Kategori
Buku

7 Novel Ryū Murakami Guna Membangkitkan Sisi Psikotikmu

Ryu Murakami
Foto: Tokyo Weekender

“Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain,” sebut si seleb sastra Haruki Murakami, “kamu hanya bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Jika mengamalkan saran dari Murakami ini, yang buku-bukunya begitu populer dan dibaca banyak orang, maka segera pindah untuk baca Murakami lainnya: Ryū Murakami. Meski memang, kedua Murakami ini sebenarnya dua penulis mapan. Setidaknya, Ryū lebih klandestin dan obscure ketimbang Haruki.

Penulis bernama lengkap Ryūnosuke Murakami ini didaulat sebagai seorang renaisans di masa posmodernis. Novel pertamanya terbit 1976 dan langsung diganjar Penghargaan Akutagawa yang bergengsi, debutnya ini digembar-gemborkan sebagai jenis sastra baru.

Foto: Tokyo Weekender

Penulis yang juga sutradara film ini mengejutkan dan membuat kagum pembaca dengan cerita-ceritanya yang filmis, yang seringnya mengerikan, yang merangkul tema-tema vulgar ala Jepang nan gelap dari seks, kekerasan, dan obat-obatan.

Sudah ada lebih dari 50 karya yang ditelurkannya, baik novel dan kumpulan cerpen. Daftar berikut ini tujuh di antaranya, yang telah saya khatamkan dan saya pikir ini karya-karya esensialnya. Meski karyanya bisa bebas dibaca dari judul mana saja, saya susun daftar ini berdasarkan waktu rilis, sehingga kita bisa membaca juga perjalanan kepengarangannya,

1. Almost Transparent Blue

Foto: Goodreads

Tahukah kamu kalau Almost Transparent Blue ini jadi novel favoritnya Kim Namjoon atau RM BTS?

Seperti nonton JAV. Tanpa plot cerita, semuanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk, ikeh-ikeh yang bengis, dan rock n roll. Sebuah kisah brutal tentang muda-mudi di sebuah kota pelabuhan Jepang yang dekat dengan pangkalan militer Amerika.

Setelah membaca beberapa karyanya, yang selalu saya suka dari Ryū Murakami adalah bagaimana ia mengakhiri tiap novelnya. Selain itu, saya selalu cinta pada tiap novel perdana dari seorang penulis.

2. Coin Locker Babies

Foto: Goodreads

Ditinggalkan saat lahir di loker stasiun kereta yang berdekatan, dua anak laki-laki menghabiskan masa muda mereka di panti asuhan dan dengan orang tua asuh di pulau terpencil. Mereka akhirnya berangkat ke kota untuk menemukan dan menghancurkan wanita yang pertama kali menolak mereka: ibu kandungnya.

Bersama-sama dan terpisah, perjalanan mereka dari kotak logam panas ke klimaks buas yang memukau adalah perjalanan brutal melalui lanskap menakutkan Jepang akhir abad ke-20. Sebuah kisah coming-of-age surealis yang menjadikan Ryū Murakami sebagai salah satu penulis paling kreatif di dunia saat ini.

3. 69

Foto: Goodreads

Ini musim panas tahun 1969. Kensuke Yazaki berusia tujuh belas tahun dan tertarik pada segalanya: Rolling Stones, Rimbaud, Velvet Underground, French New Wave, Jimi Hendrix, protes politik dan Janis Joplin, yang semuanya ada di negara lain yang sangat jauh.

Kensuke dan teman-temannya membawa semua itu ke kota kecil mereka, memulai gerakan pembangkangan, membarikade sekolah mereka, membuat film, mengadakan festival. Bukan demi seni atau politik, melainkan untuk alasan yang jauh lebih penting, untuk satu-satunya alasan nyata: menggaet para gadis.

Karya Murakami yang manis dan semi-otobiografi yang luar biasa, tentang masa yang menyenangkan di usia yang menyenangkan. Novel 69 begitu komikal dan penuh gairah.

4. Popular Hits of the Showa Era

Foto: Goodreads

Sebuah novel tentang perang, secara harfiah, antara para janda kesepian dengan gerombolan pemuda tanggung yang doyan mabuk, ngintip dan karaokean. Sureal dan komikal. Berawal dari pisau lipat, lalu pedang, lalu rudal, sampai bom atom rakitan.

Siapa sangka kalau “perang geng” yang mematikan bisa dibaca sangat menyenangkan? Ryū Murakami membangun konflik menjadi sindiran lucu atas budaya modern dan ketegangan antar jenis kelamin serta generasi.

Sebagai tambahan, Midori-nya Ryū Murakami yang ada di Popular Hits of the Showa Era lebih bangsat ketimbang Midori yang di Norwegian Wood itu.

5. Piercing

Foto: Goodreads

Setiap malam, ketika istrinya sudah tidur, Kawashima Masayuki diam-diam meninggalkan ranjangnya dan mengawasi tempat tidur bayi perempuannya. Ini bukan adegan rumah tangga biasa. Ada pemecah es di tangan Kawashima, dan keinginan tak terkendali untuk menggunakannya. Memutuskan untuk menghadapi roh-roh jahat dalam dirinya, Kawashima menggerakkan serangkaian peristiwa yang tampaknya mengarah pada pembunuhan.

Piercing cocok untuk meluapkan jiwa-jiwa sadomasokis dalam diri kita. Namun, Ryū Murakami tak sekadar mengeksploitasi kekerasan. Ia berangkat dari satu permasalahan yang hingga kini masih dianggap masalah akut: kekerasan anak. Memang, dengan cara yang aneh.

6. Audition

Foto: Goodreads

Saat awal membaca saya pikir novelnya mengarah ke semacam audisi pemain bokep, tapi ternyata ini novel Ryū Murakami paling kalem yang saya baca sejauh ini.

Tentang seorang duda berusia 40-an, yang tak bisa move on setelah ditinggal mati istrinya. Ia kemudian coba bikin audisi-audisian, untuk mencari pasangan ideal buat dirinya, sebuah saran dari kawannya. Meski berjudul Audition, proses audisinya justru tak terlalu ditonjolkan, langsung fokus pada satu peserta audisi tersebut, seorang cewek pertengahan 20-an yang menarik hati si duda tadi.

Galau dan derita orang yang jatuh cinta yang dipotret novel itu betul-betul saya suka. Seperti biasa, Murakami yang ini selalu menawarkan klimaks nyeleneh di akhir-akhir.

Tak lupa, film adaptasi dari novel ini yang digarap oleh Takashii Mike jadi salah satu karya penting dalam sinema Jepang.

Audition (1999)

7. In the Miso Soup

Foto: Goodreads

Panduan lengkap Saritem-nya Tokyo yang diceritakan dengan gaya novel stensilan tapi sastrawi, semacam ‘fusion’ antara Fyodor Dostoyevsky dan Abdullah Harahap. Dalam beberapa kesempatan, saya membaca novel vulgar ini sambil selonjoran di Masjid Al Ukhuwah seberang Pemkot Bandung.

Tepat sebelum Tahun Baru, seorang turis gembrot asal Amerika bernama Frank menyewa Kenji untuk memandunya dalam tur keliling kehidupan malam Tokyo selama tiga malam berturut-turut. Perilaku Frank sangat aneh, bikin Kenji mulai curiga kalau klien barunya ini sebenarnya pembunuh berantai yang tengah meneror kota ini. Sampai kemudian Kenji menyadari ada bahaya begitu besar yang justru harus ia takutkan, dan bahwa pertemuannya dengan Frank akan mengubah hidupnya.

Bagi yang ingin menjelajahi semesta Ryū Murakami, saya rekomendasikan In the Miso Soup ini untuk dibaca pertama kali. Jika klop, saya jamin setelahnya ada keinginan untuk menganjingkan Haruki Murakami.

Kategori
Celotehanku

Kasmaran

34517056890_7bcbb6b9f9_b

Alih-alih sedikit-sedikit mengecek ponsel, saya bisa kembali masyuk membaca buku, setelah selama sekitar dua bulan otak saya dibanjiri dopamin dan testosteron – hormon-hormon yang punya peran mendatangkan “kebodohan yang diprogram secara biologis” pada otak yang sedang kasmaran. Berbarengan dengan semakin menurunnya mereka, How the World Works-nya Noam Chomsky makin menyadarkan saya, dunia ini sedang enggak baik-baik saja: hancurnya beragam gerakan kerakyatan, letusan kudeta-kudeta yang polanya seragam, kacaunya berbagai negara, genosida ini itu, naiknya para diktaktor, dan busuknya media dalam memberitakan, serta bahwa semua itu berakar pada kebijakan Amerika Serikat dan korporasi multinasional. Dapat mengolah bacotan Chomsky ini membuktikan bahwa fungsi otak saya, setidaknya, sudah kembali normal.

Meskipun orang-orang mendapat pengalaman jatuh cinta yang berbeda, pergolakan kimiawi di balik ketertarikan awal menunjukkan bahwa ada penjelasan biologis, misalnya merasa pusing selama minggu-minggu awal yang bahagia itu. Hal pertama yang terjadi ketika kita jatuh cinta dengan seseorang adalah kita mengambil makna khusus – semua tentang dirinya jadi istimewa. Selama sekitar dua tahun, dia hanya teman perempuan cantik biasa dan sekarang, senyumannya bahkan mengingatkan saya pada Kim Min Hee. Kita jadi sangat posesif secara seksual dan sosial. Anda hanya menginginkan orang ini. Kita mendambakan dirinya. Kita mendapat kegembiraan ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik dan jatuh dalam keputusasaan ketika dia enggak membalas chat. Dan kita sangat termotivasi untuk memenangkan orang itu. Apa yang akan dilakukan orang ketika mereka jatuh cinta benar-benar di luar dugaan. Ini sebuah dorongan, seperti kehausan atau kelaparan.

Dopamin, yang menyebabkan orang terobsesi tentang minat cinta barunya, yang melahirkan kegamangan berbunga-bunga, ketika udara terasa lebih menyegarkan, langit tampak lebih biru, senja tampak lebih sendu, yang bikin orang dapat menghabiskan hingga 85% dari waktu bangunnya untuk memikirkan si dia, yang mengukir senyum ketika menatap fotonya, efeknya telah menurun dalam kepala saya. Sementara itu, testosteron, yang selain meningkatkan hasrat seksual, juga meningkatkan perilaku agresif, yang dapat mendorong seseorang untuk berani mengejar si dia, nampaknya sudah menyurut.

Korteks ventral medial prefrontal, wilayah otak yang berfokus pada negatif, menjadi kurang aktif ketika seseorang jatuh cinta. Padahal korteks ventral medial prefrontal adalah teman terbaik saya. Karena darinya saya bisa mengamalkan ajaran kaum Stoik dan kebijaksanaan “untuk melihat gelas separuh kosong”: Hampir segala harapanmu akan hancur, beragam mimpimu harus masuk kubur, belahan jiwa idamanmu hanya eksis dalam khayalanmu, hari ini berjalan buruk, kemungkinan besar besok bakal lebih buruk, hingga yang paling buruk akhirnya terjadi. Dia mempersiapkanmu untuk yang terburuk, mengurangi ketegangan akibat ekpektasi, menjagamu dari kekecewaan, bahkan membuatmu sedikit tertawa karena memikirkan hal-hal buruk ini. Tampaknya, konteks prefrontal medral ventral saya sudah kembali aktif, saya mulai teringat pada Tom Hansen dalam (500) Days of Summer dan para protagonis murung yang dibikin merana karena mengejar kekasih dambaannya dalam novel Haruki Murakami.

Saya ingin berpikir bahwa jatuh cinta cuma reaksi kimia yang memaksa hewan untuk berkembang biak. Tentu, sebuah kesalahan untuk mereduksi cinta hanya pada bahan kimia, karena begitu banyak faktor lain yang bekerja di otak dan pikiran. Dan bukan hanya tentang seks, meski Freud bakal protes. Ini tentang peduli pada seseorang secara paripurna, timbulnya beragam distraksi, ketidaksabaran, kegelisahan takut ditinggalkan, dan campur aduk lainnya, yang makin diperumit setelah munculnya Romantisisme dan manusia-manusia yang selalu meromantisir. Romantisisme adalah tempat kita belajar tentang cinta, tentang naksir seseorang, tentang momen sekejap mata seseorang bertemu orang lain di seberang ruangan dan bagaimana itu mengarah ke bahagia selamanya. Masih percaya kamu akan mengejar belahan jiwamu dengan menjelajah melintasi Eropa? Kamu dapat berterima kasih kepada Richard Linklater untuk Before Sunrise, tetapi romantisme macam begini yang perlu kita salahkan atas obsesi kita dengan ketertarikan instan yang mengarah pada cinta dan kenyamanan seumur hidup.

Karena orang yang jatuh cinta enggak memproses dunia di sekitar mereka dengan rasional, dan menurunnya fungsi kognitif, ketika para hormon tadi mulai menormal, muncul beragam kegelisahan. Beberapa mungkin takut kemungkinan penolakan, yang menurunkan kenikmatan jatuh cinta. Yang lain mungkin takut untuk mengikatkan komitmen, atau takut karena bakal terlalu membutuhkan, dan sebagai akibatnya, mengenyahkan gebetan mereka. Beberapa mungkin terus menyelam, aman dengan harapan mereka bahwa ini mungkin hubungan yang akan bertahan. Saya sendiri masih enggak habis pikir atas apa yang saya rasakan dan alami kemarin-kemarin.

 

Kategori
Catutan Pinggir

Persahabatan Mematikan Mishima dan Kawabata

Persahabatan yang intim antara Yukio Mishima (1925-1970) dan Yasunari Kawabata (1899 – 1972) berada di sanubari skena sastra Jepang dalam dekade-dekade pasca perang, atau begitulah tampaknya. Sampai kemunculan Haruki Murakami sebagai superstar sastra internasional pada tahun 1990an, Mishima dan Kawabatalah yang mendefinisikan apa yang dipikirkan orang saat mereka mempertimbangkan novel Jepang modern.

Mishima – yang terkenal dipotret pada tahun 1969 dengan tubuh binaragawan, pedang di tangan dan bandana melingkar di kepalanya – adalah cowok macho dengan awak berotot ultra-kencang dan kematiannya yang spektakuler lewat ritual bunuh diri pada tahun 1970 menjadi berita utama di seluruh dunia.

Mishima adalah penulis karya ikonik seperti novel seputar pembebasan seksualnya yang blak-blakan, Confessions of a Mask (1949), dan The Temple of the Golden Pavilion (1956), kontemplasi tentang imajinasinya yang luar biasa dan terkadang destruktif. Tetralogi The Sea of Fertility (serial 1965-71) yang berusaha melampaui waktu dengan menelusuri reinkarnasi yang terjadi dari orang yang sama selama beberapa generasi, adalah salah satu prestasi sastra paling penting dan monumental dari Jepang modern.

Kawabata adalah pemenang Nobel Sastra pertama di Jepang pada tahun 1968, yang terkenal dengan novel-novel yang indah sekaligus teliti seperti Snow Country (1935-37), The Sound of the Mountain (1949-54) dan The Master of Go (1951), yang kesemuanya menggabungkan kepekaan modern dengan estetika khas Jepang. Berbanding terbalik dengan perawakan Mishima yang mengancam, dia adalah sosok kurus kerontang yang sering difoto dalam balutan pakaian Jepang.

Yang tak terlalu diketahui adalah bahwa Mishima anak didik Kawabata, yang nantinya akan berperan penting dalam kejatuhan mentornya.

Mishima pertama kali bertemu dengan Kawabata pada bulan Januari 1946, setelah seorang penulis muda berusia 21 tahun yang tak dikenal ini, dengan gugup dan penuh penghormatan, datang ke rumah seorang Kawabata di Kamakura yang berusia 46 dan sudah terkenal secara nasional untuk memohon bantuan agar karya-karyanya diterbitkan di beberapa majalah yang terhubung dengan Kawabata.

Ketika Kawabata menjadi pelindungnya, maka, dalam kata-kata saudara laki-laki Mishima, seperti “tangan Tuhan” mengangkat anak muda yang lemah dari ketakjelasan dan membuatnya menjadi sosok yang mulai menarik perhatian di dunia penerbitan Jepang. Akhirnya seorang penerbit datang ke Mishima – yang masih bekerja sebagai birokrat pemerintah – dan menugaskannya untuk menulis novel, Confessions of a Mask, yang akan mengubahnya menjadi sensasi nasional, dipuji dalam sebuah artikel surat kabar oleh Kawabata sendiri sebagai “Harapan tahun 1950”.

Sejak saat itu, Mishima tidak menoleh ke belakang dan menuangkan banyak novel – sastrawi dan populer, banyak di antaranya langsung diangkat menjadi film – juga drama, cerita pendek, kritik dan memoar. Sepanjang tahun 1950-an kebintangnya semakin tinggi. Dan selalu di sisinya adalah mentornya Kawabata, bahkan menelepon ke rumahnya untuk mewanti-wanti “selamat jalan” saat Mishima berangkat dalam perjalanan keliling dunia pada tahun 1951.

Begitu dekatnya keduanya, dan sangat bersyukur Mishima akan koneksi ini, Mishima – meskipun sebenarnya seorang gay – disarankan untuk menikahi anak perempuan Kawabata yang diadopsi pada tahun 1952. Ketika Mishima akhirnya menikah dengan gadis lain pada tahun 1958, Kawabata bertindak sebagai mak comblang resmi.

Ketika pada tahun 1968 diumumkan bahwa Kawabata telah menjadi penulis Jepang pertama yang memenangkan Hadiah Nobel untuk Sastra, Mishima bergegas ke rumahnya di Kamakura untuk mengucapkan selamat kepadanya. Dan ketika Mishima secara spektakuler meninggal bunuh diri pada tahun 1970, Kawabata akan memberikan madah di pemakamannya.

Namun di balik layar, apa yang diasumsikan dunia sebagai persahabatan terdekat ini telah berubah menjadi persaingan paling mematikan. Pada tahun 1960, hubungan mentor-murid telah berubah.

Mishima yang produktif – yang digambarkan oleh Kawabata sebagai “seorang jenius yang mungkin datang 300 tahun sekali” – sekarang adalah tokoh dominan dalam lanskap sastra, tidak lagi memerlukan penyokong apapun. Kawabata di sisi lain semakin bergantung pada pil tidur dan terkadang tidak mampu tampil sebagai penulis profesional sama sekali. Ketika Kawabata sedang membuat serial novel The House of the Sleeping Beauties pada tahun 1961, dia dirawat di rumah sakit dan bukannya menunda serialisasi, sepertinya dia menoleh ke Mishima untuk menjadi ghost writer untuknya.

Mishima, seorang pria dengan disiplin fantastis yang tidak pernah melewatkan tenggat waktu dalam hidupnya dan yang membentuk pandangan rendah terhadap seseorang yang tidak mampu menunjukkan profesionalisme yang sama, dengan mantap mulai merevisi pendapatnya tentang Kawabata. Secara pribadi, dia menggambarkan karya Kawabata Snow Country sebagai “campur aduk rongsok” dan ketika ditanya apa novel Kawabata favoritnya, dia membalas, The House of the Sleeping Beauties.

Ambisi Mishima tidak terbatas. Menjadi superstar sastra di Jepang tidak cukup: ia ingin menaklukkan dunia. Setelah dibantai oleh kritikus Jepang pada tahun 1959 dengan penerbitan Kyoko’s House, novel panjang yang dia percaya akan “menggambarkan zaman” dan yang dengan tegas akan menjadikannya sebagai penulis hebat, Mishima memutuskan bahwa dia akan membuat para kritikus Jepang tampak bodoh dengan menjadikan dirinya sebagai penulis Jepang pertama yang memenangkan Nobel Sastra. Dia melakukan segala kemungkinan untuk mewujudkan ambisinya: menjamu penerjemah dan penerbit internasional, menambat diplomat, dan bahkan mengunjungi Stockholm dalam persiapannya.

Tapi pada tahun 1960 Mishima terlibat dalam sebuah kontroversi yang bisa menghancurkan peluangnya dan malah membuka pintu Hadiah Nobel ke Kawabata. Mishima menulis sebuah novel berjudul After the Banquet yang merupakan potret terselubung seorang politisi konservatif yang sangat tidak menarik. Politisi tersebut menggugat soal pelanggaran privasi, melibatkan Mishima dalam kasus pengadilan yang akan bergemuruh selama bertahun-tahun.

Pada puncak Perang Dingin di tahun 1960an, rumornya adalah bahwa komite Hadiah Nobel menghindar dari Mishima – yang di masa mendatang jadi tokoh ikon politik sayap kanan – karena mereka secara keliru mengira bahwa Mishima berada di sayap kiri karena karya satirnya pada seorang politisi konservatif itu.

Kemudian Mishima mencoba membujuk Kawabata – sebagai ketua klub PEN – untuk menulis surat dukungan yang menegaskan haknya untuk kebebasan berbicara. Sebagai imbalannya Kawabata dengan cerdik meminta agar Mishima menulis surat yang mendukung pencalonannya untuk Hadiah Nobel. Selanjutnya Kawabata mengklaim bahwa dia tidak tertarik untuk memenangkan Hadiah yang akhirnya dia dapatkan – sebagai perwakilan non-politis dalam estetika tradisional Jepang – pada tahun 1968.

Dengan kesempatan untuk memenangkan Hadiah Nobel yang terebut darinya, Mishima menjadi semakin terbiasa dengan perjuangan batin untuk menyelesaikan “karya utama” monumentalnya, tetralogi The Sea of Fertility. Jauh dari pekerjaan kreatifnya, dia terobsesi dengan gagasan bahwa Jepang mungkin jatuh ke dalam perang sipil karena kerusuhan mahasiswa anti-Vietnam pada tahun 1968.

Dia membentuk pasukan pribadinya sendiri dan menyerukan revisi “Konstitusi Perdamaian” Jepang. Akhirnya pada tahun 1970, dalam insiden yang aneh, dia menyandera seorang jenderal di sebuah pangkalan militer dan meminta tentara untuk bangkit. Ketika khotbahnya tak mendapat tanggapan yang diharapkan, dia langsung melakukan ritual bunuh diri seppuku.

Ada banyak alasan kematian mengejutkan Mishima ini: pernyataan politik; realisasi fantasi sadomokis seumur hidup; keinginan untuk mati di puncak kekuasaannya. Tapi hanya sedikit yang bisa merasakan kekuatan kematian yang mematikan itu lebih tajam selain mentor seumur hidupnya Kawabata.

Ironisnya, Kawabata sedang menghadiri sebuah pemakaman di pagi hari saat berita tentang “Insiden Mishima” sampai kepadanya dan dia bergegas ke pangkalan militer dengan masih mengenakan pakaian berkabung. Dua bulan kemudian dia akan memimpin perkabungan di pemakaman resmi Mishima.

Kawabata sangat dihantui oleh kematian Mishima dan selama dua tahun Kawabata sendiri hidup dalam kematian, bunuh diri dengan gas beracun. Beberapa orang berpendapat bahwa ia meninggal karena kecelakaan, namun nampaknya jauh lebih mungkin ia meninggal bunuh diri.

Apa yang terjadi ketika seorang penulis tua mengasuh bakat muda yang akhirnya dia andalkan seperti tongkat penopang? Apa yang terjadi ketika bakat muda itu tumbuh seperti monster dan menguasai talenta yang lebih tua, yang diam-diam membenci dia dan bersembunyi di balik penghargaan kosong?

Pertarungan psikologis yang menarik antara Mishima dan Kawabata bukan hanya sebuah cerita kunci dalam evolusi sastra Jepang modern, tapi juga salah satu hubungan cinta-benci paling menarik dalam sejarah sastra.

*

Diterjemahkan dari Bookwitty berjudul The Deadly Friendship of Yukio Mishima and Yasunari KawabataDamian Flanagan adalah pengarang, kritikus, satiris. Menulis di The Japan Times, The Irish Times dan The Daily Express. Buku yang telah diterbitkan: “The Tower of London: Tales of Victorian London” dan “Yukio Mishima”.

Kategori
Movie Enthusiast

7 Film Cinta Pilihan Suka-Suka Aja

film-cinta

Jika seorang yang enggak becus menendang bola boleh jadi komentator sepakbola, berarti enggak masalah dong orang yang payah kisah cintanya berbagi soal film cinta kesukaannya. Tentu, dengan wawasan film seadanya, daftar bikinan saya ini anggap saja kentut tak berbau. Boleh diamini, sangat boleh dilupakan. Dan tentang film cinta, lebih jauh soal cinta sendiri, nampaknya sebutan ini cakupannya luas. Film laga minim cerita pun ada kisah cintanya, meski kacangan. Jadi apa yang saya bicarakan ketika membicarakan film cinta ini? Jenis cinta yang mana? Hehe, mudahnya, anggap saja judulnya hanya sekadar clickbait, atau umpan klik. Katakanlah, kita duduk berdiskusi sampai berbusa-busa dalam satu meja sambil minum-minum, dengan gin dan tonik atau soju atau kopi, bahas soal cinta, dan ini enggak akan mengarah ke mana pun. Apa dengan menonton film-film ini kita bisa memahami cinta lebih baik? Hmm, saya adalah orang yang salah untuk ditanya. Baiklah, berikut filmnya.

Chungking Express (1994) – Wong Kai War

Antara film Hongkong, Taiwan, dan Cina daratan, nampak mirip, tapi secara kualitas, Hongkong terdepan. Film-film Hongkong keluaran 80-90an yang dibintangi Jackie Chan atau Stephen Chow, begitu akrab dan saya gemari saat masih bocah, bahkan sampai hari ini. Biasanya kisahnya soal polisi atau detektif. Ini juga yang diangkat Wong Kar Wai, berfokus pada dua polisi menyedihkan yang habis dicampakkan, dan patah hati berlarut-larut, namun kemudian keduanya jatuh hati pada lain perempuan; yang satu pada wanita misterius yang berbisnis dalam jaringan bawah tanah, satunya lagi jatuh cinta pada pelayan sebuah kios makanan yang pelamun, yang suka mendengar musik keras-keras. Selain Dreams-nya The Cranberries versi bahasa Mandarin (atau Kanton?), menarik mengikuti monolog interior para protagonisnya. “Jika kenangan bisa dikalengkan, apa bakal ada tanggal kadaluarsanya juga?” tanya si Polisi berkode 223 pada dirinya sendiri, “Jika iya, aku ingin bisa bertahan hingga berabad-abad.”

Tony Takitani (2004) – Jun Ichikawa, Haruki Murakami

Kalau saja Norwegian Wood digarap Ichikawa, mungkin enggak akan mengecewakan para fans Murakami sedunia. Andai saja begitu, tapi sayang dia keburu meninggal. Adaptasi dari cerita pendek berjudul Tony Takitani ini berhasil dengan cemerlang. Merayakan kehampaan dengan asyik. Kehampaan Tony Takitani. Karena namanya kebarat-baratan, Tony dijauhi oleh anak-anak lain dan menghabiskan masa kecil yang soliter. Meskipun berbakat sebagai seniman, gambarnya enggak punya rasa, sehingga saat dewasa, ia mengukir karier sebagai ilustrator teknis. Tony jatuh hati pada seorang wanita muda cantik, Eiko Konuma, yang mengunjungi dia di suatu hari untuk tujuan bisnis. Eiko seperti malaikat di kehidupan sehari-hari Tony, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa terhubung dengan dunia luar. Eiko sempurna, namun satu masalah: dia seorang shopaholic, selalu gemes pengen beli pakaian stylish. Filmnya sendiri mengangkat seluruh cerpennya. Tony Takitani, baik cerpen atau film adaptasinya, adalah sebuah puisi enak buat para masokis pecinta kehampaan dan kesendirian.

Wristcutter: A Love Story (2006) – Goran Dukic, Etgar Keret

Dua hari setelah aku bunuh diri aku mendapat pekerjaan di sebuah restoran pizza. Kalimat pembuka cemerlang sebuah cerita karangan Etgar Keret. Dan seperti dalam Kneller’s Happy Camper, sebagai film adaptasi, mengikuti sebagian besar kerangka novela nyeleneh itu. Berlatar di dunia orang mati yang diperuntukan bagi mereka yang bunuh diri, sebuah dunia tanpa senyum, dan membosankan. Sedih karena putus dengan Desiree, Zia menyilet pergelangan tangannya dan kembali hidup di dunia orang mati tadi. Secara kebetulan, Zia mendapat kabar bahwa Desiree bunuh diri juga beberapa bulan setelahnya. Ia melakukan perjalanan dengan Eugene untuk menemukan mantannya itu, dan di tengah perjalanan mereka menumpangkan Mikal, yang ingin protes karena percaya ada kesalahan yang membuat dirinya dihidupkan kembali di sini. Komikal, cerdas dan aneh. Semacam parodi tingkat lanjut bagi drama No Exit-nya Sartre. Cinta akan selalu ada, setelah kamu bunuh dirimu sekalipun .

The Science of Sleep (2006) – Michel Gondry

Dua tahun setelah Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Gondry bikin lagi film dengan tema pikiran bawah sadar, soal mimpi, dan kali ini lebih surealis. Jika yang pertama soal move on, kali ini soal pendekatan. Setelah kematian ayahnya di Meksiko, Stéphane Miroux, seorang pemuda pemalu, setuju untuk datang ke Paris untuk tinggal bersama ibunya yang janda. Dia mendapat pekerjaan yang membosankan di sebuah kantor pembuatan kalender dan jatuh cinta dengan tetangga sebelahnya yang cantik, Stéphanie. Tapi menaklukkan Stephanie bukan perkara mudah dan satu-satunya solusi yang Stephane lakukan adalah melarikan diri ke dunia mimpi. Brilian dan menghibur. Visualnya nyeleneh dan penuh hipnotis. Bernal, sebagai Stephane, begitu menawan dan komikal. Tentu, saya begitu bersimpati pada Stephane. Laju film ini indah. “Otak adalah hal paling kompleks di alam semesta,” ungkap Stephane, “dan itu tepat di belakang hidung!”

Babel (2006) – Alejandro González Iñárritu

Empat cerita saling terhubung berkat sebuah tembakan. Cerita yang kompleks dan tragis dari kehidupan umat manusia dari berbagai belahan dunia, dan bahwa kita sebenarnya enggak beda-beda amat. Di Maroko, pasangan suami istri yang berselisih paham sedang berlibur untuk mencoba mengatasi perbedaan mereka. Sementara itu, seorang gembala Maroko membeli senapan untuk anak-anaknya agar mereka dapat mengusir serigala jauh-jauh dari kawanan gembalanya. Seorang gadis di Jepang berurusan dengan penolakan, kematian ibunya, hubungan dengan ayahnya yang berjarak, kesadaran diri, dan cacat fisiknya beserta isu-isu lainnya berkaitan dengan kehidupan modern di kota metropolitan bernama Tokyo. Di sisi lainnya, pengasuh asal Meksiko yang harus mengurus dua anak dari pasangan suami istri yang sedang berlibur tadi, memutuskan membawa anak asuhannya itu ke pernikahan anaknya yang berlangsung di Meksiko, untuk kemudian hanya mendatangkan masalah saat perjalanan pulang. Dikombinasikan, keempatnya memberikan cerita yang kuat dan menampilkan bahwa kita, meski tampaknya acak, dengan kultur berbeda, di seluruh dunia ini saling terhubung.

A Separation (2011) – Asghar Farhadi

Berfokus pada pasangan kelas menengah Iran yang hendak bercerai, dan konflik yang timbul ketika sang suami menyewa pengasuh dari kelas bawah untuk mengurus ayahnya yang sudah tua dan menderita Alzheimer. Simin menggugat cerai suaminya Nader dengan harapan bahwa ia dapat membuat kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka di luar negeri. Nader mempekerjakan Razieh, seorang wanita yang sudah menikah, yang menyembunyikan kehamilannya. Suatu hari, karena marah, Nader mendorong Razieh sampai dia keguguran, konflik pun makin mencuat. Seperti kata Leo Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dengan semangat besar dan kehalusan, Farhadi mengubah pertengkaran tak membahagiakan ini menjadi tragedi kontemporer memikat.

The Handmaiden (2016) – Park Chan-Wook

“Tahu apa kecoa soal cinta?” tanya Hideko mengejek lelaki Korea yang telah jadi suaminya, atau suami-suamiannya, yang dulu menjanjikan pernikahannya, atau nikah-nikahannya, bakal jadi pembebasan bukan penjara. Berlatar di Korea pada 1930an saat masa kolonial Jepang, film ini merupakan fantasi erotis tentang seorang ahli waris, pamannya yang sadis juga cabul karena doyan baca Marquis de Sade dan buku erotis lainnya, pembantu setianya yang sebenarnya cuma pura-pura jadi pembantu dan sang lelaki penipu ulung yang mengejar kekayaannya. Ah, saya enggak akan membocorkan ceritanya, yang pasti penuh tipu-tipu di film ini. Selain Train to Busan, di tahun 2016, film arahan Park Chan-Wook ini banyak menyedot perhatian. Inspirasi film ini sendiri adalah dari novel Sarah Waters, Fingersmith, tentang romansa thriller lesbian pada era Victoria. Sinematografinya ciamik, dan adegan ranjangnya sungguh bajingan.

 

Daftar macam apaan ini? Kok enggak ada 500 Days of Summer atau 5 Centimeters per Seconds?  Mana film ini? Mana film bikinan si itu? Film Indonesia enggak ada, nih? Bollywood mana? Cinta apaan, sih? Hehe. Bisa saja saya bikin daftar panjang sampai 100, tapi tetap ada banyak film yang belum saya tonton, dan akan ada banyak pula bermunculan film-film lain. Semoga di masa mendatang, ketika saya lebih arif, dan enggak terlalu malas, mungkin akan saya bikin daftar lainnya. Bagi yang merasa kecewa, silahkan bikin daftar sendiri, kasih saya rekomendasi film yang bagus, dan bagi yang berminat menonton film-film di atas, berterimakasihlah pada internet karena memungkinkan adanya situs berbagi.

Kategori
Celotehanku

Hanya Ada Kosong di Jok Belakang

1

Usianya 15, masih tolol, dan akan selalu begitu. Ketika hidup hanya disesaki tugas sekolah, saat masa depan terbentang lebar – hanya diburamkan ramalan kiamat 2012. Secara hukum, tentu bocah ingusan umur segini belum boleh mengendarai motor, dan jadi sasaran empuk untuk diperas polisi kalau sedang ada razia. Tapi apa asyiknya hidup jika hanya tunduk pada aturan. Saya berontak; maka saya mengada. Tanpa pamitan, saya membawa kabur Yamaha Mio 2008, yang masih mulus, yang baru beres dibikin plat nomornya, untuk kemudian membawa pulang motor tadi dengan keadaan kaca depan pecah, bodi penuh baret dan dengkul yang terluka. Saat itu bacaan saya masih sebatas komik hentai, dan masih dalam tahap belajar naik motor. Momotoran perdana saya tersebut, berakhir memalukan. Pertama, hampir membuat momotoran ke Kawah Putih yang sudah setengah jalan ini dibatalkan. Selanjutnya, dimarahi orang tua tentu saja suatu keniscayaan, tapi berkatnya saya dibebaskan memakai motor untuk pergi sekolah. Kejadiannya seperti baru kemarin saja. Entah kenapa, saya masih jelas mengingatnya. Padahal secara umum, kita sangat baik untuk melupakan hal-hal sepele. Bahkan, banyak dari pikiran kita, hilang begitu saja. Kita cenderung untuk mengingat hanya hal-hal yang kita pikirkan begitu sering atau yang memiliki ikatan emosi – sebuah masalah, sebuah tanggal, sebuah pertemuan. Untuk mengingat momen, mencatat atau mengabadikannya dalam foto adalah upaya paling sering dilakukan manusia. Saat itu saya belum menulis catatan seperti sekarang. Satu-satunya catatan yang bisa mengkonfirmasi pengalaman ini bisa dilihat di pos teman saya yang berjudul 9 April 2009 . Kawah Putih with x1. Meski belum tau apa pentingnya menulis, bisa dibilang berkat Raditya Dika dan dia yang bikin catatan harian ala-ala Raditya Dika itu, yang membuat saya mau-maunya ngeblog. Membaca kembali catatan-catatan terdahulu, meski penulisannya buruk, adalah sebuah keasyikan tersendiri. Beragam kenangan lain ikut menyerbu. Teringat setelah kecelakan itu, saya yang harus dibonceng diceramahi teman saya sendiri, dengan bahasa Sunda, yang intinya: 1) Jangan dikendalikan motor, tapi kitalah yang harus mengendalikannya; 2) Jangan hanya mengikuti yang di depan, tapi perhatikan jalan yang harus kita lalui. Dua nasihat sok bijak, yang memang bisa diaplikasikan buat hal-hal lainnya, dalam hidup ini.

+

2

Ketika melihat rombongan bermotor, saya sering berdoa agar mereka jatuh masuk jurang berjamaah. Sialnya, doa macam begini jarang ditanggapi. Rombongan motor yang saya maksud adalah mereka yang menganggap dirinya ambulans, yang harus meminggirkan yang lain karena menganggap dirinya sang raja jalanan, yang sebenarnya mereka yang layak masuk ambulans dan dilarikan ke rumah sakit jiwa. Soal momotoran, atau touring motor, atau bermotor beriringan, tentu enggak dilarang, kecuali kalau masuk jalan tol, yang masih sering dilakukan para bebal. Saat masih berseragam putih abu, saya sering momotoran ke selatan Bandung atau jalan-jalan ke kota, ke Kota Bandung maksudnya. Momotoran tentu sesuatu yang seru, begitupun bermotor sendirian. Mungkin banyak yang mengeluh soal macet, saya pun begitu, tapi kadang menikmatinya. Bagi saya, bermotor saat macet, atau ketika menunggu lampu merah, adalah waktu yang berharga bagi hama-hama penggerutu dalam kepala saya untuk melingkar berdiskusi beragam pokok: Dunia ini sungguh absurd karena enggak bisa menerangkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya; Dunia ini irasional karena enggak bisa menerangkan soal adanya kemalangan, bencana, ataupun tujuan hidup manusia; Dunia seringnya enggak kasih yang kita minta. Beragam pikiran selintas, yang seringnya akan masuk tong sampah dalam korteks serebral. Ada lagi kebiasaan aneh saya lainnya, saya sering menguntit seorang perempuan yang bermotor sendirian, enggak berusaha untuk menyusulnya. Seperti Kanae Sumida yang mengikuti laju Takaki Tohno di depannya dalam film anime tiga babak 5 Centimeters per Second. Hanya meneliti cara dia berkendara, atau stiker yang ditempel di spatbor atau helmnya, atau setelan yang dia pakai. Apakah ini perilaku cabul? Saya enggak tahu, tapi tentu saya enggak berniat jahat. Apalagi kalau malam hari, saya hanya berusaha meneranginya. Meski bejatnya, saya kadang iseng berdoa agar perempuan itu jatuh tergelincir, untuk kemudian saya bisa membantunya. Beruntung, doa macam begini jarang ditanggapi. Bermotor sendiri, meski tragis, kadang bisa romantis. Saya bukan orang yang menggebu-gebu dalam bermotor, juga dalam apapun. Mungkin karena inilah saya suka membaca Yasunari Kawabata, menonton Christopher Nolan, atau Makoto Shinkai, mendengar Radiohead, berlaku seperti tokoh dalam cerpen Utuy T. Sontani, juga layaknya protagonis dalam Haruki Murakami. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya. Atau, karena mengubah realita begitu sulit, yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita. Apapun itu, sikap pesimisme sebagai bentuk kebijaksanaan kuno, yang masih termaktub dalam konsep bersyukur, juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Kenapa pula manusia begitu susah payah, saling berkejaran, untuk mendapat yang namanya kebahagiaan?

+

3

Semua ini, semua cinta yang kita bicarakan ini, hanya akan jadi kenangan. Mungkin bukan sebuah kenangan. Apakah aku salah? Apakah aku sesat? Karena aku ingin kalian meluruskanku jika kalian pikir aku salah. Aku ingin tahu. Maksudku, aku tak tahu apapun, dan aku orang pertama yang mengakuinya.

– Raymond Carver, Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Cinta

Kenapa harus mencintai dia yang enggak bakal balik mencintaimu padahal ada beragam masalah yang harus dipikirkan, upaya menggulingkan kapitalisme, misalnya? Mencintai harusnya saling menguntungkan kedua belah pihak, sarana menumbuhkan kesadaran kolektif. Cinta adalah komunisme mungil, kelakar pemikir Alain Baidou. Apa yang didapat dari cinta satu arah coba? Yang satu enggak tahu kalau ada yang mencintainya, yang satunya lagi harus mencintai dengan menyakiti diri sendiri. Sama aja kayak perilaku ganjil masokis, kayak landak yang pengen ngentot, harus kena tusuk duri pasangannya. Entah, mungkin karena itulah disebut cinta. Ya, ya, di sini saya hanya bertugas seperti komentator sepakbola, yang mungkin kalau disuruh bermain bola malah garuk-garuk bokong. Ada dua nasihat dari saya, pelajaran pertama: untuk mencintai, jangan berpura-pura. Pelajaran kedua: jangan percaya nasihat orang yang payah kisah cintanya. Untuk praktek cinta searah, bisa dibilang saya jagonya, saya bahkan bisa mencintai kepada entah siapa, seseorang yang jauh. Kita semua sebagai makhluk sosial memiliki keinginan mendalam dan mendasar untuk menemukan bahwa ada satu orang yang sempurna untuk menghabiskan sisa hari-hari kita. Bahwa ketika kamu bertemu dengannya, kamu merasakan daya tarik enggak terkendali dan rasa akrab yang enggak logis. Seolah-olah kamu sudah tahu orang itu untuk seumur hidupmu. Apa pun yang kamu ingin sebut, film dan serial TV dan buku telah meromantisasi fenomena ini dengan sebutan belahan jiwa atau jodoh. Tapi apa yang benar-benar kita tahu tentang pasangan yang sempurna atau pasangan yang ideal itu? Kenapa ada yang sampai berganti pacar dan berganti suami atau istri? Apakah dengan berpacaran atau bahkan ketika sudah menikah, kita bisa bebas dari yang namanya kesepiaan? Saya enggak mau jadi sinis, tapi dua orang bisa saja tidur di ranjang yang sama dan masih akan merasa sendirian saat mereka berdua menutup mata mereka. Pada akhirnya, entah karena kita sering membaca kalimat “dan mereka bahagia selamanya,” dalam penutup kisah, barangkali begitulah nasib manusia. Kita butuh sebuah tujuan, seilusif apapun: untuk bisa menemukan belahan jiwa kita, untuk bisa mengecupnya, meremas tangannya dengan kuat, untuk memimpikan sebuah tatanan baru dunia, atau sekadar agar bisa bebas ngobrol cabul. Karena tanpa tujuan, mungkin kita akan jadi makhluk yang lebih menyedihkan dan mengerikan. Terus bergerak, meski entah kemana, meski hanya ada kosong di jok belakang kita, dan meski hanya 5 cm/detik secepat gugurnya kelopak sakura untuk sampai ke tanah. Haha, kenapa aing jadi mendayu begini.

Baiklah, entah dialamatkan untuk siapa, tapi saya ingin mengirim video ini. Mungkin, entah kapan, seperti Park Chanyeol, saya akan melancarkan bahasa Jepang dan menyanyikan lagu ini secara langsung buat dia, atau mungkin dia itu kamu yang sedang membacanya. Entah kenapa, orang Jepang sangat paham soal kesepian dan kehampaan.

Kategori
Korea Fever

Perempuan yang Membaca Dostoyevsky

Kim Taeyeon, yang paras mukanya terpacak dalam grafiti dekat pertigaan gerbang tol Kopo dan juga di Jalan Stasiun Timur, sedang baca ‘Crime and Punishment’-nya Fyodor Dostoevsky di video musik terbarunya. “Seperti dia pake kaos Guns N’ Roses di klip ‘Why’, kayaknya Taeyeon memang kirim kode buat sayah,” balas Eka Kurniawan setelah saya kasih info tadi. Sebelumnya, di ‘Rain’, Taeyeon terlihat baca ‘Harry Potter and the Order of the Phoenix’, novel seri kelima dari J.K. Rowling. Taeyeon sang sobat literasi, meski cuma pura-pura, tentu saja. Eh, tapi member SNSD emang beneran pada doyan baca, loh. Ini agak snob, tapi saya punya semacam fetish pada perempuan yang membaca, apalagi ketika dia punya selera buku yang sama, membaca sastra klasik Rusia, misalnya. Saya jadi teringat pernah bikin cerpen soal pertemuan dengan perempuan yang membaca dan mengidolakan Dostoyevsky. Cuma cerpen kacangan tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang menarik, saya menggambarkan kalau si perempuan dalam cerpen itu secantik Taeyeon. Siapa lelaki yang enggak bakal jatuh cinta, coba?

‘Rain’ yang moody sekaligus jazzy di musim semi, ‘Why’ dan ‘Starlight’ yang rada RnB saat musim panas, dan kali ini ’11:11′ yang begitu sendu dirilis saat musim gugur. “Ini pukul 11:11,” Taeyeon bernyanyi dengan terlebih dulu diawali petikan gitar yang aduhai, “Ketika tidak ada banyak waktu tersisa untuk hari ini. Ketika kita biasa untuk membuat permintaan dan tertawa. Segalanya mengingatkanku padamu.” Lagu bertempo lambat yang sederhana dengan iringan akustik dan melodi piano minimalis ini merupakan lagu soal mantan, soal hubungan manis yang kemudian kandas. “Semua akan menemukan tempatnya dan pergi,” Taeyeon melantunkan dengan bijaknya. Sebuah pesan yang tulus untuk mengobati rasa sakit dan penderitaan karena patah hati. Seperti sebuah kutipan dari ‘Crime and Punishment’; “Rasa sakit dan penderitaan selalu tidak terelakkan”, yang oleh Haruki Murakami, fanboy dari Dostoyevsky, dipelintir lagi jadi, “Rasa sakit tak bisa dihindari. Tapi penderitaan adalah pilihan.”