Kategori
Catutan Pinggir

Picasso, Guernica dan Setelahnya

Pablo Picasso melukis Guernica hanya dalam waktu lima minggu selama musim semi 1937.

Waktu itu Picasso tinggal di Paris, berusia lima puluh lima, sudah terkenal. Lahir di Spanyol pada tahun 1881, dia pergi ke Paris pada tahun 1900; dia pernah mengunjungi Spanyol pada tahun 1934 dan tidak akan pernah kembali.

Namun, pemerintahan revolusioner Front Populer menunjuknya sebagai direktur Museum Prado di Madrid, secara in absentia, dan Picasso melakukan beberapa proyek yang mendukung Republikan sekaligus untuk mengumpulkan dana atasnya. Pemerintah pada gilirannya memintanya untuk menciptakan sebuah mural untuk pameran seni dunia di Paris 1937, dan dia setuju, meski pada awalnya perkembangannya lamban. Adalah serangan 26 April di Guernica yang melecutnya. Dia mengerahkan dirinya ke dalam lukisan itu dan dalam waktu kurang dari lima minggu, secara mengejutkan, menyelesaikan Guernica.

Guernica, berukuran besar, tersusun dalam campuran hitam dan abu-abu dan putih, adalah sebuah gambar tentang suatu serangan udara. Panjangnya dua puluh lima kaki dan tingginya lebih dari sebelas meter.

Pada bulan Juli 1937, mural dipasang di pintu masuk Paviliun Spanyol di tengah kontroversi. Yang Kanan keberatan dengan materinya, sementara yang Kiri mendapatinya sebagai sesuatu yang tak jelas.

Sampai tingkat tertentu, kritik terakhir ini benar, tapi salah alamat. Guernica tidak memberikan petunjuk tentang apa yang terjadi di Spanyol pada saat itu. Tidak ada dalam mural yang menunjukkan di mana peristiwa ini terjadi selain kuda dan banteng, yang keduanya melambangkan budaya Spanyol. Kritikus seni John Berger menggambarkannya sebagai:

[Sebuah] pekerjaan yang sangat subyektif — dan dari sinilah kekuatannya berasal. Picasso tidak mencoba membayangkan kejadian sebenarnya. Tidak ada kota, tidak ada pesawat terbang, tidak ada ledakan, tidak ada referensi kapan harinya, tahunnya, eranya, atau di bagian sebelah mana Spanyol kejadian itu berlangsung. Tidak ada musuh yang digugat. Tak ada kepahlawanan. Namun karya itu adalah sebuah protes — dan orang akan tahu soal ini bahkan jika seseorang tidak mengetahui sejarahnya.

Sebagai gantinya, kita menemukan gambar yang tak lekang zaman — wanita jangkung, sang Madonna dan Anak-nya, seorang ibu yang menjerit, seorang bocah sempal, mayat tentara yang terluka, mayat korban luka yang terpotong-potong dan wajah terdistorsi, seekor kuda terpelintir yang menjerit kesakitan. Hanya lampu listrik yang mengingatkan kita akan modernitas.

Namun demikian, Guernica mencapai tujuan politik dan artistiknya. Picasso menciptakan sebuah protes yang membakar terhadap wajah baru perang dan kebrutalan fasisme. Mural tersebut menggambarkan penderitaan: tidak hanya penderitaan yang dialami Picasso saat mendengar berita dari Spanyol tapi juga penderitaan yang lebih universal. Guernica hampir segera menjadi legendaris, dan Berger menyebutnya “lukisan paling terkenal abad ke-20.”

picasso__guernica1352240376578

Memang, John Rockefeller mencoba membelinya, dan, ketika sang seniman menolak, dia membayar untuk membuat kreasi ulang di atas permadani. Cerita paling terkenal, reproduksi tersebut, yang telah dipajang di pintu masuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1985, ditutup dengan tirai biru besar pada tanggal 5 Februari 2003. Wartawan melaporkan bahwa pemerintahan Bush telah menekan pejabat untuk menyembunyikan permadani sebelum Sekretaris Colin Powell dan duta besar Perserikatan Bangsa-Bangsa John Negroponte tiba di sana untuk merilis kasus perang melawan Irak.

Guernica mungkin tidak secara spesifik mengenai Spanyol, melainkan tentang perang dan korbannya. Namun, melihat ke belakang, kita bisa menyetujui pernyataan ini. Mural itu juga tetap tak terelakkan tentang apa yang terjadi di Spanyol delapan puluh tahun yang lalu dan semua yang hilang di sana.

*

Pada bulan Februari 1936, Spanyol mengalami krisis ekonomi dan sosial yang parah. Sebagai tanggapan, para pemilih memilih pemerintahan Popular Front yang mewakili para republikan, para sosialis, para komunis, dan bahkan Partido Obrero de Unificación Marxista (POUM) — meskipun yang terakhir ini disebut sebagai “persekutuan tanpa masa depan.”

Organisasi pekerja anarkis paling berpengaruh, Confederación Nacional del Trabajo (CNT) dan Federación Anarquista Ibérica (FAI), melanggar semua praktik masa lalu dan meninggalkan seruan mereka untuk melakukan pemilihan umum, yang mereka slogani sebagai No Votad. Keputusan ini mengokohkan kemenangan Kiri, menimbulkan kekalahan yang memalukan untuk tengah dan Kanan.

Meski revolusi tidak ditentukan pemungutan suara, hasil pemilihan tersebut membantu membuka jalan. Pada pertengahan musim panas, sebuah negara berkekuasan ganda berkembang di Barcelona, jika tidak di seluruh Spanyol. Di pedesaan — Spanyol sebagian besar masih merupakan pedesaan —  kaum tani menguasai tanah milik yang luas dan mengkolektivisasinya; Di kota-kota, para pekerja mengambil alih pabrik dan pemerintahan.

Kemudian, pada bulan Juli, sayap Kanan —  kaum fasis menyebut diri mereka nasionalis —  menjawab: para jenderal memberontak. Pemberontakan tersebut dimulai di koloni Spanyol Afrika Utara, Maroko, di mana tentara tentara bayaran, legiun asing, dan orang-orang Maroko berhimpun sebagai pasukan mengejutkan kelas yang berkuasa. Segera, jendral fasis Francisco Franco memimpin, menyeberang ke Spanyol dan memerintahkan sebuah perjalanan ke utara, di mana, di Madrid, Barcelona, Malaga, dan pusat industri Asturias dan Katalunya, di saat para pekerja juga sedang dalam pemberontakan.

Di tempat-tempat ini, tentara memadu dengan para pekerja; Mereka memberontak, menyerahkan senjata mereka kepada kaum revolusioner, atau memerangkap di barak mereka. Para jenderal bermaksud bukan mencegah revolusi, malah memprovokasinya.

George Orwell tiba di Barcelona pada bulan Desember, bermaksud menulis artikel surat kabar tentang konflik tersebut, namun dia segera bergabung dengan milisi pekerja. Dia menemukan:

Praktis setiap bangunan dengan ukuran apapun telah disita oleh para pekerja dan ditutupi bendera merah atau dengan bendera merah dan hitamnya para anarkis; setiap dinding digambari palu dan arit dan dengan inisial partai revolusionernya; Hampir setiap gereja telah dijarah dan lukisan-lukisannya dibakar. Gereja-gereja di sana-sini dirobohkan secara sistematis oleh gerombolan pekerja.

Orwell mendokumentasikan ini dalam catatan klasik tentang revolusi dan kontrarevolusi, Homage to Catalonia, yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1938, namun baru pada tahun 1952 rilis di Amerika Serikat. Edisi Prancis tidak diterbitkan sampai lima tahun setelah kematiannya. Dalam buku tersebut, Orwell menggambarkan perubahan revolusioner yang telah terjadi di Barcelona:

Setiap toko dan kafe memiliki coretan yang mengatakan bahwa tempat ini telah dikolektivisasi; Bahkan tukang semir sepatu telah dikumpulkan dan kotak mereka dicat merah dan hitam. Pelayan dan toko-toko memandang wajah Anda dan memperlakukan Anda setara. Bentuk percakapan merendah dan bahkan seremonial untuk sementara telah lenyap. Tidak ada yang mengatakan “Señor” atau “Don” atau bahkan “Usted”; semua orang memanggil satu sama lain kamerad dan “Thou,” dan menyapa “Salud” bukannya “Buenos dias.”

Ini tidak bertahan lama. Pasukan Franco, yang sekarang didukung oleh tentara Jerman dan Italia, terus merangsek maju. Seiring kemenangan nasionalis, situasi di Republik menjadi semakin gawat — hanya pertempuran epik di Jarama dan Guadalajara yang menyelamatkan Madrid. Di sana, perlawanan heroik dari milisi Spanyol dan brigade internasional bisa menahan fasis, meski dengan pengorbanan besar. Ini, tragisnya, adalah kemenangan terakhir.

Kelas menengah menanggapi dengan menegaskan bahwa memenangkan perang harus diutamakan dan revolusi, jika memang demikian, nanti saja —  bisa belakangan. Revolusi, menurut mereka, merongrong usaha perang dan membuat intervensi imajiner dari Prancis atau Inggris tak mungkin tercapai.

Mereka menuntut agar angkatan bersenjata mengembalikan hierarki dan disiplin, sehingga milisi pekerja melucuti senjata, dan bahwa revolusi petani berakhir. Partai Komunis yang semakin besar dan kuat, mengikuti perintah Uni Soviet, mendukungnya.

Pada bulan April, bulan kesepuluh dari perang, Guernica, selama berabad-abad menjadi pusat identitas Basque, menjadi target skuadron pengebom Luftwaffe milik Hitler, ditambahi oleh beberapa pesawat dari fasis Italia. London Times melaporkan:

Guernica, kota paling kuno di Basque dan pusat tradisi budaya mereka, hancur total kemarin siang oleh serangan udara. Pemboman kota terbuka yang berada jauh di belakang garis yang diduduki tepat tiga jam dan seperempat, di mana armada pesawat terbang yang kuat yang terdiri dari tiga tipe dari Jerman, pesawat pembom Junkers dan Heinkel dan pesawat tempur Heinkel, tidak henti-hentinya menjatuhkan bom kota dengan berat 1000 lb ke bawah. . .

Pesawat tempur kemudian terbang rendah dari atas pusat kota yang dengan senapan mesin menembaki warga sipil yang berlindung di ladang. Seluruh Guernica segera terbakar kecuali Casa de Juntas yang bersejarah.

Serangan itu tidak mungkin terjadi pada masa yang lebih buruk bagi Republik. Sementara serangan fasis berlanjut, Partai Komunis menyerang secara militeris melawan POUM dan CNT. Lima ratus orang meninggal dalam pertempuran rumah-ke-rumah. Republik melarang POUM pada bulan Juni, dan agen Stalinis membunuh pemimpin partai tersebut, Andres Nin, segera setelahnya. Perdana menteri, Largo Caballero, pemimpin Partai Pekerja Sosialis Spanyol dan Confederación General del Trabajo (CGT) dipecat dari jabatannya. Meskipun Picasso melukis Guernica pada saat itu, dan itu pasti dibahas di dalam lingkarannya, lukisannya tidak memberitahukan pendapatnya tentang kejadian ini.

Pemerintah Jerman dan Italia menyerahkan kemenangan kepada Franco dan tentaranya, mengukuhkan sebuah pemerintahan fasis yang akan berlangsung selama tiga puluh enam tahun. Segera seluruh Eropa akan menjadi petaka.

*

Setelah Paris, Guernica dibawa ke Amerika Serikat untuk mengumpulkan donasi bagi para pengungsi Spanyol, yang pertama-tama diperlihatkan di San Francisco Museum of Art, lalu di New York di Museum of Modern Art. Picasso meminta agar tetap di New York untuk diamankan dan dikembalikan ke Spanyol hanya ketika demokrasi dipulihkan. Pada tahun 1981, mural tersebut pulang ke kampung halamannya dan sekarang dipasang di Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofia di Madrid.

Guernica mewakili contoh pertama perang jenis baru. Blitz mengikutinya, lalu Dresden dan pemboman Tokyo. Lalu Hiroshima. Pemboman Vietnam — sebuah negara yang hampir tak berdaya dari serangan udara — menyebabkan jutaan orang yang tewas. Sekarang kita telah menyaksikan Fallujah dan Aleppo dan Mosul, sementara sekarang Amerika Serikat membom tujuh negara secara bersamaan: Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, dan Libya.

Maka Guernica, sayangnya, selalu faktual, abadi, universal. Satu dekade yang lalu, T. J. Clark menyimpulkan dalam magisternya Picasso dan Truth dengan penghargaan ini untuk “prestasi menakjubkan” Picasso:

Hidup, sebut lukisan [Guernica], adalah sebuah nilai biasa, badaniah, sama sekali tak beralasan. Itulah yang manusia dan hewan miliki. Ada masa saat hidup, yang kita jalani tanpa berpikir, tapi juga ada saat kematian: keduanya mungkin tidak dapat dibandingkan, tapi manusia terutama — dari bukti penguburan Paleolitik manusia tampaknya mendefinisikan ciri — membentuk kehidupan mereka, secara imajinatif, dalam hubungan sampai mati. Mereka mencoba hidup dengan kematian — untuk menjaga agar kematian tetap ada, seperti nenek moyang yang tulang belulangnya mereka gali dan masukkan kembali.

Tapi beberapa jenis kematian mematahkan kontrak manusia itu. Dan ini salah satunya, terang Guernica. Hidup seharusnya tidak berakhir seperti di sini. Beberapa jenis kematian, dengan kata lain, tidak ada hubungannya dengan manusia seperti yang dipahami oleh Picasso — mereka tidak memiliki bentuk saat itu terjadi, mereka datang entah dari mana, waktu tidak pernah menyentuh mereka, mereka bahkan tidak memiliki tampilan malapetaka. Mereka adalah kecarutan khusus, dan kecarutan itu, ternyata, telah menjadi pengalaman sentral selama tujuh puluh tahun.

*

Diterjemahkan dari artikel Jacobin berjudul A Special Obscenity

Cal Winslow adalah direktur Mendocino Institute. Buku terakhirnya adalah River of Fire: Commons, Crisis and the Imagination dan E .P. Thompson and the Making of the New Left.

Kategori
Celotehanku

Bagaimana Si Pemalas ini Menerjemahkan Cerpen

benjamin

Terdengar aneh dan mungkin rada psikopat, mendapat keasyikan saat kepo nama-nama di daftar peminjam buku. Membayangkan seperti apa orang asing dari hanya namanya dan buku yang dipinjamnya ini, untuk kemudian mengetik namanya di Google. Sebagian info diri orang-orang asing tadi bisa ditelusuri, sebagian lainnya misteri – justru karena namanya yang pasaran.

Beberapa kali lihat daftar peminjam buku kumpulan cerpen Kineruku pasti nemu nama Anton Kurnia. Buat saya, namanya enggak asing. Dia seorang penerjemah sekaligus penyunting senior. Cerpen terjemahannya sering terbit di koran, yang saya ketahui karena sudah banyak yang diinternetkan. Novel dan kumcer terjemahannya lumayan bejibun. Ada kumcer terjemahannya yang tebalnya kabina-bina berjudul anagram angka setan, Cinta Semanis Racun: 99 Cerita Dari 9 Penjuru Dunia.

Saya membayangkan Anton Kurnia menerjemahkan selayaknya penerjemah. Maksud saya, seperti yang disebut John Berger sebagai penerjemahan sastrawi. Mempelajari kata-kata di satu halaman dalam satu bahasa dan kemudian menerjemahkannya ke bahasa lain di halaman lain. Meliputi yang disebut penerjemahan kata demi kata, dan kemudian adaptasi untuk menghormati dan menggabungkan tradisi linguistik dan aturan-aturan pada bahasa kedua, dan akhirnya kerja lainnya untuk menciptakan kembali “suara” yang setara dengan teks asli. Lebih jauh, menurut Berger, seorang penerjemah harus mampu menyuarakan apa yang ingin disuarakan sang penulis asal. Menerjemahkan adalah kerja keras.

Saya sendiri enggak ada niatan untuk jadi penerjemah, tapi kalau soal menerjemahkan iseng-iseng sudah biasa sejak 2015. Kalau dipikir-pikir, hasil terjemahan saya sudah cukup untuk dijadikan satu buku antologi. Malah, sempat juga ditawari untuk diterbitkan. Namun saya menolak, alasannya biarlah hasil terjemahan yang telah dipos di blog ini tetap bisa diakses gratis. Kecuali kalau persetujuannya saya disuruh menerjemahkan suatu novel atau cerpen-cerpen lainnya dan dijanjikan untuk diterbitkan. Tapi belum ada tawaran semacam itu. Jika menerjemahkan sebuah cerpen, saya gatal kalau hanya menyimpannya di laptop, inginnya langsung dipos agar bisa dibaca orang.

Soal hasil terjemahan, kalau saja Socrates dihidupkan lagi lewat jurus edo tensei, pasti dia bakal mendamprat saya. Bahasa yang enggak akurat bukan hanya salah, tegas Socrates sambil ngupil, tapi menunjukkan kejahatan jiwa seorang manusia. Ya, bagi saya sendiri, hasil terjemahan saya masih buruk. Pertama, bahasa Inggris masih cupu. Jika diadu dengan siswa kelas satu sekolah dasar Singapura, saya yang babak belur. Kedua, saya pemalas. Tingkat kemalasan yang tercipta atas perkawinan Kabayan dan kukang. Dua alasan tadi jika digabungkan menjelaskan kenapa hasil terjemahan saya jelek: saya memakai Google Translate.

Sebagian besar cerpen yang saya terjemahkan berasal dari acuan bentuk digital. Dari laman situs atau kumcer buku digital bajakan. Proses penerjemahan benar-benar penuh dosa. Biasanya saya akan menyalin satu paragraf penuh ke dalam Google Translate, dan memindahkan lagi hasil terjemahannya untuk kemudian dipoles per kalimatnya. Itu pun tanpa kerja ekstra, seadanya saja. Padahal niat saya menerjemahkan untuk melatih menulis.

Karena dipos di blog sendiri, tentu saja kuasa sepenuhnya milik saya. Enggak ada redaktur. Enggak ada yang mengoreksi dan mengkritisi, kecuali saya sendiri. Kebanyakan komentar malah berterimakasih karena telah menerjemah cerpen dan bilang hasil terjemahan saya bagus. Enggak jarang ada yang memuji dan menyanjung-nyanjung. Tentu saja, saya makin besar kepala.

Menurut Walter Benjamin dalam satu esainya di Illuminations: Essays and Reflections, adalah tugas penerjemah untuk melepaskan lewat bahasanya sendiri sebuah bahasa murni yang berada di bawah mantra orang lain, untuk membebaskan bahasa yang dipenjara dalam sebuah karya dalam penciptaan kembali karya tersebut. Dibutuhkan proses yang makan waktu. Saya hanya bisa memberi apologia bahwa saya penerjemah generasi milineal yang malas dan ingin cepat beres dan mudah terdistraksi polusi notifikasi.

Kategori
Catutan Pinggir

Menulis dan Menerjemahkan, John Berger

writing-is-an-off-shoot-o-012

Saya sudah menulis selama 80 tahun. Pertama surat kemudian puisi dan pidato, lalu cerita pendek dan artikel dan buku, sekarang catatan. Aktivitas menulis telah menjadi hal yang vital bagi saya; Ini membantu saya tetap waras dan terus melanjutkan hidup. Menulis, bagaimanapun, adalah pemotretan dari sesuatu yang lebih dalam dan lebih luas – seperti inilah hubungan kita dengan bahasa. Dan subjek dari catatan seuprit ini menyoal bahasa.

Mari kita mulai dengan memeriksa aktivitas menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Sebagian besar penerjemahan saat ini serba oleh mesin, sedangkan saya mengacu pada penerjemahan sastra: penerjemahan teks yang menyangkut pengalaman individu.

Pandangan konvensional tentang apa ini mengacu pada penerjemah atau penerjemah-penerjemah mempelajari kata-kata di satu halaman dalam satu bahasa dan kemudian menerjemahkannya ke bahasa lain di halaman lain. Ini meliputi yang disebut penerjemahan kata demi kata tadi, dan kemudian adaptasi untuk menghormati dan menggabungkan tradisi linguistik dan aturan-aturan pada bahasa kedua, dan akhirnya kerja lainnya untuk menciptakan kembali “suara” yang setara dengan teks asli . Kebanyakan – mungkin sebagian besar – penerjemahan mengikuti prosedur ini dan hasilnya layak, meski rendah mutunya.

Mengapa? Karena penerjemahan sebenarnya bukan persekutuan biner antara dua bahasa tapi urusan tiga arah. Poin ketiga dari tiga arah itu adalah apa yang ada di balik kata-kata dari teks asli sebelum naskah itu ditulis. Penerjemahan sejati menuntut kembali ke pra-verbal. Seseorang membaca dan membaca ulang kata-kata dari teks asli dengan alasan untuk menembus melalui teks tadi untuk menjangkau, untuk menyentuh, visi atau pengalaman yang mendorong terciptanya teks tadi. Seseorang kemudian mengumpulkan apa yang telah ditemukan di sana dan mengambil “sesuatu” yang tak terkatakan, yang bergetar ini dan menempatkannya di balik bahasa yang perlu diterjemahkan ke dalamnya. Dan sekarang tugas utamanya adalah membujuk bahasa kedua untuk masuk dan menyambut “sesuatu” yang menunggu untuk diartikulasikan ini.

Praktik ini mengingatkan kita bahwa bahasa tidak dapat direduksi menjadi kamus atau daftar kata dan frasa. Juga tidak bisa direduksi menjadi gudang karya-karya yang ditulis dalam bahasa tersebut. Bahasa lisan adalah sebuah tubuh, satu makhluk hidup, yang fisiognominya bersifat verbal dan fungsi viseralnya bersifat linguistik. Dan rumah makhluk ini adalah ketidakjelasan sekaligus kefasihannya.

Perhatikan istilah “bahasa ibu”. Dalam bahasa Rusia disebut rodnoy-yazik, yang berarti “terdekat” atau “lidah tersayang”. Pada keadaan darurat seseorang bisa menyebutnya “lidah sayang”. Bahasa ibu adalah bahasa pertama, pertama kali yang terdengar saat masih bayi.

Dan dalam satu bahasa ibu semuanya adalah bahasa ibu. Atau dengan kata lain – setiap bahasa ibu bersifat universal. Noam Chomsky dengan cemerlang menunjukkan bahwa semua bahasa – tidak hanya bahasa verbal – memiliki struktur dan prosedur tertentu. Jadi, bahasa ibu berhubungan dengan (berima dengan?) bahasa non-verbal – seperti bahasa isyarat, perilaku, akomodasi spasial. Ketika saya menggambar, saya mencoba untuk mengungkap dan menuliskan teks yang tertangkap dalam penampakan, yang sudah saya ketahui, yang tak terlukiskan namun tempatnya terjamin dalam bahasa ibu saya.

Kata-kata, istilah, ungkapan dapat dipisahkan dari khalayak bahasa mereka dan digunakan sebagai label-label belaka. Mereka kemudian menjadi lebam dan kosong. Penggunaan akronim yang berulang adalah contoh sederhana. Kebanyakan wacana politik arus utama saat ini terdiri dari kata-kata yang, terpisah dari khalayak bahasa manapun, yang tak berdaya. Dan “pengobralan-kata” yang mematikan itu menghapus ingatan dan menghasilkan kepuasan yang kejam.

Apa yang telah mendorong saya untuk menulis selama bertahun-tahun adalah firasat bahwa ada sesuatu yang perlu diceritakan, dan jika saya tidak mencoba mengatakannya, itu berisiko tak terkatakan. Saya membayangkan diri saya sebagai pemberhentian sementara daripada seorang penulis profesional yang konsekuen.

Setelah saya menulis beberapa baris, saya membiarkan kata-kata itu tergelincir kembali ke dalam bahasa mereka. Dan di sana, mereka langsung dikenali dan disambut oleh sejumlah kata lain, yang dengannya mereka memiliki afinitas makna, atau oposisi, atau metafora atau aliterasi atau irama. Saya mendengarkan pergumulan mereka. Bersama-sama mereka bersaing menggunakan kata-kata yang saya pilih. Mereka mempertanyakan peran yang saya berikan pada mereka.

Jadi saya memodifikasi baris, mengubah satu atau dua kata, dan memperturutkannya kembali. Pergumulan lain dimulai. Dan terus berlanjut seperti ini sampai terdengar gumaman rendah atas persetujuan sementara. Lalu saya lanjutkan ke paragraf berikutnya.

Pergumulan lain dimulai …

Orang bebas saja menempatkan saya sebagai seorang penulis. Bagi diri saya sendiri, saya anak haram jadah seorang sundal – dan kamu bisa menebak siapa sundalnya, ‘kan?

*

John Berger adalah seorang kritikus seni, penyair, pelukis, novelis dan penulis esai asal Inggris. Terkenal sebagai humanis Marxis. Novelnya, G., memenangkan penghargaan Man Booker Prize pada tahun 1972. Meninggal di usia 90 pada Januari 2017.

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

John Berger atau Seni Momotoran ala Komunitas Aleut

Riding has become a pas de deux.  Rider and road are partners dancing.  It can even happen that you fall in love.

  • John Berger

Kalau bulan bisa ngomong, dan motor bisa nulis. Sayangnya tidak. Kalau saja saya bisa merenungkan dan merumuskan pengalaman dan menuliskannya sebaik John Berger. Sayangnya belum. Tapi kalau sekadar berandai-andai, terus-terusan begitu, tak akan ada yang tercipta. Pengalaman momotoran tiap minggu selama sebulan kemarin hanya akan lenyap begitu saja. Tak akan ada yang tertuliskan.

Oke, pertama-tama siapa itu Berger? Singkatnya, dia itu kritikus seni, pelukis, novelis, dan penyair. Seorang intelektual dan humanis Marxis yang meninggal Januari 2017 kemarin, yang banyak pemikirannya akan terus hidup. Lalu apa hubungannya Berger dan motor? Dia juga seorang motoris. Tonton John Berger or The Art of Looking (2016), dan kita bakal melihat seorang aki-aki di usia 90 masih gagah naik motor gede Honda CBR1100XX alias Blackbird. Ini boleh diikuti atau tidak, saat tinggal di pedesaan Prancis, dia hobi membawa motor tadi di jalanan pegunungan Alpen dengan kecepatan tinggi. Yang pasti, beragam pemikirannya soal momotoran sesuatu yang enggak boleh dilewatkan.

Dalam Bento’s Sketchbook, Berger menyebut bahwa selama bertahun-tahun dia terpesona oleh hubungan paralel antara tindakan mengemudikan motor dan tindakan melukis. Hubungan itu mempesonanya karena bisa mengungkapkan suatu rahasia. Tentang apa? Tentang perpindahan dan penglihatan. Bahwa melihat membuat kita lebih dekat. Kamu mengendarai motor dengan matamu, dengan pergelangan tanganmu dan dengan bersandar pada tubuhmu. Matamu yang paling penting dari ketiganya. Motor mengikuti dan membelok ke arah apapun yang diarahkan. Ini menuruntukan penglihatanmu, bukan pikiranmu. Tidak ada pengemudi kendaraan roda empat yang bisa membayangkan ini. Jika kamu melihat dengan susah payah halangan yang ingin kamu hindari, ada risiko besar justru kamu akan menabraknya. Lihatlah dengan tenang jalan di hadapan dan motor akan menempuh jalan itu.

Berger juga menerangkan dalam Keeping a Rendezvous, bahwa momotoran mendekatkan kita dengan dunia. Sebabnya selain perlengkapan pelindung yang dikenakan, enggak ada apa-apa lagi antara kita dan dunia saat bermotor. Udara dan angin menekan langsung. Karena kita berada di atas dua roda dan bukan empat, kita lebih dekat ke tanah. Dengan lebih dekat berarti lebih intim. Membungkuk menghasilkan efek intim lainnya. Setiap garis kontur di peta yang kita lewati berarti poros keseimbangan kita ikut berubah. Persepsi ini bersifat visual tapi juga taktil dan ritmis. Seringkali tubuh kita tahu lebih cepat dari pada pikiran kita.

Lebih jauh, Berger menyebut momotoran sebagai pas de deux. Dansa berpasangan. Pengendara dan jalanan adalah mitra menari.

Saya enggak tahu di Eropa sana apakah ada touring motor dan Berger pernah ikutan atau tidak. Sudah bisa dipastikan, Berger belum pernah merasakan bermotor beriringan di jalanan di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Sebulan kebelakang ini Komunitas Aleut memang masih melakukan ngaleut tiap minggunya. Tapi aleut-aleutan dengan motor.

Saya setuju dengan pemikirannya bahwa dengan momotoran membuat kita lebih intim dengan dunia. Semakin sedikit perlengkapan pelindung yang dikenakan, justru makin membuat kita membumi. Tentu saja, keamanan tetap nomor satu. Tapi, setelah saya rasakan, hanya dengan memakai sandal jepit, jaket biasa bahkan cuma kemeja flanel, di sunblock serta body lotion dan barang bawaan seadanya malah membuat saya makin nyaman, bahkan aman. Karena secara psikologis merasa sedang momotoran di kampung sendiri. Meski saya sedang di Sinumbra, Agrabinta, Jampang, Bayah, Darangdan, Tanggeung, Sindangbarang, atau kawasan Priangan lain. Seperti warga lokal.

Enggak seperti kelompok touring motor lain yang seringnya meminggirkan yang lain saat kelompoknya lewat jalanan tertentu, dan biasanya dengan kecepatan edan, momotoran bersama di Komunitas Aleut justru menawarkan keselowan. Enggak sok jago, kecuali yang baru ikutan. Karena memang enggak ada yang jago. Yang paling nyeleneh, dengan hanya motor-motor biasa buat jalanan perkotaan, dan seringnya motor itu jarang diservis, justru doyan menguji kekuatan dengan sengaja memilih rute jalan terpencil dan yang bikin sinting. Masuk hutan, lewat tanjakan curam, turunan licin, melintas jalanan berlubang, berbatu, berlumpur, bahkan jalan yang enggak ada jalannya, dan asyiknya itu semua seringnya dilakukan pas gelap.

Jika Berger hanya bermotor sendiri, maka momotoran di Komunitas Aleut pasti bakal dapat pasangan. Pasangan yang mengisi jok belakang. Itupun kalau mencukupi. Soal pemasangan ini pun sangat politis. Biasanya malam sebelum keberangkatan, ditentukan siapa dengan siapa. Pegiat aktif yang luwes biasanya bakal dipasangkan dengan anggota baru. Tujuannya agar si anggota baru tadi kerasan, sehingga ikut lagi dan lagi. Bahkan, sudah jadi rahasia umum, pemasangan ini jadi semacam biro jodoh. Selain itu, lewat momotoran, kita bisa tahu sifat asli seseorang, karena dalam kondisi lelah secara otomatis topeng seseorang akan terbuka. Mana yang culas atau egois, dan mana yang memang benar-benar berkesadaran secara kelompok.

“Kemudian saya mulai melihat sesuatu yang tidak begitu konseptual namun fenomenologis, berkaitan dengan pengalaman,” ungkap Berger saat diwawancara di pameran lukisannya di London. “Kontur di peta, sungai-sungai, jalan-jalan, barisan pegunungan, mulai membentuk metafora tentang tubuh pengendara dan motornya. Dengan cara yang aneh kamu menjadi perjalanan yang telah kamu buat, sampai perjalanan yang akan dijalani selanjutnya. Kamu memakannya dan kamu memberakkannya; Perjalanan merasuk dalam tubuhmu.”