Kategori
Celotehanku

Membaca Sebagai Akumulasi Kapital

What is Literature For.MKV_snapshot_04.28_[2017.11.24_01.23.37]

Sebenarnya saya menginginkan obrolan sore itu berjalan lebih dialektis ketimbang jadi pengajian mungil. Bisa dibilang juga itu semacam lokakarya menulis privat, saya sebagai pemateri dibayar Indocaffe dan sebatang-dua batang Garpit, dengan judul “Taktik Menulis dan Cara Memonetisasi Bacaanmu di Era Kapitalisme Lanjut” atau “Rahasia Lihai Menulis: Bagaimana Membaca, Memelihara Kucing dan Melebarkan Koneksi Orang Dalam Lebih Penting Ketimbang Menyia-nyiakan Waktu dan Uangmu di Workshop Menulis”.

Untuk mengetahui situasi kondisinya, bisa baca catatan dan laporan cuaca dari Akay berjudul Cerita di Sabtu Sore. Hanya ingin memverifikasi beberapa sumber referensi: 1) Di paragraf ke-15, jawaban saya itu berasal dari kutipan di Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London-nya George Orwell dengan redaksi kalimat asli, “Hanya ada satu cara untuk menghasilkan uang dari menulis: kau harus menikahi anak pemilik penerbit”, 2) Di paragraf ke-16, ini merupakan kutipan dengan redaksi kalimat, “Menulis itu seperti seks. Pertama kau melakukannya untuk cinta, lalu kau melakukannya untuk teman-temanmu, dan kemudian kau melakukannya demi uang,” yang di internet sering dialamatkan pada Virginia Woolf, meski enggak bisa dipastikan dari sumber mana, yang bisa dipastikan adalah redaksi kalimat serupa yang diungkapkan dalam sebuah percakapan antara kritikus drama George Jean Nathan dan dramawan Ferenc Molnár pada 1932.

Yang luput dari catatan Akay itu adalah bahwa sebelum pecah jadi tiga kelompok berbeda di kantin Gedung Sate itu, awalnya hanya ada dua. Kelompok tengah ngobrol bebas, tapi karena ada Irfan yang sedang libur di Bandung, ia lebih banyak menceritakan lika-likunya yang baru bekerja berminggu-minggu di media online yang berpusat di Kemang di depan kantor pusat Gojek. Karena obrolan merehatkan dirinya sejenak, saya pindah kursi untuk menamatkan baca A Brief History of Time-nya Stephen Hawking. Bahkan satu kalimat pun belum terbaca, Akay langsung menodongkan pertanyaan soal tulis-menulis. Dengan melantur kemana-mana, dan penyampaian yang kadang tercekat, inti yang saya sampaikan selalu sama: baca, baca, dan baca.

Membaca sebagai fungsi pragmatis untuk meningkatkan kualitas tulisan tentu bukan sebuah dosa. Namun inilah yang sering disalahpahami, karena sesungguhnya menulis adalah perpanjang dari membaca, bukan sebaliknya. Penulis yang baik pasti merupakan pembaca yang baik. Kapital atau modal menurut Pierre Bourdieu terdiri dari ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Bagi seorang intelektual publik harus mempunyai habitus, struktur mental atau kognitif, yang baik dengan membaca buku, agar mendapatkan kapital budaya (pengetahuan dan diskusi) yang baik pula. Dengan mempunyai habitus buku dan kapital budaya, seorang intelektual publik (atau faux-intelektual) bisa bersaing dan bertahan di ranah kebudayaan. Ranah adalah sejenis pasar kompetitif yang di dalamnya berbagai jenis modal (ekonomi, kultural, sosial, simbolis) digunakan dan dimanfaatkan. Membaca, seperti kapitalisme, menghisap nilai lebih dari setiap buku yang telah kita pekerjakan.

Membaca buku memang penting, tapi enggak sesempit itu. Literasi yang sering direduksi cuma soal buku dan buku, juga jadi persoalan. Seperti yang dituliskan Aldous Huxley dalam Wejangan Soal Kucing, bahwa dengan lihai membaca kelakuan sepasang kucing kita bisa bikin novel soal hubungan manusia yang hebat. Karena merasa akan mengarah jadi pembicara membosankan, dan bosan juga mengutip referensi ini-itu apalagi mengais kajian Marxis seenak jidat, saya tamatkan saja postingan ini. Sudah lama belum menulis sebebas ini.

 

 

 

 

Kategori
Catutan Pinggir

Mengapa Siapa Saja Menulis?

6a00e54fcf7385883401a3fcd2e601970b-pi-1

Semua penulis itu besar mulut, egois, dan malas, dan motif terdalam mereka mengandung sebuah misteri. Menulis buku adalah perjuangan yang mengerikan dan melelahkan, seperti pergulatan panjang dengan suatu penyakit begitu nyeri. Seseorang tidak akan menulis kalau bukan karena dorongan suatu kuasa iblis, yang tidak dapat dipungkiri atau dimengerti oleh orang lain.

George Orwell, Kenapa Saya Menulis, 1946

Menulis novel adalah proses menyakitkan dan berdarah-darah yang menghabiskan seluruh waktu luang Anda, menghantui Anda di malam hari yang paling gelap dan umumnya berpuncak dengan banyak tangisan mengenai tumpukan surat penolakan yang terus membengkak. Setiap novelis harus melalui ini setidaknya sekali dan dalam beberapa kasus berkali-kali sebelum dipublikasikan, dan karena publikasi itu sendiri tidak memberi jaminan kekayaan atau pujian, tidaklah masuk akal untuk bertanya seperti apa orang yang akan menundukkan dirinya dalam pekerjaan macam begini.

Jawaban awal saya sama dengan kata-kata Orwell: seseorang yang cukup terganggu oleh keinginan untuk melakukannya sehingga mereka tidak punya pilihan lain. Saya berpikir sejuta kali untuk menyerah sebelum menyelesaikan novel saya. Saya ingin menyerah, untuk merebut kembali hidup saya dari cengkeraman setan, tapi setiap kali saya mencoba, saya menghadapi kesimpulan yang tak terhindarkan bahwa, bagi saya, satu-satunya hal yang lebih buruk daripada seumur hidup bekerja keras dalam ketidakjelasan yang tak beralasan (pada titik itu merupakan akibat yang paling mungkin) adalah sebuah kehidupan tanpa menulis.

Saya tidak punya niat menjadi penulis. Saat masih bocah, menjadi seorang novelis tampak seperti karir yang bisa diraih namun rasanya seperti ingin menjadi bintang film, sebuah mimpi yang sangat tak realistis. Saya ingat pada saat pertama kali saya menemukan diri saya benar-benar tenggelam dalam menceritakan sebuah cerita, sebuah fiksi ilmiah distopia yang saya tulis untuk sebuah tugas sekolah, di mana manusia meninggalkan planet mereka yang lingkungan alamnya telah hancur untuk mencari rumah baru dengan kapal antariksa intergalaksi raksasa yang dinamakan Arks. Saya tergerak oleh nasib karakter saya, terpesona oleh luasnya alam semesta yang saya bayangkan, dan patah hati oleh tragedi dan pengorbanan yang berada di akhir misi mereka. Fakta bahwa itu adalah perjalanan omong kosong yang sangat menyebalkan tidak mengubah fakta bahwa menulisnya memberi saya curahan, pengalaman sukarela tentang penyerapan total dalam aktivitas mental, sepenuhnya terlepas dari kekhawatiran dan keasyikan saya yang lain. Dan pengakhiran itu memberi saya semua kepuasan atas ciptaan: inilah sebuah cerita yang telah saya bawa ke dunia ini, sebuah karya “seni” mungil yang tidak akan pernah ada jika saya tidak menuliskannya.

Bagaimanapun, setelah itu saya meninggalkan sekolah dan kehidupan nyata mengambil alih. Saya menjalani masa muda yang sia-sia, dan kemudian setelah itu mendapat pekerjaan dan tagihan-tagihan untuk dilunasi. Untuk beberapa saat saya menikmati fantasi menjadi seorang pustakawan namun akhirnya bekerja sebagai analis di bidang perbankan, di mana hanya ada sedikit buku tapi lebih banyak uang. Pekerjaan itu menarik tapi juga menuntut, dan memadati ruang untuk hal-hal lain dalam hidup saya.

Begitulah selama sepuluh tahun; Sedasawarsa setelah meninggalkan sekolah, keluaran sastra saya nol. Tapi gatal itu masih menyisa, dorongan untuk meletakkan kata-kata di atas kertas, untuk membangun cerita seputar hal-hal yang saya pedulikan, untuk mencari makna melalui narasi. Akhirnya saya mulai mengutak-atik lagi, perlahan dan tanpa tujuan tertentu pada awalnya, lalu lebih serius lagi saat saya tenggelam dan mulai menghabiskan seluruh waktu luang saya. Ini dibangun dari sebuah kejengkelan yang menjadi sebuah tungku yang membakar semua waktu luang dan energi mental saya. Tapi apa itu yang menarik seluruh perhatian saya? Untuk apa saya menulis?

Saya pernah membaca penulis lain, saya lupa siapa, yang mengatakan bahwa tulisan mereka adalah semacam panggilan serigala agar kembali ke kelompok mereka, dan saya pikir ada beberapa kebenaran dalam hal itu; Saya menulis untuk kelompok saya, sebuah kelompok pembaca imajiner yang punya kedalaman seperti saya. Mereka sudah sering mengacaukan segalanya dalam hidup mereka, dan mereka tidak selalu berkilau dan bahagia, karena bahkan kehidupan yang paling medioker juga menghadapi banyak pertempuran – menjadi dewasa, mencari makna, hidup dengan kehilangan, kecanduan, kecacatan, ketidaksuburan – tapi mereka mencoba melawan pergulatan itu dengan keberanian dan humor.

Sering sekali terjadi pertengkaran mengenai apakah sastra memiliki tanggung jawab untuk melakukan penebusan. Saya pikir tanggung jawab adalah kata yang terlalu kuat; Anda hanya bisa menulis apapun yang akan Anda tulis. Tapi saya berpikir bahwa tulisan nihilistik, atau karya yang meningkatkan kesengsaraan, tidak memiliki nilai tambah bagi jumlah usaha manusia. Ini adalah pekerjaan seumur hidup untuk menjaga wajah Anda tetap berpaling ke arah cahaya, dan saya lebih suka membantu daripada menghalangi orang melakukan hal itu. Hampir setiap orang yang berusia di atas tiga puluh tahun pasti tahu apa itu untuk melihat ke alam semesta yang tampaknya tidak peduli dan merasa putus asa, dan seperti A.S. Byatt katakan dalam sebuah wawancara di Paris Review, tragedi adalah untuk kaum muda, yang belum pernah mengalaminya secara nyata; hanya mereka yang mampu. Jadi saya berada di kamp tersebut: Saya ingin orang-orang yang membaca tulisan saya mendapat harapan, bukan berarti hidup akan mudah dan terbebas dari penderitaan karena ada juga penderitaan yang tak terelakkan, namun hidup juga bisa mengandung banyak pengharapan dan sukacita.

Kembali ke Orwell:

Siapapun tahu iblis [yang menggerakan penulis] hanyalah naluri yang sama yang membuat bayi melakukan keributan agar mendapat perhatian. Namun, benar juga bahwa seseorang tidak dapat menulis apa pun kecuali jika seseorang terus-menerus berjuang untuk menghilangkan kepribadian seseorang. Prosa yang bagus seperti kaca jendela.

Seperti kehidupan, ada misteri besar yang menjadi inti penulisan. Ayah saya telah dikenal untuk mengklaim bahwa ketika dia memainkan catur di saat terbaiknya, dia bisa mendengar malaikat bernyanyi; Saya telah dikenal mencemooh hiperbola macam itu, tapi yang terbaik, yang mungkin sebagian kecil dari satu persen dari waktu yang saya gunakan untuk menulis, saya mengaku merasa lebih condong seorang penyalur ketimbang seorang pencipta, seolah-olah saya tidak melakukan pekerjaan itu oleh diri saya sendiri tapi saya hanyalah kanal yang menyalurkannya agar sampai di dunia ini.

Jadi, dengan anggukan hormat kepada Orwell, inilah beberapa dari banyak alasan kenapa saya menulis:

Karena itu membawa saya keluar dari kepala saya sendiri, jauh dari masalah saya.

Karena itu memberi saya suntikan, betapapun jauh, untuk menciptakan sesuatu yang agung dan transenden.

Karena saya terbakar dengan kemarahan di dunia ini, dan sepertinya lebih baik daripada kekerasan yang tidak senonoh.

Karena saya rindu untuk menangkap hal-hal yang bersifat sementara sebelum mereka menguap menjadi tidak ada apa-apanya: perasaan gembira berada di taman saat senja di musim panas, aroma lumut dari baju switer kekasih.

Karena memasukkan sesuatu ke dalam kata-kata memaksa saya untuk mengartikulasikan pemikiran saya dan membentuknya menjadi sebuah narasi, dan itu memberi makna pada hidup saya.

Karena membersihkan diri pada keyboard adalah kompulsif dan adiktif; Saya duduk untuk mengeluarkan beberapa ratus kata dan mencari berjam-jam kemudian untuk menemukannya di luar gelap dan saya basah karena peluh, lemas di kursi saya tapi penuh dengan kepuasan yang aneh, melengang, menenangkan dan memuaskan.

Alasan terakhir mungkin yang paling penting: saya menulis karena buku telah membuka dunia saya dan menyelamatkan hidup saya berulang-ulang, dan itu adalah sesuatu yang saya inginkan menjadi bagian darinya. Betapa menyedihkannya menjadi manusia, sadar diri dan belum kekurangan jawaban atas hampir semua pertanyaan penting: bagaimana seharusnya saya menjalani hidup saya, apakah ada Tuhan, apa itu Teori Penyatuan Agung untuk alam semesta, apa yang terjadi bila kita mati? Dan tentu saja, betapapun nyamannya tempat bernaung yang bisa kita bawakan sendiri, kita selalu hanya menjauhkan sedikit dari bencana, sepersekian detik dimana kita tidak melihat sebelum melangkah ke jalan, sebuah panggilan telepon yang mengisyaratkan bahwa kita tidak akan pernah melihat orang yang dicintai lagi. Begitu gelap.

Namun ke dalam kegelapan ini datang sedikit goresan dan pecahan cahaya, hampir tidak lebih dari sekadar cahaya yang sering nampak, namun entah bagaimana mereka membantu Anda melihat jalan setapak di depan. Bagi saya, banyak penglihatan itu seringkali berasal dari buku.

Ketika saya ingin tahu bagaimana melihat dengan jelas dan berbicara jujur, Diana Athill ada di sana untuk menunjukkannya pada saya. Ketika saya ingin melihat kembang api diproduksi saat sinisme dan idealisme bertabrakan, di jalan Martin Amis, rokok menggantung dari bibir. Saat saya membutuhkan keberanian, Andrew Solomon menarik saya berdiri. Ketika saya ingin menikmati keindahan alam dan kesendirian, Sara Maitland berdiri di samping saya. Ketika saya tidak dapat berbuat apa-apa selain menertawakan absurditas pertandingan menembak sialan itu, Jonathan Coe dan David Nobbs tidak meninggalkan saya. Dan ketika saya berduka, C.S. Lewis mengulurkan tangan selama berpuluh-puluh tahun dan berkata, Ini, raih tanganku. Anda tidak sendiri.

Jadi itu adalah hutang besar yang harus saya bayar, dan dalam banyak hal alasan saya menulis adalah ini: untuk mengulurkan tangan dan menarik yang lain.

*

Diterjemahkan dari satu artikel Literary Hub berjudul Why Does Anyone Write?

Alice Adams tinggal di London Utara tapi kabur ke padang belantara sesering mungkin. Invicible Summer adalah novel perdananya.

Kategori
Catutan Pinggir

Balada Esais Bau Kencur

59732eba2100008860fc82c7

Kebanyakan artikel Tirto kalau dibaca rasanya kayak novel terjemahan. Rasa Zen RS. Rasa Catatan Pinggir. Rasa daftar pustaka yang dibikin berbunga-bunga. Serbuan komentar pada satu produk tulisan saya. Yang asyik dari adanya media sosial adalah timbulnya polusi notifikasi; meningkatnya nafsu berkomentar sekaligus munculnya rasa haus untuk melihat komentar-komentar tadi – bahkan berlanjut untuk menimpali komentar tadi, kalau sekiranya foto profil si komentator menarik hati. Komentar-komentar buat produk tulisan saya tersebut bisa ditangkap sebagai pujian sekaligus hinaan, atau bisa juga sebagai latihan menulis paling ampuh: menerjemahkan tulisan dari bahasa asing, berguru langsung pada yang lebih jago, menulis ulang teks orang, dan memperpanjang daftar bacaan. Juga, dan di zaman kiwari ini makin terasa, keahliaan oportunistik paling berguna di bawah payung demokrasi liberal dan sistem kapitalisme lanjut adalah memanjat tangga sosial dan memperluas koneksi orang dalam. “Menulis itu hanya omong kosong,” seorang George Orwell mewejang, “Hanya ada satu cara untuk menghasilkan uang dari menulis: kau harus menikahi anak pemilik penerbit.” Baca keadaan lebih penting ketimbang baca buku atau baca komentar seliwatan di medsos.

Kalau saja bisa baca keadaan, harusnya saya berhenti bermimpi jadi penulis dan menjauhi ide sosialisme untuk kemudian banting stir mengambil prospek karier yang lebih bersahabat dengan pasar bebas. Kalau pun masih keukeuh pengen jadi penulis, solusi terbaik adalah belajar menulis puisi liris kacangan, bikin novel yang penuh kata-kata bijak agar bisa dikutip, buat esai yang didanai neolib atau jadi seleb medsos beratusribu pengikut agar dilirik pengiklan dan partai politik. Tentu, saya memilih jalan makadam. Motif terburuk untuk menulis: tenar, punya pengaruh, bisa ngeseks, mengakumulasi kekayaan, rasa hormat. Motif terbaik: balas dendam, angst, gangguan kepribadian, kapalan, datangnya berbagai tagihan. Menulis beragam artikel sok intelek dengan mencatut pemikiran Frankfurt School yang hanya bakal dibaca judulnya, membikin tulisan sepanjang seribu kata yang cuma ditengok infografisnya, memproduksi beragam tulisan di berbagai media lain agar bisa dipajang di sidebar blog, ingin menjadi penulis karena tidak ada pekerjaan lain yang memungkinkan saya untuk secara rutin bisa begadang sampai pukul 4 pagi, atau yang terbaik: menulis dengan iringan playlist Youtube acak dari lagu Kpop ke Internasionale bahasa Urdu sampai himne Popular Front for the Liberation of Palestine.

 

 

Kategori
Catutan Pinggir

Picasso, Guernica dan Setelahnya

Pablo Picasso melukis Guernica hanya dalam waktu lima minggu selama musim semi 1937.

Waktu itu Picasso tinggal di Paris, berusia lima puluh lima, sudah terkenal. Lahir di Spanyol pada tahun 1881, dia pergi ke Paris pada tahun 1900; dia pernah mengunjungi Spanyol pada tahun 1934 dan tidak akan pernah kembali.

Namun, pemerintahan revolusioner Front Populer menunjuknya sebagai direktur Museum Prado di Madrid, secara in absentia, dan Picasso melakukan beberapa proyek yang mendukung Republikan sekaligus untuk mengumpulkan dana atasnya. Pemerintah pada gilirannya memintanya untuk menciptakan sebuah mural untuk pameran seni dunia di Paris 1937, dan dia setuju, meski pada awalnya perkembangannya lamban. Adalah serangan 26 April di Guernica yang melecutnya. Dia mengerahkan dirinya ke dalam lukisan itu dan dalam waktu kurang dari lima minggu, secara mengejutkan, menyelesaikan Guernica.

Guernica, berukuran besar, tersusun dalam campuran hitam dan abu-abu dan putih, adalah sebuah gambar tentang suatu serangan udara. Panjangnya dua puluh lima kaki dan tingginya lebih dari sebelas meter.

Pada bulan Juli 1937, mural dipasang di pintu masuk Paviliun Spanyol di tengah kontroversi. Yang Kanan keberatan dengan materinya, sementara yang Kiri mendapatinya sebagai sesuatu yang tak jelas.

Sampai tingkat tertentu, kritik terakhir ini benar, tapi salah alamat. Guernica tidak memberikan petunjuk tentang apa yang terjadi di Spanyol pada saat itu. Tidak ada dalam mural yang menunjukkan di mana peristiwa ini terjadi selain kuda dan banteng, yang keduanya melambangkan budaya Spanyol. Kritikus seni John Berger menggambarkannya sebagai:

[Sebuah] pekerjaan yang sangat subyektif — dan dari sinilah kekuatannya berasal. Picasso tidak mencoba membayangkan kejadian sebenarnya. Tidak ada kota, tidak ada pesawat terbang, tidak ada ledakan, tidak ada referensi kapan harinya, tahunnya, eranya, atau di bagian sebelah mana Spanyol kejadian itu berlangsung. Tidak ada musuh yang digugat. Tak ada kepahlawanan. Namun karya itu adalah sebuah protes — dan orang akan tahu soal ini bahkan jika seseorang tidak mengetahui sejarahnya.

Sebagai gantinya, kita menemukan gambar yang tak lekang zaman — wanita jangkung, sang Madonna dan Anak-nya, seorang ibu yang menjerit, seorang bocah sempal, mayat tentara yang terluka, mayat korban luka yang terpotong-potong dan wajah terdistorsi, seekor kuda terpelintir yang menjerit kesakitan. Hanya lampu listrik yang mengingatkan kita akan modernitas.

Namun demikian, Guernica mencapai tujuan politik dan artistiknya. Picasso menciptakan sebuah protes yang membakar terhadap wajah baru perang dan kebrutalan fasisme. Mural tersebut menggambarkan penderitaan: tidak hanya penderitaan yang dialami Picasso saat mendengar berita dari Spanyol tapi juga penderitaan yang lebih universal. Guernica hampir segera menjadi legendaris, dan Berger menyebutnya “lukisan paling terkenal abad ke-20.”

picasso__guernica1352240376578

Memang, John Rockefeller mencoba membelinya, dan, ketika sang seniman menolak, dia membayar untuk membuat kreasi ulang di atas permadani. Cerita paling terkenal, reproduksi tersebut, yang telah dipajang di pintu masuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1985, ditutup dengan tirai biru besar pada tanggal 5 Februari 2003. Wartawan melaporkan bahwa pemerintahan Bush telah menekan pejabat untuk menyembunyikan permadani sebelum Sekretaris Colin Powell dan duta besar Perserikatan Bangsa-Bangsa John Negroponte tiba di sana untuk merilis kasus perang melawan Irak.

Guernica mungkin tidak secara spesifik mengenai Spanyol, melainkan tentang perang dan korbannya. Namun, melihat ke belakang, kita bisa menyetujui pernyataan ini. Mural itu juga tetap tak terelakkan tentang apa yang terjadi di Spanyol delapan puluh tahun yang lalu dan semua yang hilang di sana.

*

Pada bulan Februari 1936, Spanyol mengalami krisis ekonomi dan sosial yang parah. Sebagai tanggapan, para pemilih memilih pemerintahan Popular Front yang mewakili para republikan, para sosialis, para komunis, dan bahkan Partido Obrero de Unificación Marxista (POUM) — meskipun yang terakhir ini disebut sebagai “persekutuan tanpa masa depan.”

Organisasi pekerja anarkis paling berpengaruh, Confederación Nacional del Trabajo (CNT) dan Federación Anarquista Ibérica (FAI), melanggar semua praktik masa lalu dan meninggalkan seruan mereka untuk melakukan pemilihan umum, yang mereka slogani sebagai No Votad. Keputusan ini mengokohkan kemenangan Kiri, menimbulkan kekalahan yang memalukan untuk tengah dan Kanan.

Meski revolusi tidak ditentukan pemungutan suara, hasil pemilihan tersebut membantu membuka jalan. Pada pertengahan musim panas, sebuah negara berkekuasan ganda berkembang di Barcelona, jika tidak di seluruh Spanyol. Di pedesaan — Spanyol sebagian besar masih merupakan pedesaan —  kaum tani menguasai tanah milik yang luas dan mengkolektivisasinya; Di kota-kota, para pekerja mengambil alih pabrik dan pemerintahan.

Kemudian, pada bulan Juli, sayap Kanan —  kaum fasis menyebut diri mereka nasionalis —  menjawab: para jenderal memberontak. Pemberontakan tersebut dimulai di koloni Spanyol Afrika Utara, Maroko, di mana tentara tentara bayaran, legiun asing, dan orang-orang Maroko berhimpun sebagai pasukan mengejutkan kelas yang berkuasa. Segera, jendral fasis Francisco Franco memimpin, menyeberang ke Spanyol dan memerintahkan sebuah perjalanan ke utara, di mana, di Madrid, Barcelona, Malaga, dan pusat industri Asturias dan Katalunya, di saat para pekerja juga sedang dalam pemberontakan.

Di tempat-tempat ini, tentara memadu dengan para pekerja; Mereka memberontak, menyerahkan senjata mereka kepada kaum revolusioner, atau memerangkap di barak mereka. Para jenderal bermaksud bukan mencegah revolusi, malah memprovokasinya.

George Orwell tiba di Barcelona pada bulan Desember, bermaksud menulis artikel surat kabar tentang konflik tersebut, namun dia segera bergabung dengan milisi pekerja. Dia menemukan:

Praktis setiap bangunan dengan ukuran apapun telah disita oleh para pekerja dan ditutupi bendera merah atau dengan bendera merah dan hitamnya para anarkis; setiap dinding digambari palu dan arit dan dengan inisial partai revolusionernya; Hampir setiap gereja telah dijarah dan lukisan-lukisannya dibakar. Gereja-gereja di sana-sini dirobohkan secara sistematis oleh gerombolan pekerja.

Orwell mendokumentasikan ini dalam catatan klasik tentang revolusi dan kontrarevolusi, Homage to Catalonia, yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1938, namun baru pada tahun 1952 rilis di Amerika Serikat. Edisi Prancis tidak diterbitkan sampai lima tahun setelah kematiannya. Dalam buku tersebut, Orwell menggambarkan perubahan revolusioner yang telah terjadi di Barcelona:

Setiap toko dan kafe memiliki coretan yang mengatakan bahwa tempat ini telah dikolektivisasi; Bahkan tukang semir sepatu telah dikumpulkan dan kotak mereka dicat merah dan hitam. Pelayan dan toko-toko memandang wajah Anda dan memperlakukan Anda setara. Bentuk percakapan merendah dan bahkan seremonial untuk sementara telah lenyap. Tidak ada yang mengatakan “Señor” atau “Don” atau bahkan “Usted”; semua orang memanggil satu sama lain kamerad dan “Thou,” dan menyapa “Salud” bukannya “Buenos dias.”

Ini tidak bertahan lama. Pasukan Franco, yang sekarang didukung oleh tentara Jerman dan Italia, terus merangsek maju. Seiring kemenangan nasionalis, situasi di Republik menjadi semakin gawat — hanya pertempuran epik di Jarama dan Guadalajara yang menyelamatkan Madrid. Di sana, perlawanan heroik dari milisi Spanyol dan brigade internasional bisa menahan fasis, meski dengan pengorbanan besar. Ini, tragisnya, adalah kemenangan terakhir.

Kelas menengah menanggapi dengan menegaskan bahwa memenangkan perang harus diutamakan dan revolusi, jika memang demikian, nanti saja —  bisa belakangan. Revolusi, menurut mereka, merongrong usaha perang dan membuat intervensi imajiner dari Prancis atau Inggris tak mungkin tercapai.

Mereka menuntut agar angkatan bersenjata mengembalikan hierarki dan disiplin, sehingga milisi pekerja melucuti senjata, dan bahwa revolusi petani berakhir. Partai Komunis yang semakin besar dan kuat, mengikuti perintah Uni Soviet, mendukungnya.

Pada bulan April, bulan kesepuluh dari perang, Guernica, selama berabad-abad menjadi pusat identitas Basque, menjadi target skuadron pengebom Luftwaffe milik Hitler, ditambahi oleh beberapa pesawat dari fasis Italia. London Times melaporkan:

Guernica, kota paling kuno di Basque dan pusat tradisi budaya mereka, hancur total kemarin siang oleh serangan udara. Pemboman kota terbuka yang berada jauh di belakang garis yang diduduki tepat tiga jam dan seperempat, di mana armada pesawat terbang yang kuat yang terdiri dari tiga tipe dari Jerman, pesawat pembom Junkers dan Heinkel dan pesawat tempur Heinkel, tidak henti-hentinya menjatuhkan bom kota dengan berat 1000 lb ke bawah. . .

Pesawat tempur kemudian terbang rendah dari atas pusat kota yang dengan senapan mesin menembaki warga sipil yang berlindung di ladang. Seluruh Guernica segera terbakar kecuali Casa de Juntas yang bersejarah.

Serangan itu tidak mungkin terjadi pada masa yang lebih buruk bagi Republik. Sementara serangan fasis berlanjut, Partai Komunis menyerang secara militeris melawan POUM dan CNT. Lima ratus orang meninggal dalam pertempuran rumah-ke-rumah. Republik melarang POUM pada bulan Juni, dan agen Stalinis membunuh pemimpin partai tersebut, Andres Nin, segera setelahnya. Perdana menteri, Largo Caballero, pemimpin Partai Pekerja Sosialis Spanyol dan Confederación General del Trabajo (CGT) dipecat dari jabatannya. Meskipun Picasso melukis Guernica pada saat itu, dan itu pasti dibahas di dalam lingkarannya, lukisannya tidak memberitahukan pendapatnya tentang kejadian ini.

Pemerintah Jerman dan Italia menyerahkan kemenangan kepada Franco dan tentaranya, mengukuhkan sebuah pemerintahan fasis yang akan berlangsung selama tiga puluh enam tahun. Segera seluruh Eropa akan menjadi petaka.

*

Setelah Paris, Guernica dibawa ke Amerika Serikat untuk mengumpulkan donasi bagi para pengungsi Spanyol, yang pertama-tama diperlihatkan di San Francisco Museum of Art, lalu di New York di Museum of Modern Art. Picasso meminta agar tetap di New York untuk diamankan dan dikembalikan ke Spanyol hanya ketika demokrasi dipulihkan. Pada tahun 1981, mural tersebut pulang ke kampung halamannya dan sekarang dipasang di Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofia di Madrid.

Guernica mewakili contoh pertama perang jenis baru. Blitz mengikutinya, lalu Dresden dan pemboman Tokyo. Lalu Hiroshima. Pemboman Vietnam — sebuah negara yang hampir tak berdaya dari serangan udara — menyebabkan jutaan orang yang tewas. Sekarang kita telah menyaksikan Fallujah dan Aleppo dan Mosul, sementara sekarang Amerika Serikat membom tujuh negara secara bersamaan: Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, dan Libya.

Maka Guernica, sayangnya, selalu faktual, abadi, universal. Satu dekade yang lalu, T. J. Clark menyimpulkan dalam magisternya Picasso dan Truth dengan penghargaan ini untuk “prestasi menakjubkan” Picasso:

Hidup, sebut lukisan [Guernica], adalah sebuah nilai biasa, badaniah, sama sekali tak beralasan. Itulah yang manusia dan hewan miliki. Ada masa saat hidup, yang kita jalani tanpa berpikir, tapi juga ada saat kematian: keduanya mungkin tidak dapat dibandingkan, tapi manusia terutama — dari bukti penguburan Paleolitik manusia tampaknya mendefinisikan ciri — membentuk kehidupan mereka, secara imajinatif, dalam hubungan sampai mati. Mereka mencoba hidup dengan kematian — untuk menjaga agar kematian tetap ada, seperti nenek moyang yang tulang belulangnya mereka gali dan masukkan kembali.

Tapi beberapa jenis kematian mematahkan kontrak manusia itu. Dan ini salah satunya, terang Guernica. Hidup seharusnya tidak berakhir seperti di sini. Beberapa jenis kematian, dengan kata lain, tidak ada hubungannya dengan manusia seperti yang dipahami oleh Picasso — mereka tidak memiliki bentuk saat itu terjadi, mereka datang entah dari mana, waktu tidak pernah menyentuh mereka, mereka bahkan tidak memiliki tampilan malapetaka. Mereka adalah kecarutan khusus, dan kecarutan itu, ternyata, telah menjadi pengalaman sentral selama tujuh puluh tahun.

*

Diterjemahkan dari artikel Jacobin berjudul A Special Obscenity

Cal Winslow adalah direktur Mendocino Institute. Buku terakhirnya adalah River of Fire: Commons, Crisis and the Imagination dan E .P. Thompson and the Making of the New Left.

Kategori
Celotehanku

Bocah Dunia Ketiga yang Menyuntuki Penulis Kulit Putih

Kurt Vonnegut on Man-Eating Lampreys - Blank on Blank - YouTube.MP4_snapshot_03.23_[2017.08.31_14.35.44]

Perempuan itu mendapat surat dari kepala redaksi Alfred Knopf, berisi pujian atas cerpennya dan berharap bakal menerbitkan novelnya suatu saat, tulisnya dalam jurnal hariaannya, yang dimampatkan dalam buku berjudul The Unabridged Journals of Sylvia Plath. Saya menutup aplikasi pembaca ebook, membuka Twitter. Linimasa ramai, mengalir tanpa jeda. Menggulirkan sampai bawah, saya menandai sebuah tautan artikel dari Jacobin, media kiri Amerika, soal krisis Katalunya dan satu dari Literary Hub tentang surat kebencian William S. Burroughs buat Truman Capote. Entah kapan saya bakal buka dan bacanya. Saya buka kembali ebook, mengkhatamkan On the Heights of Despair yang menyisakan beberapa fragmen. Sebuah karya pertama seorang pemikir asal Romania, Emil Cioran, yang dikenal karena filosofinya yang begitu ultra-pesimis dan gelap. Semuanya nonsens, tulisnya menghabisi. Saya membuka Instagram, menonton beberapa Stories. Saya kembali baca, kali ini dua puisi Allen Ginsberg dalam Reality Sandwiches. Sampai sekarang, saya belum ngeh cara baca puisi. Tapi beberapa kali saya bisa menikmati, salah satunya dari Ginsberg sang pupuhu Beat Generation ini. Saya beralih ke Homage to Catalonia. George Orwell yang sebelumnya tertembak fasis saat patroli di garis depan, masih menjalani perawatan di Barcelona. Orwell bergabung di pasukan milisi untuk melawan Franco.

Cuma ada sendok dalam gelas, seluruh Indocafe telah meluncur masuk abdomen. Desing motor yang hilir mudik di jalanan depan rumah dan ceramah dari TVOne yang disetel mamah di ruang tengah samar-samar saling beradu. Ada hal-hal penting dan enggak penting terjadi, mengapa saya membaca? Saya teringat artikel dalam The New Yorker yang berjudul “Can Reading Make You Happier?“. Pada era sekuler, membaca, terutama fiksi, adalah salah satu dari sedikit jalan yang tersisa menuju transendensi, keadaan sulit dipahami di mana jarak antara diri dan alam semesta menyusut. Membaca membuat kita kehilangan semua rasa sadar diri, tapi pada saat bersamaan membuat kita merasa semacam keunikan tersendiri. Membaca telah terbukti membuat otak kita menjadi keadaan trance yang menyenangkan, serupa dengan meditasi, dan membawa manfaat kesehatan yang sama seperti relaksasi dan ketenangan batin. Seperti yang ditulis Virginia Woolf, seorang pembaca yang paling tangguh, bahwa sebuah buku “memisahkan kita menjadi dua bagian saat kita sedang membaca,” karena “keadaan membaca terdiri dari penghapusan ego secara total,” sambil menjanjikan “persatuan abadi” dengan pikiran lain.

Sebagian mungkin benar. Namun, saya enggak terlalu percaya optimisme kacangan bahwa membaca bakal mendatangkan semacam benefit yang wah. Ya, membaca memang ada manfaatnya, sekaligus enggak ada. Tidak ada argumen, tegas Cioran. Bisakah orang yang telah mencapai batas terganggu argumen, sebab, akibat, pertimbangan moral, dan sebagainya? Tentu saja tidak. Bagi orang seperti itu hanya ada motif hidup yang tanpa motivasi. Di puncak keputusasaan, hasrat untuk tidak masuk akal adalah satu-satunya hal yang masih bisa menimbulkan cahaya atas kekacauan. Bila semua alasan saat ini – moral, estetika, religius, sosial, dan sebagainya – tidak lagi membimbing hidup seseorang, bagaimana seseorang dapat mempertahankan hidup tanpa menyerah pada ketiadaan? Hanya dengan hubungan yang tidak masuk akal, dengan cinta tanpa harapan, mencintai sesuatu yang tidak memiliki substansi tapi hanya mensimulasikan ilusi kehidupan. Alasan saya terus membaca, seperti alasan saya untuk terus hidup, yakni menjalaninya dengan tanpa alasan. Sebenarnya, karena sedang menggeluti praktek menulis, ini jadi alasan oportunis kenapa saya terus membaca – saat selesai membereskan satu buku kemudian memperbarui Goodreads, ada perasaan keahlian menulis saya, seperti dalam permainan video, ikut meningkat, dan saya tahu ini cuma ilusi. Yang pasti, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda.

Tentu saja, pemahaman saya akan terus berubah, baik karena beragam bacaan lainnya, atau karena menua dan enggak bakal ambil pusing. Yang jadi persoalan adalah bahwa bacaan-bacaan saya berasal dari para kulit putih, yang berasal dari dunia pertama. Penyebab praktisnya, karena mereka mudah didapatkan, andai saja koleksi lengkap semacam Pram atau Utuy T. Sontani bisa ditemukan dalam torrent. Tapi bukan cuma itu, mereka, para penulis kulit putih itu, yang tinggal di pusat-pusat peradaban dunia, secara aneh selalu berhasil menyuarakan apa yang saya pikirkan. Itu mungkin sebabnya mereka disebut penulis kanon. Lagipula, sebenarnya apa masalahnya seorang dari dunia ketiga membaca mereka? Soal nasionalisme, saya enggak terlalu memusingkan konsep usang ini. Teracuni Barat, tentu saja ini sangat berhubungan dengan relasi kuasa, Barat dipandang sebagai kemajuan. Sebentuk inferiority complex, lantas kenapa? Mungkin saja, saya malah sedang mengamini Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an yang memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Namun, buat apa juga manifesto beginiaan. Saya terus membaca karena saya enggak tahu kenapa terus membaca. Membaca siapapun. Kebetulan, mereka yang saya baca penulis-penulis kulit putih. Oh, kenapa pula saya memusingkannya. Tampaknya saya berlaga kayak penulis kulit putih saja: merumitkan yang remeh. Snobisme, tanpa jadi polisi selera dan tetap bersikap arif, saya kira sangat boleh. Sekali lagi, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda. Dan ada banyak buku lainnya yang masih belum terbaca.