Kategori
Fotografi

Socrates dan Street Photography

matt stuart

Suatu hari Socrates berjalan-jalan bersama seorang muridnya, Phaedrus, sampai mereka tiba di batas luar kota Athena. Tiba-tiba Socrates menyatakan kekagumannya terhadap keindahan pemandangan alam yang membentang di hadapannya – kelihatan seperti orang yang kurang piknik. Terheran-heran Phaedrus bertanya, “Apakah sepanjang umurmu tinggal di Athena ini belum pernah menyaksikan pemandangan di pinggir kota ini?”

“Benar, sahabatku…, tetapi ketimbang pepohonan yang tumbuh di padang membentang ini, aku lebih tertarik pada orang-orang yang bisa kuajak bercakap-cakap,” ungkap Socrates, “sebab dari merekalah bisa kugali pengetahuan dan kearifan, tidak pepohonan itu.”

Kategori
Bandung Celotehanku

Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Caspar_David_Friedrich_-_Wanderer_above_the_sea_of_fog
Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Di tengah siang yang terik dan kuno, terlihat Socrates dengan pakaian gembelnya sedang keluyuran, gudag-gidig di seputaran pasar Athena. Edan, sang filsuf ini ujug-ujug berdiskusi soal Tuhan dengan seorang penjual ikan: menjelaskan kalau dewa-dewi nggak ada. Ini bukan satu dua kali, tapi gurunya Plato ini sudah kelewat sering. Karena dianggap subversif, maka hukum minum racun menghadapinya. Ya, hukuman memang selalu menimpa kepada mereka yang serba ingin tahu dan banyak tahu.

Berabad-abad kemudian, tindakan sokratik ini, khususnya di kegiataan jalan-jalan nggak jelas di pusat perkotaan, diamalkan oleh para kaum borjuis Prancis. Dari cendekia, filsuf, penulis, pelukis, atau seniman yang ingin mencari inspirasi ya keluyuran sendirian di jalanan Paris.