Kategori
Celotehanku

Yang Kita Bicarakan Ketika Membicarakan Cinta Pertama

capolaga api ungun

Wanci janari dan serangan kantuk serta dingin di Capolaga membuat kami membubarkan diri, masuk ke tenda kemudian sleeping bag masing-masing. Karena tenda laki-laki terlalu padat (serta resiko kebisingan), saya dan beberapa kawan terpaksa tidur di luar. Suara aliran sungai begitu menentramkan. Meski sudah memenjamkan mata, saya masih belum bisa tertidur, disibukkan beragam loncatan-loncatan pikiran. Sebelumnya, malam itu, kami saling curhat soal sesuatu yang tampak cengeng dan kacangan: cinta pertama.

Saya ingin berpikir bahwa jatuh cinta cuma reaksi kimia yang memaksa hewan untuk berkembang biak. Freud sangat mengiyakannya sejak lama. Sejarah peradaban dan budaya, membuat kita berbeda dengan bebek atau anjing, yang bisa seenaknya bersenggama tanpa tahu malu di mana dan kapan saja. Berahi, yang merupakan proses biologis, oleh manusia diromantisir, dan karenanya cuma manusia yang punya konsep cinta.

Membicarakan cinta pertama berarti membicarakan cinta romantis. Secara historis, istilah roman berasal dari gagasan-gagasan kesatria abad pertengahan sebagaimana tertuang dalam sastra romansa dari masa itu. Ksatria biasanya terlibat dalam hubungan non-seks dan non-nikah dengan wanita bangsawan yang mereka layani. Hubungan-hubungan ini sangat rumit dan diritualkan dalam suatu kompleksitas yang dirumuskan dalam kerangka tradisi. Dalam hal cinta kasih sayang ini, “kekasih” tidak selalu merujuk pada mereka yang terlibat dalam tindakan seksual, tetapi lebih kepada tindakan kepedulian dan keintiman emosional. Cinta kasih sayang ini sering menjadi subyek trubadur, para pengelana-penyair-penyanyi di abad pertengahan, dan biasanya konsep cinta ini dapat ditemukan dalam usaha artistik seperti narasi liris dan prosa puitis pada masa itu.

Warisan mereka masih tertancap kuat sampai kiwari. Melalui pemopuleran yang tak lekang waktu dalam seni dan sastra tentang kisah-kisah para ksatria dan putri, raja dan ratu, kesadaran yang formatif dan berdiri lama ini membentuk semacam ideal hubungan antara pria dan wanita. Kemudian muncul Romantisisme, juga dikenal sebagai era Romantik, yakni gerakan artistik, sastrawi, musikal dan intelektual yang berasal dari Eropa menjelang akhir abad ke-18. Romantisisme ditandai dengan penekanan pada emosi dan individualisme serta glorifikasi akan masa lalu dan alam, serta adanya penggalian terhadap tradisi abad pertengahan. Munculnya Romantisisme dan manusia-manusia yang selalu meromantisir membentuk persepsi kita tentang cinta. Romantisisme, yang hari ini termanifestasi dalam beragam medium, menjadi tempat kita belajar tentang cinta, tentang naksir seseorang, tentang momen sekejap mata seseorang bertemu orang lain di seberang ruangan dan bagaimana hal cemen begitu mengarah pada kebahagiaan selamanya.

Cinta pertama, kenangan yang terus menghantui dan asam manis dalam jiwa kita, menarik kita kembali ke apa yang pernah, dan tidak akan pernah bisa terjadi lagi. Mengapa yang satu ini harus ada di otak kita secara berbeda dari yang lain, bahkan ketika yang lain lebih panjang dan lebih baik? Sebenarnya tak ada yang ajaib tentang cinta pertama, kecuali bahwa hal itu menjadi yang pertama. Pengalaman pertama akan selalu membekas. Itulah pengalaman pertamamu ketika jantungmu berdetak sedikit lebih cepat, kelenjar-kelenjar terbuka mengeluarkan tetes peluh penuh rahasia, dan tubuhmu mulai memproduksi hormon-hormon, yang membuatmu merasa sedikit pusing namun hangat di dalam. Apalagi jatuh cinta bisa dibilang sesuatu yang menakutkan – kamu takut akan ditolak, kamu takut tak bisa memenuhi harapan cinta pertama, takut dia tak akan hidup selamanya denganmu. Kecemasan adalah bagian besar dari jatuh cinta, terutama untuk pertama kalinya.

Cinta pertama menciptakan pengalaman pertamamu tentang peduli pada seseorang secara paripurna, timbulnya beragam distraksi, ketaksabaran, kegelisahan karena takut ditinggalkan, rasa aman serta nyaman dan campur aduk lainnya. Karena biasanya terjadi saat kita masih remaja, masa-masa saat segala hal kita romantisir, cinta pertama menjadi kisah yang akan selalu kita ingat. Bagaimana kamu mencari tahu siapa namanya, di mana rumahnya, apa nomor ponselnya, bagaimana kamu begitu mengejar seseorang dan ingin mengenalnya lebih dalam, ingin lebih dekat dengannya, bagaimana kamu begitu gagap berbicara dengannya, bagaimana kamu memberinya serangan gombalan kacangan, menghadiahinya bunga atau coklat atau kejutan-kejutan tak terduga, memboncengnya, mengajarinya main gitar, mengajak makan atau nonton bareng, bagaimana ciuman pertamamu dan beragam pengalaman yang bikin kamu berbunga-bunga.

Selanjutnya, alasan kenapa cinta pertama begitu membekas karena itu adalah pertama kalinya kamu mengalami yang namanya patah hati. Apakah dia yang mengakhirinya, atau kamu, atau waktu dan tempat yang memisahkan kalian berdua, kenyataannya adalah bahwa kamu tak yakin kamu menginginkan hal itu berakhir. Jadi di sinilah kamu, mencoba menerima kenyataan bahwa hubunganmu sudah berakhir. Seringkali, bukan benar-benar cinta pertamamu yang kamu rindukan, tetapi perasaan yang kamu alami ketika kamu bersamanya. Kamu kehilangan koneksi, gairah, keintiman, perasaan yang diinginkan. Kamu merindukan cara dia membuatmu merasa lebih dari orang yang sebenarnya.

Jika yang dimaksud cinta pertama adalah pacaran pertama, saya belum pernah mengalaminya. Untuk urusan jatuh cinta dan memberanikan diri mengejar seseorang, baru belakang ini saya alami, sangat datang terlambat. Perasaan yang hanya saya ketahui lewat penggambaran di novel atau film, dan saya sinis karenanya, akhirnya saya rasakan sendiri: kegamangan berbunga-bunga, ketika udara terasa lebih menyegarkan, langit tampak lebih biru, senja tampak lebih sendu, yang bikin orang dapat menghabiskan hingga 85% dari waktu bangunnya untuk memikirkan si dia, yang mengukir senyum ketika menatap fotonya. Pengalaman yang kawan-kawan lain curhatkan, tentang cinta pertamanya di masa remaja, baru saya rasakan baru-baru ini, di usia pertengahan duapuluhan. Menunggu dua jam lebih agar bisa menjemput pulang, siksaan untuk menciptakan obrolan, menanti update status WhatsApp agar bisa mengirim chat, belajar cara mengirim Go-Food dan hal-hal yang bikin saya heran kenapa bisa melakukannya. Saya sendiri suka menonton drama Korea, tapi jika saya sendiri yang harus memerankannya dalam kehidupan nyata, justru saya merasa jijik. Selama sekitar dua tahun, dia hanya teman perempuan cantik biasa dan sekarang, dia jadi yang pertama membikin saya melakukan ketololan terbesar sepanjang hidup saya. Mungkin, apa yang saya bicarakan ketika membicarakan cinta pertama adalah tentang dia, dan saya terlalu pecundang untuk membuka perasaan saya.

 

 

 

Kategori
Fiksi

Perbedaan Antara Cinta dan Siksaan Menunggu, Orhan Pamuk

cinta dan siksaan menunggu orhan pamuk

Tetapi, Ipek tidak segera naik. Dan menunggu adalah sebuah siksaan – yang terburuk sepengetahuan Ka. Sekarang Ka teringat bahwa kepedihan inilah, siksaan saat menanti inilah, yang membuatnya takut jatuh cinta. Sesampainya di kamar, dia membaringkan diri di ranjang, hanya untuk berdiri kembali dan merapikan bajunya. Dia mencuci tangan, merasakan darahnya mengalir meninggalkan lengan, jemari, dan bibirnya. Dengan tangan gemetar, dia menyisir rambut; kemudian, melihat bayangannya sendiri di jendela, dia mengacak-acak rambutnya lagi. Semua ini hanya memakan sangat sedikit waktu, dan akhirnya dia mengarahkan perhatian dan kecemasannya pada pemandangan di luar jendela.

Dia berharap akan melihat Turgut Bey meninggalkan hotel bersama Kadife. Mungkin mereka keluar saat dia berada di dalam kamar mandi. Tetapi, jika memang itu yang terjadi, Ipek tentunya sudah ada di kamarnya sekarang. Mungkin Ipek berada di kamar yang dilihatnya kemarin malam, membedaki wajahnya dan mengolesi lehernya dengan parfum. Membuang-buang sedikit waktu yang mereka miliki bersama saja! Tidakkah Ipek memahami betapa Ka mencintainya? Apa pun yang sedang dilakukan Ipek, itu tidak sepadan dengan kepedihan yang dirasakan Ka saat ini; Ka akan mengatakan semuanya kepada Ipek jika wanita itu akhirnya muncul. Tetapi, akankah Ipek datang? Bersama setiap waktu yang berlalu, Ka menjadi semakin yakin bahwa Ipek telah berubah pikiran.

Ka melihat sebuah kereta kuda mendekati hotel; dikawal oleh Zahide Hanim dan Cavit si resepsionis, Turgut Bey dan Kadife memanjat naik, lalu menutup lapisan terpal di kereta itu. Tetapi, kereta itu tak kunjung bergerak. Ka memandang lapisan salju di atap kereta bertambah tebal dan tebal; di bawah cahaya lampu-lampu jalanan, setiap kepingan salju tampak semakin membesar. Saat itulah Ka merasa waktu seolah-olah berhenti; ini membuatnya gila. Tepat ketika itu, Zahide berlari ke luar dan memasukkan sesuatu yang tidak terlihat oleh Ka ke dalam kereta. Kendaraan itu pun mulai bergerak, dan jantng Ka berdegup semakin kencang.

Tetapi, Ipek tak kunjung datang.

Apakah perbedaan antara cinta dan siksaan menunggu? Seperti cinta, siksaan menunggu muncul dari otot-otot yang terletak di suatu tempat di bagian atas perut, tetapi sensasi itu segera menyebar ke dada, ke paha, dan ke kening, sebelum kemudian menguasai seluruh tubuh dengan kekuatan yang melumpuhkan. Ka mendengarkan suara-suara dari bagian lain hotel, berusaha menduga-duga apa yang sedang dilakukan Ipek. Ka melihat seorang wanita di jalan, dan, meskipun sosoknya sama sekali berbeda dengan Ipek, dia berpikir bahwa wanita itu Ipek. Betapa cantiknya salju yang sedang jatuh dari langit!

Saat dirinya masih kecil, saat dia dan teman-teman sekelasnya berduyun-duyun memasuki kantin sekolah untuk mendapatkan suntikan, saat aroma makanan yang bercampur dengan aroma iodin berputar-putar di dalam kepalanya, perutnya terasa mulas seperti ini, dan dia ingin mati saja. Dia mendambakan rumahnya, kamarnya sendiri. Sekarang dia berada di kamar mengenaskannya di Frankfurt. Datang ke Kars adalah sebuah kesalahan besar! Puisi-puisi baru pun sudah tidak lagi mendatanginya sekarang. Dia sangat merana. Meskipun begitu, dia berusaha menenangkan diri dengan berdiri di dekat jendela yang hangat, menyaksikan hujan salju; setidaknya ini lebih baik daripada meregang nyawa. Tetapi, jika Ipek tidak segera datang, mau tidak mau dia akan mati.

Lampu-lampu seketika padam.

Ini adalah pertanda, pikir Ipek, yang dikirim khusus untuknya. Mungkin Ipek tidak datang karena dia mengetahui tentang pemadaman listrik yang akan terjadi. Ka memandang ke jalan yang gelap di bawahnya, mencari tanda-tanda kehidupan, sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa Ipek tidak datang. Dia melihat sebuah truk – apakah itu truk tentara? Bukan, pikirannya menipunya. Begitu pula bunyi langkah kaki di tangga yang didengarnya. Tidak ada yang datang. Ka meninggalkan jendela dan berbaring kaku di ranjang. Rasa nyeri yang dimulai di perutnya sekarang telah menyebar ke jiwanya; dia sendirian di dunia ini, dan tak ada yang bisa disalahkan kecuali dirinya sendiri. Kehidupannya sia-sia; dia akan mati di sini, dalam keadaan menderita dan kesepian. Kali ini, dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berlari seperti tikus ke lubangnya di Frankfurt. Ketidakbahagiaan yang begitu parah membuatnya berduka dan putus asa. Lebih buruk lagi, dia tahu bahwa, seandainya dia mengambil tindakan yang lebih pintar, hidupnya akan jauh lebih bahagia. Dan, yang terburuk adalah mengetahui bahwa tidak seorang pun melihat ketakutan, penderitaan, dan kesepian yang dirasakannya. Seandainya Ipek mengetahui hal ini, dia akan langsung naik tanpa menunda-nunda! Seandainya ibunya melihatnya dalam keadaan ini … Hanya ibunyalah satu-satunya orang di dunia ini yang akan memahaminya; wanita itu akan membelai rambutnya dan menenangkannya.

Es di jendela mengeluarkan pendar oranye dari cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu bangunan di sekitar hotel. Biar saja salju terus turun, pikir Ka. Biar saja salju turun berhari-hari dan berbulan-bulan. Biar saja salju mengubur Kota Kars sehingga tidak ada lagi yang bisa menemukannya. Dia ingin tidur di ranjangnya dan baru terbangun saat matahari bersinar cerah pada suatu pagi, dan dia kembali menjadi anak-anak, bersama ibunya.

Terdengarlah ketukan di pintu. Jika sudah begini, Ka mengatakan kepada dirinya sendiri, bisa saja yang mengetuk pintunya adalah seseorang dari dapur. Tetapi, dia menghambur ke pintu, dan saat membukanya, dia dapat merasakan keberadaan Ipek.

“Dari mana saja kamu?”

“Apakah aku terlambat?”

Tetapi, Ka seolah-olah tidak mendengar kata-kata Ipek. Dia langsung mememluk Ipek dengan sekuat tenaga; dia menempelkan kepala ke leher Ipek dan membenamkan wajah ke rambutnya; dan dia berdiam di sana, tidak menggerakkan sedikit pun ototnya. Ka merasakan kebahagiaan yang begitu besar, sehingga siksaan menunggu yang baru saja menderanya sekrang terasa absurd. Tetapi, siksaan itu telah menggerogotinya sebegitu rupa, sehingga, Ka berpikir, karena itulah dia bisa sangat mensyukuri kehadiran Ipek. Dan, untuk apakah dia menuntut penjelasan Ipek tentang keterlambatannya: bahkan meskipun mengetahui bahwa dirinya tidak berhak melakukan hal itu, Ka terus-menerus mengeluh. Tetapi, Ipek bersikeras bahwa dirinya naik segera setelah ayahnya pergi. Memang, dia berhenti sebentar di dapur untuk memberikan satu atau dua perintah berkenaan dengan makan malam kepada Zahide, tapi itu hanya memakan waktu satu menit. Maka, Ka pun menjadi pihak yang lebih bergairah dan rapuh di antara mereka berdua. Bahkan sejak awal hubungan mereka, Ka telah membiarkan Ipek memegang kendali. Dan, bahkan jika ketakutan Ka akan terlihat lemah menggerakannya untuk menutup-nutupi dampak perasaan tersiksa yang disebabkan oleh Ipek, dia masih harus berurusan dengan rasa tidak amannya. Lagi pula, bukankah cinta berarti berbagi segalanya? Apakah cinta jika bukan hasrat untuk membagi semua pikiran kita? Dia membeberkan rentetan pikirannya kepada Ipek dengan napas tertahan, seolah-olah sedang membocorkan sebuah rahasia gelap.

“Sekarang, singkirkanlah semua itu dari kepalamu,” kata Ipek. “Aku datang ke sini untuk bercinta denganmu.”

Mereka berciuman. Dengan kelembutan yang mendatangkan kenyamanan bagi Ka, mereka menjatuhkan diri ke ranjang. Bagi Ka, yang telah empat tahun tidak bercinta, rasanya seperti mendapatkan mukjizat. Maka, meskipun kenikmatan melanda tubuhnya, pikiran sadarnya masih bisa mengingatkannya bahwa dia sedang berada dalam momen yang indah. Sama seperti pengalaman seksualnya yang pertama, bukan hanya tindakan dan pikiran tentang bercinta yang menguasai dirinya. Selama sesaat, kesadarannya melindunginya dari gairah yang meledak-ledak. Detail-detail dari film-film porno yang membuatnya kecanduan di Frankfurt membanjiri kepalanya, menciptakan sebuah aura fantasi yang sepertinya jauh dari logika. Tetapi, dia tidak membayangkan adegan-adegan itu untuk membuat dirinya terangsang; dia sedang merayakan fakta bahwa pada akhirnya dia dapat mewujudkan berbagai fantasi yang selama ini bermain-main di dalam pikirannya. Maka, bukan hanya Ipek seorang yang membuat Ka terangsang, melainkan juga bayangan-bayangan cabul; dan mukjizat yang dirasakannya tidak berasal dari keberadaan Ipek tetapi dari fakta bahwa dia dapat mewujudkan fantasinya di atas ranjang bersama Ipek.

Baru ketika Ka melepas baju Ipek dengan kecanggungan yang nyaris mendekati kekasaran, dia melihat diri Ipek yang sesungguhnya. Payudaranya yang ranum, kulit leher dan bahunya yang sangat lembut, aroma tubuhnya yang terasa aneh dan asing. Ka menyaksikan pantulan sorot lampu putih di tubuh Ipek. Kadang-kadang, mata Ipek berbinar, dan itu membuat Ka ketakutan. Kedua mata itu memancarkan keyakinan yang mendalam: Ka khawatir Ipek tidak serapuh yang diinginkannya. Karena itulah Ka menjambak rambut Ipek, supaya Ipek merasa kesakitan; karena itulah dia menikmati kesakitan Ipek sehingga dia kembali menjambak rambut Ipek; karena itulah dia menyuruh Ipek melakukan beberapa tindakan lain yang juga berasal dari film porno yang masih berlangsung di dalam kepalanya; dan, karena itulah dia memperlakukan Ipek dengan sangat kasar – untuk mengimbangi musik di dalam kepalanya, yang sangat dalam dan primitif. Saat melihat bahwa Ipek menikmati kekasarannya, perasaan unggul yang mendatangi Ka memunculkan kasih sayang yang hangat. Dia memeluk Ipek erat-erat; sekarang, dia tidak hanya berharap dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan Kars, dia juga ingin menyelamatkan Ipek. Tetapi, saat menyadari bahwa reaksi Ipek sepadan dengan gairahnya sendiri yang menggebu-gebu, Ka segera melepaskannya. Di dalam benaknya, dia dapat memegang kendali dan melakukan aneka gerakan akrobatik seksual itu dengan keluwesan yang mengagetkan. Tetapi, saat entah bagaimana pikirannya menjauh, dia dapat merengkuh Ipek dengan gairah yang sangat mendekati kekejaman; dan pada saat seperti itu, Ka ingin menyakiti Ipek.

Menurut catatan yang dibuat Ka tentang caranya bercinta – catatan yang kurasa harus kubagi dengan para pembacaku – hasratnya akhirnya terlampiaskan, dan mereka saling berpelukan begitu erat sehingga dunia seoalah-olah tidak ada lagi dalam ingatan mereka. Catatan yang sama juga mengungkapkan bahwa Ipek menangis tersedu-sedu saat semua itu berakhir.

Paranoia mendera Ka saat sekarang dia memikirkan apakah ini alasan dia diberi kamar yang terletak di sudut paling terpencil di hotel ini. Kenikmatan yang mereka rasakan saat saling menyakiti sekarang mendatangkan kembali rasa kesepian yang telah mereka akrabi. Dalam bayangan Ka, kamar terpencil di koridor terpencil ini telah melepaskan diri dari hotel dan melayang menuju sudut paling terpencil di kota yang sunyi ini. Dan, Kota Kars tampak begitu hening sehingga dunia sepertinya telah tiba di titik akhir. Dan, hujan salju terus turun.

Mereka berbaring lama di ranjang, berdampingan, memandang salju tanpa berkata-kata. Dari waktu ke waktu, Ka menolehkan kepala untuk menyaksikan hujan salju di mata Ipek.

*

Nukilan bab 28 dari novel Salju karya Orhan Pamuk

Kategori
Catutan Pinggir

Bagaimana Kita Jatuh Cinta?

Very Ordinary Couple (2013).MP4_snapshot_01.05.26_[2018.08.01_20.43.33]

Secara garis besar, sebut Dr Helen Fisher, seorang antropolog biologi di Kinsey Institute, New York, ada tiga hormon yang membanjiri otak ketika kita “jatuh cinta”. Masing-masing terikat pada aspek yang berbeda dari proses – testosteron dalam dorongan seksual, dopamin dalam cinta romantis dan oksitosin dilepas saat kita membentuk keterikatan yang lebih dalam. Mereka bertiga tidak memukul kita secara berurutan, tetapi keterikatan – apakah itu datang sebelum atau sesudah kita menginginkan seseorang – membutuhkan waktu.

Mengingat bahwa diperkirakan satu dari empat hubungan sekarang tercipta dari dunia online, di mana Anda belajar banyak tentang seseorang sebelum bertemu mereka, perkembangan tradisional dari ketertarikan menuju hubungan telah bergeser bagi banyak orang.

“Kencan online adalah semua tentang kata-kata dan foto,” kata Kate Taylor, seorang pakar hubungan untuk Match. “Jadi ini memungkinkan Anda mengembangkan sebuah hubungan dan ketertarikan berdasarkan faktor-faktor seperti minat bersama, selera humor yang nyambung dan kecerdasan. Ketika kita jatuh cinta secara offline, banyak faktor yang lebih kompleks ikut bermain: aroma, feromon, hormon dan itu jauh lebih merupakan sebuah proses yang primal dan misterius.”

https://youtu.be/Wn3IMTnPU5U?list=PLGrBP8E0dm23SvZJ3pm1s8frYkbW3RBQU

Kebodohan yang diprogram secara biologis

Hormon-hormon ini memang memiliki peran dan mendatangkan malapetaka pada otak yang sedang kasmaran. Sebagian besar kegamangan berbunga-bunga dari yang sedang kasmaran dapat ditelusuri ke efek dopamine yang membanjiri otak. Inilah yang menyebabkan seseorang terobsesi tentang minat cinta baru mereka, yang mana Fisher menyebutkan bahwa orang dapat menghabiskan hingga 85% dari waktu bangunnya untuk memikirkan si dia.

“Lalu ada keinginan untuk penyatuan emosional,” kata Fisher, penulis Anatomy of Love. “Ya, Anda ingin tidur bersama mereka, tetapi yang Anda inginkan adalah agar mereka menelepon, mengajak Anda keluar, untuk memberi tahu Anda bahwa mereka mencintai Anda. Dan Anda sangat termotivasi untuk memenangkan orang ini, area ventral tegmental, bagian otak yang mengendalikan ini, tepat di dekat area otak yang mengatur haus dan lapar. Ini adalah dorongan dasar manusia.”

500-days-summer-1200-1200-675-675-crop-000000

Dopamin juga menyebabkan orang melihat kekasih mereka sebagai benar-benar unik dan luar biasa. “Mobil mereka berbeda untuk setiap mobil lainnya, musik yang mereka suka luar biasa,” kata Fisher. Hormon juga menyebabkan emosi yang kuat, baik positif maupun negatif, serta hasrat seksual, kecemasan perpisahan dan tingkat energi yang tinggi.

Dan, dalam sebuah temuan yang tak akan lagi mengejutan bagi siapa pun, keadaan jatuh cinta menghambat kemampuan seseorang untuk membuat keputusan rasional.

“Korteks prefrontal medral ventral, wilayah otak yang berfokus pada negatif, menjadi kurang aktif ketika mereka jatuh cinta,” kata Fisher. “Jadi mereka berfokus pada hal positif dan mengabaikan yang negatif.”

Bagian otak yang terkait dengan pengambilan keputusan juga menunjukkan sedikit aktivitas karena individu melakukan sesuatu yang lebih penting. Fisher menjelaskan: “Anda mencoba memenangkan hadiah terbesar dalam hidup, seorang pasangan kawin, dan seluruh mekanisme otak dirancang agar kita bisa mendapatkannya.”

Hal ini bakal menenang sedikit demi sedikit seiring dengan waktu. Tim Fisher membandingkan aktivitas otak orang-orang yang baru saja jatuh cinta dengan orang-orang yang telah bersama pasangan mereka selama rata-rata 21 tahun dan yang masih menggambarkan diri mereka masih “jatuh cinta”. Mereka menemukan aktivitas yang sangat mirip di area tegmental ventral otak untuk kedua kelompok, dengan satu perbedaan yang signifikan.

“Di antara mereka yang baru saja jatuh cinta, kami menemukan aktivitas di wilayah terkait, saya tidak akan mengatakan ansietas, tetapi intensitas,” katanya. “Tetapi di antara mereka yang telah jatuh cinta dalam jangka panjang, ada aktivitas otak yang harus dilakukan dengan ketenangan – Anda masih ingin bercinta dengan orang tersebut, bersenang-senang dengan orang tersebut, ingin menikah lagi dengan orang tersebut, tetapi Anda tidak gelisah tentang orang itu.”

O love is the crooked thing
There is nobody wise enough
To find out all that is in it,
For he would be thinking of love
Till the stars had run away
And the shadows eaten the moon.

– WB Yeats, Brown Penny

Untuk kutipan-kutipan romantis lain, bisa cek laman CANVA

Apa hal yang disebut cinta ini?

Psikologi dapat mengungkapkan sedikit tentang mengapa kita menemukan orang-orang tertentu yang menarik. Misalnya, kita lebih cenderung jatuh cinta pada seseorang yang mirip dengan kita: dari kelompok sosial ekonomi yang sama, tingkat ketertarikan, pendidikan, dan latar belakang agama.

“Saya akan memberi tahu Anda sesuatu yang Anda tidak ingin tahu: secara statistik Anda lebih mungkin untuk menikah dengan seseorang yang secara fisik tampak seperti orang tua lawan jenis Anda,” kata Madeleine Fugère, profesor psikologi di Eastern Connecticut State University.

Pemicu lain yang menarik adalah warna merah, yang ketika dikenakan oleh orang-orang yang lebih muda meningkatkan daya tarik mereka kepada pasangan, dan siklus menstruasi perempuan, yang memengaruhi tipe pria yang akan tertarik padanya. Selama ovulasi dia tertarik pada pria dengan perawakan yang lebih maskulin – suara yang lebih dalam, lebih tinggi, dengan rahang yang lebih lebar dan tubuh yang lebih besar. Ketika dia tidak berovulasi dia akan cenderung memilih pria yang terlihat kurang maskulin.

Tetapi gagasan bahwa ada cara ilmiah untuk memahami secara tepat apa yang membuat beberapa orang menarik bagi kita dan orang lain tidak, atau gagasan bahwa kita dapat jatuh cinta dengan siapa pun yang diberi cukup keintiman dengannya, menurut Fugère, adalah sesuatu yang menggelikan.

Terlepas dari semua yang kita ketahui tentang psikologi tarik-menarik, masih ada banyak misteri dalam pertanyaan tentang siapa yang kita cintai, sebutnya. “Ada hal-hal tak sadar lain yang mendorong ketertarikan kita pada orang lain dan kita tidak tahu apa itu.”

 

Nicola Cornick, seorang penulis pemenang penghargaan lebih dari 30 novel roman, mengatakan ketidakpastian daya tarik adalah masalah bagi karakter fiktif dan juga karakter dunia nyata.

“Kadang-kadang terjadi bahwa Anda memiliki gagasan yang terbentuk sebelumnya tentang bagaimana ceritanya akan berjalan, di mana Anda punya dua karakter, di mana Anda menempatkannya dalam suatu situasi dan Anda pikir itu akan berhasil dan kemudian itu benar-benar datar. Itu terjadi di buku saya yang terbaru. Saya pikir, ‘Saya tidak menganggap karakter ini menarik, mengapa pahlawan saya harus?’”

Dia merevisi karakter – dan mengakui dengan tertawa bahwa itu jauh lebih mudah dilakukan dengan protagonis pria fiktif daripada yang nyata.

Mengambil risiko

Karena misteri cinta, Fugère mengatakan bertemu dengan banyak orang sangat penting. Dia juga memiliki tip licik: orang lebih cenderung jatuh cinta jika jantung mereka berpacu dan suhunya naik.

“Kami tahu bahwa jika Anda pergi berkencan menaiki roller coaster dengan seseorang yang sudah menemukan Anda menarik mereka lebih mungkin jatuh cinta pada Anda,” katanya. “Ini bekerja dengan apa pun yang menggairahkan – bungee jumping, pendakian, sesuatu yang benar-benar membuat jantung Anda berdetak.”

the-science-of-sleep

Sementara dia mengatakan bahwa ini hanya berfungsi jika orang itu sudah menganggap Anda menarik, penelitian juga menunjukkan bahwa pergi ke roller coaster dengan seseorang yang Anda anggap menarik membuat mereka semakin tidak diinginkan bagi Anda.

“Saya selalu memberi tahu orang-orang, tempat yang baik untuk bertemu seseorang pergi ke gym karena jantung semua orang sedang berpacu,” kata Fugère.

Nasihat Fisher serupa. “Jika Anda benar-benar ingin jatuh cinta dengan seseorang, lakukan hal-hal baru bersama-sama – lakukan pendakian, naiki sepeda Anda untuk makan malam daripada naik mobil, pergi ke opera, bermain ski, melakukan perjalanan ke Paris untuk akhir pekan, berhubungan seks di ruangan yang berbeda. Kebaruan, kebaruan, kebaruan. Ini mendorong dopamin di otak dan dapat mendorong Anda melewati ambang pintu ke dalam cinta.”

*

Diterjemahkan dari artikel The Guardian berjudul How do I … fall in love?

Kategori
Celotehanku

Kasmaran

34517056890_7bcbb6b9f9_b

Alih-alih sedikit-sedikit mengecek ponsel, saya bisa kembali masyuk membaca buku, setelah selama sekitar dua bulan otak saya dibanjiri dopamin dan testosteron – hormon-hormon yang punya peran mendatangkan “kebodohan yang diprogram secara biologis” pada otak yang sedang kasmaran. Berbarengan dengan semakin menurunnya mereka, How the World Works-nya Noam Chomsky makin menyadarkan saya, dunia ini sedang enggak baik-baik saja: hancurnya beragam gerakan kerakyatan, letusan kudeta-kudeta yang polanya seragam, kacaunya berbagai negara, genosida ini itu, naiknya para diktaktor, dan busuknya media dalam memberitakan, serta bahwa semua itu berakar pada kebijakan Amerika Serikat dan korporasi multinasional. Dapat mengolah bacotan Chomsky ini membuktikan bahwa fungsi otak saya, setidaknya, sudah kembali normal.

Meskipun orang-orang mendapat pengalaman jatuh cinta yang berbeda, pergolakan kimiawi di balik ketertarikan awal menunjukkan bahwa ada penjelasan biologis, misalnya merasa pusing selama minggu-minggu awal yang bahagia itu. Hal pertama yang terjadi ketika kita jatuh cinta dengan seseorang adalah kita mengambil makna khusus – semua tentang dirinya jadi istimewa. Selama sekitar dua tahun, dia hanya teman perempuan cantik biasa dan sekarang, senyumannya bahkan mengingatkan saya pada Kim Min Hee. Kita jadi sangat posesif secara seksual dan sosial. Anda hanya menginginkan orang ini. Kita mendambakan dirinya. Kita mendapat kegembiraan ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik dan jatuh dalam keputusasaan ketika dia enggak membalas chat. Dan kita sangat termotivasi untuk memenangkan orang itu. Apa yang akan dilakukan orang ketika mereka jatuh cinta benar-benar di luar dugaan. Ini sebuah dorongan, seperti kehausan atau kelaparan.

Dopamin, yang menyebabkan orang terobsesi tentang minat cinta barunya, yang melahirkan kegamangan berbunga-bunga, ketika udara terasa lebih menyegarkan, langit tampak lebih biru, senja tampak lebih sendu, yang bikin orang dapat menghabiskan hingga 85% dari waktu bangunnya untuk memikirkan si dia, yang mengukir senyum ketika menatap fotonya, efeknya telah menurun dalam kepala saya. Sementara itu, testosteron, yang selain meningkatkan hasrat seksual, juga meningkatkan perilaku agresif, yang dapat mendorong seseorang untuk berani mengejar si dia, nampaknya sudah menyurut.

Korteks ventral medial prefrontal, wilayah otak yang berfokus pada negatif, menjadi kurang aktif ketika seseorang jatuh cinta. Padahal korteks ventral medial prefrontal adalah teman terbaik saya. Karena darinya saya bisa mengamalkan ajaran kaum Stoik dan kebijaksanaan “untuk melihat gelas separuh kosong”: Hampir segala harapanmu akan hancur, beragam mimpimu harus masuk kubur, belahan jiwa idamanmu hanya eksis dalam khayalanmu, hari ini berjalan buruk, kemungkinan besar besok bakal lebih buruk, hingga yang paling buruk akhirnya terjadi. Dia mempersiapkanmu untuk yang terburuk, mengurangi ketegangan akibat ekpektasi, menjagamu dari kekecewaan, bahkan membuatmu sedikit tertawa karena memikirkan hal-hal buruk ini. Tampaknya, konteks prefrontal medral ventral saya sudah kembali aktif, saya mulai teringat pada Tom Hansen dalam (500) Days of Summer dan para protagonis murung yang dibikin merana karena mengejar kekasih dambaannya dalam novel Haruki Murakami.

Saya ingin berpikir bahwa jatuh cinta cuma reaksi kimia yang memaksa hewan untuk berkembang biak. Tentu, sebuah kesalahan untuk mereduksi cinta hanya pada bahan kimia, karena begitu banyak faktor lain yang bekerja di otak dan pikiran. Dan bukan hanya tentang seks, meski Freud bakal protes. Ini tentang peduli pada seseorang secara paripurna, timbulnya beragam distraksi, ketidaksabaran, kegelisahan takut ditinggalkan, dan campur aduk lainnya, yang makin diperumit setelah munculnya Romantisisme dan manusia-manusia yang selalu meromantisir. Romantisisme adalah tempat kita belajar tentang cinta, tentang naksir seseorang, tentang momen sekejap mata seseorang bertemu orang lain di seberang ruangan dan bagaimana itu mengarah ke bahagia selamanya. Masih percaya kamu akan mengejar belahan jiwamu dengan menjelajah melintasi Eropa? Kamu dapat berterima kasih kepada Richard Linklater untuk Before Sunrise, tetapi romantisme macam begini yang perlu kita salahkan atas obsesi kita dengan ketertarikan instan yang mengarah pada cinta dan kenyamanan seumur hidup.

Karena orang yang jatuh cinta enggak memproses dunia di sekitar mereka dengan rasional, dan menurunnya fungsi kognitif, ketika para hormon tadi mulai menormal, muncul beragam kegelisahan. Beberapa mungkin takut kemungkinan penolakan, yang menurunkan kenikmatan jatuh cinta. Yang lain mungkin takut untuk mengikatkan komitmen, atau takut karena bakal terlalu membutuhkan, dan sebagai akibatnya, mengenyahkan gebetan mereka. Beberapa mungkin terus menyelam, aman dengan harapan mereka bahwa ini mungkin hubungan yang akan bertahan. Saya sendiri masih enggak habis pikir atas apa yang saya rasakan dan alami kemarin-kemarin.

 

Kategori
Catutan Pinggir

Hikayat Evolusi Jatuh Cinta

funny image of two baboon monkeys kissing

Jantungmu berdetak sedikit lebih cepat, kelenjar-kelenjar terbuka mengeluarkan tetes peluh penuh rahasia, dan tubuhmu mulai memproduksi hormon-hormon, yang membuatmu merasa sedikit pusing namun hangat di dalam.

Ini adalah beberapa proses biologis yang terjadi ketika Anda didorong ke dalam pergolakan awal cinta – atau berahi, begitu sulit untuk mengatakan yang mana.

Cinta adalah satu bagian kemanusiaan kita yang begitu luas sehingga seni dan budaya dipenuhi dengan referensi tentang cinta yang dimenangkan dan cinta yang kandas. Perpustakaan memiliki rak-rak buku yang penuh dengan prosa romantis. “Love is not time’s fool,” tulis Shakespeare dalam sonet 116: “Love alters not with his brief hours and weeks / But bears it out even to the edge of doom.

Sepertinya Shakespeare lebih benar daripada yang dia ketahui. Mengintip evolusi cinta dalam kerajaan hewan dan menjadi jelas bahwa cinta memiliki permulaan yang jauh sebelum munculnya umat manusia. Terlebih lagi, itu bisa saja lahir dari sesuatu yang sangat mengerikan.

p03jcbyn

Perjalanan untuk mencintai seperti yang kita ketahui hari ini dimulai dengan seks, yang merupakan salah satu hal pertama kehidupan di Bumi tahu bagaimana melakukannya. Seks dimulai sebagai cara untuk mewariskan gen organisme ke generasi berikutnya.

Untuk mencintai, kehidupan pertama membutuhkan otak yang bisa mengatasi emosi. Tidak sampai beberapa miliar tahun setelah kehidupan dimulai, otak memulai perjalanannya menuju eksistensi. Awalnya otak cuma gumpalan kecil sel.

Maju lebih cepat ke sekitar 60 juta tahun yang lalu, ketika anggota pertama keluarga kita, para primata, muncul. Selama jutaan tahun evolusi, beberapa primata akan berevolusi dengan otak yang lebih besar, yang akhirnya menghasilkan manusia modern.

Tapi ada masalah. Ketika otak kita tumbuh, bayi-bayi kita harus lahir lebih awal dalam perkembangannya. Kalau tidak, kepala mereka akan terlalu besar untuk melewati jalan lahir.

Akibatnya, bayi gorila, simpanse dan manusia hampir sepenuhnya tidak berdaya. Orang tua mereka harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat mereka.

Masa kecil yang berkepanjangan ini menciptakan risiko baru.

Dark handed gibbon and baby Tanjung Putting Borneo

Pada banyak primata saat ini, seorang ibu dengan bayi yang masih bergantung padanya tidak tersedia untuk kawin sampai bayinya disapih. Untuk mendapatkan akses kepadanya, para jantan pertama-tama harus membunuh anaknya. Jenis pembunuhan bayi yang ditargetkan ini berlangsung di banyak spesies, termasuk gorila, monyet dan lumba-lumba.

Hal ini mendorong Kit Opie dari University College London di Inggris dan rekan-rekannya, untuk mengusulkan ide yang mengejutkan. Hampir sepertiga dari primata membentuk hubungan jantan-betina monogami, dan pada tahun 2013 Opie menyarankan bahwa perilaku ini telah berevolusi untuk mencegah pembunuhan bayi.

Timnya mengintip kembali ke pohon keluarga primata untuk merekonstruksi bagaimana perilaku seperti kawin dan pengasuhan berubah selama evolusi. Analisis mereka menunjukkan bahwa pembunuhan bayi telah menjadi kekuatan pendorong monogami selama 20 juta tahun, karena secara konsisten mendahului monogami dalam evolusi.

Spesies lain menemukan solusi yang berbeda, alasan mengapa tidak semua primata adalah monogami. Sebagai contoh, simpanse dan bonobo meminimalkan risiko pembunuhan bayi dengan cara sangat bermesraan. Para jantan tidak membunuh bayi karena mereka tidak tahu yang mana mereka.

Mother and baby Bonobo Chimpanzee at the Sanctuary Lola Ya Bonobo, Democratic Republic of the Congo

Tetapi pada spesies-spesies di mana jantan dan betina mulai berikatan kuat, peluang keturunan mereka untuk bertahan hidup meningkat karena jantan dapat membantu mengasuh anak. Akibatnya, monogami disukai oleh evolusi, kata Opie.

Proses ini mungkin jalan satu arah, kata Robin Dunbar dari University of Oxford di Inggris. Itu bisa menghasilkan perubahan besar di otak, “untuk menjaga pasangan-terikat bersama sepanjang hayat”. Ini termasuk preferensi untuk pasangan Anda dan antagonisme terhadap para saingan potensial.

Ini pada gilirannya bisa menjadi “tendangan” yang mengubah evolusi manusia, kata Opie. Perawatan ekstra para lelaki membantu masyarakat manusia awal tumbuh dan berkembang, yang pada gilirannya “memungkinkan otak kita tumbuh lebih besar daripada kerabat terdekat kita”.

Ada bukti untuk mendukung hal ini. Ketika ukuran otak mulai membesar, begitu pula kerja sama dan ukuran kelompok. Kita dapat melihat kecenderungan terhadap kelompok yang lebih besar dan lebih banyak kerja sama dalam spesies manusia purba Homo erectus, yang hidup hampir dua juta tahun yang lalu.

Terlebih lagi, tampaknya aspek cinta bergantung pada wilayah otak yang hanya muncul baru-baru ini dalam sejarah evolusi kita.

Homo erectus Skull

Stephanie Cacioppo dari University of Chicago di Illinois, AS, menjelajahi literatur ilmiah untuk menemukan studi pencitraan otak fMRI yang memeriksa bagian otak yang terlibat dalam cinta. Dia menemukan bahwa keadaan cinta yang paling intens dan “abstrak” bergantung pada bagian otak yang disebut angular gyrus.

Ini dikenal penting untuk aspek-aspek bahasa tertentu, seperti metafora. Ini masuk akal, karena tanpa bahasa yang rumit kita tidak dapat mengekspresikan aspek emosi kita yang lebih halus dan intens. Bisa dibayangkan, angular gyrus Shakespeare aktif ketika dia menulis soneta cinta.

Angular gyrus hanya ditemukan pada kera besar dan manusia.

Kami sebenarnya tidak tahu peran apa yang dimainkannya dalam emosi para kera, sebut Cacioppo, karena “eksperimen fMRI pelengkap belum dilakukan pada kera”. Jadi kita tidak tahu apa yang dirasakan simpanse tentang pasangan mereka. Jelas mereka tidak menulis soneta, begitu juga tidak pada kebanyakan manusia.

Namun, temuan-temuan Cacioppo menawarkan beberapa dukungan terhadap gagasan bahwa otak kita yang berkembang membantu mengembangkannya.

Brain Cross Section, illustration

Namun, ide Opie bahwa pembunuhan bayi memulai proses ini kontroversial. Tidak semua orang setuju hal itu memainkan peran apa pun dalam pengembangan monogami.

Antropolog Robert Sussman dari Universitas Washington di St Louis di Missouri, AS adalah salah satu skeptis. Dia mengatakan bahwa baik monogami dan pembunuhan bayi adalah perilaku yang tidak biasa sehingga mereka tidak mungkin dikaitkan.

Ada beberapa alternatif. Sebuah studi 2014 menyarankan monogami berevolusi sebagai hasil dari “strategi mengawal pasangan”: yaitu, laki-laki yang tinggal dengan perempuan untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang berpasangan dengannya.

Satu tahun kemudian, penelitian lain merekonstruksi evolusi kelompok primata lain yang disebut lemur. Ditemukan bahwa persaingan perempuan bisa mendorong ikatan pasangan.

p03jbmz8

Opie tidak setuju. Dia mengatakan metode dalam studi ini “tidak dapat digunakan untuk menentukan peralihan ke monogami”.

Yang pasti benar adalah bahwa banyak primata yang baik-baik saja tanpa pasangan yang terikat dengan orang tua, dan mungkin tanpa sesuatu yang serupa dengan cinta romantis. Tetapi ada satu kesamaan yang dimiliki semua primata: ikatan ibu dan anak yang kuat.

Ini benar, “bahkan pada primata nokturnal yang hidup secara diam-diam,” kata Sussman. Dia menunjukkan bahwa proses otak yang mendasari ikatan ibu-anak “dibajak” untuk menciptakan cinta romantis.

Ada bukti dari neuroscience yang menunjukkan bahwa dia benar.

p03jbncp

Cinta sulit untuk didefinisikan, tetapi para ahli saraf setuju bahwa ada beberapa tahapan yang tumpang tindih.

Tahap pertama adalah hasrat seksual: kita merasa tertarik pada orang lain. Menyentuh mereka melepaskan bahan kimia yang terasa baik dan kita mengalami kerinduan yang kuat untuk bersama mereka.

Bagian dari sistem limbik kita, salah satu bagian paling kuno dari otak manusia, aktif selama tahap ini. Ini termasuk insula, area yang dikenal terlibat dalam pengalaman emosional yang intens. Ventral striatum juga mengalami kerja berlebih. Ini adalah pusat dari sistem penghargaan otak, dan ketika kita melihat wajah yang menarik hati bagian itu menyala: kita dihargai hanya dengan melihat orang yang kita inginkan.

Ketika hasrat bergerak ke tahap berikutnya – cinta romantis – sistem limbik kembali memainkan peran kunci. Ini memompa dopamin kimia yang baik dan hormon oxytocin, yang mengikat manusia bersama.

Perkembangan ini menyiratkan bahwa kenikmatan intens dari tahap hasrat seksual dapat mengarah langsung pada cinta, kata Cacioppo. “Cinta cenderung tumbuh dari keinginan. Anda tidak bisa mencintai seseorang yang tidak Anda pernah inginkan.”

p03jcf2w

Pada saat yang sama, area otak yang lebih canggih lainnya ditekan. Misalnya, penelitian telah menunjukkan bahwa bagian-bagian korteks prefrontal dinonaktifkan. Ini adalah area yang terlibat dalam keputusan rasional.

Pada tahap ini, kita benar-benar “kasmaran”. Orang yang jatuh cinta tidak memproses dunia di sekitar mereka, sebut Thomas Lewis, seorang ahli saraf di Universitas California, San Francisco di AS. “Mereka tidak mengevaluasi orang itu secara kritis atau dengan cara yang sangat kognitif.”

Serotonin, yang biasanya membantu kita merasa tenang, juga ditekan. Ini masuk akal ketika Anda mempertimbangkan seberapa terobsesinya kita ketika jatuh cinta. Tingkat serotonin juga rendah di otak individu dengan gangguan psikologis seperti gangguan obsesif kompulsif.

“Apa yang diinginkan evolusi dari kejatuhan dalam cinta adalah untuk dua individu menghabiskan banyak waktu bersama … untuk mendapatkan kehamilan,” kata Lewis.

Tapi begitu perbuatan itu dilakukan, pasangan tidak terikat bersama dalam keadaan yang intens dan obsesif untuk waktu yang lama. Setelah beberapa bulan lagi, kadang-kadang setelah “periode bulan madu” menengah, tahap persahabatan dimulai.

create a heart on the beach

Sekarang tingkat serotonin dan dopamin menormal. Namun masih ada perasaan kedekatan, dibantu oleh lebih banyak oksitosin. Jika Anda menekan oksitosin dalam spesies monogami, seperti tikus padang rumput, hewan-hewan berhenti menjadi monogami.

“Ikatan yang menyatukan orang-orang bukan dorongan dopamin atau oleh kegembiraan intens,” kata Lewis. “Ada hadiah di sana tapi lebih tenang.”

Ini membawa kita kembali pada saran Sussman bahwa cinta romantis berevolusi dari ikatan ibu-anak. Ikatan pasangan jangka panjang mirip dengan ibu dan anak, dan bergantung pada proses hormonal yang sama.

Baik pada hewan maupun manusia, penelitian menunjukkan bahwa pemisahan dari “orang yang dicintai” menciptakan perasaan sakit emosional yang serupa. Masuk akal bahwa kita ingin menghindari rasa sakit karena berpisah dengan tetap bersama.

Perasaan ini tampaknya memiliki akar yang kuat dalam sejarah evolusi.

Orang Utan, Orangutan (Pongo pygmaeus), mother and child cuddling and kissing

Sistem limbik memainkan peran kunci dalam semua tahap cinta yang dikenal. Banyak mamalia lain, dan bahkan reptil, memiliki beberapa bentuk sistem limbik. Area otak ini ada jauh sebelum primata pertama.

“Bagian tertua otak terlibat dalam keterikatan, dalam ikatan pasangan, dan area ini diaktifkan pada banyak spesies,” kata Cacioppo.

Dengan kata lain, otak binatang telah dipikirkan setidaknya untuk beberapa bentuk cinta selama ratusan juta tahun. Sepanjang jalan, faktor lain mendorong nenek moyang kita untuk berevolusi dengan otak yang lebih besar, memungkinkan cinta romantis untuk mendapatkan genggaman dalam diri kita.

Entah itu pembunuhan bayi atau kemelekatan ibu pada bayinya yang mendorong kita untuk mendekat, kita bisa bersyukur bahwa sesuatu terjadi. Kita berhutang banyak pada kesuksesan kita sebagai spesies untuk hal mungil yang gila yang disebut cinta.

*

Diterjemahkan dari artikel BBC berjudul The sinister reason why people fall in love. Melissa Hogenboom merupakan seorang jurnalis sains dan editor di BBC Reel.