Kategori
Sosial Budaya

Sejarah Seragam Sekolah Jepang: Simbol Kebebasan, Pemberontakan, dan Mode

Gambaran apa yang muncul di kepalamu jika mendengar kata “seragam sekolah Jepang”?

Tujuan dari diciptakan seragam sangat jelas: membuat sebuah kelompok berpenampilan sama. Menyeragamkan orang-orang adalah fungsi utama seragam. Namun, melihat anak sekolah menengah Jepang dengan blazer dan rok sepertinya tidak cocok dengan gambaran ini. Alasan untuk itu terletak jauh di dalam sejarah seragam Jepang itu sendiri.

Kategori
Bahasa Sosial Budaya

San, Kun, Chan, Senpai dan Sebutan Kehormatan Jepang

Pernahkah merasa bingung dengan –kun, –chan dan –senpai yang pernah didengar saat menonton anime atau film dari Jepang? Bikin kita bertanya-tanya tentang arti sufiks atau kata tambah akhiran dalambahasa Jepang ini. 

Tambahan kata itu kira-kira sama artinya dengan penggunaan Tuan, Nyonya, Bapak, dan Ibu dalam bahasa kita. Meski bagi orang Jepang kata-kata itu menceritakan lebih banyak tentang hubungan antar manusia. Kata-kata ini sering dilampirkan pada nama sebagai sufiks, tetapi beberapa dapat berdiri sendiri, seperti sensei.

Dalam bahasa Jepang ada sebutan kehormatan formal dan informal, ditambah beberapa yang bersifat keluarga. Penggunaan sebutan-sebutan ini dianggap sangat penting di Jepang. Memanggil seseorang hanya dengan namanya tanpa menambahkan sebutan-sebutan ini dianggap kurang sopan, bahkan sombong. Kata-kata ini umumnya digunakan saat berbicara langsung dengan seseorang atau saat merujuk ke pihak ketiga yang tidak terkait.

San (さん)

Ini adalah gelar kehormatan yang paling umum. Ini adalah gelar penghormatan antara yang sederajat. Ini juga adalah padanan untuk Tuan atau Nona. Ini juga dapat dilampirkan pada hewan dan benda, tetapi penggunaan itu dianggap kekanak-kanakan. usagi-san secara kasar diterjemahkan menjadi Tuan Kelinci, misalnya. Sebutan ini juga bisa digunakan untuk merujuk pada seseorang yang bekerja di tempat tertentu. Misalnya honya-san (“toko buku” + san) diterjemahkan menjadi “penjual buku”. 

Kun (く ん)

Digunakan oleh orang-orang dengan status senior untuk merujuk pada orang-orang berstatus junior atau oleh siapa pun saat merujuk pada anak-anak atau remaja laki-laki. Perempuan juga dapat menggunakan istilah tersebut saat merujuk pada pria yang sudah lama mereka kenal atau dekat secara emosional. Kun sebenarnya tak khusus untuk pria, tetapi kebanyakan digunakan untuk referensi pada pria.

Chan (ち ゃ ん)

Sufiks ini menunjukkan bahwa pembicara menemukan seseorang yang menawan. Menggunakan chan dengan nama atasan dianggap tak sopan dan merendahkan. Umumnya digunakan untuk bayi, remaja perempuan, anak kecil, dan kakek nenek. Sebutan ini juga bisa melekat pada hewan. Selain itu, menunjukkan kelucuan, kekasih, teman dekat, atau perempuan muda mana pun. Para gadis mungkin menggunakannya untuk menyebut diri mereka sendiri agar tampil imut dan kekanak-kanakan.

Tan (た ん) 

Ini adalah varian -chan yang bahkan lebih imut atau penuh kasih sayang. Sebutan ini berasal dari pengucapan salah dari anak kecil, digunakan untuk lucu-lucuan. Sering ditemukan untuk menyebut karakter moe, misalnya, maskot komersial Habanero-tan, karakter manga Afghanis-tan atau OS-tan untuk menyebut sistem operasi. Penggunaan sebutan yang lebih terkenal adalah untuk pembunuh Nevada-tan.

Sama (さ ま)

Lebih hormat dari san. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada orang-orang yang statusnya jauh lebih tinggi daripada diri sendiri, pelanggan, atau seseorang yang sangat kita kagumi. Ketika digunakan untuk menyebut diri sendiri, hal itu bisa terlihat sangat sombong atau tak menonjolkan diri tergantung pada konteksnya.

Dono (ど の) 

Kasarnya berarti “Tuan”, dan berada di bawah level sama. Ini adalah sebutan yang hampir tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari. Saat digunakan, sebutan ini biasanya sebagai lelucon.

No kimi (の 君) 

Sama seperti dono, ini adalah sufiks lain yang berasal dari sejarah Jepang. Digunakan untuk menyebut bangsawan di Istana, terutama selama periode Heian. Contoh paling terkenal adalah Pangeran Hikaru Genji, protagonis The Tale of Genji yang disebut Hikaru no kimi (光 の 君).

Akhir-akhir ini sufiks ini dapat digunakan sebagai metafora untuk seseorang yang berperilaku seperti pangeran atau putri dari zaman kuno, meski penggunaannya sangat jarang. Penggunaan utamanya tetap dalam drama sejarah. Sufiks ini juga muncul saat menyapa kekasih dalam surat dari seorang pria kepada seorang perempuan, seperti dalam Murasaki no kimi (“Sayangku Murasaki”).

Niisan (兄 さ ん) – Neesan  ( 姉 さ ん) 

Digunakan saat merujuk pada kakak laki-laki atau perempuan, atau kerabat atau teman dekat.

Jiisan (じ い さ ん) – Baasan  (ば あ さ ん)

Digunakan saat merujuk pada kakek dan nenek seseorang, dan juga digunakan untuk merujuk pada orang dewasa yang lebih tua yang kenal dengan pembicara. Tak satu pun dari ini yang dianggap menghina, tetapi hati-hati jangan menggunakannya dengan orang yang sensitif tentang usianya!

Senpai (せ ん ぱ い)

Mengacu pada orang dengan lebih banyak pengalaman. Juga digunakan untuk teman kelas yang lebih tinggi. Jadi seorang siswa di sekolah menengah akan memanggil seniornya dengan senpai.

Kōhai (こ う は い)

Mengacu pada seseorang sebagai junior. Jadi seorang senpai dapat melampirkan ini ke nama juniornya. Namun, ini biasanya tidak digunakan.

Sensei (せ ん せ い)

Digunakan untuk menyebut guru serta orang yang ahli di bidangnya masing-masing, baik dokter, seniman, atau pengacara. Ini menunjukkan rasa hormat kepada seseorang yang telah menguasai beberapa keterampilan.

Shi (し) 

Digunakan untuk merujuk pada seseorang yang belum pernah ditemui penulis. Hanya digunakan dalam tulisan formal. Terkadang dalam pembicaraan yang sangat formal, untuk merujuk pada orang yang tidak dikenal pembicara, biasanya seseorang yang dikenal melalui publikasi yang belum pernah benar-benar ditemui oleh pembicara. Misalnya, penyebutan -shi biasa digunakan oleh pembaca berita.

Sebutan ini lebih disukai dalam dokumen hukum, jurnal akademik, dan gaya tertulis formal tertentu lainnya. Setelah nama seseorang digunakan dengan -shi, orang tersebut dapat disebut dengan -shi saja, tanpa nama lagi, selama hanya ada satu orang yang dirujuk.

Ue (上)

Secara harfiah berarti “di atas”. Itu menunjukkan rasa hormat yang tinggi. Jarang digunakan, tapi ditemukan dalam beberapa frase seperti chichi-ue dan haha-ue, istilah hormat untuk ayah dan ibu. Atau ketika mengacu pada pelanggan tanpa nama, ue-sama.

Penggunaan Sebutan Kehormatan Jepang

our little sister koreeda

Sebutan-sebutan ini bisa menjadi singkatan atau cara cepat untuk menunjukkan bagaimana karakter terkait satu sama lain di anime atau film Jepang.

Cukup sulit untuk menjaga semua aturan ini dengan benar. Jepang adalah masyarakat yang sangat bertingkat. Sufiks ini membantu menjaga status dan pendapat seseorang tentang orang lain tetap jelas. Hubungan senpai-kohai dapat berbalik dalam konteks klub atau organisasi yang berbeda, tergantung pada berapa lama seseorang atau yang lain berada di organisasi.

Sebutan-sebutan ini netral gender, tetapi beberapa digunakan lebih banyak untuk satu jenis kelamin daripada yang lain. Kun, misalnya, lebih banyak digunakan untuk laki-laki sedangkan chan digunakan untuk perempuan. Sebutan-sebutan ini umumnya diperlukan saat merujuk pada seseorang, tetapi terkadang mereka harus dihilangkan sama sekali.

Meski sebutan kehormatan ini tak penting dalam tata bahasa Jepang, tapi ini adalah bagian fundamental dari sosiolinguistiknya, dan penggunaan yang tepat dianggap penting untuk pembicaraan yang mahir dan tepat.

Kategori
Kuliner Sosial Budaya

5 Jenis Mie Jepang: Ramen, Soba, Udon, Yakisoba dan Somen

Baik dalam bentuk udon, soba, yakisoba, somen, atau ramen yang paling populer itu, kecintaan orang Jepang pada mie begitu kaya dan beragam. Mengingat banyaknya bentuk, dalam kaldu sebagai sup, dihidangkan panas, atau dalam salad dingin dengan berbagai saus celup, orang Jepang membuktikan bahwa mereka dapat melakukan hampir segala hal dengan mie.

Kategori
Anime

Mengingat Ulang Satoshi Kon

satoshi kon

Sudah 10 tahun sejak sutradara anime Satoshi Kon meninggal karena kanker pankreas di usia 46 tahun.

Meski usianya relatif muda ketika ia meninggal pada Agustus 2010, Kon adalah salah satu pencipta animasi Jepang yang paling dipuji, sutradara yang sering disebut-sebut sejajar dengan Hayao Miyazaki dan Katsuhiro Otomo. Pengaruhnya melampaui Jepang: Film-filmnya telah dikutip sebagai inspirasi untuk hit Hollywood seperti Black Swan dan Inception.

Satu dekade setelah kematiannya yang terlalu dini, Kon akan dirayakan secara anumerta oleh Annie Awards, sebuah upacara tahunan di Los Angeles, yang didedikasikan untuk animasi. Kon adalah salah satu penerima Penghargaan Winsor McCay tahun ini, yang disebut sebagai “salah satu penghargaan tertinggi yang diberikan kepada individu di industri animasi sebagai pengakuan atas kontribusi karier pada seni animasi”. Penerima sebelumnya termasuk Mamoru Oshii, Osamu Tezuka, Ralph Bakshi dan Walt Disney, untuk menyebut beberapa nama. Penghargaan ini diberikan pada 25 Januari.

Kon adalah “seseorang yang menurut saya semua orang (di dewan juri) akui sebagai seniman yang berbakat dan penting,” kata Charles Solomon, anggota Dewan Direksi ASIFA-Hollywood, organisasi yang mempersembahkan Annie Awards. “Dia memiliki jenis kreativitas dan orisinalitas yang jelas-jelas pantas didapat.”

Satoshi Kon, dari Anime ke Anime

Kon lahir dan besar di Hokkaido, tetapi kuliah di Musashino Art University di Tokyo, tempat dia belajar desain grafis dan ilustrasi. Selama ini, ia mulai tertarik pada film-film dari luar negeri dan karya penulis fiksi ilmiah Jepang Yasutaka Tsutsui, yang novelnya Paprika ia adaptasi kemudian.

Ia memulai karir kreatifnya bukan sebagai animator, tetapi sebagai seniman manga, memulai debutnya pada tahun 1984. Segera setelah itu, ia menjadi asisten Katsuhiro Otomo, pencipta anime mani Akira. Kon dan Otomo kemudian berkolaborasi dalam beberapa proyek, termasuk film animasi Roujin Z dan Memories.

opus satoshi kon

Pada saat yang sama, Kon terus mengerjakan manga, menulis karya seperti Opus, sebuah meditasi meta manga-dalam-manga yang berjalan pada tahun 1995 dan 1996. Dalam judul itu, Kon mulai mengeksplorasi tema-tema yang nantinya akan tersebar di seluruh semesta filmografinya.

“Bahkan dari karya-karyanya yang paling awal, dia memiliki sesuatu yang spesifik yang ingin dia katakan,” kata Zack Davisson, yang menerjemahkan Opus dan Art of Satoshi Kon ke dalam bahasa Inggris. “Lihatlah Opus dan Anda akan melihat ide-ide yang sama itu menggelembung, tentang kenyataan dan tidak nyata, dan bersifat ganda. Ini jelas merupakan pikiran yang lahir dengan pertanyaan tertentu untuk dijelajahi.”

Eksplorasi itu berlanjut dalam Perfect Blue, debut penyutradaraan Kon. Film thriller psikologis 1997 berpusat di sekitar seorang penyanyi yang upayanya untuk menemukan kembali dirinya sebagai seorang aktris diperumit oleh doppelganger yang berbahaya, penguntit yang terobsesi dengan internet dan peran dalam serial TV yang semakin menyatu dengan kehidupan aslinya sampai dia maupun penonton tak yakin di mana yang satu berakhir dan yang lainnya dimulai.

“Dalam banyak filmnya, ada ketidakpastian tentang apa yang nyata dan apa yang tidak,” kata Solomon. Dia meluncur di antara fantasi dan kenyataan dan ingatan dan film dan fakta dan fiksi.

Sutradara Amerika Darren Aronofsky, pembuat film lain yang dikenal karena melayang antara fantasi dan kenyataan, secara khusus terbuai dengan Perfect Blue, seperti yang dia katakan pada Kon ketika keduanya bertemu pada tahun 2001. Filmnya Requiem for a Dream (2000) menampilkan sebuah pengambilan adegan penghormatan untuk sebuah adegan dari Perfect Blue, dan film Black Swan (2010) terkenal karena banyak kesamaan tematik dengan karya Kon.

Film Kon berikutnya, Millennium Actress tahun 2001, seperti bayangan cermin dari Perfect Blue, lagi-lagi menampilkan aktris, penggemar obsesif, dan perpaduan antara fiksi dan kenyataan. Tapi jika Perfect Blue adalah film thriller yang mengguncang perut, Millennium Actress adalah ode yang mengangkat masa keemasan sinema Jepang. Film ini menelusuri umur panjang seorang aktris fiksi yang ceritanya diungkap melalui perjalanan impian melalui oeuvre-nya.

 

millenium actress
Millenium Actress (2001)

“Itu memiliki animasi Kon yang mengalir, perasaannya yang tidak nyata, tetapi diresapi dengan joie de vivre yang menular,” kata Davisson. 

Millennium Actress juga menjalin hubungan kreatif baru untuk sutradara, memasangkannya dengan musisi gelombang baru Susumu Hirasawa, yang trek-trek beratnya yang terbuat dari synthesizer membantu memberikan dorongan yang eksplosif pada film tersebut. Hirasawa kemudian berkolaborasi dengan Kon di lebih banyak proyek, termasuk film terakhirnya, “Paprika.”

Film ketiga Kon, Tokyo Godfathers (2003), berlangsung pada Malam Natal, dan berpusat pada tiga orang tunawisma yang menemukan seorang gadis baru lahir yang ditinggalkan dan membuat misi mereka untuk mengembalikannya kepada orang tuanya. Mungkin film sutradara yang paling lugas dan menyenangkan, Tokyo Godfathers juga menangani masalah-masalah seperti tunawisma, gender, dan keluarga.

tokyo godfather
Tokyo Godfather (2003)

Tahun berikutnya, Kon memimpin serial televisi pertamanya, Paranoia Agent, yang memungkinkannya menceritakan kisah yang tidak sesuai dengan format film fitur. Ke-13 episodenya terhubung secara longgar di sekitar sosok bernama Shonen Bat (Lil ‘Slugger dalam rilis bahasa Inggris), yang identitasnya tidak pernah dijelaskan.

“Anda harus berpikir dan meyusun teka-teki dan sampai pada kesimpulan Anda sendiri,” kata Solomon dari seri tersebut. Bertahun-tahun kemudian, saya masih memikirkannya.

Karya terakhir Kon, Paprika tahun 2006, merupakan adaptasi dari novel karya Yasutaka Tsutsui, pengarang yang telah lama menginspirasi sang sutradara. Ceritanya, tentang mesin yang memungkinkan pengguna memasuki mimpi orang lain, tampaknya hampir dibuat khusus agar sesuai dengan tema-tema Kon.

Namun, seperti halnya Perfect Blue, Kon menempatkan capnya sendiri pada materi, hanya mempertahankan premis sentral dan sekali lagi memasukkan kecintaannya pada sinema: Satu karakter sentral, yang mimpinya beralih di antara adegan-adegan dari Roman Holiday dan Tarzan, berfungsi hampir sebagai pengganti sutradara, bahkan menjelaskan aturan sinematik kepada protagonis tituler dalam satu adegan yang sangat meta.

Kon juga bekerja keras untuk memperbaiki kondisi di industri anime. Dia adalah salah satu anggota pendiri Asosiasi Pembuat Animasi Jepang, yang mengadvokasi gaji dan kondisi kerja yang lebih baik untuk animator dalam gelapnya industri Anime.

Pernah menjadi cinephile, dia juga mendorong rekan animatornya untuk memperluas kebiasaan menonton mereka di luar animasi, menyusun daftar film yang mencakup film klasik seperti It’s a Wonderful Life, Jaws, dan Tokyo Story.

Di hari-hari terakhirnya, Kon sedang mengerjakan sebuah film berjudul Dreaming Machine, yang sepertiga selesai. Produsernya, Masao Maruyama, awalnya memutuskan untuk menyelesaikan film tersebut berdasarkan storyboard Kon, tetapi pada tahun 2018 mengatakan akan ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

“Saya pikir tragis bahwa Kon meninggal begitu cepat, karena saya ingin sekali melihat seperti apa filmnya selanjutnya,” kata Solomon.

Meskipun hidupnya singkat, Kon meninggalkan dunia dengan banyak hasil kreatif. Dan seperti yang dikonfirmasi oleh Penghargaan Winsor McCay anumerta, warisannya terus bergema di seluruh komunitas animasi.

“Anda memiliki mahakarya animasi ini, dan mereka semua memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan, semuanya mengajukan pertanyaan yang tidak pernah dapat kami jawab. Itu sangat memikat,” kata Davisson.

*

Diterjemahkan dari artikel The Japan Times berjudul Remembering Satoshi Kon, one of anime’s best-loved creators.

Kategori
Sosial Budaya

Sejarah, Jenis dan Fungsi Pedang Jepang

Dahulu kala, pedang Jepang digunakan sebagai senjata tempur yang ampuh dalam pertempuran Samurai. Pedang dari Jepang adalah kombinasi sempurna antara kekuatan dan keindahan artistik. Beberapa dekade telah berlalu, gaya pedang Jepang telah mengalami banyak perubahan dalam desain dan fungsinya.

Kategori
Anime Lirik Lagu

Lirik Tomori Kusunoki – Hamidashimono

Tomori Kusunoki (楠木 と も り) yang kelahiran 22 Desember 1999 ini adalah pengisi suara yang saat ini berafiliasi dengan agensi Sony Music Artists. Dia membuat debut akting suaranya pada tahun 2017, dan di tahun yang sama dia berperan dalam peran utama pertamanya dalam Kirara Fantasia. 

Pada tahun 2020, Kusunoki memulai debutnya sebagai artis solo di bawah SACRA MUSIC. EP pertamanya, “Hamidashimono”, adalah lagu penutup dari The Misfit of Demon King Academy.