dan berakhir di Tottenham Hotspur. Dan saya yakin betul, bahwa saya akan setia pada klub London Utara ini, untuk sekarang dan selamanya (semoga).

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Dua Ribu Lima Belas

Berada di penghujung tahun, bagi saya, seperti saat mencapai halaman terakhir novel Haruki Murakami. Kau bingung, mencoba mengingat awal perjalananmu, apa saja yang terjadi, dan kenapa berakhir seperti ini. Yah kau berakhir hampa, sendiri dan penuh pertanyaan. Kau baru sadar bulan telah Desember, tidak percaya kalau itu adalah halaman terakhir yang kau baca. Entahlah, mungkin ini cuma saya rasakan sendiri, atau mungkin kebanyakan dari kita.

Kategori
Celotehanku

Kartini atau Dewi Sartika?

“Aku juga berjuang,” bela Kartini, “ikut melawan tirani budaya yang feodalistis, tiranik dan hegemonis. Sama sepertimu.”

“Ya, ya, aku tak hendak mencibirmu atau apa. Maksudku-”

“Oke, jujur saja, tak perlu berputar-putar. Kau iri kan?”

“Hey!” Muka Dewi Sartika mendadak merah padam. Seakan ada sejuta sumpah serapah tercekat di kerongkongannya, memaksa ingin keluar. “Di Sumatera sana, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia dengan gagah berani mengangkat senjata langsung. Ada pula Nyai Siti Ahmad Dahlan juga Maria Walanda Maramis yang sama-sama sepertiku, berjuang lewat pendidikan. Dan, ya, mungkin aku memang iri. Kenapa cuma kau yang namanya diabadikan jadi lagu dan ada hari peringatannya segala? Kami, paling banter cuma jadi nama jalan.”

Bayangan kedua perempuan yang kemudian silih jambak layaknya cewek-cewek belia yang bentrok karena rebutan pacar sungguh menyiksa pikiran saya—membuat saya ingin mati ketawa. Apalagi jika sampai saya  mengisahkan kalau mereka selain adu jotos, juga adu mulut dengan beragam umpatan dan kata-kata jorok, sungguh kualat benar saya. Maka, saya tak hendak melanjutkan kisah ini. Namun, masih ada pertanyaan yang masih tertinggal: “Kartini atau Dewi Sartika?”

***

Dalam sesi berbagi Ngaleut Dewi Sartika yang dilakukan tepat di depan pekuburan “Makam Para Boepati Bandoeng” (13/12/15), hampir semua peserta ngaleut menyinggung Kartini, bahkan membandingkannya. Bahwa Dewi Sartika kalah pamor ketimbang Gadis Jepara itu, padahal pahlawan perempuan dari Bandung ini jasanya ‘begitu nyata’.

dewi sartika tinder

“Nike atau Adidas?”, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Dan ini hampir sama kasusnya seperti ketika harus memilih antara Dewi Sartika atau Kartini. Ini juga berlaku ketika saya ditanya, “Devi Kinal Putri atau Viny?”, “Taeyeon atau Seohyun?”, “Camus atau Sartre?” Meski memang, untuk semacam tokoh ini, saya bisa saja memilih bahwa yang satu lebih saya sukai ketimbang yang lain. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih.

Dan jujur, saya sebenarnya lebih suka Dewi Sartika. Salah satu alasannya, selain karena beliau begitu gigih memperjuangkan kaumnya lewat pendidikan, tentu saja karena tanpanya, tak akan lahir Raden Atot yang kemudian menginisiasi terbentuknya Persib. 😎

Pahlawan sendiri, berasal dari bahasa Sansakerta, yaitu “phala-wan” yang memiliki arti “orang yang dari dalam dirinya telah menghasilkan sesuatu (phala) yang berkualitas untuk bangsa, negara dan agama” atau bisa juga diartikan sebagai orang yang terkenal akan keberanian dan pengorbanannya dalam usaha untuk membela kebenaran. Meski kita tahu, soal-soal kepahlawanan masih diakuisisi institusi negara. Yang pasti, tanpa perlu membeda-bedakan, kedua perempuan pejuang tadi tentu saja pahlawan.

Kategori
Celotehanku

Eka Kurniawan Juga Fans SNSD!

“Saya sebenarnya tak tahu apakah layak disebut seorang Sone atau tidak. Saya tak memasang poster mereka, tak punya t-shirt bergambar mereka.” ungkap penulis yang dianggap sebagai suksesornya Pramoedya Ananta Toer ini di Catatan dari “SMTown World Tour 3 in Jakarta”. “Saya hanya mendengar lagu-lagu mereka, dan menonton video-video mereka di Youtube.”

Siapa sangka sastrawan Indonesia kontemporer lulusan Fakultas Filsafat UGM ini, yang karyanya diterjemahkan ke beragam bahasa dan dinobatkan sebagai 33 Must Read Books for Fall 2015 ini fasih mengabsen member SNSD alias Girls’ Generation – keahlian yang mungkin konyol namun pastinya sulit untuk dipelajari bagi sebagian besar umat manusia (lebih sulit daripada menghafal nama tokoh-tokoh di novel War and Peace-nya Tolstoy atau One Hundred Year of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez). 

Kategori
Non Fakta

Kinal dan Aku Menuju Ruang Hampa

1

Malam berteriak menuju setengah berisik. Dengan gelap yang diterangi beragam sorot lampu tempat minum-minum, terdengar nyanyian gaduh benar dari gang-gang sempit Shinjuku ini. Dari botol-botol sake yang silih berdenting menciprat, para pekerja kantoran yang saling siul, juga berjoget tak karuan, melepas penat sehari tadi. Minuman keras sungguh obat mujarab buat kehidupan yang keras.

Sumimasen,” seorang perempuan belia dengan rok super pendek menyalipku, berjalan tergesa lalu masuk ke salah satu pub. Para lelaki pun ramai bersorak.

Sementara, hampir saja ponsel yang sedang kupakai memotret lepas dari pegangan, tapi terlalu lelah buatku untuk menggerutu, untuk sekedar mengumpat pun tak bisa. Lagipula ia sudah bilang permisi. Rupanya bekerja di panti jompo semakin memaksaku jadi penyabar. Yang pasti, senang hati karena berhasil mendapat potret belakang sang gadis tadi, yang di bahunya terpahat tato floral hitam-merah-hijau. Bukan hendak mendendam atau apa – ingat aku orang yang senantiasa bersabar, tapi ini mengingatkanku pada salah satu jepretan fotografer favoritku Moriyama.

daido-moriyama-woman-tatto
© Daido Moriyama

Muncul pesan masuk: ‘Novelnya berat nih, nggak ngerti hihihi.’

Hampir terinjak, seekor kucing melintas lewat kakiku, dengan spontan aku berucap, “sumimasen.” Padanya?

+

2

“Eh hari ini libur kan? Hayuk maraton nonton film lagi yuk, mumpung lagi kosong juga. Dan mager, hihi,”

“Iya sok, jam?”

“Hmm.. siapnya aja lah jam berapa, tapi jangan terlalu siang sih. Lebih cepat lebih asyik! Eh minjem novel lagi lah, yang kemarin udah abis. Jangan lupa bawa makanan juga ya ya ya,”

“Siap kapten!”

Kami saling bercakap. Dalam telepon. Dia adalah Devi Kinal Putri, sebut saja Kinal, dan memang dia ingin disebutnya begitu. Mahasiswa sastra Jepang, yang sekarang melanjutkan studinya di negeri ini. Sudah sedari lama aku punya rasa padanya. Dan malangnya aku adalah orang yang hanya bisa mengungkapkan setengah dari apa yang ada dalam hatiku. Aku memang pemalas, malas untuk mengambil resiko sekecil apapun. Aku hanya berharap dia pun punya rasa padaku.

+

3

Sejak di Bandung, aku selalu suka menyasarkan diri di gang sempit. Entah kenapa. Bisa dibilang semacam pelarian diri. Mungkin ini juga sedikit banyak terinspirasi Daido Moriyama, fotografer jalanan yang berkeliaran di bilangan Shinjuku, yang berjalan menurut instuisi tak tentu arah, bagai anjing liar tak bertuan menyusur masuk ke jalan-jalan terhimpit. Foto-foto hitam-putihnya tentang Jepang medio 60an paling berkesan buatku, kesan suram dan murung selalu membuatku terobsesi. Ini juga masih jadi pertanyaan buatku, kenapa aku sepertinya sangat suka pada hal-hal muram. Alasan paling masuk akal buatku, dan mungkin agar berkesan positif, adalah ini sebagai katarsis.

Sebuah notifikasi masuk: ‘Lagi dimana woy? Cepetan!’

Bukan hanya Moriyama, gara-gara Monkey D. Luffy, juga Uzumaki Naruto, dan beragam kartun lain yang kutonton semenjak bocah, membikinku ingin suatu saat bisa tinggal di Negeri Sakura. Siapa pula orang yang tak kepingin pergi ke negeri ini? Maka di sinilah aku sekarang.

Aku membalas: ‘otw kapten!’

Seperti Odyssey, yang setelah penaklukan Troy, dalam perjalanan pulangnya bertemu beragam keanehan, makhluk-makhluk unik, dan terombang-ambing. Begitu juga hidup. Dan ketika menyusur gang, aku selalu akan bertemu hal magis juga. Ya, bagiku ini begitu metafisik. Kupercepat langkah, menyusur gang sempit berkelok. Sialan aku lupa sedang di daerah mana.

Dan aku berhasil keluar, tepat di Jalan ABC. Hah?!

+

4

Efek Rumah Kaca sedang berkonser di Youtube, menyanyi lagu favoritku, menemaniku di sudut kafe. Aku sedang duduk masyuk menunggu Kinal.

Akan ke manakah aku dibawanya? Hingga saat ini menimbulkan tanya.

Engkau dan aku menuju ruang hampa, tak ada sesiapa hanya kita berdua

Ah ya, seperti setiap epilog dari novel Murakami, yang kudapat hanya apa ya? Aku sabar saja menunggu dia bertahun-tahun. Menunggu dia mengembalikan novel Kafka On the Shore pun, yang kuduga kemungkinan besar hilang itu, cukup bikin aku senang. Semoga dia ingat.