Kategori
Catutan Pinggir

Marx dalam Layar Sinema

undefined1

Sekelompok kecil petani dengan sikap awas mengumpulkan kayu di hutan. Kemelaratan dan keputusasaan tampak jelas di wajah mereka. Sang narator mengingatkan kita bahwa hukum telah mengubah tindakan bertahan hidup sederhana ini menjadi tindakan ilegal pencurian kayu. Para petani, merasakan ada ancaman, melihat sekeliling dengan gugup. Para penunggang kuda nampak di kejauhan.

Sang narator, mengutip Montesquieu, mengatakan bahwa ada dua jenis korupsi: yang pertama saat orang tidak mengikuti hukum dan yang lainnya saat hukum tersebut mengkorupsi rakyat. Penunggang kuda menyerang para petani dan dengan brutal menebas mereka.

Kita mengharapkan sebuah film tentang Karl Marx dibuka dengan para pekerja pabrik yang dieksploitasi yang bekerja keras dalam kesengsaraan industri abad kesembilan belas. Film baru Raoul Peck, The Young Karl Marx, memutuskan untuk memulai dengan adegan di pedesaan yang justru merupakan sentuhan biografis yang pas. Salah satu karya pertama Marx dalam jurnalisme (yang sang narator sampaikan) adalah penyelidikan pencurian kayu di Rhineland, sebuah pengalaman yang membuat sang lulusan filsafat ini berada dalam “posisi memalukan” — yang kemudian dia ingat — “ketika harus mendiskusikan apa yang sedang terjadi sebagai kepentingan material.”

Perhatian terhadap detail historis mencirikan film secara keseluruhan, dan membuktikan riset yang sangat sungguh-sungguh untuk menghasilkan film ini. Hasilnya adalah potret muda Marx yang menghibur dan secara mengejutkan komikal. Seorang teman, yang telah membaca Marx tapi tidak tahu banyak tentang kehidupan dan karakternya, menyebutkan bahwa menonton film tersebut sebagai pengalaman yang serupa seperti melihat band favorit Anda tampil langsung untuk pertama kalinya.

Film ini merentang kehidupan Marx dari tahun 1843 sampai 1848, sebagai seorang pemuda berusia pertengahan sampai akhir dua puluhan. Setelah sensor Prusia menutup surat kabar Cologne-nya, Marx dengan penuh semangat merangkul kesempatan untuk pindah ke Paris untuk memulai usaha jurnalistik baru. Di sana, dengan istrinya Jenny von Westphalen, dia melemparkan dirinya ke skena sosialis kota.

Dia segera bertemu Friedrich Engels, dan dalam salah satu rangkaian terkuat film ini, kita melihat bagaimana kedua pria mengatasi permusuhan awal mereka dan menapaki jalanan Paris untuk merayakan persahabatan mereka. Film ini kemudian mengikuti perjuangan bersama mereka melawan berbagai pemimpin sosialis kontemporer lainnya, yang berpuncak pada kolaborasi mereka dalam Manifesto Komunis.

The Young Karl Marx adalah salah satu dari sedikit adaptasi layar tentang Marx (berbeda dengan film-film dokumenter dan biografi tertulis yang banyak dan terus berkembang tentang si Lelaki Tua). Hal ini mengejutkan karena, dibandingkan dengan beberapa pemikir sejarah besar, Marx benar-benar menjalani kehidupan yang cukup menarik. Dia berpartisipasi dalam sebuah revolusi, tiga korannya ditutup, dan secara paksa diasingkan empat kali. Hubungannya dengan Jenny, sementara dirusak oleh kematian prematur dari empat dari tujuh anak mereka dan ketidaksetiaan Marx (mungkin), juga merupakan kisah cinta sejati. Setiap penulis naskah tampaknya bakal punya banyak materi.

Namun, sepengetahuan saya, hanya ada tiga adaptasi film panjang dari kehidupan Marx.

Duo sutradara Soviet Grigori Kozintsev dan Leonid Trauberg melakukan usaha pertama, pada awal 1940-an, hanya untuk membatalkan produksi tiba-tiba karena gagal menggambarkan Marx dan Engels dengan “rasa hormat yang cukup.”

Dengan demikian tidak sampai 1965 bahwa biografi Marx pertama muncul. Dua bagian God kak zhizn (Setahun Seperti Seumur Hidup) menggambarkan kehidupan Marx di tahun revolusioner dari tahun 1848 sampai 1849. Film ini mengumpulkan sesuatu dari sebuah tim impian, dengan salah satu aktor paling dicintai Rusia, Andrei Mironov, berperan sebagai Engels, Igor Kvasha yang terkenal sebagai Marx, dan musik oleh Dmitri Shostakovich. Namun, meski deretan bintangnya, ia gagal memiliki dampak yang langgeng dan turun sebagai salah satu torehan paling tidak mengesankan dari Shostakovich.

a-year-is-like-a-lifetime

Marx memakai topi kebebasan Jacobin di dalam God kak zhizn, 1965.

Upaya selanjutnya adalah drama hitam-putih Jerman Timur 1968 Mohr und die Raben von London (Mohr dan Gagak di London), berdasarkan buku anak-anak populer dengan judul yang sama. Film yang sangat mengasyikkan, menceritakan kisah Marx yang sangat fiksi tentang berteman dengan dua pekerja anak di London, Becky dan Joe, dan datang membantu mereka melawan pemilik pabrik yang kejam. Marx (mengacu pada julukan keluarganya “Mohr,” diberikan kepadanya karena kulitnya yang gelap) di sini digambarkan sebagai sosok paman yang bijaksana dan baik hati, yang, meski miskin, tidak segan membantu anak-anak London.

Seorang kritikus baru-baru ini menggambarkan film tersebut sebagai sebuah “kemegahan, keberuntungan dan keindahan yang tak terduga.” Film dan buku ini (yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah German Democratic Republic) tampaknya juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi kaum muda Jerman Timur terhadap Marx.

mohr

Joe mengajarkan Mohr (Marx) bagaimana mengupas bawang di Mohr und die Raben von London, 1968.

Adaptasi ketiga dan terakhir adalah serial mini tahun 1980 Karl Marks: Molodye gody / Karl Marx: Die jungen Jahre (Karl Marx: Tahun-tahun Permulaan), diproduksi oleh Uni Soviet dan Jerman Timur. Dalam tujuh episode satu jam, menggambarkan seorang Marx tua melihat kembali dirinya yang lebih muda di tahun 1835 sampai 1848.

Tak satu pun dari adaptasi ini memiliki banyak hal jika ada dampak pada khalayak di dunia kapitalis lanjut, dan versi subtitle bahasa Inggris (sejauh yang saya tahu) tidak ada. Sinema yang dulu disebut oleh Dunia Pertama sebagai subyek yang harus dihindari.

The Young Karl Marx jelas merupakan langkah maju adaptasi sebelumnya. Raoul Peck adalah sutradara berprestasi dengan beberapa film sayap kiri, termasuk Lumumba (yang mengikuti bulan-bulan terakhir pahlawan antikolonial Kongo) dan, baru-baru ini, I Am Not Your Negro (sebuah film dokumenter tentang James Baldwin yang menerima sebuah nominasi untuk film dokumenter terbaik di Oscar tahun ini). Peck juga memiliki latar belakang linguistik yang langka (dia lahir di Haiti, dibesarkan di Kongo, Prancis, dan Amerika, dan belajar di Jerman) untuk melakukan keadilan material, karena film tersebut beralih dengan cepat antara bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris (mencerminkan Marx dan surat-surat trilingual Engels satu sama lain).

Di bawah arahannya, Marx (diperankan oleh August Diehl) dihidupkan kembali dan lebih manusiawi ketimbang adaptasi sebelumnya yang tidak berani lakukan. Jauh dari para aktivis intelektual dan politik yang hebat dari produksi Soviet dan Jerman Timur, Marx ditunjukkan merokok, minum, muntah, dan berhubungan seks. Diehl (mungkin paling dikenal oleh khalayak non-Jerman karena perannya dalam Inglourious Basterds dari Quentin Tarantino) berhasil menangkap secara simultan kecerdasan, energi, dan gairah Marx yang luar biasa, serta semburan kemarahan dan kesombongannya yang sering diperbuat.

Diehl disertai dengan penampilan mengagumkan dari dua hubungan pribadi inti Marx, dengan Vicky Krieps sebagai Jenny dan Stefan Konarske sebagai Engels. Krieps dengan meyakinkan dan penuh perasaan menyampaikan sifat cinta kasih dari pernikahan mereka dan peran yang dimainkannya dalam kegiatan politiknya, dan penggambaran yang luar biasa dan diselingi oleh Diehl dan Konarske yang sangat menghibur hampir pasti mengundang perbandingan dengan genre bromance. Konarske mengeluarkan kontradiksi latar belakang borjuis Engels (meskipun karakter playboy sebenarnya yang lebih menyenangkan, hilang). Penonton juga cenderung menikmati penggambaran penuh semangat pasangan Irlandianya Mary Burns (Hannah Steele).

Salah satu elemen yang lebih mengejutkan dari Young Karl Marx adalah sejauh mana ia menyelami dunia komersil politik komunis yang rumit. Pertarungan Marx dan Engels dengan Pierre-Joseph Proudhon, Wilhelm Weitling, dan Karl Grün semuanya diberi waktu layar yang panjang.

Pada penayangan pertama saya, fokus pada sengketa ini tampak esoteris, dan penggambaran karakter itu sedikit kekanak-kanakan. Tapi kesan ini melunak untuk kedua kalinya saya menonton film tersebut, karena penonton sepertinya mengikuti pertengkaran politik tanpa banyak kebingungan dan menghargai interaksi lucu tersebut.

Secara sinematis, film ini disyut dengan indah, meski terbilang konvensional dalam penceritaan. Kita mungkin, misalnya, telah melihat Marx, dengan teknik break the fourth wall, menjelaskan langsung kepada penonton soal materialisme historis (teknik yang sangat berpengaruh dalam The Big Short). Atau melakukan perjalanan ke pertemuan klub pekerja parau, menciptakan kembali energi intelektual dan politik Paris tahun 1840-an.

Berakhirnya film ini juga secara aneh berakhir saat Revolusi 1848 pecah, sehingga menghilangkan waktu Marx sebagai editor surat kabar radikal terkemuka dan masa-masa Engels berjuang melawan barikade. Tahun-tahun berikutnya Marx di pengasingan di London juga sudah matang untuk dieksplorasi, dengan keluarga yang menanggung kemiskinan, kematian, dan pengkhianatan perkawinan. Mungkin Peck berharap sebuah film yang sukses bisa membuat sekuel The Middle-Aged Marx dan The Old Marx agar menjadi mungkin.

The Young Karl Marx kemungkinan akan menghibur para penonton bioskop sayap kiri di seluruh dunia. Ini disambut antusias oleh penonton pada pemutaran perdana bulan Februari di Berlin International Film Festival (yang meliputi sebagian besar pemimpinan Die Linke, Partai Kiri Jerman). Pemirsa yang kurang berpolitik cenderung terkesan dengan humor Marx, yang mungkin bisa membantu menghilangkan citra seorang pria tua dengan janggut. Film ini juga, saya bayangkan, akan memainkan peran edukasi yang berguna di masa depan sebagai iringan yang meriah untuk sajian tentang Marx.

Singkatnya, para sosialis yang berkomitmen dan penonton film kebanyakan memiliki alasan untuk menantikan film ini. Peck dengan jelas ingin membawa cerita Marx ke khalayak yang lebih luas, dan dengan The Young Karl Marx, dia berhasil.

*

Diterjemahkan dari Marx on the Silver Screen.

 

Kategori
Catutan Pinggir

Apakah Pembajakan Sebuah Perlawanan Radikal?

mueller_issue_75-2

Sempat jadi pahlawan bagi bangsa, bajak laut beralih dari jawara yang disponsori negara menjadi gangguan yang masih bisa ditoleransi sampai akhirnya jadi kriminal paling hina. Henry Morgan diberi gelar bangsawan setelah merompak Panama pada tahun 1674; lima puluh tahun kemudian ratusan bajak laut menjuntai di tiang gantungan di pos-pos perdagangan terpencil di sepanjang Pesisir Emas Afrika.

Kenapa berubah?

Perubahan itu bukan seluruhnya karena apa yang bajak laut perbuat tapi lebih karena konteks yang berkembang: sebuah ekonomi pasar global dengan Inggris di puncaknya. Inggris beralih dari daerah terpencil ke sebuah kerajaan kapitalis dalam satu abad, dan karena kemakmurannya berubah — atau lebih spesifik lagi, karena cara mengubah kemakmurannya — maka berubah juga cara negara memperlakukan pembajakan.

Ada saatnya ketika menjarah emas Spanyol untuk memenuhi kas Sang Ratu Inggris yang minim; dan saat lainnya ketika bajak laut mengancam akan mengganggu sistem sirkulasi yang semakin padat dan ketat di Samudera Atlantik, yang telah menjadi pusat ekonomi Inggris. Gula, tembakau, budak — komoditas ini perlu dipindahkan dan dipertukarkan semulus mungkin. Bajak laut mewakili ancaman ganda bagi pabrik di Samudra Atlantik dalam kapitalisme awal itu. Mereka bukan hanya pencuri; mereka juga bebas.

Menjadi pelaut tidak pernah mudah, dan ini sangat sulit apalagi pada abad ketujuhbelas dan kedelapan belas. Untuk memaksimalkan keuntungan, pelaut dipaksa untuk makan makanan busuk dan tidur seadanya di tempat yang berdempetan, dan dibayar secara kredit – Anda tidak mendapat bayaran sampai Anda menyelesaikan kontrak satu, dua, atau tiga tahun Anda. Bahkan kemudian, Anda mungkin tidak mendapatkannya. Ada kemungkinan Anda bakal mati. Atau Anda mungkin dipindahkan ke dinas militer, atau dipaksa bekerja beberapa tahun ekstra di kapal lain, atau kehilangan upah Anda sebagai hukuman atas perbuatan kurang ajar.

Tidak jarang pelaut berangkat selama satu dekade tanpa pernah menerima shilling. Kapten kapal memiliki otoritas mutlak atas kru mereka untuk menegakkan disiplin. Setiap keluhan atau penghinaan bisa dianggap “memberontak,” dan hukuman bisa berkisar dari dicambuk atau digantung di sisi kapal agar otak Anda terembesi air laut.

Kapal bajak laut berbeda — mereka berada di bawah kontrol pekerja yang demokratis. Kapten bukan penguasa mutlak, tapi pemimpin terpilih yang memerintah hanya selama pertempuran. Operasi sehari-hari ditangani secara demokratis oleh seluruh kru. Hasil rampasan dibagi rata dan segera, dan bajak laut makan — dan minum — lebih baik daripada orang sezaman mereka yang taat hukum. Inilah alasan utama mengapa bajak laut ditakuti: mudah untuk meyakinkan pelaut yang dieksploitasi untuk bergabung dengan mereka. Dan bergabunglah mereka.

Kru bajak laut adalah poliglot, kerumunan multiras (ini bukan istilah Michael Hardt dan Antonio Negri; ini adalah istilah yang bekerja saat itu) yang mencakup orang Irlandia yang tertindas, budak yang kabur, penganut bidah dari Prancis, dan anggota kelompok penduduk asli Karibia. Bajak laut berasal dari seluruh Atlantik dan Mediterania, dan sebagian besarnya kulit hitam dan mulatto, yang seringnya punya peran kepemimpinan. Marcus Rediker mencatat dalam Villains of All Nations bahwa enam puluh orang dari seratus awak Blackbeard berkulit hitam.

Bajak laut tidak hanya menjarah kapal; mereka menerapkan keadilan mereka sendiri di seberang Atlantik. Saat membajak kapal, bajak laut mewawancarai kru tentang kapten mereka. Jika si kapten dikatakan oleh krunya sebagai seorang yang kejam, para perompak bisa memukuli atau mengeksekusinya; Jika si kapten adil, mereka memperlakukannya dengan baik dan terkadang mereka melepaskannya dengan menyisakan sedikit uang.

Terkadang keadilan mereka puitis, seperti saat para bajak laut mengomando budak, mempersenjatai orang-orang Afrika yang tertangkap dengan pisau, lalu mengirim kapten malang itu kembali dengan cara yang menyenangkan. Perompak juga menyimpan dendam, menyerang pos perdagangan dan kota di mana pihak berwenang telah mengeksekusi kawan mereka. Setelah seorang kapten bajak laut dieksekusi di sebuah benteng budak Portugis, Walter Kennedy menyerbu benteng tersebut, merebutnya, dan membumihanguskannya. Bukan kebetulan banyak kapal bajak laut berisi kata “Revenge” sebagai nama mereka.

*

“Laut diberikan oleh Tuhan untuk penggunaan Manusia, dan ditundukan oleh Dominion dan Kepemilikan. . . Hukum Bangsa-Bangsa tidak pernah memberi mereka sebuah Kekuatan untuk mengubah Hak Milik.”

  • Hakim Nicholas Trott di persidangan Stede Bonnet dan krunya, 1718

“Sejujurnya mengabdi di sana ada ruang makan kecil, upah rendah, dan kerja menyiksa; sementara di [pembajakan], kecukupan dan kekenyangan, kesenangan dan kemudahan, kebebasan dan kekuatan; dan siapa yang tidak bisa melunasi kreditur di sisi ini, bila semua bahaya dituntaskan, yang terburuk yang bisa terjadi, hanya terlihat dengan muka masam karena tersedak.”

  • Kapten bajak laut Black Bart Roberts, sekitar tahun 1720

“Pembajak-pembajak modern yang dipermasalahkan dalam proses pengadilan ini tidak memakai topi tricorn dan mengekstrak barang rampasannya dengan memotongnya dengan pedang pendek, tapi dengan mouse dan internet. Meski demikian, pencurian harta benda mereka sama menguntungkannya dengan saudara mereka di zaman keemasan bajak laut.”

  • Hakim Distrik Mark Bennett, setelah memberi putusan maksimal sebesar $ 4 juta kepada perusahaan pornografi Private Media Group dalam pembajakan online, 2012

“Tinggal bajak saja.”

  • Game desainer Notch memberi saran kepada penggemar Minecraft yang tidak mampu membeli versi penuh, 2012

*

Pembajakan media, praktik lumrah streaming acara TV saat ini atau mengunduh sebuah mp3, nampak sangat jauh dari pergulatan hidup mati perompak di laut lepas. Tapi sejarah pembajakan media di AS mirip dengan bajak laut.

Pada masa awal republik ini, yang tidak memiliki perjanjian hak cipta internasional, pemerintah AS mendorong pembajakan sastra klasik Inggris untuk mempromosikan literasi. Penulis seperti Charles Dickens mengeluh namun tak ada guna; tidak sampai sastra Amerika berhasil mengejar kualitas dan daya tarik, penulis seperti Mark Twain dan Harriet Beecher Stowe membujuk pemerintah AS untuk memberlakukan hak cipta.

Pada masa mereka, Amerika Serikat telah menjadi pusat kekuatan ilmiah dan budaya dengan sendirinya, dan ia berusaha melindungi keuntungannya dengan memberlakukan hak kepemilikan lebih ketat daripada sebelumnya. Penerbit buku yang pernah membanjiri benua itu dengan salinan karya sastra besar yang murah harus diatur.

Perubahan serupa telah terjadi di zaman kita sekarang. Paten, hak cipta, dan merek dagang adalah perangkat hukum yang mengubah musik, film, dan obat-obatan menjadi “kekayaan intelektual.” Pelanggaran pernah ditolerir, atau setidaknya kompromi berhasil dilakukan. Biaya tambahan kecil yang dibuat dengan harga tiap kaset adalah upeti ribuan mixtapes bajakan yang dibayarkan ke kartel industri rekaman.

Tapi di era internet, belum ada kuota yang diberikan. Remix fans segera dihapus dari web, meskipun mereka berada di bawah penggunaan wajar yang dilindungi undang-undang. Seorang nenek berganti jadi Badai Rita dan seorang ibu tunggal penyandang cacat telah diteror dengan tuntutan hukum; Operator muda NinjaVideo dituntut dan diberi hukuman penjara hanya karena menautkan – bukan meng-hosting – materi yang dilindungi hak cipta.

Sama seperti demonisasi dan pemberangusan bajak laut Atlantik berasal dari semakin pentingnya perdagangan maritim, tindakan keras terhadap pembajakan tidak hanya terkait dengan kekayaan industri manapun seperti musik atau film, namun juga nasib sistem ekonomi seluruhnya. Kekayaan Intelektual menghasilkan 80 persen dari pendapatan bersih korporasi-korporasi AS dan 60 persen dari ekspor mereka.

Hak-hak ini mengamankan aliran upeti dari mana pun obat-obatan yang kita beli, dimanapun perangkat lunak yang kita gunakan secara legal, dimanapun film-film Hollywood ditayangkan, dijual kembali, atau dipintal ke barang franchise. Inilah yang disebut “ekonomi pengetahuan”, sebuah istilah yang kurang menunjukkan kapitalisme global secara keseluruhan daripada posisi Amerika dalam pembagian kerja internasional.

Pembajakan telah menjadi bagian dari Internet sejak ia meninggalkan batas-batas kompleks industrial-militer dan memasuki dunia perdagangan. Begitu orang menguasai media baru, mereka mulai melakukan semua hal yang salah dengannya, bereksperimen dengan penghujatan, pornografi, dan radikalisme politik. Begitu juga dengan internet. Begitu tersedia perangkat lunak komersial, sekelompok sukarelawan yang terorganisir dan terorganisir muncul untuk menghancurkannya. Mereka adalah perompak piranti lunak, dan dalam dialek mereka, mereka menyebut barang-barang mereka “warez.” Mereka menyebut diri mereka Scene.

Pembajakan, penggunaan properti pribadi dalam bentuk pelanggaran hak cipta, mengancam ekonomi ini, seperti halnya perompak Atlantik yang mengancam budak-kapitalisme pada awal abad kedelapan belas. Dan sumber ancamannya identik: pekerja-pekerja krusial dalam industri tersebut.

Kelompok pembajak perangkat lunak paling awal adalah sekelompok programmer terampil dan penggila komputer yang menguji sendiri kemampuan reverse-engineering pada perangkat lunak paten, meng-“crack” dan mengubahnya menjadi “warez”, yang dapat digunakan oleh siapa saja yang mengunduhnya. Banyak dari individu-individu ini berasal dari industri perangkat lunak itu sendiri, di mana mereka dibayar rendah, tidak mendapat tantangan, atau merasa tidak mendapat kepuasan diri. Mereka menemukan pemenuhan mereka dalam berkolaborasi dengan orang lain untuk merilis warez lebih cepat daripada kelompok pembajak lainnya. Model organisasi ini telah menyebar ke pembajakan online media lain, seperti film dan musik.

Dalam semua kasus ini, alat-alat produksi, begitu mereka berada di bawah kontrol pekerja, digunakan melawan industri itu sendiri. Sama seperti perompak tua menggunakan kapal-kapal komando melawan perdagangan Atlantik, perompak online menggunakan infrastruktur tempat kerja mereka untuk menyimpan dan meng-host informasi yang mereka bebaskan.

Pada tahun 2004, Fox Entertainment mendapapti enam karyawan yang bikin hosting film di server Fox untuk grup warez. Studio film penuh dengan film-film bajakan yang dialirkan ke torrent. Pekerja industri musik tingkat rendah (termasuk jurnalis) adalah sumber kebocoran musik pra-rilis yang paling sering. Industri budaya jarang mengungkapkan bagaimana barang mereka masuk ke Internet sebelum mereka masuk toko – sangat memalukan untuk mengakui bahwa pekerja Anda menyabotase Anda.

Hanya sedikit di skena warez menghasilkan uang dari pembajakan mereka. Sebagai gantinya, mereka membanggakan motivasi nonkomersial mereka, yang mereka kontra dengan motivasi industri perangkat lunak. Mereka melakukannya untuk status di komunitas mereka, dalam gema novel utopis Edward Bellamy Looking Backward, di mana pekerjaan dipisahkan dari upah, dan insentif berasal dari lencana yang mencerminkan usaha seseorang.

Pembajak secara sadar begitu politis. Mereka membenarkan diri mereka sendiri dengan menolak sebuah industri yang melepaskan produk jelek dengan harga tinggi – industri yang mempekerjakan banyak dari mereka – dan mereka juga akan memberi tahu Anda bahwa mereka akan membeli produk yang mereka sukai. Tapi mereka tidak perlu melakukannya. Keputusan mereka untuk membeli berakar pada etika, bukan karena kebutuhkan. Dan Karl Marx pernah mengingatkan kita, ranah kebebasan dimulai di mana ranah kebutuhan berakhir.

Inilah perbedaan mendasar antara kapitalis dan bajak laut. Kapitalis menumpuk. Pembajak mengarsip. Seorang kapitalis menginginkan keuntungan dari penjualan setiap komoditas dan akan menciptakan kelangkaan untuk mendapatkannya. Pembajak bekerja untuk menciptakan ruang umum yang luas, mengumpulkan banyak konten, sebagian besar terlalu lindap untuk digunakan oleh banyak orang. Pembajakan menghancurkan nilai tukar, dan tidak terlalu mengindahkan perhatian pada penggunaan nilai.

*

Pada awal abad kedelapan belas, bisnis dan kerajaan menghasilkan strategi untuk menghancurkan bajak laut: kekerasan publik yang ekstrem. Kapal bajak laut diburu dan lusinan bajak laut digantung, atau dikirim untuk mati “secara perlahan” melakukan kerja kasar di salah satu koloni. Dari Ghana ke Virginia, mayat membusuk dari bajak laut yang dieksekusi dirantai ke pos perdagangan sebagai peringatan kepada yang lain. Contoh brutal telah ditetapkan. Dan begitulah hari ini.

Kim Dotcom pendiri Megaupload, seorang pria gemuk yang kelihatan norak dengan wajah bayi dan sebuah plat lisensi yang mengatakan “bersalah”, telah menata dirinya sebagai semacam penjahat komikal, sebuah gabungan dari semua orang yang suka dibenci. Dia secara efektif berfungsi sebagai wajah kekaisaran pembajakan: peretas amatiran cum orang kaya baru yang kelebihan berat badan yang akhirnya mendapat hukuman melalui keadilan macho ala Paman Sam.

Sangat mudah membenci Kim Dotcom sehingga Anda hampir lupa bahwa AS meyakinkan pemerintah Selandia Baru untuk mengirim sebuah brigade penyerbu, tanpa surat perintah yang sah namun dilengkapi dengan senjata otomatis dan helikopter, untuk menangkap seorang warga Finlandia atas permintaan studio Hollywood. Jika Kim Dotcom tidak nyata, FBI, dengan bantuan MPAA, akan mengada-adakannya.

Megaupload, satu situs terbesar untuk streaming media bajakan, jadi off-line pada bulan Januari 2012. Musim kedua Game of Thrones ditayangkan dari bulan April sampai Juni tahun ini, dan lebih banyak pemirsa menyaksikannya secara tidak sah di laptop daripada di HBO. Layanan hosting baru, dan kompiler tautan yang mengaturnya, terus bermunculan. Menghentikan satu alur Game of Thrones, atau bahkan seluruh situs hosting; menghentikan selusin atau seratus yang seperti mereka dan episode yang sama akan tetap muncul di tempat lain, mirip dengan ular naga hydra, karena banyak pembajak terus melakukan perang desentralisasi melawan properti.

Hydra adalah metafora pilihan yang digunakan otoritas untuk melawan segala macam bentuk perlawanan yang penuh kekerasan dan pengamanan terhadap properti umum bersama pada abad-abad awal kapitalisme. Petani yang melepaskan diri dengan merusak lahan-lahan, gelandangan merampok orang kaya, tokoh agama yang egaliter memberitakan penghancuran hierarki, para penulis menghujat gereja-gereja negara bagian, budak membunuh tuan mereka. Kaum penguasa berbicara tentang kebutuhan untuk memanggil seorang Hercules untuk memulihkan aturan, melalui teror negara, untuk menghancurkan binatang-binatang ini.

Saat ini, subversi kekayaan intelektual adalah salah satu kepala hydra, menghembuskan racun dan menggemerutukkan giginya dengan keras. Ini memiliki kemampuan yang terbukti untuk mengurangi surplus yang dibutuhkan modal untuk reproduksinya. Dan ini terjadi dalam skala yang jauh lebih besar daripada mengalirkan sinetron kolosal populer dari HBO.

Pemerintah-pemerintah nasional melakukan pemberontakan terbuka melawan dominasi IP Amerika Serikat: India telah memberikan lisensi wajib pada obat-obatan yang dipatenkan, yang secara efektif meniadakan klaim kepemilikan oleh perusahaan farmasi. Sektor barang konsumsi China terdiri dari tiruan merek desainer yang semakin realistis. Parlemen Eropa telah menolak perjanjian ACTA yang berat, undang-undang telekomunikasi represif terbaru yang membuat industri konten terdorong pada pilihan yang semakin skeptis. Jika modernitas di kidul global selalu bersifat pembajakan, bertentangan dengan kebutuhan dan keinginan perusahaan di negara-negara kaya, hal itu semakin meningkat di seluruh dunia.

Meski pembajakan adalah garis depan dalam perjuangan melawan kapitalisme, namun hal itu tidak dengan sendirinya “radikal.” Secara struktural antagonis terhadap kepemilikan pribadi, namun dengan cara yang kontradiktif.

Kim Dotcom adalah contoh nyata dari pembajak kapitalis; Google dan provider telekomunikasi, yang menuai keuntungan dari pencarian dan bandwidth yang diambil oleh pembajakan, bisa dianggap sebagai yang lain. Skena warez dan percabangannya dalam buku, film, dan musik sebagian besar terdiri dari profesional kerah putih yang jarang sekali menentang kapitalisme (kadang-kadang hanya untuk menentang “korporatisme” dalam fantasi khas Amerika tentang bisnis kecil dan pasar independen tanpa monopoli) .

Partai Perompak, yang lahir dari penekanan situs torrent yang berpihak pada properti yang terbuka, The Pirate Bay, menunjukkan naif politiknya dalam optimisme teknologinya yang tidak waras dan penghinaan anggotanya terhadap antirasisme dan antiseksisme. Partai Perompak AS dengan cerdik melepaskan raison d’être miliknya sendiri, tidak mengakui pembajakan itu sendiri!

Tapi semuanya bisa berubah. Anonymous dengan cepat beralih dari para berandal online ke dalam gerakan Brigade Merah dalam Occupy, membuat ketakutan pada polisi yang tertangkap memukuli pemrotes. Baru-baru ini, kelompok tersebut men-deface situs web pemerintah Jepang sebagai tanggapan atas undang-undang anti pembajakan yang kejam.

Meskipun ini perkembangan yang membesarkan harapan, kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa tidak ada yang bisa dihindari mengenai kemunculan politik anti-kapitalis, pembajakan atau apapun itu. Tapi segala yang menyebarkan teror ke dalam hati orang kaya dan berkuasa harus disambut dengan penuh hormat.

***

Diterjemahkan dari artikel Jacobin berjudul Gimme the Loot.

Gavin Mueller adalah Ph.D dalam studi budaya di George Mason University. Disertasinya meneliti pembajakan media global dari perspektif buruh dan perjuangan buruh. Selain berada di dewan editorial Jacobin, dia juga terlibat di Viewpoint Magazine, sebuah jurnal teori Marxis.

Kategori
Celotehanku

Menguliti Ideologi dan Sebagainya dan Sebagainya

theylive2

Sudah sering saya mendengarkan ceramah yang disampaikan para ustadz tentang bahaya laten neoliberalisme dan kapitalisme, yang sering juga membawa-bawa komunisme. Tentu saja, saya setuju, ada sesuatunya dalam ideologi-ideologi itu. Sayang, yang mereka bahas terbatas masalah spiritual dan moral, serta sangat permukaan.

Ideologi bukanlah doktrin politik yang dikodifikasi menjadi “isme-isme,” melainkan fantasi-fantasi dan kepercayaan-kepercayaan yang mendasari berfungsinya suatu masyarakat. Ideologi sangat keseharian. Dalam The Pervert’s Guide to Ideology (2012), Slavoj Žižek ingin menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai kenyataan selalu dibentuk oleh ideologi: ideologi adalah apa yang membuat pengalaman kolektif yang tak berbentuk terbaca.

The Pervert’s Guide to Ideology adalah tur melalui berbagai film, dengan Žižek hadir bukan hanya sebagai narator, tapi juga sebagai pemeran aktif dalam adegan. Perawakannya kayak para pemikir radikal berjanggut abad ke-19. Zizek membatasi pakaiannya dengan kemeja ala proletar dan jins biru, dengan sesekali berganti ke korduroi. Tanpa jas atau dasi. Žižek berbicara bahasa Inggris dengan kecepatan tinggi dengan aksen unik, dan gestur tubuh yang kadang bikin gemes. Žižek mengulas berbagai topik, dari Kekristenan, Coca-Cola, Starbucks, pemberontakan, komunisme, Kinder’s Joy, konsumerisme, dan sebagainya, dan sebagainya. Alih-alih memegang popcorn, mungkin kita harus mencatatnya.

https://www.youtube.com/watch?v=5Ch5ZCGi0PQ

“Saya makan dari tempat sampah setiap saat,” tegas Žižek membuka film ini. “Nama tempat sampah ini adalah ideologi. Kekuatan material ideologi yang membuat saya tidak melihat apa yang sebenarnya saya makan.”

Dia memulai dengan film karya John Carpenter yang sangat sesuai dengan tema besarnya. They Live (1988) adalah pelajaran paling baik dalam kritik ideologi. Diceritakan seorang pria menemukan sekantong kacamata hitam ajaib di sebuah gereja yang ditelantarkan. Ketika dia berjalan-jalan di Los Angeles dan melihat sekeliling lewat kacamata tadi, sebuah papan reklame iklan komputer yang tampak enggak berbahaya berubah jadi cuma tulisan “OBEY”, iklan lain yang menunjukkan pasangan yang berlibur di pantai jadi “MARRY AND REPRODUCE”. Iklan, majalah mode, dan berbagai visual menjadi “STAY ASLEEP”, “WATCH TV”, “NO THOUGHT”, “CONSUME”. Uang jadi “THIS IS YOUR GOD”.

Film Carpenter dengan demikian menggambarkan sesuatu yang diyakini Žižek: bahwa di balik makna permukaan yang begitu jelas terselip tekanan-tekanan dan keharusan-keharusan tersembunyi. Orang-orang selalu salah mengetahui realitas sosial mereka. Žižek kembali ke formulasi Karl Marx dalam Kapital: mereka tidak mengetahuinya, tapi mereka melakukannya.

Untuk membuatnya lebih konkret, ide Marx adalah bahwa masyarakat terus berfungsi seperti apa adanya, orang-orang terus melakukan apa yang mereka lakukan (tanpa pemberontakan atau protes), karena mereka enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar; mereka memiliki “kesadaran palsu” atau “pemahaman salah” tentang apa yang sedang mereka lakukan.

Gara-gara Stalin, Pol Pot, dan kamerad-kameradnya, Marx sebagai pemikir visioner sering dideskritkan. Kenapa pula Yesus dan Muhamad, yang pengikutnya, atau oknumnya, jadi pembantai, enggak diperlakukan sama kayak Marx? Kutipannya tentang agama adalah candu itu yang pasti bikin geram kaum agamawan – yang kalau saja dipandang dari sudut lain, justru ini otokritik. Pemikiran tersebut sesungguhnya sangat relevan hingga hari ini, agama tersebut bernama kapitalisme lanjut. Kita semua seagama di bawahnya.

Kritik dari garis Marx dan pemikir-pemikir turunannya tentu sangat tepat. Khususnya teori fetisisme komoditas Marx yang menjadi landasan dan terus menjadi materi yang ditambahkan dan disesuaikan oleh pemikir-pemikir setelahnya. Teori fetisisme seksual Sigmund Freud yang terkenal namun tidak terkait menimbulkan interpretasi baru tentang fetisisme komoditas, sebagai jenis hubungan seksual antara seseorang dan objek buatan. Žižek berada dalam tradisi Freudo-Marxisme ini.

Žižek sangat terpengaruh Jacques Lacan, seorang psikoanalis Perancis yang perspektif mutakhirnya mendominasi dalam psikiatri dan psikologi Prancis. Pengaruh Lacan telah menciptakan pemupukan silang baru antara gagasan Freudian dan Marxis. Kembali ke The Pervert’s Guide to Ideology, salah satu kekuatan besar dari film ini adalah karena memberi kesempatan kepada penonton untuk mendiskusikan pertanyaan teoritis yang kompleks dengan menggunakan bahasa film yang populer. Enggak semua orang akan merasa nyaman membicarakan Lacan yang njelimet, tapi lewat film Jaws (1975)?

Žižek berpendapat bahwa film propaganda Nazi sama seperti Jaws-nya Steven Spielberg, atau film apa pun, karena penonton diundang untuk memusatkan semua ketakutan dan kecemasan mereka pada satu penjahat, atau semua harapan mereka pada satu jagoan. Jaws adalah konglomerasi sederhana dari ketakutan dan kecemasan kolektif kita semua.

Kemampuannya untuk mendekonstruksi sinema, mengikat karya-karya individu dengan jiwa kolektif kita serta konstruksi politik dan budaya yang lebih luas, tentu sesuatu yang menarik. Sebagian besar dari apa yang Žižek sampaikan dalam film ini dapat ditemukan di berbagai bukunya, khususnya Violence, First as Tragedy Then as Farce, dan Living in the End Times, serta dalam beberapa kuliah umumnya yang banyak tersebar di Youtube. Menjadi menarik karena Žižek divisualkan dengan film referensinya, misalnya soal kebohongan publik yang menjadi basis dari fungsi sosial, selain menampilkan klip-klip dari The Dark Knight (2008), dia menjelaskannya dengan duduk di ruang interogasi Joker.

Film ini sendiri adalah sekuel dari The Pervert’s Guide to Cinema (2006). Kalau ingin jadi movie snob, tonton film pertama yang membahas film dari Chaplin, Tarkovsky sampai David Lynch ini. Sinema, katanya, adalah media “cabul” karena tidak memberi tahu apa yang harus dihasratkan, tapi bagaimana untuk menghasratkan; itu fetish yang tanpa henti mengatur ulang dan membikin realitas buatan untuk menginduksi daya tarik. Kopi Starbucks, Kinder’s Joy dan sebuah film kalau sudah di tangan Žižek bukan lagi kopi Starbucks, Kinder’s Joy dan film yang kita kenal.

“Pelajaran yang menyedihkan dari dekade terakhir ini adalah bahwa kapitalisme telah menjadi kekuatan revolusioner sejati,” sebutnya di akhir-akhir film, dengan menampilkan revolusi-revolusi abad 20 yang berakhir petaka, dan sinisme bahwa lebih mudah membayangkan post-apocalyptic atau bumi yang ditabrak asteroid. Meski sering menganggap dirinya seorang pesimis, tapi Žižek adalah komunis sejati, dia percaya gerbong sejarah terus melaju ke depan. Žižek memungkas film ini dengan argumen mesianistiknya Walter Benjamin bahwa setiap revolusi, jika itu adalah revolusi yang otentik, tidak hanya diarahkan ke masa depan tapi juga menebus revolusi yang gagal di masa silam. Hantu-hantu dari revolusi masa lalu masih bergentanyangan, tak pernah puas, akhirnya akan menemukan rumah mereka dalam kebebasan baru. Sangat mungkin untuk membayangkan masa depan yang lebih baik.

Sebagai bocah dunia ketiga, tentu filsafat kontinental yang dibikin orang-orang kulit putih ini, layaknya terhadap keilmuan lain, harus selalu dibaca dan diinsafi dengan skeptisisme sehat. Seperti orang Arab Islam di Abad Pertengahan yang membacai filsafat Yunani, bahkan jadi pewaris pentingnya, tampaknya enggak haram memakai Freudo-Marxis untuk menangkal bahaya laten neoliberalisme dan kapitalisme dalam kacamata lebih obyektif.

Kategori
Catutan Pinggir

Age of Empires II dan Simulasi Mode Produksi

7a04fdcf6f0e51992c2dfd7cfd3e99aa

Saya akan selalu menjadi seorang bocah aneh. Anggota tubuh saya terlalu berjarak dan bersendi pada interval yang tak menyenangkan, dan seringnya mereka tak sudi di bawah kendali saya. Saya punya suara nyaring, pandangan politik tak biasa, rahang yang lemah, dan keengganan naluriah untuk memakai warna-warna cerah.

Sebuah keajaiban bahwa saya tidak pernah secara khusus menyukai permainan-permainan komputer.

Saya harus berterimakasih pada orang tua liberal-intervensionis saya karena menurut mereka: video gim itu mengerikan dan penuh kekerasan, sehingga saya akan tumbuh jadi orang bengis. Tapi Age of Empires II adalah sebuah pengecualian. Mengingat ada latar belakang sejarahnya, saya bisa bikin alasan kalau permainan ini punya unsur “edukasi” dan karenanya bermanfaat; Akibatnya, saya memainkannya secara religius sejak usia sembilan sampai usia remaja tanggung. Bahkan sekarang, saya memiliki kenangan indah akan permainan itu.

Jelas, saya tidak sendiri. Pada bulan November 2015, Microsoft merilis Age of Empires II: The Forgotten, sebuah ekspansi baru yang hadir setelah lebih dari satu dekade game asli dirilis — mencetak sebuah rekor dalam industri video gim. Meskipun grafis 2D yang kikuk dan musik hingar bingar yang bikin iritasi, banyak orang masih punya banyak waktu untuk memainkannya — termasuk saya. Saya memutuskan untuk duduk dan menyelidiki kembali permainan yang telah saya habiskan sepanjang masa muda saya, dan menemukan sesuatu yang tak terduga.

Age of Empires II sebenarnya bukan permainan sama sekali. Ini sesuatu yang jauh lebih menarik. Pada tahun 1999, di masa awal kecerdasan buatan, kita berhasil memprogram sebuah komputer dengan Todestrieb, kehendak segala makhluk hidup menuju kematian yang Freud terpaksa geluti dalam teorinya pasca Perang Dunia I. Tidak hanya itu: cara kerja dorongan kematian artifisial ini hampir bisa menggambarkan akhir dari masyarakat kita sendiri.

Age of Empires II menjadi semacam simulator peperangan abad pertengahan. Bermain sebagai salah satu dari banyak kerajaan yang bisa dipilih, Anda memulai permainan dengan sebuah “town center” (sebuah gudang pusat kota yang tampaknya secara ontologis mendahului kota itu sendiri), seorang pandu, dan beberapa penduduk desa golongan tani yang terbengong-bengong. Orang-orang ini dapat dikirim untuk menebang pohon dan membangun benteng; Sementara itu, di pusat kota, Anda bisa mengorbankan sedikit bahan pangan dan memunculkan mereka lebih banyak. (Secara sambil lalu, ini adalah salah satu aspek permainan yang paling menyebalkan — apakah kita membayangkan bahwa manusia muncul secara spontan dari tumpukan gandum? Apakah alien dengan teknologi canggih secara diam-diam menjalankan dunia ini dengan menanam kloning-kloning di sekitar peta? Atau apakah masing-masing bangunan ini menyembunyikan harem pencetak bayi rahasia?)

Hal yang sama berlaku untuk prajurit: Anda menghendaki mereka untuk menjadi ada lewat barak mereka, dan dengan dengus patuh, mereka muncul. Seiring berjalannya permainan, Anda dapat bergerak maju dalam sejarah, kota Anda berkembang dari sekelompok gubuk menyedihkan yang menggigil di reruntuhan Kekaisaran Romawi menjadi kota metropolis yang sesak dan termiliterisasi. Pada saat bersamaan, Anda berbagi tanah Anda dengan sejumlah kelompok masyarakat yang dikendalikan komputer yang juga melakukan hal yang sama. Tugas Anda, tentu saja, adalah untuk menghabisinya sama sekali: membantai warga mereka, membakar rumah mereka, menanami ladang mereka, dan menghapus nama mereka dari catatan sejarah. Tapi yang aneh adalah kenyataan bahwa sementara mereka menghadapi pertarungan ala kadarnya, mereka tampaknya tak sepenuhnya menentang akan gagasan tadi.

Semua pekerjaan kotor prajurit dan angkatan laut ini hanyalah sebuah tontonan sampingan. Musuh-musuh Anda akan dengan sia-sia mengirim beberapa pilar prajuritnya ke kota Anda, tapi bahkan dalam serangan yang paling sulit, cukup mudah untuk menumpasnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi tidak ada hubungannya dengan pertempuran, dan sangat berkaitan dengan sumber daya.

Untuk membangun pasukan, Anda membutuhkan bahan pangan, kayu, emas dan batu. Makanan bisa berasal dari peternakan, dan emas dari gerobak perdagangan, tapi kayu berasal dari pohon — dan begitu Anda menebangnya, mereka tidak tumbuh kembali. Biarkan permainan berjalan cukup lama dan Anda akan melihat serombongan besar tukang dari penduduk desa lawan Anda melintasi peta untuk mencari hutan yang belum gundul untuk mendanai usaha perang mereka.

Migrasi hebat inilah yang benar-benar mendorong konflik permainan. Pemain yang dikendalikan komputer akan sering hidup berdampingan dengan cukup damai, bahkan jika mereka seharusnya menjadi musuh, sampai seseorang mengirim sekelompok penebang yang putus asa ke wilayah lain: pasti mereka diusir dengan pedang dan anak panah, bala bantuan dibawa masuk, dan tak begitu lama, kebakaran dan pembantaian berkobar di sekitar setiap petak hutan yang masih berdiri.

Begitu seterusnya, sampai pohon terakhir di peta ditebang. Ketika itu terjadi, tidak ada lagi kayu untuk mengusahkan pertanian, yang berarti tidak ada lagi makanan untuk melatih para prajurit. Dengan patuh, para petani kembali ke kampung halamannya dan berdiri dengan melongo, menunggu untuk mati.

Ada kemungkinan untuk membaca ini sebagai semacam alegori ekologis: eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam akan selalu menghasilkan keruntuhan sosial, dunia memiliki batasan yang seharusnya tidak kita paksakan — namun interpretasi ini tidak ada artinya. Alih-alih pesta pertumpahan darah yang Anda harapkan setelah malapetaka ini, perjuangan habis-habisan karena terwarisi pemandangan jahanam sehabis dilanda perang dan kondisi terkekang yang telah kita ciptakan, hanya ada keheningan yang sempurna dan mematikan. Tak ada serangan-serangan mendadak yang lebih agresif; unit militer yang tersisa juga pulang ke kota nekropolis mereka yang sunyi; mereka hampir tidak melawan balik saat pasukan Anda tiba.

Ini bukan malapetaka; Sulit untuk melepaskan diri dari perasaan bahwa ini adalah sesuatu yang dikehendakan. Perlu dicatat bahwa sebuah sistem pasar ada di mana pemain dapat saling bertukar sumber daya satu sama lain, namun komputer sepertinya tidak pernah benar-benar melakukan ini. Kecerdasan buatan telah dengan sengaja membunuh dirinya sendiri dengan satu-satunya cara: dengan bertermpur habis-habisan untuk bertahan hidup.

Ini sama sekali tidak kontradiksif: bagi Freud, dorongan kematian tidak terkait dengan melankolia bunuh diri, kasus saat naluri narsisisme ego untuk bertahan hidup dikuasai oleh celaan superego seperti yang terwujud dalam membenci diri. Sebaliknya, dorongan kematian muncul dalam agresi dan kecerobohan. Ini adalah satu hal yang sama dengan pertarungan konstan dan antagonis individu untuk melindungi dirinya sendiri. Freud menulis bahwa Todestrieb sebagai bagian “sebuah naluri penghancuran yang diarahkan terhadap dunia luar.” Metamorfosisnya yang menjadi keinginan untuk penghancuran diri hanyalah sebuah perubahan arah.

Tetap saja, tidak sepenuhnya jelas mengapa dorongan terhadap kematian harus muncul seperti ini: bukan dalam usaha lanjutan untuk meniru psikologi manusia, namun tampaknya secara tidak sengaja dalam permainan strategi abad pertengahan. Apa sebenarnya yang ingin mematikan dirinya di sini? Saat Anda bermain Age of Empires II, sedang menjadi apa diri Anda?

Pada awalnya, posisi pemain tampaknya sedikit mirip dengan monarki abad pertengahan: Anda memberikan perintah kepada pasukan dan beragam subjek Anda dan Anda adalah penguasa dari semua survei Anda, tapi hanya survei yang Anda lakukan. Ini agak rumit karena pada beberapa mode gameplay, raja-raja itu sendiri tampil sebagai unit di layar, tapi mereka bisa Anda arahkan sama seperti pekerja tani lainnya. Beberapa materi iklan menggambarkan posisi pemain sebagai “jiwa bangsa”, sesuatu seperti Volksgeist-nya Hegelian —  hanya saja peradaban yang berbeda cuma dicirikan oleh perubahan gaya arsitektur, bukan semangat organik yang bangkit dari masyarakat, dan gerakan mereka tidak menuju realisasi diri melainkan kepunahan.

Mungkin lebih produktif untuk mempertimbangkan permainan dalam hal cakrawalanya daripada peluangnya. Tidak ada yang baru yang dimungkinkan di sini. Sejarah berjalan di sepanjang satu jalur. Anda bisa mengatur kota Anda dalam formasi apapun yang Anda suka, tapi Anda harus menggunakan tipe bangunan yang disediakan; Anda bisa mengirim detasemen para kesatria berkuda ke segala arah, tapi Anda tidak bisa membuat mereka turun atau meminta pemanah Anda untuk menggunakan panah mereka sebagai tombak; Anda bisa maju dari masa kegelapan sampai fajar imperialisme, tapi Anda tidak bisa menghasilkan bentuk sosial yang pada dasarnya tidak feodalistik.

Hal yang sangat perlu dicatat dari Age of Empires II adalah tidak adanya perjuangan kelas. Semua kontradiksi mode produksi feodal tetap diam di tempat: penduduk desa Anda membajak ladang dan memotong kayu terus menerus, tidak mendapat buah dari hasil kerja mereka sendiri. Ada istana yang mungkin menampung berbagai bangsawan, mandor, ksatria lapis baja, dan kaum agamawan berkalung emas. Terlepas dari semua ini (dan tidak berbeda dengan banyak permainan strategi lainnya), tidak ada sekecil pun perlawanan dari massa yang bekerja keras; Semua orang bergerak menuju kepunahan mereka sendiri dengan sikap stoik yang tenang.

Hal ini sangat aneh mengingat hiruk-pikuk Abad Pertengahan yang sebenarnya, sebuah periode dalam sejarah yang melihat peperangan dan kemarahan religius yang tak terhitung jumlahnya berkobar lagi dan lagi di seluruh wilayah Eropa. Dalam permainan, sementara itu, kontrak sosial abad pertengahan dari tiga tingkat kehidupan — di mana para petani bekerja untuk kesejahteraan semua orang, pendeta berdoa untuk keselamatan semua orang, dan para bangsawan memperjuangkan perlindungan untuk semua orang  — disajikan bukan sebagai keterikatan yang ideal dari sebuah masyarakat kelas yang bertingkat, namun masyarakat kelas yang karena fungsi masing-masing.

Dengan kata lain, Age of Empires II melakukan hal yang sama untuk feodalisme seperti yang Marx lakukan untuk industrialisme lewat Capital. Jika dalam The Condition of the Working Class In England, Engels mengungkap perbedaan antara bagaimana klaim kapitalisme berfungsi dan bagaimana hal itu benar-benar beroperasi, Marx dalam Capital mencatat para ekonom borjuis sesuai kata-kata mereka, dengan lengkap menunjukkan bagaimana, bahkan jika kapitalisme bekerja persis seperti yang dikatakan oleh para pendukungnya, tetap saja, penggulingannya tetap tak terelakkan.

Dengan sistem tertutup dalam Age of Empires, feodalisme bekerja dengan sempurna —  dan, seperti setiap sistem yang bekerja dengan sempurna dan telah kehabisan kapasitas untuk mengarahkan penghancurannya ke luar, ia tidak memiliki tempat lain selain menuju kematiannya sendiri.

Pemain dalam Age of Empires II tidak mengambil peran sebagai raja atau jiwa nasional; Anda menjadi mode produksi feodal itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa permainan ini, secara tidak langsung, tidak bisa disebut permainan — Anda tidak bersaing dengan pemain lain, namun merupakan bagian dari sebuah sistem tunggal yang mengarah pada sebuah penghancuran kolaboratif.

Sebenarnya, tidak sepenuhnya benar bahwa akhir permainannya adalah keheningan total. Bahkan saat prajurit dan pekerja tidak bergerak, gerobak perdagangan dan kapal dagang terus mengangkut emas dari satu pasar ke pasar lainnya. (Khususnya, ini berbeda dengan penolakan komputer untuk menggunakan pasar untuk mendapatkan lebih banyak kayu: pertukaran antara pemain baik-baik saja, namun gagasan bahwa semua komoditas secara universal tak tergantikan dan dapat dimasukkan dalam bentuk uang universal sangat ditolak oleh partikularisme abad pertengahan.) Ini bukan revolusi borjuis, tapi ini mendramatisasi bangkitnya kelas pedagang dari sebuah masyarakat yang telah menyempurnakan dirinya sendiri dalam hal yang terlupakan, dan hal itu terjadi pada satu-satunya cara yang dapat dilakukannya.

Marx terkenal menghindari membuat resep konkret tentang apa sebenarnya komunisme: dari dalam lingkungan tertutup dari satu mode produksi, yang hadir untuk berhasil, hanya terlihat sebagai garis besar yang paling samar, sebuah percikan gerakan dalam keadaan dunia yang telah mati.

Tentu saja, runtuhnya feodalisme sekarang telah lama berlalu, dan krisis kontemporer dalam mode produksi saat ini tidak tampak sebagai keheningan tapi juga perpindahan modal yang hiruk pikuk. Meski begitu, situasinya hampir sebanding. Age of Empires II mungkin menggambarkan bentuk sosial yang telah lama mati, tapi produk itu sendiri terdapat pula dalam produk di dunia kontemporer hari ini.

Pada akhirnya, apa yang ditunjukkannya bukan jatuhnya feodalisme — presentasinya secara historis kurang tepat — namun akhir yang tak terelakkan dari segala mode produksi mengalienasi yang menjadi sempurna dan tak tertandingi. Kita hidup dalam masa di mana kapitalisasi akhir yang memfinansialisasi berfungsi sepenuhnya secara simultan sekaligus dalam sebuah keadaan kelumpuhan akut. Sama seperti feodalisme dalam Age of Empires, ini seperti suatu keseluruhan dunia.

Pada saat bersamaan, saat terjadi masalah — dan masalahnya sedang terjadi sekarang — satu-satunya cara untuk melanjutkan adalah dengan intensifikasi. Krisis keuangan yang sedang berlangsung telah digunakan oleh kelas penguasa untuk melakukan perampasan kekayaan besar-besaran dan membahayakan diri sendiri karena inilah satu-satunya cara mereka dapat beroperasi di bawah sebuah sistem yang ditandai dengan perampasan yang tanpa perlawan.

Dengan kata lain, yang menyajikan dirinya sebagai akumulasi kapital dan sumber daya dan komoditas, pada kenyataannya, adalah kehendak menuju kepunahan. Pelajaran dari Age of Empires II adalah ini: di saat kapitalisme dan perkembangannya yang mengembang dan mengalami krisis namun perkembangan konstan tampak tidak terhalang sama sekali adalah saat kerentanan terbesarnya. Hal ini yang akan mengarah ke dalam kehampaan. Yang perlu kita lakukan hanyalah mempertenggangkannya.

*

Diterjemahkan dari artikel Jacobin berjudul Empire Down. Sam Kriss adalah seorang penulis yang tinggal di Inggris, blog pribadinya: Idiot Joy Showland.

Kategori
Argumentum in Absurdum Celotehanku

Kinal dan Bahaya Laten Idolisme

Dilematis sih. Saya banyak setuju sama asas pemikiran Karl Marx, sehingga rada benci terhadap sistem kapitalisme.  Tapi ya gimana, industri hiburan sungguh setan yang menjerat kaum kekinian. Saya masih teracuni dunia k-pop, masih jadi Sone (fans Girls’ Generation), dan sekarang mulai jatuh cinta sama JKT48, beberapa personilnya aja sih, belum jadi wota atau apalah namanya.

Ya konsekuensi akan sebuah kesendirian. Butuh penyaluran, tapi kepada apa? Dan munculah gejala idolisme sebagai opsi pelampiasan itu. Di era media sosial sekarang, antara seleb sebagai idol dan fans sebagai pengidol dibuat makin dekat, meski memang masih berjarak, semu, dan artifisial. Tapi nggak mengapa lah, siapa lagi coba yang mau ngasih semangat, ngucapin selamat pagi, ngingetin waktunya sholat, sampai pamerin selfie yang menggoda iman? Itulah yang dilakukan para personel JKT48 lewat akun Twitter-nya, dan satu di antara mereka yang saya suka banget adalah Devi Kinal Putri.

Kategori
Catutan Pinggir

Gambaran Si Miskin

kathe kollwitz the survivors

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 17 Desember 1983

Tubuh wanita itu meregang, putih, kaku. Mati. Suaminya memeluknyya dengan kedua tangan – dengan kepala yang ia lekatkan ke dada Almarhumah. Seolah ia ingin menahannya jangan pergi.

Kita tak tahu apakah lelaki itu menangis. Tapi kita tahu -dari genggaman jari-jarinya, dari lekuk matanya yang dalam, dari mulutnya yang sedikit mencong- penderitaan apa yang menghantamnya.

Buruh miskin yang kehilangan teman hidup. Wanita proletar yang putus asa di depan bayinya yang sakit. Pekerja yang kepalanya terjatuh, capek, di meja dekat lampu. Jika Tuan belum pernah menyaksikan kemiskinan, jika Tuan tak pernah menengok buruh-buruh bangunan yang jongkok di tepi jalan Jakarta hingga jauh malam, lihatlah gambar-gambar Kathe Kollwitz.