Kategori
Catutan Pinggir

Mary Shelley

26387860800_c6c4b86ee7_b

Musim panas yang dingin dan basah tahun 1816, sebuah malam dengan cerita-cerita hantu dan sebuah tantangan memungkinkan seorang wanita muda untuk menggambarkan kegelapan, dan memberi kita cara memandang dunia.

Mereka berada di sebuah vila di tepi Danau Jenewa: Lord Byron – penyair terlaris, terlalu berbahaya untuk ruang gambar Inggris dan di pengasingan; dokternya, John William Polidori; Percy Shelley, penyair dan atheis, serta yang bakal jadi istrinya, Mary Shelley yang masih berusia 18 tahun. Cerita-cerita hantu dibaca, dan kemudian Byron menantang semua orang di dalam kelompok untuk membuat cerita baru. Dia memulai, tetapi tidak selesai, cerita tentang vampir; Polidori menyelesaikan “The Vampyre”; dan Mary muda, yang sudah menjadi ibu dari seorang anak yang masih hidup dan yang sudah mati, membayangkan cerita tentang seorang lelaki yang menciptakan sebuah makhluk, sebuah monster, dan menghidupkannya. Buku yang ditulisnya selama setahun, awalnya diterbitkan secara anonim, adalah Frankenstein, atau The Modern Prometheus, dan perlahan-lahan mengubah segalanya.

Ide-ide muncul ketika waktunya tepat bagi mereka. Tanah telah disiapkan. Fiksi gothic telah menjadi kemarahan selama beberapa waktu: para lelaki gelap yang digerakkan telah mengembara di koridor rumah leluhur mereka, menemukan lorong-lorong rahasia dan sanak keluarga yang mati, magis, menyedihkan, kadang-kadang abadi; sementara dorongan pencarian sains telah menemukan bahwa katak dapat berkedut dan kejang-kejang, setelah kematian, ketika arus listrik dialirkan, dan, di era perubahan, lebih banyak lagi yang menunggu untuk ditemukan.

Brian Aldiss menyebut Frankenstein sebagai karya fiksi ilmiah pertama (yang ia definisikan sebagai kepongahan yang diserang oleh musuh) dan ia mungkin benar. Itu adalah tempat di mana orang-orang belajar bahwa kita dapat membawa kembali kehidupan dari kematian, tetapi bentuk kehidupan yang gelap dan berbahaya dan tidak dapat dikalahkan, yang pada gilirannya akan mengubah kita dan membahayakan kita. Ide itu, perkawinan silang dari romansa gothic dan ilmiah, dilepaskan ke dunia, dan akan menjadi metafora kunci untuk zaman kita. Janji gemerlap ilmu pengetahuan, menawarkan kehidupan dan keajaiban, dan makhluk tanpa nama dalam bayangan, monster dan mukjizat semua dalam satu, kembali dari kematian, membutuhkan pengetahuan dan cinta tetapi, pada akhirnya, hanya untuk menghancurkan … itu adalah hadiah Mary Shelley untuk kita, dan kita akan jauh lebih merana tanpanya.

*

Diterjemahkan dari My Hero: Marry Shelley, artikel di The Guardian yang ditulis Neil Gaiman.

Kategori
Catutan Pinggir

Tradisi Muslim dalam Fiksi Spekulatif

Masih berpikir manusia tak kasat mata, perjalanan melintas waktu, mesin terbang dan perjalanan ke planet lain adalah produk imajinasi Eropa atau ‘Barat’? Buka Seribu Satu Malam – kumpulan cerita rakyat yang disusun selama Zaman Keemasan Islam, dari abad ke-8 sampai abad ke-13 Masehi – dan Anda akan menemukannya penuh dengan narasi ini, dan banyak lagi.

Pembaca Barat sering mengabaikan fiksi spekulatif dunia Muslim. Saya menggunakan istilah tersebut agar jangkauannya cukup luas, untuk menangkap cerita apa pun yang membayangkan implikasi kemajuan budaya atau ilmiah yang nyata atau yang dibayangkan. Beberapa gelombang pertama ke dalam genre ini adalah utopia yang diimpikan saat berkembangnya budaya Zaman Keemasan. Seiring kerajaan Islam berkembang dari semenanjung Arab untuk meliputi wilayah yang terbentang dari Spanyol ke India, literatur membahas masalah bagaimana mengintegrasikan keberagaman budaya dan orang-orang. Al-Madina al-fadila (Kota Suci), yang ditulis pada abad ke-9 oleh ilmuwan Al-Farabi, adalah salah satu teks besar paling awal yang dihasilkan oleh peradaban Muslim yang baru lahir. Itu ditulis di bawah pengaruh Republik-nya Plato, dan membayangkan sebuah masyarakat sempurna yang diperintah oleh para filsuf Muslim – sebuah template untuk pemerintahan dalam dunia Islam.

Sama seperti filsafat politik, perdebatan tentang nilai nalar merupakan ciri khas tulisan Muslim saat itu. Novel Arab pertama, Hayy ibn Yaqzan (Filsuf yang Belajar Sendiri), disusun oleh Ibnu Tufail, seorang dokter Muslim dari Spanyol abad ke-12. Plotnya sejenis Robinson Crusoe dalam bahasa Arab, dan bisa dibaca sebagai eksperimen pemikiran tentang bagaimana makhluk rasional bisa belajar tentang alam semesta tanpa pengaruh dari luar.

Berkisah tentang seorang anak, yang dibesarkan oleh seekor rusa di pulau terpencil, yang tidak memiliki akses terhadap budaya atau agama manusia sampai dia bertemu dengan seorang manusia yang terasing. Banyak tema dalam buku – sifat manusia, empirisisme, makna hidup, peran individu dalam masyarakat – menggemakan keasyikan para filsuf era Pencerahan nantinya, seperti John Locke dan Immanuel Kant.

Kita juga harus berterima kasih pada dunia Muslim atas salah satu karya fiksi ilmiah feminis pertama. Cerita pendek ‘Sultana’s Dream‘ (1905) oleh Rokeya Sakhawat Hussain, seorang penulis dan aktivis Bengali, bertempat di alam mitos Ladyland. Peran gender dibalik dan dunia dijalankan oleh perempuan, mengikuti sebuah revolusi di mana perempuan menggunakan kehebatan ilmiah mereka untuk mengalahkan pria. (Bodohnya, para lelaki telah menolak pembelajaran wanita sebagai ‘mimpi buruk sentimental’.) Dunia jauh lebih damai dan menyenangkan sebagai hasilnya. Pada satu bagian, Sultana yang berkunjung itu memperhatikan orang-orang yang terkikik menatapnya. Pemandunya menjelaskan:

‘Para wanita mengatakan bahwa Anda terlihat sangat kelaki-lakian.’
‘Kelaki-lakian?’ Kataku, ‘Apa maksudnya dengan itu?’
‘Itu berarti Anda pemalu dan penakut seperti lelaki.’

Belakangan, Sultana semakin penasaran dengan ketidakseimbangan gender:

‘Di mana para lelaki?’ Tanyaku padanya.
‘Di tempat yang tepat, di tempat yang seharusnya.’
‘Beritahu saya apa yang Anda maksud dengan “tempat mereka yang tepat”.’
‘O, ini memang kesalahan saya, Anda belum bisa mengetahui kebiasaan kami, karena Anda belum pernah di sini sebelumnya. Kami membuat para lelaki tetap berada di dalam rumah.’

Pada awal abad 20, fiksi spekulatif dari dunia Muslim muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonialisme Barat. Sebagai contoh, Muhammadu Bello Kagara, seorang penulis Hausa dari Nigeria, menulis Ganďoki (1934), sebuah novel yang diterbitkan di sebuah kawasan khayali di Afrika Barat; Dalam cerita tersebut, penduduk pribumi terlibat dalam perjuangan melawan penjajahan Inggris, namun di dunia yang dihuni oleh jin dan makhluk mistis lainnya.

Dalam dekade-dekade berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Barat mulai runtuh, tema utopia politik sering dikaitkan dengan sinisme politik tertentu. Penulis Maroko Muhammad Aziz Lahbabi menulis novel berjudul The Elixir of Life (Iksir al-Hayat) (1974), misalnya, berpusat pada penemuan obat mujarab yang dapat memberikan keabadian. Tapi alih-alih mengisi masyarakat dengan harapan dan kegembiraan, ia menciptakan perpecahan kelas, huru-hara, dan penguraian jaring-jaring sosial.

Sebuah fiksi yang lebih gelap telah muncul dari budaya Muslim baru-baru ini. Frankenstein in Baghdad (2013) dari Ahmed Saadawi mencontoh Frankenstein di Irak modern, di antara dampak invasi tahun 2001. Dalam penceritaan ulang ini, monster itu diciptakan dari bagian tubuh orang yang berbeda yang telah meninggal karena kekerasan etnis dan agama – dan akhirnya terus mengamuk sendiri. Dalam prosesnya, novel tersebut menjadi penjelajahan kefanaan perang dan kematian orang-orang yang tidak bersalah.

Di Uni Emirat Arab, novel dewasa muda dari Noura Al Noman berjudul Ajwan (2012) mengikuti perjalanan seorang alien amfibi muda saat ia berjuang untuk merebut kembali anak laki-lakinya yang diculik; buku ini dibuat menjadi serial TV, dan menyentuh tema termasuk pengungsi dan indoktrinasi politik.

Di Arab Saudi, Ibraheem Abbas dan Yasser Bahjatt menulis novel fiksi ilmiah HWJN (2013) yang mengeksplorasi hubungan gender, kefanatikan agama dan ketidaktahuan, dan menawarkan penjelasan naturalistik untuk keberadaan jin yang berada dalam dimensi paralel.

Penulis Mesir Ahmad Towfiq menulis novel suram Utopia (2008), yang membayangkan sebuah komunitas yang terjaga keamanannya pada tahun 2023, di mana masyarakat Mesir telah mundur setelah keruntuhan ekonomi dan sosial negara itu.

Dan di Mesir pasca-Arab Spring, novelis Basma Abdel Aziz memunculkan dunia Kafkaesque dalam The Queue (2016) – sebuah buku yang berlatar setelah sebuah pemberontakan yang tidak berhasil, di mana warga yang tak berdaya berjuang untuk mendapatkan kebebasan di bawah kediktatoran yang mengerikan dan tak masuk akal.

Fiksi spekulatif sering disangkutpautkan dengan Romantisme Eropa dan dibaca sebagai sebuah reaksi terhadap Revolusi Industri. Tetapi jika hal ini berlangsung selama berabad-abad dalam tradisi Muslim, ini berarti bahwa merenungkan teknologi fantastis, mengimajinasikan pengaturan sosial utopis, dan mencatat batas-batas kabur antara pikiran, mesin dan hewan, bukanlah satu-satunya milik Barat.

*

Diterjemahkan dari This is the Muslim tradition of sci-fi and speculative fiction. Muhammad Aurangzeb Ahmad adalah seorang ilmuwan data senior di Groupon, seorang asisten professor ilmu komputer di University of Washington. Penelitiannya berfokus pada pemodelan perilaku, pembelajaran mesin, dan pemrosesan bahasa alami.

Kategori
Non Fakta

Pulau Keabadian, Ursula K. Le Guin

ursula k le guin

Seseorang bertanya padaku apakah aku pernah mendengar ada manusia yang hidup abadi di Dataran Yendian, dan ada orang lain yang bilang padaku bahwa memang ada, jadi ketika sampai di sana, aku bertanya tentang ini. Agen perjalanan agak enggan menunjukkan tempat bernama Pulau Keabadian di petanya. “Anda sebaiknya tidak pergi ke sana,” katanya.

“Kenapa tidak?”

“Yah, ini berbahaya,” katanya, menatapku seolah dia mengira aku bukan tipe orang yang mencintai bahaya, memang dia sepenuhnya benar. Dia adalah agen lokal yang agak kasar, bukan seorang pegawai Layanan Antarplanet. Yendi bukanlah tujuan yang populer. Dalam banyak hal sangat mirip dengan dataran kita sehingga tampaknya tidak terlalu menarik. Ada perbedaan, tapi tidak jelas.

“Mengapa disebut Pulau Keabadian?”

“Karena beberapa orang ada yang abadi.”

“Mereka tidak mati?” Tanyaku, tidak pernah yakin dengan akurasi translatomat, mesin penerjemahanku.

“Mereka tidak mati,” katanya acuh tak acuh. “Ini saja, Kepulauan Prinjo adalah tempat yang indah untuk dua minggu yang tenang.” Potlotnya diarahkan ke selatan melintasi peta Laut Besar Yendi. Tatapanku tetap mengarah ke Pulau Keabadiaan yang besar dan sepi. Aku menunjuknya.

“Ada hotel di sana?”

“Tidak ada fasilitas wisata. Hanya kabin untuk para pemburu berlian.”

“Ada tambang berlian?”

“Mungkin,” katanya. Dia bersikap meremehkan.

“Apa yang membuatnya berbahaya?”

“Lalat.”

“Lalatnya menggigit? Apa lalatnya membawa penyakit? ”

“Tidak.” Dia benar-benar cemberut sekarang.

“Aku ingin mencobanya selama beberapa hari,” kataku, setenang mungkin. “Hanya untuk mencari tahu apakah aku berani. Jika aku merasa takut, aku akan segera kembali. Beri aku tiket penerbangan balik.”

“Tidak ada bandara.”

“Ah,” kataku, lebih unggul dari sebelumnya. “Jadi bagaimana aku bisa sampai di sana?”

“Kapal,” katanya, tidak sadar. “Sekali seminggu.”

Tidak ada yang membangkitkan sebuah gelagat selain sebuah gelagat. “Baiklah!” kataku.

Paling tidak, pikirku saat meninggalkan agen perjalanan, tak akan seperti Laputa. Aku pernah membaca Gulliver’s Travels saat masih kecil, dengan versi yang sedikit ringkas dan mungkin hasil saduran. Ingatanku akan buku itu seperti semua ingatan masa kecilku, sekelebat, putus-putus, dan terang — sedikit bercahaya dalam keluasan yang terlupakan. Aku ingat Laputa mengapung di udara, jadi kau harus menggunakan pesawat terbang untuk sampai ke sana. Dan aku benar-benar ingat sedikit hal lain, kecuali bahwa orang-orang Laputa abadi, dan bahwa aku paling tidak menyukai kisah itu ketimbang empat perjalanan Gulliver lainnya, yang justru ditujukan untuk orang dewasa, sesuatu yang sangat memberatkan saat itu. Apakah para Laputa memiliki bintik-bintik, tahi lalat, atau sesuatu seperti itu, yang membedakannya? Dan apakah mereka ilmuwan? Tapi mereka menjadi pikun, dan hidup terus dan terus dalam kebodohan yang tidak beralasan — atau apakah aku mereka-rekanya? Ada sesuatu yang buruk tentang mereka, sesuatu macam itu, sesuatu untuk orang dewasa.

Tapi aku berada di Yendi, tempat karya-karya Swift tidak ada di perpustakaan. Aku tidak bisa mencarinya. Sebagai gantinya, karena aku punya satu hari sebelum kapal itu berlayar, aku pergi ke perpustakaan dan meneliti soal Pulau Keabadiaan.

Perpustakaan Pusat Undund adalah bangunan tua yang megah yang penuh dengan kenyamanan modern, termasuk buku bertranslatomat. Aku meminta bantuan seorang pustakawan dan dia membawakanku Explorations-nya Postwand, yang ditulis sekitar seratus enam puluh tahun yang lalu, yang kemudian aku salin sebagai berikut. Pada saat Postwand menulis, kota pelabuhan tempatku tinggal, An Ria, belum dibangun; gelombang besar pemukim dari timur belum dimulai; Orang-orang di pesisir itu sebagian besar merupakan suku para gembala dan petani. Postwand menulis dengan agak menggurui tapi cerdas dalam penceritaannya.

“Di antara legenda orang-orang di Pantai Barat,” tulisnya, “salah satunya sebuah pulau besar dua atau tiga hari di sebelah barat dari Teluk Undund, tempat tinggal orang-orang yang tidak pernah mati. Semua orang yang saya tanya tentang hal itu mengenal baik reputasi Pulau Keabadian, dan beberapa bahkan mengatakan kepada saya bahwa anggota suku mereka telah mengunjungi tempat itu. Terkesan dengan kebulatan suara atas cerita ini, saya bertekad untuk menguji kebenarannya. Setelah menunggu lama Vong selesai melakukan perbaikan pada perahu saya, saya berlayar keluar dari Teluk dan menuju ke barat melewati Laut Besar. Angin membantu ekspedisi saya.

“Saat siang pada hari kelima, saya sampai di pulau. Daratannya rendah, panjangnya setidaknya lima puluh mil dari utara ke selatan.

“Di wilayah di mana saya pertama kali membawa kapal mendekati daratan, tepiannya seluruhnya adalah rawa garam. Saat surut, dan cuaca yang tak tertahankan lagi, bau busuk lumpur membuat kami tak mau mendekat, sampai di pantai berpasir yang panjang, saya berlayar ke sebuah teluk dangkal dan segera melihat atap sebuah kota kecil di muara sungai. Kami berlabuh di dermaga yang sederhana dan reyot dan dengan emosi yang tak terlukiskan, paling tidak bagi saya, saat menginjakkan kaki di pulau yang dianggap menyimpan rahasia KEHIDUPAN ABADI ini.”

Aku pikir aku akan menyingkat Postwand; Dia bertele-tele, selain itu, dia selalu mencibir pada Vong, yang tampaknya melakukan sebagian besar pekerjaan dan tidak memiliki emosi yang tak terlukiskan. Jadi dia dan Vong berjalan dengan susah payah di sekitar kota, menemukan segalanya sangat lusuh dan tidak ada yang menyimpang, kecuali bahwa ada banyak lalat yang mengerikan. Semua orang mengenakan pakaian kasa dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan semua pintu dan jendela memiliki tabir. Postwand menduga lalat akan menggigit dengan kejam, tapi ternyata tidak; Mereka menyebalkan, katanya, tapi seseorang hampir merasakan gigitannya, yang tidak membengkak atau gatal. Dia bertanya-tanya apakah mereka membawa penyakit. Dia bertanya kepada penduduk pulau, yang menampik bahwa ada penyakit, mengatakan bahwa tidak ada yang pernah sakit kecuali orang-orang daratan.

Pada saat ini, Postwand menjadi bersemangat, tentu saja, dan bertanya apakah mereka pernah meninggal. “Tentu saja,” kata mereka.

Dia tidak mengatakan apa lagi yang mereka katakan, tapi mereka semua berkumpul dan memperlakukannya sebagai orang tolol lain dari daratan utama yang sering mengajukan pertanyaan bodoh. Dia menjadi sangat gelisah, dan memberi komentar tentang keterbelakangan, perilaku buruk, dan masakan yang menjijikan. Setelah malam yang menyenangkan di sebuah gubuk, dia menjelajahi pedalaman beberapa mil, berjalan kaki karena tidak ada jalan lain. Di sebuah desa kecil yang dekat dengan sebuah rawa, dia melihat sebuah pemandangan yang, menurut kata-katanya, “bukti positif bahwa klaim penduduk pulau ‘terbebas dari penyakit hanyalah keangkuhan, atau sesuatu yang lebih menyeramkan lagi: untuk contoh yang lebih mengerikan tentang kerusakan akibat udreba yang belum pernah saya lihat, bahkan di alam liar Rotogo. Alat kelamin korban yang malang itu tidak bisa dibedakan; dari kaki, tidak ada yang tersisa kecuali rambut-rambutnya; Seluruh tubuh seolah-olah telah dilelehkan dalam api; Hanya rambutnya, yang cukup putih, tumbuh lebat, panjang, kusut, dan kotor — sebuah kengerian yang sangat bagus untuk tontonan yang menyedihkan ini.”

Aku menelusuri arti udreba. Ini adalah penyakit yang menakutkan orang-orang Yendia seperti kita takut akan kusta, yang serupa, meski jauh lebih berbahaya; satu kontak dengan air liur atau cairan tubuh dapat menyebabkan infeksi. Tidak ada vaksin dan tidak ada obatnya. Postwand sangat ngeri melihat anak-anak bermain dekat dengan udreb. Dia rupanya menguliahi seorang wanita desa tentang kebersihan, di mana si wanita tersinggung dan balik menguliahi Postwand, menyuruhnya untuk tidak menatap orang-orang. Dia mengangkat udreb yang malang itu “seolah-olah itu adalah bocah berusia lima tahun,” katanya, dan membawanya ke gubuknya. Si wanita keluar dengan mangkuk penuh dengan sesuatu, bergumam keras. Pada saat ini Vong, yang dengannya aku bersimpati, menyarankan bahwa sudah waktunya untuk pergi. “Saya menyetujui kekhawatiran teman saya yang tidak beralasan,” kata Postwand. Bahkan, mereka berlayar menjauh malam itu.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa catatan ini membangkitkan antusiasmeku untuk mengunjungi pulau ini. Aku mencari beberapa informasi yang lebih modern. Pustakawanku telah membias, seperti yang selalu dilakukan orang-orang Yendian. Aku tidak tahu bagaimana menggunakan katalog subjek, atau bahkan lebih rumit daripada katalog subjek elektronik kita, atau hanya ada sedikit informasi mengenai Pulau Keabadian di perpustakaan. Yang kutemukan hanyalah sebuah risalah dalam Diamonds of Aya — sebuah nama yang terkadang diberikan untuk pulau itu. Artikel itu terlalu teknis untuk translatomat. Aku tidak bisa mengerti banyak kecuali bahwa ternyata tidak ada tambang; berlian tidak terletak jauh di dalam bumi namun ditemukan tergeletak di permukaannya, seperti yang aku kira terjadi di gurun selatan Afrika. Karena pulau Aya adalah hutan dan rawa, berliannya terkena hujan lebat atau tanah longsor di musim hujan. Orang-orang pergi dan berkeliaran mencarinya. Yang besar muncul cukup sering sehingga membuat orang-orang selalu datang. Penduduk pulau itu tampaknya tidak pernah bergabung dalam pencarian. Sebenarnya, beberapa pemburu berlian yang bingung mengklaim bahwa penduduk asli mengubur berlian saat mereka menemukannya. Jika aku mengerti risalahnya, beberapa yang telah ditemukan sangat besar menurut standar kita: mereka digambarkan sebagai benjolan tak berbentuk, biasanya hitam atau gelap, kadang-kadang bening, dan beratnya mencapai lima kilogram. Tidak ada yang dikatakan tentang pemotongan batu-batu besar ini, digunakan untuk apa, atau berapa harga pasarnya. Ternyata Yendi tidak menghargai berlian seperti kita. Ada nada tak bernyawa, hampir samar untuk risalah, seolah-olah itu menyangkut sesuatu yang secara samar memalukan.

Bukankah jika penduduk pulau itu benar-benar tahu tentang “rahasia KEHIDUPAN ABADI,” akan ada sedikit lebih banyak tentangnya, dan soal berlian tadi, di perpustakaan ini?

Itu hanya sikap keras kepala, atau keengganan untuk kembali ke agen perjalanan yang cemberut dan mengakui kesalahanku, yang mendesakku ke dermaga keesokan harinya.

Aku bersorak sampai melihat kapalku, miniliner yang menawan dengan sekitar tiga puluh kabin yang menyenangkan. Selama dua minggu sekali memutari ke beberapa pulau terjauh ke barat Aya. Kapal pendampingnya, yang bertengger di tungkai kapal, akan membawaku kembali ke daratan pada akhir minggu. Atau mungkin aku hanya akan tinggal di kapal dan berlayar selama dua minggu? Itu tak menjadi masalah untuk staf kapal. Mereka informal, bahkan acuh, tentang pengaturan. Aku mendapat kesan bahwa energi rendah dan rentang perhatian yang pendek cukup umum di kalangan orang Yendia. Tapi teman-temanku di kapal itu tidak sabaran, dan salad ikan dinginnya sangat enak. Aku menghabiskan dua hari di dek atas menyaksikan burung laut, lompatan ikan merah besar, dan sayap baling-baling tembus pandang di atas laut. Kami melihat Aya pagi-pagi sekali pada hari ketiga. Di mulut teluk, bau rawa-rawa itu benar-benar bikin nyali ciut; Tapi percakapan dengan kapten kapal telah memutuskan untuk mengunjungi Aya, dan aku turun.

Kapten, pria berusia enam puluh tahun, telah meyakinkanku bahwa memang ada keabadian di pulau ini. Mereka tidak terlahir abadi, tapi mendapat keabadian dari gigitan lalat pulau. Itu, pikirnya, adalah sebuah virus. “Anda pasti ingin mengambil tindakan pencegahan,” katanya. “Ini jarang terjadi. Kurasa tidak ada kasus baru dalam seratus tahun terakhir — mungkin lebih lama lagi. Tapi Anda tidak ingin mengambil risiko.”

Setelah merenung beberapa saat, aku bertanya, secermat mungkin, meskipun kecermatan sulit didapat translatomat, apakah tidak ada orang yang ingin melarikan diri dari kematian — orang-orang yang datang ke pulau itu berharap bisa digigit oleh salah satu lalat yang hidup ini. Apakah ada kekurangan yang tidak aku ketahui, berapa harga yang terlalu tinggi untuk membayar bahkan untuk keabadian?

Kapten mempertimbangkan pertanyaanku untuk sementara waktu. Dia bicara lambat, tidak bergairah, serupa orang yang sedang bersedih. “Kurasa begitu,” katanya. Dia melihat ke arahku. “Anda bisa menilai,” katanya. “Setelah Anda ke sana.”

Dia tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Kapten kapal adalah orang yang memiliki hak istimewa itu.

Kapal itu tidak dilabuhkan ke teluk, tapi disambut di luar bar dengan kapal sekoci yang membawa penumpang ke darat. Penumpang lainnya masih berada di kabin mereka. Tak seorang pun kecuali kapten dan beberapa pelaut yang mengawasi diriku (yang dari kepala sampai kaki dipakaikan setelan yang ketat tapi kusam yang aku sewa dari kapal) naik ke kapal dan berpamitan. Kapten mengangguk. Salah satu pelaut melambai. Aku sangat ketakutan. Tidak ada gunanya sama sekali bahwa aku tidak tahu apa yang aku takutkan.

Menyimpulkan kapten dan Postwand bersama, terdengar seolah harga keabadian adalah penyakit mengerikan, udreba. Tapi aku benar-benar memiliki sedikit bukti, dan keingintahuanku sangat kuat. Jika virus yang membuatmu abadi muncul di negaraku, sejumlah besar uang akan dikucurkan untuk mempelajarinya, dan jika itu berdampak buruk, mereka akan mengubahnya secara genetis untuk menyingkirkan efek buruknya, dan acara bincang-bincang akan membahasnya terus, dan pembawa berita akan membahasnya, dan Paus juga akan membahasnya, dan pastilah semua orang suci lainnya, sementara orang kaya hanya menimbang-nimbang bukan hanya pasarnya, tapi juga persediaannya. Dan kemudian orang kaya akan lebih berbeda darimu dan aku.

Yang benar-benar membuatku penasaran adalah kenyataan bahwa semua ini tidak terjadi. Kaum Yendia tampaknya sangat tidak tertarik pada kesempatan mereka untuk menjadi abadi karena hampir tidak ada sesuatu di perpustakaan.

Tapi aku bisa melihat, saat perahu mendekati kota, agen perjalanannya agak tidak jujur. Ada hotel di sini — yang besar, enam atau delapan lantai. Semua terlihat diterlantarkan, papan penanda miring, jendela ditutup atau kosong.

Tukang perahu, seorang pemuda pemalu yang agak tampan, berkata, “Pemburu ya, nyonya?” ke translatomatku. Aku mengangguk dan dia berlayar dengan pelan ke dermaga kecil di ujung utara pelabuhan. Sekarang sudah kendur dan menyedihkan, tidak ada kapal, hanya beberapa kapal pukat atau kapal pemancing. Aku melangkah ke dermaga, melihat dengan gugup kalau-kalau ada lalat; Tapi saat ini tidak ada. Aku memberi tip kepada tukang perahu beberapa radlo, dan dia sangat bersyukur dia mengantarku ke jalan, jalan kecil yang menyedihkan, ke pondok pemburu berlian. Terdiri dari delapan atau sembilan kabin reyot yang dikelola oleh seorang wanita putus asa, yang berbicara perlahan tapi tanpa koma atau titik, mengatakan untuk menuju Nomor Empat karena pemandangannya bagus sarapan pukul delapan makan malam pukul tujuh delapan belas radlo dan apakah saya ingin makan siang yang dikemas dengan ekstra lima puluh radlo.

Semua kabin lainnya kosong. Toiletnya punya sedikit kebocoran, tink … tink, yang tidak dapat aku temukan dari mana sumbernya. Makan malam dan sarapan tiba di atas nampan, dan bisa langsung dimakan. Lalat-lalat itu tiba dengan semakin panasnya hari itu, banyak sekali, tapi bukan kawanan besar yang kuharapkan. Tabir membuat mereka tetap di luar, dan setelan kasa membuat mereka tidak menggigit. Mereka adalah lalat kecoklatan kecil yang tampak lemah.

Hari itu dan keesokan paginya, berjalan di sekitar kota, nama yang tidak dapat aku temukan ditulis di manapun, aku merasa bahwa kecenderungan Yendian terhadap depresi telah mencapai titik terendah di sini, mencapai titik nadir. Penduduk pulau adalah orang yang sedih. Mereka lesu. Mereka tidak bernyawa. Pikiranku menunjukkan kata itu dan menatapnya.

Aku menyadari bahwa aku akan menyia-nyiakan seluruh mingguku untuk merasa tertekan jika aku tidak membangkitkan keberanian dan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku melihat tukang perahuku memancing dari dermaga dan pergi untuk berbicara dengannya.

“Maukah kamu memberi tahuku tentang keabadian?” Tanyaku padanya.

“Nah, kebanyakan orang hanya berkeliling dan mencarinya. Di hutan,” katanya.

“Bukan, bukan berliannya,” kataku sambil mengecek translatomat. “Aku tidak terlalu tertarik dengan berlian.”

“Tidak ada lagi,” katanya. “Dulu banyak turis dan pemburu berlian. Kurasa mereka melakukan hal lain sekarang.”

“Tapi aku membaca di sebuah buku bahwa ada orang-orang di sini yang hidup sangat lama, yang tidak mati.”

“Ya,” katanya dengan tenang.

“Apakah ada orang abadi di kota? Kamu tahu salahsatunya?”

Dia memeriksa pancingnya. “Ya,” katanya. “Ada yang baru, di masa nenekku, tapi pergi ke daratan. Dia adalah seorang wanita. Kurasa ada yang tua di desa.” Dia mengangguk ke arah pulau itu. “Ibuku pernah melihatnya sekali.”

“Jika kamu bisa, apakah kamu ingin hidup lama?”

“Tentu!” Katanya, dengan antusias sebanyak Yendian mampu melakukannya. “Tentu saja.”

“Tapi kamu tidak ingin menjadi abadi. Kamu pakai kasa anti-lalat.”

Dia mengangguk. Dia tidak melihat apapun untuk dibahas dalam semua ini. Dia sedang memancing dengan sarung tangan kasa, melihat dunia melalui kasa. Itulah hidup.

Pemilik toko mengatakan kepadaku bahwa kau bisa berjalan ke desa dalam sehari dan menunjukkan jalannya kepadaku. Induk semangku yang putus asa mengemaskan makan siangku. Aku berangkat keesokan paginya, pada awalnya dikerubungi oleh kawanan lalat. Jalannya yang menjemukkan melintasi bentang darat yang rendah dan lembab, tapi matahari terasa teduh dan menyenangkan, dan lalat akhirnya menyerah. Yang mengejutkanku, aku sampai di desa sebelum aku lapar untuk makan siang. Penduduk pulau harus berjalan pelan dan jarang-jarang. Ini pasti desa yang tepat, karena mereka hanya berbicara tentang sebuah “desa”, tanpa sebuah nama.

Desanya kecil dan miskin dan menyedihkan: enam atau tujuh gubuk kayu, sedikit ditinggikan untuk menjauhkan mereka dari lumpur. Unggas, seperti ayam mutiara tapi kecokelatan, bergerak ke sana-kemari, membuat keributan yang parau. Beberapa bocah melarikan diri dan bersembunyi saat aku mendekat.

Dan di sana, bersandar di samping sumur desa, adalah yang digambarkan Postwand, seperti yang telah diterangkannya — tanpa kaki, tanpa alat kelamin, wajahnya hampir tidak berbentuk, buta, dengan kulit seperti roti yang terbakar parah, dan rambutnya tebal, kusut, putih kotor.

Aku berhenti, ngeri.

Seorang wanita keluar dari pondok tempat anak-anak berlari. Dia menuruni tangga reyot dan menghampiriku. Dia memberi isyarat pada translatomatku, dan aku secara otomatis memeganginya agar dia bisa berbicara lewat itu.

“Kau datang untuk menemui Keabadian,” katanya.

Aku mengangguk.

“Dua radlo lima puluh,” katanya.

Aku mengeluarkan uang itu dan memberikan padanya.

“Lewat sini,” katanya. Dia berpakaian kumal dan tidak bersih, tapi wanita berwajah rupawan, berusia tiga puluh lima tahun, dengan keteguhan dan semangat yang tidak biasa dalam suara dan gerakannya.

Dia membawaku langsung ke sumur dan berhenti di depan yang disandarkan di kursi nelayan kanvas tanpa kaki di sampingnya. Aku tidak bisa melihat wajah itu, juga tangan yang terluka parah. Lengan lainnya ada kerak hitam di atas siku. Aku berpaling darinya.

“Kau sedang melihat ke Keabadiaan desa kami,” kata wanita itu seperti pemandu wisata yang terlatih. “Sudah berabad-abad bersama kami. Selama lebih dari seribu tahun itu milik keluarga Roya. Dalam keluarga ini adalah tugas dan kebanggaan kami untuk merawat Keabadiaan. Jam makan pukul enam pagi dan pukul enam sore. Ia hidup dengan susu dan kaldu jelai. Punya nafsu makan yang baik dan menikmati kesehatan yang baik tanpa penyakit. Tidak punya udreba. Kakinya hilang saat terjadi gempa seribu tahun yang lalu. Juga rusak oleh api dan kecelakaan lainnya sebelum dibawa ke perawatan keluarga Roya. Legenda keluargaku mengatakan bahwa Keabadian pernah menjadi pemuda tampan yang mencari nafkah untuk banyak kehidupan orang normal dengan berburu di rawa-rawa. Itu dua atau tiga ribu tahun yang lalu. Keabadiaan tidak dapat mendengar apa yang kau katakan atau melihatmu, tapi dengan senang hati menerima doa untuk kesejahteraan dan persembahan untuk dukungannya, karena sangat bergantung pada keluarga Roya untuk makanan dan tempat berlindung. Terima kasih banyak. Aku akan menjawab pertanyaan.”

Setelah beberapa lama aku berkata, “Dia tidak bisa mati.”

Dia menggelengkan kepalanya. Wajahnya tidak biasa; bukan tidak berperasaan, tapi tertutup.

“Kau tidak memakai kain kasa,” kataku, tiba-tiba menyadari hal ini. “Anak-anak tidak. Bukankah kau—”

Dia menggelengkan kepalanya lagi. “Terlalu merepotkan,” katanya dengan suara tenang dan tidak resmi. “Anak-anak selalu merobek kasa. Bagaimanapun, kita tidak memiliki banyak lalat. Dan hanya ada satu.”

Memang benar lalat itu sepertinya tertinggal, di kota dan ladang yang sangat terawat di dekatnya.

“Maksudmu hanya ada satu yang abadi pada satu waktu?”

“Oh, tidak,” katanya. “Ada yang lain di sekitar sini. Di tanah. Terkadang orang menemukannya. Suvenir. Yang benar-benar tua. Punya kami masih muda, kau tahu.” Dia menatap Keabadian dengan mata lelah tapi berperasaan, seperti seorang ibu melihat bayi yang tidak menjanjikan.

“Berliannya?” kataku. “Berlian itu abadi?”

Dia mengangguk. “Setelah sekian lama,” katanya. Dia memalingkan muka, menyeberangi dataran berawa yang mengelilingi desa, dan kemudian kembali ke arahku. “Seorang pria berasal dari daratan, tahun lalu, seorang ilmuwan. Dia bilang kami harus mengubur Keabadiaan kita. Agar bisa berubah menjadi berlian, kau tahu. Tapi kemudian dia mengatakan butuh waktu ribuan tahun. Sepanjang waktu itu akan kelaparan dan haus di tanah dan tak seorang pun akan menjaganya. Sangat salah mengubur seseorang yang masih hidup. Adalah tugas keluarga kami untuk merawatnya. Dan tidak ada turis yang mau datang.”

Sekarang giliranku mengangguk. Kesusilaan dalam situasi ini berada di luar jangkauanku. Aku menerima pilihannya.

“Apakah kau ingin memberi makan?” tanyanya, sepertinya menyukai sesuatu tentangku, karena dia tersenyum padaku.

“Tidak,” kataku, dan aku harus mengakui bahwa aku menangis tersedu-sedu.

Dia mendekat dan menepuk pundakku.

“Sangat menyedihkan,” katanya. Dia tersenyum lagi. “Tapi anak-anak suka memberi makan,” katanya. “Dan uangnya membantu.”

“Terima kasih telah bersikap baik,” kataku sambil menyeka mataku, dan aku memberinya lima radlo lagi, yang dia terima dengan penuh syukur. Aku berbalik dan berjalan kembali melintasi dataran berawa ke kota, di mana aku menunggu empat hari lagi sampai kapal saudari itu datang dari barat, dan pemuda yang baik membawaku ke perahu, dan aku meninggalkan Pulau Keabadiaan, dan segera setelah itu aku meninggalkan Daratan Yendian.

Kita adalah bentuk kehidupan berbasis karbon, seperti yang para ilmuwan katakan, tapi bagaimana tubuh manusia bisa berubah menjadi berlian yang tidak kuketahui, kecuali melalui beberapa faktor spiritual, mungkin akibat dari penderitaan yang benar-benar tak ada habisnya.

Mungkin “berlian” hanyalah nama yang diberikan orang Yendia pada benjolan kehancuran ini, semacam eufemisme.

Aku masih belum yakin apa arti wanita di desa saat dia berkata, “Hanya ada satu.” Dia tidak mengacu pada keabadian. Dia menjelaskan mengapa dia tidak melindungi dirinya sendiri atau anak-anaknya dari lalat, mengapa dia merasa risikonya tidak sebanding dengan masalahnya. Ada kemungkinan bahwa yang dia maksud adalah bahwa di antara kawanan lalat di pulau itu hanya ada satu lalat, satu lalat abadi, yang gigitannya menulari korbannya dengan kehidupan kekal.

*

Diterjemahkan dari The Island of the Immortals di Lightspeed Magazine. Tak banyak penulis fiksi-sains yang mampu memberi genre ini dimensi sosial-politik yang sangat dalam dan luas sepertinya; sebagian besar berhenti hanya sebagai “fantasi”. Ursula Kroeber Le Guin salah satunya.

Kategori
Catutan Pinggir

Blade Runner 2049 dan Kapitalisme Pasca-Manusia

in5lotdtqvk5tal8bvyh

Bagaimana kapitalisme dan hubungannya dengan prospek pasca-kemanusiaan? Sering dibilang kalau kapitalisme adalah (lebih) historis, sementara kemanusiaan kita, termasuk perbedaan seksual, lebih mendasar, bahkan ahistoris. Namun, apa yang kita saksikan saat ini tidak lain adalah usaha untuk mengintegrasikan jalan menuju pasca-kemanusiaan menjadi kapitalisme. Inilah penguasahaan para guru miliarder baru seperti Elon Musk; Prediksi mereka bahwa kapitalisme “seperti yang kita kenal” akan berakhir itu mengacu pada kapitalisme “manusia”, dan bagian yang mereka bicarakan adalah bagian dari kapitalisme “manusia” ke kapitalisme pasca-manusia. Blade Runner 2049 membahas topik ini.

Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah: Mengapa fakta bahwa dua replika (Deckard dan Rachael) membentuk pasangan seksual dan menciptakan manusia secara manusiawi, mengalami peristiwa traumatis semacam itu, yang dirayakan oleh beberapa orang sebagai sebuah keajaiban dan dikecam oleh yang lain sebagai sebuah ancaman? Apakah ini tentang reproduksi atau seks, dengan kata lain, tentang seksualitas dalam bentuk spesifik manusia? Film ini berfokus secara eksklusif pada reproduksi, sekali lagi mengabaikan pertanyaan besar: Dapatkah seksualitas, dihilangkan dari fungsi reproduksinya, bertahan ke era pasca-manusia? Citra seksualitas tetap menjadi baku. Laku seksual ditunjukkan dari sudut pandang laki-laki, sehingga android wanita dengan daging dan darah direduksi menjadi materi pendukung fantasi hologram wanita yang diciptakan Joi untuk melayani para pria: “dia harus tumpang tindih dengan tubuh orang yang sebenarnya, jadi dia terus-menerus tergelincir di antara dua identitas tersebut, menunjukkan bahwa wanita itu adalah subjek yang benar-benar terbagi, serta daging dan darah lainnya hanya berfungsi sebagai wahana fantasi.”[1] Adegan seks di film ini sangat “Lacanian” (seperti dalam film Her), mengabaikan hetero-seksualitas otentik di mana pasangannya bukan hanya dukungan bagi diri untuk memberlakukan fantasi diri tapi yang Liyan sesungguhnya. [2] Film ini juga gagal untuk mengeksplorasi perbedaan antagonis potensial di antara android, yaitu antara android “dengan daging sungguhan” dan sebuah android yang tubuhnya hanya merupakan proyeksi hologram 3D. Bagaimana, dalam adegan seks, wanita android dengan daging dan darah mempertalikan dirinya yang direduksi jadi bahan pendukung fantasi laki-laki? Mengapa dia tidak menolak dan menyabotasenya?

Film ini menyediakan keseluruhan mode eksploitasi, termasuk pengusaha setengah ilegal yang memakai pekerja anak dari ratusan anak yatim piatu untuk mengais mesin digital tua. Dari sudut pandang Marxis tradisional, pertanyaan aneh timbul di sini. Kalau android dipekerjakan, apakah eksploitasi masih beroperasi di sini? Apakah kerja mereka menghasilkan nilai yang melebihi nilai mereka sendiri sebagai komoditas, sehingga sreg dengan pemiliknya sebagai nilai lebih?

Kita harus mencatat bahwa gagasan untuk meningkatkan kapasitas manusia untuk menciptakan pekerja atau tentara pasca-manusia yang sempurna memiliki sejarah panjang di abad ke-20. Pada akhir 1920-an, tidak lain Stalin yang untuk beberapa waktu secara finansial mendukung proyek “manusia-kera” yang diajukan oleh ahli biologi Ilya Ivanov (pengikut Bogdanov, sasaran kritik Lenin dalam Materialism and Empirio-Criticism). Idenya adalah bahwa dengan cara menggabungkan manusia dan orangutan, akan tercipta pekerja dan tentara sempurna yang tidak tahan terhadap rasa sakit, kelelahan dan makanan yang buruk. (Rasisme dan seksisme Ivanov yang spontan, tentu saja, mencoba untuk memasangkan manusia laki-laki dan kera perempuan. Ditambah lagi, manusia yang dia gunakan adalah pejantan hitam dari Kongo karena mereka secara genetik mendekati kera, dan negara Soviet membiayai sebuah ekspedisi mahal ke Kongo.) Ketika eksperimennya gagal, Ivanov dilikuidasi. Selanjutnya, Nazi juga secara teratur menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan kebugaran tentara elit mereka, sementara tentara AS bereksperimen dengan perubahan genetik dan obat-obatan untuk membuat para tentara tahan banting (mereka sudah memiliki pilot yang siap terbang dan berkelahi selama 72 jam tanpa henti).

mv5bota4zmu4njetywq1yi00m2jjltllogqtmzuxzdmynwq1n2fhxkeyxkfqcgdeqxvymdgynja5ma-_v1_

Dalam domain fiksi, seseorang harus memasukkan zombie ke dalam daftar ini. Film horor mendaftarkan perbedaan kelas dengan kedok perbedaan antara vampir dan zombie. Vampir itu sopan, indah, aristokrat. Mereka hidup di antara orang normal, sementara zombie kikuk, lembam, kotor, dan menyerang dari luar, seperti pemberontakan primitif dari yang dikucilkan. Persamaan antara zombie dan kelas pekerja langsung dibuat dalam White Zombie (1932, Victor Halperin), sebelum film zombie Hays Code pertama. Tidak ada vampir dalam film ini. Tapi, secara signifikan, penjahat utama yang mengendalikan zombie dimainkan oleh Bela Lugosi, yang menjadi terkenal sebagai Dracula. White Zombie berlatar di sebuah perkebunan di Haiti, tempat pemberontakan budak yang paling terkenal. Lugosi menerima pemilik perkebunan lain dan menunjukkan kepadanya pabrik gula tempat para pekerja menjadi zombie, seperti yang Lugosi cepat jelaskan, jangan mengeluh tentang jam kerja yang panjang, jangan menuntut serikat pekerja, jangan pernah menyerang, tapi teruskan dan terus bekerja … sebuah film yang mungkin ada hanya sebelum film-film zombie Hays Code.

Dalam formula sinematik standar, sang pahlawan, yang hidup sebagai (dan berpikir dia) orang biasa, mendapati dirinya adalah sosok yang luar biasa dengan misi khusus. Dalam Blade Runner 2049, K sebaliknya mengira dia adalah sosok spesial yang dicari semua orang (anak dari Deckard dan Rachael), namun secara bertahap menyadari bahwa (seperti banyak replika lainnya) dia hanyalah seorang replika biasa yang terobsesi dengan ilusi kebesaran. Jadi, dia akhirnya mengorbankan dirinya untuk Stelline, sosok luar biasa yang dicari semua orang. Tokoh misterius Stelline sangat penting di sini: dia adalah putri “nyata” (manusia) dari Deckard dan Rachael (hasil persetubuhan mereka), yang berarti seorang putri manusia dari replika, memutar balik proses replika buatan manusia. Tinggal di dunia terisolasi, tidak dapat bertahan di tempat terbuka yang dipenuhi dengan tanaman dan kehidupan binatang yang nyata, tetap steril sekali (gaun putih di ruangan kosong dengan dinding putih), kontaknya dengan kehidupan yang terbatas pada alam maya yang dihasilkan oleh mesin digital, dia idealnya diposisikan sebagai pencipta mimpi: dia bekerja sebagai kontraktor independen, memprogram kenangan palsu untuk ditanamkan ke dalam replika. Dengan demikian, Stelline mencontohkan ketidakhadiran (atau bahkan kemustahilan) hubungan seksual, yang dia lakukan dengan permadani fantasmatik yang kaya. Tak heran bila pasangan yang tercipta di akhir film bukan pasangan seksual standar tapi pasangan aseksual seorang ayah dan seorang anak perempuan. Inilah sebabnya mengapa sorotan terakhir dari film ini begitu akrab dan aneh pada saat bersamaan: K mengorbankan dirinya sendiri dengan isyarat seperti Kristus di atas salju untuk menciptakan … pasangan ayah-anak perempuan.

Apakah ada kekuatan penebusan dalam perjumpaan ini? Atau haruskah kita membaca ketertarikannya terhadap latar belakang keheningan simtomatik film tentang antagonisme di antara manusia di masyarakat yang digambarkannya? Dimana “kelas bawah” manusia berdiri? Namun, film tersebut membuat dengan baik pertentangan yang melukai elite penguasa itu sendiri dalam kapitalisme global kita: antagonisme antara Negara Bagian dan aparaturnya (dipersonifikasikan oleh Joshi) dan perusahaan besar (dipersonifikasikan oleh Wallace) mengejar kemajuan menuju akhir yang merusak dirinya sendiri. “Sementara posisi politik-legal negara bagian LAPD merupakan salah satu potensi konflik, Wallace hanya melihat potensi produktif revolusioner dari replikasi reproduksi sendiri, yang ia harap bisa memberinya pertengkaran dalam bisnisnya. Perspektifnya adalah salah satu pasar; dan ada baiknya melihat perspektif-perspektif kontradiktif Joshi dan Wallace ini, karena ini menunjukkan kontradiksi yang ada antara politik dan ekonomi; atau, secara berbeda, mereka dengan aneh menunjukkan persimpangan mekanisme negara kelas dan ketegangan dalam mode produksi ekonomi.”[3]

Meskipun Wallace adalah manusia sejati, dia sudah bertindak sebagai nonmanusia, seorang android yang dibutakan oleh keinginan yang berlebihan, sementara Joshi membela apartheid, karena pemisahan manusia dan replika yang ketat. Sudut pandangnya adalah bahwa, jika pemisahan ini tidak dilakukan, akan ada perang dan disintegrasi: “Jika seorang anak lahir dari ibu (atau orang tua) replika, apakah dia tetap menjadi replika? Jika dia memproduksi kenangannya sendiri, apakah dia masih replika? Sekarang apa yang menjadi garis pemisah antara manusia dan replika jika replika bisa mereproduksi dirinya sendiri? Apa yang menandai kemanusiaan kita?”[4]

Jadi bukankah kita, berkenaan dengan Blade Runner 2049, melengkapi deskripsi terkenal dari The Communist Manifesto, menambahkan bahwa seksual “satu sisi dan pemikiran sempit telah menjadi semakin tidak mungkin”; Juga dalam ranah praktik seksual, “semua yang padat menguap ke udara, semua yang suci menjadi ternodai,” sehingga kapitalisme cenderung menggantikan heteroseksualitas normatif baku dengan berkembangnya identitas dan/atau orientasi yang tidak stabil? Perayaan “minoritas” dan “marjinal” hari ini adalah posisi mayoritas yang dominan, dan bahkan kaum alt-right yang mengeluh tentang teror basa-basi politik liberal menghadirkan diri mereka sebagai pelindung minoritas yang terancam. Atau, ambillah kritikus patriarki yang menyerangnya seolah-olah masih merupakan posisi hegemonik, dengan mengabaikan apa yang ditulis oleh Marx dan Engels lebih dari 150 tahun yang lalu, di bab pertama Manifesto Komunis: “Kaum borjuis, dimanapun ia berada dengan tangan di atas, telah mengakhiri semua hubungan feodal, patriarki, idilis.” Pernyataan ini masih diabaikan oleh para ahli teori budaya Kiri yang memusatkan kritik mereka pada ideologi dan praktik patriarki. Belum lagi prospek bentuk baru dari android (yang dimanipulasi secara genetis atau biokimia), yang akan menghancurkan pemisahan antara manusia dan nonmanusia.

Mengapa generasi baru replika tidak memberontak? “Tidak seperti replika yang lama, replika baru tidak pernah memberontak, meski tidak jelas mengapa, selain karena diprogram untuk tidak melakukannya. Film ini, bagaimanapun, mengisyaratkan penjelasannya: perbedaan mendasar antara replika baru dan lama melibatkan hubungan mereka dengan kenangan palsu mereka. Replika yang lebih tua memberontak karena mereka percaya bahwa kenangan mereka nyata dan dengan demikian bisa merasakan keterasingan karena menyadari bahwa itu bukan kenyataan. Replika baru tahu dari awal bahwa ingatan mereka dipalsukan, jadi mereka tidak pernah tertipu. Intinya adalah bahwa penyangkalan fetishistik ideologi membuat subjek lebih diperbudak oleh ideologi daripada ketidaktahuan sederhana tentang fungsinya.”[5] Generasi baru replika-replika dicabut dari ilusi kenangan otentik, dari semua isi substansial keberadaan mereka, dan dengan demikian mengurangi kekosongan subjektivitas, dengan kata lain, pada status proletar murni dari substanzlose Subjektivitaet. Jadi, apakah fakta bahwa mereka tidak memberontak berarti pemberontakan harus dipertahankan oleh beberapa konten substansial minimal yang terancam oleh kekuatan yang menindas?

K mereka-reka kecelakaan palsu untuk membuat Deckard menghilang bukan hanya dari pengawasan negara dan kapital (Wallace) tapi juga dari pandangan replika pemberontak yang dipimpin oleh seorang wanita, Freysa — sebuah nama yang tentu saja menggemakan kebebasan, Freiheit dalam Jerman. Baik aparat negara, yang diwujudkan dalam Joshi, dan kaum revolusioner, yang menjelma dalam Freysa, menginginkan agar Deckard mati. Meskipun seseorang dapat membenarkan keputusannya karena Freysa juga menginginkan agar Deckard mati (sehingga Wallace tidak dapat menemukan rahasia reproduksi replika tersebut), namun keputusan K pada akhirnya memberi kisah dalam simpul konservatif-humanis: ia mencoba untuk membebaskan domain keluarga dari konflik sosial utama, menghadirkan kedua belah pihak sama brutalnya. Sisi tidak memihak ini mengkhianati kepalsuan film: semuanya terlalu humanis, dalam arti bahwa segala sesuatu bersirkulasi di sekitar manusia dan mereka yang ingin menjadi (atau dianggap sebagai) manusia atau mereka yang tidak mengenalnya bukan manusia (Apakah hasil biogenetika bukan berarti kita, manusia “biasa”, secara efektif adalah bahwa — manusia yang tidak tahu bahwa mereka bukan manusia, dengan kata lain, mesin neuron dengan kesadaran diri?) Pesan implisit humanis film ini adalah toleransi liberal: Kita harus memberi android dengan perasaan manusia (cinta, dll.) hak asasi manusia, memperlakukan mereka seperti manusia, mempersilahkannya masuk ke semesta kita … Tapi, dengan kehadiran mereka, apakah semesta kita tetap menjadi milik kita? Akankah tetap menjadi semesta manusia yang sama? Yang hilang adalah pertimbangan perubahan soal kehadiran android dengan kesadaran akan mengubah status manusia. Kita, manusia, tidak akan lagi menjadi manusia dalam arti biasa, jadi akankah sesuatu yang baru muncul? Dan bagaimana cara mendefinisikannya? Selanjutnya, berkaitan dengan perbedaan antara android dengan tubuh “sebenarnya” dan android hologram, sejauh mana pengakuan kita akan berlanjut? Haruskah juga replika hologram dengan emosi dan kesadaran (seperti Joi yang diciptakan untuk melayani dan memuaskan K) diakui sebagai entitas yang bertindak sebagai manusia? Kita harus ingat bahwa Joi, secara ontologis hanyalah sebuah replika hologram belaka tanpa tubuh sebenarnya, yang dalam film melakukan tindakan radikal untuk mengorbankan dirinya untuk K, sebuah tindakan yang dari sananya (atau lebih tepatnya, dia sendiri) tidak diprogram untuk begitu. [6]

Menghindari serangkaian pertanyaan ini hanya menyisakan pilihan pada sebuah perasaan nostalgia yang berupa ancaman (lingkup reproduksi seksual “pribadi” yang terancam), dan kepalsuan ini tertulis dalam bentuk visual dan naratif dalam film. Di sini, yang tertekan dalam bentuknya kembali muncul, tidak dalam arti bentuknya lebih progresif, namun dalam artian bentuk tersebut berfungsi untuk mengaburkan potensi progresif anti-kapitalis dari cerita tersebut. Irama yang lambat dengan citra yang estetis secara langsung mengekspresikan sikap sosial untuk tidak memihak, hanya mengalir secara pasif.

Jadi, apa hubungan otentik antara manusia dan replika? Mari kita mengambil contoh yang mengejutkan: Wind River (Taylor Sheridan, 2017), sebuah film yang menceritakan kisah Natalie Hanson, seorang gadis pribumi Amerika yang ditemukan diperkosa dan membeku di pertengahan musim dingin di reservasi Wyoming yang sunyi sepi. Cory, seorang pemburu yang kekasihnya juga menghilang tiga tahun yang lalu, dan Jane, seorang agen FBI muda, mencoba untuk mengungkap misteri itu. Pada adegan terakhir, Cory pergi ke rumah Hanson di mana dia menemukan Martin yang putus asa, ayah Natalie, duduk di luar dengan cat “wajah kematian” (campuran biru dan putih) di wajahnya. Cory bertanya kepadanya bagaimana dia bisa belajar melakukannya, yang Martin jawab: “Aku tidak tahu. Aku baru saja menyelesaikannya. Tidak ada yang tersisa untuk mengajarkannya.” Dia memberi tahu Cory bahwa dia hanya ingin membiarkan semuanya berlalu dan mati saat telepon berdering. Putranya (yang bandel) Chip meneleponnya, dibebaskan dari penjara, memintanya untuk menjemputnya di stasiun bus. Martin bilang dia akan melakukannya “segera setelah aku mencuci kotoran ini dari wajahku”: “Aku harus pergi dan mendapatkannya, akhirnya. Duduk saja sebentar di sini. Punya waktu untuk duduk dengan ku?” Cory berkata “iya”; Mereka duduk diam di sana, dan sebuah teks muncul dengan mengatakan bahwa statistik ada untuk setiap kelompok orang hilang kecuali wanita pribumi Amerika. Tidak ada yang tahu berapa banyak yang hilang.

Gil Birmingham and Jeremy Renner in Wind River (2017) CR

Keindahan singkat akhir ini sedikit dirusak hanya oleh kata-kata terakhir di layar ini (mereka nyatakan dengan jelas dan dengan demikian mengenalkan unsur objektivitas palsu ke dalam drama eksistensial yang ekstrem.) Masalah mendasarnya adalah ritual berkabung yang memungkinkan kita untuk bertahan hidup dari kerugian traumatis yang tak tertahankan, dan secercah harapan yang diberikan oleh pengakhirannya adalah bahwa Martin dan Cory akan dapat bertahan melalui ritual minimal yang hanya duduk diam. Kita seharusnya tidak menganggap enteng Martin “segera setelah aku mencuci kotoran ini dari wajahku” karena didasarkan pada kenyataan bahwa kematiannya tidak ada dalam cara otentik lama tapi hanya diimprovisasi olehnya: itu akan tetap “sial” bahkan jika itu harus dilakukan secara otentik. Martin telah benar-benar kehilangan substansi etniknya yang kuno; Dia sudah menjadi subjek modern yang tidak bisa mempraktekkan “wajah kematian” dengan perendaman penuh. Namun, keajaibannya adalah, meski dia tahu dan menganggap semua ini, berimprovisasi dengan wajah kematian dan hanya duduk di sana dengan itu bekerja sebagai otentik dalam improvisasinya yang sangat buatan. Ini mungkin sial, tapi sial bekerja dengan isyarat penarikan yang sangat minim dari pertunangan hidup. Kita harus ingat di sini bahwa Cory adalah orang kulit putih yang hidup di reservasi, dan apa yang Martin minta dia lakukan adalah tidak menunjukkan solidaritas dengan orang Amerika asli yang berduka dan berpartisipasi dalam sebuah ritual yang tidak berarti baginya: penghormatan yang merendahkan seperti itu terhadap sebuah budaya primitif adalah salah satu versi rasisme yang paling menjijikkan. Pesan permintaan Martin adalah bahwa dia berbagi dengan Cory jarak yang terakhir dirasakannya terhadap ritual pribumi Amerika. Jarak Cory – orang kulit putih – sudah menjadi milik Martin, dan inilah jarak yang membuat ritual itu asli, bukan bagian dari “pencelupan yang masuk akal menjadi budaya asli.” Tidakkah kita temukan di sini contoh lain dari sentuhan yang mencirikan garis Moebius? Ketika kita maju dari perendaman naif dalam ritual untuk pemberhentiannya sebagai sesuatu yang konyol, kita tiba-tiba menemukan diri kita kembali dalam ritual yang sama, dan fakta bahwa kita tahu itu semua sampah sama sekali tidak mengurangi khasiatnya.

Bisakah kita membayangkan sesuatu yang homolog terjadi antara manusia dan replika? Situasi di mana keduanya menciptakan dan berpartisipasi dalam ritual kosong yang sama? Sebuah ritual yang sama sekali tidak berarti – kita mencari dengan sia-sia untuk mendapatkan pesan yang lebih dalam yang tersembunyi di dalamnya – karena fungsinya semata-mata bersifat tautologis, atau seperti yang disebut Jakobson sebagai fatik?

Bila pertanyaan “haruskah android diperlakukan seperti manusia?” diperdebatkan, fokusnya biasanya pada kesadaran atau keinsafan: apakah mereka memiliki kehidupan batin? (Sekalipun ingatan mereka diprogram dan ditanam, mereka masih bisa berpengalaman sebagai orang yang autentik.) Mungkin, bagaimanapun, kita harus mengubah fokus dari keinsafan atau kesadaran ke alam bawah sadar: apakah mereka memiliki ketidaksadaran dalam pengertian Freudian yang tepat? Ketidaksadaran bukanlah dimensi irasional yang lebih dalam tapi apa yang Lacan sebut sebagai “adegan lain” virtual yang menyertai konten sadar subjek. Mari kita contoh yang agak tak terduga. Ingat lelucon terkenal dari Ninotchka dari Lubitsch: “‘Pelayan! Secangkir kopi tanpa krim, tolong!’ ‘Saya minta maaf, tuan, kami tidak punya krim, hanya susu, jadi bagaimana kalau kopi tanpa susu?'” Pada tingkat faktual, kopi itu tetaplah kopi yang sama, tapi apa kita bisa mengubahnya adalah membuat kopi tanpa krim menjadi kopi tanpa susu – atau, lebih tepatnya, untuk menambahkan implikasi tersirat dan membuat kopi biasa menjadi kopi tanpa susu. Perbedaan antara “kopi biasa” dan “kopi tanpa susu” murni virtual; Tidak ada bedanya dengan secangkir kopi biasa. Dan hal yang sama juga berlaku untuk ketidaksadaran Freudian: statusnya juga murni virtual. Ini bukan realitas psikis “lebih dalam”, dan, singkatnya, tidak sadar seperti “susu” dalam “kopi tanpa susu.” Dan di situlah tempat tangkapannya. Dapatkah digital besar lain yang mengenal kita lebih baik daripada yang kita ketahui sendiri juga membedakan antara “kopi biasa” dan “kopi tanpa susu”? Atau apakah lingkup kontraktual berada di luar lingkup digital besar lainnya yang dibatasi pada fakta di lingkungan otak dan sosial kita yang tidak kita sadari? Perbedaan yang kita hadapi di sini adalah perbedaan antara fakta “tidak sadar” (neuronal, sosial …) yang menentukan kita dan “tidak sadar” Freudian yang statusnya murni kontrafaktual. Domain kontekstual ini hanya bisa beroperasi jika ada subjektivitas. Untuk menyatakan perbedaan antara “kopi biasa” dan “kopi tanpa susu,” subjek harus beroperasi. Dan, kembali ke Blade Runner 2049, bisakah replika menyatakan perbedaan ini?

*

[1] Todd MacGowan, komunikasi pribadi.

[2] Film ini hanya mengekstrapolasi tendensi, yang sudah booming, dari boneka silikon yang lebih sempurna dan lebih sempurna. Lihat Bryan Appleyard, “Falling in Love with Sexbots,” The Sunday Times, 22 Oktober 2017, hlm. 24-25: “Robot seks mungkin segera berada di sini dan sampai 40% pria tertarik untuk membelinya. Cinta satu arah mungkin merupakan satu-satunya roman masa depan. “Alasan kekuatan dari kecenderungan ini adalah bahwa hal itu benar-benar tidak membawa sesuatu yang baru: ia hanya mengaktualisasikan prosedur khas pria untuk mengurangi pasangan sebenarnya menjadi pendukung fantasinya.

[3] Matius Flisfeder, “Beyond Heaven and Hell, This World is All We’ve Got: Blade Runner 2049 in Perspective,” Red Wedge. 25 Oktober 2017.

[4] Flisfeder, op.cit.

[5] Todd MacGowan, komunikasi pribadi.

[6] Saya berhutang pada Peter Strokin, Moskow.

***

Diterjemahkan dari artikel The Philosophical Salon berjudul Blade Runner 2049: A View of Post-Human Capitalism.

Slavoj Žižek adalah filsuf seleb dan kritikus Marxis dari Slovenia. Salah satu pemikir paling ngepop hari ini, mendapat pengakuan internasional sebagai teoretikus sosial setelah penerbitan buku pertamanya, “The Sublime Object of Ideology”. Kontributor reguler surat kabar seperti The Guardian, Die Zeit dan The New York Times. Dijuluki sebagai Elvis-nya teori budaya.

Kategori
Movie Enthusiast

Top 5 Film Christopher Nolan

“Ini seperti membaca novel Haruki Murakami,” sebut Ellen Page yang berperan sebagai Ariadne di film Inception (2010), “Ini memang fantasi, tapi bukannya merasa seperti dunia sureal yang aneh justru film ini terasa sangat jujur.”

Ya, kalau dalam dunia sastra ada Haruki Murakami, maka untuk perfilman ada Christopher Nolan. Mereka berdua sama-sama pandai meramu beragam genre. Nolan membuat film bergenre science-fiction, dia juga bikin film superhero. Dan kita bisa merasakan bahwa film science-fiction dan superhero buatan Nolan sungguh-sungguh berbeda. Sama halnya dengan Murakami dalam novel. Lintas genre. Film Nolan selalu berakar pada filosofis, sosiologis dan konsep etis, menjelajah moralitas manusia, konsep pembangunan waktu serta memori dan identitas pribadi. Karya-karyanya juga menyerap elemen metafiksi, pergeseran temporal, perspektif solipsistik, cerita nonlinier, efek khusus yang praktis, dan komparasi antara bahasa visual dan elemen narasi.

Produser, sutradara dan screenwriter Christopher Jonathan James Nolan lahir pada 30 Juli 1970 di London ini dikenal karena gaya berceritanya yang nonlinier. Selama 15 tahun bergelut dalam pembuatan film, Nolan telah membuat film independen dengan anggaran rendah sampai bekerja pada beberapa film blockbuster besar.

5. The Dark Knight Trilogy (2005, 2008, 2012)

Film superhero yang nggak hanya bermodal aksi-aksi dan efek visual berlebihan.

4. Interstellar (2014)

“Once you’re a parent, you’re the ghost of your children’s future,” ucap Cooper. Sebuah kutipan paling berkesan dari film ini, selebihnya, silahkan saja nikmati film sains fiksi super ciamik ini.

3. Inception (2010)

Gara-gara film ini bikin saya belajar yang namanya Lucid Dream, dan gali pengetahuan soal tidur serta dunia mimpi. Dan berkat film inilah saya jadi suka Music Director bernama Hans Zimmer.

2. The Prestige (2006)

Batman vs Wolverine! 😆

1. Memento (2000)

Pokoknya tonton film ini, dan bagi yang baru pertama kali nonton siap-siap aja sakit kepala pas beresnya.

Kategori
Celotehanku

Science-Fiction ala Murakami

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World itu apa? Science-fiction? Fantasi?” tanya G.

No,” kata Bernard Batubara sembari tersenyum. “It’s just a Murakami novel.”

Karena sangat menyukai novel ini sampai-sampai Bang Bara nggak tahu novel itu harus digolongkan ke kategori yang mana, tulisnya dalam pos Haruki Murakami yang Tak Terkategorisasi. Bukan sastra, fantasi, science-fiction, atau apapun, hanya Novel Murakami.

Belum banyak yang saya baca, baru Dengarlah Nyanyian Angin, Kafka On The Shore, dan Norwegian Wood, serta beberapa cerita pendeknya, namun saya sudah bisa melihat pola dan merasakan nikmatnya menyelami karya-karya Murakami. Semua novel tadi saya baca versi terjemahannya, dan Hard-Boiled Wonderland and the End of the World inilah novel dalam bahasa Inggris pertama yang bisa saya nikmati. Saya awalnya pesimis bisa menamatkan novel dengan 400 halaman ini, mengingat sebelumnya harus susah payah dalam membaca The Metamorphosis-nya Franz Kafka yang cuma 50an halaman, itupun nggak paham betul ceritanya. Ajaibnya saya bisa melahap novel Murakami ini seperti sedang membaca novel berbahasa Indonesia saja.

hard-boiled wonderland and the end of the world haruki murakami

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World pertama kali dirilis di Jepang pada 1985 ketika Murakami berusia 36 tahun. Tema dan teknik penulisan di novel ini yang akan banyak ditemui di karya-karya Murakami selanjutnya, tentang perkawinan antara realitas kehidupan urban dengan surrealisme, fantasi, dan nuansa psychedelic. Juga tentang obsesi familiar Murakami soal novel klasik, musik, masakan, hewan dan area bawah tanah.

Selain Tokyo versi Murakami merupakan kota yang penuh bumbu magis, ini adalah kota yang telah diwesternisasi. Maksudnya kita bisa menemukan beragam alusi kebudayaan populer dari Amerika dan British. Supir taksi yang membicarakan The Police, pelayan rental mobil yang tergila-gila dengan Bob Dylan, percakapan soal novel-novel klasik, dan beragam referensi lainnya.

Ada dua plot cerita dalam novel ini, seperti yang bakal kita temukan juga di Kafka on the Shore dan 1Q84. Plot pertama bercerita tentang campuran antara kisah spionase dan fiksi ilmiah, dipenuhi dengan beragam tindak kriminal, intrik, dan teknologi-teknologi aneh yang latar tempatnya sendiri di Tokyo. Dengan menampilkan seorang Calcutec, pekerja yang bertugas dalam pengolahan, penyimpanan, dan rekayasa data, yang semuanya ini dilakukan melalui otaknya. Mengingatkan kita pada cerita Johny Mnemonic, saya bahkan membayangkan tokoh ‘Aku’ itu bertampang layaknya Keanu Reeves yang jadi aktor film adaptasinya yang dirilis tahun 1995 itu.

Alur cerita kedua menawarkan kisah fabel, mitologi, sekaligus psikologi analitisnya Jung. Berlokasi di sebuah kota bernama End of The World, dengan tokohnya sendiri yang harus meninggalkan bayangannya (dalam arti harfiah) dan diberi tugas untuk jadi seorang Dreamreader. Di dunia mimpi ini, semuanya ada, sekaligus nggak ada apa-apa. Sebuah utopia, sekaligus distopia.

Kedua plot tadi berhubungan satu sama lain, dalam kerangka realitas dalam sebuah realitas. Tokoh-tokoh di novel ini nggak diberi nama, seperti dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin. Ada professor, chubby girl, librarian, Gatekeeper, Colonel dan lainnya. Tapi pemaparan tiap tokohnya begitu detail, serasa sesosok yang asli.

Lantas apa genre dari novel ini? Sebenarnya saya sendiri tak terlalu mempermasalahkan bahwa novel ini harus dikategorikan ke salah satu genre atau bagaimana. Tapi kalau ditanya soal ini, saya akan dengan mudah mengatakan bahwa ini novel bergenre fiksi ilmiah, apalagi jika mengikuti plot cerita utama, sangat kental terasa. Kalau dalam film, Murakami ini adalah Christopher Nolan. Dia membuat film bergenre science-fiction semacam Inception dan Interstellar, dia juga bikin film superhero, The Dark Knight. Dan kita bisa merasakan bahwa film science-fiction dan superhero buatan Nolan sungguh-sungguh berbeda. Sama halnya dengan Murakami dalam novel. Lintas genre.

Tapi saya setuju sih dengan pendapat Bang Bara kalau ada yang namanya novel tak terkategorisasi, novel Murakami ini dan ya novel bagus biasanya memuat banyak ‘genre’ di dalamnya.