Kategori
Non Fakta

Poseidon, Franz Kafka

What makes something -Kafkaesque-- - Noah Tavlin - YouTube.MKV_snapshot_01.57_[2016.07.02_12.08.45]

Poseidon duduk di mejanya, melakukan beragam kerja perencanaan. Administrasi di seluruh perairan memberinya pekerjaan yang tak ada habisnya. Dia bisa saja mempekerjakan asisten, sebanyak yang dia inginkan—dan ia punya sangat banyak—tapi karena ia mengerjakan tugasnya sangat serius, ia pada akhirnya mengerjakan semua perhitungan dan perencanaan sendirian, dan karenanya asistennya yang banyak itu hanya sedikit membantu untuknya. Bisa dikatakan dia tidak menikmati pekerjaannya; ia melakukannya hanya karena itu tugas yang harus diembannya, pada kenyataannya, dia sudah mengajukan banyak petisi—seperti yang ia katakan—untuk kerja yang lebih ceria, tapi setiap kali tawaran akan sesuatu yang berbeda diberikan padanya itu hanya akan membuktikan bahwa tidak ada yang cocok baginya kecuali posisinya sekarang. Bagaimanapun cukup sulit untuk menemukan sesuatu yang berbeda untuknya. Intinya, tidak mungkin untuk menugaskan dia ke laut tertentu; selain dari kenyataan bahwa tidak akan ada pekerjaan yang lebih rendah dengan perancangan kecuali hanya tugas remeh-temeh rendahan, Poseidon yang agung tak bisa ditempatkan dalam posisi apapun kecuali menempati jabatan eksekutif. Dan ketika pekerjaan yang jauh dari air ditawarkan kepadanya ia akan sakit di bagian paling krusial, pernapasan istimewanya akan bermasalah dan dada kurang ajarnya mulai bergetar. Selain itu, keluhannya tidak benar-benar dianggap serius; ketika salah seorang dewa berlaku menjengkelkan harus dilakukan upaya untuk menenangkan dirinya, bahkan ketika kasusnya begitu tak ada harapan. Pada kenyataannya pergantian posisi tidak terpikirkan untuk Poseidon—ia telah ditunjuk Dewa Penguasa Samudera sejak awal, dan bahwa ia harus tetap di tempatnya sekarang.

Apa yang membuatnya begitu kesal—dan ini yang paling bertanggung jawab untuk ketidakpuasan pada pekerjaannya—adalah mendengar desas-desus yang terbentuk tentang dirinya: bagaimana ia selalu menunggangi ombak pasang dengan trisula. Sementara yang ia lakukan hanya duduk di sini di kedalaman dunia-laut, melakukan perancangan tanpa terputus, sejauh ini hanya perjalanan ke Jupiter sebagai satu-satunya rehat dalam kemonotonan—sebuah kunjungan, tepatnya, yang biasanya membuat ia pulang sambil marah-marah. Dengan demikian ia  praktis tidak melihat lautan—hanya melihatnya sekilas dalam perjalanan bergegas naik ke Olympus, dan bahkan ia tidak pernah benar-benar melakukan perjalanan di sekitarnya. Dia memiliki kebiasaan menggerutu bahwa apa yang sedang ia tunggu adalah kiamat; kemudian, mungkin, akan ada hadiah berupa waktu luang, tepat sebelum dunia berakhir dan setelah beres memeriksa baris terakhir dokumen perancangannya, ia akan mampu menikmati tur singkat kecil-kecilan.

Poseidon menjadi bosan dengan lautan. Dia membiarkan jatuh trisulanya. Diam-diam ia duduk di pantai berbatu dan seekor camar, yang tercengang akan kehadirannya, begitu menjelaskan kebimbangan yang berpusing dalam kepalanya.

*

Diterjemahkan dari Poseidon.

Kategori
Buku

The Metamorphosis + The Bell Jar = The Vegetarian

Mas mau tanya dong, kalo karya sastra korea itu masuk ke world literature work ga? Aku dapat tugas nih dari dosen buat analisis world short story, korsel itu masuk ga? Kang, kalau di Unpad ada jurusan Sastra Korea ga?

Salah saya sendiri sih, karena rajin mengkaji budaya pop Korea, dan meski bukan anak sastra, berani-beraninya menulis berbagai pos soal kesusasteraan dunia ala-ala Maria Popova di blog ini. Yang pasti, seperti ramalan seorang Eka Kurniawan: Mungkin saatnya menengok Korea tak hanya melalui K-Pop, tapi juga K-Lit mereka. Apalagi setelah kemenangan penulis asal Korea Selatan di ajang bergengsi Man Booker International Prize 2016, Han Kang dengan novel The Vegetarian-nya.

Saat pengumuman nominasi novel, saya menjagokan Man Tiger (Lelaki Harimau) dan The Vegetarian ini. Tapi saya omong sompral, dan sialnya intuisi saya selalu tepat, bahwa yang akan maju sebagai pemenang ya penulis perempuan dari negeri gingseng itu. Sialnya, Eka memang gagal menjadi bobotoh pertama yang meraih Man Booker International, dan kesialan lainnya adalah, enggak ada yang ngajak taruhan.