Kategori
Korea Fever TV Geek!

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman

Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Kategori
Korea Fever

Pop Coreano di Amerika Latin

“Di Chili, kami enggak punya sesuatu yang seperti K-pop. Lagu di sini kebanyakan sarat unsur politik dan sosial yang kolot, meski kami pun punya yang namanya irama Latin,” seorang gadis belia asal Santiago, yang berkumpul dengan kawan-kawan di taman tiap minggu untuk berlatih gerakan tarian K-pop terbaru (kalau di Bandung mah kayak di Taman Balaikota), mengatakan kepada kantor berita Yonhap, yang kemudian dilansir Time dalam Forget Politics, Let’s Dance: Why K-Pop Is a Latin American Smash. “Lagu-lagu Korea membuat saya menari dan tersenyum. Apa lagi yang dibutuhkan?”

Jika ada yang bertanya pada saya apa yang saya ketahui tentang Amerika Latin, barangkali saya akan langsung membayangkan kudeta militer, gaucho yang menunggang kuda, genre sastra realisme magis, para pemberontak Zapatista yang meski sedang dalam sengketa masih sempat-sempatnya baca puisi, perang antar geng dan kartel narkoba yang lebih aduhai ketimbang game Grand Theft Auto, serta para wanitanya yang rajin menang kontes kecantikan. Ya, sejauh yang saya tahu soal Amerika Latin, khususnya Chili, hanya melulu soal sepakbola, konstelasi politik dan kesusasteraannya; Pablo Neruda, Roberto Bolano dan Alejandro Zambra merupakan penulis asal Chile yang saya kenal, serta sukai. Tentu, yang kita yakin kita tahu akan sesuatu, apa pun itu, sebenarnya enggak lebih dari gambaran luar saja. Imajinasi yang terbentuk dari By Night in Chile-nya Bolano seakan luntur. Sebab Chili, bersama dengan Meksiko dan Peru, dinobatkan sebagai basis massa terbanyak yang terinfeksi gelombang hallyu.

Peru K Pop

Bukti paling mudahnya adalah banyaknya terjemahan subtittle video dan kolom komentar di Youtube yang berbahasa Spanyol. Bahkan, saya harus berterimakasih pada seorang fans K-pop asal Chili yang meski hanya dengan kualitas 360p telah berbaik hati mengunggah f(x) The 1st Concert ‘Dimension4 – Docking Station’ in Japan. Chili, yang saya tahu, pernah mengalami rezim sama seperti di Indonesia; Pinochet di Chili, Suharto di sini. Saya dan si pengunggah itu termasuk generasi setelahnya yang enggak mengalami masa tadi; generasi milenial di tengah pusaran banjir informasi, generasi yang sama-sama terpapar budaya pop dari Asia lainnya, Jepang dengan manga anime. Ada banyak fans f(x) di Chili ini, ungkapnya.

Musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang, sebut Eka Kurniawan dalam pos Identitas. Pengarang yang gandrung sastra Amerika Latin dan seorang Sone yang berbias Taeyeon ini lebih jauh menjelaskan bahwa apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik global: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan koreografi dirancang oleh seniman Jepang. K-pop sebagai identitas yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, menjadi semacam produk. Seperti Pop Mie, sebenarnya minim gizi, tapi seenggaknya bisa menahan lapar. Memang, K-pop telah jadi ekspor terbesar Korea Selatan.

Dalam penelitiannya, The K-pop Wave: An Economic Analysis, Profesor Patrick Messerlin menemukan bahwa “artis K-pop menunjukan kesopanan dan pengendalian diri,” dan “bersikeras bekerja keras dan belajar lebih banyak” selama penampilan publik, sesuatu yang artis pop Barat tidak lakukan. Ada semacam nilai-nilai Confusius. Musik mereka “baru, warna-warni dan ceria,” dan bukan “sebuah orde lama,” sesuatu yang akan dengan mudah menarik jutaan anak muda Amerika Selatan, yang hidup dalam tantangan ekonomi yang banyak dan rezim non-demokratik pada umumnya. Energi positif K-pop adalah dunia yang jauh dari sesuatu yang introspektif, meletihkan dan kadang-kadang muram seperti dalam rock Anglophone, indie dan emo. “[Orang-orang Korea] mengatakan, ‘Kami memahami masalahmu,'” Messerlin menjelaskan, “‘Kami pernah melalui itu juga,'” mengacu pada Perang Korea dan kejatuhan ekonomi akhir 1990-an.

Soal pemberitaan akan kesuksesan penyebaran hallyu di Amerika Latin ini mendapat kritikan dari Wonjung Min, profesor dan kepala bagian Asian Studies di Universitas Katolik Chili. Memang ini sebuah subkultur, tapi tidak seheboh yang diberitakan media.

“Meskipun Anda tidak akan percaya, di Peru grup K-pop malah jadi lebih populer ketimbang Justin Bieber, Lady Gaga atau Demi Lovato,” sebut Diana Rodriguez, yang memanfaatkan tren dengan menyelenggarakan kontes tari Korea di seluruh Peru, seperti dilansir Inquirer dalam K-Pop invades Latin American countries. Sentimen terhadap Amerika Utara pun disinyalir jadi salah satu faktor kenapa K-pop jadi lebih diterima.

Suatu hari di Meksiko, Maya Sánchez secara acak mengklik video grup Korea Big Bang. Tentu, dia enggak paham liriknya, tapi dia kemudian menyukai gayanya yang ‘menyilaukan mata’ itu. Sejak saat itulah dia jadi fans K-pop. “Saya bosan nonton video dari penyanyi pop yang sama dari Amerika Serikat kayak Selena Gomez dan Miley Cyrus,” kata Sánchez. “Cuma gitu-gitu aja.”

Dari Meksiko, balik lagi ke Peru. “Saya sudah menyukai K-pop sejak saya masih berusia 10 tahun,” ungkap Araceli Galan, mahasiswa berusia 19 tahun di sebuah universitas lokal. “Saya belajar segala sesuatu dari internet karena di sini di Peru enggak banyak diputar radio atau televisi.”

Internet, utamanya Youtube, punya peranan kunci dalam penyebaran gelombang Korea ini. Untuk lebih jelasnya berupa riset dan data dapat dibaca di jurnal ilmiah bikinan María del Pilar Álvarez ini: Who are the fans? Understanding the K-pop in Latin America. (Anjir, saya maulah jadi peneliti Hallyu studies)

“Ayah saya mendengarkan rock berbahasa Inggris; dia enggak suka K-pop sama sekali,” kata Galan. Tentu, akan selalu ada orang tua macam begini, seperti Mario Vargas Llosa dalam How Global Entertainment Killed Culture, bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. “Dia bilang ke saya, ‘Mengapa kamu dengerin musik begitu jika kamu enggak ngerti bahasa Korea?” Dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia pun enggak tahu gimana ngomong bahasa Inggris. Musik itu hanya perlu dirasa, kok.”

pic-1_custom-16998febef257b7b5e7445fcfa45c160155841c6-s800-c85

“K-Pop benar-benar mengubah hidup saya,” ungkap Samantha Alejandra asal Mexico City dalam Meet Latin America’s Teenage Korean Pop Fanatics, sebuah romantisme yang dirasakan pula para hijaber doyan kpop di Indonesia atau Malaysia atau di Timur Tengah, yang membuat geram orang-orang soleh lainnya, untuk kemudian memfatwakan haram pada barang impor ini. “Saya kecanduan,” tegas Alejandra.

Pertanyaan menarik adalah, sebagai sekumpulan massa, akankah fans K-pop ini jadi semacam gerakan counterculture seperti halnya The Beatles yang berkat popularitas bisa menginspirasi gerakan perdamaian pada medio 60an? Beberapa waktu lalu, dalam suatu protes yang dilakukan para mahasiswa Ewha Woman University, ketika pihak kampus meminta bantuan ratusan aparat, mereka tetap tegar dan menyemangati diri dengan lagu ‘Into the New World’-nya SNSD. Atau, bagaimana orang Korea Utara yang rela mendekat ke perbatasan hanya untuk mendengar lagu-lagu Kpop yang disetel keras-keras Selatan di zona demiliterisasi, yang disebut ‘Popaganda’, tes nuklir dari pihak Pyongyang dibalas ‘Let Us Just Love’-nya Apink. Atau, seperti suporter bola, karena sifat fanatismenya sama, akan disusupi paham fasis, misalnya suporter Boca Juniors yang disebut dalam Nazi Literature in the Americas-nya Bolano, ada agenda sayap-kanan ultranasionalisnya?

Kategori
Catutan Pinggir

Gadis-Gadis Pabrikan [1/2]

Girls Generation pose before their big stadium show in Jakarta for The New Yorker.

Saat itu pukul lima tepat di suatu Minggu pada bulan Mei, dua jam sebelum waktu pertunjukan, tapi sudah bergumul ribuan fans K-Pop membanjiri lapang terbuka di luar Honda Center, gelanggang besar di Anaheim, California. Penampil malam ini adalah beberapa grup pop terbesar di Korea Selatan—SHINee, f(x), Super Junior, EXO, TVXQ!, dan Girls’ Generation. Di Amerika Serikat, musik pop Korea hidup secara ekslusif lewat YouTube, di beragam video seperti “Gangnam Style,” dari Park Jae-sang, rapper yang lebih dikenal sebagai PSY, yang belakangan jadi viral. Pertunjukan di Honda Center merupakan kesempatan langka bagi fans K-pop untuk bisa melihat “idol,” sebutan para penampil itu, secara langsung.

Kategori
Korea Fever TV Geek!

Daftar Episode Running Man Bertabur Idol

Sekarang ini tim kreatif di pertelevisian Indonesia udah kehabisan ide kali ya, semua tv dibikin acara goyang, mulai dari goyang kejang sampe goyang ayan. Bikin variety show yang katanya segar tapi sebenernya nyontek dari acara luar negeri yang sukses.

Langsung aja ke topik pembahasan deh, takut dosa juga cuma bisa kritik Indonesia mulu mah. Nah, saya bakal ngomongin satu variety show yang meski udah lebih dari 3 tahun tayang tapi masih tetap dicintai dan ditunggu kehadiran episode barunya. Ya, adalah Running Man yang debut pada 11 Juli 2010 ini sangat disukai di Korea dan menjadi variety show terbaik pada tahun 2011.

Bahkan kepopuleran Running Man kini sampai di luar Korea, mereka selalu mendapat sambutan luar biasa ketika mengadakan syuting di luar negara Korea seperti Thailand, Hongkong, dan China. Seiring hallyu atau demam Korea yang menginfeksi dunia, acara ini pun makin mendapat sorotan.

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Saya dan 소녀시대

saya dan snsd editan

Salah satu penyakit paling happening dan pandemik yg melanda Indonesia, bahkan di dunia, selain flu burung (H5N1) sama flu babi (H1N1), ga bukan dan ga lain adalah Hallyu. Ya, demam Korea.

Korea Selatan nampaknya paling sukses dalam hal promosi kebudayaan. Dengan strategi pemasaran jitu memanfaatkan beragam media informasi, khususnya televisi dan internet, budaya pop Korea dapat menginfeksi khalayak dunia.

Pasti pada tau lah sama yg namanya Super Junior sama Girls Generation? Hari gini siapa sih yg ga kenal. Nah, yg mau saya omongin tuh tentang girlband-nya teteh cantik yg populer dengan lagu Gee.

Girls’ Generation (소녀시대; So Nyeo Shi Dae) adalah girlband asal Korea Selatan yang dibentuk oleh SM Entertainment pada tahun 2007 dengan member Seo Joo Hyun, Im Yoon Ah, Kwon Yuri, Choi Soo Young, Tiffany Hwang, Jessica Jung, Kim Tae Yeon, Lee Sun Kyu, dan Kim Hyo Yeon. Dikenal dengan nama SNSD atau SoShi (소시), keduanya merupakan singkatan dari nama grup ini dalam bahasa Korea.