Kategori
Non Fakta

Moral, Etgar Keret

4027282fa2980a85e4c000196774f61b

Pria di TV menyebut pengadilan militer memberi hukuman mati buat orang Arab yang bunuh tentara wanita itu, dan banyak orang muncul di TV untuk ngeributinnya, dan karena itu berita berlanjut sampai pukul setengah tiga dan mereka enggak menayangkan acara Moonlighting. Itu bikin Papa begitu marah sehingga dia menyalakan cerutunya di dalam rumah dan itu berbau busuk. Dia seharusnya enggak melakukan itu karena bisa menghambat pertumbuhanku. Papa berteriak pada Mama bahwa karena berkat dia dan orang goblog lainnya yang mencoblos Likud, negara ini jadi kayak Iran. Dan Papa bilang kita harus membayarnya, dan itu mengikis moral apaan lah—aku enggak ingat kata-katanya—apa pun artinya itu, dan bahwa Amerika Serikat juga enggak akan tahan karenanya.

Keesokan harinya, guru-guru berbicara dengan kami soal begituan juga di sekolah, dan Tziyyon Shemesh bilang jika kamu menggantung seorang pria, dia bakal ngaceng, kayak di film porno, jadi Tzilla, guru wali kelas kami, mengusirnya keluar. Kemudian Tzilla mengatakan bahwa tiap orang punya pandangan berbeda tentang hukuman mati, dan apa pun argumen yang kamu buat untuk membela atau menentangnya, tiap orang harus memutuskannya di dalam hati mereka. Dan Tzachi si urakan, yang enggak naik kelas dua kali, mulai tertawa dan mengatakan bahwa orang-orang Arab harus memutuskan dalam hati mereka setelah jantung mereka berhenti berdetak, jadi Tzilla juga mengusirnya keluar. Dan Tzilla bilang dia enggak akan mendengarkan omong kosong lainnya lagi dan dia hanya akan mengajarkan pelajaran biasanya kepada kami, dan dia menghadiahi kami dengan seton pekerjaan rumah.

Seusai sekolah, anak-anak bertengkar tentang bagaimana jika kamu menggantung seseorang dan dia meninggal, apakah matinya karena dia tersedak atau karena tali pasung meretakkan lehernya. Kemudian mereka mulai bertaruh sekotak cokelat susu dan menangkap seekor kucing dan mereka menggantungnya di ring basket, dan kucing itu menjerit, dan akhirnya lehernya benar-benar retak. Tapi Mickie si kopet, dan dia enggak mau bayar cokelat susunya, dan dia bilang itu karena Gabi telah menyentak kucing itu dan bilang kalau dia ingin mengulanginya dengan seekor kucing lain yang enggak disentuh siapapun. Tapi semua orang tahu akal-akalan begitu karena Mickie bocah tolol, jadi dia tetap harus bayar. Lalu Nissim dan Ziv mengatakan bahwa mereka harus memukuli Tziyyon Shemesh karena dia pembohong soalnya kucing itu enggak ngaceng. Dan Michal—dia gadis tercantik di sekolah, mungkin—datang dan dia bilang kami semua memuakkan dan kayak binatang saja, dan aku muntah tapi bukan karena dia.

*

Diterjemahkan dari cerita “Moral Something” dalam buku The Girl on the Fridge karya Etgar Keret.

Kategori
Non Fakta

Tanpa Dia, Etgar Keret

without-her-etgar-keret

Apa yang kalian lakukan di hari saat wanita yang telah mengisi hidupmu meninggal? Aku pergi ke Yerusalem dan kembali pulang. Ada kemacetan lalu lintas yang mengerikan; ada pembukaan festival film. Dari pusat kota ke jalan tol butuh lebih dari satu jam. Aku menumpang berkendara bersama seorang pengacara muda dan jago di salah satu seni bela diri atau semacamnya. “Terima kasih semuanya,” gumamnya pada dirinya sendiri di sepanjang jalan keluar dari kota. “Terima kasih kepada semua orang yang telah memilih saya, dan terutama untuk ibu saya. Tanpa dia … tanpa dia … ” Dia selalu terhenti seperti itu pada “tanpa dia,” sudah tiga ratus kali.

Setelah kami akan berhasil keluar dari kota, dan lalu lintas mulai lancar, ia berhenti mengucapkan terima kasih dan terus menatapku. “Apa kamu baik-baik saja?” Tanyanya setiap beberapa detik. “Apa kamu baik-baik saja?” Dan aku berkata ya. “Apa kamu yakin?” Ia bersikeras. “Apa kamu yakin?” Dan aku berkata ya lagi. Aku agak tersinggung bahwa ia berterima kasih ke semua orang kecuali aku.

“Jadi bagaimana kalau ceritakan sesuatu,” katanya. “Bukan omong kosongmu yang dibikin-bikin, sesuatu yang emang benaran terjadi padamu.” Jadi aku mengatakan kepadanya tentang pembasmian serangga.

Induk semangku menawarkan pembasmian serangga dengan gratis. Dia menulis catatan di bagian bawah tagihan sewa tanpa aku memintanya. Seminggu kemudian, seorang pria dengan jerigen plastik dan kemeja Dr. Roach membangunkanku. Ia menyemprot seluruh ruangan selama empat puluh menit dan mengatakan kepadaku untuk membuka jendela ketika aku pulang saat malam nanti dan agar tidak mengepel lantai selama seminggu. Seolah-olah aku akan mengepel jika ia tidak mengatakan kepadaku untuk tidak.

Ketika aku pulang setelah bekerja, lantainya tidak terlihat. Semuanya tertutupi kaki-kaki yang terangkat ke langit-langit. Tiga lapisan bangkai. Satu atau dua ratus per ubin. Beberapa seukuran anak kucing. Satu, yang perutnya ditutupi dengan bintik-bintik putih, sebesar televisi. Mereka tidak bergerak. Aku meminjam sekop dari tetangga sebelah dan memasukan bangkai tadi ke dalam kantong sampah ukuran jumbo. Ketika aku sedang memasukan sekitar yang kelima belas, ruangan mulai berputar. Kepalaku sakit. Aku pergi membuka semua jendela, ada bangkai jatuh di bawah kakiku. Di dapur, aku menemukan satu yang berayun di lampu. Serangga itu sudah menyadari bahwa dia akan mati karena racun dan memutuskan untuk menggantung dirinya sendiri. Aku melonggarkan tali, dan tubuhnya jatuh menimpaku. Aku hampir pingsan; beratnya sekitar tujuh puluh kilo. Dia mengenakan jaket hitam, tidak ada kantong saku, dan tidak ada surat-surat atau jam tangan atau apa pun, bahkan tidak punya sayap. Itu mengingatkanku seseorang yang aku kenal saat wajib militer. Aku merasa benar-benar menyesal karenanya.

Aku hanya membuang yang lain di lantai bawah, tapi aku menggali kuburan untuk yang satu tadi. Aku menemukan sebuah peti kayu semangka yang sudah kosong dekat tempat sampah dan meletakkannya di makam sebagai nisan. Seminggu kemudian, si pembasmi serangga datang untuk menyemprot lagi, tapi aku memukulnya tepat di kepala dengan kursi dapur dan dia keluar dari sana dalam sekejap. Dia bahkan tidak berhenti dulu untuk bertanya kenapa.

Ketika aku selesai bercerita, kami berdua diam. Kemudian aku bertanya apakah benar bahwa pengacara tidak dapat membocorkan rahasia pada klien, dan ia berkata ya. Aku menawarinya rokok, tapi dia tidak mau. Aku menyalakan siaran berita, tapi penyiarnya sedang rehat.

“Katakan padaku,” ia akhirnya bertanya, “kalau bukan untuk festival, kenapa kau ingin pergi ke Yerusalem?”

“Enggak ada alasan,” kataku. “Seorang wanita yang kukenal meninggal.”

“Kenalnya yang tanpa alasan, atau meninggalnya yang tanpa alasan?” Ia bersikeras. Kemudian sampai di persimpangan Shalom, dan bukannya mengambil kanan, ia berputar ke kiri, langsung mengarah ke median.

Diterjemahkan dari cerita “Without Her” dalam buku The Girl on the Fridge karya Etgar Keret.

Kategori
Movie Enthusiast

7 Film Cinta Pilihan Suka-Suka Aja

film-cinta

Jika seorang yang enggak becus menendang bola boleh jadi komentator sepakbola, berarti enggak masalah dong orang yang payah kisah cintanya berbagi soal film cinta kesukaannya. Tentu, dengan wawasan film seadanya, daftar bikinan saya ini anggap saja kentut tak berbau. Boleh diamini, sangat boleh dilupakan. Dan tentang film cinta, lebih jauh soal cinta sendiri, nampaknya sebutan ini cakupannya luas. Film laga minim cerita pun ada kisah cintanya, meski kacangan. Jadi apa yang saya bicarakan ketika membicarakan film cinta ini? Jenis cinta yang mana? Hehe, mudahnya, anggap saja judulnya hanya sekadar clickbait, atau umpan klik. Katakanlah, kita duduk berdiskusi sampai berbusa-busa dalam satu meja sambil minum-minum, dengan gin dan tonik atau soju atau kopi, bahas soal cinta, dan ini enggak akan mengarah ke mana pun. Apa dengan menonton film-film ini kita bisa memahami cinta lebih baik? Hmm, saya adalah orang yang salah untuk ditanya. Baiklah, berikut filmnya.

Chungking Express (1994) – Wong Kai War

Antara film Hongkong, Taiwan, dan Cina daratan, nampak mirip, tapi secara kualitas, Hongkong terdepan. Film-film Hongkong keluaran 80-90an yang dibintangi Jackie Chan atau Stephen Chow, begitu akrab dan saya gemari saat masih bocah, bahkan sampai hari ini. Biasanya kisahnya soal polisi atau detektif. Ini juga yang diangkat Wong Kar Wai, berfokus pada dua polisi menyedihkan yang habis dicampakkan, dan patah hati berlarut-larut, namun kemudian keduanya jatuh hati pada lain perempuan; yang satu pada wanita misterius yang berbisnis dalam jaringan bawah tanah, satunya lagi jatuh cinta pada pelayan sebuah kios makanan yang pelamun, yang suka mendengar musik keras-keras. Selain Dreams-nya The Cranberries versi bahasa Mandarin (atau Kanton?), menarik mengikuti monolog interior para protagonisnya. “Jika kenangan bisa dikalengkan, apa bakal ada tanggal kadaluarsanya juga?” tanya si Polisi berkode 223 pada dirinya sendiri, “Jika iya, aku ingin bisa bertahan hingga berabad-abad.”

Tony Takitani (2004) – Jun Ichikawa, Haruki Murakami

Kalau saja Norwegian Wood digarap Ichikawa, mungkin enggak akan mengecewakan para fans Murakami sedunia. Andai saja begitu, tapi sayang dia keburu meninggal. Adaptasi dari cerita pendek berjudul Tony Takitani ini berhasil dengan cemerlang. Merayakan kehampaan dengan asyik. Kehampaan Tony Takitani. Karena namanya kebarat-baratan, Tony dijauhi oleh anak-anak lain dan menghabiskan masa kecil yang soliter. Meskipun berbakat sebagai seniman, gambarnya enggak punya rasa, sehingga saat dewasa, ia mengukir karier sebagai ilustrator teknis. Tony jatuh hati pada seorang wanita muda cantik, Eiko Konuma, yang mengunjungi dia di suatu hari untuk tujuan bisnis. Eiko seperti malaikat di kehidupan sehari-hari Tony, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa terhubung dengan dunia luar. Eiko sempurna, namun satu masalah: dia seorang shopaholic, selalu gemes pengen beli pakaian stylish. Filmnya sendiri mengangkat seluruh cerpennya. Tony Takitani, baik cerpen atau film adaptasinya, adalah sebuah puisi enak buat para masokis pecinta kehampaan dan kesendirian.

Wristcutter: A Love Story (2006) – Goran Dukic, Etgar Keret

Dua hari setelah aku bunuh diri aku mendapat pekerjaan di sebuah restoran pizza. Kalimat pembuka cemerlang sebuah cerita karangan Etgar Keret. Dan seperti dalam Kneller’s Happy Camper, sebagai film adaptasi, mengikuti sebagian besar kerangka novela nyeleneh itu. Berlatar di dunia orang mati yang diperuntukan bagi mereka yang bunuh diri, sebuah dunia tanpa senyum, dan membosankan. Sedih karena putus dengan Desiree, Zia menyilet pergelangan tangannya dan kembali hidup di dunia orang mati tadi. Secara kebetulan, Zia mendapat kabar bahwa Desiree bunuh diri juga beberapa bulan setelahnya. Ia melakukan perjalanan dengan Eugene untuk menemukan mantannya itu, dan di tengah perjalanan mereka menumpangkan Mikal, yang ingin protes karena percaya ada kesalahan yang membuat dirinya dihidupkan kembali di sini. Komikal, cerdas dan aneh. Semacam parodi tingkat lanjut bagi drama No Exit-nya Sartre. Cinta akan selalu ada, setelah kamu bunuh dirimu sekalipun .

The Science of Sleep (2006) – Michel Gondry

Dua tahun setelah Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Gondry bikin lagi film dengan tema pikiran bawah sadar, soal mimpi, dan kali ini lebih surealis. Jika yang pertama soal move on, kali ini soal pendekatan. Setelah kematian ayahnya di Meksiko, Stéphane Miroux, seorang pemuda pemalu, setuju untuk datang ke Paris untuk tinggal bersama ibunya yang janda. Dia mendapat pekerjaan yang membosankan di sebuah kantor pembuatan kalender dan jatuh cinta dengan tetangga sebelahnya yang cantik, Stéphanie. Tapi menaklukkan Stephanie bukan perkara mudah dan satu-satunya solusi yang Stephane lakukan adalah melarikan diri ke dunia mimpi. Brilian dan menghibur. Visualnya nyeleneh dan penuh hipnotis. Bernal, sebagai Stephane, begitu menawan dan komikal. Tentu, saya begitu bersimpati pada Stephane. Laju film ini indah. “Otak adalah hal paling kompleks di alam semesta,” ungkap Stephane, “dan itu tepat di belakang hidung!”

Babel (2006) – Alejandro González Iñárritu

Empat cerita saling terhubung berkat sebuah tembakan. Cerita yang kompleks dan tragis dari kehidupan umat manusia dari berbagai belahan dunia, dan bahwa kita sebenarnya enggak beda-beda amat. Di Maroko, pasangan suami istri yang berselisih paham sedang berlibur untuk mencoba mengatasi perbedaan mereka. Sementara itu, seorang gembala Maroko membeli senapan untuk anak-anaknya agar mereka dapat mengusir serigala jauh-jauh dari kawanan gembalanya. Seorang gadis di Jepang berurusan dengan penolakan, kematian ibunya, hubungan dengan ayahnya yang berjarak, kesadaran diri, dan cacat fisiknya beserta isu-isu lainnya berkaitan dengan kehidupan modern di kota metropolitan bernama Tokyo. Di sisi lainnya, pengasuh asal Meksiko yang harus mengurus dua anak dari pasangan suami istri yang sedang berlibur tadi, memutuskan membawa anak asuhannya itu ke pernikahan anaknya yang berlangsung di Meksiko, untuk kemudian hanya mendatangkan masalah saat perjalanan pulang. Dikombinasikan, keempatnya memberikan cerita yang kuat dan menampilkan bahwa kita, meski tampaknya acak, dengan kultur berbeda, di seluruh dunia ini saling terhubung.

A Separation (2011) – Asghar Farhadi

Berfokus pada pasangan kelas menengah Iran yang hendak bercerai, dan konflik yang timbul ketika sang suami menyewa pengasuh dari kelas bawah untuk mengurus ayahnya yang sudah tua dan menderita Alzheimer. Simin menggugat cerai suaminya Nader dengan harapan bahwa ia dapat membuat kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka di luar negeri. Nader mempekerjakan Razieh, seorang wanita yang sudah menikah, yang menyembunyikan kehamilannya. Suatu hari, karena marah, Nader mendorong Razieh sampai dia keguguran, konflik pun makin mencuat. Seperti kata Leo Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dengan semangat besar dan kehalusan, Farhadi mengubah pertengkaran tak membahagiakan ini menjadi tragedi kontemporer memikat.

The Handmaiden (2016) – Park Chan-Wook

“Tahu apa kecoa soal cinta?” tanya Hideko mengejek lelaki Korea yang telah jadi suaminya, atau suami-suamiannya, yang dulu menjanjikan pernikahannya, atau nikah-nikahannya, bakal jadi pembebasan bukan penjara. Berlatar di Korea pada 1930an saat masa kolonial Jepang, film ini merupakan fantasi erotis tentang seorang ahli waris, pamannya yang sadis juga cabul karena doyan baca Marquis de Sade dan buku erotis lainnya, pembantu setianya yang sebenarnya cuma pura-pura jadi pembantu dan sang lelaki penipu ulung yang mengejar kekayaannya. Ah, saya enggak akan membocorkan ceritanya, yang pasti penuh tipu-tipu di film ini. Selain Train to Busan, di tahun 2016, film arahan Park Chan-Wook ini banyak menyedot perhatian. Inspirasi film ini sendiri adalah dari novel Sarah Waters, Fingersmith, tentang romansa thriller lesbian pada era Victoria. Sinematografinya ciamik, dan adegan ranjangnya sungguh bajingan.

 

Daftar macam apaan ini? Kok enggak ada 500 Days of Summer atau 5 Centimeters per Seconds?  Mana film ini? Mana film bikinan si itu? Film Indonesia enggak ada, nih? Bollywood mana? Cinta apaan, sih? Hehe. Bisa saja saya bikin daftar panjang sampai 100, tapi tetap ada banyak film yang belum saya tonton, dan akan ada banyak pula bermunculan film-film lain. Semoga di masa mendatang, ketika saya lebih arif, dan enggak terlalu malas, mungkin akan saya bikin daftar lainnya. Bagi yang merasa kecewa, silahkan bikin daftar sendiri, kasih saya rekomendasi film yang bagus, dan bagi yang berminat menonton film-film di atas, berterimakasihlah pada internet karena memungkinkan adanya situs berbagi.

Kategori
Non Fakta

Buka Ritsleting, Etgar Keret

5275_15_43

Ini dimulai dengan ciuman. Hampir selalu dimulai dengan ciuman. Ella dan Tsiki berada di tempat tidur, telanjang, dengan hanya lidah mereka yang saling beradu—kemudian Ella merasakan sesuatu yang menusuknya. “Apakah aku menyakitimu?” Tanya Tsiki, dan ketika Ella menggeleng, ia segera menambahkan, “Kau berdarah.” Dan memang berdarah, dari mulut. “Maafkan aku,” kata Tsiki, dan ia mulai panik mencari-cari di dapur, menarik cetakan es batu dari freezer dan memukul-mukulnya ke meja. “Ini, ambil ini,” kata Tsiki, sambil menyerahkan beberapa es pada Ella dengan tangan menggigil, “letakkan di bibirmu. Ini akan menghentikan pendarahan.” Tsiki selalu cekatan dalam hal-hal begini. Saat di tentara dia seorang paramedis. Dia seorang pemandu wisata terlatih juga. “Maafkan aku,” ia melanjutkan, berubah pucat, “aku pasti menggigitmu. Kau ngerti lah, pas lagi panas-panasnya.””Ga——pa” Ella tersenyum pada Tsiki, es batu menempel di bibir bawahnya. “ja——an kha——tir.” Yang merupakan kebohongan, tentu saja. Karena ses——tu telah te——di. Hal ini tidak lazim bahwa seseorang yang telah lama tinggal bersamamu membuatmu berdarah, dan kemudian membohongimu dan mengatakan ia menggigitmu, ketika kamu dengan jelasnya merasakan sesuatu menusukmu.

Mereka tidak berciuman selama beberapa hari setelah kejadian itu, karena lukanya. Bibir adalah bagian yang sangat sensitif dari tubuh. Dan kemudian, ketika mereka bisa, mereka harus sangat berhati-hati. Ella tahu Tsiki menyembunyikan sesuatu. Dan benar saja, satu malam, mengambil keuntungan dari fakta bahwa Tsiki tidur dengan mulut terbuka, Ella dengan lembut menyelipkan jarinya di bawah lidah Tsiki—dan menemukannya. Itu ritsleting. Sebuah ritsleting amat kecil. Tapi ketika dia menariknya, seluruh tubuh Tsiki terbuka seperti tiram, dan di dalamnya ada Jurgen. Tidak seperti Tsiki, Jurgen punya jenggot, cambang yang tercukur rapi, dan penis yang tidak disunat. Ella mengawasinya dalam tidurnya. Dengan sangat, sangat pelan dia melipat pembungkus Tsiki dan menyembunyikannya di lemari dapur di belakang tempat sampah, tempat mereka biasa menyimpan kantong sampah.

Hidup dengan Jurgen tidak mudah. Untuk seks memang fantastis, tapi dia kebanyakan minum-minum, dan ketika dia melakukannya, dia akan bikin ribut dan terlibat ke segala jenis situasi memalukan. Di atas semua itu, dia suka membuat Ella merasa bersalah karena dia yang menjadi alasan kenapa Jurgen meninggalkan Eropa dan pindah untuk tinggal di sini. Setiap kali sesuatu yang buruk terjadi di negeri ini, apakah itu dalam kehidupan nyata atau di TV, ia akan mengatakan padanya, “Lihat apa yang negaramu lakukan.” Bahasa Ibrani Jurgen payah, dan bahwa kata “kamu” selalu terdengar sangat menuduh. Orangtua Ella tidak menyukainya. Ibunya, yang begitu menyukai Tsiki, menyebut Jurgen seorang goy. Ayah Ella akan selalu bertanya tentang pekerjaan, dan Jurgen akan terkikik dan berkata, “Pekerjaan seperti kumis, Tuan Shviro. Itu sudah ketinggalan zaman.” Tak seorang pun yang merasa itu lucu, apalagi bagi ayah Ella, yang masih menumbuhkan kumisnya.

Akhirnya, Jurgen pergi. Dia kembali ke Düsseldorf untuk membuat musik dan hidup lebih bermanfaat. Dia tidak pernah bisa mewujudkan impiannya jadi penyanyi di negeri ini, sebut Jurgen, karena mereka akan terus mencibir aksennya. Orang di sini begitu berprasangka. Mereka tidak suka orang Jerman. Ella berpikir bahwa bahkan di Jerman musik aneh dan lirik klisenya tidak akan benar-benar membuatnya sukses. Jurgen telah menulis sebuah lagu tentang Ella. Lagu berjudul “Dewi” dan semuanya adalah tentang hubungan seks di sisi pantai dan tentang bagaimana ketika Ella datang, itu “bagai gelombang yang memecah batu” —dan ini diambil dari sebuah kutipan.

Enam bulan setelah Jurgen pergi, Ella mencari kantong sampah dan menemukan pembungkus Tsiki. Mungkin suatu kesalahan telah membuka ritsleting tadi, pikirnya. Bisa jadi. Dengan hal-hal seperti itu sulit untuk mengatakan dengan pasti. Malam itu juga, sementara dia menggosok gigi, ia memikirkan kembali ciuman itu, lebih dari rasa sakit karena ditusuk. Dia berkumur dengan banyak air dan melihat ke cermin. Dia masih memiliki bekas luka, dan ketika ia mengamatinya dari dekat, ia melihat ritsleting kecil di bawah lidahnya. Ella merabanya ragu-ragu, dan mencoba membayangkan bakal seperti apa dia yang ada di dalam. Ini membuatnya sangat berharap, tetapi juga sedikit bikin khawatir—terutama jika mendapat tangan yang berbintik-bintik dan kulit kering. Mungkin dia memiliki tato, pikirnya, bergambar mawar. Dia selalu ingin punya tato, tetapi tidak pernah memiliki keberanian. Dia pikir itu akan sangat menyakitkan.

*

Diterjemahkan dari cerita “Unzipping” dalam “Suddenly, a Knock On the Door” karya Etgar Keret.

Kategori
Non Fakta

Tiba-tiba, Ada yang Mengetuk Pintu

suddenly a knock on the door

“Beri aku sebuah cerita,” perintah seorang lelaki berjanggut yang duduk di sofa ruang tamuku. Situasinya, bisa kubilang, campur aduk tapi tak menyenangkan. Aku adalah seorang yang menulis kisah-kisah, bukan seseorang yang mendongengkannya. Dan bahkan hal itu bukan sesuatu yang kulakukan karena desakan. Terakhir kali ada yang memintaku untuk menceritakan sebuah cerita, adalah anakku. Itu setahun yang lalu. Aku menceritakannya sesuatu tentang peri dan musang—aku bahkan tidak ingat tentang apa—dan dalam waktu dua menit ia tertidur pulas. Tapi situasinya sangat jauh berbeda. Karena anakku tidak punya janggut, juga pistol. Karena anakku meminta cerita dengan baik-baik, sementara orang ini seperti sedang mencoba untuk merampokku.

Aku mencoba menjelaskan kepada pria berjanggut itu bahwa jika ia meletakkan pistolnya dulu maka akan jadi sebuah kebaikan untuknya, kebaikan untuk kami. Sulit untuk memikirkan sebuah cerita dengan laras pistol yang terisi mengarah kepalamu. Tapi pria itu bersikeras. “Di negeri ini,” ia menjelaskan, “jika kau ingin sesuatu, kau harus pakai paksaan.” Dia baru saja tiba dari Swedia, dan di Swedia benar-benar berbeda. Di sana, jika kamu ingin sesuatu, kamu meminta dengan sopan, dan besar kemungkinan kau bakal mendapatkannya. Tapi tidak di Timur Tengah yang lembab dan menyesakkan ini. Butuh satu minggu di tempat ini untuk mencari tahu bagaimana segala sesuatu berjalan—atau lebih tepatnya, bagaimana semua itu tidak berjalan. Orang-orang Palestina meminta sebuah negara, secara baik-baik. Apakah mereka mendapatkannya? Sia-sia yang mereka lakukan. Jadi mereka beralih dengan meledakkan anak-anak dalam bus, dan orang-orang mulai mendengarkan.  Para pemukim menginginkan sebuah dialog. Apakah ada yang menanggapi? Tak mungkin. Jadi mereka mulai bertindak, menuangkan minyak panas kepada petugas patroli perbatasan, dan tiba-tiba mereka memiliki penonton. Di negeri ini, keperkasaan selalu benar, dan tidak peduli apakah itu tentang politik, atau ekonomi atau tempat parkir. Jalan kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang kami mengerti.

Swedia, tempat asal pria berjanggut itu benar-benar negara maju. Swedia bukan hanya ABBA atau IKEA atau Hadiah Nobel. Swedia adalah dunia tersendiri, dan apa pun yang mereka punya, mereka dapatkan dengan cara damai. Di Swedia, jika dia mendatangi solois Ace of Base, mengetuk pintu, dan memintanya untuk bernyanyi untuknya, dia akan mengundangnya dan membuatkannya secangkir teh. Lalu dia bakal mengeluarkan gitar akustik dari bawah tempat tidur dan bermain untuknya. Semuanya dengan sebuah senyuman! Tapi di sini? Maksudku, jika ia tidak mengangkat pistol aku pasti telah mendepaknya segera. Perhatikan, aku mencoba untuk beralasan. “Camkan ini,” pria berjanggut mengomel, dan mengokang pistolnya. “Sebuah cerita atau peluru yang bersarang di antara mata.” Aku melihat pilihanku terbatas. Orang ini mengajukan penawaran. “Dua orang sedang duduk di sebuah ruangan,” aku memulai. “Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu.” Orang berjanggut menegang, dan untuk sesaat aku pikir mungkin dia terbawa oleh cerita ini, tetapi tidak. Dia mendengarkan sesuatu yang lain. Ada yang mengetuk pintu. “Buka,” katanya padaku, “dan jangan coba macam-macam. Singkirkan siapa pun itu, dan lakukan dengan cepat, atau ini akan berakhir buruk.”

Pemuda di pintu sedang melakukan survei. Dia punya beberapa pertanyaan. Pendek-pendek. Tentang kelembaban tinggi di sini saat musim panas, dan bagaimana hal itu mempengaruhi kepribadianku. Aku katakan padanya aku tidak tertarik tapi dia terus memaksa masuk.

“Siapa itu?” Dia bertanya padaku, menunjuk pada si pria berjanggut. “Itu keponakanku dari Swedia,” aku berbohong. “Ayahnya meninggal karena tanah longsor dan dia ada di sini untuk pemakaman. Kami sedang mengurus surat wasiat. Bisa tolong hormati privasi kami dan segera pergi?” “Ayolah, bung,” kata si penjajak suara, dan menepuk pundakku. “Ini hanya beberapa pertanyaan. Berikan seorang pria kesempatan untuk mendapatkan beberapa dolar. Mereka membayarku per responden.” Dia melompat ke sofa, memegangi mapnya. Orang Swedia itu mengambil tempat duduk di sampingnya. Aku masih berdiri, berusaha terdengar seperti apa yang kumaksud tadi. “Aku memintamu untuk segera pergi,” kataku. “Waktumu tidak tepat.” “Tidak tepat, hah?” Dia membuka map plastik dan mengeluarkan sebuah revolver besar. “Kenapa waktuku tidak tepat? Karena aku berkulit lebih gelap? Karena aku tidak cukup baik? Ketika berhadapan dengan orang Swedia, kau punya semua waktu di dunia. Tapi untuk seorang Maroko, untuk seorang veteran perang yang meninggalkan sebelah ginjalnya di Lebanon, kau tidak bisa meluangkan bahkan untuk semenit sialanmu.” Aku mencoba untuk beralasan dengan dia, mengatakan kepadanya bahwa ini bukan seperti yang dipikirkannya sama sekali, bahwa ia kebetulan mengganggu saat percakapanku dengan si Swedia itu. Tapi sang penjajak pendapat mengangkat revolver setinggi bibirnya dan memberi isyarat kepadaku untuk tutup mulut. “Vamos,” katanya. “Berhentilah membuat alasan. Duduk di sana, dan lanjutkan yang tadi.” “Lanjutkan apa?” Aku bertanya. Yang benar adalah, sekarang aku cukup tegang. Si Swedia memiliki pistol juga. Mungkin bakal mengeluarkan juga. Timur adalah timur dan barat adalah barat, dan hanya itu. Mentalitas yang berbeda. Atau mungkin si orang Swedia bisa kehilangan momen itu, hanya karena dia ingin semua cerita untuk dirinya sendiri. Sendirian. “Jangan membuatku menunggu,” si penjajak suara memperingatkan. “Aku gampang meledak. Lanjutkan ceritanya—dan lakukan dengan cepat.” “Ya,” si orang Swedia itu menimpali, dan menarik keluar punyanya juga. Aku berdeham, dan mulai dari awal lagi. “Tiga orang sedang duduk di sebuah ruangan.” “Dan jangan ada ‘Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu,'” si orang Swedia menegur. Sang penjajak suara tidak cukup memahami, tapi berusaha mengikutinya. “Lanjutkan,” katanya. “Dan tidak ada yang mengetuk pintu. Beri kami sesuatu yang lain. Yang mengejutkan kami.”

Aku berhenti sejenak, dan mengambil napas dalam-dalam. Keduanya menatapku. Bagaimana aku selalu menghadapi situasi semacam ini? Aku yakin hal-hal seperti ini tidak pernah terjadi pada Amos Oz atau David Grossman. Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Tatapan mereka berubah mengancam. Aku mengangkat bahu. Ini bukan salahku. Tidak ada dalam ceritaku untuk menghubungkannya ke ketukan itu. “Singkirkan dia,” perintah sang penjajak suara padaku. “Singkirkan dia, siapa pun dia.” Aku membuka pintu hanya sedikit. Itu pria pengantar pizza. “Apakah Anda Keret?” Ia bertanya. “Ya,” kataku, “tapi aku tidak memesan pizza.” “Di sini Fourteen Zamenhoff Street,” tukasnya sambil menunjuk cetakan slip pengiriman dan mendorong masuk ke dalam. “Terus kenapa,” kataku, “Aku tidak memesan pizza.”  “Ukuran paket keluarga,” ia menegaskan. “Setengah nanas, setengah ikan teri. Sudah dibayar. Kartu kredit. Cukup beri aku tip dan aku akan pergi dari sini.” “Apakah kau ke sini untuk cerita juga?” si orang Swedia menginterogasi. “Cerita apa?” pengantar pizza bertanya, tapi jelas dia berbohong. Dia jelas sangat tidak cakap dalam hal itu. “Keluarkan saja,” sang penjajak suara mendesak. “Sudahlah, keluarkan saja pistolnya.” “Aku tidak punya pistol,” pengantar pizza mengakui dengan canggung, dan menarik keluar pisau dari bawah nampan kardus. “Tapi aku akan memotong dia sampai jadi batang korek api kecuali dia membuat ceritaya yang bagus, dua kali lipat.”

Mereka bertiga berada di atas sofa—si orang Swedia di sebelah kanan, lalu pengantar pizza, kemudian sang penjajak suara tadi. “Aku tidak bisa melakukannya seperti ini,” aku memberitahu mereka. “Aku tidak bisa membikin cerita dengan kalian bertiga di sini dan senjata dan semua itu. Pergi berjalan-jalan dulu di sekitar blok, dan saat kalian kembali, aku akan memiliki sesuatu untuk kalian.” “Bajingan ini akan memanggil polisi,” sang penjajak suara berkata pada si orang Swedia. “Apa yang dia pikirkan, bahwa kita baru dilahirkan kemarin?” “Ayolah, beri kami satu dan kami akan pergi,” pengantar pizza memohon. “Sebuah cerita pendek. Jangan terlalu anal. Segalanya memang keras, kau tahu. Pengangguran, bom bunuh diri, orang-orang Iran. Orang lapar akan sesuatu yang lain. Apa yang kau pikirkan bahwa orang taat hukum seperti kami bisa sampai sejauh ini? Kami sedang putus asa, bung, putus asa.”

Aku berdeham dan memulai lagi. “Empat orang sedang duduk di sebuah ruangan. Hari sedang terik. Mereka bosan. Pendingin ruang terus berkedip. Salah satu dari mereka meminta sebuah cerita. Yang kedua bergabung, lalu yang ketiga …” “Itu bukan cerita,” protes sang penjajak suara. “Itu laporan saksi mata. Ini persis apa yang terjadi di sini sekarang. Apa yang kita sedang coba untuk keluar darinya. Kau tidak bisa pergi seenaknya dan membuang realitas pada kami seperti truk sampah. Gunakan imajinasimu, bung, bikin, ciptakan, ambil semua jalan.”

Aku mengangguk dan memulai lagi. “Seorang pria sedang duduk di sebuah ruangan, hanya dirinya seorang. Dia kesepian. Dia seorang penulis. Dia ingin menulis sebuah cerita. Sudah lama sejak ia menulis cerita terakhirnya, dan dia merindukan itu. Dia merindukan perasaan menciptakan sesuatu dari sesuatu. Itu benar—sesuatu dari sesuatu. Karena sesuatu dari ketiadaan adalah ketika kamu membuat sesuatu dari udara tipis, dalam hal ini tidak memiliki nilai. Siapa saja bisa melakukan itu. Tapi sesuatu dari sesuatu berarti itu benar-benar ada sepanjang waktu, di dalam dirimu, dan kamu menemukan itu sebagai bagian dari sesuatu yang baru, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pria itu memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang situasi. Bukan situasi politik dan bukan pula situasi sosial. Dia memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang situasi manusia, soal kondisi manusia. Kondisi manusia yang dia alami sekarang. Tapi ia hanya bisa termangu. Tidak ada cerita yang keluar. Karena kondisi manusia yang dia alami sekarang tampaknya tidak layak dibuat cerita, dan dia akan menyerah ketika tiba-tiba … ” “Aku telah memperingatkanmu sebelumnya,” si orang Swedia menyelaku. “Tidak ada ketukan di pintu.” “Aku harus,” aku bersikeras. “Tanpa ada yang mengetuk pintu tidak akan ada cerita.” “Biarkan dia,” kata pengantar pizza dengan lembut. “Beri dia beberapa kelonggaran. Kau ingin ketukan di pintu? Oke, silahkan pakai ketukan di pintu. Asalkan kami bisa mendapatkan sebuah cerita.”

*

Diterjemahkan dari cerita “Suddenly, a Knock On the Door” dalam buku berjudul sama karya Etgar Keret.

Kategori
Non Fakta

Wawancara Ekslusif, Etgar Keret

etgar keret wawancara ekslusif

Aku sedang merobohkan sebuah tembok.

Semua reporter perempuan adalah sundal dan aku merobohkan sebuah tembok. Mungkin sudah sekitar empat bulan sejak dia pergi. Awalnya, kupikir semua kuli bangunan itu dapat menenangkanku, tapi justru hanya membuatku makin senewen saja. Dinding yang kurobohkan itu memisahkan antara ruang tengah dan kamar tidur. Jadi aku selalu membelakangi balkon. Tapi aku ingat. Kau tak harus melihat untuk mengingat. Aku ingat bagaimana kami duduk di sana pada malam hari.