Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

Kim Taeyeon, “I” dan Eksistensialisme

Apakah Selandia Baru membayar Taeyeon untuk bikin video klip ini? Entahlah, yang pasti kalau iya, ini bener-bener promosi wisata yang tepat. Sinematografinya asyik, sukses ngambil beragam pemandangan ciamik. Jangan-jangan pihak National Geographic pun ikutan andil pas bikin mv ini.

Musik video ini juga rada banyak mengingatkan saya pada ‘Stars’-nya The Cranberries, dengan lebih ngepop, dan ada selingan rap. Oh ya, permainan drone pun yang makin apik. Ya iya lah, teknologi kekinian sama tahun 2000an emang udah beda, tapi saya akui kalau teknik pengambilan lewat dronenya mantap abis udah kayak Phillip Bloom aja.

Musik instrumennya juga cihuy, apalagi memasuki bagian tengah akhir udah serasa lagi dengerin Coldplay. Kpop dengan aroma Britpop. Dan ada rasa-rasa kayak lagu tema video game gitu, Final Fantasy mungkin. Ya ya ya, saya tak terlalu paham sih, tapi ini tipikal musik pop Barat sebenarnya.

Kalau soal liriknya, maaf karena nggak paham Bahasa Korea, dan belum ada lirik terjemahannya di internet, jadi belum bisa analisis. Tapi kalau ngeliat cerita di video klipnya sendiri, ini tentang kebebasan, lebih jauhnya mungkin tentang pencarian makna hidup. Taeyeon diceritakan nggak nyaman kerja di sebuah kafe, utamanya karena sering dibentak-bentak sang bos. Dan kalau tellah dari judulnya aja deh, “I”, udah ngegambarin soal eksistensialisme gitu lah.

Mencoba  mengelaborasi dari omongannya Kierkegaard sang Bapak Eksistensialisme itu, penggunaan kata “Aku” di sini menjadi sangat penting. Individu sebagai aku adalah yang menjadi aktor dalam kehidupan yang bisa mengambil arah hidupnya sendiri, bukan spektator kehidupannya belaka. Hanya individu yang benar-benar mengarahkan hidupnya yang bisa di sebut bereksistensi.

Mungkin bisa dibilang lagu ini mempertanyakan soal apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Dalam liriknya sendiri sering terdengar pengulangan kata “fly” dan ditampilkan pula kupu-kupu dalam klip sebagai simbol, ini membuat kita bertanya, bisakah manusia bebas terbang sesukanya layaknya kupu-kupu? Adakah kehendak bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. Ah ya, mungkin saya terbang kejauhan.

Yang pasti, ini lagu produksi SM yang paling saya suka sejauh ini, konsepnya beda banget dari yang biasanya. Tipikal musik Barat banget, dengan nuansa semacam alternative rock. Tapi tetap, kalau kata Eka Kurniawan mah mendengarkan Kpop itu seperti membaca novel-novelnya Murakami, Barat yang rasa Timur.