Kategori
Buku Celotehanku

Mencicipi Sastra Korea Kontemporer

Padahal hanya beda dua hari kemerdekaannya sebelum Indonesia, tapi Korea Selatan hari ini bisa dibilang negara maju, mengekspor beragam produk industri juga budaya; gawai (Samsung, LG), otomotif (Hyundai/KIA), musik (K-Pop: SNSD, 2NE1, Apink, dkk.), makanan (kimchi, jajangmyun, Miwon), film (My Sassy Girl, King and the Clown, Miracle in Cell no. 7), sampai sinetron (Winter Sonata, Full House, Reply 1988). Tapi nampaknya, untuk sastra belum terlalu melejit. Siapa coba penulis Korea Selatan yang terkenal? Yang paling terkenal paling Park Dong Seon, pembuat komik golongan darah itu.

Maka saya iseng menelusuri internet, dan menemukan dua penulis Korea Selatan, Jo Kyung-ran dan Kim Young-ha, yang kemudian saya coba terjemahkan cerpennya. Ah, nampaknya saya berhak dapat ganjaran dari Dinas Kebudayaan Korsel, dikasih paket wisata ke Pulau Jeju, misalnya.

Kategori
Non Fakta

Menanti Sang Gajah, Jo Kyung-Ran [2/2]

menanti sang gajah jo kyung-ran cerpen korea

Sampai sekarang hatiku masih terpukul ketika aku mendengar langkah kaki ibuku saat datang menaiki tangga ke kamar lotengku. Malam itu, ibu datang ke kamarku. Dia mengatakan kami harus meninggalkan rumah kami ini. Ada begitu banyak hal yang orang tuaku sembunyikan dari kami. Dia mengatakan kalau rumah kami akan diambil alih dan akan segera dilelang. Kakak tertua ayahku telah meminjam uang dari ayahku dua kali kemudian kabur. Aku tak bisa menyalahkan ayahku. Semua orang hanya mencoba untuk melakukan apa yang dianggapnya baik. Untuk pertama kalinya, aku mengerti ungkapan, “Suatu hari kita bakal menemukan diri kita keluar ke jalanan.”

Ayahku berhenti merokok. Berdiam di kamarnya sepanjang hari. Makan makanannya sendirian. Wajahnya menghitam dan jadi tirus seperti Paman Dosong-ku yang sudah meninggal itu. Dari telinga ibuku menetes darah. Aku hanya berharap adikku bisa tetap sekolah. Aku pikir tak ada bedanya orang tuaku menyembunyikan hal-hal mengerikan ini dari kami tiga anak perempuannya ini. Aku menusuk-nusukkan pisau dapur ke  batu bata merah dinding rumah. Rumah ini memang kokoh. Kami mulai bertengkar. Aku berlarian berputar-putar—ke semua ruangan—untuk menjaga barang-barang. Ini penting dan harus ada seseorang melakukannya.

Maaf aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu, katanya.

Aku tidak takut kehilangan rumah seperti setakut aku kehilanganmu, aku berseru kepadanya, ketakutan.

Dia menangis. Jangan menangis, aku menghibur dia.

Aku tidak menangis. Air mataku terpendam dan meledak justru ketika sang gajah datang mendatangiku lagi. Aku membenamkan wajahku di perut besarnya, serta menutup mulutku dengan tanganku, aku menangis dan terus menangis.

Sesekali dia meneleponku. Apa kabar? Suaranya sedih dan lembut. Aku tertawa meremehkan. Apa kabar? Dia bertanya kepadaku, lalu dia bertanya soal rumah. Kemudian dia bertanya hal lain. Apakah gajah itu datang lagi? Ada saat-saat ketika dia tampaknya lebih tertarik pada si gajah ketimbang padaku.

*

Hari ketika aku pergi ke kebun binatang, aku mengambil tiga foto: Gajah dengan kaki depannya di atas pagar, gajah yang tiba-tiba mengangkat belalainya tinggi ke langit, dengan pantatnya yang menggeliat saat berjalan, gajah yang berjalan kepayahan menuju matahari terbenam dengan kepalanya yang membungkuk rendah. Oh gajahku yang kesepian.

Kadang-kadang aku bertanya pada diri sendiri kenapa aku bisa bertahan tinggal di rumah ini sampai selama ini. Tentunya, ada kesempatan bagiku untuk pergi lalu tinggal di tempat lain selain di sini. Salah satu kesempatan itu adalah saat aku menginjak usia dua puluh, dan itu insiden yang sangat membekas bagi keluargaku—penculikanku. Ini aneh, aku tidak bisa mengingat saat usia dua puluhan. Mungkin karena aku tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang saat-saat itu.

Musim gugur yang lalu, aku memberi kuliah sebagai dosen tamu di Universitas S. Saat aku hendak memasuki ruang kuliah, seseorang menghadang jalanku. Dia menyebut namaku. Aku menatap wajahnya, lalu berkata sambil mendesah, Ah, Yonjong rupanya. Dia mengatakan dia telah melihat sebuah poster acara di papan buletin kampus. Aku benar-benar ingin tahu apakah itu kau—seseorang yang aku kenal. Aku merasa tidak nyaman. Aku mengambil kartu namanya dan buru-buru pamit. Dia pasti telah mempelajari komputer grafis selama ini. Melihat kartunya, aku tahu kalau dia sekarang menjadi peneliti senior di Electronic Visual Media Research Center di universitas.

Aku ingat bahwa setelah aku masuk ke ruang kuliah, aku tidak bisa berbicara untuk sementara dan hanya duduk di sana. Yonjong adalah salah satu dari orang-orang yang mengenalku saat itu. Aku bilang aku akan tetap menjalin komunikasi dengannya, tapi ternyata tidak. Setahun pun berlalu. Akhirnya, beberapa waktu yang lalu, aku mengirimnya surat elektronik: Yonjong, saya bertanya-tanya soal orang-orang yang saat itu tetap bisa mengingat saya. Dan di mana mereka semua sekarang? Apakah kamu masih ingat tampang saya saat itu? Aku baru saja makan malam dengan editor kepala dari sebuah situs web, dan kami berjalan sepanjang jalan di Shinsadong mencari tempat untuk minum teh, kemudian seseorang memanggilku dari belakang. Hei, Jo Gendut! Aku tidak menghentikan langkahku. Aku bahkan tidak melihat ke belakang. Mengapa begitu sulit menemukan tempat minum teh? Aku berjalan lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Teman jalanku itu dengan lembut menyikutku. Aku pikir seseorang memanggilmu dari sebelah sana. Ketika aku mendengar Hei! Aku langsung teringat pada suaranya itu. Ini aneh. Aku baru dua puluh dua ketika aku bertemu orang itu—ini sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Aku masih bisa mendengar suara ngototnya memanggilku. Aku menoleh untuk melihatnya dengan pandangan acuh tak acuh.

Hei, Jo Gendut!

*

Ah, apa kabar?

Hei, itu benar-benar Anda?

Sudah lama. Aku menyambut Direktur Jong dan Asisten Manajer Pak dengan sopan. Wow! Lihat wanita ini! Mereka tertawa. Ini pertama kalinya aku pergi kerja dengan gaya rambut keriting, yang diikat ke belakang seperti gadis desa. Aku keramas setiap pagi dan aku memakai stoking. Setiap kali aku mengeringkan rambutku yang basah, aku sering berpikir, kemana aku harus pergi hari ini? Aku sering tidak masuk kerja.  Sekali waktu, aku bolos kerja selama tiga hari berturut-turut dalam minggu yang sama. Saat jam makan siang, aku pergi sendirian ke toko buku besar di seberang jalan, yang dulu ada tempat makanan cepat saji di basemennya. Aku makan hamburger dan baca buku. Seluruh buku. Kalau aku lelah membaca, aku akan menelepon seseorang lewat telepon umum. Aku juga akan melihat-lihat pameran dekat tempat kerja.

Ketika aku kembali ke tempat kerja—biasanya empat jam setelah makan siang—rekan kerjaku akan menatapku dengan sikap menuduh.  Aku tidak pergi makan dengan rekan kerjaku dan aku tidak bersosialisasi dengan mereka setelah kerja. Kadang-kadang aku akan tinggal sendirian di kantor dan membaca buku atau menghabiskan waktu yang lama melihat-lihat grafis 4-D yang telah mereka kerjakan.  Lewat komputer, rekan kerjaku menciptakan bintang, mereka membuat unta yang berjalan di padang pasir, mereka membangun apartemen. Mereka juga menciptakan animasi CF. Sekarang sudah tidak ditampilkan lagi, tapi dulu ada iklan obat flu yang disebut Blupen dari sebuah perusahaan farmasi. Itu adalah iklan komersial animasi yang menayangkan sebotol Blupen yang melesat cepat layaknya kereta api menuju bocah yang terkena demam. Aku ikut membantu menciptakan frame untuk iklan itu. Tidak ada yang mereka tidak bisa buat.

Suatu hari, aku berdiam di kantor setelah bekerja. Ketika aku sendirian, aku meraih tetikus dan mengklik tombol secara acak. Di pagi hari, aku mendengar rekan kerjaku mengutuk, Siapa yang melakukan ini? Siapa yang menghapus semuanya? Ekspresiku datar saja.

Ketika aku turun tangga untuk ke kamar mandi, seseorang menyambarku dari belakang dan menarik bagian belakangku ke pangkal pahanya. Apakah kau tidak tahu caranya tersenyum? Dia adalah seorang desainer interior yang sering masuk dan keluar dari kantor kami.

Setelah jam kerja habis, Asisten Manajer Pak mengatakan ia akan mengantarkanku ke dekat rumahku. Aku masuk ke mobilnya. Dia mengatakan kepadaku untuk menempatkan sabuk pengamanku. Aku mengeluarkan sabuk pengaman, terlalu lama. Aku ragu-ragu, kemudian meletakkannya di leherku.

Hei, Anda tidak tahu caranya memakai sabuk pengaman ya?

Ada masalah dengan ini? Aku menimpali. Aku menatapnya dengan wajah cemberut. Ekspresi terperangahnya masih jelas dalam ingatanku. Bahkan sekarang, setiap kali aku mendapatkan tumpangan di mobil seseorang, aku sangat khawatir bahwa aku mungkin salah menempatkan sabuk pengaman seperti yang kulakukan saat itu.

Jadi Anda menulis! Direktur Jong dan Asisten Manajer Pak tahu tentang situasi aku saat ini.

Iya.

Mari kita sama-sama bertemu dengan Yonjong dan Asisten Manajer Kim Jonghui lain kali.

Baik.

Mereka benar-benar senang mengantarkanku. Direktur Jong dan Asisten Manajer Pak terus tertawa. Mereka memintaku untuk menulis kontakku. Aku menulis sembarang nomor telepon. Aku bahkan tidak tahu nomor siapa itu. Aku benci diriku karena gemuk, aku benci diriku sendiri karena bolos bekerja, aku benci diriku karena tidak bisa memahami buku manual grafis komputer yang dipaksa untuk kupelajari.

Aku bekerja di perusahaan itu selama tujuh bulan. Lalu aku mengajukan pengunduran diriku. Direktur Jong yang mengatakan kepadaku untuk mempertimbangkan kembali. Apa lagi yang akan Anda lakukan? Dia bertanya. Kadang-kadang, ketika aku pergi ke Shinsadong atau Gangnam, aku berkunjung ke World Book Center. Aku masih bisa melihat diriku berdiri di dalam toko buku saat usia dua puluh dua, terpaku diantara tumpukan buku. Aku dulu tinggal di kota ini saat itu. Aku tidak pernah mendapat balasan dari Yonjong. Jika saja aku tidak kembali pulang ke rumah setelah kejadian itu, ini bukan tempat yang akan kutinggali sekarang. Dan keluargaku tidak akan menjadi keluarga yang kumiliki sekarang.

*

Aku diculik ketika aku berusia empat tahun oleh seorang wanita setengah baya yang tidak punya anak. Dia membawaku ke sebuah salon kecantikan untuk mengubah penampilanku. Dia pasti meminta mereka untuk membuat rambutku dikeriting. Dia melangkah keluar untuk sementara waktu. Itu adalah kesempatanku. Aku menangis tersedu-sedu. Bahkan pada usia empat tahun, aku masih bisa mengingat Gereja Bongshin. Pemilik salon kecantikan memegang tanganku dan membawaku ke sana, dan itulah bagaimana aku kembali ke rumah. Rumah tempat tinggalku yang kemudian dihancurkan, tetapi Gereja Bongshin masih ada.

*

Aku sudah makan tak menunggu ayahku, sebelum ia mengangkat sendoknya. Ketika saudaraku telat pulang kerja, mereka memanggilku pertama, meskipun aku masih tertidur. Ayahku merokok lagi. Di pagi hari ibuku yang mengelap sepatuku. Di kamar lonteng, tumpukan buku terus beranak-pinak. Ada terlalu banyak barang-barang di kamarmu, ayahku khawatir. Aku tidak peduli. Aku membeli satu set TV, juga sebuah printer. Tidak ada ruang untuk melangkah. Aku memindahkan beberapa bukuku ke ruang tamu. Aku membeli beberapa rak buku baru. Aku menyingkirkan sofa ruang tamu. Ada sofa lain sebelah kulkas, dan aku meletakkan rak buku di sana. Setiap kali aku memasang rak buku baru, aku merasa seolah-olah sedang mencabut rumpun pohon, tapi perasaan ini tidak pernah berlangsung lebih dari setengah hari.  Barang-barang di ruang tamu, dan lemari yang kami bertiga pakai bersama, dipindahkan ke kamar tidur utama. Ayahku memasang penyangga di ruang bawah tangga untuk menopang kamar lotengku. Tetapi dia masih berjalan mondar-mandir setiap hari, cemas kalau sewaktu-waktu langit-langit akan runtuh karena terlalu berat, sementara itu aku bertanya-tanya apakah orang tuaku bisa meregangkan kaki dan bisa benar-benar tidur di kamar yang jadi penuh sesak oleh barang-barang putri mereka.

Pada malam yang sama ia berkata, aku minta maaf aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu, ia menulis sebuah surat panjang. Itu tentang dirinya, yang penuh dengan ketidakberdayaan dan penyesalan. Pada akhir surat ia menambahkan ini: Pada akhirnya semua tak bisa membantu. Dia menulis: Orang tidak dapat menjalani hidup dan cinta dengan cara yang sama; tidak akan ada yang tetap sama seperti pada awalnya. Dia menulis: Kita harus berubah agar tetap sama. Dan ia juga menulis ini: Itulah mengapa cinta harus tumbuh.

Sebuah surat. Sebuah kata yang sangat menyedihkan, “surat.” Setelah kami berpisah, aku tidak pernah mengambil surat itu untuk membacanya lagi.

Dan ada surat lain yang aku tak pernah bisa membaca lagi. Sesekali aku memikirkannya. Dan aku pikir, Jadi mengapa kita berpisah? Pada akhirnya, untuk menyelamatkan rumah, aku kehilangan dia.

Aku melihat foto keluargaku—yang aku ambil saat ulang tahunku ketika aku sampai di rumah setelah putus dengan dia. Mereka tidak tahu bahwa meja itu adalah kepala gajah, sofa adalah punggung gajah; mereka hanya tersenyum, terpingkal-pingkal. Dengar, aku bilang ini adalah gajah! Jika aku mengatakan ini, mereka semua hanya tertawa dan menimpali, Dia sedang menulis cerita lain. Gajah itu berpura-pura tidur dan matanya ditutup, tapi aku tahu dia tidak tidur. Aku tidak pernah lupa untuk menyimpan biskuit kelapa atau pisang, untuk jaga-jaga. Karena aku tidak tahu kapan gajah itu akan datang lagi.

*

Ayahku pergi ke Yeosu, memamerkan tiga putrinya layaknya medali. Itu tahun 1996, saat aku berusia dua puluh enam tahun—aku baru mulai masuk kuliah. Malam itu ada pesta minum. Seseorang mabuk dan menangis. Aku bercampur dengan kerabatku, dan aku minum sebanyak yang kubisa. Keesokan harinya, seluruh keluarga pergi bersama-sama untuk piknik. Kami menyewa sebuah minibus Bongo dan melesat jauh menyusur sisi pantai. Kami naik perahu di sana. Pulau Odong terlihat di kejauhan. Waktu itu sedang pertengahan musim panas yang gerah. Tidak ada yang bisa mengingat nama pulau itu sekarang. Aku juga lupa—tak peduli seberapa keras aku berpikir tentang hal itu, aku tidak ingat dimana pulau yang kami datangi hari itu. Yeosu adalah tempat dengan begitu banyak pulau tak bernama yang saking banyaknya tidak bisa dihitung. Tapi itu terjadi kepadaku sekarang bahwa mungkin pulau itu bahkan bukan di Yeosu.

Bibi Yonsook mengatur dan membawa semua makanan. Pamanku, sepupu, dan bibi berdiri di depan panggangan dan memasak daging dan darah kerang. Mereka berlari ke laut untuk berenang dan bermain bola. Sepupu yang diajak ayah mereka semua ramping dan berkaki panjang. Mereka tertawa riang di bawah terik matahari. Suara mereka mengejutkanku. Aku menjatuhkan payung yang kubawa, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ayahku berenang. Dia cepat, percaya diri, dan tangkas seperti anjing laut. Ini pertama kalinya aku melihatnya berenang. Aku sepenuhnya lupa kalau ini adalah tempat ayahku dilahirkan. Paman Dosong, baru saja kembali dari peregangan di laut, membawa botol besar Soju yang menggantung di mulutnya. Paman, jangan minum terlalu banyak—aku mengatakan kepadanya sesuatu yang tidak ingin dia dengar, seperti aku sedang berbicara dengan ayahku saja. Aku pikir itu ketika penyakit pada hatinya Paman Dosong bermula. Tinggalkan dia sendirian, kata ayahku.

Bibi Yonsook membawa makanan, tapi dia hampir tidak punya waktu untuk makan apa-apa. Dia terlalu sibuk membersihkan panggangan daging, memasak kerang dan makanan laut yang sudah dia bekukan selama berbulan-bulan dalam freezer, juga memasak ayam. Bibiku yang lain mencuci piring di bawah komando suaranya yang keras. Mereka berbagi sebotol besar Soju juga. Mereka dengan cepat pergi mendekati panci berisi kimchee daun dengan saus Dolsan. Ibuku, mabuk setelah tiga gelas soju, menggelar tikar dan berbaring di atasnya. Matahari benar-benar panas. Laut tampak dalam tak terhingga. Paman dan sepupuku melambaikan tangan kepadaku dari dalam air. Aku menggeleng. Tidak ada salah satu dari kami tiga bersaudara perempuan ini tahu bagaimana caranya berenang. Mereka melemparkanku ke laut pada hari aku dilahirkan, kata Bibi Yonsook.

Aku melepas kaus kaki dan melemparnya ke samping. Butuh keberanian untuk masuk ke dalam air. Memegang tangan saudaraku, aku berjalan ke laut satu langkah pada satu waktu. Kemudian paman ketigaku, Doyoon, tiba-tiba mendorongku keras dari belakang dan aku jatuh dengan semua pakaian yang kukenakan. Aku bisa mendengar bibi, paman, dan sepupuku semua tertawa bahkan dari bawah air yang dalam. Aku tidak takut. Aku tidak yakin, tapi mungkin lengan dan kakiku akan bergerak secara naluriah dan aku akan bisa berenang seperti Bibi Yonsook. Aku adalah putri ayahku, bagaimanapun juga, dan ia adalah seorang garam tua yang bisa melihat kotoran ikan teri dan menebak apa yang telah dimakannya.

Aku berjalan keluar dari air dengan penuh kebingungan. Di sekitarku, ayahku, tiga pamanku, tiga bibi, dan enam sepupu sedang berenang-renang santai. Sekarang, dua telah pergi. Mereka yang menelepon ibuku secara teratur. Aku mendengar bahwa salah satu pamanku lututnya bengkak beberapa waktu lalu, dan lain terluka punggungnya dan tidak dapat melaut lagi. Ini membuatku takut bahwa orang-orang terus sekarat. Aku benci musim hujan, aku benci badai salju, dan aku benci perang. Ada saat-saat ketika aku ingin melihat wajah-wajah orang mati sekali lagi, tapi itu hanya akan mungkin terjadi masa depan yang jauh.

Matahari terbenam. Soju tak bersisa, dan semangka, gurita, bulgogi panggang, selada—semuanya telah ludes. Suami bibi Yonsook ini mengambil alih dan membersihkan semuanya. Dia juga yang mengemudi. Dia tidak terlihat seperti tipe orang yang akan memukul seseorang seperti layaknya menyiksa anjing, tapi sorot matanya yang tajam menggangguku. Kami semua kembali ke rumah salah satu pamanku. Sangat jauh. Ayahku, pamanku, dan bibiku begadang sambil minum-minum sampai fajar. Dan seseorang mulai berdebat dan menangis, tetapi kemudian, segera, mereka semua terkekeh dengan tawa membuncah lagi. Ibu kedua ayahku berusia lebih dari delapan puluh—mungkin ketika dia meninggal aku akan pergi ke Yoesu lagi. Rambut hitam mulai menyodok lagi di kepala nenekku.

Ketika ayahku mabuk, ia mengungkit-ungkit tamasya saat musim panas. Dan ia bercerita tentang masa mudanya di Arab Saudi, Iran, dan Kuwait. Ia menyurati kami dua kali seminggu. Ibuku menulis surat kepadanya setiap hari, dan karena mendesaknya, kami tiga saudara perempuan patuh menyuratinya sekali seminggu. Surat yang berbunyi: Papa, kami semua sehat dan sekolah kami juga baik-baik saja, kita akan belajar keras—dan tidak lebih, hanya sebatas ini. Surat ayahku, yang melintasi udara berpasir dari padang tandus, sama saja: Dengarkan ibumu dan fokus pada studi kalian. Papa juga baik-baik saja. Hanya tanggal yang berbeda. Surat-surat yang terus berlangsung selama sepuluh tahun ini disimpan di wadah tembikar besar yang ada di loteng. Ini seperti mengubur kimchee musim dingin—plastik membungkus surat-surat dalam wadah itu. Ayahku yang melakukannya. Sampai hari ini, aku tidak pernah membuka wadah itu. Tapi aku mulai khawatir apa yang harus aku lakukan dengan surat-surat setelah sepeninggal ayahku.

*

Setiap hari kami menyicil pelunasan rumah, dan setiap hari kita kehilangan rumah, tapi untungnya belum ada perubahan nyata sejauh ini. Di pagi hari, ayahku membawa koran dari tangga depan, ibuku menyemir sepatu, dan kami tiga bersaudara perempuan ini berangkat kerja. Ketika aku sedang tidak dalam jarak pendengaran, ayahku sedih mengeluh bahwa tak seorang pun melihat kaktus tua yang mekar, dan ibuku kemudian melihatnya. Dia tidak datang ke kamarku. Ketika aku mendapatkan panggilan telepon, ia menempatkan penerima di luar pintu dan kembali turun. Sampai kapan ibuku naik turun tangga dengan rasa sakit di sendinya? Aku jadi lebih sering turun tangga, bahkan ketika aku membaca buku atau menulis. Aku berharap salah satu dari kami akan bergegas menikah lalu meninggalkan rumah ini. Jika ruang bebas, kami bisa memindahkan barang-barang dari kamar tidur utama dan kami bisa menempatkan sofa kembali di ruang tamu. Tapi aku takut aku mungkin menjadi yang terakhir dari para saudara-saudara yang lain, yang tersisa di rumah ini sampai akhir. Ayahku masih khawatir bahwa kamar loteng akan runtuh—jantungnya berdebar-debar—dan aku khawatir bahwa harta dan buku putrinya telah menginvasi kamar tidurnya.

Aku bukan orang yang paling bahagia di dunia, tapi aku bukan yang paling menyedihkan. Ketika aku dibuat marah atau kebanggaanku terluka, aku duduk di meja selama satu jam atau dua teri pemangkasan. Jika kami tidak memiliki apapun, maka aku akan menguliti kacang. Sering aku berdandan dan pergi ke sebuah restoran Italia untuk makan pasta dan minum anggur. Ibuku masih menasihatiku bahwa orang harus belajar untuk merasa puas dengan apa yang didapat. Sekarang aku mengerti. Meski memang aku butuh waktu lama untuk memahami ini. Aku masih tinggal di rumah ini. Di sinilah momen paling bahagia dan tidak bahagia buatku. Kamar lotengku hangat. Sekarang sedang musim dingin. Aku bisa mendengar sendok yang sedang disiapkan di atas meja di lantai bawah. Mari makan! ibuku berteriak ke kamarku. Baik! Aku langsung menjawab. Dan tuk tuk tuk aku menuruni tangga.

Kadang-kadang aku menunggu telepon darinya. Dia satu-satunya yang mengerti cerita gajahku. Dia mendengarkan. Aku bisa mengangkat telepon dan mengoceh selama satu jam tentang gajahku. Aku tidak mengambil foto lagi, tapi dia masih muncul. Sekarang dan kemudian rumah bergerak—itu menggeliat—dan aku membatin, Ah, si gajah sudah datang.

+

Cerpen Jo Kyung-Ran yang dimuat dalam Munhakdongne. Diterjemahkan dari Korea ke Inggris oleh Heinz Insu Fenkl dengan judul “Looking for the Elephant”, rilis di Fifty-Two Stories. Juga ada dalam antologi internasional Words Without Borders.

Kategori
Non Fakta

Menanti Sang Gajah, Jo Kyung-Ran [1/2]

menanti sang gajah jo kyung-ran cerpen korea

Kamera Polaroid yang kumiliki adalah Polaroid Spectra. Memakai film yang 1,5 kali lebih besar dari Polaroid umumnya, dan lebih mahal. Dia membelikan ini untuk hadiah ulang tahunku beberapa tahun yang lalu. Aku masih ingat betapa bahagianya aku ketika membuka kado dan mendapati bahwa ini kamera yang sangat aku idamkan. Dia mengambil foto pertama. Fotoku yang sedang menengok ke bawah, kepalaku sedikit mendongak. Bekas lipstik pada gelas anggurku masih jelas terlihat. Aku merasa harus meminta padanya, bolehkah aku memotretmu? Dia menggeleng. Dengan satu paket film kita dapat mengambil sepuluh foto – yang sekarang tersisa sembilan. Dia tidak ingin dipotret, tapi aku berharap aku punya fotonya untuk kenang-kenangan hari itu. Karena kami tiba-tiba putus tak lama setelah itu. Dan sekarang aku tak bisa mencintainya, aku pun tak bisa membencinya lagi.

Kameranya sendiri aku bawa pulang untuk kemudian memotret keluargaku yang sedang berkumpul mengelilingi meja.

*

Aku biasa tidur berbaring telentang, dengan punggung sebagai tumpuan. Ketika perutku terasa tak enak, baru aku berguling ke sisi kiri dan tidur menghadap dinding. Tetapi tak peduli apapun posisi tidurku, salah satu lengan selalu mengulur – seperti sudah jadi keharusan – dan berakhir menggantung turun dari tempat tidur. Tiba-tiba, aku merasakan sensasi tanganku dipegang seseorang dengan lembutnya. Aku terbangun dengan kaget. Ruangan gelap. Kehangatan tetap terasa di telapak tanganku. Aku mencoba meregangkan jari-jari tangan yang menggantung dari tempat tidur. Aku merasa seperti ada seseorang yang menyelinap masuk – dia berbaring di lantai atau duduk di kaki tempat tidur, tapi tak terasa ada semacam gerakan sekecil apapun. Meski begitu aku bahkan tak punya niat untuk melompat dari tempat tidur atau cepat-cepat menyalakan lampu. Untuk beberapa alasan aku berpikir kalau melakukan sesuatu justru akan berakhir tak baik.

Sangat menyebalkan awalnya memang. Kehadiran itu membuatku takut – sangat menganggu sampai-sampai aku harus tidur dengan lampu menyala untuk waktu yang lama. Tapi sekarang aku cukup terbiasa dengan kehadiran itu. Perlahan-lahan, aku memberanikan diri. Maksudku, aku berharap sesuatu itu akan menampakkan diri ketika aku terjaga. Setelah beberapa saat aku menyalakan lampu. Tidak ada seorang pun di sana. Tidak ada jejak siapapun yang tertinggal. Pada awalnya aku bertanya-tanya mungkinkah itu salah satu hantu yang mendiami rumah ini. Atau itu roh nenekku yang sudah meninggal, atau bibiku, atau pamanku? Tapi sekarang aku tahu. Itulah dia.

*

Ayahku berasal dari Yeosu. Aku pernah di sana hanya sekali waktu saat aku telah dewasa. Aku tidak menyukai tempat itu karena di situlah ayahku dilahirkan. Terlalu banyak hal-hal buruk terjadi di sana.

Saudara-saudara ayahku selalu kebanyakan minum-minum – mereka selalu bertengkar dan menangis. Salah satu pamanku pergi ke laut lepas selama berbulan-bulan pada suatu waktu untuk menangkap ikan yang akan dijualnya di pasar. Ayahku meninggalkan kampung halamannya ketika ia berusia sembilan tahun, setelah ibunya meninggal.

Nenekku itu meninggal pada hari ulang tahunnya. Untuk pertama kalinya, kakekku, paman-pamanku yang pelaut, dan bibi-bibiku bisa berkumpul di satu tempat. Nenekku harus menunggu lama untuk hari itu. Dia memasak sup ikan kembung dan bunuh diri dengan memakan semuanya. Dan bukan sembarang hari – itu di hari ulang tahunnya.

Aku melihat nenekku dari salah satu foto peninggalan dari dirinya. Seperti nenek dari garis ibuku yang mati muda karena kanker payudara, dia sama-sama berpakaian serba putih, mengerutkan kening. Kedua nenekku memiliki alis hitam tebal. Aku memutuskan untuk lebih suka pada nenek dari garis ayahku – karena aku pikir kematiannya sungguh dramatis.

Setelah nenek meninggal, ayahku pergi dari rumah untuk tinggal di Seoul, dan ketika ia menikah, ia mendaftarkan kota ini sebagai alamat tetapnya. Tapi aku tahu dia mencintai Yeosu. Aku tahu bahwa dia secara pribadi bermimpi suatu saat akan kembali lagi ke sana. Aku juga tahu bahwa setiap kali segala tentang Yeosu muncul di TV seperti dalam acara My Hometown at 6, ia menatapku. Ha! Tak mau! Aku memalingkan kepalaku dan melihat ke arah lain.

Bibi Yonsook adalah bungsu dari keluarga ayahku. Dia sangat menyukai anak-anak ayahku, dengan kata lain keponakannya: kakak-kakakku dan aku. Setiap musim, dia akan mengirimi ikan lewat jasa kurir – ikan kering, ikan croaker, dan pari – dan dia menelepon kami sepanjang waktu. Dia ingin pindah ke Seoul, tapi sampai aku dewasa, dia tidak pernah berkunjung sekalipun. Setiap hari libur atau kalau ada upacara peringatan dia akan berkata, aku harus pergi, aku benar-benar harus pergi dan melihat kalian semua, kemudian dia akan menangis. Dia adalah orang yang menangis paling sering di keluarga ayahku. Itu sebabnya aku takut padanya.

Ketika bibi menikah, dia dengan cantiknya memakai gaun panjang dengan rambut hitamnya yang tergerai panjang sampai pinggang. Aku mendengar bahwa suaminya yang pelaut itu (aku hanya melihat wajahnya sekali) sering memukulnya. Bibi punya dua anak dari suaminya itu sebelum dia bercerai. Aku juga mendengar bahwa bibi selalu mengirimkan uang dari penghasilannya bekerja di toko dan pekerjaan sampingan di tepi pantai untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Mereka mengatakan bibi seorang yang tangguh. Ibuku sangat menyukai Bibi Yonsook. Itulah semangat muda, dia akan berkata. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya usia kami tidak ada banyak perbedaan meskipun memang aku keponakannya.

Kemudian Bibi Yonsook bertengkar dengan kekasihnya dan melompat dari lantai lima apartemennya. Tindakan bunuh diri. Kerabat-kerabat ayahku memuntahkan kemarahan pada kekasih bibi dan menuduhnya yang membunuh bibi. Pada hari otopsi, adik ayahku, Paman Dosong, yang pergi ke kamar mayat bukannya ayah. Ayahku masih mabuk berat – ia tak henti-hentinya terus muntah. Hingga kini, ayahku telah berhenti merokok tepat tiga kali. Yang pertama adalah hari ketika ia pulang setelah mengkremasi bibi. Otopsi tidak dapat menentukan apakah kematiannya adalah tindak bunuh diri atau pembunuhan. Mereka mengatakan bahwa lelaki yang jadi kekasihnya itu mengurus pemakaman bibi. Aku kira itu berarti dia yang bakal membayar segala biaya. Aku mendengar semua ini dari sini di Seoul. Pergi ke Yeosu? Aku bergidik.

Pemakaman berubah menjadi kekacauan. Lima saudara ayah yang masih hidup semuanya pada mabuk, dan mereka berteriak dan menangis, mencengkeram kerah satu sama lain. Itu adalah malam pertamaku merasakan kehadiran aneh di kamarku. Setelah menahan napas dan berbaring untuk waktu yang lama, aku mengangkat tubuhku. Aku melihat kaki tempat tidur dan lantai. Aku memanggil nama bibiku yang sudah mati itu dalam kamar gelap ini: Bibi Yonsook? Aku merasa dingin menampar wajahku.

Malam seperti ini berlangsung selama waktu yang sangat lama. Aku tidak bercerita tentang hal ini kepada ibu atau kakakku. Keluargaku takut untuk berbicara tentang orang mati. Aku harus membiasakan diri. Dan setelah beberapa waktu aku tak merasakan kehadiran sama sekali, tidak sampai malam setelah pamanku meninggal.

Paman Dosong, yang melihat otopsi Bibi Yonsook dengan mata kepalanya sendiri – dua tahun setelah bibi meninggal, paman didiagnosis kanker hati di Rumah Sakit Pensiunan. Dia datang dan tinggal di rumah kami saat masih menjadi pasien rawat jalan. Semua saudara ayahku memiliki badan tinggi dan tegap, tapi sekarang Paman Dosong menjadi kurus kering; wajahnya bertambah gelap. Dalam kondisi itu, ia menolak tidur di kasur orangtuaku dan memilih tidur dalam posisi janin di sofa ruang tamu. Ketika aku ingin pergi ke kamar mandi di tengah malam, aku tidak bisa turun ke bawah. Aku takut kalau mendapati pamanku sudah terbaring mati di sana. Rasanya kandung kemihku mau meledak saja.

Pamanku kembali ke Yeosu dengan wajahnya yang makin menghitam serupa muka kambing. Dia meninggal dua bulan kemudian. Meski begitu, aku tak pergi ke Yeosu. Ayahku berhenti merokok lagi. Aku mulai sering terbangun sekitar dini hari. Aku tidak bisa mengusir perasaan bahwa seseorang sedang duduk di kaki tempat tidur atau meringkuk di lantai meski hampir mustahil ada cukup ruang bagi seseorang untuk berbaring. Telapak tanganku selalu basah oleh keringat. Aku mencoba memanggil, Paman Dosong? Tidak ada yang menjawab – tidak Bibi Yonsook, atau Paman Dosong, atau nenekku yang bunuh diri sudah lama itu. Akhirnya, aku tertidur dengan kamera Polaroid yang selalu dalam genggaman.

*

Setiap hasil foto Polaroid memiliki nomor seri yang tercetak. Foto pertama yang ia ambil – fotoku pada hari ulang tahunku, yang sedang duduk di sebuah kafe dengan kepala tertunduk – memiliki nomor 0318 4149 yang dapat ditemukan di bagian belakang. Jika saja aku memotret wajahnya setelah itu, maka nomornya 0318 4150. Tapi nomor 0318 4150 adalah foto keluargaku. Mereka baru saja pulang ke rumah setelah acara malam selesai dan kami semua berkumpul melingkari meja dengan kue kecil di atasnya. Oke, perhatian semua, lihat kesini semuanya! Aku baru saja putus dengan pacarku ketika aku mengklik tombol shutter.

Aku sampai di foto kesepuluh dalam kemasan, nomor 0318 4158, potret temanku saat ulang tahunnya – dan ketika pacar adik bungsuku datang, aku memotret mereka berdua yang berpose di ruang tamu. Aku memotret bunga magnolia yang mulai menyebar kelopaknya, kemudian aku memotret sepatu kets lamaku. Saat aku memakai 4152, 4155, hingga 4157 – sebelumnya telah memotret nomor 0318 4151- musim dingin berlalu, musim semi datang, sampai musim panas pergi lagi. Aku tidak punya kesempatan lain untuk mendapatkan foto wajahnya.

Aku sampai di foto terakhir, nomor 0318 4158. Aku tidur sambil memegang Polaroid-ku. Aku bangun. Aku menahan napas dan – klik – aku menekan tombol shutter seolah-olah aku sedang berada dalam penyergapan. Kertas film meluncur keluar seolah-olah aku telah menyambarnya dari kamera. Aku segera menyalakan lampu, menekan kertas film keras-keras di telapak tangan panasku yang berkeringat agar prosesnya lebih cepat. Perlahan-lahan, bentuk samar mulai tampak. Keasyikan Polaroid adalah saat penantian proses pembentukan hasil foto yang begitu singkat itu, kita bisa langsung melihat hasil foto kita segera, saat itu juga. Ini seperti menunggu harap-harap cemas di pintu, dan setiap kali pintu terbuka, kita pikir mungkin orang yang kita tunggu sudah datang. Tapi aku tidak bisa merasakan semacam kegembiraan malam itu. Kegembiraan! Aku malah ketakutan, rasanya seperti seseorang mencengkeram tengkuk leherku dengan kedua tangannya.

Aku menatap lekat-lekat hasil fotonya, warna dan bentuknya begitu nyata dalam foto 9 x 7,3 cm itu. Bukan nenekku yang sudah meninggal, bukan Bibi Yonsook, bukan Paman Dosong, dan bukan juga semacam hantu penunggu rumah. Itulah dia – seekor gajah yang besarnya bukan main.

*

Aku mulai tinggal di rumah ini sebelas tahun yang lalu. Ini rumah yang bisa dipakai keluarga besar sekarang, tapi awalnya ini hanya rumah kecil berlantai satu dengan halaman yang sempit. Ayahku yang membeli rumah ini. Dia merobohkannya dan membangun kembali sesuai sketsa yang ia buat sendiri. Sementara rumah baru ini sedang dibangun, keluarga kami yang berlima ini tinggal di satu ruangan di dekatnya. Saat mereka harus menaikkan suara untuk berdebat tentang sesuatu, ibu dan ayahku akan pergi ke penginapan terdekat. Ayahku membangun satu ruangan lagi, ruang di loteng tempat aku tinggal sampai sekarang, kamar tempat aku menulis semua ini.

Ini seharusnya kamar untuk adik bungsuku. Aku biasa menulis di lantai bawah, berjongkok di lantai. Aku ingin punya meja besar. Ketika adik bungsuku pergi untuk sementara waktu, aku memanggil beberapa teman pria adik perempuanku yang lain dan mereka membantuku mengosongkan kamarku di lantai bawah untuk memindahkan barang-barang ke atas sini. Malam itu aku menyurati adik bungsuku. Jawabannya: Terserah saja, kak. Kamar di loteng ternyata tak punya cukup ruang untuk menempatkan meja, jadi aku membeli meja kecil baru yang mengkilap. Sekarang pernisnya memang sudah mengelupas dari tiap tepiannya dan kaki mejanya mulai goyang, tapi masih bisa digunakan. Bahkan jika aku mendapatkan kamar yang lebih besar, aku merasa tidak ingin mengganti mejaku dengan yang lain. Tapi aku tetap punya impian untuk memiliki meja besar dengan banyak laci dan kompartemen. Orang harus belajar untuk bersyukur terhadap apa yang dipunya, ibuku selalu menasehati.

Di kamar lotengku, aku bisa membaca, menulis, dan menelepon saat tengah malam. Tahun-tahun berlalu dalam sekejap mata. Ketika aku tidak bisa menulis, atau setiap kali aku bertengkar hebat dengan salah satu anggota keluarga, aku merasa seperti ingin kabur dari rumah ini. Saat aku turun di malam hari untuk pergi ke kamar mandi, aku secara sengaja akan menginjak kaki atau perut anggota keluargaku yang sedang tidur dalam gelap di lantai ruang tamu. Kami akan menyentak satu sama lain dalam gelap dan berteriak, Siapa itu!? Siapa woy? Aku menggedor dinding kamarku dengan kedua tanganku. Ternyata tidak runtuh. Rumah ayahku dibangun lebih kokoh jauh dari perkiraanku.

*

Minggu sore aku pergi ke Seoul Grand Park di Gwachon. Itu beberapa hari setelah aku melihat sang gajah. Hari yang sangat berangin, dan taman itu penuh sesak dengan orang-orang. Di kebun binatang sedang berlangsung festival bunga serunai. Orang-orang mengambil gambar di depan kembang krisan warna-warni yang mekar sempurna, dan di kandang sebelahnya kawanan flamingo berkaki panjang sedang mengepakkan sayap mereka.

Aku langsung menuju kandang gajah. Seekor gajah Afrika yang belalai panjangnya bergoyang berjalan perlahan-lahan di dalam kandang luas yang berbentuk S itu. Aku tidak bisa menahan perasaan kecewa. Gajah itu jauh dari yang diharapkan. Itu kejauhan – tidak bagus untuk diambil fotonya. Aku bergerak mendekat: ketika ia bergerak ke kiri aku berlari mengikutinya, ketika ia berbalik lagi aku cepat-cepat berlari kembali ke kanan.

Gajah ini benar-benar populer. Sejauh mata memandang, pagar melengkung itu penuh sesak dengan anak-anak dan orang dewasa. Aku menduga gajah di kandang adalah seekor pejantan tua. Jantan tua yang tinggal sendirian. Di pagi hari dan malam gajah-gajah mencari makan dari pepohonan, dan kemudian mereka beristirahat di bawah naungan pohon saat siang hari. Mereka tidur sambil berdiri – meskipun ada saat-saat ketika mereka tidur berbaring. Gajah yang datang ke kamarku berbaring di lantai yang sempit dan tidur dengan tubuh besarnya sambil meringkuk begitu ketat. Belalainya itu melingkar dan menarik ke dalam tubuhnya. Sepertinya tak mau jika aku mencoba untuk mencurinya atau melakukan sesuatu terhadapnya. Aku tidak tahu apakah gadingnya besar, sehingga tidak ada cara untuk mengetahui apakah dia jantan atau betina.

Gajah ini, yang berada dalam kandang, telah berjalan bolak-balik di jalan yang sama; sesekali tampak pikirannya kosong lalu berhenti dengan kaki ditekuk, menatap kami. Kemudian, seolah-olah mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa, ia bergerak dengan langkah berat kembali, menapaki tiap langkahnya. Setiap kali gajah mengepakkan kupingnya, ia mengirim angin dingin menembus bagian depan pakaianku. Aku mengambil kamera Polaroid dari tas bahuku. Aku masukkan paket film baru. Jika ada kamera Polaroid yang lebih baik dari Spectra, ia mungkin akan membelinya untukku. Tapi tidak mudah untuk menemukan filmnya. Aku memesan khusus dari pemilik toko foto. Ketika aku mengambil filmnya, pemilik toko itu mengatakan kepadaku bahwa Spectra tidak didistribusikan secara luas, sehingga akan selalu sulit untuk mendapatkan film ini. Dia mengatakan jika aku mengembalikannya ke tempat pembelian, mereka akan menukarnya dengan Polaroid biasa. Semacam refund. Aku memesan tiga bungkus film sekaligus. Itu hadiah terakhir untukku.

Tiba-tiba, gajah berhenti berjalan dan – dengan sebuah dentuman – meletakkan kaki depannya di atas rel dalam di sisi kandang kami. Ada kandang dua atau tiga meter jauhnya; sebagai pembatas digali sebuah selokan, tapi tampak seolah-olah gajah bisa dengan mudah melompat ke seberang. Aku tegang. Aku tidak bisa yakin apakah gajah itu tiba-tiba akan meloncat terbang tinggi ke arahku seperti layaknya burung. Aku menekan tombol shutter sesaat ketika ia mengangkat belalai panjangnya. Hasilnya segera muncul. Gajah itu menaruh kembali kaki depannya ke bawah dan membalikan tubuhnya. Binatang pintar. Mustahil memang ia bisa mendengar suara shutter, tapi aku yakin ia mendengarnya, pasti. Penjaga kebun binatang membuka pintu baja dan muncul. Dia memberi gajah itu roti, lalu si gajah mengambilnya dengan belalai kemudian memakannya.

04:40 PM. Gajah itu mengikuti pawangnya melalui gerbang baja dan menghilang. Begitu ia hilang, semua orang yang berada di depan kandang ikut bubar secara serempak. Aku pergi ke kandang berikutnya, melihat gajah Asia. Tapi gajah Asia pun sudah tak ada. Aku pernah membaca: Gajah Asia memiliki penglihatan yang lemah. Karena lehernya pendek, tidak dapat menoleh ke belakangnya sendiri. Tidak bisa menoleh ke belakangnya sendiri: Sekarang aku yakin. Gajah yang datang kepadaku malam itu bukan Asia, tapi Afrika. Gajah: Memiliki mata lemah tetapi pendengaran dan indera penciumannya sangat tajam. Dapat berlari hingga 50 KM per jam. Permukaan tubuhnya ditutupi dengan bulu tebal. Gigi depan di rahang atasnya tumbuh menjadi gading panjang. Gajah: hewan darat terbesar di muka bumi.

*

Aku merasa tidak puas dengan sesuatu. Tapi aku tidak ingin tahu apa tepatnya. Aku jadi jarang pulang, ingin mangkat dari rumah, meskipun tak punya tempat untuk dituju. Suatu hari ia datang dengan setumpuk selebaran flyer yang berbeda. Dia menggenggam tanganku dan kami berkeliling untuk melihat kamar. Secara kebetulan, empat tempat yang kita lihat adalah kamar loteng. Aku merobek selebaran itu tepat di wajahnya. Kami makan sup panas dan nasi. Kami menyeberangi jalan melalui jembatan penyeberangan dan masuk ke gedung officetel dua puluh lantai yang baru dibangun. Penjaga gedung memberi kami kunci. Ada meja besar, lemari, tempat tidur, wastafel mengkilap. Aku tarik dia dengan tangan. Aku menunjuk keluar jendela mengeluhkan riuh mobil yang saling mendesing.

Tempat ini tidak akan cocok.

Mungkin tidak.

Ya, terlalu berisik.

Aku juga berpikir begitu.

Kami mengembalikan kunci dan keluar dari officetel tersebut. Kami pergi makan ayam goreng. Nah, itu terjadi kurang dari setengah jam setelah kami makan malam.

*

Cerpen Jo Kyung-Ran yang dimuat dalam Munhakdongne. Diterjemahkan dari Korea ke Inggris oleh Heinz Insu Fenkl dengan judul “Looking for the Elephant”, rilis di Fifty-Two Stories. Juga ada dalam antologi internasional Words Without Borders.