Kategori
Korea Fever

5 Drama Korea Realistik Mirip Reply 1988

Sudah lebih dari lima tahun sejak Reply 1988 pertama kali tayang dan menyedot perhatian. Berkat Netflix, penggemar drakor, yang baru dan yang lama, diperkenalkan dengan drama keluarga yang unik ini. Satu-satunya masalah sekarang adalah sangat sulit untuk menemukan drakor semacam ini sekarang.

Kategori
TV Geek!

10 Tontonan Terbaik 2020 Pilihan The New York Times

Semua orang tahu bahwa tahun 2020 mengubah segalanya. Pandemi, kisah pertama dan terakhir yang menyelimuti tahun ini.

Televisi tidak terhindar dari pandemi, tetapi masih ada lebih banyak acara hebat daripada yang bisa ditonton oleh siapa pun. Berikut ini sekilas serial terbaik tahun ini yang dipilih The New York Times.

Kategori
Korea Fever TV Geek!

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman

Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Kategori
Korea Fever

7 Single Sistar Untuk Keberlangsungan Musim Panas

Enggak akan ada musim panas lagi. Pembubaran Sistar adalah salah satu kesalahan besar umat manusia yang berdampak pada perubahan iklim.

Sejak debutnya pada 2010 silam, grup cewek beranggotakan Hyorin, Soyou, Bora sama Dasom ini selalu istiqomah memeriahkan musim panas. Mereka jadi ikon ‘summer queen’. Bahkan udah kayak tonggeret yang menandai datangnya musim panas.

Kategori
Fiksi

Si Kabayan Makan Mie Campur Nasi

img-20170102-wa0009

Petang ketika perut Kabayan mulai berontak, Iteung masih asyik menonton drama Korea. Perut kosong, secara historis, sudah banyak menciptakan konflik berdarah. Seperti yang sedang ditonton Iteung, sebuah adegan klise: ibu mertua menempeleng anak asuhnya, yang yatim piatu, gara-gara telat menyiapkan sarapan. Baru dua minggu menikah, sejoli muda itu bisa saja meneruskan sejarah kelam tadi, mencicipi konflik serupa opera sabun tadi, sebab meja makan masih kosong. Beruntung, Kabayan adalah Kabayan. Terlalu malas buat marah-marah.

“Beb, lapar yeuh,” keluh Kabayan memprotes istrinya yang ia panggil ‘Beb’.

“Sebentar atuh, Kang,” kata Nyi Iteung. “Kagok dua episode lagi.”

“Wah. Keburu kiamat atuh, Beb,” Kabayan memberengut, sedikit dongkol.

“Masak mie, terus minta nasi ke Ambu coba,” ujar Iteung tanpa memalingkan wajahnya yang lurus tertuju ke layar. Sekarang, adegan dalam drama Korea tadi sedang memperlihatkan suasana makan-makan di restoran. “Tuh, orang Korea juga makan mie campur nasi,” kelakar Nyi iteung.

Namanya juga Kabayan, malah cemberut lalu selonjoran ke sofa yang membelakangi jendela. Ia mengambil buku In Praise of Idleness and Other Essays-nya Bertrand Russell di meja di sampingnya, lalu membacanya. Tentu, membaca tak bikin perutnya kenyang. Ini semua memang salah Iteung. Bukan! Bukan karena Iteung dilahirkan sebagai perempuan, dan harus jadi istri orang, yang harus jadi babu bagi suaminya. Mereka berdua berpandangan modern. Tapi mereka sudah bersepakat  kalau urusan menyiapkan makan adalah kewajiban dari kedua belah pihak, digilir tiap minggu, dan minggu ini adalah bagian Iteung. Sebagai koki yang payah, Iteung biasanya hanya menanak nasi, dan sisanya membeli lauk dari warung makan. Masalahnya, tak ada nasi malam ini. Serial televisi impor dari Korea Selatan itu telah mengaburkan konsep ruang waktu Iteung. Selalu begitu. Sebenarnya, rumah mereka hanya bersebelahan sejengkal dengan rumah mertuanya, Abah dan Ambu, yang meja makannya selalu terisi. Kalau saja mau malu sedikit, Kabayan pasti sudah kenyang. Iteung dan Kabayan sebenarnya, secara fisik, sama-sama kelaparan. Perut kosong memang bisa diakali, yang satu dengan drama Korea, satunya lagi dengan bacaannya, yang sesekali melihat keluar jendela.

“Beb, lihat!” seru Kabayan, “ada bintang jatuh bagus banget.”

Memang, beberapa detik sebelumnya ada nampak bintang jatuh. Atau, entah apa.

“Bikin permintaan atuh, biar kayak orang Korea,” timpal Nyi Iteung, yang masih masyuk dengan tontonannya. “Minta Bugatti Veyron, kang.”

“Musyrik ih, Beb,” kata Kabayan. “Tapi dicoba dululah kalau terkabul nanti tinggal tobat.”

Tiba-tiba terdengar bunyi ‘teng teng teng!’ lantunan khas penjual nasi goreng yang melintas di depan rumah Kabayan. Yang dimaksud tukang nasi goreng, tentu tak hanya menjual nasi goreng, ada mie tektek, kwetiaw, capcay, yang rebus, atau goreng.

“Mang, mesen mie tektek,” teriak Kabayan. “Tambahin nasi, ya, biar kayak orang Korea, mang!”

“Pedes?”

“Sedeng aja,” timpal Kabayan. “Alhamdulillah, bener juga orang Korea, langsung diijabah gini.”

“Bodo si Akang mah,” protes Nyi Iteung. “Bukannya minta mobil.”

“Namanya juga lagi lapar, Beb.” kata Kabayan. “Mobil mah enggak bisa dimakan, tempat parkir juga ga ada, lagian akang belum bisa nyetir. Sekarang mah berdoa ke Gusti Allah semoga ngejatuhin bintang lagi.”

“Eh, kenapa cuma pesen makan satu?”

“Sepiring berdua, biar romantis kayak drakor, kan.”

*

Ditulis ulang dan digubah dari “Si Kabayan dan Bintang Jatuh” dalam buku “100 Cerita Si Kabayan Masa Kini”.

Kategori
Korea Fever Video Game

Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

Aku pikir video game lebih dekat dengan fiksi ketimbang apa pun hari ini, sebut Haruki Murakami. Video game? tanya pewawancara dari The Paris Review. Iya, jawab Murakami. Aku sendiri enggak suka main video game, tapi aku menemukan kesamaan. Kadang-kadang ketika aku menulis aku merasa aku perancang video game, dan pada saat yang sama, sang pemainnya. Aku membuat program, dan sekarang aku di tengah-tengah itu; tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Ini jadi semacam proses memperasingkan diri.