Kategori
Kampus Keperawatan

Studi Keperawatan di Negeri Seberang

6 sosok 7 sosok

(Klik untuk memperbesar)

Kali ini beneran wawancaranya, ga imajiner lagi. Tapi yg wawancaranya orang lain sih.

Alhamdulillah, meski mahasiswa keperawatan, tapi saya tetap bisa menyalurkan minat dalam bidang jurnalistik dan desain grafis. Memang karena keahlian desain sama kreativitas yg di atas rata-rata, berhubung emang di BEM jadi staff kominfo, masih dipercaya buat jadi editor dan redaktur pracetak majalah dwi-bulanan Fkep Unpad. Ngedit sama ngelayout inti kerjanya mah. ­čśÄ

Berhubung ga semua hasil wawancara bisa dimasukan ke majalah, namun rasanya sayang juga kalau dibuang, dan emang infonya sangat bermanfaat, maka saya tampilin aja di sini. Semoga bisa dapat menambah wawasan aja buat rekan sejawat perawat yg membaca postingan ini. Yg bukan perawat pun tetap boleh baca pasti.

Ya, berikut hasil wawancara sama Teh Nissa, ketua Rohis tahun 2012 kemarin yg dapat kesempatan buat ikut Student Career Development di Gunma University, Jepang. Cekidot aja langsung lah.

Ceritain dong teh gimana sistem pendidikan di Jepang?

Kalau jenjang pendidikannya hampir sama dengan Indonesia, ada D3, sarjana, spesialis sama pascasarjana. Yang nggak ada yaitu jenjang SMK. Lebihnya di luar negeri, sudah banyak universitas yang membuka jenjang S3 hingga postdoctoral keperawatan, jadi udah nggak heran lagi kalo yang ngajar di universitas kebanyakan dosen-dosennya udah bergelar profesor.

Bedanya, sistem belajar di Jepang masih menggunakan sistem konvensional, yaitu belajar di satu ruang kuliah besar dengan metode ceramah. Tapi, jumlah mahasiswanya memang lebih sedikit dibandingkan dengan di FKep, kurang lebih cuma 80 orang, dan ruangannya jauh lebih luas. Proporsi antara lecture dengan praktikum sama dengan di Indonesia, setiap minggu minimal 1 kali ada sesi praktikum. Metode ujiannya pun nggak jauh beda kok.

Selain itu, di Jepang nggak ada jenjang profesi setelah lulus S1. Setelah lulus, biasanya para freshgraduate bakal ngambil uji kompetensi keperawatan biar dapet izin praktik atau kerja di rumah sakit. Uji kompetensi ini nggak cuma buat orang Jepang itu sendiri aja, tapi bagi warga asing yang memang akan bekerja di rumah sakit Jepang pun wajib mengambil ujian ini. Uji kompetensi di Jepang ini katanya sangat sulit. Salah satu hal yang dianggap sebagai bagian tersulit di ujian ini yaitu banyaknya istilah keperawatan yang menggunakan huruf kanji yang belum dipelajari di kampus. Jadi, kadang orang Jepang sendiri banyak yang nggak lulus ujian ini, tapi banyak juga perawat dari luar Jepang yang lulus ujian ini, bahkan jumlahnya semakin meningkat tiap tahunnya.

Bedanya lagi, kalo di Jepang ternyata kebidanan itu masuknya ke bidang studi keperawatan, bukan kedokteran. Jadi mereka-mereka yang mau jadi bidan harus kuliah dulu keperawatan, baik D3 maupun S1. Setelah lulus, mereka ikut yang namanya midwife school selama 1 tahun atau ambil program master atau spesialis kebidanan, lalu baru boleh ikut uji kompetensi kebidanan.