Kategori
Fiksi

Moral, Etgar Keret

4027282fa2980a85e4c000196774f61b

Pria di TV menyebut pengadilan militer memberi hukuman mati buat orang Arab yang bunuh tentara wanita itu, dan banyak orang muncul di TV untuk ngeributinnya, dan karena itu berita berlanjut sampai pukul setengah tiga dan mereka enggak menayangkan acara Moonlighting. Itu bikin Papa begitu marah sehingga dia menyalakan cerutunya di dalam rumah dan itu berbau busuk. Dia seharusnya enggak melakukan itu karena bisa menghambat pertumbuhanku. Papa berteriak pada Mama bahwa karena berkat dia dan orang goblog lainnya yang mencoblos Likud, negara ini jadi kayak Iran. Dan Papa bilang kita harus membayarnya, dan itu mengikis moral apaan lah—aku enggak ingat kata-katanya—apa pun artinya itu, dan bahwa Amerika Serikat juga enggak akan tahan karenanya.

Keesokan harinya, guru-guru berbicara dengan kami soal begituan juga di sekolah, dan Tziyyon Shemesh bilang jika kamu menggantung seorang pria, dia bakal ngaceng, kayak di film porno, jadi Tzilla, guru wali kelas kami, mengusirnya keluar. Kemudian Tzilla mengatakan bahwa tiap orang punya pandangan berbeda tentang hukuman mati, dan apa pun argumen yang kamu buat untuk membela atau menentangnya, tiap orang harus memutuskannya di dalam hati mereka. Dan Tzachi si urakan, yang enggak naik kelas dua kali, mulai tertawa dan mengatakan bahwa orang-orang Arab harus memutuskan dalam hati mereka setelah jantung mereka berhenti berdetak, jadi Tzilla juga mengusirnya keluar. Dan Tzilla bilang dia enggak akan mendengarkan omong kosong lainnya lagi dan dia hanya akan mengajarkan pelajaran biasanya kepada kami, dan dia menghadiahi kami dengan seton pekerjaan rumah.

Seusai sekolah, anak-anak bertengkar tentang bagaimana jika kamu menggantung seseorang dan dia meninggal, apakah matinya karena dia tersedak atau karena tali pasung meretakkan lehernya. Kemudian mereka mulai bertaruh sekotak cokelat susu dan menangkap seekor kucing dan mereka menggantungnya di ring basket, dan kucing itu menjerit, dan akhirnya lehernya benar-benar retak. Tapi Mickie si kopet, dan dia enggak mau bayar cokelat susunya, dan dia bilang itu karena Gabi telah menyentak kucing itu dan bilang kalau dia ingin mengulanginya dengan seekor kucing lain yang enggak disentuh siapapun. Tapi semua orang tahu akal-akalan begitu karena Mickie bocah tolol, jadi dia tetap harus bayar. Lalu Nissim dan Ziv mengatakan bahwa mereka harus memukuli Tziyyon Shemesh karena dia pembohong soalnya kucing itu enggak ngaceng. Dan Michal—dia gadis tercantik di sekolah, mungkin—datang dan dia bilang kami semua memuakkan dan kayak binatang saja, dan aku muntah tapi bukan karena dia.

*

Diterjemahkan dari cerita “Moral Something” dalam buku The Girl on the Fridge karya Etgar Keret.

Kategori
Fiksi

Tanpa Dia, Etgar Keret

without-her-etgar-keret

Apa yang kalian lakukan di hari saat wanita yang telah mengisi hidupmu meninggal? Aku pergi ke Yerusalem dan kembali pulang. Ada kemacetan lalu lintas yang mengerikan; ada pembukaan festival film. Dari pusat kota ke jalan tol butuh lebih dari satu jam. Aku menumpang berkendara bersama seorang pengacara muda dan jago di salah satu seni bela diri atau semacamnya. “Terima kasih semuanya,” gumamnya pada dirinya sendiri di sepanjang jalan keluar dari kota. “Terima kasih kepada semua orang yang telah memilih saya, dan terutama untuk ibu saya. Tanpa dia … tanpa dia … ” Dia selalu terhenti seperti itu pada “tanpa dia,” sudah tiga ratus kali.

Setelah kami akan berhasil keluar dari kota, dan lalu lintas mulai lancar, ia berhenti mengucapkan terima kasih dan terus menatapku. “Apa kamu baik-baik saja?” Tanyanya setiap beberapa detik. “Apa kamu baik-baik saja?” Dan aku berkata ya. “Apa kamu yakin?” Ia bersikeras. “Apa kamu yakin?” Dan aku berkata ya lagi. Aku agak tersinggung bahwa ia berterima kasih ke semua orang kecuali aku.

“Jadi bagaimana kalau ceritakan sesuatu,” katanya. “Bukan omong kosongmu yang dibikin-bikin, sesuatu yang emang benaran terjadi padamu.” Jadi aku mengatakan kepadanya tentang pembasmian serangga.

Induk semangku menawarkan pembasmian serangga dengan gratis. Dia menulis catatan di bagian bawah tagihan sewa tanpa aku memintanya. Seminggu kemudian, seorang pria dengan jerigen plastik dan kemeja Dr. Roach membangunkanku. Ia menyemprot seluruh ruangan selama empat puluh menit dan mengatakan kepadaku untuk membuka jendela ketika aku pulang saat malam nanti dan agar tidak mengepel lantai selama seminggu. Seolah-olah aku akan mengepel jika ia tidak mengatakan kepadaku untuk tidak.

Ketika aku pulang setelah bekerja, lantainya tidak terlihat. Semuanya tertutupi kaki-kaki yang terangkat ke langit-langit. Tiga lapisan bangkai. Satu atau dua ratus per ubin. Beberapa seukuran anak kucing. Satu, yang perutnya ditutupi dengan bintik-bintik putih, sebesar televisi. Mereka tidak bergerak. Aku meminjam sekop dari tetangga sebelah dan memasukan bangkai tadi ke dalam kantong sampah ukuran jumbo. Ketika aku sedang memasukan sekitar yang kelima belas, ruangan mulai berputar. Kepalaku sakit. Aku pergi membuka semua jendela, ada bangkai jatuh di bawah kakiku. Di dapur, aku menemukan satu yang berayun di lampu. Serangga itu sudah menyadari bahwa dia akan mati karena racun dan memutuskan untuk menggantung dirinya sendiri. Aku melonggarkan tali, dan tubuhnya jatuh menimpaku. Aku hampir pingsan; beratnya sekitar tujuh puluh kilo. Dia mengenakan jaket hitam, tidak ada kantong saku, dan tidak ada surat-surat atau jam tangan atau apa pun, bahkan tidak punya sayap. Itu mengingatkanku seseorang yang aku kenal saat wajib militer. Aku merasa benar-benar menyesal karenanya.

Aku hanya membuang yang lain di lantai bawah, tapi aku menggali kuburan untuk yang satu tadi. Aku menemukan sebuah peti kayu semangka yang sudah kosong dekat tempat sampah dan meletakkannya di makam sebagai nisan. Seminggu kemudian, si pembasmi serangga datang untuk menyemprot lagi, tapi aku memukulnya tepat di kepala dengan kursi dapur dan dia keluar dari sana dalam sekejap. Dia bahkan tidak berhenti dulu untuk bertanya kenapa.

Ketika aku selesai bercerita, kami berdua diam. Kemudian aku bertanya apakah benar bahwa pengacara tidak dapat membocorkan rahasia pada klien, dan ia berkata ya. Aku menawarinya rokok, tapi dia tidak mau. Aku menyalakan siaran berita, tapi penyiarnya sedang rehat.

“Katakan padaku,” ia akhirnya bertanya, “kalau bukan untuk festival, kenapa kau ingin pergi ke Yerusalem?”

“Enggak ada alasan,” kataku. “Seorang wanita yang kukenal meninggal.”

“Kenalnya yang tanpa alasan, atau meninggalnya yang tanpa alasan?” Ia bersikeras. Kemudian sampai di persimpangan Shalom, dan bukannya mengambil kanan, ia berputar ke kiri, langsung mengarah ke median.

Diterjemahkan dari cerita “Without Her” dalam buku The Girl on the Fridge karya Etgar Keret.

Kategori
Movie Enthusiast

7 Film Cinta Pilihan Suka-Suka Aja

Jika seorang yang enggak becus menendang bola boleh jadi komentator sepakbola, berarti enggak masalah dong orang yang payah kisah cintanya berbagi soal film cinta kesukaannya.

Tentu, dengan wawasan film seadanya, daftar bikinan saya ini anggap saja kentut tak berbau. Boleh diamini, sangat boleh dilupakan. Dan tentang film cinta, lebih jauh soal cinta sendiri, nampaknya sebutan ini cakupannya luas. Film laga minim cerita pun ada kisah cintanya, meski kacangan. Jadi apa yang saya bicarakan ketika membicarakan film cinta ini? Jenis cinta yang mana? Hehe, mudahnya, anggap saja judulnya hanya sekadar clickbait, atau umpan klik.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Buka Ritsleting” Karya Etgar Keret

Ini dimulai dengan ciuman. Hampir selalu dimulai dengan ciuman. Ella dan Tsiki berada di tempat tidur, telanjang, dengan hanya lidah mereka yang saling beradu—kemudian Ella merasakan sesuatu yang menusuknya. “Apakah aku menyakitimu?” Tanya Tsiki, dan ketika Ella menggeleng, ia segera menambahkan, “Kau berdarah.” Dan memang berdarah, dari mulut. “Maafkan aku,” kata Tsiki, dan ia mulai panik mencari-cari di dapur, menarik cetakan es batu dari freezer dan memukul-mukulnya ke meja. “Ini, ambil ini,” kata Tsiki, sambil menyerahkan beberapa es pada Ella dengan tangan menggigil, “letakkan di bibirmu. Ini akan menghentikan pendarahan.” Tsiki selalu cekatan dalam hal-hal begini. Saat di tentara dia seorang paramedis. Dia seorang pemandu wisata terlatih juga. “Maafkan aku,” ia melanjutkan, berubah pucat, “aku pasti menggigitmu. Kau ngerti lah, pas lagi panas-panasnya.””Ga——pa” Ella tersenyum pada Tsiki, es batu menempel di bibir bawahnya. “ja——an kha——tir.” Yang merupakan kebohongan, tentu saja. Karena ses——tu telah te——di. Hal ini tidak lazim bahwa seseorang yang telah lama tinggal bersamamu membuatmu berdarah, dan kemudian membohongimu dan mengatakan ia menggigitmu, ketika kamu dengan jelasnya merasakan sesuatu menusukmu.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Tiba-tiba, Ada yang Mengetuk Pintu” Karya Etgar Keret

“Beri aku sebuah cerita,” perintah seorang lelaki berjanggut yang duduk di sofa ruang tamuku. Situasinya, bisa kubilang, campur aduk tapi tak menyenangkan. Aku adalah seorang yang menulis kisah-kisah, bukan seseorang yang mendongengkannya. Dan bahkan hal itu bukan sesuatu yang kulakukan karena desakan. Terakhir kali ada yang memintaku untuk menceritakan sebuah cerita, adalah anakku. Itu setahun yang lalu. Aku menceritakannya sesuatu tentang peri dan musang—aku bahkan tidak ingat tentang apa—dan dalam waktu dua menit ia tertidur pulas. Tapi situasinya sangat jauh berbeda. Karena anakku tidak punya janggut, juga pistol. Karena anakku meminta cerita dengan baik-baik, sementara orang ini seperti sedang mencoba untuk merampokku.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Wawancara Ekslusif” Karya Etgar Keret

Aku sedang merobohkan sebuah tembok.

Semua reporter perempuan adalah sundal dan aku merobohkan sebuah tembok. Mungkin sudah sekitar empat bulan sejak dia pergi. Awalnya, kupikir semua kuli bangunan itu dapat menenangkanku, tapi justru hanya membuatku makin senewen saja. Dinding yang kurobohkan itu memisahkan antara ruang tengah dan kamar tidur. Jadi aku selalu membelakangi balkon. Tapi aku ingat. Kau tak harus melihat untuk mengingat. Aku ingat bagaimana kami duduk di sana pada malam hari.