Kategori
Non Fakta

Naga Cina, Jorge Luis Borges

n2949

Kosmogoni Tiongkok mengajarkan bahwa Sepuluh Ribu Hal atau Arketip (dunia) lahir dari konjungsi berirama dari dua prinsip abadi yang saling melengkapi, yin dan yang. Yang termasuk yin adalah konsentrasi, kegelapan, kepasifan, angka genap, dan dingin; sementara yang, pertumbuhan, cahaya, aktivitas, angka ganjil, dan panas. Simbol yin adalah perempuan, bumi, warna oranye, lembah, dasar sungai, dan harimau; yang, laki-laki, langit, biru, gunung, pilar, naga.

Naga Cina, atau lung, adalah salah satu dari empat makhluk ajaib. (Yang lain adalah unicorn, phoenix, dan kura-kura.) Seringnya, Naga Barat menyebarkan teror; paling buruk, ia adalah sosok yang penuh olok-olok. Namun, lung dalam mitos Tiongkok adalah ilahi dan seperti malaikat yang juga seekor singa. Kita membaca dalam Catatan Sejarah Ssu-ma Ch’ien bahwa Konfusius pergi untuk berkonsultasi dengan arsiparis atau pustakawan Lao-tzu, dan setelah kunjungannya berkata:

Burung terbang, ikan berenang, binatang lari. Hewan yang berlari dapat ditangkap dengan sebuah jerat, yang berenang dengan sebuah jaring, dan yang terbang dengan sebuah panah. Tapi ada Naga; aku tidak tahu bagaimana dia menunggang angin atau bagaimana mencapai surga. Hari ini aku bertemu Lao-tzu dan aku dapat mengatakan bahwa aku telah melihat Naga.

Itu adalah Naga, atau Kuda Naga, yang muncul dari Sungai Kuning untuk mengabarkan kepada seorang kaisar soal diagram lingkaran terkenal yang melambangkan permainan timbal balik dari Yang dan Yin. Seorang raja memiliki di istananya pelana Naga dan anggitan Naga; seorang kaisar memakan Naga, dan kerajaannya makmur. Seorang penyair terkenal, untuk mengilustrasikan risiko kebesaran, menulis: Unicorn berakhir dengan daging mentah; naga sebagai pai daging.”

Dalam I Ching atau Kitab Perubahan, Naga menandakan kebijaksanaan. Selama berabad-abad ia adalah lambang kekaisaran. Tahta kaisar disebut Singgasana Naga, wajahnya adalah Wajah Naga. Saat mengumumkan kematian seorang kaisar, dikatakan bahwa ia telah naik ke surga di belakang Naga.

Imajinasi populer menghubungkan Naga dengan awan, dengan curah hujan yang dibutuhkan oleh petani, dan untuk sungai-sungai besar. ‘Bumi menggandeng naga’ adalah ungkapan umum untuk hujan. Sekitar abad keenam, Chang Seng-yu mengeksekusi lukisan dinding yang menggambarkan empat Naga. Para penonton mengeluh bahwa dia telah meninggalkan mata mereka. Terganggu, Chang mengambil kuasnya lagi dan menyelesaikan dua dari figur yang cacat. Kemudian ‘udara dipenuhi dengan guntur dan kilat, dinding retak dan dua Naga itu naik ke surga. Tapi dua Naga tanpa mata lainnya tetap ada di tempatnya’.

Naga Cina memiliki tanduk, cakar, dan sisik, dan tulang punggungnya terdapat duri yang menusuk. Biasanya digambarkan dengan mutiara, yang ditelan atau dimuntahkan. Di dalam mutiara ini terletak kekuatannya; Naga dijinakkan jika mutiara diambil darinya.

Chuang Tzu menceritakan kepada kita tentang seorang lelaki teguh yang pada akhir dari tiga tahun yang menyusahkannya dalam menguasai seni membunuh Naga, dan selama sisa hidupnya tidak diberi kesempatan untuk mempraktikkan seninya.

*

Diterjemahkan dari Chinese Dragon dalam The Book of Imaginary Beings dari Jorge Luis Borges. Makhluk mitos naga, meski terdapat perbedaan detail, baik di Barat atau Timur sama-sama mengimajinasikannya. Kita acuh soal makna naga, sebut Borges, seperti halnya kita acuh soal makna alam semesta. Ada semacam fenomana yang bisa digali dari imajinasi manusia.

Kategori
Non Fakta

Kematian Seorang Teolog, Jorge Luis Borges

vincent_van_gogh_-_van_goghs_bedroom_in_arles_-_google_art_project-1

Para malaikat menuturkan kepadaku bahwa ketika Melancthon wafat, dia diberi sebuah rumah yang menyerupai rumahnya di dunia ini. (Hal ini terjadi pada kebanyakan para pendatang baru di alam baka pada awal kedatangan mereka – itu sebabnya mereka tidak menyadari kematian mereka dan mengira masih berada di alam dunia.) Semua benda di kamarnya serupa dengan yang dulu pernah dimilikinya – meja, meja tulis berlaci, rak-rak buku. Begitu bangun di kediaman baru ini, Melancthon duduk di mejanya, memulai karangannya, dan berhari-hari menulis – seperti biasa – tentang pengampunan dosa melalui iman semata-mata, tanpa sepatah pun kata tentang amal. Pengabaian ini dipergoki oleh para malaikat, mereka mengirimkan utusan untuk menanyainya. “Aku telah membuktikan tanpa dapat disangkal lagi,” jawab Melancthon kepada mereka, “Bahwa amal tak mengandung apa pun yang hakiki bagi jiwa. Untuk meraih penebusan, iman saja sudah cukup.” Dia berbicara dengan penuh keyakinan, tanpa syak sedikit pun bahwa dia sudah mati dan jatahnya ada di luar Surga. Demi mendengar ucapannya itu, para malaikat pun pergi.

Setelah beberapa minggu, perabotan di kamarnya mulai mengabur dan lenyap hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa selain kursi malas, meja, kertas, wadah pena dan tintanya. Yang lebih parah lagi, dinding kamarnya menjadi berlabur kapur dan lantainya terlapisi beling kuning. Pakaian Melanchthon sendiri kini lebih kasar. Dia heran dengan perubahan ini, namun terus saja menulis tentang iman seraya mengingkari amal. Begitu ngototnya dengan pengesampingan ini sampai-sampai dia mendadak terjeblos ke semacam rumah tahanan yang dihuni kaum teolog seperti dirinya. Terpenjara selama beberapa hari, Melancthon mulai menyangsikan doktrinnya dan dia diperkenankan kembali ke kamarnya semula. Dia kini hanya terbungkus kulit berbulu, namun dia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru terjadi padanya tidak lebih daripada halusinasi. Dia kembali menyanjung iman dan meremehkan amal.

Pada suatu petang Melancthon merasa kedinginan. Dia mulai memeriksa rumah dan segera menemukan bahwa ruangan lain tak sama lagi dengan yang ada di rumah lamanya di alam dunia. Sebuah ruangan tampak berantakan diseraki alat-alat yang tidak dipahaminya: ruangan lain menyusut jadi sedemikian kecil hingga mustahil dimasuki; ruangan ketiga tidak berubah, tapi pintu-pintu dan jendelanya menghadap ke hamparan pesisir pasir yang luas. Salah satu ruangan di belakang rumah dipenuhi orang yang memujanya dan tak henti-henti mengatakan kepadanya bahwa tidak ada teolog yang sebijaksana dia. Puja-puji ini membuatnya senang, namun karena sejumlah tamu itu tak berwajah dan lainnya tampak seperti orang mati, akhirnya dia benci dan tak percaya kepada mereka. Di titik inilah dia memutuskan untuk menulis sesuatu tentang amal. Satu-satunya kesulitan adalah bahwa apa yang ditulisnya hari ini tidak bisa dilihatnya pada keesokan harinya. Ini karena halaman-halaman itu ditulisnya tanpa keyakinan.

Melancthon menerima banyak kunjungan dari orang-orang yang baru mati, namun dia merasa malu kedapatan tinggal di pondokan yang begitu buruk. Untuk membuat mereka percaya bahwa dia berada di Surga, disewanya tukang sihir setempat, yang mengecoh rombongan tamu dengan tampilan kesentosaan dan kemegahan. Begitu tamu-tamunya pergi – kadang tak lama sebelum pergi – riasan-riasan ini pun sirna, menyisakan plesteran dan keadaan berangin semula.

Kabar terakhir yang kudengar tentang Melancthon adalah bahwa tukang sihir itu dan salah seorang laki-laki tak berwajah melarikannya ke perbukitan pasir, di mana kini dia menjadi semacam hamba setan.

Dari Arcana Calestia (1749-1756)
oleh Emanuel Swedenborg

*

Ditulis ulang dari salah satu kisah dalam Sejarah Aib terjemahan Arif Bagus Prasetyo.

Kategori
Movie Enthusiast

12 Film tentang Penulis dan Kegamangannya

Kemanapun kamu menengok sejarah kebudayaan, sebut Umberto Eco, kamu akan menemukan daftar-daftar. Pemikir Italia ini emang sering bilang kalau daftar-daftar selalu menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya. Tapi alasan saya bikin daftar enggak semulia itu, iseng aja sih karena enggak ada kerjaan. Ditambah, saya bukan snob apalagi kritikus film yang kredibel.

Sebelumnya saya pernah bikin 7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya, dan sekarang saya bikin daftar yang lebih panjang. Karena yang panjang lebih panjang aja sih.

Following (1998)

Sebelum Memento, film yang menggebrakkannya, Christopher Nolan membuat debut yang mengesankan dengan film noir sederhana, pendek, tapi menawan ini. Lewat film berbiaya rendah ini, kita bisa mengetahui kalau Nolan sudah memusatkan perhatian pada tema sinematik favoritnya: obsesi. Following sendiri mengisahkan Bill yang seorang penulis muda belum jadi mencari inspirasi dengan menguntit orang-orang enggak dikenalnya di seputar London, untuk mengamati mereka. Sampai dia bertemu maling eksentrik dan malah jadi tangan kanannya. Pemuda penuh kebingungan dan penyendiri ini masuk jebakan.

The Hours (2002)

Nyonya Dalloway bilang kalau dia bakal beli sendiri bunganya. Cerita tentang bagaimana novel Mrs. Dalloway mempengaruhi tiga wanita berbeda generasi, yang kesemuanya punya keterikatan karena harus berhadapan dengan kasus bunuh diri dalam kehidupan mereka. Adaptasi dari novel karya Michael Cunningham. Virginia Woolf yang diperankan Nicole Kidman sedang dalam proses merampungkan Mrs. Dalloway. Pada 1951, Julianne Moore yang berperan sebagai seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil, merencanakan pesta untuk suaminya, dengan enggak bisa berhenti baca novel karya Woolf tadi. Di era sekarang, Meryl Streep berperan seorang wanita modern, versi Nyonya Dalloway masa kini, yang akan mengadakan pesta perayaan untuk temannya yang seorang penulis terkenal yang sekarat karena AIDS.

Sylvia (2003)

Cerita tentang hubungan sejoli penyair Ted Hughes dan Sylvia Plath. Plot dari kisah nyata sudah sesuai, suasananya sudah lumayan, dan pemandangannya indah, tapi Sylvia Plath butuh biopic yang lebih cemerlang. Penggambaran karakternya agak melenceng. Dengan hanya sedikit menyinggung puisinya, versi Gwyneth Paltrow ini kayak gadis paling menyebalkan di kelas, orang yang selalu membaca keseluruhan puisi misterius hanya untuk membuktikan betapa cerdasnya dia. Sekali lagi, Sylvia Plath butuh biopic yang lebih baik, lebih gamang dan lebih hampa.

2046 (2003)

Dia adalah seorang penulis. Dia pikir dia menulis tentang masa depan, tapi itu justru kenangan masa lalu. Dalam novel futuristiknya, sebuah kereta misterius sesekali menuju tempat bernama 2046. Setiap orang yang pergi ke sana memiliki niat yang sama – untuk menangkap kembali kenangan yang hilang. Konon di 2046, enggak ada yang berubah. Tapi enggak ada yang tahu pasti apakah itu benar, karena enggak ada orang yang pernah pergi ke sana dan kembali – kecuali seorang. Dia seorang. Dia memilih untuk pergi. Dia ingin berubah. Film ini sendiri adalah kelanjutan dari In the Mood for Love. Bagi saya, selain fatalisme romantiknya, yang paling saya nantikan dari film-film Wong Kar Wai adalah saat Tony Leung mengesap rokoknya. Begitu sinematik dan eksistensial.

Factotum (2005)

Apa saran Anda buat penulis muda? tanya seseorang pada Charles Bukowski. Mabok, ewean dan udud sebanyak-banyaknya, jawab penulis Amerika itu enteng. Film ini sendir berpusat pada tokoh Hank Chinaski, alter-ego dari Bukowski, yang menggelandang di Los Angeles, mencoba untuk menjalani berbagai pekerjaan, dengan prinsip enggak boleh mengganggu kepentingan utamanya, yaitu menulis. Sepanjang perjalanan, dia mengatasi beragam distraksi yang ditawarkan dari kelemahan-kelemahannya: wanita, minum-minum dan berjudi.

Capote (2005)

Mengambil tugas untuk menulis sebuah artikel untuk ‘The New Yorker’, Truman Capote ditemani Harper Lee pergi ke kota kecil di Kansas. Capote mempelajari kasus pembunuhan sekeluarga di sana dan tertarik untuk menuliskannya menjadi sebuah buku. Saat proses pembuatan novel nonfiksi berjudul In Cold Blood-nya itu, Capote membentuk hubungan akrab dengan salah satu pembunuhnya yang dijatuhi hukuman mati. Kinerja sentral Philip Seymour Hoffman yang berperan sebagai Truman Capote begitu memukau dan memandu sebuah reka cerita yang terbangun dengan baik dari periode paling sensasional dan signifikan dalam kehidupan penulis ini.

Roman de Gare (2007)

Novelis sukses diinterogasi di kantor polisi tentang hilangnya sang ghost writer-nya. Seorang pembunuh berantai melarikan diri dari sebuah penjara di Paris. Di jalan tol, seorang penata rambut dicampakkan di sebuah pompa bensin oleh tunangannya saat hendak bertemu dengan keluarganya. Seorang pria misterius menawarkan tumpangan padanya dan dia mengajak si pria misterius itu untuk akting jadi tunangannya selama 24 jam agar enggak mengecewakan ibunya. Siapa pria misterius itu dan apa yang nyata dan apa yang fiksi?

Eungyo (2012)

Ada yang pengen lihat sang pengantin Goblin bugil dan beradegan ranjang di atas tumpukan buku? Film ini sendiri memang debut dari seorang Kim Goeun. Menyontek premis cerita Lolita-nya Vladimir Nabokov. Penyair terhormat berusia 70 tahun punya murid berusia 30 tahun yang telah jadi penulis terkenal. Dunia kedua penulis tadi goyah karena datangnya seorang siswi sekolah menengah yang masih berusia 17 tahun, yang membangunkan pikiran dan hasrat seksual mereka. Eungyo.

Pod mocnym aniolem (2014)

Bukowski dan Nabokov terkenal sebagai penulis yang juga alkoholik. Film Polandia ini juga menyorot penulis serupa. Sebagai pengunjung yang sering mengunjungi pusat rehab, dia bertemu dengan sesama pecandu dari semua lapisan masyarakat dan latar belakang sosial.

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Harry Potter sudah kayak bubuk teh hijau, mau dibikin yang baru masih menjual. Ini sebuah spin-off yang melompat ke belakang untuk menjelajahi skena sihir tahun 1926 di New York. Seorang penyihir cum penulis muda British yang diperankan Eddie Redmayne tiba di kota ini sebagai bagian dari risetnya tentang binatang-binatang fantastis. Namun ia terjebak dalam konflik ketika beberapa makhluk magis dalam kopernya lepas secara tak sengaja. Film ini mengingatkan saya pada The Book of Imaginary Beings-nya Jorge Luis Borges.

Genius (2016)

Berdasarkan biografi “Max Perkins: Editor Genius”. Sebuah film cukup asyik tentang persahabatan yang kompleks dan hubungan profesional transformatif antara editor buku terkenal Maxwell Perkins dan raksasa sastra Thomas Wolfe yang berumur pendek. Perkins sendiri adalah editor yang membidani Ernest Hemingway dan F. Scott Fitzgerald.

Neruda (2016)

Seperti novel terakhir Tetralogi Buru-nya Pram, Jejak Langkah. Gael Garcia Bernal jadi seorang inspektur, seperti Pagemanann, yang bertugas memburu Pablo Neruda. Sang inspektur dan Neruda harus main kucing-kucingan. Tapi entah siapa yang jadi kucingnya. Neruda sendiri adalah seorang komunis romantis, penyair Chile berpengaruh yang memenangkan Hadiah Nobel, teman dari Pablo Picasso yang harus jadi buronan di negara sendiri karena pandangan politiknya. Film ini campuran menyenangkan dari dua genre berbeda: biopic dan noir.

Kategori
Celotehanku

Buku yang Terus Hidup

borges obra poetica

Ini seperti semacam olahraga otak, tapi bukan. Buku pertama yang saya dapat dari perempuan yang saya cintai dan yang tinggal bersamanya adalah sebuah buku yang ditulis Mircea Eliade. Saya masih tidak mengerti apa yang dia coba sampaikan. Siapapun itu, siapapun yang tidak lebih dungu, bakal cepat sadar kalau hubungan ini tak akan bertahan lama dan tak akan sampai pada jalan yang lebih mendingan untuk menjauhkan dirinya dari kemalangan. Saya tak bisa mengingat apa buku pertama yang ibu saya kasih. Yang bisa saya ingat adalah sebuah buku ilustrasi sejarah tebal, lebih sebuah komik, yang lebih mendekati Pangeran Valiant ketimbang Superman, tentang Perang Pasifik, perang antara Cile dengan aliansi Peru-Bolivia. Jika ingatan saya benar, jagoan di buku itu — semacam War and Peace yang masih dalam tahap pengembangan — adalah seorang sukarelawan yang mendaftar di Séptimo de la Línea, satu resimen infanteri terkenal. Saya akan selalu bersyukur karena ibu memberi buku itu ketimbang buku bocah klasik Papelucho. Sedangkan ayah, saya tidak ingat ia pernah memberi saya sebuah buku, walaupun kadang-kadang kami melintasi toko buku dan atas permintaan saya, dia akan membelikan sebuah majalah berisi satu artikel panjang tentang penyair-penyair elektrik Prancis. Semua buku-buku tadi, termasuk majalah, bersama dengan banyak buku lainnya, hilang selama petualangan dan pindahan saya, atau meminjamkannya pada orang dan tidak pernah melihatnya lagi, atau menjualnya atau menghadiahkannya.

Tapi ada satu buku yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan sebatas saya ingat kapan dan di mana saya saat membelinya, tapi juga sepanjang hari itu, orang yang menunggu saya di luar toko buku, apa yang saya lakukan malam harinya, dan kebahagiaan (sama sekali tidak rasional) yang saya rasakan ketika saya menggenggamnya di tangan. Itu adalah buku pertama yang saya beli di Eropa dan masih saya punya sampai sekarang. Itu Obra poetica-nya Borges, diterbitkan Alianza/Emecé pada 1972 dan sudah lama tak dirilis lagi. Saya membelinya saat di Madrid pada 1977 dan, meski puisi Borges tidak terlalu akrab bagi saya, saya mulai membacanya malam itu juga dan tak berhenti sampai pukul delapan pagi esok harinya, seolah-olah tidak ada sesuatu di dunia ini yang layak dibaca kecuali puisi-puisi itu, tidak ada hal lain yang bisa mengubah jalannya kehidupan liar yang telah saya jalani sampai saat itu, tidak ada hal lain yang dapat membuat saya merenung (karena puisi Borges punya kecerdasan alami dan juga keberanian dan keputusasaan — dengan kata lain, satu-satunya hal yang mengilhami permenungan dan yang mempertahankan puisi tetap hidup).

Bloom berpendapat bahwa adalah Pablo Neruda, lebih dari penyair lainnya, yang menjadi pewaris Whitman. Menurut Bloom, bagaimanapun, Neruda berusaha untuk menjaga agar pohon Whitmanian tetap tumbuh dan berakhir dengan kegagalan. Saya pikir Bloom salah, seperti yang sering terjadi, bahkan pada banyak topik lainnya, meski memang dia adalah kritikus sastra terbaik di benua kita ini. Memang benar bahwa semua penyair Amerika harus — untuk lebih baik atau lebih buruk, cepat atau lambat — dihadapkan dengan Whitman. Tanpa diketahui, Neruda melakukannya sebagai anak yang taat. Vallejo melakukannya sebagai anak pembangkang atau pemboros. Borges — dan ini adalah sumber keautentikannya dan kepalanya yang dingin — melakukannya sebagai keponakan, dan bukan hanya sangat dekat, seorang keponakan yang rasa ingin tahunya terombang-ambing antara minat entomologis dan semangat seorang pecinta yang gigih. Tidak ada yang lebih asing baginya daripada usaha untuk mengejutkan atau menyetir kekaguman. Tidak ada yang lebih acuh tak acuh terhadap massa Amerika yang luas, meskipun di suatu tempat dia menulis bahwa apa yang terjadi pada satu orang terjadi pada semua manusia.

Namun puisi Borges adalah yang paling Whitmanian dari yang lain-lain: Tema-tema Whitman selalu ada dalam sajaknya, seperti juga kontradiksi dan sanggahannya, kebalikan dan kepatuhannya pada sejarah, kepala dan ekor dari campuran bernama Amerika dan yang sukses atau gagalnya belum bisa diputuskan. Tapi dia tak sebatas itu, dan bukan prestasi kecil.

Saya mulai dengan cinta pertama saya dan Mircea Eliade. Dia masih hidup dalam ingatan saya; Orang Rumania telah lama diusir ke api penyucian dalam kejahatan yang belum terpecahkan. Saya berakhir dengan Borges dan dengan rasa syukur dan kagum saya, meski hati-hati untuk tidak melupakan baris dalam “Dekat Penghakiman Akhir,” sebuah puisi yang dibenci Borges: “Aku mengatakan keheranan saat orang lain mengatakan hanya hal biasa.”

*

Diterjemahkan dari The Book that Survives dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches, kumpulan tulisan dari Roberto Bolano.

Kategori
Non Fakta

Nu Lian, Jorge Luis Borges

image

Di Cambridge, bulan Fébruari 1969, kajadianna téh. Teu hayang nginget-nginget harita mah, sabab hariwang ku pipikiran sorangan, deuk dipopohokeun wé. Kari-kari ayeuna, sanggeus sakitu taun lilana, katimbang yén upama ku kuring didongéngkeun dina koran, tangtu baris kabaca ku balaréa minangka carita, tur sugan wé bakal jadi carita keur kuringna gé deuih. Ari nu kaalaman téh éstu matak ngagebeg – malah meunang sababaraha peuting mah hésé saré kawantu beuki gegebegan baé – tapi lain hartina mun didongéngkeun tangtu baris mangaruhan batur.

Harita téh kira pukul sapuluh isuk-isuk. Kuring diuk dina bangku panjang bari neuteup Walungan Charles. Lebah katuhu, kira lima ratusan yard anggangna, aya gedong jangkung ngajungkiring teuing gedong nanahaon. Es guruntulan ngarambang sapanjang wahangan anu caina kulawu. Anteng neuteup walungan, bet kajurung kana mikiran waktu – gambaran milénial Heraklitus. Peuting saméméhna saré téh tibra; kawantu beurangna di kelas asa geus hasil ngahudang karep barudak sangkan soson-soson. Taya saurang gé nu katénjo ngalanto.

Sabot keur kitu, ujug-ujug aya gerentes na haté (anu cék ahli élmu jiwa téa mah tumali jeung kacapé), ngalangeu kawas kitu téh asa kungsi ngalaman. Geus aya jalma deuih keur diuk dina tungtung bangku sabeulah deui. Kahayang mah nyorangan wé, tapi ku lantaran inget di kasopanan kapaksa henteu buru-buru nyingkah. Terus éta lalaki téh héhéotan. Nya éta pisan anu pangheulana ti antara pirang-pirang sora nu ngabaribinan katingtrim harita. Nu dihéotkeunana, atawa nu ku manéhna dicobaan héhéotanana téh (kuring mah teu metu kana lalaguan téh) wirahma tina “La tapéra”, milonga heubeul yasana Elias Regules. Ras ka buruan imah di Buénos Airés, nu geus lila sirna, ras deui ka alo, Alvaro Melian Lafinur, nu geus mangtaun-taun sah ti dunya. Laju kadéngé rumpakana. Bubukana. Sidik lain sora Alvaro tapi ukur tiruanna. Puguh wé reuwas.

“Punten, dulur,” omong kuring bari ngarérét ka éta lalaki, “dupi kawit ti mana, Uruguay atanapi Argéntina?”

“Argéntina, nanging ngumbara di Jenewa ti taun 1914,” walonna.

Lila paheneng-heneng. “Di Malagnou nomer tujuh welas – peuntaseun garéja Ortodok, sanés?” kuring nanya.

Manéhna unggeuk.

“Hih, ari kitu mah,” cékéng mani conggah, “hidep téh Jorge Luis Borges. Kapan akang gé Jorge Luis Borges. Ayeuna taun 1969, urang keur aya di kota Cambridge.”

“Is, lain,” pokan bari jeung sorana nyeplés kuring ngan rada dirobah. Ngahuleng heula, terus wé nyoroscos. “Kuring mah ayeuna keur di dieu, di Jenéwa, dina bangku panjang, tibang sababaraha léngkah ti Rhone. Ngan naha nya urang ber sarimbag, bédana téh akang mah leuwih kolot tur geus huisan.”

“Na da bisa ngabuktikeun yén akang mah teu bohong,” cékéng téh. “Geura nya urang tataan hal-ihwal anu pamohalan nu séjén mah nyahoeun. Di imah urang aya cangkir pérak anu dasarna digambaran oray sapasang. Beunang ngagaleuh Uyut ti Peru. Aya deuih baskom pérak ngagantung kana sadel paranti anjeunna. Dina lomari di kamar hidep aya buku dua jajar: Carita Sarébu Samalem beunang Lane tilu jilid, anu gambarna tina citakan waja tur dina unggal tungtung babna aya catetan maké aksara rarenyek; kamus Latin Quicherat; Germania-na Tacitus dina basa Latin katut tarjamahan Inggrisna ti Gordon; Don Quixote wedalan Garnier; Tablas de Sangre karangan Rivera Indarte, anu ditandatangan ku nu ngarangna; Sartor Resartus-na Carlyle; biograpi Amiel; jeung eta deuih, anu kahalangan ku buku-buku lianna téa geuning, aya buku anu jilidna tina keretas ngeunaan kabiasaan séksual urang Balkan. Moal poho deuih kana hiji peuting di lanté dua Place Dubourg.”

“Dufour,” manéhna menerkeun.

“Euh, enya – Dufour. Bukti pan?”

“Henteu,” walonna. “Nu bieu ditataan téh teu ngabuktikeun nanaon. Mun téa mah kuring keur ngimpi tepung jeung akang, lumrah wé upama akang apal cangkem kana eusining sirah kuring. Katalog akang bieu, sok sanajan sakitu ngambayna, éstu taya hartian.”

Bantahanana mani nyogok. Cékéng, “Mun téa mah paamprokna urang ayeuna di dieu ukur impian, tangtu urang kudu percaya yén urang téh pada-pada keur ngimpi. Bisa jadi urang geus lilir, tapi teu pamohalan masih kénéh ngimpi. Ngan anu sidik, nu kudu dipilampah ku urang taya lian iwal ti nampa éta impian sakumaha urang narima kana ayana jagat kalawan lahir, nempo tur engapan.”

“Kumaha mun ngimp téh kateterusan?” manéhna nanya bangun guligah pisan.

Keur mapalér haténa katut haté sorangan, kuring api-api kalem padahal saenyana mah teu kitu. “Tepi ka kiwari akang mah ngimpi téh geus tujuh puluh taun,” omong kuring. “Nu sidik, taya saurang gé jalma anu dina kaayaan lilir kungsi patepung jeung dirina. Nya éta pisan anu kaalaman ku urang ayeuna – kajaba mun téa mah urang téh dua jalma anu béda-béda. Na teu hayang nyaho kana pangalaman akang ka tukang, anu baris jadi pikahareupeun hidep?”

Manéhna teu ngomong sakemék bangun panuju. Kuring neruskeun cacarita, rada cus-cos. “Ema mah jagjang tur damang di bumina di Charcas jeung Maipu, di Buenos Aires, ari Apa geus ngantunkeun tilu puluh taun ka tukang. Ngantunkeun alatan kasakit jantung. Teu walakaya alatan hemiplegia; pananganna anu kiwa, upama nyabak anu tengen, badis leungeun budak jeung leungeun raksasa. Geus teu sabar hoyong geura-geura mulang sok sanajan teu nepi ka watara poé méméh mulang, anjeunna nyauran putra katut putuna sarta pok sasauran kieu, ‘Nini téh geus kolot, tur ayeuna keur nyanghareupan sakaratul maot lalaunan. Ulah aya saurang gé anu ngarasa sedih, da ajal mah geus lumrah dina kahirupan sapopoé.’ Adi hidep, Norah, geus kawin tur boga anak dua, lalaki kabéh. Ké lanan, kumaha béjana nu di imah?'”

“Calageur. Apa mah cara sasari wé teu weléh ngageuhgeuykeun agama. Peuting tadi mah anjeunna sasauran yén Yesus téh kawas gaucho, nu tara daek nohonan jangjina sorangan, nu matak ana hutbah sok ngadongeng.” Manéhna asa-asa tapi terus nanya, “Ari akang kumaha?”

“Teuing tah sabaraha judul buku nu ku hidep baris ditulis, ngan anu sidik réa pisan. Hidep baris nganggit puisi tepi ka ngarasa bungah sabab batur mah teu bisaeun, sarta baris ngarang carita anu sipatna pantastis kitu lah. Cara bapa hidep katut baraya urang, hidep baris ngajar deuih.”

Bungahna téh manéhna teu nanyakeun naha buku-buku karanganana baris mawa hasil atawa lasut. Kuring ngarobah jejer wangkongan sarta neruskeun cacarita, “Tah, patali jeung sajarah, aya deui perang, sasatna éta-éta kénéh ari nu paraséana mah. Perancis teu lila jayanya; Inggris jeung Amerika merangan diktatur Jérman anu ngaranna Hitler – perang tepung gelang di Waterloo. Di sabudeureun taun 1946 di Buenos Aires geus lahir Rosa nu séjén deui, anu sarimbag pisan jeung baraya urang. Taun 1955 propinsi Kordoba beunang ku urang, cara Entre Rios dina abad saméméhna. Kiwari kaayaanana kalah ramijud. Rusia ngarebut dunya; ari Amérika, alatan kajiret ku teluh démokrasi, taya ketak sangkan jadi hiji impérium. Ti poé ka poé téh nagara urang kalah beuki propinsial baé. Beuki propinsial tur beuki réa kahayangna – lir nu teu beunta. Akang mah teu sing ngarasa héran naon pangna pangajaran basa Latin di sakola kalah diganti ku pangajaran basa Guarani.”

Manéhna bangun nu teu pati ngabandungan. Jero-jerona mah aya kahariwang kana naon anu mustahil bari jeung mémang kitu kaayaanana, tepi ka manéhna guligah. Sok sanajan teu kungsi ngalaman boga anak, ka éta nonoman anu pikarunyaeun téh aya rasa nyaah – leuwih nyaah batan ka anak sorangan. Ningali manéhna nyenyepeng buku, kuring nanya buku naon téa.

The Possessed, atawa, keur kuring mah, The Devils, karangan Fedor Dostoevski,” walonna semu agul.

“Geus poho deui. Ramé dongengna?” Saharita kuring ngarasa yén nanya kitu téh ngahina.

“Maéstro Rusia,” manéhna nerangkeun, “anu moal aya nu mapakan lebah ngobét kaayaan labirin batin bangsa Slavia.”

Tina carana nyarita karasa manéhna geus palér. Kuring nanya nu mana deui buku sang maestro téh nu dibacana. Manéhna nyebut dua-tilu judul, antarana The Double. Kuring nanya deui naha enggoning macaanana bisa ngabédakeun kalawan écés tokoh-tokoh anu dicaritakeunana, cara dina karangan Joseph Conrad, jeungna deui naha aya maksud nalungtik karangan-karangan Dostoevski.

“Teu pati,” omongna bari kerung.

Kuring nanya, naon anu ku manéhna keur ditulis, tur manéhna nétélakeun yén keur nyusun buku puisi anu deuk dijudulan Himneu Beureum. Cenah mah deuih bisa jadi judulna téh Wirahma Beureum.

“Naon héséna?” cékéng. “Pan bisa wé nyutat nu aralus tina puisi-puisi nu geus aya. Sajak biru ti Rubén Dario atawa lalaguan kulawu ti Verlain.”

Manéhna teu panuju, sarta netelakeun yén bukuna téh deuk neundeun perhatian kana tali mimitran papada jalma. Para panyajak ayeuna mah cenah deuih teu daraék ngindung kana pajamanana. Sanggeus ngahuleng sajongjongan kuring nanya naha manéhna téh ngarasa jadi dulur sakumna jalma – upamana baé, sakabéh pangurus makam, sakabéh tukang pos, sakabéh tukang teuleum di laut, sakumna nu dumuk di sisi jalan, sakabéh jalma anu teu nyoara, jeung saterusna. Manéhna ngawalon yén bukuna téh ditujulkeun ka jalma réa anu katideresa tur kasingsalkeun.

“Jalma réa anu cék hidep katideresa tur kasingsalkeun téh saéstuna ukur abstraksi wungkul,” omong kuring.  “Ngan individu nu sidik aya mah – kitu gé upama bisa disebutkeun yén jalma téh aya. ‘Jalma kamari lain jalma kiwari,’ pan kitu cék urang Yunani gé. Urang duaan, nu ayeuna keur diuk dina bangku panjang di Jenéwa atawa di Cambridge, teu pamohalan ngabuktikeun hal éta.”

Kajaba dina lambaran buku sajarah, naon nu kungsi kajadian tur bisa dipikatineung téh henteu ngawajibkeun ayana ungkara panineungan. Nu nyanghareupan sakaratul maot sok nyoba-nyoba néang deui gambaran pangalamanana keur budak; soldadu nu miang ka pangperangan sok mikatineung taneuh beureum nu ngurungan komandanna. Estuning mibanda ciri mandiri kaayaan hirup urang téh jeung, balaka wé, urang saenyana mah teu siap nyanghareupanana. Cara ayeuna dikadarkeun ngawangkong tina perkara sastra; boa-boa naon anu ku kuring dikedalkeun téh sed saeutik ti nu ditepikeun ku kuring ka juruwarta. Alter ego kuring percaya kana pentingna ngotéktak atawa maluruhan métapor nu alanyar; kuring, dina éta métapor anu tumali jeung nu écés tur dalit dina diri, tur geus ditarima ku imajinasi urang. Umur nu ngolotan katut panon poé nu surup, impian katut kahirupan, galur waktu katut cai. Kuring ngasongkeun pikiran kitu, anu mangtaun-taun sabadana baris katulis dina buku. Manéhna teu pati ngaregepkeun. Ujug-ujug pok nanya, “Mun téa mah akang téh kuring, kumaha nerangkeunana yén akang geus mopohokeun paamprokna akang jeung lalaki nu leuwih kolot anu dina taun 1918 nyebutkeun yén manehna téh Borges deuih?”

Teu kapikir masalah beurat nu éta mah. “Bisa jadi éta pangalaman téh pohara ahéngna tepi ka teu diinget-inget,” walon kuring rada hamham.

Kawas nu panasaran, pok deui nanya semu éra, “Ari kitu kawas kumaha panineungan téh?”

Kuring sadar yén pikeun nonoman anu umurna tacan manjing dua puluh taun mah aki-aki anu umurna leuwih ti tujuh puluh taun téh geus bau taneuh. “Mimindengna mah méh-méhan pikun,” cékéng téh, “tapi masih kénéh bisa néang nu kudu ditéang. Akang diajar basa Inggris buhun, jeung teu kungsi tinggaleun.”

Wangkongan téh panjang teuing ari kudu disebut ngimpi mah. Ujug-ujug jorojoy aya nu kapikir. “Babari ngabuktikeunana yén hidep henteu keur ngimpi patepung jeung akang,” pok téh. “Geura bandungan ieu ungkara anu, sakanyaho mah, tacan kabaca ku hidep.”

Lalaunan kuring ngalisankeun hiji sajak anu kawentar. “L’hiydre-univers tordant son corps écaillé d’astres.” Cék pangrasa, ku manéhna kalandep. Manéhna malikan ngalisankeun éta sajak, sorana halon bari ngalenyepan kekecapan anu sakitu gugurilapanana.

“Rumasa,” pokna bangun hamham, “teu kaduga nganggit ungkara kawas kitu.”

Nya Victor Hugo anu ngaraketkeun kuring jeung manéhna téh.

Saméméhna, inget ayeuna mah, manéhna mani sumanget nyutat sajak pondok beunang Whitman anu ngedalkeun panineungan nu nyajak kana hiji peuting di basisir basa manéhna keur bungah.

“Whitman miéling éta peuting,” omong kuring, “ku lantaran hayangna kitu, tapi teu kungsi ari kajadian mah. Eta sajak téh karasa galeuhna upama urang ningalina minangka kedaling haté nu keur tibelat, lain sajak nu miang tina nu kungsi kajadian.”

Manéhna nyureng. “Teu wanoh ka nu nyajak ari kitu mah! Piraku Whitman ngabohong.”

Satengah abad téh lain waktu téréh-téréh. Sajeroning uplek ngomongkeun batur, buku-buku nu kungsi kabaca katut pangaresep anu béda, tétéla kuring jeung manehna teu bisa silih lenyepan. Sarua teuing tapi deuih pohara bédana. Kuring jeung manéhna teu bisa dalit, tepi ka hésé ngawangkong téh. Boh kuring boh manéhna pada-pada salinan anu teu sampurna. Kaayaanana téh geus kabina-bina ahéngna tepi ka pamohalan diteruskeun. Boh ngasongkeun saran boh nembrakkeun pamanggih geus taya gunana, ongkoh kalah kumaha baé ogé geus dikadarkeun manéhna kudu jadi kuring.

Bet ras kana pantasi ti Coleridge. Aya lalaki ngimpi lumampah ka sawarga tur di satengahing jalan aya nu méré kembang. Barang hudang, horéng enya aya kembang. Tah siasat kawas kitu nu kapikir téh. “Ké lanan,” cékéng téh. “Boga duit teu?”

“Aya,” walon manéhna. “Mésakan dua puluhan franc mah. Kuring ngondang Simon Jinchlinski pikeun dahar bareng di Crocodile engké peuting.”

“Bejaan Simon baris aya prakték kadokteran di Carouge jeung sing leuwih alus hasilna kituh. Cing sakencring mah.”

Kusiwel manéhna ngaluarkeun tilu kencring duit perak baradag katut nu laleutikna. Teu panjang pikir, song manéhna ngasongkeun récéh lima franc. Kuring ngaluarkeun duit keretas Amérika sababaraha lambar, anu sok sanajan béda-béda hargana ukuranana mah sarua; song dibikeun ka manéhna salambar anu teu pati katara. Manéhna nelek-nelek mani telik.

“Mustahil,” pokna mani curinghak tur nyelengkeung. “Ieu duit téh geuning titimangsana 1964. Aya ku pohara ajaibna nya, éstuning matak hélok ieu mah. Nu nyarakséni Lazarus hudang deui gé tangtu harémengeun.”

Jero pikir, aya nu robah saeutik gé diri kuring jeung manéhna téh. Bilatung buku onaman bisa robah référénsi. Duit keretas téh ku manéhna diképéskeun, kitu deui duit logamna disingkirkeun. Kuring gé hayang ngalungkeun duit logam téa ka walungan. Tikerlepna duit pérak ka jero cai walungan anu pulas pérak tangtu baris méré gambaran anu gugurilapan kana carita kuring, tapi untungna téh henteu nepi ka kitu. Cék kuring ka manéhna, upama hal-ihwal anu sipatna supranatural tepi ka kajadian dua kali, moal matak hélok deui. Kuring ngajak manéhna tepung deui isukna, dina bangku panjang éta kénéh, anu aya dina dua pajamanan tur dua patempatan. Manéhna panujueun pisan tur, bari teu ngilikan arlojina, nyebutkeun geus kalalanjoan. Boh kuring boh manéhna pada-pada akon-akon wungkul, tur pada-pada surti. Kuring nyebutkeun keur nungguan jalma nu geus pasini rék tepung.

“Aya nu rék nepungan akang?” pokna.

“Heueuh. Upama hidep geus saumur akang ayeuna, panon hidep baris bolor méhméhan lolong pisan. Tapi hidep masih kénéh bisa ningali warna konéng jeung cahaya katut kalangkang. Tong leutik haté. Poékeun téténjoan lalaunan mah lain bancang pakéwuh. Teu bina ti sandékala nu lila dina usum halodo.”

Kuring jeung manéhna papisah bari jeung sakali gé teu kungsi sasalaman pisan. Isukna kuring henteu datang deui ka dinya. Kitu deui manéhna pamohalan ka dinya deui.

Réa nu ku kuring diimpleng tina pangalaman harita, anu tepi ka kiwari teu dipatalikeun jeung sasaha. Kuring yakin geus manggihan koncina. Paamprok jonghokna mah nyata, tapi éta nonoman téa keur ngimpi basa manéhna uplek jeung kuring téh, nya ku lantaran kitu manéhna bisa mopohokeun kuring; ari kuring mah ngawangkong jeung manéhna téh dina kaayaan lilir, tur ku kituna nu aya dina panineungan téh terus matak guligah.

Nu lian ngimpi tepung jeung kuring, tapi saenyana mah manéhna téh teu ngimpi-ngimpi teuing. Kaharti ayeuna mah yén manéhna ngimpi tina perkara titimangsa duit dolar téa.

*

Jorge Luis Borges (ngalisankeunana: horhé luis borhés) lahir di Buénos Aires, Argentina, 24 Agustus 1899. Gedé di Eropah, tur ka kolotnakeun sok ngalanglang jagat, kaasup ka Jepang. Ngarang puisi jeung prosa maké basa Spanyol. Tilar dunya di Jenéwa, 14 Juni 1986.

 

 

Kategori
Non Fakta

Garuda, Jorge Luis Borges

c53a40080a659fbec3bd3614bf2fa6d1

Wisnu, dewa kedua dari tiga serangkai yang mengepalai panteon Hindu, selalu menunggang naga besar yang mendiami lautan atau di atas punggung Garuda. Wisnu digambarkan berwarna biru dan berlengan empat, masing-masing tangannya memegang gada, kerang, planit, dan teratai. Garuda adalah setengah burung hering dan setengah manusia, dengan sayap, paruh, dan cakar di satu bagian dan tubuh juga kaki manusia. Wajahnya putih, sayapnya merah cerah, dan tubuhnya emas. Patung Garuda, yang dibuat dari perunggu atau batu, disembah di kuil-kuil India. Satu ditemukan di Gwalior, didirikan lebih dari seratus tahun sebelum era Kristen di Yunani, Heliodorus, yang kemudian menjadi pengikut Wisnu.

Dalam Garuda Purana – salah satu dari banyak Purana, atau cerita kuno, dari pengetahuan Hindu – Garuda diuraikan dengan panjang lebar dari mula alam semesta, esens surya Wisnu, ritus kultus, geneologi silsilah raja-raja keturunan dari matahari dan bulan, plot Ramayana, dan berbagai topik ringan, seperti keahlian membuat ayat, tata bahasa, dan obat-obatan.

Dalam drama abad ketujuh yang diberi judul Keriangan Sang Ular dan dianggap karya seorang raja, Garuda membunuh dan setiap hari memakan ular (mungkin kobra bertudung) sampai seorang pangeran Buddha mengajarkannya nilai-nilai pantangan menahan nafsu. Dalam tindakan terakhir, Garuda yang telah bertobat tadi menghidupkan kembali lewat tulang-tulang dari banyak generasi ular yang telah ia makan. Eggeling menyatakan bahwa pekerjaan ini mungkin sebuah satir Brahmana pada Buddhisme.

Nimbarka, seorang mistikus yang titimangsanya belum pasti, telah menulis bahwa Garuda adalah seorang jiwa yang diselamatkan dalam keabadian, sama seperti mahkotanya, anting-antingnya, dan serulingnya.

*

Diterjemahkan dari satu bahasan Jorge Luis Borges dalam The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner.