Kategori
Catutan Pinggir

Perfeksionisme Neoliberal

headache

Sebuah penelitian baru oleh Thomas Curran dan Andrew Hill dalam jurnal Psychological Bulletin menemukan bahwa perfeksionisme terus meningkat. Penulis, keduanya psikolog, menyimpulkan bahwa “generasi muda belakangan ini mempersepsikan bahwa orang lain lebih menuntutnya, lebih menuntut orang lain, dan lebih menuntut diri mereka sendiri.”

Saat mengidentifikasi penyebab utama dari meningkatnya nafsu akan keunggulan ini, Curran dan Hill tidak berbasa-basi: salahkan neoliberalisme. Ideologi neoliberal memuja persaingan, menghalangi kerja sama, mendorong ambisi, dan mengaitkan nilai pribadi dengan prestasi profesional. Tidak mengherankan, masyarakat yang diatur oleh nilai-nilai ini membuat orang-orang begitu menghakimi, dan sangat cemas untuk dihakimi.

Psikolog biasa membicarakan perfeksionisme seolah-olah bersifat unidimensional — hanya mengarah dari diri sendiri ke diri sendiri. Sama seperti penggunaan sehari-harinya, yang biasa kita maksud saat kita mengatakan bahwa seseorang perfeksionis. Namun dalam beberapa dekade terakhir, para periset menemukan bahwa akan lebih produktif untuk memperluas konsepnya. Curran dan Hall mengandalkan definisi multidimensi, mencakup tiga jenis perfeksionisme: yang berorientasi pada diri sendiri, yang berorientasi pada orang lain, dan yang ditentukan secara sosial.

*

Lihat tulisan lengkapnya di Perfeksionisme Neoliberal.

Kategori
Catutan Pinggir

Age of Empires II dan Simulasi Mode Produksi

7a04fdcf6f0e51992c2dfd7cfd3e99aa

Saya akan selalu menjadi seorang bocah aneh. Anggota tubuh saya terlalu berjarak dan bersendi pada interval yang tak menyenangkan, dan seringnya mereka tak sudi di bawah kendali saya. Saya punya suara nyaring, pandangan politik tak biasa, rahang yang lemah, dan keengganan naluriah untuk memakai warna-warna cerah.

Sebuah keajaiban bahwa saya tidak pernah secara khusus menyukai permainan-permainan komputer.

Saya harus berterimakasih pada orang tua liberal-intervensionis saya karena menurut mereka: video gim itu mengerikan dan penuh kekerasan, sehingga saya akan tumbuh jadi orang bengis. Tapi Age of Empires II adalah sebuah pengecualian. Mengingat ada latar belakang sejarahnya, saya bisa bikin alasan kalau permainan ini punya unsur “edukasi” dan karenanya bermanfaat; Akibatnya, saya memainkannya secara religius sejak usia sembilan sampai usia remaja tanggung. Bahkan sekarang, saya memiliki kenangan indah akan permainan itu.

Jelas, saya tidak sendiri. Pada bulan November 2015, Microsoft merilis Age of Empires II: The Forgotten, sebuah ekspansi baru yang hadir setelah lebih dari satu dekade game asli dirilis — mencetak sebuah rekor dalam industri video gim. Meskipun grafis 2D yang kikuk dan musik hingar bingar yang bikin iritasi, banyak orang masih punya banyak waktu untuk memainkannya — termasuk saya. Saya memutuskan untuk duduk dan menyelidiki kembali permainan yang telah saya habiskan sepanjang masa muda saya, dan menemukan sesuatu yang tak terduga.

Age of Empires II sebenarnya bukan permainan sama sekali. Ini sesuatu yang jauh lebih menarik. Pada tahun 1999, di masa awal kecerdasan buatan, kita berhasil memprogram sebuah komputer dengan Todestrieb, kehendak segala makhluk hidup menuju kematian yang Freud terpaksa geluti dalam teorinya pasca Perang Dunia I. Tidak hanya itu: cara kerja dorongan kematian artifisial ini hampir bisa menggambarkan akhir dari masyarakat kita sendiri.

Age of Empires II menjadi semacam simulator peperangan abad pertengahan. Bermain sebagai salah satu dari banyak kerajaan yang bisa dipilih, Anda memulai permainan dengan sebuah “town center” (sebuah gudang pusat kota yang tampaknya secara ontologis mendahului kota itu sendiri), seorang pandu, dan beberapa penduduk desa golongan tani yang terbengong-bengong. Orang-orang ini dapat dikirim untuk menebang pohon dan membangun benteng; Sementara itu, di pusat kota, Anda bisa mengorbankan sedikit bahan pangan dan memunculkan mereka lebih banyak. (Secara sambil lalu, ini adalah salah satu aspek permainan yang paling menyebalkan — apakah kita membayangkan bahwa manusia muncul secara spontan dari tumpukan gandum? Apakah alien dengan teknologi canggih secara diam-diam menjalankan dunia ini dengan menanam kloning-kloning di sekitar peta? Atau apakah masing-masing bangunan ini menyembunyikan harem pencetak bayi rahasia?)

Hal yang sama berlaku untuk prajurit: Anda menghendaki mereka untuk menjadi ada lewat barak mereka, dan dengan dengus patuh, mereka muncul. Seiring berjalannya permainan, Anda dapat bergerak maju dalam sejarah, kota Anda berkembang dari sekelompok gubuk menyedihkan yang menggigil di reruntuhan Kekaisaran Romawi menjadi kota metropolis yang sesak dan termiliterisasi. Pada saat bersamaan, Anda berbagi tanah Anda dengan sejumlah kelompok masyarakat yang dikendalikan komputer yang juga melakukan hal yang sama. Tugas Anda, tentu saja, adalah untuk menghabisinya sama sekali: membantai warga mereka, membakar rumah mereka, menanami ladang mereka, dan menghapus nama mereka dari catatan sejarah. Tapi yang aneh adalah kenyataan bahwa sementara mereka menghadapi pertarungan ala kadarnya, mereka tampaknya tak sepenuhnya menentang akan gagasan tadi.

Semua pekerjaan kotor prajurit dan angkatan laut ini hanyalah sebuah tontonan sampingan. Musuh-musuh Anda akan dengan sia-sia mengirim beberapa pilar prajuritnya ke kota Anda, tapi bahkan dalam serangan yang paling sulit, cukup mudah untuk menumpasnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi tidak ada hubungannya dengan pertempuran, dan sangat berkaitan dengan sumber daya.

Untuk membangun pasukan, Anda membutuhkan bahan pangan, kayu, emas dan batu. Makanan bisa berasal dari peternakan, dan emas dari gerobak perdagangan, tapi kayu berasal dari pohon — dan begitu Anda menebangnya, mereka tidak tumbuh kembali. Biarkan permainan berjalan cukup lama dan Anda akan melihat serombongan besar tukang dari penduduk desa lawan Anda melintasi peta untuk mencari hutan yang belum gundul untuk mendanai usaha perang mereka.

Migrasi hebat inilah yang benar-benar mendorong konflik permainan. Pemain yang dikendalikan komputer akan sering hidup berdampingan dengan cukup damai, bahkan jika mereka seharusnya menjadi musuh, sampai seseorang mengirim sekelompok penebang yang putus asa ke wilayah lain: pasti mereka diusir dengan pedang dan anak panah, bala bantuan dibawa masuk, dan tak begitu lama, kebakaran dan pembantaian berkobar di sekitar setiap petak hutan yang masih berdiri.

Begitu seterusnya, sampai pohon terakhir di peta ditebang. Ketika itu terjadi, tidak ada lagi kayu untuk mengusahkan pertanian, yang berarti tidak ada lagi makanan untuk melatih para prajurit. Dengan patuh, para petani kembali ke kampung halamannya dan berdiri dengan melongo, menunggu untuk mati.

Ada kemungkinan untuk membaca ini sebagai semacam alegori ekologis: eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam akan selalu menghasilkan keruntuhan sosial, dunia memiliki batasan yang seharusnya tidak kita paksakan — namun interpretasi ini tidak ada artinya. Alih-alih pesta pertumpahan darah yang Anda harapkan setelah malapetaka ini, perjuangan habis-habisan karena terwarisi pemandangan jahanam sehabis dilanda perang dan kondisi terkekang yang telah kita ciptakan, hanya ada keheningan yang sempurna dan mematikan. Tak ada serangan-serangan mendadak yang lebih agresif; unit militer yang tersisa juga pulang ke kota nekropolis mereka yang sunyi; mereka hampir tidak melawan balik saat pasukan Anda tiba.

Ini bukan malapetaka; Sulit untuk melepaskan diri dari perasaan bahwa ini adalah sesuatu yang dikehendakan. Perlu dicatat bahwa sebuah sistem pasar ada di mana pemain dapat saling bertukar sumber daya satu sama lain, namun komputer sepertinya tidak pernah benar-benar melakukan ini. Kecerdasan buatan telah dengan sengaja membunuh dirinya sendiri dengan satu-satunya cara: dengan bertermpur habis-habisan untuk bertahan hidup.

Ini sama sekali tidak kontradiksif: bagi Freud, dorongan kematian tidak terkait dengan melankolia bunuh diri, kasus saat naluri narsisisme ego untuk bertahan hidup dikuasai oleh celaan superego seperti yang terwujud dalam membenci diri. Sebaliknya, dorongan kematian muncul dalam agresi dan kecerobohan. Ini adalah satu hal yang sama dengan pertarungan konstan dan antagonis individu untuk melindungi dirinya sendiri. Freud menulis bahwa Todestrieb sebagai bagian “sebuah naluri penghancuran yang diarahkan terhadap dunia luar.” Metamorfosisnya yang menjadi keinginan untuk penghancuran diri hanyalah sebuah perubahan arah.

Tetap saja, tidak sepenuhnya jelas mengapa dorongan terhadap kematian harus muncul seperti ini: bukan dalam usaha lanjutan untuk meniru psikologi manusia, namun tampaknya secara tidak sengaja dalam permainan strategi abad pertengahan. Apa sebenarnya yang ingin mematikan dirinya di sini? Saat Anda bermain Age of Empires II, sedang menjadi apa diri Anda?

Pada awalnya, posisi pemain tampaknya sedikit mirip dengan monarki abad pertengahan: Anda memberikan perintah kepada pasukan dan beragam subjek Anda dan Anda adalah penguasa dari semua survei Anda, tapi hanya survei yang Anda lakukan. Ini agak rumit karena pada beberapa mode gameplay, raja-raja itu sendiri tampil sebagai unit di layar, tapi mereka bisa Anda arahkan sama seperti pekerja tani lainnya. Beberapa materi iklan menggambarkan posisi pemain sebagai “jiwa bangsa”, sesuatu seperti Volksgeist-nya Hegelian —  hanya saja peradaban yang berbeda cuma dicirikan oleh perubahan gaya arsitektur, bukan semangat organik yang bangkit dari masyarakat, dan gerakan mereka tidak menuju realisasi diri melainkan kepunahan.

Mungkin lebih produktif untuk mempertimbangkan permainan dalam hal cakrawalanya daripada peluangnya. Tidak ada yang baru yang dimungkinkan di sini. Sejarah berjalan di sepanjang satu jalur. Anda bisa mengatur kota Anda dalam formasi apapun yang Anda suka, tapi Anda harus menggunakan tipe bangunan yang disediakan; Anda bisa mengirim detasemen para kesatria berkuda ke segala arah, tapi Anda tidak bisa membuat mereka turun atau meminta pemanah Anda untuk menggunakan panah mereka sebagai tombak; Anda bisa maju dari masa kegelapan sampai fajar imperialisme, tapi Anda tidak bisa menghasilkan bentuk sosial yang pada dasarnya tidak feodalistik.

Hal yang sangat perlu dicatat dari Age of Empires II adalah tidak adanya perjuangan kelas. Semua kontradiksi mode produksi feodal tetap diam di tempat: penduduk desa Anda membajak ladang dan memotong kayu terus menerus, tidak mendapat buah dari hasil kerja mereka sendiri. Ada istana yang mungkin menampung berbagai bangsawan, mandor, ksatria lapis baja, dan kaum agamawan berkalung emas. Terlepas dari semua ini (dan tidak berbeda dengan banyak permainan strategi lainnya), tidak ada sekecil pun perlawanan dari massa yang bekerja keras; Semua orang bergerak menuju kepunahan mereka sendiri dengan sikap stoik yang tenang.

Hal ini sangat aneh mengingat hiruk-pikuk Abad Pertengahan yang sebenarnya, sebuah periode dalam sejarah yang melihat peperangan dan kemarahan religius yang tak terhitung jumlahnya berkobar lagi dan lagi di seluruh wilayah Eropa. Dalam permainan, sementara itu, kontrak sosial abad pertengahan dari tiga tingkat kehidupan — di mana para petani bekerja untuk kesejahteraan semua orang, pendeta berdoa untuk keselamatan semua orang, dan para bangsawan memperjuangkan perlindungan untuk semua orang  — disajikan bukan sebagai keterikatan yang ideal dari sebuah masyarakat kelas yang bertingkat, namun masyarakat kelas yang karena fungsi masing-masing.

Dengan kata lain, Age of Empires II melakukan hal yang sama untuk feodalisme seperti yang Marx lakukan untuk industrialisme lewat Capital. Jika dalam The Condition of the Working Class In England, Engels mengungkap perbedaan antara bagaimana klaim kapitalisme berfungsi dan bagaimana hal itu benar-benar beroperasi, Marx dalam Capital mencatat para ekonom borjuis sesuai kata-kata mereka, dengan lengkap menunjukkan bagaimana, bahkan jika kapitalisme bekerja persis seperti yang dikatakan oleh para pendukungnya, tetap saja, penggulingannya tetap tak terelakkan.

Dengan sistem tertutup dalam Age of Empires, feodalisme bekerja dengan sempurna —  dan, seperti setiap sistem yang bekerja dengan sempurna dan telah kehabisan kapasitas untuk mengarahkan penghancurannya ke luar, ia tidak memiliki tempat lain selain menuju kematiannya sendiri.

Pemain dalam Age of Empires II tidak mengambil peran sebagai raja atau jiwa nasional; Anda menjadi mode produksi feodal itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa permainan ini, secara tidak langsung, tidak bisa disebut permainan — Anda tidak bersaing dengan pemain lain, namun merupakan bagian dari sebuah sistem tunggal yang mengarah pada sebuah penghancuran kolaboratif.

Sebenarnya, tidak sepenuhnya benar bahwa akhir permainannya adalah keheningan total. Bahkan saat prajurit dan pekerja tidak bergerak, gerobak perdagangan dan kapal dagang terus mengangkut emas dari satu pasar ke pasar lainnya. (Khususnya, ini berbeda dengan penolakan komputer untuk menggunakan pasar untuk mendapatkan lebih banyak kayu: pertukaran antara pemain baik-baik saja, namun gagasan bahwa semua komoditas secara universal tak tergantikan dan dapat dimasukkan dalam bentuk uang universal sangat ditolak oleh partikularisme abad pertengahan.) Ini bukan revolusi borjuis, tapi ini mendramatisasi bangkitnya kelas pedagang dari sebuah masyarakat yang telah menyempurnakan dirinya sendiri dalam hal yang terlupakan, dan hal itu terjadi pada satu-satunya cara yang dapat dilakukannya.

Marx terkenal menghindari membuat resep konkret tentang apa sebenarnya komunisme: dari dalam lingkungan tertutup dari satu mode produksi, yang hadir untuk berhasil, hanya terlihat sebagai garis besar yang paling samar, sebuah percikan gerakan dalam keadaan dunia yang telah mati.

Tentu saja, runtuhnya feodalisme sekarang telah lama berlalu, dan krisis kontemporer dalam mode produksi saat ini tidak tampak sebagai keheningan tapi juga perpindahan modal yang hiruk pikuk. Meski begitu, situasinya hampir sebanding. Age of Empires II mungkin menggambarkan bentuk sosial yang telah lama mati, tapi produk itu sendiri terdapat pula dalam produk di dunia kontemporer hari ini.

Pada akhirnya, apa yang ditunjukkannya bukan jatuhnya feodalisme — presentasinya secara historis kurang tepat — namun akhir yang tak terelakkan dari segala mode produksi mengalienasi yang menjadi sempurna dan tak tertandingi. Kita hidup dalam masa di mana kapitalisasi akhir yang memfinansialisasi berfungsi sepenuhnya secara simultan sekaligus dalam sebuah keadaan kelumpuhan akut. Sama seperti feodalisme dalam Age of Empires, ini seperti suatu keseluruhan dunia.

Pada saat bersamaan, saat terjadi masalah — dan masalahnya sedang terjadi sekarang — satu-satunya cara untuk melanjutkan adalah dengan intensifikasi. Krisis keuangan yang sedang berlangsung telah digunakan oleh kelas penguasa untuk melakukan perampasan kekayaan besar-besaran dan membahayakan diri sendiri karena inilah satu-satunya cara mereka dapat beroperasi di bawah sebuah sistem yang ditandai dengan perampasan yang tanpa perlawan.

Dengan kata lain, yang menyajikan dirinya sebagai akumulasi kapital dan sumber daya dan komoditas, pada kenyataannya, adalah kehendak menuju kepunahan. Pelajaran dari Age of Empires II adalah ini: di saat kapitalisme dan perkembangannya yang mengembang dan mengalami krisis namun perkembangan konstan tampak tidak terhalang sama sekali adalah saat kerentanan terbesarnya. Hal ini yang akan mengarah ke dalam kehampaan. Yang perlu kita lakukan hanyalah mempertenggangkannya.

*

Diterjemahkan dari artikel Jacobin berjudul Empire Down. Sam Kriss adalah seorang penulis yang tinggal di Inggris, blog pribadinya: Idiot Joy Showland.

Kategori
Catutan Pinggir

Ingatan atas Pembantaian

Pada tahun 1965, seorang penyiar berita Amerika NBC mengumumkan bahwa Bali telah menjadi “lebih indah tanpa para komunis.” Majalah Time melaporkan bahwa penghapusan komunisme di Indonesia adalah “berita terbaik bagi Barat selama bertahun-tahun soal Asia,” sementara James Reston dari New York Times menulis bahwa bangsa Amerika harus merasa lega bahwa “kontrol kepulauan besar dan strategis ini tidak lagi berada di tangan orang yang sangat bermusuhan dengan Amerika Serikat.”

Ini adalah tahun saat pemerintahan Indonesia — yang dipimpin oleh Sukarno, presiden pertama Indonesia dan anti-imperialis yang dikenal karena perlawanan revolusionernya terhadap penjajahan Belanda — digulingkan oleh Suharto, seorang jenderal sayap kanan. Suharto melancarkan kampanye kekerasan yang melanda Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara, yang bikin lebih dari satu juta setengah orang, semua dituduh menentang kediktatoran militer yang baru, ditangkap dan dibantai.

Dalam pembersihan massal mereka terhadap terduga komunis, Suharto dan rekan-rekan jenderalnya melebarkan jaringnya, yang tidak hanya menargetkan para intelektual sayap kiri dan organisator serikat tapi juga para petani tanpa tanah dan etnis Cina. Dan begitu Soeharto mengkonsolidasikan kekuatannya, pembantaian tidak hanya disapu ke bawah karpet. Pembantaian ini didefinisikan ulang sebagai sesuatu yang sah, bahkan heroik.

Pada tahun 2001, Joshua Oppenheimer, seorang sineas muda Amerika, pergi ke Indonesia untuk membuat sebuah film dokumenter tentang sebuah komunitas pekerja perkebunan yang berjuang untuk berserikat setelah kediktatoran Suharto. Oppenheimer sangat ingin bereksperimen dengan metode dokumenter baru, namun mengalami satu hambatan setelah kejadian berikutnya. Para pekerja, yang orang tuanya, bibi, paman, dan kakek neneknya terbunuh beberapa dasawarsa yang lalu, takut hal serupa bisa terjadi pada mereka. Mereka mendesak Oppenheimer untuk mewawancarai pelakunya sebagai gantinya, percaya bahwa sebagai orang asing dia mungkin bisa mengetahui bagaimana keluarga mereka terbunuh.

Mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut masih belum berada di balik jeruji besi dan faktanya, tetap merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Banyak anggota Pemuda Pancasila, satu organisasi paramiliter sayap kanan yang secara terbuka menawarkan pemerasan, pembunuhan massal, dan kejahatan perang.

Film pertama Oppenheimer, The Act of Killing, berpusat pada Anwar Kongo, mantan pemimpin regu mematikan di Medan, sebuah kota berpenduduk sekitar 4 juta orang di Indonesia. Kongo dengan serampangan melenggang melintas di layar, di balik kacamata hitam gelap dan pakaian vintage berwarna hijau limau dan kuning. Dia berbicara tentang kecintaannya pada bintang film seperti Marlon Brando, Al Pacino, dan John Wayne. Dan dia menceritakan kisahnya sendiri tentang bagaimana korban akan memohon untuk dikasihani sebelum dia mencekik mereka sampai mati dengan kawat yang terikat pada sebuah tongkat, satu teknik yang dia pelajari dari sebuah film gangster.

“Boleh saya peragakan?” Dia bertanya kepada Oppenheimer.

Oppenheimer mengusulkan agar Anwar dan teman-temannya melakonkan kembali kejahatan mereka dengan rias wajah dan dekor, seolah-olah mereka sedang syuting, dan mereka pun menyetujui saran tersebut. Hasilnya adalah serangkaian film fantasmagoric. Para penjagal membayangkan diri mereka sebagai jagoan, atau, dalam kata-kata mereka, sebagai preman, “orang bebas”.

Dalam satu adegan, para penjagal tersebut melancarkan serangan ke sebuah desa di mana seluruh keluarga dibakar beserta rumahnya dan dibantai. Di tempat lain, Anwar ditutup matanya dengan darah buatan yang melumuri dahinya. Herman Koto, seorang gangster dan pemimpin paramiliter, menggalur pisau di wajahnya sementara Anwar memohon belas kasihan. Kemudian, Anwar menonton rekaman itu dan bertanya, “Apakah orang-orang yang saya siksa merasakan seperti yang saya rasakan di sini?” Oppenheimer menanggapi, tanpa sorotan kamera, “Orang-orang yang Anda siksa merasakan jauh lebih buruk.”

Film selanjutnya Oppenheimer, The Look of Silence, dimulai dengan cuplikan serupa. Dua mantan pemimpin pasukan penjagal membawa Oppenheimer ke tepi Sungai Ular Sumatera Utara sambil dengan penuh sukacita mengenang bagaimana mereka membantu tentara melenyapkan 10.500 orang, memenggal mereka sebelum melemparkan mayat mereka ke dalam air. Saat kedua pria itu tersenyum ke arah kamera, Oppenheimer men-zoom out, dan kita menyadari bahwa kita tidak sendirian menyaksikan kesaksian tentang pembunuhan massal ini. Kita bergabung dengan Adi, seorang pemuda yang saudaranya Ramli dipenggal secara brutal di lokasi ini.

Jika The Act of Killing didominasi oleh kekasaran sinematik dan dihantui oleh korban yang absen, The Look of Silence berfokus pada apa artinya menjadi penyintas dalam kenyataan seperti itu, dipaksa untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari di bawah pengawasan orang-orang yang membunuh orang yang dicintainya.

Adi, karakter sentral film tersebut, adalah seorang ahli optometri yang Oppenheimer dapati melakukan pemeriksaan mata pada pelaku pembunuhan kakaknya. Sementara mencocokkan kacamata, Adi dengan tenang bersikeras bahwa mereka menerima tanggung jawab atas tindakan mereka. Dia dipenuhi dengan frustrasi atau penyangkalan, para pembunuh tidak mampu atau tidak mau melihat kejahatan mereka.

Dalam The Look of Silence dan The Act of Killing, kita melihat kedekatan Oppenheimer pada sineas Prancis Jean Rouch. Menolak gagasan bahwa pembuat film adalah “lalat di dinding,” Rouch memahami pembuatan film kurang menggambarkan kenyataan daripada tentang menciptakan kebenarannya sendiri. Dan dia mendorong subyeknya untuk berperan kreatif dalam pembuatan filmnya dan secara terbuka mendiskusikan perannya sendiri sebagai penghasut peristiwa yang terjadi — sebuah keberangkatan radikal dari dokumenter tradisional.

Dengan cara ini, film Oppenheimer juga mirip dengan Shoah dari Claude Lanzmann, yang oleh Lanzmann disebut “sebuah fiksi atas kenyataan.” Banyak adegan di Shoah merupakan lakon rekaan, termasuk jurai terkenal di mana Abraham Bomba, pensiunan tukang cukur yang telah memotong rambut di Treblinka, berpura-pura untuk memotong rambut teman sambil menceritakan kisahnya di sebuah tempat cukur di Israel.

Seperti Lanzmann, Oppenheimer menolak rekaman arsip, menyusun filmnya seputar wawancara dengan para saksi kekejaman. Dia tertarik pada bagaimana sejarah bergema saat ini, sebagai trauma. Pemandangan Indonesia yang rimbun sama berhantunya seperti lintasan kereta api dalam Shoah.

Namun, tidak seperti Shoah, Oppenheimer mengeksplorasi pembantaian yang masih belum diakui. Di Indonesia, penyangkalan ditopang oleh pelaku yang berkuasa dan oleh korban yang selamat, yang dengannya ancaman kekerasan baru sangat nyata (sebagaimana dibuktikan oleh daftar panjang anggota kru Indonesia yang tidak disebutkan namanya dalam kreditnya).

Para pembunuh mengulangi mantra yang sama: masa lalu telah berlalu. Jika Anda terus membuat masalah di masa lalu, itu akan terjadi lagi cepat atau lambat. Lupakan dan teruskan. Bahkan korban selamat dari pembantaian Sungai Ular menggemakan sentimen ini karena ketakutan, atau mungkin kelelahan: “Masa lalu ditutup-tutupi. Luka telah sembuh.”

tlos_fruit

Namun luka itu masih menganga bagi keluarga Adi. Kita bertemu ibu Adi yang sudah tua, Rohani, yang sedang mencuci pakaian dan bersenandung tentang anaknya Ramli. Kata-katanya menjadi saksi kengerian masa lalu dan penolakannya untuk memutuskan hubungan dengan ingatan anaknya. Dia mengatakan kepada Adi bahwa dia adalah pengganti Ramli, bahwa tanpanya dia tidak akan dapat terus hidup setelah tragedi yang mengguncang keluarganya dan seluruh desa.

Dalam catatan persnya, Oppenheimer menjelaskan bahwa ia menemukan keluarga Adi karena “Ramli” menjadi sebuah nama yang hampir identik dengan pembantaian tersebut. Berbeda dengan ribuan korban yang hilang di malam hari, Ramli dibunuh di depan umum. Korban selamat berbicara tentang Ramli karena ada saksi pada saat-saat terakhirnya, saat para pembunuh meninggalkan tubuhnya di perkebunan kelapa sawit kurang dari dua mil dari rumah orang tuanya.

Oppenheimer menulis, “Berbicara tentang ‘Ramli’ dan pembunuhannya adalah untuk mencubit diri sendiri untuk memastikan seseorang terbangun, sebuah peringatan akan kebenaran, peringatan masa lalu, sebuah peringatan untuk masa depan.” Adi, lahir setelah pembantaian, tidak takut untuk mengulurkan tangan buat “mencubit” yang lain, menuntut jawaban dan pengakuan atas pembunuhan saudaranya. Pembuatan film Oppenheimer adalah kesempatan bagi Adi untuk memprovokasi percakapan yang tidak akan terjadi.

Dalam The Act of Killing, para pelaku bersenang-senang dengan penampilan mereka sendiri, didorong oleh kehadiran kamera Oppenheimer. Namun, dalam The Look of Silence, Adi menjadi provokator.

Ketegangan dan kebenaran terungkap bukan melalui pertunjukan atau drama tapi melalui percakapan sederhana. Film ini menggambarkan satu pertemuan demi pertemuan berikutnya, Adi duduk dengan para pembunuh saudaranya. Dia bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan, bagaimana perasaan mereka tentang hal itu, dan bagaimana mereka dapat mendamaikan tindakan mereka dengan Islam.

Dia mengungkapkan dirinya sebagai saudara korban pada setengah jalan saat setiap pemeriksaan mata. Biasanya pada saat ini sikap pelaku secara drastis berubah dari ketidakpedulian dingin menjadi suatu pembelaan dan pengabaian. Seorang wanita berbicara kepada pembuat film secara langsung: “Saya menyambut Anda di sini, Joshua, dan sekarang saya tidak menyukaimu lagi.”

Salah satu pertunjukan penyangkalan yang paling mengejutkan melibatkan kejahatan Amir Hasan, salah satu jenderal Komando Aski terkemuka, yang sebelumnya membual (tentang film) tentang perannya dalam pertumpahan darah dan bahkan menerbitkan sebuah buku tentang perbuatannya. Dalam sebuah adegan di dekat pengakhiran film, janda Hasan dan anak laki-lakinya menyangkal pengetahuan tentang partisipasi ayah mereka dalam pembunuhan tersebut, bahkan setelah Adi menghadapkan mereka dengan rekaman lama.

Sementara Oppenheimer pada awalnya menganggap adegan itu sebagai “kegagalan total” karena khayalan keluarga tersebut, dia akhirnya memutuskan penyangkalan tersebut “dengan jujur menunjukkan keadaan Indonesia saat ini.” Ini adalah penolakan yang sama terhadap kenyataan yang menyebabkan pembatalan dua puluh lima pemutaran film The Look of Silence. Dalam beberapa hari setelah rilis film Desember 2014, polisi dan tentara mulai mengorganisir kelompok preman, yang mengancam akan menyerang penayangan.

Meski penyangkalan merajalela, baik di film maupun dalam beragam sambutannya, Adi berhasil menusuk kesunyian. Klimaks emosional dari film berpusat pada konfrontasi antara Adi dan seorang pelaku yang putrinya duduk di sampingnya. Saat si lelaki tua menjelaskan bagaimana dia meminum darah korbannya, sebuah tindakan takhayul yang dianggap oleh banyak pembunuh untuk mencegah kegilaan, putrinya terlihat terguncang. Pada saat kerentanan akut ini, putrinya yang menawarkan permintaan maaf, mengklaim bahwa dia tidak menyadari keparahan tindakan ayahnya, dan memohon kepada Adi atas pengampunannya.

Look of Silence menyelidiki keheningan yang ada di dalam keluarga dan antar generasi. Kemudian dalam film tersebut Adi mengunjungi pamannya, mantan penjaga penjara yang bersekongkol dalam kematian Ramli. Paman tua itu mencoba membela diri dengan mengklaim bahwa dia hanya mengikuti perintah. Ibu Adi tidak menyadari keterlibatan kakaknya. Hanya melalui film Oppenheimer dan penyelidikan Adi, keheningan keluarga mulai terurai.

Mungkin percakapan antar generasi yang paling penting terjadi antara Adi dan anak laki-laki dan putrinya yang muda, yang kejenakaannya menyenangkan memberikan sedikit sentuhan komikal sepanjang film ini. Dalam sebuah adegan di ruang kelas, kita duduk bersama anak-anak Adi sementara sang guru memberi mereka narasi sejarah yang disponsori negara. “Komunis itu kejam,” tegasnya, “dan mereka tidak percaya pada Tuhan.”

“Jika kalian memberontak terhadap negara, kalian masuk penjara. Jadi mari kita sampaikan kepada para pahlawan yang berjuang untuk membuat negara kita menjadi demo. . . ? ”

“Demokrasi!” Kelas merespon serentak.

Kemudian, Adi duduk bersama anak-anaknya, mencoba menjelaskan kepada mereka tentang kebenaran — bahwa “komunis” tidak dikirim ke penjara, namun diburu dan dieksekusi. Kesenjangan antara pendidikan anak-anaknya dan kenyataan harian Adi tentang ketidakadilan yang ditekankan kembali mengundang pertanyaan: apakah percakapan ini akan terjadi jika Oppenheimer tidak membuat film ini?

Namun, The Look of Silence lebih dari sekedar menggali rahasia keluarga dan masyarakat. Ini merupakan redefinisi pembantaian dalam konteks internasional, dan menunjuk sebuah jari yang menuduh peran Amerika dalam pembantaian tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Southeast Asian Times, sejarawan Brad Simpson mengatakan bahwa AS memandang pembunuhan massal tersebut sebagai “teror yang manjur,” sebuah blok bangunan penting dari “kebijakan kuasi-neoliberal yang akan diusahakan Barat di Indonesia setelah penggulingan Sukarno.”

Saat ini, pekerja perkebunan yang serikat pekerjanya dimaksudkan Oppenheimer untuk didokumentasikan itu menolak keadilan atas kejahatan masa lalu dan dikepung oleh sistem ekonomi yang menahan mereka dalam kemiskinan terus-menerus. Kebijakan Perang Dingin tentang privatisasi, perdagangan bebas, deregulasi, dan penghematan terus berlanjut. Karena kesenjangan kekayaan meningkat di seluruh Indonesia, pemerintah menjual sumber daya alam negara tersebut kepada perusahaan multinasional dan mendorong tindakan lain yang mengakibatkan degradasi lingkungan dan penggundulan hutan.

Look of Silence adalah bukti kekerasan budaya, ekonomi, dan politik, dan berpotensi memicu dialog baru dalam iklim di mana pembentukan komite kebenaran dan rekonsiliasi telah dihentikan secara konsisten. Setelah kediktatoran Suharto berakhir pada tahun 1998, Indonesia mendirikan Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk mengadili mereka yang dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Namun ketiga puluh empat pelaku yang dibawa ke pengadilan sampai saat ini telah dibebaskan atau telah menjatuhkan hukuman banding mereka.

Menjelang akhir film, ayah Adi yang buta, yang berusia lebih dari seratus tahun, merangkak di lantai semen, mendorong dirinya maju dengan tinjunya, kepalanya menyentuh binatu yang tergantung. Dia memanggil entah pada siapa: “Saya berada di rumah orang asing. Tolong! Saya tersesat!” Ibu Adi membimbingnya kembali ke tempat yang aman dan kemudian duduk bersamanya untuk menceritakan kisah Ramli, yang ayahnya tidak ingat.

Momen ini membawa ke permukaan kesedihan yang sangat besar dari kenangan yang memudar dalam keluarga, masyarakat, dan dunia di mana rasa sakit keluarga Adi terlupakan, tidak dikenali, dan dibungkam. Jika The Act of Killing memperlihatkan fiksi yang mendukung dinding rumah orang asing itu, The Look of Silence menuntun kita melalui interiornya, menemukan kenangan dan potongan kebenaran di sudut-sudutnya, di balik dindingnya.

*

Diterjemahkan dari Memories of Massacre yang dirilis Jacobin tentang dua film Joshua Oppenheimer yang menangkap luka panjang akan tragedi pembantaian di Indonesia. Ditulis Shimrit Lee, kandidat PhD dalam Kajian Timur Tengah dan Islam di New York University.