New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

new direction book

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; sampul “Nightwood” yang dikerjakan Alvin Lustig; Catatan tulis tangan dari William Carlos Williams; Lukisan dari Henry Miller; Sebuah foto sang pendiri penerbitan ini, yang meninggal pada 1997, dalam pose siluet.

Baca Selengkapnya

Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

1 “Hei! Apa semua orang di sini melakukan masturbasi?” Midori bertanya sambil menengadah memandang gedung asrama. “Mungkin ya.” “Apa semua laki-laki melakukan masturbasi sambil membayangkan perempuan?” “Ya, tentu begitu,” kataku. “Aku kira tak ada laki-laki yang melakukan masturbasi sambil memikirkan pasar saham, konjugasi verba, atau Terusan Suez, tentu mereka melakukannya sambil membayangkan perempuan.” — Haruki … Baca Selengkapnya

The Metamorphosis + The Bell Jar = The Vegetarian

han kang korea writer

Mas mau tanya dong, kalo karya sastra korea itu masuk ke world literature work ga? Aku dapat tugas nih dari dosen buat analisis world short story, korsel itu masuk ga? Kang, kalau di Unpad ada jurusan Sastra Korea ga?

Salah saya sendiri sih, karena rajin mengkaji budaya pop Korea, dan meski bukan anak sastra, berani-beraninya menulis berbagai pos soal kesusasteraan dunia ala-ala Maria Popova di blog ini. Yang pasti, seperti ramalan seorang Eka Kurniawan: Mungkin saatnya menengok Korea tak hanya melalui K-Pop, tapi juga K-Lit mereka. Apalagi setelah kemenangan penulis asal Korea Selatan di ajang bergengsi Man Booker International Prize 2016, Han Kang dengan novel The Vegetarian-nya.

Baca Selengkapnya

Mari Membaca Ebook (Bajakan)!

Kau enggak perlu kuasa, kami para perompak punya sebuah mimpi, sebut Monkey D. Luffy. Ketimbang lewat pendidikan formal yang membuang-buang uang dan waktu selama bertahun-tahun, kalau boleh jujur, saya lebih banyak mendapat kearifan hidup justru dari One Piece. Bahkan, boleh dibilang, minat membaca saya lahir akibat berawal dari kegemaran membaca manga ini. Dan saya yang pesimistis-pragmatis-plegmatis ini bisa berani bermimpi karenanya.

Baca Selengkapnya

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

eka kurniawan

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Baca Selengkapnya

Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs

salman rushdie tottenham hotspur

Aku pindah ke London pada Januari 1961, sebagai bocah berusia tiga belas setengah tahun, dalam perjalanan ke sekolah asrama, dan didampingi ayahku. Itu bulan yang dingin, dengan langit biru di siang hari dan halimun hijau saat malam. Kami menginap di Cumberland, di Marble Arch, dan setelah kami berkemas, ayahku bertanya apakah aku ingin melihat pertandingan sepakbola sungguh. (Di Bombay, tempatku dibesarkan, tak ada yang namanya sepakbola; olahraga lokalnya cuma kriket dan hoki.)

Pertandingan pertama yang ayahku ajak untuk kulihat adalah apa yang kemudian aku tahu sebagai sebuah “laga persahabatan” (sebab hasil akhirnya tak akan berdampak apapun) antara tim London Utara bernama Arsenal dan juara dari Spanyol, Real Madrid. Aku tidak tahu kalau lawan yang bertamu itu digadang-gadang sebagai klub terhebat yang pernah ada. Atau di antara pemainnya ada dua orang yang paling hebat, keduanya pemain asing; seorang Hungaria bernama Ferenc Puskas, “jenderal kecil”, dan dari Argentina, Alfredo di Stefano.

Inilah yang kuingat dari pertandingan itu: di babak pertama, Real Madrid mempecundangi Arsenal habis-habisan.

Baca Selengkapnya