Mencicipi Sastra Korea Kontemporer

young-ha-kim-i-have-the-right-to-destroy-myself-sastra-korea

Padahal hanya beda dua hari kemerdekaannya sebelum Indonesia, tapi Korea Selatan hari ini bisa dibilang negara maju, mengekspor beragam produk industri juga budaya; gawai (Samsung, LG), otomotif (Hyundai/KIA), musik (K-Pop: SNSD, 2NE1, Apink, dkk.), makanan (kimchi, jajangmyun, Miwon), film (My Sassy Girl, King and the Clown, Miracle in Cell no. 7), sampai sinetron (Winter Sonata, Full House, Reply 1988). Tapi nampaknya, untuk sastra belum terlalu melejit. Siapa coba penulis Korea Selatan yang terkenal? Yang paling terkenal paling Park Dong Seon, pembuat komik golongan darah itu.

Maka saya iseng menelusuri internet, dan menemukan dua penulis Korea Selatan, Jo Kyung-ran dan Kim Young-ha, yang kemudian saya coba terjemahkan cerpennya. Ah, nampaknya saya berhak dapat ganjaran dari Dinas Kebudayaan Korsel, dikasih paket wisata ke Pulau Jeju, misalnya. Lebih karena tertarik pada ceramahnya Kim Young-ha di TEDx, maka saya merasa harus untuk membaca karyanya, dan beruntung dapat ebook novelnya (gratis dan ilegal, pastinya), sehingga akhirnya bisa mencicipi sastra Korea Selatan.

Baca Selengkapnya

Cerpen Terjemahan: “Menanti Sang Gajah” Karya Jo Kyung-Ran [2/2]

polaroid spectrapro

Sampai sekarang hatiku masih terpukul ketika aku mendengar langkah kaki ibuku saat datang menaiki tangga ke kamar lotengku. Malam itu, ibu datang ke kamarku. Dia mengatakan kami harus meninggalkan rumah kami ini. Ada begitu banyak hal yang orang tuaku sembunyikan dari kami. Dia mengatakan kalau rumah kami akan diambil alih dan akan segera dilelang. Kakak tertua ayahku telah meminjam uang dari ayahku dua kali kemudian kabur. Aku tak bisa menyalahkan ayahku. Semua orang hanya mencoba untuk melakukan apa yang dianggapnya baik. Untuk pertama kalinya, aku mengerti ungkapan, “Suatu hari kita bakal menemukan diri kita keluar ke jalanan.”

Baca Selengkapnya

Cerpen Terjemahan: “Menanti Sang Gajah” Karya Jo Kyung-Ran [1/2]

polaroid spectrapro

Kamera Polaroid yang kumiliki adalah Polaroid Spectra. Memakai film yang 1,5 kali lebih besar dari Polaroid umumnya, dan lebih mahal. Dia membelikan ini untuk hadiah ulang tahunku beberapa tahun yang lalu. Aku masih ingat betapa bahagianya aku ketika membuka kado dan mendapati bahwa ini kamera yang sangat aku idamkan. Dia mengambil foto pertama. Fotoku yang sedang menengok ke bawah, kepalaku sedikit mendongak. Bekas lipstik pada gelas anggurku masih jelas terlihat. Aku merasa harus meminta padanya, bolehkah aku memotretmu? Dia menggeleng. Dengan satu paket film kita dapat mengambil sepuluh foto – yang sekarang tersisa sembilan. Dia tidak ingin dipotret, tapi aku berharap aku punya fotonya untuk kenang-kenangan hari itu. Karena kami tiba-tiba putus tak lama setelah itu. Dan sekarang aku tak bisa mencintainya, aku pun tak bisa membencinya lagi.

Baca Selengkapnya