Kategori
Catutan Pinggir

Nasihat Cinta dari Nietzsche dan Sartre

paris-bridge-1024

Memagut bibir dan mengunci jemari tidak terlalu berbahaya, tetapi mengunci ke dalam cinta adalah hal yang sangat berbahaya — baik secara kiasan maupun secara harfiah. Pecinta di abad dua puluh satu begitu erat dengan metafora tadi, yang mana pada tahun 2015, Pont des Arts di Paris harus dilepaskan dari beban empat puluh lima ton gembok yang begitu memberatkan, yang dipasang oleh para pecinta itu. Kunci-kuncinya, yang dilemparkan ke bawah, menjadi sampah di Sungai Seine. Sementara gembok cinta Paris dilelang untuk mengumpulkan uang buat amal, gembok-gembok macam begini masih menutupi beragam memorial di seluruh dunia — dari jembatan lain di Paris, ke Jembatan Brooklyn, ke pagar di Hawaii dan Australia. Para perencana kota kini menjadi jagoan-jagoan kebetulan dalam perang suci melawan obsesi ini, meskipun fenomena ini tetap ada walau upaya terbaik mereka untuk menggagalkannya telah dikerahkan.

Friedrich Nietzsche mungkin kecewa, tetapi tidak terkejut, mengetahui bahwa kita masih terobsesi dengan kunci gembok untuk melambangkan cinta. Cinta, pikirnya, bisa menjadi “naluri yang paling suci” dan “stimulus terbesar kehidupan.” Tetapi seringnya, cinta bermanifestasi sebagai keinginan untuk memiliki yang rakus dan dekaden. Seperti yang dipikirkan Nietzche, pecinta terlalu sering bertindak seperti “sang naga yang menjaga timbunan emasnya” dan memperlakukan seekor kekasih seperti burung eksotis— “sebagai sesuatu yang harus dikurung untuk mencegahnya terbang menjauh.” Rantai bisa menyamankan, seperti lengan kekasih, tetapi Nietzche adalah pendukung untuk membebaskan diri kita dari belenggu kecil mitologi romantis ini, terutama ideal untuk mengamankan cinta. Cinta adalah sebuah perasaan, dan tidak masuk akal untuk berpikir — apalagi bersumpah — bahwa kita akan terus memiliki perasaan tersebut sampai kematian memisahkan kita.

Jean-Paul Sartre, yang membaca (dan mengejek dengan kejam) Nietzsche di perguruan tinggi, menghabiskan sebagian besar waktunya meminum minuman beralkohol di kafe Saint-Germain-des-Prés yang hanya beberapa langkah dari Pont des Arts, mencoret-coret di buku catatan, dan mengejar perempuan muda yang cantik. Sebagai jago kebebasan eksistensial, Sartre berpendapat bahwa untuk menerima pandangan orang lain tentang bagaimana Anda seharusnya hidup merupakan semacam penipuan diri yang ia labeli ‘itikad buruk’, mauvaise foi. Tak berteman dengan norma-norma borjuis, ia berpendapat bahwa masing-masing dari kita bertanggung jawab atas pilihan hidup kita sendiri. Seseorang yang bebas seharusnya tidak mengunci dirinya dalam suatu hubungan yang bisa menjadi kandang yang tak nyaman. Buang kunci itu, dan Anda membuang kebebasan Anda. Bersikap bebas adalah memiliki kemungkinan untuk mengubah arah, mendefinisikan kembali diri Anda sendiri, dan menjungkirbalikkan gambaran orang lain tentang apa yang seharusnya Anda lakukan.

Menurut Sartre, cinta hanya ada dalam tindakannya. Jadi jika membeli gembok kuningan dan meninggalkannya, bersama dengan ribuan lainnya, untuk memberatkan monumen bagi Anda merupakan tindakan cinta yang istimewa, indah, dan bermakna, Sartre mungkin tidak akan menghentikan Anda. Namun, dia akan meragukan keotentikan sebuah tindakan macam begitu. Gembok cinta bukanlah tradisi kuno tetapi sebuah tren yang dimulai di Roma pada tahun 2006 setelah popularitas buku (dan film adaptasinya) I Want You, oleh Federico Moccia. Dalam cerita itu, dua kekasih mengunci rantai di sekitar tiang lampu di Ponte Milvio di Roma dan melemparkan kunci ke Sungai Tiber. Hal itu melambangkan gagasan bahwa mereka akan selalu menjadi milik satu sama lain.

Simbol kunci gembok mungkin tampak sangat bertentangan dengan pandangan cinta eksistensial. Begitu kunci telah dibuang, tidak ada jalan keluar. Namun Sartre menggunakan metafora yang sama secara berbeda, menunjukkan bahwa kekasih dapat bertindak bukan sebagai gembok tetapi sebagai kunci untuk membuka kehidupan batin Anda. Tanpa seseorang yang meneliti, melibatkan diri, dan menghargai Anda, mungkin ada aspek-aspek diri Anda yang akan tetap selamanya tak terlihat. Keintiman seorang kekasih dapat mengungkapkan keinginan dan sikap tersebut.

Bagi Sartre, sukacita cinta adalah ketika kita merasa aman dalam kepemilikan kita satu sama lain dan menemukan makna hidup kita di dalam dan melalui orang lain. Masalahnya adalah ini hanya ilusi. Tidak ada yang aman tentang cinta romantis. Karena kekasih bebas memilih untuk menjalin hubungan, mereka juga bebas untuk pergi, dan ini membuat cinta terus-menerus rentan. Menurut Sartre, hal ini mendorong para pecinta ke lingkaran setan dari permainan kekuatan sadomasokistik. Mereka mencoba untuk mengendalikan satu sama lain dan menuntut jenis kepemilikan yang diindikasikan oleh gembok. Hasilnya adalah para pencinta akhirnya mencoba untuk merampas kebebasan mereka satu sama lain tanpa pernah sepenuhnya mencapai kepemilikan yang mereka inginkan, itulah mengapa Sartre menyimpulkan bahwa cinta adalah konflik.

Tidak ada yang salah dengan berharap cinta itu akan bertahan. Bahkan, harapan yang bertahan akan membedakan romansa dari nafsu birahi. Bagi Sartre, kekasih mendefinisikan diri mereka dengan memilih untuk saling mencintai baik sekarang maupun di masa depan. Namun itulah paradoks dari cinta: kita tidak dapat mengetahui seperti apa kita di masa depan, dan sebanyak yang dapat kita pilih dengan bebas untuk melakukannya, untuk mengikat masa depan diri adalah penolakan kebebasannya sendiri.

Orang mungkin bertanya-tanya: Bisakah kita melepaskan keinginan untuk menjadi bal dan rantai bagi satu sama lain? Simone de Beauvoir tentu saja bertanya-tanya tentang hal itu dan berpendapat bahwa hubungan terbaik pasti otentik. Dalam hubungan yang otentik, kekasih menghormati kebebasan satu sama lain dan terus melatih dirinya sendiri. Beauvoir dan Sartre memiliki sebuah hubungan terbuka, sesuatu yang radikal dari konvensi sewaktu itu. Namun, mereka menuntut jaminan bahwa mereka adalah partner utama bagi masing-masing, yang mungkin telah menolak kebebasan tertentu dari mereka.

Sikap posesif sangat mendasar bagi pengalaman cinta, pikir Sartre, bahwa untuk mengatasi hasrat memiliki sang kekasih adalah mengatasi cinta itu sendiri. Namun dalam banyak hal, ia kurang menganjurkan gembok dan lebih memilih untuk menjadi kunci: Cinta itu seperti melemparkan diri dari jembatan ke Sungai Seine. Dibutuhkan keberanian untuk melompat ke dalam suatu hubungan, dan Anda tidak tahu di mana dan kapan Anda akan menetap, jika keadaan memungkinkan. Sartre tetap melakukannya — dan akan menyarankan agar kita juga melakukannya.

*

Diterjemahkan dari artikel di The Paris Review berjudul Advice on Love from Nietzsche and Sartre. Skye C. Cleary adalah penulis Existentialism and Romantic Love dan mengajar di Universitas Columbia, Barnard College, dan City College di New York.

Kategori
Catutan Pinggir

Camus dan Sartre yang Tercerai karena Pertanyaan Soal Kebebasan

 

 

Mereka berdua sejoli yang aneh. Albert Camus adalah orang Aljazair Prancis, seorang pied-noir yang dilahirkan dalam kemiskinan yang tanpa usaha keras bisa mempesona dengan gaya khasnya yang Bogart-esque. Jean-Paul Sartre, dari kalangan atas masyarakat Prancis, tidak bakal silap dari seorang lelaki tampan. Mereka bertemu di Paris selama Pendudukan dan semakin dekat setelah Perang Dunia Kedua. Pada masa itu, ketika lampu-lampu di kota perlahan kembali menyala, Camus adalah teman terdekat Sartre. “Betapa kita mencintaimu saat itu,” tulis Sartre nantinya.

Mereka adalah ikon berkilau di era tersebut. Surat kabar melaporkan tentang gerakan sehari-hari mereka: Sartre bersembunyi di Les Deux Magots, Camus orang yang gigih bergerak di Paris. Saat kota mulai dibangun kembali, Sartre dan Camus memberi suara pada suasana hati pada masa-masa itu. Eropa telah dinyalakan, tapi abu yang ditinggalkan oleh perang menciptakan ruang untuk membayangkan sebuah dunia baru. Para pembaca melirik Sartre dan Camus untuk mengartikulasikan seperti apa dunia baru itu. ‘Kami ada,’ ingat sesama filsuf Simone de Beauvoir, ‘untuk memberi era pascaperang dengan ideologinya.’

233400c3aaca57619bc0162526e598c4

Hal itu datang dalam bentuk eksistensialisme. Sartre, Camus dan teman intelektual mereka menolak agama, mementaskan drama baru yang mengerikan, menantang pembaca untuk hidup secara otentik, dan menulis tentang absurditas dunia – sebuah dunia tanpa tujuan dan tanpa nilai. ‘Hanya ada batu, daging, bintang, dan kebenaran yang bisa disentuh tangan,’ tulis Camus. Kita harus memilih untuk hidup di dunia ini dan memproyeksikan makna dan nilai kita sendiri ke dalamnya untuk memahaminya. Ini berarti bahwa manusia itu bebas sekaligus terbebani olehnya, karena dengan kebebasan ada tanggung jawab yang mengerikan, bahkan melemahkan, untuk hidup dan bertindak secara otentik.

Jika ide kebebasan mengikat Camus dan Sartre secara filosofis, maka perjuangan demi keadilan menyatukan mereka secara politis. Mereka berkomitmen untuk menghadapi dan menyembuhkan ketidakadilan, dan, di mata mereka, tidak ada kelompok manusia yang diperlakukan secara tidak adil ketimbang para pekerja, proletariat. Camus dan Sartre menganggap mereka terbelenggu oleh kerja keras mereka dan tercerabut dari kemanusiaan mereka. Untuk membebaskan mereka, sistem politik baru harus dibangun.

Pada Oktober 1951, Camus menerbitkan The Rebel. Di dalamnya, dia menyuarakan pemikiran yang kasarnya digambarkan sebagai ‘filsafat pemberontakan’. Ini bukan sistem filosofis, tapi penggabungan gagasan filosofis dan politik: setiap manusia itu bebas, tapi kebebasan itu sendiri relatif; Seseorang harus menerima batasan, moderasi, ‘risiko yang diperhitungkan’; yang absolut adalah anti-manusia. Yang terpenting, Camus mengutuk kekerasan revolusioner. Kekerasan dapat digunakan dalam situasi yang ekstrem (dia mendukung usaha perang Prancis), namun penggunaan kekerasan revolusioner untuk mendorong sejarah ke arah yang Anda inginkan adalah kehendak utopia, absolutis, dan pengkhianatan terhadap diri Anda sendiri.

‘Kebebasan absolut adalah hak yang paling kuat untuk mendominasi,’ tulis Camus, sementara ‘keadilan absolut dicapai dengan menekan semua kontradiksi: oleh karenanya menghancurkan kebebasan.’ Konflik antara keadilan dan kebebasan mengharuskan penyeimbangan terus-menerus, moderasi politik, penerimaan dan perayaan yang paling membatasi: kemanusiaan kita. ‘Untuk hidup dan terus hidup,’ katanya, ‘adalah untuk menjadi apa adanya.’

Sartre membaca The Rebel dengan jijik. Sejauh yang dia tahu, adalah mungkin untuk mencapai keadilan dan kebebasan yang sempurna – yang menggambarkan pencapaian komunisme. Di bawah kapitalisme, dan dalam kemiskinan, para pekerja tidak dapat bebas. Pilihan mereka tidak menyenangkan dan tidak manusiawi: bekerja tanpa ampun dan pekerjaan yang mengasingkan, atau mati. Tetapi dengan menyingkirkan para penindas dan lebih jauh mengembalikan otonomi kepada para pekerja, komunisme memungkinkan setiap individu untuk hidup tanpa keinginan material, dan oleh karenanya dapat memilih cara terbaik yang dapat mereka sadari. Hal ini membuat mereka bebas, dan melalui kesetaraan tanpa henti ini, juga adil.

Masalahnya adalah, bagi Sartre dan banyak kaum Kiri lainnya, bahwa komunisme menuntut kekerasan revolusioner harus dilancarkan karena tatanan yang ada mesti dihancurkan. Tidak semua orang kiri, tentu saja, mendukung kekerasan semacam itu. Pembagian antara garis keras dan kaum kiri moderat – secara luas, antara komunis dan sosialis – bukanlah hal baru. Tahun 1930an dan awal ’40an, bagaimanapun, kaum Kiri untuk sementara bersatu melawan fasisme. Dengan hancurnya fasisme, pecahnya kaum kiri garis keras yang bersedia membenarkan kekerasan dan moderat yang mengutuknya muncul kembali. Perpecahan ini dibuat semakin dramatis oleh hilangnya praktis dari kaum Kanan dan naiknya kekuasaan Uni Soviet – yang memberdayakan kelompok garis keras di seluruh Eropa, namun menimbulkan pertanyaan yang membingungkan bagi komunis karena kengerian gulag, teror dan uji coba terungkap. Pertanyaan untuk setiap orang kiri era pascaperang sederhana: di sisi mana Anda berada?

Dengan diterbitkannya The Rebel, Camus menyatakan untuk sebuah sosialisme damai yang tidak akan menggunakan kekerasan revolusioner. Dia terkejut dengan cerita-cerita yang muncul dari Uni Soviet: ini bukan negara komunis yang bergandengan tangan, yang hidup dengan bebas, tapi sebuah negara tanpa kebebasan sama sekali. Sartre, sementara itu, akan selalu berjuang untuk komunisme, dan dia siap untuk mengesahkan kekerasan untuk melakukannya.

Perpecahan antara kedua teman itu adalah sensasi media. Les Temps Modernes – jurnal yang diredakturi oleh Sartre, yang menerbitkan ulasan kritis atas The Rebel – terjual habis tiga kali lipat. Le Monde dan L’Observateur keduanya terengah-engah menutupi pailitnya. Sulit membayangkan perseteruan intelektual yang menangkap tingkat perhatian publik saat ini, namun, dalam ketidaksepakatan ini, banyak pembaca melihat krisis politik pada masa-masa yang tercermin pada mereka. Itu adalah cara melihat bagaimana politik dimainkan dalam dunia gagasan, dan ukuran nilai gagasan. Jika Anda benar-benar berkomitmen pada sebuah gagasan, apakah Anda terpaksa membunuh untuk itu? Berapa harga untuk keadilan? Berapa harga untuk kebebasan?

Posisi Sartre ditebus dengan kontradiksi, yang dengannya dia bergelut sepanjang sisa hidupnya. Sartre, seorang eksistensialis, yang mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas, juga Sartre, seorang Marxis, yang berpikir bahwa sejarah tidak memungkinkan banyak ruang untuk kebebasan sejati dalam arti eksistensial. Meskipun dia tidak pernah benar-benar bergabung dengan Partai Komunis Prancis, dia akan terus mempertahankan komunisme di seluruh Eropa sampai tahun 1956, ketika tank-tank Soviet di Budapest meyakinkannya, akhirnya, bahwa Uni Soviet tidak melanjutkan bergerak maju. (Memang, dia kecewa dengan Soviet di Hungaria karena mereka bertingkah seperti orang Amerika, katanya.) Sartre akan tetap menjadi suara yang kuat di Kiri sepanjang hidupnya, dan memilih presiden Prancis Charles de Gaulle sebagai kambing hitam favoritnya. (Setelah satu serangan yang sangat kejam, de Gaulle diminta untuk menangkap Sartre. ‘Seseorang harus memenjarakan Voltaire,’ jawabnya.) Namun, Sartre tetap tidak dapat diprediksi, dan terlibat dalam penolakan yang lama dan aneh terhadap Maoisme garis keras ketika dia meninggal pada tahun 1980. Meskipun Sartre pindah dari Uni Soviet, dia tidak pernah benar-benar meninggalkan gagasan bahwa kekerasan revolusioner mungkin diperlukan.

Kekerasan dalam komunisme mengirim Camus pada lintasan yang berbeda. ‘Akhirnya,’ tulisnya di The Rebel, ‘Saya memilih kebebasan. Karena bahkan jika keadilan tidak direalisasikan, kebebasan mempertahankan kekuatan untuk memprotes ketidakadilan dan menjaga komunikasi tetap terbuka.’ Dari sisi lain dalam Perang Dingin, sulit untuk tidak bersimpati dengan Camus, dan untuk bertanya-tanya tentang semangat yang ditinggalkan Sartre seorang komunis yang setia. Anutan Camus terhadap realitas politik yang sederhana, kerendahan hati moral, keterbatasan dan keliru kemanusiaan, tetap menjadi pesan yang diperhatikan dengan baik hari ini. Bahkan ide yang paling terhormat dan patut perlu diimbangi satu sama lain. Absolutisme, dan idealisme yang tidak mungkin diilhami, adalah jalan yang berbahaya ke depan – dan alasan Eropa masih diselimuti abu, karena Camus dan Sartre sama-sama berjuang untuk membayangkan dunia yang lebih adil dan lebih bebas.

*

Diterjemahkan dari artikel Aeon berjudul How Camus and Sartre split up over the question of how to be free.

Kategori
Cacatnya Harianku

Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

hama-hama

1

“Hei! Apa semua orang di sini melakukan masturbasi?” Midori bertanya sambil menengadah memandang gedung asrama.

“Mungkin ya.”

“Apa semua laki-laki melakukan masturbasi sambil membayangkan perempuan?”

“Ya, tentu begitu,” kataku. “Aku kira tak ada laki-laki yang melakukan masturbasi sambil memikirkan pasar saham, konjugasi verba, atau Terusan Suez, tentu mereka melakukannya sambil membayangkan perempuan.”

— Haruki Murakami, Norwegian Wood

Bagai Putri Salju terlelap tak berdaya, dengan tanpa penjagaan tujuh kurci di sekelilingnya, mungkin butuh kecupan seorang pangeran agar bisa membuatnya terbangun, sebab rentetan alarm dari ponselnya enggak mempan. Masih tenggelam dalam tidur, lelap di atas ranjang lapuk, dadanya turun naik saat bernapas, bibir tanpa lipstiknya mekar, mulutnya membentuk huruf O. Adegannya hampir-hampir seperti dalam video Jepang dewasa saja, terpikir oleh saya saat sekilas memelototinya. Maka sebelum pikiran enggak-enggak melebar lebih jauh, saya lekas mengalihkan posisi. Saya menghela napas. Beruntung, keinginan untuk melanjutkan tidur lebih mendesak ketimbang gairah seksual. Situasinya, persis seperti nukilan dari draft bab pertama novel saya, Perempuan yang Bercinta dengan Anjing. Menulis novel itu seperti seks, tegas Eka Kurniawan, sialnya saya masih payah dalam menulis, dan untuk seks nampaknya masih jauh lagi, jadi entah kapan novelnya bakal rampung. Bab pembuka dengan subjudul “Bagaimana Cara Memperkosa Temanmu Sendiri” tadi tentu bukan arahan menjadi lelaki bajingan. Bagi saya, enggak sampai menyetubuhi, untuk masturbasi dengan foto kawan perempuan saja saya enggak bisa, bahkan saya segan untuk merancapi member Girls’ Generation. Seperti Toru Watanabe yang dibolehkan Midori agar dirinya dijadikan obyek fantasi seksual, Toru sudah berusaha namun enggak bisa. Ya, saya pun enggak bisa merancap ke sembarang orang, coli pun perlu tatakrama. Yang jadi soal adalah, selain menjadi inspirasi tulisan, rekaman adegan ranjang tadi tentu akan masuk alam bawah sadar. Bersama rekaman selintas lainnya ini akan jadi obyek fantasi seksual saat kita bermimpi basah, dan kita enggak bisa melawan. Kasir Alfamart yang menyapa atau petugas SPBU yang melayani kita mungkin dalam mimpi jadi lawan main yang mengulum kontol kita, atau bisa saja kita bersenggama dengan Scarlett Johansson atau kawan sendiri atau tokoh anime berbikini atau monyet betina atau seorang paman tambun atau bahkan ibu kita sendiri. Ketika terbangun, saya selalu lupa dengan siapa dan bagaimana cara mainnya, tahu-tahu basah. Kita enggak bisa menyalahkan diri kita sebagai seorang cabul. Siapa sih yang bisa mengontrol alam bawah sadar? Apalagi mimpi, utamanya mimpi basah, beserta fantasi seksual tadi, ini sesuatu yang masih mengundang banyak pertanyaan, selalu menarik untuk dibahas, dan dituliskan oleh para pemberani.

2

Aku sering berdiri di depan cermin, bertanya-tanya sampai sejauh mana jeleknya seseorang.

— Charles Bukowski, Ham on Rye

Seperti permukaan bulan, seperti jalanan Bandung selatan yang sering saya lewati, yang entah kapan akan diperbaiki, begitulah kondisi wajah yang harus saya lihat di pantulan cermin. Creep-nya Radiohead tentu sangat menyuarakan keluhan saya, dan yang saya butuhkan How to Disappear Completely dari dunia yang serba menghakimi ini. Ah, sampai kapan saya harus jadi bajingan pembenci diri? Saya selalu membayangkan terbangun dan mendapati diri menjadi Park Bogum saat bercermin dan kabar baik bahwa semua jalan di Bandung selatan akan mulus. Membayangkan sudah pasti enak, kau enggak bisa ereksi atau ejakulasi kalau enggak punya kemampuan kreatif ini, apalagi kalau kau melakukannya swadaya. Ya, ya, membayangkan diri jadi seganteng artis Korea adalah delusi yang diciptakan bisnis kapital. Kita tahu, standar kecantikan hari ini sangat terkait dengan yang namanya industri kapital, lebih tepatnya, standar kecantikan adalah bentukan industri. Sebagai negara maju, Korea Selatan tentu punya andil besar dalam membentuk standar kecantikan ini. Memang salah, tapi apakah benar-benar salah untuk punya keinginan menjadi ganteng? Di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya, yang disebut stimulus supernormal, bahkan ketika rangsangan itu palsu semata. Bunga yang cantik akan lebih menarik hama-hama. Induk burung akan mengabaikan telurnya sendiri untuk kemudian menduduki sarang yang lebih besar, atau mengalihkan makanan dari anak-anak mereka untuk memberi makan anak lain yang punya paruh yang lebih terang. Inti dari stimulus supernormal adalah bahwa imitasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan tarikan kuat dari hal yang nyata. Manusia, kalau boleh disetarakan dengan binatang, tentu punya dorongan bernama stimulus supernormal tadi; suka pamer dan suka pura-pura. Apalagi di masa kekininian, karena katanya masyarakat posmodern itu ditandai dengan superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan atau kelesuan emosi, teknologi reproduktif, pokoknya serba gimmick gitu lah. Jujur, saya tak menampik, saya pun manusia yang ada kecenderungan ingin dianggap lebih; lebih cerdas, lebih keren, lebih unggul. Jadi, seberapa salahkah saya karena membayangkan diri bisa jadi Park Bogum? Lagipula, meski enggak percaya yang namanya Law of Attraction, entah kenapa kalau saya membayangkan dan menulis sompral, bakal kejadian. Seperti dalam film Ruby Sparks. Dia yang terlahir dari perkawinan sel kata dan buah pikiran ini diam-diam mengikuti saya, tulisnya dalam blog pribadinya. Saya setuju dengan gadis Scorpio itu, yang selalu dikerubungi hama-hama dengan stimulus supernormal berlebih. Ketimbang materialis dialektis, saya lebih seorang transedentalis, makanya saya beli novel super tebal Anna Karenina, sebab pernah saya mengarang cerpen kacangan bahwa si tokoh utamanya menemukan belahan jiwanya yang secantik Kim Taeyeon ketika membaca novel karangan Leo Tolstoy itu.

3

Aku pikir ada bahaya besar dalam menulis catatan harian: kau hanya membesar-besarkan segalanya.

— Jean Paul-Sartre, Nausea

Saya membaca kembali cerpen terjemahan saya sendiri Swastika-nya Charles Bukowski dari buku Erections, Ejaculations, Exhibitions and General Tales of Ordinary Madness, dan menemukan keterkaitan dengan kondisi sekarang, bahwa Adolf Hitler masih hidup dan berganti kulit jadi presiden Amerika Serikat. Belajar menulis lewat penerjemahan sungguh sangat membantu saya, apalagi kita tahu para penulis itu sudah jago bermain seks. Masih pagi, gerimis turun, lalu saya lanjut membaca tentang kisah cinta antara Jean Paul-Sartre dan Simone de Beauvoir, sebuah kisah cinta ganjil, di The New Yorker dengan ditemani Girl Who Can’t Break Up, Boy Who Can’t Leave-nya Lessang dan lagu-lagu Korea lainnya. Alkisah, Sartre dan Beauvoir bertemu di Paris pada 1929, Sartre berusia 24, Beauvoir menginjak 21, dan keduanya sedang sama-sama belajar ujian kompetensi agar bisa masuk jadi pengajar di persekolahan Prancis. Beauvoir seorang perempuan jenjang rupawan dan stylish, juga masih punya pacar, tapi ia kemudian jatuh cinta sama Sartre yang bantet, matanya juling, seorang cowok tuna-fashion yang pakai baju kedodoran, mirip bangkong edan, dan Sartre sendiri mengakui keburukrupaannya. Sartre dan Beauvoir terkenal sebagai pasangan dengan kehidupan yang independen, yang bertemu di kafe, tempat mereka menulis buku-buku mereka, dan bebas untuk menikmati hubungan lain, tapi hubungan mereka berdua terpelihara layaknya pasangan yang sudah menikah. Karena enggak mau saling melumpuhkan kebebasan masing-masing, mereka enggan untuk menjalin ikatan pada umumnya. Jika boleh mencatut Sartre; Hama adalah orang lain. Sebagai filsuf, saya menyukai pemikirannya, meski banyak enggak ngertinya, tapi sebagai penulis prosa, saya menikmati karyanya dan sedikit lebih ngerti. Jadi bagaimana cara mengeleminasi hama? Seperti dalam No Exit, menurut tafsiran saya, yang jadi soal bukan orang lain, tapi kesalahan ada pada cara kita memandang orang lain itu, bahwa hama-hama itu adalah yang menggerogoti pikiran kita. Hama-hama penggerutu dalam kepala, itulah yang pertama yang harus kita eleminasi. Bagaimana caranya? Saya pun enggak tahu.