Kategori
Catutan Pinggir

Nasihat Cinta dari Nietzsche dan Sartre

paris-bridge-1024

Memagut bibir dan mengunci jemari tidak terlalu berbahaya, tetapi mengunci ke dalam cinta adalah hal yang sangat berbahaya — baik secara kiasan maupun secara harfiah. Pecinta di abad dua puluh satu begitu erat dengan metafora tadi, yang mana pada tahun 2015, Pont des Arts di Paris harus dilepaskan dari beban empat puluh lima ton gembok yang begitu memberatkan, yang dipasang oleh para pecinta itu. Kunci-kuncinya, yang dilemparkan ke bawah, menjadi sampah di Sungai Seine. Sementara gembok cinta Paris dilelang untuk mengumpulkan uang buat amal, gembok-gembok macam begini masih menutupi beragam memorial di seluruh dunia — dari jembatan lain di Paris, ke Jembatan Brooklyn, ke pagar di Hawaii dan Australia. Para perencana kota kini menjadi jagoan-jagoan kebetulan dalam perang suci melawan obsesi ini, meskipun fenomena ini tetap ada walau upaya terbaik mereka untuk menggagalkannya telah dikerahkan.

Friedrich Nietzsche mungkin kecewa, tetapi tidak terkejut, mengetahui bahwa kita masih terobsesi dengan kunci gembok untuk melambangkan cinta. Cinta, pikirnya, bisa menjadi “naluri yang paling suci” dan “stimulus terbesar kehidupan.” Tetapi seringnya, cinta bermanifestasi sebagai keinginan untuk memiliki yang rakus dan dekaden. Seperti yang dipikirkan Nietzche, pecinta terlalu sering bertindak seperti “sang naga yang menjaga timbunan emasnya” dan memperlakukan seekor kekasih seperti burung eksotis— “sebagai sesuatu yang harus dikurung untuk mencegahnya terbang menjauh.” Rantai bisa menyamankan, seperti lengan kekasih, tetapi Nietzche adalah pendukung untuk membebaskan diri kita dari belenggu kecil mitologi romantis ini, terutama ideal untuk mengamankan cinta. Cinta adalah sebuah perasaan, dan tidak masuk akal untuk berpikir — apalagi bersumpah — bahwa kita akan terus memiliki perasaan tersebut sampai kematian memisahkan kita.

Jean-Paul Sartre, yang membaca (dan mengejek dengan kejam) Nietzsche di perguruan tinggi, menghabiskan sebagian besar waktunya meminum minuman beralkohol di kafe Saint-Germain-des-Prés yang hanya beberapa langkah dari Pont des Arts, mencoret-coret di buku catatan, dan mengejar perempuan muda yang cantik. Sebagai jago kebebasan eksistensial, Sartre berpendapat bahwa untuk menerima pandangan orang lain tentang bagaimana Anda seharusnya hidup merupakan semacam penipuan diri yang ia labeli ‘itikad buruk’, mauvaise foi. Tak berteman dengan norma-norma borjuis, ia berpendapat bahwa masing-masing dari kita bertanggung jawab atas pilihan hidup kita sendiri. Seseorang yang bebas seharusnya tidak mengunci dirinya dalam suatu hubungan yang bisa menjadi kandang yang tak nyaman. Buang kunci itu, dan Anda membuang kebebasan Anda. Bersikap bebas adalah memiliki kemungkinan untuk mengubah arah, mendefinisikan kembali diri Anda sendiri, dan menjungkirbalikkan gambaran orang lain tentang apa yang seharusnya Anda lakukan.

Menurut Sartre, cinta hanya ada dalam tindakannya. Jadi jika membeli gembok kuningan dan meninggalkannya, bersama dengan ribuan lainnya, untuk memberatkan monumen bagi Anda merupakan tindakan cinta yang istimewa, indah, dan bermakna, Sartre mungkin tidak akan menghentikan Anda. Namun, dia akan meragukan keotentikan sebuah tindakan macam begitu. Gembok cinta bukanlah tradisi kuno tetapi sebuah tren yang dimulai di Roma pada tahun 2006 setelah popularitas buku (dan film adaptasinya) I Want You, oleh Federico Moccia. Dalam cerita itu, dua kekasih mengunci rantai di sekitar tiang lampu di Ponte Milvio di Roma dan melemparkan kunci ke Sungai Tiber. Hal itu melambangkan gagasan bahwa mereka akan selalu menjadi milik satu sama lain.

Simbol kunci gembok mungkin tampak sangat bertentangan dengan pandangan cinta eksistensial. Begitu kunci telah dibuang, tidak ada jalan keluar. Namun Sartre menggunakan metafora yang sama secara berbeda, menunjukkan bahwa kekasih dapat bertindak bukan sebagai gembok tetapi sebagai kunci untuk membuka kehidupan batin Anda. Tanpa seseorang yang meneliti, melibatkan diri, dan menghargai Anda, mungkin ada aspek-aspek diri Anda yang akan tetap selamanya tak terlihat. Keintiman seorang kekasih dapat mengungkapkan keinginan dan sikap tersebut.

Bagi Sartre, sukacita cinta adalah ketika kita merasa aman dalam kepemilikan kita satu sama lain dan menemukan makna hidup kita di dalam dan melalui orang lain. Masalahnya adalah ini hanya ilusi. Tidak ada yang aman tentang cinta romantis. Karena kekasih bebas memilih untuk menjalin hubungan, mereka juga bebas untuk pergi, dan ini membuat cinta terus-menerus rentan. Menurut Sartre, hal ini mendorong para pecinta ke lingkaran setan dari permainan kekuatan sadomasokistik. Mereka mencoba untuk mengendalikan satu sama lain dan menuntut jenis kepemilikan yang diindikasikan oleh gembok. Hasilnya adalah para pencinta akhirnya mencoba untuk merampas kebebasan mereka satu sama lain tanpa pernah sepenuhnya mencapai kepemilikan yang mereka inginkan, itulah mengapa Sartre menyimpulkan bahwa cinta adalah konflik.

Tidak ada yang salah dengan berharap cinta itu akan bertahan. Bahkan, harapan yang bertahan akan membedakan romansa dari nafsu birahi. Bagi Sartre, kekasih mendefinisikan diri mereka dengan memilih untuk saling mencintai baik sekarang maupun di masa depan. Namun itulah paradoks dari cinta: kita tidak dapat mengetahui seperti apa kita di masa depan, dan sebanyak yang dapat kita pilih dengan bebas untuk melakukannya, untuk mengikat masa depan diri adalah penolakan kebebasannya sendiri.

Orang mungkin bertanya-tanya: Bisakah kita melepaskan keinginan untuk menjadi bal dan rantai bagi satu sama lain? Simone de Beauvoir tentu saja bertanya-tanya tentang hal itu dan berpendapat bahwa hubungan terbaik pasti otentik. Dalam hubungan yang otentik, kekasih menghormati kebebasan satu sama lain dan terus melatih dirinya sendiri. Beauvoir dan Sartre memiliki sebuah hubungan terbuka, sesuatu yang radikal dari konvensi sewaktu itu. Namun, mereka menuntut jaminan bahwa mereka adalah partner utama bagi masing-masing, yang mungkin telah menolak kebebasan tertentu dari mereka.

Sikap posesif sangat mendasar bagi pengalaman cinta, pikir Sartre, bahwa untuk mengatasi hasrat memiliki sang kekasih adalah mengatasi cinta itu sendiri. Namun dalam banyak hal, ia kurang menganjurkan gembok dan lebih memilih untuk menjadi kunci: Cinta itu seperti melemparkan diri dari jembatan ke Sungai Seine. Dibutuhkan keberanian untuk melompat ke dalam suatu hubungan, dan Anda tidak tahu di mana dan kapan Anda akan menetap, jika keadaan memungkinkan. Sartre tetap melakukannya — dan akan menyarankan agar kita juga melakukannya.

*

Diterjemahkan dari artikel di The Paris Review berjudul Advice on Love from Nietzsche and Sartre. Skye C. Cleary adalah penulis Existentialism and Romantic Love dan mengajar di Universitas Columbia, Barnard College, dan City College di New York.

Kategori
Celotehanku

Apa yang Dapat Saya Bicarakan Soal Saya dan Ngaleut

ngaleut the beatles

Hal terpenting yang kita pelajari di sekolah ialah fakta bahwa hal paling penting enggak dapat dipelajari di sekolah, tulis Haruki Murakami. Dalam What I Talk About When I Talk About Running-nya, ada beragam kalimat aduhai yang bisa dipinjam kalau-kalau ingin ditulis di caption Instagram, dan yang tadi adalah kalimat favorit saya. Karena memang, sesuai pengalaman hidup saya sejauh ini, Google justru lebih banyak mengajarkan saya ketimbang sekolah selama bertahun-tahun yang menguras kantong orangtua. Tentu saja, kita enggak bisa menampik, sekolah sangat penting, minimal untuk mendapat segenggam ijazah pun gelar.

Meniru Lao Tze, juga Kabayan, saya sebenarnya pemalas akut, juga skeptis dalam menjalani hidup, namun beruntungnya orang-orang selalu berpikir saya adalah seorang bijak bestari—memang dari nama mencerminkan itu. Tapi jika kau bertanya bagaimana cara belajar kebijaksanaan hidup, Google yang serba tahu pastinya bisa menjawab. Atau, menurut bacotan filsuf edan bernama Friedrich Nietzsche: Segala pikiran besar terkandung dengan berjalan kaki.

Sialnya, selain membaca, budaya paling enggak diminati orang Indonesia adalah berjalan kaki. Padahal tanpa perlu susah-susah menekuri, atau bahkan mengenali nama-nama seperti Socrates, Confucius, Ibnu Sina, Descartes, Kierkegaard, Schopenhauer, Tagore, Camus, Sartre, Foucalt, St. Sunardi, Yasraf atau Alain de Botton, cukup dengan hanya berjalan kaki mengamati sekitarmu, kau tetap bisa mengambil pelajaran yang enggak ternilai harganya. Agar lebih pandai membaca ayat kauniyah, beragam pertanda di sekitar kita, berjalanlah bersama para pecinta kearifan lainnya, lebih baik lagi kalau kau bisa berjalan berdampingan dengan orang bernama Arif, hehe—untuk catatan, saya jutek sama yang belum akrab, tapi aslinya baik hati, lho.

Lihat: Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Di suatu Minggu pagi saat bulan sedang September 2014, Taman Balaikota Bandung sudah dikunjungi beragam manusia, meski para muda-mudi penari yang mereplikasi para grup idola Korea belum hinggap. Sebagai orang baru, tentu saya datang pagi-pagi betul, enggak mau telat. Ingatlah ini baik-baik, salah satu momen paling berhargamu di Komunitas Aleut! adalah apabila ketika ngaleut perdanamu disambut oleh Ajay, apalagi jika kamu perempuan cantik. Begitulah, ngaleut pertama saya bertajuk Bandung Kota Pendidikan. Saat itu saya tengah gandrung mempelajari fotografi dan videografi, berkat baru kesampaian memegang sebuah kamera DSLR, Nikon D3100 tercinta, hasil dari hadiah lomba esai tingkat nasional (meski sampai sekarang pun, saya masih menganggap diri saya ini esais yang payah). Utamanya street photography atawa fotografi jalanan, saya saat itu sedang getol-getolnya mengagumi Henri Cartier-Bresson, Robert Frank, Vivian Maier, Daido Moriyama, Kai Man Wong dan streettog lainnya. Bahkan, ada pikiran kalau saya bisa masuk agensi fotografi bergengsi macam Magnum Photos atau National Geographic. Boleh dibilang sindrom-pertama-punya-DSLR lah, tapi saya masih menyuntuki fotografi hingga sekarang, lebih ke arah filosofis ketimbang praktisnya, lebih-lebih setelah belakangan mengenal fotografer cum penulis semisal Susan Sontag dan Teju Cole. Untuk sekarang, saya lebih sering mempercayakan kamera saya pada Ajay—saya baru menyadari kalau saya lebih suka jadi model ketimbang fotografer.

Saya pikir bagi yang ingin mengasah kemampuan fotografinya bisa disalurkan lewat ngaleut ini. Kesalahan terbesar para fotografer pemula di era kekinian adalah menghabiskan waktunya mempelajari tektek-bengek perkameraan lewat forum internet, dan ini hanya akan membuatmu terinfeksi Gear Acquisition Syndrome (GAS). Begitu juga ketika gabung dengan komunitas fotografi, bukan sesuatu yang salah sih, tapi biasanya penyakit GAS tadi pun ikut muncul; harus beli lensa fix, harus punya filter ini, harus pasang aksesoris itu lah, ganti kamera jadi mirrorless, harus upgrade ke full frame. Fotografi memang hobi mahal, ya, saya setuju akan ini, tapi jangan salahkan kameramu untuk mengambinghitamkan kemampuan fotografimu yang payah. Lihat Moriyama, hanya dengan kamera saku, dan selama 50 tahun enggak pernah bosan obyek fotografinya cuma jalanan Tokyo, namun bisa bikin pameran di berbagai negeri. Seperti halnya master fotografi jalanan asal Jepang itu, jadikan diri kita layaknya seorang turis di kota sendiri. Dengan bergabung di Komunitas Aleut! pun, kau pun bisa bertemu dengan orang-orang yang punya kegemaran fotografi juga, belajar dengan mereka, dan hunting foto di setiap ngaleut.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya ini pemalas. Saya lebih seorang pemalas ketimbang penulis. Dan daripada penulis, lebih seorang penggaya. Saya menulis di blog sudah sejak 2009, dari saat masih berseragam putih abu bau kencur, dan menghasilkan beragam tulisan sampah, yang beruntungnya beberapa kali dipercaya jadi pekerja teks komersial. Nah, setidaknya, dengan ngaleut, bagi yang suka menulis bisa mendapat inspirasi untuk menuliskan catatan perjalanannya. Komunitas Aleut! juga beberapa kali melakukan proyek penulisan.

Kau tak bisa jadi pengarang fiksi serius yang hebat, sebut Kurt Vonnegut, jika kau enggak depresi. Celakanya, saya mempercayai omongan tersebut, gagal mempertahankan sikap skeptis saya. Anehnya saya enggak merasa minder meski kuliah di Keperawatan, bahkan bisa berkelit, bukankah Walt Whitman sang bapak penyair Amerika yang menjadi pionir puisi gaya bebas dan Agatha Christie, novelis yang bukunya paling laris di dunia (hanya dikalahkan Shakespeare dan Injil-juga Al-Quran), bukankah pernah jadi perawat juga? Oh, adakah cara untuk menghentikan saya yang bebal pengen jadi penulis ini? Karena belum ada cara untuk membuat saya berhenti punya impian celaka menjadi pengarang, saya ingin menyaingi Utuy T. Sontani saja, yang dipuji Pram sebagai ‘pengarang pesimis terbesar di Indonesia’.

Salah satu pejalan kaki favorit saya adalah James Joyce, yang menjadikan jalan kaki sebagai tema dalam novel babon paling berpengaruh untuk sastra modern yang sekaligus sukses bikin kepala pening, Ulysses. Ada keinginan saya dalam upaya merekam kota sendiri seperti Joyce dengan Dubliners-nya. Mungkin judulnya Orang-Orang Bandung (eh, tapi kesannya kayak judul kumcer Budi Darma sih). Tentu saja, dengan gaya yang baru, ala-ala fiksimini Etgar Keret yang surealisme sosialis misalnya, belum ada di Indonesia, dan semoga enggak diberangus aja sih. Yang pasti, lewat ngaleut kau bisa mendapat beragam inspirasi menulis, bisa dibilang ini sebuah proses kreatif sastrawi. Sudah ada beberapa yang saya tulis dan bagikan, salahsatunya, yang terbaik sejauh ini: Wendy’s. Bacalah selagi masih ada, soalnya ada yang tertarik menerbitkan, kalau-kalau perlu dihapus.

Ah, sebenarnya apa yang saya bicarakan soal saya dan ngaleut ini? Maaf, bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan enggak jelas ini. Maaf juga telah menjejal beragam nama-nama, kau bisa menghiraukannya, atau kalau berminat mengenal lebih lanjut mereka silahkan buka Google saja. Tapi nampaknya, saya harus mencatut nama-nama lagi, maafkanlah saya yang mungkin terkesan ingin dipuji intelektualitasnya ini. Berikut dari filsuf favorit saya, Albert Camus, yang hobi bengong berjam-jam di kedai kopi dan doyan berjalan kaki ke sana-kemari

Jangan berjalan di belakangku; aku tidak akan memimpinmu. Jangan berjalan di depanku; aku tidak akan mengikutimu. Berjalanlah di sisiku sebagai sahabatku.

Ada beratus-ratus kata, bahkan beribu halaman lagi yang bisa saya bicarakan soal saya dan ngaleut ini, yang mungkin bakal mengalahkan War and Peace-nya Leo Tolstoy. Tapi dari kalimat Camus tadi sudah sangat mewakili apa ngaleut, dan lebih tepatnya soal apa Komunitas Aleut!

+

Post-scriptum:

Jangan terlalu menseriusi saya, seperti yang sudah saya bilang, seperti Lao Tze, saya pemalas akut. Dan seperti ujaran Nietzsche dalam The Twilight of the Idols-nya: aku hanya mau mengimani Tuhan yang bisa menari. Ya, ya, saya hanyalah seorang yang kebanyakan nonton idol menari di Youtube, hehe.

Kategori
Catutan Pinggir Sunda

Kakayaan Batin Ki Sunda

hendra-gunawan-buffalo-cowboy-s288000-sothebyshongkong

Di urang geus taya nu bireuk deui kana padoman hirup nu geus mangrupa pangdoa pangjurung ti kolot-kolot, nu unina, “Sing cageur jeung bageur.”

Puguh baé ieu padoman hirup téh sipatna universal, ngagambarkeun jiwa nu jembar tur séhat. Dina “cageur jeung bageur” geus kawengku mangpirang-pirang bekel pigeusaneun kumelendang di jagat raya.

Hirup daréhdéh soméah ka sémah, paroman nu leuwih loba beragna batan kucemna, nya kitu deui sikep teu rek telenges ka batur, tapi cukup ku ngoconan ngaheureuyan, tur dina kapépédna tuluy seuri nyeungseurikeun katololan diri sorangan, éta kabéh geus jadi konsékwénsina hirup cageur jeung bageur nu sok narémbongan dina hirup Ki Sunda sapopoéna.

Nu matak kacida kahartina mun di Sunda lahir carita-carita Si Kabayan, carita-carita manusa nu calageur, sarta ku lantaran calageur balageur téa tuluy ngeusian hirup ku bobojegan ngajak seuri nyieun pikaseurieun.

Kategori
Argumentum in Absurdum

Hokage, Übermensch dan Aristokrasi

hokage naruto boruto

A historical claim: “The beginnings of everything great on earth are soaked in blood thoroughly and for a long time.” – Nietzsche, Genealogy of Morals

Seperti Desa Konoha, yang meski fiktif, sebuah desa besar yang seringnya dalam lindungan damai, desa yang tumbuh sehabis rekonsiliasi antara klan Senju dan Uchiha – yang terlibat sengketa selama berpuluh-puluh tahun. Berkat inisiasi Hashirama Senju dan Madara Uchiha maka terbentuklah sebuah masyarakat madani dalam sebuah kesatuan desa. Desa Konoha, desa tersembunyi oleh daun pohon, mula-mula hanyalah sebuah ide utopis yang muncul dari kedua pemimpan klan tadi selama masa perang berkecamuk.

Setelah Konoha lahir, Hashirama kemudian mencipta konsep “Hokage”, istilah untuk pemimpin desa, dan menunjuk Madara sebagai orang yang pantas memegang tampuk jabatan ini. Namun, konsensus publik memilih Hashirama yang harus jadi orang no. 1 di Desa Konoha ini. Sebuah proses demokratis.

Kategori
Bandung Fotografi

Suatu Subuh di Pasar Andir

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil…

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Nietzsche menulis Also Sprach Zarathustra ini di tahun 1883, dan kita tak tahu persis apa pasar baginya. Bukankah pasar adalah tempatnya kebersamaan yang semu, hubungan antar-manipulatif, perjumpaan yang sementara dan hanya permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing cuma memikirkan kebutuhannya sendiri agar terpenuhi? Bukankah pasar adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir?

Kategori
Cacatnya Harianku

It’s Fabulous Day!

Woman was God’s second mistake. – Friedrich Nietzsche

Sebuah keniscayaan, semua di dunia ini diciptakan berpasangan. Untuk menghilangkan rasa kesepian pada diri Adam, maka Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Tapi benarkah wanita itu suatu penciptaan yang nggak keliru? Bukankah pria malah dapat lebih banyak derita dan bencana berkat adanya makhluk bernama wanita ini? Bukankah setelah ada Hawa, malahan Adam kemudian harus ditendang dari kehidupan surgawinya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, untuk lebih kenal dengan kaum Hawa ini, maka saya memutuskan nyemplung ke kampus yang didominasi kaum ibu-ibu.