Kategori
Celotehanku

Sensasi Stop Making Sense

image-w1280

Sudah lama saya tahu nama band satu ini, salah satunya karena Radiohead adalah nama yang dicatut dari satu judul lagu mereka, tapi belum sekalipun mencoba mendengarnya. Meski enggak hapal lagu-lagunya, setelah nonton Stop Making Sense, saya otomatis langsung jadi fans Talking Heads. Band rock Amerika yang dibentuk 1975 di New York, mengawali diri sebagai punk kemudian selanjutnya bersinkretis ke funk, menjadi salah satu pionir genre new wave.

Saya menonton Stop Making Sense lewat Youtube. David Byrne, sang vokalis Talking Heads, berjalan ke sebuah panggung melompong di Pantages Theater di Los Angeles mengenakan jas abu-abu, yang tampak lusuh, dan sepatu putih dan membawa boombox. “Hi,” katanya pada penonton. “I got a tape I want to play.” Dia meletakkan stereo, membawakan “Psycho Killer,” dan semuanya menjadi hidup. Kemudian Tina Weymouth sang bassis bergabung di atas panggung untuk memulai lagu berikutnya. Tiap lagu, pemain band lain terus muncul satu per satu. Petugas panggung keluar dari sisi panggung dan mulai menyusun platform bagi sang drummer Chris Frantz. Lalu masuk Jerry Harrison membawa gitar. Berbagai peralatan musik disiapkan di panggung, kabel-kabel terpasang.

Minimalisasi dan dekonstruksi lengkap dari pengaturan panggung konser diartikulasikan dengan indah di seluruh pertunjukan dengan potongan-potongan, baik itu latar, peralatan, pemain, ditambahkan sedikit demi sedikit. Butuh empat lagu sebelum seluruh anggota band tampil di panggung bersama, dan bahkan ada lagi yang akan bergabung. Musisi tambahan masuk: vokal pendukung Lynn Mabry dan Ednah Holt, synthenizer Bernie Worrell, pemain perkusi Steve Scales, dan gitaris Alex Weir. Dan konser makin menggelora.

Stop Making Sense, dirilis pada 1984, adalah sebuah kehebohan selama 88 menit. Direkam selama empat malam di Pantages Theatre di Hollywood pada bulan Desember 1983, ketika kelompok itu sedang tur untuk mempromosikan album baru mereka Speaking in Tongues. Judulnya diambil dari lirik lagu “Girlfriend Is Better”: As we get older and stop making sense...

Yang jadi sorotan tentu saja sang garda terdepan David Byrne. Melihatnya bergerak seperti manusia elastis dengan mik, kakinya dan pinggulnya tampaknya bekerja secara independen dari tubuh bagian atasnya, cukup mengesankan. Joget aneh, kejang-kejang, berlarian di atas panggung, berdansa dengan lampu, dan banyak gaya nyeleneh lain. Yang paling ikonik tentu saja kemeja kerja super gede, yang terinspirasi dari teater Jepang.

Enggak akan pernah ada film seperti Stop Making Sense. Sebagian besarnya memang berkat andil dari band tersebut, karena ini memang konser mereka, tapi mungkin enggak akan ada dalam bentuknya yang dinamis dan unik jika enggak ditangai sutradara Jonathan Demme – yang nantinya menelurkan The Silence of the Lamb (1991) dan The Manchurian Candidate (2004).

Ada banyak film konser hebat yang mengabadikan band-band di saat-saat puncak mereka. Namun, enggak satu pun dari mereka menggunakan media sinematik sebaik Stop Making Sense. Justru lewat kesederhanaan, film konser ini terasa megah. Sebagai sebuah film konser, juga sebagai sebuah film, Stop Making Sense menang di banyak bidang: sebagai hiburan, sebagai teater eksperimental, sebagai pertunjukan musik, atau sebagai latihan dalam dekonstruksi.

“Keahlian Jonathan adalah untuk melihat pertunjukan itu hampir sebagai bagian dari pertunjukan teater, di mana karakter dan keanehan mereka akan diperkenalkan kepada penonton, dan kamu akan mengenal band sebagai orang, masing-masing dengan kepribadian yang berbeda,” kata David Byrne dalam euloginya, diposting setelah kematian Demme pada April 2017. “Mereka menjadi temanmu, dalam arti tertentu.”

Demme menyukai syut dari sudut pandang penonton, layaknya fancam kekinian di Youtube, dan membuatnya terasa mendalam. Demme menghindari syut reaksi penonton, yang menciptakan perasaan bahwa kita bukan penonton, melainkan bagian dari band. Syut close-up pada Byrne dan pemain Talking Heads lainnya sering dilakukan, menciptakan semacam keintiman.

https://www.youtube.com/watch?v=mzFfV-02-Ts

Talking Heads memang beranggotakan para murid sekolah seni, sehingga nyeleneh artsy. Sejak 1980-an, live musik pop, berkat Talking Heads, menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan. Pementasan jadi sesuatu yang penting, dan penonton akan segera datang untuk mengharapkan kostum yang nyentrik, pencahayaan yang canggih, dan koreografi yang luar biasa.

Stop Making Sense seperti crescendo selama 88 menit, sebuah proyek seni yang berkembang yang semakin rumit dan menarik seiring perkembangannya. Demme, dengan sinematografer Jordan Cronenweth yang sebelumnya menangani Blade Runner (1982), menangkap bagaimana rasanya berada di sana. Dan bahkan jika kamu sepuluh ribu kilometer dari Los Angeles pada tahun 1983, kamu dapat membayangkan berada di baris depan panggung, menari seperti orang gila.

 

 

 

Kategori
Catutan Pinggir Movie Enthusiast

La La Land: Sebuah Tafsiran Leninis

hollywood4

Di antara kecaman political correctness terhadap La La Land-nya Damien Chazelle, yang paling menonjol karena ketololannya adalah tidak adanya pasangan gay dalam film yang berlokasi di LA, sebuah kota dengan populasi gay yang tinggi… Kenapa pula orang-orang Kiri yang mengeluh soal political correctness tentang sub-representasi minoritas seksual dan etnis di film-film Hollywood tidak pernah mengeluh tentang representasi kacangan dari mayoritas pekerja kelas bawah? Tidak apa-apa jika para buruh tidak terlihat, asalkan di sana ada karakter gay atau lesbian…

Saya ingat kejadian serupa pada konferensi pertama mengenai ide Komunisme di London pada tahun 2009. Beberapa orang secara terang-terangan menyuarakan keluhan bahwa hanya ada satu wanita di antara para peserta, ditambah tidak ada orang kulit hitam dan tidak ada orang Asia, yang kemudian dikomentari Badiou bahwa aneh rasanya tidak ada yang terganggu oleh kenyataan bahwa tidak ada perwakilan buruh di antara para peserta, terutama karena topiknya adalah Komunisme.

Dan, kembali ke La La Land, kita harus ingat bahwa film tersebut dibuka tepat dengan penggambaran ratusan pekerja tak tetap dan/atau yang menganggur sedang dalam perjalanan mereka ke Hollywood untuk mencari pekerjaan yang akan melejitkan karir mereka. Lagu pertama (“Another Day of Sun“) menampilkan mereka bernyanyi dan menari untuk mengisi waktu saat mereka terjebak dalam kemacetan di jalan tol. Mia dan Sebastian, yang termasuk di antara mereka, masing-masing berada di dalam mobilnya, adalah dua orang yang akan sukses—sebuah pengecualian (yang benar-benar kentara). Dan, dari sudut pandang ini, jatuh cinta mereka (yang akan memungkinkan kesuksesan mereka) memasukkan cerita dengan tepat untuk mengaburkan latar belakang yang tak terlihat dari ratusan orang yang akan gagal, sehingga tampak bahwa itu adalah cinta mereka (dan bukan keberuntungan belaka) yang membuat mereka berdua istimewa dan ditakdirkan untuk sukses. Persaingan yang kejam adalah nama permainannya, tanpa sedikit pun ada solidaritas (ingat banyak adegan audisi dimana Mia berulang kali dipermalukan). Tak heran jika, ketika saya mendengar lagu pertama dari lagu paling terkenal dari La La Land (“City of stars, are you shining just for me / city of stars, there is so much that I can’t see“), saya sulit untuk menahan godaan untuk bersenandung dengan balasan jawaban a la Marxis ortodoks paling konyol yang bisa dibayangkan: “Tidak, aku tidak bersinar hanya untuk perseorangan petit-borjuis ambisius, aku bersinar untuk ribuan pekerja yang dieksploitasi di Hollywood yang tidak dapat Anda lihat dan yang tidak akan sukses seperti Anda, untuk memberi mereka harapan!”

Mia dan Sebastian memulai hubungan dan melangkah bersama, tapi mereka berjalan terpisah karena nafsu mereka untuk sukses: Mia ingin menjadi aktris sementara Sebastian ingin memiliki klub di mana dia akan bermain jazz otentik yang kolot. Pertama, Sebastian bergabung dengan band pop-jazz dan menghabiskan waktunya menjalani tur, kemudian, setelah pemutaran perdana monodrama Mia yang gagal, Mia meninggalkan Los Angeles dan pulang ke Boulder City. Sendirian di LA, Sebastian menerima telepon dari seorang direktur casting yang hadir dan menikmati penampilan Mia, dan mengundang Mia untuk mengikuti audisi film. Sebastian berkendara ke Boulder City dan membujuk Mia untuk kembali. Mia hanya diminta menceritakan sebuah cerita untuk audisi; Dia mulai bernyanyi tentang Bibinya yang menginspirasinya untuk mengejar karier di akting. Yakin bahwa audisi itu sukses, Sebastian menegaskan bahwa Mia harus mengabdikan dirinya sepenuh hati dalam kesempatan itu. Mereka mengaku mereka akan selalu saling mencintai, namun tidak yakin akan masa depan mereka. Lima tahun kemudian, Mia adalah seorang aktris terkenal dan menikah dengan pria lain, yang dengannya dia memiliki anak perempuan. Suatu malam, pasangan itu menemukan sebuah bar jazz. Melihat logo Seb, Mia menyadari Sebastian akhirnya membuka klubnya sendiri. Sebastian melihat Mia, tampak gelisah dan menyesal, di antara kerumunan dan mulai memainkan tema cinta. Ini mendorong sebuah urutan mimpi yang panjang dimana keduanya membayangkan hubungan sempurna yang mungkin saja mereka jalani. Lagu itu berakhir dan Mia pergi bersama suaminya. Sebelum berjalan keluar, Mia berbagi pandang dan senyum terakhir dengan Sebastian, bahagia karena mimpi yang mereka berdua telah capai.

Seperti yang telah dicatat oleh banyak kritikus, fantasi di 10 menit terakhir hanyalah sebuah versi musikal Hollywood dari film ini: yang menunjukkan bagaimana ceritanya jika disajikan dalam film musikal Hollywood klasik. Pembacaan semacam itu menegaskan refleksivitas filmnya: ia ditampilkan dalam film untuk menggambarkan bagaimana film tersebut harus diakhiri berkenaan dengan formula genre yang terkait dengannya. La La Land jelas merupakan film refleksif pada dirinya, sebuah film bergenre musikal, tapi bekerja mandiri; Kita tidak perlu tahu sejarah utuh film musikal untuk menikmati dan memahaminya (seperti yang ditulis Bazin tentang Limelight-nya Chaplin: ini merupakan film reflektif tentang karir lama Chaplin, tapi bekerja mandiri; seseorang tak perlu tahu karir awal Chaplin sebagai gelandangan untuk menikmati film ini). Menariknya, semakin kita mengikuti alur film ini, semakin sedikit porsi musikal di dalamnya dan semakin banyak mengarah pada (melo)drama murni  – sampai, pada akhirnya, kita dilemparkan kembali ke dalam musikal yang meledak sebagai sebuah fantasi.

Terlepas dari referensi yang jelas pada film musikal lainnya, referensi Chazelle yang paling terasa adalah tipikal film komedi musikal Rogers/Astaire klasiknya Sandrich Top Hat (1935). Ada banyak hal bagus untuk diungkapkan tentang Top Hat, dimulai dengan peran tari ketuk sebagai intrusi yang mengganggu dalam rutinitas kehidupan sehari-hari (latihan Astaire menari di lantai hotel di atas kamar Ginger Rogers, yang membuatnya mengeluh, sehingga membawa pasangan ini bertemu). Dibandingkan La La Land, yang paling nampak adalah betapa datarnya keseluruhan psikologis Top Hat yang tanpa kedalaman, hanya akting layaknya boneka yang bahkan melingkupi momen paling intim sekalipun. Lagu terakhir dan pementasannya (“Piccolino”) sama sekali tidak berhubungan dengan akhir ceritanya yang bahagia; Kata-kata dalam lirik lagu tersebut bersifat referensial pada dirinya, hanya menceritakan bagaimana lagu ini lahir dan mengundang kita untuk menari: “Di perairan Adriatik / Bocah pria dan gadis Venesia / Sedang memetik irama baru pada gitar mereka / Ditulis oleh seorang Latin / Seorang penjaga gondola tengah duduk / Rumahnya di Brooklyn dan sedang menatap bintang-bintang // Dia mengirim melodinya / Melintasi laut / Ke Italia / Dan kami tahu / Mereka menulis beberapa kata hanya agar sesuai / Sedikit menarik / Dan membaptisnya / Piccolino // Dan kita tahu itulah alasannya / Mengapa semua orang musim ini / Memetik dan menyodorkan sebuah melodi baru. // Datanglah ke kasino / Dengarkan mereka memainkan Piccolino / Menari bersama bambino / Piccolino yang mudah diingat / Minumlah segelas vino / Dan saat Anda meminum skalopino / Buat mereka memainkan Piccolino / Piccolino yang mudah diingat / Dan menari mengikuti alunan melodi baru / Piccolino.” Dan ini aslinya dari film ini: bukan plot konyol tapi musik dan tarian ketuk sebagai tujuan sendiri. Sejalan dengan Red Shoes-nya Andersen, sang protagonis tidak bisa menahan tarian-tarian: baginya ini dorongan yang tak tertahankan. Dialog nyanyian antara Astaire dan Rogers, bahkan yang paling sensual (seperti dalam tarian terkenalnya “Cheek to Cheek”) hanyalah dalih untuk peragaan tarian musikal.

La La Land mungkin tampak lebih unggul dari peragaan semacam itu karena ia hidup dalam realisme psikologis: realitas masuk ke dunia mimpi musikal (seperti film-film superhero terbaru yang memasukkan kompleksitas psikologis protagonisnya, trauma dan keraguan batinnya). Tapi penting untuk dicatat bagaimana kisah realis yang harus diakhiri dengan pelariannya ke fantasi musikal. Lantas apa yang terjadi di akhir film?

Pembacaan Lacanian mula-mula dan yang paling nampak akan melihat plotnya sebagai variasi lain dalam tema “tidak ada hubungan seksual”. Kesuksesan karier dari dua protagonis yang justru merobek hubungan mereka berdua seperti es yang menubruk Titanic di film Cameron: mereka ada di sini untuk menyelamatkan impian cinta (dipentaskan dalam khayalan terakhir), yaitu untuk menutupi kemustahilan imanen cinta mereka, fakta bahwa, jika mereka tetap bersama, mereka akan berubah menjadi pasangan penuh penyesalan. Akibatnya, versi terakhir dari film ini adalah pembalikan situasi terakhir: Mia dan Sebastian bersama dan menikmati kesuksesan profesionalnya, namun hidup mereka hampa, jadi mereka pergi ke klub dan memimpikan sebuah fantasi di mana mereka tinggal. Bahagia bersama hidup sederhana, karena mereka berdua meninggalkan karir mereka, dan (dalam mimpi dalam mimpi) mereka membayangkan membuat pilihan yang berlawanan dan secara romantis mengingat kesempatan yang terlewat dalam hidup mereka bersama-sama…

Kita menemukan pembalikan yang serupa pada Family Man (Brett Ratner, 2000). Jack Campbell, seorang eksekutif lajang Wall Street, pada malam Natal bahwa mantan pacarnya, Kate, meneleponnya setelah bertahun-tahun. Pada Hari Natal, Jack bangun di sebuah kamar di pinggiran kota New Jersey bersama Kate dan dua anak; Dia bergegas kembali ke kantor dan kondominiumnya di New York, tapi teman dekatnya tidak mengenalinya. Dia sekarang menjalani kehidupan yang bisa dia dapatkan, tinggal dengan kekasihnya itu—kehidupan keluarga yang sederhana, di mana Jack adalah salesman ban mobil di kantor ayah Kate dan Kate adalah pengacara nirlaba. Saat Jack akhirnya menyadari nilai sebenarnya dari kehidupan barunya, pencerahannya itu membalikannya pada kehidupan pribadinya yang kaya pada Hari Natal. Jack tidak menutup kesepakatan akuisisi besar untuk mencegat Kate yang juga fokus pada karirnya dan menjadi pengacara perusahaan yang kaya raya. Setelah Jack tahu bahwa Kate hanya meneleponnya untuk mengembalikan beberapa barang miliknya karena Kate pindah ke Paris, Jack berlari mengejarnya di bandara dan menggambarkan keluarga mereka di alam semesta alternatif dalam upaya memenangkan kembali cintanya. Kate setuju untuk minum secangkir kopi di bandara, menunjukkan bahwa mereka akan memiliki masa depan… Jadi, apa yang kita dapatkan adalah solusi kompromis yang terburuk: keduanya akan menggabungkan yang terbaik dari kedua dunianya, tetap menjadi kapitalis kaya tapi di saat yang sama sebagai pasangan yang penuh kasih dengan kepeduliaan pada kemanusiaan… Singkatnya, mereka akan tetap menyimpan kue dan memakannya, seperti yang mereka katakan, dan La La Land setidaknya menghindari optimisme murahan ini.

Jadi keefektifan apa yang terjadi di akhir film? Tentu saja, bukan berarti Mia dan Sebastian memutuskan untuk lebih memilih karir mereka ketimbang hubungan cinta mereka. Yang paling sedikit yang harus ditambahkan adalah mereka berdua menemukan kesuksesan dalam karir mereka dan mencapai impian mereka karena hubungan yang mereka miliki, sehingga cinta mereka adalah semacam mediator yang lenyap: tidak jadi hambatan bagi kesuksesan mereka, justru hal itu “menengahi”. Begitu juga film tersebut menumbangkan formula Hollywood untuk menghasilkan pasangan yang keduanya memenuhi impian mereka, tapi BUKAN sebagai pasangan? Dan apakah subversi ini lebih dari sekadar preferensi narsisistik posmodern tentang pemenuhan pribadi ketimbang Cinta? Dengan kata lain, bagaimana jika cinta mereka bukan Pengalaman Cinta sejati? Ditambah lagi, bagaimana jika “mimpi” karir mereka bukan pengabdian kepada alasan murni seni sejati tapi hanya mimpi karir? Jadi, bagaimana jika tidak ada klaim bersaing (karir, cinta, dll.) benar-benar menampilkan komitmen tanpa syarat yang mengikuti Peristiwa sejati? Cinta mereka tidak sejati, karir yang mereka kejar hanya sebatas itu — bukan komitmen artistik penuh. Singkatnya, pengkhianatan Mia dan Sebastian lebih dalam daripada memilih satu alternatif untuk merugikan yang lain: seluruh hidup mereka sudah menjadi pengkhianatan terhadap eksistensi yang benar-benar otentik. Inilah sebabnya mengapa ketegangan antara kedua klaim tersebut bukanlah dilema eksistensial yang tragis namun ketidakpastian dan osilasi yang sangat lembut.

Pembacaan seperti itu terlalu sederhana, karena mengabaikan teka-teki fantasi terakhir: Fantasi siapa ini, Sebastian atau Mia? Apakah Mia (dia adalah pengamat-pemimpi), keseluruhan mimpi terfokus pada takdirnya pergi ke Paris untuk syuting film, dll? Terhadap beberapa kritikus yang mengklaim bahwa film itu bias laki-laki, yaitu bahwa Sebastian adalah pasangan aktif dalam hubungan tersebut, harus ditegaskan bahwa Mia adalah titik pusat subjektif dari film ini: pilihannya jauh lebih milik Mia daripada milik Sebastian, yang mana karena itulah, di akhir film, Mia adalah bintang besar dan Sebastian, yang bukan lagi seleb, hanyalah pemilik klub jazz (juga menjual ayam goreng) yang cukup sukses. Perbedaan ini menjadi jelas saat kita mendengarkan dengan seksama kedua percakapan antara Mia dan Sebastian saat salah satu dari mereka harus menentukan pilihannya. Ketika Sebastian mengumumkan kepada Mia bahwa dia akan bergabung dengan band dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tur, Mia tidak mengajukan pertanyaan tentang apa artinya ini bagi mereka berdua; Sebagai gantinya, Mia bertanya kepadanya apakah ini yang benar-benar Sebastian inginkan, yaitu, jika dia senang bermain dengan band ini. Sebastian menjawab bahwa orang-orang (publik) menyukai apa yang dia lakukan, jadi permainannya dengan band ini berarti pekerjaan tetap dan karir, dengan kesempatan untuk menyisihkan uang dan membuka klub jazz-nya. Tapi Mia bersikeras meluruskan pertanyaan sebenarnya adalah keinginan Sebastian: apa yang mengganggu Mia bukanlah, jika Sebastian memilih karirnya (bermain dengan band), Sebastian akan mengkhianati Mia (hubungan cinta mereka), tapi bukan itu, jika Sebastian memilih karir ini, Sebastian akan mengkhianati dirinya sendiri, panggilan sejatinya. Dalam percakapan kedua yang terjadi setelah audisi, tidak ada konflik dan tidak ada ketegangan: Sebastian segera menyadari bahwa dalam tindakan Mia ini bukan kesempatan karir semata tapi panggilan sejati, sesuatu yang harus Mia lakukan untuk menjadi dirinya sendiri, sehingga meninggalkannya akan merusak basis kepribadian Mia. Tidak ada pilihan di sini antara cinta dan panggilannya: dalam arti yang paradoks namun sangat masuk akal, jika Mia meninggalkan prospek aktingnya agar dapat tinggal bersama Sebastian di LA, Mia juga akan mengkhianati cinta mereka sejak cinta mereka tumbuh dari komitmen bersama mereka terhadap suatu Penyebab.

Di sini kita tersandung pada masalah yang dilewati oleh Alain Badiou dalam teorinya tentang Peristiwa. Jika subjek yang sama ditangani oleh banyak Peristiwa, mana yang harus diprioritaskan? Katakanlah, bagaimana seharusnya seorang seniman memutuskan apakah dia tidak bisa mempertemukan kehidupan cintanya (membangun kehidupan bersama dengan pasangannya) dan dedikasinya terhadap seni? Kita harus menolak persyaratan dari pilihan ini. Dalam dilema yang otentik, seseorang seharusnya tidak memutuskan antara Penyebab dan cinta, antara kesetiaan dengan satu atau kejadian lainnya. Hubungan otentik antara Penyebab dan cinta lebih paradoks. Pelajaran dasar dari Rhapsody-nya King Vidor adalah bahwa, untuk mendapatkan kasih sayang perempuan tercintanya, lelaki tersebut harus membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan tanpa dia, bahwa si lelaki lebih menyukai misinya atau profesinya ketimbang pada si perempuan. Ada dua pilihan langsung: (1) karir profesionalku adalah hal yang paling penting bagiku; perempuan itu hanya sebatas hubungan yang menghibur sekaligus mengganggu; (2) perempuan itu segalanya bagiku; aku siap untuk mempermalukan diriku sendiri, untuk meninggalkan semua martabat publik dan profesionalku untuknya. Keduanya salah, karena keduanya mengarah pada lelaki yang ditolak oleh perempuan tersebut. Pesan cinta sejati adalah: bahkan jika kamu segalanya bagiku, aku dapat bertahan tanpamu dan aku siap untuk meninggalkanmu untuk misi atau profesiku. Cara yang tepat bagi perempuan untuk menguji cinta lelaki itu adalah dengan “mengkhianati” dia pada saat penting dalam karirnya (konser publik pertama di film ini, ujian utama, negosiasi bisnis yang akan menentukan karirnya). Hanya jika si lelaki bisa bertahan dari cobaan berat itu dan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sangat trauma akibat pembelotan si perempuan, apakah si lelaki pantas mendapatkannya kembali dan si perempuan akan kembali kepada si lelaki. Paradoks yang mendasarinya adalah bahwa cinta, sebagai yang Absolut, tidak boleh diajukan sebagai tujuan langsung. Ini harus mempertahankan status produk sampingan, dari sesuatu yang kita dapatkan sebagai penghargaan yang tidak semestinya diberikan. Mungkin, tidak ada cinta yang lebih besar daripada pasangan revolusioner, di mana masing-masing dari kedua kekasih siap untuk meninggalkan yang lain kapan pun jika revolusi menuntutnya.

Pertanyaannya begini: bagaimana kolektif emansipatoris revolusioner yang mewujudkan “kehendak umum” mempengaruhi gairah erotis yang intens? Dari apa yang kita ketahui tentang cinta di kalangan kaum revolusioner Bolshevik, sesuatu yang unik terjadi di sana dan bentuk pasangan cinta yang baru muncul: sepasang orang yang hidup dalam keadaan darurat permanen, yang sepenuhnya berdedikasi pada Penyebab revolusioner, siap mengorbankan semua pemenuhan seksual pribadi kepadanya, bahkan siap untuk meninggalkan dan mengkhianati satu sama lain jika Revolusi menuntutnya, namun sekaligus saling berkoordinasi, menikmati saat-saat langka bersamaan dengan intensitas yang sangat tinggi. Semangat pecinta ditoleransi, bahkan dihormati secara diam-diam, namun diabaikan dalam wacana publik sebagai sesuatu yang tidak memprihatinkan orang lain. (Ada jejak ini bahkan dalam apa yang kita ketahui tentang perselingkuhan Lenin dengan Inessa Armand.) Tidak ada usaha Gleichschaltung, untuk menegakkan persatuan antara gairah intim dan kehidupan sosial. Disjungsi radikal antara hasrat seksual dan aktivitas sosial-revolusioner sepenuhnya diakui. Kedua dimensi tersebut diterima sama heterogennya, masing-masing tidak dapat direduksi menjadi yang lain. Tidak ada harmoni antara keduanya—meski ini adalah gap paling kentara, yang membuat hubungan mereka tidak antagonistik.

Dan apakah hal yang sama tidak terjadi di La La Land? Apakah Mia tidak membuat pilihan “Leninis” dari Penyebabnya? Apakah Sebastian tidak mendukung pilihan Mia? Dan apakah mereka dengan cara ini tidak setia kepada cintanya?

*

Diterjemahkan dari La La Land: A Leninist Reading.

Slavoj Žižek adalah filsuf seleb dan kritikus Marxis dari Slovenia. Salah satu pemikir paling ngepop hari ini, mendapat pengakuan internasional sebagai teoretikus sosial setelah penerbitan buku pertamanya, “The Sublime Object of Ideology”. Kontributor reguler surat kabar seperti The Guardian, Die Zeit dan The New York Times. Dijuluki sebagai Elvis-nya teori budaya.

Kategori
Movie Enthusiast

Film Popcorn di Maret 2014

lpj tontonan film maret 2014

Untuk Maret ini, meski sebenernya banyak liburnya, tapi cuma dapat nonton 6 film. Soalnya maraton nonton Running Man sama namatin The Heirs.

Film yang ditonton Hollywood semua. Cuma film popcorn. Film-film yang cuma buat ditonton buat ngehabisin waktu, ga perlu mikir berat, hanya cukup duduk manis menikmati filmnya. Biasanya film yang genrenya action sama humor. Film yang dibuat bukan untuk menangin Oscar.

Nah berikut ulasannya.

Kategori
Movie Enthusiast

The Godfather: Part II (1974) dan 6 Film Lainnya yang Saya Tonton di Januari 2013

movie list januari 2013

Diawali dari bulan Desember kemarin, saya rencananya akan konsisten merekap tontonan film per bulan. Untuk selanjutnya, tidak akan ada lagi postingan review mengenai satu film. Jadi cukup satu postingan tentang kumpulan review film yg sudah saya tonton selama satu bulan.

Nah, untuk bulan pengawal di tahun 2013 hanya ada 7 judul film yg saya tonton. Dari film lawas sampai yg lumayan baru. Didominasi genre drama, dan ada satu film animasi. Ya, meskipun lagi libur semester, jumlah tontonan di Januari 2013 ini ga sebanyak tahun kemarin yang mencatat 25 judul film.

Kategori
Celotehanku

Saya dan Mary Elizabeth Winstead

Mary Elizabeth Winstead

Mary Elizabeth Winstead merupakan aktris Hollywood, lahir di Rocky Mount, North Carolina, Amerika Serikat, pada 28 November 1984. Putri dari pasangan Betty Lou dan James Ronald Winstead. Memulai karir aktingnya pada usia 13 tahun, jadi bintang tamu di drama seri CBS, Touched by an Angel dan Promised Land. Hingga saat ini telah bermain di berbagai film, kebanyakan di film horror, makanya doi diberi gelar sebagai Scream Queen.

MEW di Sky High
MEW di Sky High

Nah, saya kesemsem sama doi gara-gara nonton Sky High. Meranin sebagai Gwen Grayson, seorang anak SMA yg digambarkan pintar sekaligus cantik dan aduhai, dengan muka imut-imut innocent yg bikin saya terhipnotis pada pandangan pertama. Emang pas di film ini kelihatan paling manisnya, hati saya sampai cenat-cenut. Paling kerennya pas pake kostum Royal Pain.

Setelah ngubek google buat nyari siapa namanya, saya jadi tau kalau si doi juga yang maen jadi Wendy Christensen di Final Destination 3. Dan di sinilah awal mula saya mengidolakan seleb ini.

Berlanjut ke film Scott Pilgrim vs. The World, saya ga terlalu suka soalnya doi rambutnya pendek ditambah gonta-ganti warna yang ngejreng. Tapi tetap aduhai cantiknya, apalagi ada adegan ranjangnya. 😳

Nah, kalau pas di Live Free or Die Hard suka banget saya. Sayangnya doi yang jadi anaknya Bruce Willis ini munculnya ga banyak. Sementara di The Thing dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter, doi keliatan udah dewasa, tapi tetap oke lah.

Keunggulan doi dibanding artis lain menurut saya adalah

  • Matanya indah
  • Rambut bagus
  • Artis hollywood yang agak sopan, kagak ada adegan ekstrimnya kalo di film-filmnya, gak pernah buka-bukaan yang sampe ekstrim.
  • Penampilanya sederhana banget buat seorang artis, kalo liat youtubenya, doi tipe orang yang ceria dan humoris, gak sombong sama fans
  • Jago dance, balet, suara juga bgs kok, waktu di Dead Proof doi nyanyi sedikit dan bagus suaranya

Tapi ni cewek dah pacaran sama Riley tahun 2004, berarti mereka pacaran kurang lebih 6 tahunan. Dan sekarang mereka udah jadi sepasang suami istri. 🙁

Nah, MEW ini jarang terlihat difoto buka-bukaan, tapi lumayan banyak juga sih yang syur.

mew final destination 3

MEW

mary elizabeth winstead 2

mary elizabeth winstead 3

mary elizabeth winstead 4

mary elizabeth winstead