Kategori
Catutan Pinggir

Han Kang dan Keruwetan Penerjemahan

dtpao7mv4aeqpuc

Harus seberapa literalkah sebuah terjemahan sastra? Nabokov, yang fasih dalam tiga bahasa dan menulis dalam dua bahasa diantaranya, percaya bahwa “terjemahan literal paling kasar seribu kali lebih bermanfaat daripada parafrase tercantik.” Borges, di sisi lain, berpendapat bahwa seorang penerjemah harus berusaha untuk tidak menyalin sebuah teks melainkan untuk mengubah dan memperkayanya. “Terjemahan adalah sebuah tahap peradaban yang lebih maju,” Borges menuntut — atau, tergantung pada terjemahan yang Anda temukan, “sebuah tahap penulisan yang lebih maju.” (Dia menulis kalimat ini dalam bahasa Prancis, satu dari beberapa bahasa yang dia kuasai.)

Kategori
Buku

The Metamorphosis + The Bell Jar = The Vegetarian

Mas mau tanya dong, kalo karya sastra korea itu masuk ke world literature work ga? Aku dapat tugas nih dari dosen buat analisis world short story, korsel itu masuk ga? Kang, kalau di Unpad ada jurusan Sastra Korea ga?

Salah saya sendiri sih, karena rajin mengkaji budaya pop Korea, dan meski bukan anak sastra, berani-beraninya menulis berbagai pos soal kesusasteraan dunia ala-ala Maria Popova di blog ini. Yang pasti, seperti ramalan seorang Eka Kurniawan: Mungkin saatnya menengok Korea tak hanya melalui K-Pop, tapi juga K-Lit mereka. Apalagi setelah kemenangan penulis asal Korea Selatan di ajang bergengsi Man Booker International Prize 2016, Han Kang dengan novel The Vegetarian-nya.

Saat pengumuman nominasi novel, saya menjagokan Man Tiger (Lelaki Harimau) dan The Vegetarian ini. Tapi saya omong sompral, dan sialnya intuisi saya selalu tepat, bahwa yang akan maju sebagai pemenang ya penulis perempuan dari negeri gingseng itu. Sialnya, Eka memang gagal menjadi bobotoh pertama yang meraih Man Booker International, dan kesialan lainnya adalah, enggak ada yang ngajak taruhan. 

Kategori
Fiksi

Vegetarian, Han Kang

vegetarian han kang

Sebelum istriku menjadi vegetarian, aku selalu menganggapnya sangat biasa dalam segala hal. Jujur, pertama kali aku bertemu dengannya aku bahkan tidak tertarik padanya. Tinggi menengah; potongan rambutnya tidak panjang tidak juga pendek; kulitnya seperti orang yang punya penyakit kuning; tulang pipi agak menonjol; sikap malu-malunya, juga betapa pucatnya dia sudah cukup mengatakan semua yang perlu kutahu. Saat ia datang ke meja tempatku menunggu, aku tidak bisa apa-apa selain melihat sepatunya—sepatu hitam sederhana yang sangat biasa. Serta cara berjalannya—tidak cepat juga tidak lambat, tidak dengan langkah panjang juga tidak pendek yang tergesa.

Namun, meski tidak ada keistimewaan menarik apapun, juga karena tidak ada kekurangan tertentu yang berarti, oleh sebab ini tidak ada alasan untuk kami berdua untuk tidak menikah. Kepribadian pasif wanita yang bisa kudeteksi ini bukan karena kekurangajaran bukan juga untuk menampilkan pesona tertentu, atau apapun yang menawan, begitu cocok denganku.