Kategori
Celotehanku

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

eka kurniawan penulis kapitalis

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Tapi siang menjelang sore itu, ketika mendapat kesempatan untuk bertanya dalam acara bincang-bincang seputar rilis novel terbarunya, saya malah menjelekkan ‘O’; bahwa novel alusi Orwell ini sebuah kesalahan, seperti 1Q84, bagai Indomie beukah (baca: terlalu lama dimasak).