Kategori
Catutan Pinggir

Nasihat Cinta dari Nietzsche dan Sartre

paris-bridge-1024

Memagut bibir dan mengunci jemari tidak terlalu berbahaya, tetapi mengunci ke dalam cinta adalah hal yang sangat berbahaya — baik secara kiasan maupun secara harfiah. Pecinta di abad dua puluh satu begitu erat dengan metafora tadi, yang mana pada tahun 2015, Pont des Arts di Paris harus dilepaskan dari beban empat puluh lima ton gembok yang begitu memberatkan, yang dipasang oleh para pecinta itu. Kunci-kuncinya, yang dilemparkan ke bawah, menjadi sampah di Sungai Seine. Sementara gembok cinta Paris dilelang untuk mengumpulkan uang buat amal, gembok-gembok macam begini masih menutupi beragam memorial di seluruh dunia — dari jembatan lain di Paris, ke Jembatan Brooklyn, ke pagar di Hawaii dan Australia. Para perencana kota kini menjadi jagoan-jagoan kebetulan dalam perang suci melawan obsesi ini, meskipun fenomena ini tetap ada walau upaya terbaik mereka untuk menggagalkannya telah dikerahkan.

Friedrich Nietzsche mungkin kecewa, tetapi tidak terkejut, mengetahui bahwa kita masih terobsesi dengan kunci gembok untuk melambangkan cinta. Cinta, pikirnya, bisa menjadi “naluri yang paling suci” dan “stimulus terbesar kehidupan.” Tetapi seringnya, cinta bermanifestasi sebagai keinginan untuk memiliki yang rakus dan dekaden. Seperti yang dipikirkan Nietzche, pecinta terlalu sering bertindak seperti “sang naga yang menjaga timbunan emasnya” dan memperlakukan seekor kekasih seperti burung eksotis— “sebagai sesuatu yang harus dikurung untuk mencegahnya terbang menjauh.” Rantai bisa menyamankan, seperti lengan kekasih, tetapi Nietzche adalah pendukung untuk membebaskan diri kita dari belenggu kecil mitologi romantis ini, terutama ideal untuk mengamankan cinta. Cinta adalah sebuah perasaan, dan tidak masuk akal untuk berpikir — apalagi bersumpah — bahwa kita akan terus memiliki perasaan tersebut sampai kematian memisahkan kita.

Jean-Paul Sartre, yang membaca (dan mengejek dengan kejam) Nietzsche di perguruan tinggi, menghabiskan sebagian besar waktunya meminum minuman beralkohol di kafe Saint-Germain-des-Prés yang hanya beberapa langkah dari Pont des Arts, mencoret-coret di buku catatan, dan mengejar perempuan muda yang cantik. Sebagai jago kebebasan eksistensial, Sartre berpendapat bahwa untuk menerima pandangan orang lain tentang bagaimana Anda seharusnya hidup merupakan semacam penipuan diri yang ia labeli ‘itikad buruk’, mauvaise foi. Tak berteman dengan norma-norma borjuis, ia berpendapat bahwa masing-masing dari kita bertanggung jawab atas pilihan hidup kita sendiri. Seseorang yang bebas seharusnya tidak mengunci dirinya dalam suatu hubungan yang bisa menjadi kandang yang tak nyaman. Buang kunci itu, dan Anda membuang kebebasan Anda. Bersikap bebas adalah memiliki kemungkinan untuk mengubah arah, mendefinisikan kembali diri Anda sendiri, dan menjungkirbalikkan gambaran orang lain tentang apa yang seharusnya Anda lakukan.

Menurut Sartre, cinta hanya ada dalam tindakannya. Jadi jika membeli gembok kuningan dan meninggalkannya, bersama dengan ribuan lainnya, untuk memberatkan monumen bagi Anda merupakan tindakan cinta yang istimewa, indah, dan bermakna, Sartre mungkin tidak akan menghentikan Anda. Namun, dia akan meragukan keotentikan sebuah tindakan macam begitu. Gembok cinta bukanlah tradisi kuno tetapi sebuah tren yang dimulai di Roma pada tahun 2006 setelah popularitas buku (dan film adaptasinya) I Want You, oleh Federico Moccia. Dalam cerita itu, dua kekasih mengunci rantai di sekitar tiang lampu di Ponte Milvio di Roma dan melemparkan kunci ke Sungai Tiber. Hal itu melambangkan gagasan bahwa mereka akan selalu menjadi milik satu sama lain.

Simbol kunci gembok mungkin tampak sangat bertentangan dengan pandangan cinta eksistensial. Begitu kunci telah dibuang, tidak ada jalan keluar. Namun Sartre menggunakan metafora yang sama secara berbeda, menunjukkan bahwa kekasih dapat bertindak bukan sebagai gembok tetapi sebagai kunci untuk membuka kehidupan batin Anda. Tanpa seseorang yang meneliti, melibatkan diri, dan menghargai Anda, mungkin ada aspek-aspek diri Anda yang akan tetap selamanya tak terlihat. Keintiman seorang kekasih dapat mengungkapkan keinginan dan sikap tersebut.

Bagi Sartre, sukacita cinta adalah ketika kita merasa aman dalam kepemilikan kita satu sama lain dan menemukan makna hidup kita di dalam dan melalui orang lain. Masalahnya adalah ini hanya ilusi. Tidak ada yang aman tentang cinta romantis. Karena kekasih bebas memilih untuk menjalin hubungan, mereka juga bebas untuk pergi, dan ini membuat cinta terus-menerus rentan. Menurut Sartre, hal ini mendorong para pecinta ke lingkaran setan dari permainan kekuatan sadomasokistik. Mereka mencoba untuk mengendalikan satu sama lain dan menuntut jenis kepemilikan yang diindikasikan oleh gembok. Hasilnya adalah para pencinta akhirnya mencoba untuk merampas kebebasan mereka satu sama lain tanpa pernah sepenuhnya mencapai kepemilikan yang mereka inginkan, itulah mengapa Sartre menyimpulkan bahwa cinta adalah konflik.

Tidak ada yang salah dengan berharap cinta itu akan bertahan. Bahkan, harapan yang bertahan akan membedakan romansa dari nafsu birahi. Bagi Sartre, kekasih mendefinisikan diri mereka dengan memilih untuk saling mencintai baik sekarang maupun di masa depan. Namun itulah paradoks dari cinta: kita tidak dapat mengetahui seperti apa kita di masa depan, dan sebanyak yang dapat kita pilih dengan bebas untuk melakukannya, untuk mengikat masa depan diri adalah penolakan kebebasannya sendiri.

Orang mungkin bertanya-tanya: Bisakah kita melepaskan keinginan untuk menjadi bal dan rantai bagi satu sama lain? Simone de Beauvoir tentu saja bertanya-tanya tentang hal itu dan berpendapat bahwa hubungan terbaik pasti otentik. Dalam hubungan yang otentik, kekasih menghormati kebebasan satu sama lain dan terus melatih dirinya sendiri. Beauvoir dan Sartre memiliki sebuah hubungan terbuka, sesuatu yang radikal dari konvensi sewaktu itu. Namun, mereka menuntut jaminan bahwa mereka adalah partner utama bagi masing-masing, yang mungkin telah menolak kebebasan tertentu dari mereka.

Sikap posesif sangat mendasar bagi pengalaman cinta, pikir Sartre, bahwa untuk mengatasi hasrat memiliki sang kekasih adalah mengatasi cinta itu sendiri. Namun dalam banyak hal, ia kurang menganjurkan gembok dan lebih memilih untuk menjadi kunci: Cinta itu seperti melemparkan diri dari jembatan ke Sungai Seine. Dibutuhkan keberanian untuk melompat ke dalam suatu hubungan, dan Anda tidak tahu di mana dan kapan Anda akan menetap, jika keadaan memungkinkan. Sartre tetap melakukannya — dan akan menyarankan agar kita juga melakukannya.

*

Diterjemahkan dari artikel di The Paris Review berjudul Advice on Love from Nietzsche and Sartre. Skye C. Cleary adalah penulis Existentialism and Romantic Love dan mengajar di Universitas Columbia, Barnard College, dan City College di New York.

Kategori
Celotehanku

Apocalypse Please

muse_absolution_albumcoverart_stormthorgerson_full-width

Seorang pria berdiri di tepi sebuah gedung tinggi atau sebuah tebing. Ketika pria itu melihat ke tepi, ia mengalami ketakutan yang terfokus: jatuh. Di saat yang sama, pria itu merasakan sebuah dorongan mengerikan untuk melemparkan dirinya secara sengaja. Pengalaman itu adalah kecemasan dan ketakutan berkat kebebasan penuh kita untuk memilih menjatuhkan diri atau tetap diam. Fakta bahwa seseorang memiliki kemungkinan dan kebebasan untuk melakukan sesuatu, bahkan kemungkinan paling mematikan, memicu perasaan takut yang sangat besar. Seperti kisah dosa pertama umat manusia. Soal pilihan Adam untuk makan buah dari pohon pengetahuan terlarang milik Tuhan atau menjauhinya. Karena konsep baik dan jahat belum muncul sebelum Adam memakan buahnya, Adam tak punya konsep baik dan jahat, dan tak tahu bahwa makan buah dari pohon itu adalah sebuah “kejahatan.” Yang dia tahu pasti adalah bahwa Tuhan menyuruhnya untuk tak makan dari pohon itu. Kecemasan ini berasal dari fakta bahwa pelarangan Tuhan itu sendiri menyiratkan bahwa Adam bebas, dan dia bisa memilih untuk mematuhi Tuhan atau tidak. Setelah Adam makan buah dari pohon, dosa pun lahir. Di sisi lain, seseorang menjadi benar-benar menyadari potensi mereka setelah melalui pengalaman kecemasan. Jadi, kecemasan bisa menjadi kemungkinan untuk timbulnya dosa, tetapi kecemasan juga bisa menjadi pengakuan atau realisasi identitas dan kebebasan sejati seseorang.

Dalam The Concept of Anxiety, filsuf Søren Kierkegaard pakai kata “angst” untuk menggambarkan kondisi cemas dan takut yang mendalam ini. Jika hewan dipandu hanya oleh naluri, sebut Kierkegaard, manusia menikmati sebuah kebebasan memilih yang kemudian kita temukan menarik sekaligus menakutkan. Konsep angst Kierkegaard muncul kembali dalam karya-karya filsuf eksistensialis yang mengikutinya, seperti Nietzsche, Sartre dan Heidegger. Angst yang didedah Kierkegaard terutama mengacu pada perasaan ambigu tentang kebebasan moral dalam sistem keyakinan pribadi, namun kemudian para eksistensialis lanjutannya membahas dan mengembangkannya dengan memasukan konflik prinsip-prinsip pribadi, norma-norma budaya, dan keputusasaan eksistensial.

Tampaknya lebih keren pakai istilah angst ini ketimbang galau. Agar berasa kayak protagonis dalam A Portrait of the Artist as a Young Man-nya James Joyce atau The Bell Jar-nya Sylvia Plath atau novel coming-of-age penuh amuk redam. Mungkin ini hanyalah semacam romantisasi dan glorifikasi, tapi angst jadi perasaan paling dominan saya belakangan ini. Angst adalah privilase bagi mereka yang berusia di pertengahan duapuluhan.

Musik rock dan pop, sebut Taufiq Rahman dalam Pop Kosong Berbunyi Nyaring, adalah sarana untuk mereka yang masih membutuhkan katarsis bagi kemarahan jiwa muda, termasuk di dalamnya protes sosial, mengkomunikasikan cinta atau memuaskan rasa penasaran intelektual.

Belakangan, untuk keperluan melampiaskan amarah atas banalitas kehidupan, saya mendengarkan kembali Muse. Who the Hell Actually Listens to Muse? tanya Vice. Lebih dikarenakan cuma konsumen musik kacangan, saya tak perlu preferensi canggih, mudahnya karena Muse adalah teman masa remaja saya. Sebagian sebab nostalgia, sebagian untuk mengalirkan angst dalam diri tadi, sisanya karena algoritma Youtube. Mendengarkan kembali, dan untuk beberapa kali balikan, lagu-lagu dalam Origin of Symmetry, album kedua band generasi post-britpop favorit saya itu. Falsetto Matthew Bellamy, erangan gitar ala-ala Jimi Hendrix cum Tom Morello, rentetan gebukan drum Dominic Howard, lirik muram Kafkaesque proto-anarkis. Tanpa bermaksud jadi pakar musik, saya pikir Origin of Symmetry adalah magnum opus Muse. Nomor lagu Citizen Erased jadi favorit saya. “Ini adalah ekspresi bagaimana rasanya dipertanyakan,” curhat Matt Bellamy, “Aku menghabiskan lebih banyak waktu daripada kebanyakan orang ditanya tentang tujuan, dan itu adalah perasaan yang aneh. Aku tidak benar-benar memiliki jawaban dan aku harus merespon sesuai sejauh wawasan yang telah kuperoleh, tetapi masalahnya adalah itu dicetak, dan ada hal lain yang membuat Anda benar-benar tidak setuju dengan apa yang Anda katakan”. Lagu ini juga bisa merujuk pada 1984-nya Orwell, ketika warga terhapus dan kebohongan jadi kendali masyarakat. Atau, saya memaknai lebih personal.

Self-expressed, exhausting for all
To see and to be
What you want and what you need
The truth’s unwinding
Scraping away at my mind
Please stop asking me to describe

  • Citizen Erased

Sudah lebih dari seminggu, saya belum bisa beranjak dari Muse. Dari album kedua, cuma bergerak sedikit ke Absolution. Nomor lagu macam Time Is Running Out, Sing for Absolution dan Hysteria tentu yang paling terkenal dari Muse. Saya menemukan kesukaan baru pada Thoughts of a Dying Atheist, judul lagu paling bangsat yang menjadikan kolom komentar Youtube untuk lagu ini menjadi forum debat agama. Yang tak kalah blasphemy adalah Apocalypse Please. Sang drumer Dom menggambarkan lagu tersebut sebagai “sebuah lagu yang sangat teatrikal tentang fanatik-fanatik agama dan harapan mereka bahwa nubuatan mereka bakal menjadi kenyataan. Sehingga mereka dapat mengkonfirmasi agama mereka.”

Meski kadar oktan Muse makin turun, album Black Holes & Revelations dan The Resistance tetap jadi yang paling nostalgik bagi saya. Teringat saat internet belum secepat dan seluas hari ini, cara termudah mendapatkan lagu-lagu adalah dengan membeli kaset bajakan kumpulan mp3 dari Pasar Kota Kembang. Setelah memindahkan ke komputer, dengan pemutar Winamp, saya memutar tiap lagu dalam album itu, dan menandai lagu yang paling disukai. Lagu-lagu dari kaset bajakan itu belum dikasih nama, sehingga tulisannya cuma track 01, track 02, track 03, dan seterusnya, dan saya selalu senang untuk menjuduli tiap track itu. Map of the Problematique dan MK Ultra jadi lagu favorit, sampai sekarang, dalam tiap dua album tadi.

Ketika Anda mengunduh diskografi Muse dengan folder ‘Rare and Various’, tak pernah membukanya, dan berpikir Anda sudah menemukan semua lagu favorit Anda. Eternally Missed adalah lagu dalam folder itu.

Yang paling menarik lainnya dari Muse adalah desain sampul albumnya. Ketika studio desain Hipgnosis bubar pada 1983, setelah menciptakan sampul-sampul album yang mendefinisikan tahun 70-an, Storm Thorgerson mencoba-coba beragam hal dari video musik sampai iklan sebelum kembali ke media yang membuat namanya. Langkah yang bijaksana. Bahkan setelah kematiannya pada tahun 2013, ia tetap menjadi seniman penutup yang paling dihormati di antara mereka, sama-sama terkenal karena pekerjaannya yang berani dan inventif dengan band-band kontemporer sama halnya yang dilakukan pada Pink Floyd dan Led Zeppelin. Thorgerson membikin ilustrasi sampul Muse.

Saya membayangkan diri saya adalah dia yang ada dalam sampul album Absolution. Menatap keanehan di langit. Menunggu mukjizat. Mungkin sambil mendengarkan Apocalypse Please.

Kategori
Catutan Pinggir

Camus dan Sartre yang Tercerai karena Pertanyaan Soal Kebebasan

 

 

Mereka berdua sejoli yang aneh. Albert Camus adalah orang Aljazair Prancis, seorang pied-noir yang dilahirkan dalam kemiskinan yang tanpa usaha keras bisa mempesona dengan gaya khasnya yang Bogart-esque. Jean-Paul Sartre, dari kalangan atas masyarakat Prancis, tidak bakal silap dari seorang lelaki tampan. Mereka bertemu di Paris selama Pendudukan dan semakin dekat setelah Perang Dunia Kedua. Pada masa itu, ketika lampu-lampu di kota perlahan kembali menyala, Camus adalah teman terdekat Sartre. “Betapa kita mencintaimu saat itu,” tulis Sartre nantinya.

Mereka adalah ikon berkilau di era tersebut. Surat kabar melaporkan tentang gerakan sehari-hari mereka: Sartre bersembunyi di Les Deux Magots, Camus orang yang gigih bergerak di Paris. Saat kota mulai dibangun kembali, Sartre dan Camus memberi suara pada suasana hati pada masa-masa itu. Eropa telah dinyalakan, tapi abu yang ditinggalkan oleh perang menciptakan ruang untuk membayangkan sebuah dunia baru. Para pembaca melirik Sartre dan Camus untuk mengartikulasikan seperti apa dunia baru itu. ‘Kami ada,’ ingat sesama filsuf Simone de Beauvoir, ‘untuk memberi era pascaperang dengan ideologinya.’

233400c3aaca57619bc0162526e598c4

Hal itu datang dalam bentuk eksistensialisme. Sartre, Camus dan teman intelektual mereka menolak agama, mementaskan drama baru yang mengerikan, menantang pembaca untuk hidup secara otentik, dan menulis tentang absurditas dunia – sebuah dunia tanpa tujuan dan tanpa nilai. ‘Hanya ada batu, daging, bintang, dan kebenaran yang bisa disentuh tangan,’ tulis Camus. Kita harus memilih untuk hidup di dunia ini dan memproyeksikan makna dan nilai kita sendiri ke dalamnya untuk memahaminya. Ini berarti bahwa manusia itu bebas sekaligus terbebani olehnya, karena dengan kebebasan ada tanggung jawab yang mengerikan, bahkan melemahkan, untuk hidup dan bertindak secara otentik.

Jika ide kebebasan mengikat Camus dan Sartre secara filosofis, maka perjuangan demi keadilan menyatukan mereka secara politis. Mereka berkomitmen untuk menghadapi dan menyembuhkan ketidakadilan, dan, di mata mereka, tidak ada kelompok manusia yang diperlakukan secara tidak adil ketimbang para pekerja, proletariat. Camus dan Sartre menganggap mereka terbelenggu oleh kerja keras mereka dan tercerabut dari kemanusiaan mereka. Untuk membebaskan mereka, sistem politik baru harus dibangun.

Pada Oktober 1951, Camus menerbitkan The Rebel. Di dalamnya, dia menyuarakan pemikiran yang kasarnya digambarkan sebagai ‘filsafat pemberontakan’. Ini bukan sistem filosofis, tapi penggabungan gagasan filosofis dan politik: setiap manusia itu bebas, tapi kebebasan itu sendiri relatif; Seseorang harus menerima batasan, moderasi, ‘risiko yang diperhitungkan’; yang absolut adalah anti-manusia. Yang terpenting, Camus mengutuk kekerasan revolusioner. Kekerasan dapat digunakan dalam situasi yang ekstrem (dia mendukung usaha perang Prancis), namun penggunaan kekerasan revolusioner untuk mendorong sejarah ke arah yang Anda inginkan adalah kehendak utopia, absolutis, dan pengkhianatan terhadap diri Anda sendiri.

‘Kebebasan absolut adalah hak yang paling kuat untuk mendominasi,’ tulis Camus, sementara ‘keadilan absolut dicapai dengan menekan semua kontradiksi: oleh karenanya menghancurkan kebebasan.’ Konflik antara keadilan dan kebebasan mengharuskan penyeimbangan terus-menerus, moderasi politik, penerimaan dan perayaan yang paling membatasi: kemanusiaan kita. ‘Untuk hidup dan terus hidup,’ katanya, ‘adalah untuk menjadi apa adanya.’

Sartre membaca The Rebel dengan jijik. Sejauh yang dia tahu, adalah mungkin untuk mencapai keadilan dan kebebasan yang sempurna – yang menggambarkan pencapaian komunisme. Di bawah kapitalisme, dan dalam kemiskinan, para pekerja tidak dapat bebas. Pilihan mereka tidak menyenangkan dan tidak manusiawi: bekerja tanpa ampun dan pekerjaan yang mengasingkan, atau mati. Tetapi dengan menyingkirkan para penindas dan lebih jauh mengembalikan otonomi kepada para pekerja, komunisme memungkinkan setiap individu untuk hidup tanpa keinginan material, dan oleh karenanya dapat memilih cara terbaik yang dapat mereka sadari. Hal ini membuat mereka bebas, dan melalui kesetaraan tanpa henti ini, juga adil.

Masalahnya adalah, bagi Sartre dan banyak kaum Kiri lainnya, bahwa komunisme menuntut kekerasan revolusioner harus dilancarkan karena tatanan yang ada mesti dihancurkan. Tidak semua orang kiri, tentu saja, mendukung kekerasan semacam itu. Pembagian antara garis keras dan kaum kiri moderat – secara luas, antara komunis dan sosialis – bukanlah hal baru. Tahun 1930an dan awal ’40an, bagaimanapun, kaum Kiri untuk sementara bersatu melawan fasisme. Dengan hancurnya fasisme, pecahnya kaum kiri garis keras yang bersedia membenarkan kekerasan dan moderat yang mengutuknya muncul kembali. Perpecahan ini dibuat semakin dramatis oleh hilangnya praktis dari kaum Kanan dan naiknya kekuasaan Uni Soviet – yang memberdayakan kelompok garis keras di seluruh Eropa, namun menimbulkan pertanyaan yang membingungkan bagi komunis karena kengerian gulag, teror dan uji coba terungkap. Pertanyaan untuk setiap orang kiri era pascaperang sederhana: di sisi mana Anda berada?

Dengan diterbitkannya The Rebel, Camus menyatakan untuk sebuah sosialisme damai yang tidak akan menggunakan kekerasan revolusioner. Dia terkejut dengan cerita-cerita yang muncul dari Uni Soviet: ini bukan negara komunis yang bergandengan tangan, yang hidup dengan bebas, tapi sebuah negara tanpa kebebasan sama sekali. Sartre, sementara itu, akan selalu berjuang untuk komunisme, dan dia siap untuk mengesahkan kekerasan untuk melakukannya.

Perpecahan antara kedua teman itu adalah sensasi media. Les Temps Modernes – jurnal yang diredakturi oleh Sartre, yang menerbitkan ulasan kritis atas The Rebel – terjual habis tiga kali lipat. Le Monde dan L’Observateur keduanya terengah-engah menutupi pailitnya. Sulit membayangkan perseteruan intelektual yang menangkap tingkat perhatian publik saat ini, namun, dalam ketidaksepakatan ini, banyak pembaca melihat krisis politik pada masa-masa yang tercermin pada mereka. Itu adalah cara melihat bagaimana politik dimainkan dalam dunia gagasan, dan ukuran nilai gagasan. Jika Anda benar-benar berkomitmen pada sebuah gagasan, apakah Anda terpaksa membunuh untuk itu? Berapa harga untuk keadilan? Berapa harga untuk kebebasan?

Posisi Sartre ditebus dengan kontradiksi, yang dengannya dia bergelut sepanjang sisa hidupnya. Sartre, seorang eksistensialis, yang mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas, juga Sartre, seorang Marxis, yang berpikir bahwa sejarah tidak memungkinkan banyak ruang untuk kebebasan sejati dalam arti eksistensial. Meskipun dia tidak pernah benar-benar bergabung dengan Partai Komunis Prancis, dia akan terus mempertahankan komunisme di seluruh Eropa sampai tahun 1956, ketika tank-tank Soviet di Budapest meyakinkannya, akhirnya, bahwa Uni Soviet tidak melanjutkan bergerak maju. (Memang, dia kecewa dengan Soviet di Hungaria karena mereka bertingkah seperti orang Amerika, katanya.) Sartre akan tetap menjadi suara yang kuat di Kiri sepanjang hidupnya, dan memilih presiden Prancis Charles de Gaulle sebagai kambing hitam favoritnya. (Setelah satu serangan yang sangat kejam, de Gaulle diminta untuk menangkap Sartre. ‘Seseorang harus memenjarakan Voltaire,’ jawabnya.) Namun, Sartre tetap tidak dapat diprediksi, dan terlibat dalam penolakan yang lama dan aneh terhadap Maoisme garis keras ketika dia meninggal pada tahun 1980. Meskipun Sartre pindah dari Uni Soviet, dia tidak pernah benar-benar meninggalkan gagasan bahwa kekerasan revolusioner mungkin diperlukan.

Kekerasan dalam komunisme mengirim Camus pada lintasan yang berbeda. ‘Akhirnya,’ tulisnya di The Rebel, ‘Saya memilih kebebasan. Karena bahkan jika keadilan tidak direalisasikan, kebebasan mempertahankan kekuatan untuk memprotes ketidakadilan dan menjaga komunikasi tetap terbuka.’ Dari sisi lain dalam Perang Dingin, sulit untuk tidak bersimpati dengan Camus, dan untuk bertanya-tanya tentang semangat yang ditinggalkan Sartre seorang komunis yang setia. Anutan Camus terhadap realitas politik yang sederhana, kerendahan hati moral, keterbatasan dan keliru kemanusiaan, tetap menjadi pesan yang diperhatikan dengan baik hari ini. Bahkan ide yang paling terhormat dan patut perlu diimbangi satu sama lain. Absolutisme, dan idealisme yang tidak mungkin diilhami, adalah jalan yang berbahaya ke depan – dan alasan Eropa masih diselimuti abu, karena Camus dan Sartre sama-sama berjuang untuk membayangkan dunia yang lebih adil dan lebih bebas.

*

Diterjemahkan dari artikel Aeon berjudul How Camus and Sartre split up over the question of how to be free.

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

Kim Taeyeon, “I” dan Eksistensialisme

Apakah Selandia Baru membayar Taeyeon untuk bikin video klip ini? Entahlah, yang pasti kalau iya, ini bener-bener promosi wisata yang tepat. Sinematografinya asyik, sukses ngambil beragam pemandangan ciamik. Jangan-jangan pihak National Geographic pun ikutan andil pas bikin mv ini.

Musik video ini juga rada banyak mengingatkan saya pada ‘Stars’-nya The Cranberries, dengan lebih ngepop, dan ada selingan rap. Oh ya, permainan drone pun yang makin apik. Ya iya lah, teknologi kekinian sama tahun 2000an emang udah beda, tapi saya akui kalau teknik pengambilan lewat dronenya mantap abis udah kayak Phillip Bloom aja.

Musik instrumennya juga cihuy, apalagi memasuki bagian tengah akhir udah serasa lagi dengerin Coldplay. Kpop dengan aroma Britpop. Dan ada rasa-rasa kayak lagu tema video game gitu, Final Fantasy mungkin. Ya ya ya, saya tak terlalu paham sih, tapi ini tipikal musik pop Barat sebenarnya.

Kalau soal liriknya, maaf karena nggak paham Bahasa Korea, dan belum ada lirik terjemahannya di internet, jadi belum bisa analisis. Tapi kalau ngeliat cerita di video klipnya sendiri, ini tentang kebebasan, lebih jauhnya mungkin tentang pencarian makna hidup. Taeyeon diceritakan nggak nyaman kerja di sebuah kafe, utamanya karena sering dibentak-bentak sang bos. Dan kalau tellah dari judulnya aja deh, “I”, udah ngegambarin soal eksistensialisme gitu lah.

Mencoba  mengelaborasi dari omongannya Kierkegaard sang Bapak Eksistensialisme itu, penggunaan kata “Aku” di sini menjadi sangat penting. Individu sebagai aku adalah yang menjadi aktor dalam kehidupan yang bisa mengambil arah hidupnya sendiri, bukan spektator kehidupannya belaka. Hanya individu yang benar-benar mengarahkan hidupnya yang bisa di sebut bereksistensi.

Mungkin bisa dibilang lagu ini mempertanyakan soal apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Dalam liriknya sendiri sering terdengar pengulangan kata “fly” dan ditampilkan pula kupu-kupu dalam klip sebagai simbol, ini membuat kita bertanya, bisakah manusia bebas terbang sesukanya layaknya kupu-kupu? Adakah kehendak bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. Ah ya, mungkin saya terbang kejauhan.

Yang pasti, ini lagu produksi SM yang paling saya suka sejauh ini, konsepnya beda banget dari yang biasanya. Tipikal musik Barat banget, dengan nuansa semacam alternative rock. Tapi tetap, kalau kata Eka Kurniawan mah mendengarkan Kpop itu seperti membaca novel-novelnya Murakami, Barat yang rasa Timur.

Kategori
Argumentum in Absurdum

Hokage, Übermensch dan Aristokrasi

hokage naruto boruto

A historical claim: “The beginnings of everything great on earth are soaked in blood thoroughly and for a long time.” – Nietzsche, Genealogy of Morals

Seperti Desa Konoha, yang meski fiktif, sebuah desa besar yang seringnya dalam lindungan damai, desa yang tumbuh sehabis rekonsiliasi antara klan Senju dan Uchiha – yang terlibat sengketa selama berpuluh-puluh tahun. Berkat inisiasi Hashirama Senju dan Madara Uchiha maka terbentuklah sebuah masyarakat madani dalam sebuah kesatuan desa. Desa Konoha, desa tersembunyi oleh daun pohon, mula-mula hanyalah sebuah ide utopis yang muncul dari kedua pemimpan klan tadi selama masa perang berkecamuk.

Setelah Konoha lahir, Hashirama kemudian mencipta konsep “Hokage”, istilah untuk pemimpin desa, dan menunjuk Madara sebagai orang yang pantas memegang tampuk jabatan ini. Namun, konsensus publik memilih Hashirama yang harus jadi orang no. 1 di Desa Konoha ini. Sebuah proses demokratis.

Kategori
Catutan Pinggir

Nietzsche, Arung dan Ektase

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pendamping buku ‘Nietzsche’ dari St. Sunardi.

“Saya harus hanya mempercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari.” – Also Sprach Zarathustra

Nietzsche hadir tak hanya dengan niat mengejutkan, ketika ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati”. Ia lebih radikal ketimbang seorang atheis biasa. Beberapa pernyataannya yang termashur bahkan menyebabkan ia bisa ditafsirkan sebagai seorang filosof yang bukan saja menampik filosofi (yang pernah ia cemooh sebagai kegiatan yang mirip vampir; menghisap darah dari kehidupan) dan menentang meta-fisika, tetapi juga seorang pemikir yang menampik adanya kebenaran. Baginya kebenaran adalah ilusi. “Kebenaran”, begitu ia pernah katakan, “adalah sejenis kesalahan yang bila tanpa itu sejenis mahkluk tak dapat hidup”. Bahkan kehendak untuk mendapatkan kebenaran pernah dianggapnya sebagai ekspresi dari ideal yang tidak disukainya, yakni ideal zahid, atau “asketik”, yang menampik kehidupan.