Kategori
Korea Fever TV Geek!

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman

Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Kategori
Korea Fever

7 Single Sistar Untuk Keberlangsungan Musim Panas

Enggak akan ada musim panas lagi. Pembubaran Sistar adalah salah satu kesalahan besar umat manusia yang berdampak pada perubahan iklim.

Sejak debutnya pada 2010 silam, grup cewek beranggotakan Hyorin, Soyou, Bora sama Dasom ini selalu istiqomah memeriahkan musim panas. Mereka jadi ikon ‘summer queen’. Bahkan udah kayak tonggeret yang menandai datangnya musim panas.

Namun Sistar harus layu juga, ikut-ikutan grup K-pop generasi dua yang sudah bubar jalan sebelumnya. Berbeda dengan grup lainnya, Sistar enggak pernah punya skandal atau masalah internal sehingga dikenal begitu dekat satu sama lain bahkan di luar bisnis hiburan. Ini mungkin menjelaskan mengapa mereka masih utuh sampai pembubarannya.

Ada dua mazhab biner dalam grup cewek K-Pop: unyu-unyu dan seksi. Sistar memilih yang kedua. Berkat inilah mereka sering disebut menjual keseksian, bahkan makian binal.

“Salahkan masyarakat, bukan gadis-gadis ini, karena mereka diseksualisasi,” tulis seseorang dalam kolom komentar Youtube di salah satu video klip Sistar. “Itu karena seks menjual dan masih banyak yang membelinya. Jika enggak ada yang membeli, maka enggak akan terjadi. Jadi jangan salahkan Sistar karena menjadi artis penampil. Jika kamu menginginkan gadis yang lebih berkelas, ada teater dan opera, dan kamu tinggal mendukung seni tersebut.”

Kalau soal seksi-seksian, memang iya. Tapi Sistar sebenarnya lebih dari itu. Untuk kualitas vokalnya oke. Dibanding vokalis utama grup-grup bau kencur malah tiap member lebih bisa nyanyi. Sehingga sering jadi penyanyi buat soundtrack drama Korea.

sistar-1

Sistar dan grup K-Pop lainnya memang hanya produk buatan industri. Kasarnya mereka adalah, mencatut judul artikel kolumnis The New Yorker John Seabrook, gadis-gadis pabrikan. K-Pop, layaknya Pop Mie atau Indomie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, diromantisasi dengan promosi, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Sebagai produk, Sistar sudah berhasil. Kegoblogan hanya milik Starship Entertainment.

Sistar telah menyihir kehampaan jadi musim panas. Nah, berikut 7 single Sistar favorit saya. Saya urutkan menurut kesukaan saya.

#7 Loving U

#6 Touch My Body

#5 Give It to Me

#4 Lonely

#3 I Like That

#2 I Swear

#1 Alone

Kategori
Non Fakta

Si Kabayan Makan Mie Campur Nasi

img-20170102-wa0009

Petang ketika perut Kabayan mulai berontak, Iteung masih asyik menonton drama Korea. Perut kosong, secara historis, sudah banyak menciptakan konflik berdarah. Seperti yang sedang ditonton Iteung, sebuah adegan klise: ibu mertua menempeleng anak asuhnya, yang yatim piatu, gara-gara telat menyiapkan sarapan. Baru dua minggu menikah, sejoli muda itu bisa saja meneruskan sejarah kelam tadi, mencicipi konflik serupa opera sabun tadi, sebab meja makan masih kosong. Beruntung, Kabayan adalah Kabayan. Terlalu malas buat marah-marah.

“Beb, lapar yeuh,” keluh Kabayan memprotes istrinya yang ia panggil ‘Beb’.

“Sebentar atuh, Kang,” kata Nyi Iteung. “Kagok dua episode lagi.”

“Wah. Keburu kiamat atuh, Beb,” Kabayan memberengut, sedikit dongkol.

“Masak mie, terus minta nasi ke Ambu coba,” ujar Iteung tanpa memalingkan wajahnya yang lurus tertuju ke layar. Sekarang, adegan dalam drama Korea tadi sedang memperlihatkan suasana makan-makan di restoran. “Tuh, orang Korea juga makan mie campur nasi,” kelakar Nyi iteung.

Namanya juga Kabayan, malah cemberut lalu selonjoran ke sofa yang membelakangi jendela. Ia mengambil buku In Praise of Idleness and Other Essays-nya Bertrand Russell di meja di sampingnya, lalu membacanya. Tentu, membaca tak bikin perutnya kenyang. Ini semua memang salah Iteung. Bukan! Bukan karena Iteung dilahirkan sebagai perempuan, dan harus jadi istri orang, yang harus jadi babu bagi suaminya. Mereka berdua berpandangan modern. Tapi mereka sudah bersepakat  kalau urusan menyiapkan makan adalah kewajiban dari kedua belah pihak, digilir tiap minggu, dan minggu ini adalah bagian Iteung. Sebagai koki yang payah, Iteung biasanya hanya menanak nasi, dan sisanya membeli lauk dari warung makan. Masalahnya, tak ada nasi malam ini. Serial televisi impor dari Korea Selatan itu telah mengaburkan konsep ruang waktu Iteung. Selalu begitu. Sebenarnya, rumah mereka hanya bersebelahan sejengkal dengan rumah mertuanya, Abah dan Ambu, yang meja makannya selalu terisi. Kalau saja mau malu sedikit, Kabayan pasti sudah kenyang. Iteung dan Kabayan sebenarnya, secara fisik, sama-sama kelaparan. Perut kosong memang bisa diakali, yang satu dengan drama Korea, satunya lagi dengan bacaannya, yang sesekali melihat keluar jendela.

“Beb, lihat!” seru Kabayan, “ada bintang jatuh bagus banget.”

Memang, beberapa detik sebelumnya ada nampak bintang jatuh. Atau, entah apa.

“Bikin permintaan atuh, biar kayak orang Korea,” timpal Nyi Iteung, yang masih masyuk dengan tontonannya. “Minta Bugatti Veyron, kang.”

“Musyrik ih, Beb,” kata Kabayan. “Tapi dicoba dululah kalau terkabul nanti tinggal tobat.”

Tiba-tiba terdengar bunyi ‘teng teng teng!’ lantunan khas penjual nasi goreng yang melintas di depan rumah Kabayan. Yang dimaksud tukang nasi goreng, tentu tak hanya menjual nasi goreng, ada mie tektek, kwetiaw, capcay, yang rebus, atau goreng.

“Mang, mesen mie tektek,” teriak Kabayan. “Tambahin nasi, ya, biar kayak orang Korea, mang!”

“Pedes?”

“Sedeng aja,” timpal Kabayan. “Alhamdulillah, bener juga orang Korea, langsung diijabah gini.”

“Bodo si Akang mah,” protes Nyi Iteung. “Bukannya minta mobil.”

“Namanya juga lagi lapar, Beb.” kata Kabayan. “Mobil mah enggak bisa dimakan, tempat parkir juga ga ada, lagian akang belum bisa nyetir. Sekarang mah berdoa ke Gusti Allah semoga ngejatuhin bintang lagi.”

“Eh, kenapa cuma pesen makan satu?”

“Sepiring berdua, biar romantis kayak drakor, kan.”

*

Ditulis ulang dan digubah dari “Si Kabayan dan Bintang Jatuh” dalam buku “100 Cerita Si Kabayan Masa Kini”.

Kategori
Korea Fever Video Game

Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

Aku pikir video game lebih dekat dengan fiksi ketimbang apa pun hari ini, sebut Haruki Murakami. Video game? tanya pewawancara dari The Paris Review. Iya, jawab Murakami. Aku sendiri enggak suka main video game, tapi aku menemukan kesamaan. Kadang-kadang ketika aku menulis aku merasa aku perancang video game, dan pada saat yang sama, sang pemainnya. Aku membuat program, dan sekarang aku di tengah-tengah itu; tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Ini jadi semacam proses memperasingkan diri.

Kategori
Korea Fever

Urk, Negara Eksotis Seribu Masalah

Selain Suster Choi Minji, juga cameo dari Kwangsoo dan Red Velvet, yang terbaik lainnya dari Descendant of the Sun, menurut saya adalah lokasi syutingnya di negara fiktif bernama Urk. Awalnya, saya mengira Urk adalah negara nyata yang ada di daerah bekas Uni Soviet, tapi setelah mencari di Google ternyata yang ada cuma kota hasil reklamasi di Belanda bernama sama. Urk sendiri adalah negara buatan yang penataannya menelan dana 65 persen dari total biaya produksi, yang menghabiskan sekitar 13 miliar Won atau setara 140 miliar rupiah!

Kategori
Korea Fever

Reply 1988 dan Absurditas Junghwan

Jika War & Peace BBC, serial adaptasi dari novel Leo Tolstoy, mengambil latar 1800an awal di Rusia, maka Reply 1988, sesuai judulnya, mengambil set di kompleks Ssangmundong, Seoul pada tahun 1980an akhir. Meski begitu, keduanya punya tema besar utama: keluarga.

Yang pertama soal keluarga aristokrat ningrat, satunya lagi keluarga kelas menengah. Untuk drama Korea, memang yang namanya kisah cinta romantis muda-mudi selalu jadi sajian utama, tapi di Reply 1988, tema hubungan keluarga, persahabatan, sampai pergolakan politik mahasiswa dihadirkan dalam porsi yang pas.