Kategori
Celotehanku

New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

13640744_10153869835053235_166664517288692315_o

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; sampul “Nightwood” yang dikerjakan Alvin Lustig; Catatan tulis tangan dari William Carlos Williams; Lukisan dari Henry Miller; Sebuah foto sang pendiri penerbitan ini, yang meninggal pada 1997, dalam pose siluet.

Ada pintu menuju sebuah ruangan kecil, yang kalau dibuka berisi satu salinan dari tiap buku yang pernah diterbitkan di sini sejauh ini, lebih dari seribu tiga ratus buku. Knut Hansum, Jorge Luis Borges, Herman Hesse, Pablo Neruda, Yukio Mishima, Vladimir Nabokov, Osamu Dazai, Jean Paul Sartre, Octavio Paz, Roberto Bolaño, Anne Carson, W. G. Sebald, László Krasznahorkai, Enrique Vila-Matas, daftar para penulis beken ini, pertama kali diterbitkan ke khalayak Amerika Serikat dan pembaca bahasa Inggris oleh penerbit ini.

Berbeda dengan Alfred A. Knopf, New Directions enggak dirancang untuk menjadi firma yang besar dan berpengaruh yang akan jadi properti utama layaknya perusahaan media raksasa. Tetap kecil dan tetap menerbitkan. Jika boleh diibaratkan, New Directions adalah Pustaka Jaya, dengan James Laughlin sebagai Ajip Rosidi sekaligus Ciputra.

“James Laughlin merasa untuk tetap kecil itu penting,” sebut redaktur Declan Spring dalam wawancaranya di Literary Hub. “Kami menjaga staf kami tetap kecil. Kami menahan biaya kami sebanyak mungkin. Pada dasarnya, apa yang ingin kami lakukan adalah menjaga agar perusahaan tetap berjalan. Tujuannya adalah untuk membayar gaji, membayar uang sewa, membayar biaya produksi, membayar penulis, dan memiliki uang di bank sehingga kita dapat terus menerbitkan buku.”

*

Menurut Marcel Proust, satu bukti bahwa kita sedang membaca seorang penulis baru yang hebat adalah bahwa tulisannya langsung mengejutkan kita karena terasa jelek. Hanya penulis ecek-ecek yang menulis dengan indah, karena mereka hanya mencerminkan ulang gagasan praduga kita akan keindahan; kita enggak memiliki masalah untuk memahami apa yang mereka tawarkan, karena kita telah melihatnya berkali-kali sebelumnya.

Bila seorang penulis benar-benar orisinil, kegagalannya untuk tampak indah secara konvensional membuat kita melihatnya, awalnya, sebagai sesuatu yang tak berbentuk, nyeleneh, atau rumit. Setelah kita belajar bagaimana membacanya, kita menyadari bahwa keburukrupaaan tadi benar-benar merupakan keindahan baru yang benar-benar tak terduga dan bahwa apa yang tampak salah dalam tulisannya itulah yang membuatnya hebat.

Sebagai pembaca, saya sering merasakan pengalaman itu ketika membaca buku-buku rilisan New Directions. Karena filosofi New Directions sendiri, yang mengacu pada Laughlin, dalam menerbitkan karya adalah memilih yang berbeda dan baru. Karya avant-garde. Bukan hanya karya yang bakal cepat laris. Lebih menerbitkan karya yang baru akan dibaca dan dihargai duapuluh tahun setelah pertama kali diterbitkannya. Mencari para penulis yang belum ditemukan, enggak dihargai, enggak dikenali.

“Ketika kami pertama kali mempublikasikan [Ezra] Pound, [Tennessee] Williams, Dylan Thomas, Marianne Moore, tidak ada yang tahu siapa mereka,” sebut Spring. “Mereka terlalu aneh dan sulit dimengerti. Sekarang mereka adalah bagian dari kanon sastra.”

*

Pada 1934, setelah tiga semester yang menjemukan di Harvard, James Laughlin mengambil cuti panjang dan melakukan perjalanan di Eropa. Laughlin pergi ke Prancis, bertemu dengan Gertrude Stein dan menemaninya dalam tur otomotif di Prancis selatan dan menulis siaran pers untuk kunjungan Stein yang akan datang ke Amerika Serikat. Stein sendiri merupakan tokoh modernisme terkemuka dalam sastra dan seni, yang menggawangi Lost Generation.

Laughlin lalu melanjutkan ke Italia untuk bertemu dan belajar dengan Ezra Pound. Mondok di “Ezuversity”. Penyair penting dari Lost Generation ini memberi wejangan pada Laughlin, “Kamu tidak akan pernah menjadi seorang penyair yang baik.” Pound menyarankan penerbitan. Lakukan sesuatu yang berguna dengan uangmu, Pound menasihatinya, sehingga meskipun kamu tidak dapat menulis baik, kamu dapat memastikan bahwa karya baik bisa ada di luar sana.

Laughlin sendiri adalah anak konglomerat, pewaris dari perusahaan baja. Namun dia tahu sejak usia dini bahwa dirinya tak berkeinginan masuk ke bisnis keluarga. “Seperti Inferno. . . mengerikan,” komentarnya saat melihat pabrik baja.

nd14_p58_01
Foto: Laughlin muda di penerbitan awal New Directions di Connecticut

Ketika Laughlin kembali ke Harvard, dia menggunakan uang dari ayahnya untuk mendirikan penerbitan yang dia jalankan pertama kali di kamar asramanya. Mengambil nama New Directions, dari perumusan Pound, “Nude Erections”. Kantor kemudian pindah ke sebuah gudang di tanah milik bibinya Leila Laughlin Carlisle di Norfolk, Connecticut. Sampai akhirnya, membuka kantor di New York, pertama di 333 Sixth Avenue untuk kemudian menempati 80 Eighth Avenue, tempatnya sampai sekarang.

Publikasi pertamanya, pada tahun 1936, adalah New Directions in Prose & Poetry, sebuah antologi puisi dan tulisan dari William Carlos Williams, Ezra Pound, Elizabeth Bishop, Henry Miller, Marianne Moore, Wallace Stevens, dan EE. Cummings, serta Laughlin sendiri dengan nama samaran. Sebuah daftar yang menggembar-gemborkan bahwa visi New Directions yang baru berojol ini sebagai penerbit sastra modernis yang terkemuka.

Laughlin punya karisma yang membuat orang mempercayainya. Tentu saja, dia punya uang dan selera hidup yang membuat orang ingin bergaul dengannya. Bisa ditebak, dia juga seorang perayu, menikah tiga kali dan punya banyak kekasih, bahkan operasi prostat tak menghentikannya. Dia memancarkan kepercayaan diri dan antusiasme sejati untuk mencicipi pengalaman baru. Sesuatu yang membuat New Directions mengarah di jalan yang sesuai.

Keputusan Laughlin selalu tepat di setiap perkembangan sastra di Amerika Serikat antara tahun 1940 sampai 1980an. Dia menolak untuk mengambil bagian dalam korporatisasi dan konglomeratisasi penerbitan Amerika, bahkan saat dia melihat temannya Alfred Knopf dan saingannya Roger Straus menyerah. Laughlin selalu menjadi pemilik langsung New Directions dan sahamnya dialihkan ke orang kepercayaannya setelah kematiannya pada 1997.

*

“Tim kami luar biasa,” puji Spring. “Ada Barbara dan Laurie Callahan, yang mengedit Cesar Aira, juga merawat kebun balkon kami, dan menangani begitu banyak masalah keuangan penting kami. Dan kami punya Direktur Perizinan baru yang juga merupakan editor kami yang bernama Chris Wait, dan dua direktur publisitas kami Georgia Phillips-Amos dan Mieke Chew, yang bertemu dengan para pengulas, menyiapkan acara, yang melakukan kerja di toko buku.

“Jeff Clapper melakukan akuntansi kami. Jeffrey Yang adalah seorang editor. Art Director dan Production Manager kami, Erik Rieselbach, sangat hebat dalam berhubungan dengan printer namun juga berfungsi sebagai editor dan perancang buku digital. Dia selalu membikin buku terlihat lebih bagus. Kami juga punya Tynan Kogane. Dia bergabung dengan kami beberapa tahun yang lalu dan sekarang kami sangat bergantung padanya untuk mengedit lebih dari sepertiga buku kami. Dia juga membantu kami mengumpulkan katalog dan memastikan bahwa hak cipta terdaftar. Dengan kata lain, semua orang berkontribusi. Semua orang di sini selalu bersedia membantu yang lain. Kami semua adalah teman.”

New Directions beroperasi sesuai dengan keinginan Laughlin, seperti hanya ada sembilan karyawan dan pembatasan jumlah buku yang diterbitkan tiap tahunnya. Meski ini bukan aturan ketat. “Intinya adalah memastikan bahwa jika New Directions berlanjut, maka akan terus berlanjut sebagai New Directions,” tegas Spring. “Anak-anak James Laughlin memperhatikan dengan seksama apa yang kami lakukan. Kami memiliki banyak aturan bebas dan untungnya semua orang berkomitmen dan mengabdikan diri untuk hal-hal baru dan membuatnya berhasil.”

*

“Itu pembukaan yang hebat. Jika Anda tidak dapat melihatnya dan Anda seorang editor sastra, sebaiknya Anda menembak diri sendiri. Atau maksudku, lakukan yang lain,” bela Barbara Epler ketika ditanya mengapa berani menerbitkan Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tebal, padahal sang presiden New Directions itu baru baca secuil. Keputusan, yang secara hitung-hitungan bisnis, kurang meyakinkan.

Meskipun sambutannya hangat di Indonesia, menawarkan novel ini pada pembaca Amerika adalah usaha yang sulit. Penulisnya enggak punya gelar M.F.A., enggak punya agen New York, enggak punya karya dalam jurnal atau majalah sastra terkemuka. Intinya, engak punya nilai tawar, seperti yang sering dikatakan di kalangan bisnis.

Hubungan antara seni dan profit sering kali menjengkelkan. Dibanding penulis komersil semacam J. K. Rowling atau George R. R. Martin, yang enggak mungkin diorbitkan New Directions, penulis sastra adalah komoditas esoterik, yang dihargai kecil. ” Tapi apa yang akan bertahan?” tegas Epler seperti dilansir dalam artikel The New Yorker, How Staying Small Helps New Directions Publish Great Book. “Pada akhirnya hanya buku-buku seperti karya Eka, atau László, atau Sebald. Itulah yang akan diingat orang; Itulah yang akan ditulis sejarah.”

Mengutip Roberto Bolano dalam Between Parentheses, yang juga dipacak di laman situs New Directions: Pengecut tak menerbitkan pemberani.

Kategori
Cacatnya Harianku

Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

hama-hama

1

“Hei! Apa semua orang di sini melakukan masturbasi?” Midori bertanya sambil menengadah memandang gedung asrama.

“Mungkin ya.”

“Apa semua laki-laki melakukan masturbasi sambil membayangkan perempuan?”

“Ya, tentu begitu,” kataku. “Aku kira tak ada laki-laki yang melakukan masturbasi sambil memikirkan pasar saham, konjugasi verba, atau Terusan Suez, tentu mereka melakukannya sambil membayangkan perempuan.”

— Haruki Murakami, Norwegian Wood

Bagai Putri Salju terlelap tak berdaya, dengan tanpa penjagaan tujuh kurci di sekelilingnya, mungkin butuh kecupan seorang pangeran agar bisa membuatnya terbangun, sebab rentetan alarm dari ponselnya enggak mempan. Masih tenggelam dalam tidur, lelap di atas ranjang lapuk, dadanya turun naik saat bernapas, bibir tanpa lipstiknya mekar, mulutnya membentuk huruf O. Adegannya hampir-hampir seperti dalam video Jepang dewasa saja, terpikir oleh saya saat sekilas memelototinya. Maka sebelum pikiran enggak-enggak melebar lebih jauh, saya lekas mengalihkan posisi. Saya menghela napas. Beruntung, keinginan untuk melanjutkan tidur lebih mendesak ketimbang gairah seksual. Situasinya, persis seperti nukilan dari draft bab pertama novel saya, Perempuan yang Bercinta dengan Anjing. Menulis novel itu seperti seks, tegas Eka Kurniawan, sialnya saya masih payah dalam menulis, dan untuk seks nampaknya masih jauh lagi, jadi entah kapan novelnya bakal rampung. Bab pembuka dengan subjudul “Bagaimana Cara Memperkosa Temanmu Sendiri” tadi tentu bukan arahan menjadi lelaki bajingan. Bagi saya, enggak sampai menyetubuhi, untuk masturbasi dengan foto kawan perempuan saja saya enggak bisa, bahkan saya segan untuk merancapi member Girls’ Generation. Seperti Toru Watanabe yang dibolehkan Midori agar dirinya dijadikan obyek fantasi seksual, Toru sudah berusaha namun enggak bisa. Ya, saya pun enggak bisa merancap ke sembarang orang, coli pun perlu tatakrama. Yang jadi soal adalah, selain menjadi inspirasi tulisan, rekaman adegan ranjang tadi tentu akan masuk alam bawah sadar. Bersama rekaman selintas lainnya ini akan jadi obyek fantasi seksual saat kita bermimpi basah, dan kita enggak bisa melawan. Kasir Alfamart yang menyapa atau petugas SPBU yang melayani kita mungkin dalam mimpi jadi lawan main yang mengulum kontol kita, atau bisa saja kita bersenggama dengan Scarlett Johansson atau kawan sendiri atau tokoh anime berbikini atau monyet betina atau seorang paman tambun atau bahkan ibu kita sendiri. Ketika terbangun, saya selalu lupa dengan siapa dan bagaimana cara mainnya, tahu-tahu basah. Kita enggak bisa menyalahkan diri kita sebagai seorang cabul. Siapa sih yang bisa mengontrol alam bawah sadar? Apalagi mimpi, utamanya mimpi basah, beserta fantasi seksual tadi, ini sesuatu yang masih mengundang banyak pertanyaan, selalu menarik untuk dibahas, dan dituliskan oleh para pemberani.

2

Aku sering berdiri di depan cermin, bertanya-tanya sampai sejauh mana jeleknya seseorang.

— Charles Bukowski, Ham on Rye

Seperti permukaan bulan, seperti jalanan Bandung selatan yang sering saya lewati, yang entah kapan akan diperbaiki, begitulah kondisi wajah yang harus saya lihat di pantulan cermin. Creep-nya Radiohead tentu sangat menyuarakan keluhan saya, dan yang saya butuhkan How to Disappear Completely dari dunia yang serba menghakimi ini. Ah, sampai kapan saya harus jadi bajingan pembenci diri? Saya selalu membayangkan terbangun dan mendapati diri menjadi Park Bogum saat bercermin dan kabar baik bahwa semua jalan di Bandung selatan akan mulus. Membayangkan sudah pasti enak, kau enggak bisa ereksi atau ejakulasi kalau enggak punya kemampuan kreatif ini, apalagi kalau kau melakukannya swadaya. Ya, ya, membayangkan diri jadi seganteng artis Korea adalah delusi yang diciptakan bisnis kapital. Kita tahu, standar kecantikan hari ini sangat terkait dengan yang namanya industri kapital, lebih tepatnya, standar kecantikan adalah bentukan industri. Sebagai negara maju, Korea Selatan tentu punya andil besar dalam membentuk standar kecantikan ini. Memang salah, tapi apakah benar-benar salah untuk punya keinginan menjadi ganteng? Di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya, yang disebut stimulus supernormal, bahkan ketika rangsangan itu palsu semata. Bunga yang cantik akan lebih menarik hama-hama. Induk burung akan mengabaikan telurnya sendiri untuk kemudian menduduki sarang yang lebih besar, atau mengalihkan makanan dari anak-anak mereka untuk memberi makan anak lain yang punya paruh yang lebih terang. Inti dari stimulus supernormal adalah bahwa imitasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan tarikan kuat dari hal yang nyata. Manusia, kalau boleh disetarakan dengan binatang, tentu punya dorongan bernama stimulus supernormal tadi; suka pamer dan suka pura-pura. Apalagi di masa kekininian, karena katanya masyarakat posmodern itu ditandai dengan superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan atau kelesuan emosi, teknologi reproduktif, pokoknya serba gimmick gitu lah. Jujur, saya tak menampik, saya pun manusia yang ada kecenderungan ingin dianggap lebih; lebih cerdas, lebih keren, lebih unggul. Jadi, seberapa salahkah saya karena membayangkan diri bisa jadi Park Bogum? Lagipula, meski enggak percaya yang namanya Law of Attraction, entah kenapa kalau saya membayangkan dan menulis sompral, bakal kejadian. Seperti dalam film Ruby Sparks. Dia yang terlahir dari perkawinan sel kata dan buah pikiran ini diam-diam mengikuti saya, tulisnya dalam blog pribadinya. Saya setuju dengan gadis Scorpio itu, yang selalu dikerubungi hama-hama dengan stimulus supernormal berlebih. Ketimbang materialis dialektis, saya lebih seorang transedentalis, makanya saya beli novel super tebal Anna Karenina, sebab pernah saya mengarang cerpen kacangan bahwa si tokoh utamanya menemukan belahan jiwanya yang secantik Kim Taeyeon ketika membaca novel karangan Leo Tolstoy itu.

3

Aku pikir ada bahaya besar dalam menulis catatan harian: kau hanya membesar-besarkan segalanya.

— Jean Paul-Sartre, Nausea

Saya membaca kembali cerpen terjemahan saya sendiri Swastika-nya Charles Bukowski dari buku Erections, Ejaculations, Exhibitions and General Tales of Ordinary Madness, dan menemukan keterkaitan dengan kondisi sekarang, bahwa Adolf Hitler masih hidup dan berganti kulit jadi presiden Amerika Serikat. Belajar menulis lewat penerjemahan sungguh sangat membantu saya, apalagi kita tahu para penulis itu sudah jago bermain seks. Masih pagi, gerimis turun, lalu saya lanjut membaca tentang kisah cinta antara Jean Paul-Sartre dan Simone de Beauvoir, sebuah kisah cinta ganjil, di The New Yorker dengan ditemani Girl Who Can’t Break Up, Boy Who Can’t Leave-nya Lessang dan lagu-lagu Korea lainnya. Alkisah, Sartre dan Beauvoir bertemu di Paris pada 1929, Sartre berusia 24, Beauvoir menginjak 21, dan keduanya sedang sama-sama belajar ujian kompetensi agar bisa masuk jadi pengajar di persekolahan Prancis. Beauvoir seorang perempuan jenjang rupawan dan stylish, juga masih punya pacar, tapi ia kemudian jatuh cinta sama Sartre yang bantet, matanya juling, seorang cowok tuna-fashion yang pakai baju kedodoran, mirip bangkong edan, dan Sartre sendiri mengakui keburukrupaannya. Sartre dan Beauvoir terkenal sebagai pasangan dengan kehidupan yang independen, yang bertemu di kafe, tempat mereka menulis buku-buku mereka, dan bebas untuk menikmati hubungan lain, tapi hubungan mereka berdua terpelihara layaknya pasangan yang sudah menikah. Karena enggak mau saling melumpuhkan kebebasan masing-masing, mereka enggan untuk menjalin ikatan pada umumnya. Jika boleh mencatut Sartre; Hama adalah orang lain. Sebagai filsuf, saya menyukai pemikirannya, meski banyak enggak ngertinya, tapi sebagai penulis prosa, saya menikmati karyanya dan sedikit lebih ngerti. Jadi bagaimana cara mengeleminasi hama? Seperti dalam No Exit, menurut tafsiran saya, yang jadi soal bukan orang lain, tapi kesalahan ada pada cara kita memandang orang lain itu, bahwa hama-hama itu adalah yang menggerogoti pikiran kita. Hama-hama penggerutu dalam kepala, itulah yang pertama yang harus kita eleminasi. Bagaimana caranya? Saya pun enggak tahu.

Kategori
Buku

The Metamorphosis + The Bell Jar = The Vegetarian

Mas mau tanya dong, kalo karya sastra korea itu masuk ke world literature work ga? Aku dapat tugas nih dari dosen buat analisis world short story, korsel itu masuk ga? Kang, kalau di Unpad ada jurusan Sastra Korea ga?

Salah saya sendiri sih, karena rajin mengkaji budaya pop Korea, dan meski bukan anak sastra, berani-beraninya menulis berbagai pos soal kesusasteraan dunia ala-ala Maria Popova di blog ini. Yang pasti, seperti ramalan seorang Eka Kurniawan: Mungkin saatnya menengok Korea tak hanya melalui K-Pop, tapi juga K-Lit mereka. Apalagi setelah kemenangan penulis asal Korea Selatan di ajang bergengsi Man Booker International Prize 2016, Han Kang dengan novel The Vegetarian-nya.

Saat pengumuman nominasi novel, saya menjagokan Man Tiger (Lelaki Harimau) dan The Vegetarian ini. Tapi saya omong sompral, dan sialnya intuisi saya selalu tepat, bahwa yang akan maju sebagai pemenang ya penulis perempuan dari negeri gingseng itu. Sialnya, Eka memang gagal menjadi bobotoh pertama yang meraih Man Booker International, dan kesialan lainnya adalah, enggak ada yang ngajak taruhan. 

Kategori
Celotehanku

Mari Membaca Ebook (Bajakan)!

Kau enggak perlu kuasa, kami para perompak punya sebuah mimpi, sebut Monkey D. Luffy. Ketimbang lewat pendidikan formal yang membuang-buang uang dan waktu selama bertahun-tahun, kalau boleh jujur, saya lebih banyak mendapat kearifan hidup justru dari One Piece. Bahkan, boleh dibilang, minat membaca saya lahir akibat berawal dari kegemaran membaca manga ini. Dan saya yang pesimistis-pragmatis-plegmatis ini bisa berani bermimpi karenanya.

Kategori
Celotehanku

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

eka kurniawan penulis kapitalis

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Tapi siang menjelang sore itu, ketika mendapat kesempatan untuk bertanya dalam acara bincang-bincang seputar rilis novel terbarunya, saya malah menjelekkan ‘O’; bahwa novel alusi Orwell ini sebuah kesalahan, seperti 1Q84, bagai Indomie beukah (baca: terlalu lama dimasak).

Kategori
Celotehanku

Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs

salman rushdie tottenham hotspurs

Aku pindah ke London pada Januari 1961, sebagai bocah berusia tiga belas setengah tahun, dalam perjalanan ke sekolah asrama, dan didampingi ayahku. Itu bulan yang dingin, dengan langit biru di siang hari dan halimun hijau saat malam. Kami menginap di Cumberland, di Marble Arch, dan setelah kami berkemas, ayahku bertanya apakah aku ingin melihat pertandingan sepakbola sungguh. (Di Bombay, tempatku dibesarkan, tak ada yang namanya sepakbola; olahraga lokalnya cuma kriket dan hoki.)

Pertandingan pertama yang ayahku ajak untuk kulihat adalah apa yang kemudian aku tahu sebagai sebuah “laga persahabatan” (sebab hasil akhirnya tak akan berdampak apapun) antara tim London Utara bernama Arsenal dan juara dari Spanyol, Real Madrid. Aku tidak tahu kalau lawan yang bertamu itu digadang-gadang sebagai klub terhebat yang pernah ada. Atau di antara pemainnya ada dua orang yang paling hebat, keduanya pemain asing; seorang Hungaria bernama Ferenc Puskas, “jenderal kecil”, dan dari Argentina, Alfredo di Stefano.

Inilah yang kuingat dari pertandingan itu: di babak pertama, Real Madrid mempecundangi Arsenal habis-habisan.

*

salman rushdie books

Di atas merupakan serpihan sebagian esei ‘The People’s Game’ dari Salman Rushdie di The New Yorker yang saya terjemahkan, karena tulisan berbayar hanya segitu aja. Intinya, dalam esei yang dirilis 31 Mei 1999 ini, sang penulis ‘Midnight’s Children’ ini menuliskan tentang kecintaannya pada sepakbola, terutama klub Tottenham Hotspurs. Dia melihat pertandingan pertama di London pada tahun 1961, antara Arsenal dan Real Madrid tadi. Cerita tentang Piala Dunia dan soal penjaga gawang. Tentang kemarahan berkepanjangan seorang Pat Jennings, kiper brilian, yang dipindahkan dari Spurs ke Arsenal. Tentang yel-yel yang dinyanyikan oleh orang banyak. Tentang nasib tim Spurs yang berubah lebih baik setelah mempekerjakan mantan manajer sang rival Arsenal, George Graham. Rushdie juga menggambarkan pertandingan di Wembley antara Spurs dan Leicester.

Ah ya, sebelumnya sudah pada kenal Salman Rushdie kan? Dan tau juga kalau ada klub sepakbola bernama Tottenham Hotspur FC? Sir Ahmad Salman Rushdie sendiri merupakan novelis dan esais, dikenal lewat gaya realisme magisnya, namun namanya makin melambung karena membuat novel kontroversial, ‘The Satanic Verses’, Ayat-Ayat Setan, yang membikin Ayatollah Khomenei mengeluarkan fatwa mati buatnya, dan siapa saja yang bisa menghabisi Rushdie bakal dihadiahi satu milyar Rial (sekitar 450 juta rupiah) pada tahun 1989. Bahkan, sekarang ‘bounty’-nya dinaikan lagi sampai 600.000 dollar! (sekitar 8 triliun rupiah!) Udah kayak Monkey D. Luffy di One Piece aja lah, keren!

Lihat: Independent – Salman Rushdie: Iranian state media renew fatwa on Satanic Verses author with $600,000 bounty

Kalau Tottenham Hotspurs? Ya, ya, pasti kalau sama Arsenal kenal, nah, Spurs ini klub sekotanya di London utara. Memang, Spurs bisa dibilang tim medioker, bahkan di film Green Street Hooligan, Pete Dunham berkelakar: “Tottenham… klub tai, juga pendukungnya tai … Yids, mereka disebutnya. Aku benar-benar pernah melempar kacung utama mereka melalui jendela kotak telepon tempo hari.” Jadi kenapa Rushdie masih mendukung klub tai ini?

“Kenapa kau mendukung Tottenham Hotspur?” Rushdie tertawa. “Kamu harus jadi seorang yang taat. Aku datang ke Inggris pada tahun 1961 dan itulah tahun paling baik buat Spurs – terakhir kali mereka memenangkan Liga Championship. Jika kau mendukung sebuah tim yang gagal untuk memenangkan liga selama 44 tahun, ini seperti semacam kultus.”

Time Out London: Salman Rushdie: Interview 

“Ini seperti agama. Tak ada ‘kenapa’,” jawab Orhan Pamuk sang penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra 2006 ketika ia ditanya kenapa menyukai Fenerbahçe. Ya, seperti agama Islam, untuk menjadi bobotoh Persib merupakan warisan dari orangtua. Dan untuk memberikan dukungan kepada keduanya, mungkin, kau enggak butuh yang namanya logika. Sesederhana itu. “Klub tradisional yang saya dukung dalam keadaan menang atau kalah, dalam kejayaan maupun keterpurukan cuma satu,” tulis Eka Kurniawan di pos Sepakbola, “Persib Bandung.”

[tweet https://twitter.com/SalmanRushdie/status/128140779402182657 align=’center’]

Sebagai warga Indonesia, saya pendukung Persib Bandung (seperti Eka Kurniawan), dan sebagai warga dunia, saya pendukung Tottenham (seperti Rushdie), Fenerbahce (seperti Pamuk), dan saya membayangkan apakah Roberto Bolano juga seorang pendukung Barcelona. Kalau iya, makin cinta deh sama mereka.