Kategori
Celotehanku

Burung Murakami Berkicau di Klip Radiohead

“Ada satu buku yang aku baca, dari Murakami, The Wind-Up Bird Chronicles,” ungkap Thom Yorke saat ditanya Rolling Stone soal proses pembuatan album Hail to the Thief pada 2003 silam. “Tokoh utama dalam buku ini bukan seorang karakter sama sekali. Ini adalah soal kegelapan yang menyelubungi dan menghantui orang, yang menarik jatuh mereka. Kekuatan gelap dalam buku ini ikut memikatku.”

Sekarang sudah 2016, apakah kekuatan gelap tadi masih terikat pada diri seorang Thom Yorke? Entahlah. Tapi saat memutar lagu teranyarnya Radiohead di Youtube, ada sesuatu yang menarik, juga misterius, sebab terdapat penampakan burung biru berparuh kuning seperti dalam sampul The Wind-Up Bird Chronicles hasil desain dari John Gall. Burung itu bertengger di tangkai pohon, berkicau di awal dan penghujung klip video, mirip seperti cerita dalam novel terbaik Haruki Murakami tadi.

Kategori
Inspirasi

Ingin Jadi Penulis Hebat, Piara Kucing!

“Jika kau ingin menjadi seorang penulis novel psikologis dan menulis soal manusia,” sebut Adous Huxley dalam rangka memberi wejangan bagi penulis muda, “jalan terbaik yang dapat kau lakukan adalah dengan memiara sepasang kucing.”

Memang apa sih yang spesial dari kucing? Apa yang istimewa selain sebagai makhluk imut yang katanya punya sembilan nyawa ini? Nah, Ernest Hemingway menyebut: “Seekor kucing punya kejujuran emosional sebetul-betulnya: manusia, untuk beberapa alasan, dapat menyembunyikan perasaannya, namun kucing enggak.”

Kategori
Celotehanku

Science-Fiction ala Murakami

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World itu apa? Science-fiction? Fantasi?” tanya G.

No,” kata Bernard Batubara sembari tersenyum. “It’s just a Murakami novel.”

Karena sangat menyukai novel ini sampai-sampai Bang Bara nggak tahu novel itu harus digolongkan ke kategori yang mana, tulisnya dalam pos Haruki Murakami yang Tak Terkategorisasi. Bukan sastra, fantasi, science-fiction, atau apapun, hanya Novel Murakami.

Belum banyak yang saya baca, baru Dengarlah Nyanyian Angin, Kafka On The Shore, dan Norwegian Wood, serta beberapa cerita pendeknya, namun saya sudah bisa melihat pola dan merasakan nikmatnya menyelami karya-karya Murakami. Semua novel tadi saya baca versi terjemahannya, dan Hard-Boiled Wonderland and the End of the World inilah novel dalam bahasa Inggris pertama yang bisa saya nikmati. Saya awalnya pesimis bisa menamatkan novel dengan 400 halaman ini, mengingat sebelumnya harus susah payah dalam membaca The Metamorphosis-nya Franz Kafka yang cuma 50an halaman, itupun nggak paham betul ceritanya. Ajaibnya saya bisa melahap novel Murakami ini seperti sedang membaca novel berbahasa Indonesia saja.

hard-boiled wonderland and the end of the world haruki murakami

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World pertama kali dirilis di Jepang pada 1985 ketika Murakami berusia 36 tahun. Tema dan teknik penulisan di novel ini yang akan banyak ditemui di karya-karya Murakami selanjutnya, tentang perkawinan antara realitas kehidupan urban dengan surrealisme, fantasi, dan nuansa psychedelic. Juga tentang obsesi familiar Murakami soal novel klasik, musik, masakan, hewan dan area bawah tanah.

Selain Tokyo versi Murakami merupakan kota yang penuh bumbu magis, ini adalah kota yang telah diwesternisasi. Maksudnya kita bisa menemukan beragam alusi kebudayaan populer dari Amerika dan British. Supir taksi yang membicarakan The Police, pelayan rental mobil yang tergila-gila dengan Bob Dylan, percakapan soal novel-novel klasik, dan beragam referensi lainnya.

Ada dua plot cerita dalam novel ini, seperti yang bakal kita temukan juga di Kafka on the Shore dan 1Q84. Plot pertama bercerita tentang campuran antara kisah spionase dan fiksi ilmiah, dipenuhi dengan beragam tindak kriminal, intrik, dan teknologi-teknologi aneh yang latar tempatnya sendiri di Tokyo. Dengan menampilkan seorang Calcutec, pekerja yang bertugas dalam pengolahan, penyimpanan, dan rekayasa data, yang semuanya ini dilakukan melalui otaknya. Mengingatkan kita pada cerita Johny Mnemonic, saya bahkan membayangkan tokoh ‘Aku’ itu bertampang layaknya Keanu Reeves yang jadi aktor film adaptasinya yang dirilis tahun 1995 itu.

Alur cerita kedua menawarkan kisah fabel, mitologi, sekaligus psikologi analitisnya Jung. Berlokasi di sebuah kota bernama End of The World, dengan tokohnya sendiri yang harus meninggalkan bayangannya (dalam arti harfiah) dan diberi tugas untuk jadi seorang Dreamreader. Di dunia mimpi ini, semuanya ada, sekaligus nggak ada apa-apa. Sebuah utopia, sekaligus distopia.

Kedua plot tadi berhubungan satu sama lain, dalam kerangka realitas dalam sebuah realitas. Tokoh-tokoh di novel ini nggak diberi nama, seperti dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin. Ada professor, chubby girl, librarian, Gatekeeper, Colonel dan lainnya. Tapi pemaparan tiap tokohnya begitu detail, serasa sesosok yang asli.

Lantas apa genre dari novel ini? Sebenarnya saya sendiri tak terlalu mempermasalahkan bahwa novel ini harus dikategorikan ke salah satu genre atau bagaimana. Tapi kalau ditanya soal ini, saya akan dengan mudah mengatakan bahwa ini novel bergenre fiksi ilmiah, apalagi jika mengikuti plot cerita utama, sangat kental terasa. Kalau dalam film, Murakami ini adalah Christopher Nolan. Dia membuat film bergenre science-fiction semacam Inception dan Interstellar, dia juga bikin film superhero, The Dark Knight. Dan kita bisa merasakan bahwa film science-fiction dan superhero buatan Nolan sungguh-sungguh berbeda. Sama halnya dengan Murakami dalam novel. Lintas genre.

Tapi saya setuju sih dengan pendapat Bang Bara kalau ada yang namanya novel tak terkategorisasi, novel Murakami ini dan ya novel bagus biasanya memuat banyak ‘genre’ di dalamnya.

Kategori
Celotehanku

Berkenalan dengan Realisme Magis

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Begitu pula ketika menyelami Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan – yang notabene banyak terinspirasi dari Marquez dan penulis Amerika Latin lain yang hobi membenturkan pemaparan realisme dengan unsur fantasi. Nah, novel realisme magis inilah yang saya pilih untuk Kelas Resensi Buku Lisan Komunitas Aleut pekan ke-13. Dan dua minggu sebelumnya pun saya menunjuk novel dengan spesies sama dari Haruki Murakami, Kafka on The Shore.

Ah ternyata realisme magis sungguh lezat. Apalagi ketika mencicipi kedua novel tadi, saya sukses dibikin ngaceng berkat unsur stensilannya Eka dan hentai khas Murakami. Ajaib dan nyata!

***

Sabtu, 26 September 2015. Hari sedang senja dan bertepatan dengan Persib Day, sekitar sejam lagi menuju kick-off.

“Jadi sebagai pegiat Aleut, gimana kamu menanggapi Eka yang mengacak-acak sejarah di novelnya ini?” tanya pendiri dan editor Pandit Football Indonesia, yang sudah mafhum betul soal realisme magis kalau melihat artikelnya di detikSportObituari Gabriel Garcia Marquez: Surealisme Sepakbola Amerika Latin.

Duh. Satu kesulitan terbesar saya adalah mengolah yang ada dalam otak untuk diturunkan jadi bahasa verbal yang runtut. Ditambah lagi makin tertekan, karena Mang Zen sang penanya ini literary brother alias saudara seperguruannya penulis Beauty Is a Wound tadi.

“Justru Eka hendak mengolok-olok pemaknaan sejarah. Bahwa sejarah nggak melulu soal benar salah, hitam putih,” bacot saya, entahlah, lupa lagi redaksi kalimat aslinya, “malahan saya lebih percaya sejarah yang diceritakan dalam novel ini.”

kelas resensi komunitas aleut

Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Menulis sejarah versi alternatif pada zaman kekinian nampak rumit: versi buku sejarah, versi budaya lokal, versi pengalaman pribadi. Lalu, apakah sejarah hanya pantas menjadi tema sebuah karya realis, yang mesti menghormati “fakta sejarah”, dalam arti sang pengarang harus melakukan riset sebelumnya dan kebebasannya dalam membangun plot dan tokoh dibatasi “fakta sejarah” tadi?

Soal ini sudah dibahas oleh Katrin Bandel dalam esai ‘Pascakolonialitas dalam Cantik Itu Luka‘. Dan ya, realisme magis adalah gaya yang pas untuk diterapkan dalam sastra pascakolonial, seperti yang sering dipakai para penulis Amerika Latin. Karena di tengah konsep sejarah yang plural, cerita fantastis yang membingungkan justru menjadi sejarah paling otentik yang bisa ditulis. Sebenarnya, jauh sebelum Marquez dan kawan-kawan, kakek-nenek moyang kita pun sudah lebih dulu menggunakan gaya penceritaan realisme magis. Sebabnya penulisan sejarah adalah bagian dari konstruksi identitas, misalnya yang dilakukan penguasa untuk melegitimasi kemaharajaannya. Raja-raja masa silam sering mencitrakan silsilah bahwa dirinya keturunan dewa-dewi.

Tapi bukan penguasa saja yang berhak atas sejarah. Oleh sebab itu, Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi dan main-main. Setara dengan 100 Hundread Year of Solitude-nya Marquez yang mencitrakan Kolombia, lebih jauh menyoroti Amerika Latin. Realisme magis hadir untuk merayakan nuansa pertentangan dua pandangan dunia, antara yang rasional dan saintifik Barat, dengan yang mistis klenik asli Timur, antara yang dominan dan yang terpinggirkan.

***

“TIKET HABIS, RANDA BANYAK!”

“CALO SETAN!”

Sungguh, realisme magis bukan hanya berlaku dalam karya fiksi. Meski bukan Moconda-nya Marquez dan Halimunda-nya Eka, di Bandung yang sesungguhnya pun kegilaan dan keajaiban bisa terjadi, sepakbola lah sebabnya, utamanya Persib. Satu contoh kecilnya, seorang jomblo macam saya pun bisa berbahagia pada malam Minggu, ketika secara serempak antara Persib, Tottenham dan Barcelona meraih kemenangan. Serasa dapat bidadari bernama Devi Kinal Putri jatuh dari langit dan hinggap dalam pelukan.

Maca mah teu nanaon karya fiksi, tapi kabogoh mah ulah fiksi oge atuh.” Membaca boleh karya fiksi, tapi pacar jangan fiksi juga, sebuah nasihat yang dilontarkan esais yang pandai mengawinkan sepakbola dan sastra itu di malam Minggu yang lain. Sialan!