Kategori
Celotehanku

Solontongan 20D, Sebuah Elegi

Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam. – Iwan Simatupang, Ziarah

Frasa ‘masa lalu yang indah’ bukan berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja, beruntungnya, orang-orang diberkati bakat mudah melupakannya. Sialnya, kita tak diberi kuasa untuk memilih mana yang harus dilupakan, pikiran kita begitu tengil. Kalau tak jadi gumpalan gelap, masa lalu berubah jadi ingatan fragmentaris, pecah jadi beling, untuk kemudian menggiring manusia pada bakat lainnya: meromantisasi. Inilah yang terjadi saat saya melihat-lihat hampir 1700an foto yang saya kumpulkan dalam folder Kedai Preanger.

Kadang saya terhenti pada sebuah foto, mengamati agak lama, sesekali diperbesar, mencoba mengingat, perasaan hilang timbul, yang seringnya bikin saya tersenyum, senyum dengan rasa sendu. Semua foto adalah memento mori, sebut Susan Sontag. Mengambil foto adalah berpartisipasi dalam kemortalan, kerentanan, dan ketaktetapan orang lain, atau suatu hal. Dengan mengiris suatu momen dan membekukannya, segala foto membuktikan pencairan tanpa henti sang waktu. Karena ia tak ada dalam kendali kita, waktu menjadi mimpi buruk, kabar buruknya mesin waktu hanya ada dalam fiksi ilmiah. Kemarin adalah sesuatu yang tak bisa diulang, difungsikan begitu, hanya untuk dikenang, dan oleh yang sedikit untuk diinsafi. Kiwari, teknologi menyulap kemarin jadi potongan piksel.

Tentu, tak ada tujuan untuk menyaingi Tropenmuseum atau KITLV. Saya sadar termasuk golongan pengarsip yang payah, dan agak malas. Berhubung akhir-akhir ini sedang bergelut dalam persejarahan, saya berpikir kenapa tak mengulik sejarah mungil yang dekat. Folder Kedai Preanger tersebut diisi oleh foto-foto yang terkirim dari grup WhatsApp Komunitas Aleut, sejak April 2016. Foto-foto yang sebagian besarnya untuk konsumsi di grup tersebut, hanya sedikit yang diumbar di media sosial, karena tak Instagramable dan kadang asusila. Gaya estetika visual foto-fotonya merupakan contekan are-bure-boke, kasar-kabur-tak fokus, potretan mana suka, penuh noise, tapi bukan karena ingin meniru fotografer Daido Moriyama, lebih karena kebutuhan praktis dan kemampuan kamera yang segitu-gitunya. Peduli setan dengan decisive moment-nya Henri Cartier-Bresson, inilah potretan yang saya suka, foto-foto yang justru lebih memiliki jiwa.

“Komunitas” nampaknya mengalami penyempitan makna. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. Jarang kita dapati “komunitas” sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan. Apa yang hari ini kita sebut atau rujuk soal komunitas cuma sebatas klub kegemaran. Bukankah kalau secara gramatika, seseorang yang aktif di komunitas bisa disebut komunis?

Selain dari teks-teks Marxis yang saya baca, Komunitas Aleut tampaknya yang berperan menyulap seorang yang anti-sosial ini jadi lebih sosialis. Tampak luar, Komunitas Aleut mungkin cuma dianggap klub jalan-jalan hore keliling bangunan-bangunan kolonial, atau para kutu buku yang ngulik masa lampau. Padahal definisi komunitas yang dipakai adalah dari arti sebetulnya, masyarakat, atau lebih tepatnya “masyarakat mungil” untuk terjun ke masyarakat yang lebih luas. Kedai Preanger adalah ruang belajar tersebut. Bagi saya, Solontongan 20D pernah jadi rumah tangga (bukan hanya karena ada tangga ke lantai dua, tapi saya pikir “rumah tangga” dalam makna kiasan betulan).

Saya tak ingat betul kapan mulai menginap, bahkan menetap di sini. Yang pasti dimulai sejak 2015. Di awal tahun tersebut, terakhir kalinya saya punya kamar kos dan harus meninggalkannya setelah praktek lapangan di RSUD Sumedang usai. Karena jadwal perkuliahan tak terlalu padat, saya dugdag dari rumah di Bandung selatan ke Jatinangor. Kemacetan di Jembatan Citarum sampai Cibaduyut, panjangnya Jalan Sukarno-Hatta beserta lampu merahnya yang menguji kesabaran, kemacetan lainnya dari Cibiru sampai Cileunyi, dan berlaku sebaliknya saat nanti pulang, memunculkan tiga tempat rehat pilihan: masjid, minimarket dan Kedai Preanger.

Kejenuhan akan perpolitikan kampus dan krisis eksistensial yang mendera bikin saya ingin punya semacam pelampiasan yang rada liberal: sastra dan humaniora. Kedai mungil ini menyediakan perpustakaan. Di tahun 2015, Kedai Preanger masih punya pegawai, dan sudah ada dua penghuni tetap, Irfan dan Ghera, ditambah penghuni gaib lainnya, yang katanya nongkrong di tangga. Ketika terlalu malam, atau terlalu malas, untuk pulang ke rumah, saya menginap di sini. Sampai akhirnya justru inilah jadi tempat pulang.

Kedai Preanger ramai di waktu tertentu saja, utamanya saat Kamisan dan Kelas Literasi. Bunga-bunga muncul dan redup, hama-hama terus bermuram durja. Entah siapa dan kapan tercipta istilah “bunga” dan “hama” ini, yang pertama berarti perempuan, yang kedua adalah para penyamun yang mencoba, atau berangan-angan, ingin mendapatkan yang pertama. Selain agar Kedai Preanger makin ramai, antar jemput diciptakan untuk memuluskan langkah para hama tadi, meski seringnya cuma membuat para hama itu naik tingkat jadi tukang ojek gratisan. Untuk urusan ini, saya hanya memercayakan motor saya untuk dipakai antar jemput, biasanya oleh Ajay atau Akay.

Orang-orang hadir dan pergi, membawa suka ria dan patah hati, menciptakan cerita.  Selain jago memoderatori Kelas Literasi, Irfan paling lihai memandu sesi curhat dan menganalisis gosip-gosip percintaan. Waktu terbaik adalah ketika sebelum tidur malam, saat lampu dimatikan. Gelap yang menaungi ruangan menyulap tiap-tiap penginap menjadi Syahrazad, juru cerita dalam Kisah Seribu Satu Malam. Tak semua begitu, selalu ada yang gigih mengunci mulutnya, atau yang masih malu-malu kunyuk. Jujur, meski sering memberi komentar, saya sendiri begitu menutup diri. Saya kadang merasa bersalah karena tak bisa membagi kisah-kisah ajaib.

Jika diadu dengan kedai kopi kiwari yang memakai kusen-kusen kayu berpelitur kinclong dan alat-alat kopi elitis, yang menyetel lagu-lagu sendu dengan suasana adem tanpa bising motor bocah-bocah SMP, Kedai Preanger bakal dilabeli kumuh oleh para hipster. Secara bisnis, berjalan merayap, bahkan terseok-seok, dengan berbagai macam perubahan menu dan pergantian pegawai. Namun, mengingat banyak kedai, kafe, atau  usaha yang sejenis ini ternyata hanya mampu bertahan 1-2 bulan saja, lalu bubar, Kedai Preanger harus berbangga.

Bukan racikan kopi dan teh yang luar biasa, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya, namun ada hal lain yang dapat ditemukan di Kedai Preanger. Kopi hanyalah minuman sederhana yang dibikin ribet oleh manusia modern. Namun, di kedai ini saya belajar meracik kopi sendiri. Memang, jika ditanya soal tektek bengek third wave coffee, saya angkat tangan, tapi barista mana yang bisa memberi kuliah soal sejarah Priangan dan awal mula kopi.

Kierkegaard tak bisa mengajarkan cara merapikan parkir motor, Nietzsche tak bisa mengajarkan cara mengiris bawang, Camus tak bisa mengajarkan cara memecah es batu dalam plastik, Zizek tak bisa mengajarkan cara japri pada seseorang yang ada di grup WA, dan para filsuf lebih memilih memikirkan hal-hal abstrak. Tentu, ada beribu alasan yang bakal diajukan para pemikir itu kenapa mereka langka memikirkan hal-hal praktis.

Selain membaca, mencuci piring jadi kesenangan saya berikutnya. Entah kenapa. Melihat tumpukan piring berminyak dan gelas dengan ampas kopi sisa malam kemarin, dan harum Sunlight, berasa sedang melakoni seorang George Orwell dalam Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London. Terbayang ketika Hemingway nyaman makan di hotel modis di rue de Rivoli, Orwell sedang berpeluh menghadapi piring-piring kotor di dapur bawah dengan perut keroncongan.

Jika Shakespeare & Company punya andil besar bagi Hemingway, maka bagi saya itu adalah Kedai Preanger. Sebagai rumah, ia telah membuka beragam minat: literasi, kopi, cuci piring, jatuh cinta dan bakat romantisasi – kesaktian yang sebenarnya dikuasai betul Abdurahman lain dari Cibeureum. Solontongan 20D telah kembali ke fungsi sebelumnya, cuma ruko.

Kategori
Celotehanku

Apa yang Saya Ketahui Soal Jurnalisme

Bekal wawasan saya tentang jurnalisme adalah dari kuliah di University of Amsterdam, meski cuma ngambil Introduction to Communication Science, mata kuliah dasarnya komunikasi massa, dan ini hanya kuliah online di Coursera–saya juga ikut ambil filsafat dasar di University of Edinburgh, tapi enggak sampai tuntas. Yang saya dapat dari kuliah tadi adalah tentang sejarah komunikasi massa, bahwa komunikasi yang asalnya hanya milik penguasa, menjadi milik publik lewat yang namanya jurnalisme ini. Jika ditarik kebelakang, awal ketertarikan saya pada jurnalisme itu berkat pertama kalinya punya kamera DSLR, mula-mula belajar fotografi, tertarik dengan human interest, tentang memotret interaksi manusia yang merupakan satu topik dalam bidang jurnalistik, kemudian timbul juga keinginan sinting jadi jurnalis perang setelah nonton The Bang Bang Club. Dari fotografi, minat saya bergeser ke sastra, karena sadar bahwa bagaimanapun menggeluti fotografi butuh dana enggak sedikit, berbeda dengan menulis. Dari sini saya berkenalan dengan yang namanya jurnalisme naratif atau jurnalisme sastrawi. “Jurnalisme Sastrawi adalah pintu masuk bagi mereka yang enggak berlatar belakang jurnalistik,” ungkap Idhar Resmadi saat membedah bukunya di Kelas Literasi. Jurnalisme naratif sendiri tulisan bernilai jurnalistik namun dituturkan luwes dengan gaya bercerita, yang sering memasukkan unsur personal, untuk lebih jelasnya bisa baca Masa Depan Narasi. Jika pada Kelas Literasi pada pekan ke-48, kami berada di lantai dasar Kedai Preanger, maka di pekan 67 dan 68, berpindah ke lantai kedua, tempat para hama dan kehampaan berkelindan, untuk belajar dasar-dasar jurnalistik dan penerapannya dalam jurnalisme warga.

Dari Kelas Literasi bertajuk Jurnalisme Warga yang dipandu Ridwan Hutagalung ini saya kembali diarahkan untuk mengenal 9 elemen dasar dari Bill Kovach, yakni: 1) Jurnalisme itu mengejar kebenaran; 2) Komitmen wartawan kepada masyarakat dan kepentingan publik; 3) Jurnalisme itu disiplin menjalankan verifikasi; 4) Independen terhadap sumber berita; 5) Harus menjadi pemantau kekuasaan; 6) Menyediakan Forum bagi masyarakat; 7) Berusaha keras membuat hal penting menjadi menarik dan relevan; 8) Menjaga agar berita proporsional dan komprehensif; 9) Mengutamakan hati nurani. Dengan perkembangan sistem informasi, hadirnya internet, utamanya media sosial, menjadikan jurnalisme jadi makin cair dan memungkinkan setiap orang bisa jadi jurnalis. Lahir Jurnalisme warga, kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Sebagai latihan, ngaleut Blok Tempe yang akan diadakan esoknya harus dituliskan dalam bentuk jurnalisme warga, kemudian di pekan selanjutnya akan dibahas.

“Cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan,” ungkap Gabriel Garcia Marquez, dan mengeluhkan soal jurnalis-jurnalis zaman sekarang lebih tertarik memburu breaking news dan keuntungan serta privelese dari kartu pers mereka ketimbang kreativitas dan etika, seperti yang dicatut dari tulisan Silvana Paternostro, yang diterjemahkan Ronny Agustinus, Tiga Hari Bersama Gabo, yang menceritakan pengalaman lokakaryanya bersama peraih Nobel Sastra 1982 tadi. “Kupandangi sekeliling meja,” tulis Silvana, “Dari 12 peserta, cuma Andrea Varela dan aku yang perempuan.” Situasinya hampir sama, hanya saja tanpa perempuan, Kelas Literasi pekan ke-68 ini disesaki para pejantan, berbeda dengan minggu kemarin yang masih disegarkan dengan kehadiran kaum hawa. Kami membahas tulisan yang dipacak peserta di Instagram atau di blog pribadinya. Saya sendiri belum menyelesaikan tulisan, dan di tengah-tengah diskusi keluar tanpa izin untuk mengambil angin, dan karena terjebak hujan deras, ketiduran di masjid, kembali lagi ke Kedai sebelum bubaran.

Setahun sebelumnya, berkat Komunitas Aleut! saya bisa merasakan jadi seorang jurnalis dan karenanya bisa melahirkan Pernik KAA 2015: Serba-Serbi Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Jika menilik lagi, tentu tulisan saya enggak secanggih sekarang, pun soal wawasan, dan waktu itu belum terlalu akrab dengan Gabo.

Menjelang berakhirnya Kelas Literasi pekan ke-68 tadi, ada bahasan soal penggunaan Instagram sebagai media jurnalisme, saya merekomendasikan untuk melihat-lihat akun AJ+ yang ber-tagline: “news for the connected generation, sharing human struggles and challenging the status quo.” Yang memotret beragam keseharian, dan mengisahkannya. “Kita bikin media baru, Solontongan Plus,” kelakar saya. Solontongan sendiri adalah nama jalan di Buahbatu yang melewati Kedai, dan seorang kawan beberapa waktu kebelakang iseng bikin media bernama Solontongan Pos. Masih dibuat penasaran, setelah bubaran Kelas Literasi, setelah menonton kemenangan Persib atas Persipura, setelah melewati malam Minggu yang begitu-begitu saja, sambil mendengar berulang-ulang Kim Taeyeon dan Blackpink, saya mencari apakah ada sebutan untuk model jurnalisme itu. Saya menemukan istilah ‘Slow Journalism’, bisa dibaca lebih lanjut di Slow Journalism, Kekuatan di Era Serba Cepat. Di tengah gelombang media yang enggak sabaran mau menyajikan berita, sebutlah itu ‘tsunami informasi’ atau ‘polusi notifikasi’, harus lahir jurnalisme berperspektif baru. Tentu, enggak bisa enggak, saya harus mengutip kembali gagasan Gabo, “Cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan.”

Kategori
Cacatnya Harianku

Americano, Indocafe dan Secangkir Sepi

coffee

1

Bisa saja saya menikamnya dengan pisau dapur, dan yang ia perbuat justru membalas senyum. Mungkin sedikit meringis, dengan tetap penuh jatmika. Sikap kalem yang hanya dimiliki para bestari, ketenangan yang serupa permukaan kopi yang sering ia bikin. Selepas maghrib, bersama saya sebagai seorang teman ngobrol yang payah, entah kenapa perbincangan kami mengarah soal perbedaan Americano dengan long black. Saya sendiri lupa penjelasannya, keduanya sama-sama kopi berair, hanya berbeda soal mana yang pertama dimasukan, air dulu, atau kopi dulu. Dia lalu bertanya tentang siapa saja penulis yang suka ngopi. Hmm, banyak sih, jawab saya, Camus, Albert Camus, dia doyan bengong di kedai kopi. Terus Flaubert, lanjut saya, dia sehari minum kopinya bisa sampai 50 gelas, dan mati karena ginjalnya rusak. Perlu dikoreksi: Bukan Gustave Flaubert, tapi Honore de Balzac, saya salah sebut. Kalau Murakami suka ngopi? tanyanya. Minum wine dan ngebir dia mah, sebut saya, langsung terpikir kalau kami berdua sudah seperti protagonis dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin dengan dialog sok intelek ini. Dia sendiri sering memanggil saya dengan nama belakang penulis Jepang itu, entah olok-olok yang benar, karena Murakami sendiri berarti desa atas. Apakah dia mengejek kalau saya orang udik, saya yakin dia enggak tahu akan hal ini. Penulis dari rahim Kabupaten mah kebanyakan pemurung, puji seorang kawan lain, ditujukan bagi saya. Si barista mungil bernama Hamdan ini pun orang Kabupaten. Harusnya saya bersyukur dipanggil Murakami. Perbincangan kami ini berada di depan Alfamart persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Alkateri, sebelah barat Mesjid Agung. Kopi di Alfamart lebih bagus ketimbang Circle K, nasihatnya suatu kali, hasil analisanya sendiri. Di malam lain, dia menanyakan sesuatu yang konyol, kalau diberi kesempatan kencan buta semalam mau sama idola K-pop siapa? Dasom member Sistar, saya asal sebut. Dia menggeleng enggak tahu siapa, tentu. Bukan kenapa-kenapa, karena idol cantik itu punya cita-cita bikin buku kumpulan esai sebelum menginjak 30. Dengan Americano racikan Hamdan, dan mungkin dia berbaik hati bakal menyetelkan musik jazz, tentu soal tulis menulis ini bakal jadi bahasan yang setidaknya bisa membuat saya bisa bicara. Klise a la drama Korea, memang; skenario yang halusinatif, iya.

2

Seperti orang yang duduk di hadapan saya, selalu dibuat iri oleh manusia yang bisa merangkai dua ratus tiga puluh kata per menit. Saya setia menjadi pendengar bualan Iwang, namun mencuri pandang ke arah Jalan Solontongan beserta lalu lalangnya. Hanya dengan menonton laju gerak manusia, sering muncul pemikiran mengada-ada. Kehidupan, bagi saya, seperti ketika kau hendak menyeberang jalan, melirik kanan-kiri, memastikan bahwa kau akan selamat sampai seberang jalan, namun saat melangkah tanpa disangka-sangka sebuah Boeing 747 mendarat darurat dan menggilasmu. Hidup sialan ini hanya sekumpulan kesialan, ketidaksialan dan kesia-siaan. Ah, tahu apa saya soal hidup? Hanya bocah manja yang hobi mengeluh. Pria yang sedang mendongeng di hadapan saya, yang usianya dua kali lipat dari saya, tentu lebih mengerti, setidaknya punya lebih banyak pengalaman. Saya membayangkan apakah saya bisa menginjak usianya. Suatu kali saya mengetes soal kepribadian di internet, dan mendapati kalau Jim Morrison dan Kurt Cobain berbagi watak dengan saya, mati di usia 27 mungkin suatu kehormatan. Semakin menua, saya justru jadi seorang bajingan pembenci diri. Haruskah aku bunuh diri atau minum secangkir kopi? ujar seorang pemikir dari Prancis. Ah, nampaknya saya perlu ngopi.

Rip, ga ngopi? Iwang selalu inisiatif menawari. Saya beri selembar lima ribu pada Iwang. Indocafe atau ABC Susu, pinta saya. Dia enggak masuk ke dalam Kedai Preanger, tentu, melainkan membelinya di kios kecil di seberang jalan. Dia menyeberang, sialnya enggak ada pesawat jatuh. Selain tangan saya sendiri, Iwang adalah lelaki bejat yang sering meremas penis saya, entah apa motifnya, yang pasti ini sudah bisa dipidanakan sebagai kasus pelecehan seksual. Hobinya emang omong cabul, dia bahkan pernah membeberkan pengalaman pribadinya, saat masa muda penuh berahinya, dan meminta saya untuk menuliskan ceritanya. Memang sebiru Almost Transparent Blue-nya Murakami. Ryu bukan Haruki. Anjing, saya makin iri dengan pengalaman percintaannya. Iwang balik sambil membawa dua gelas plastik berisi cairan coklat panas, juga dua linting rokok yang disembunyikan di sakunya. Mana kembaliannya? tanya saya bercanda. Dia terkekeh, selalu begitu. Kami sama-sama menyesap cairan berasa kopi ini. Jika bokep mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka kopi jagung pun enggak ubahnya kopi betulan. Iwang sendiri ketika mencicipi Americano, atau kopi tubruk Lanang saya, justru mengeluarkan ekspresi muka serupa kukus.

3

Bagus. Kopi bagus untukmu. Ada kafein di dalamnya. Kafein, kami di sini. Kafein menempatkan si pria di atas kuda si wanita dan si wanita dalam kubur si pria. – The Sun Also Rise, Ernest Hemingway

Di Kedai Preanger. Sinar matahari pagi memaksa masuk lantai dua Kedai Preanger. Berhasil bikin saya makin enggak nyaman untuk melanjutkan tidur. Saya terbangun seperti kecoa besar tertelungkup, yang membutuhkan sebuah ledakan bom hidrogen untuk bisa menjauhkan saya dari ranjang usang itu. Akay sudah duduk di depan laptopnya, terpampang Microsoft Word di layar. Ada segelas kopi panas di atas meja sampingnya. Saya bangkit, dan tanpa minta izin langsung menyeruputnya. Bukannya menghardik, dia malah bertanya: Rip, ajarin bikin dialog lah. Saya enggak menjawab, pura-pura masih mengantuk. Rupanya dia sedang menulis cerpen.

Beberapa minggu sebelumnya, Kelas Literasi mengkhususkan untuk saling meresensi blog masing-masing, saya sengaja enggak ikut mendaftarkan diri. Aneh memang, lewat blog ini saya tentu saja menulis agar dibaca orang, tapi di sisi lain ada perasaan enggak nyaman ketika tulisan saya dibaca orang, tentu soal resiko disalahpahami dan dihakimi. Saya juga semakin bingung soal kenapa saya menulis, kenapa saya ngeblog, lebih jauh kenapa saya hidup, mereka yang menyebut dirinya penulis harusnya dikasihani, termasuk diri saya ini. Dan jika membandingkan dengan blog kawan lain, justru saya merasa malu akan blog ini. Mereka bisa menulis dengan jujur, dengan bahasa asyik. Lebih-lebih blog kepunyaan Akay, yang berkat salah satu postingannya bisa mendatangkan tambatan hatinya.

Setelah tulisan si pria tentang si gadis, mereka melepas rindu dengan bertemu. Di suatu malam Minggu di bagian luar Kedai Preanger. Saya dan Iwang memperhatikan dari dalam. Iwang mungkin sembari memikirkan pacar jauhnya di Ciamis. Akay mengantar pulang si gadis yang menyisakan segelas latte yang masih penuh. Saya, tentu tanpa minta izin, menyesap latte itu, menonton jalan Solontongan yang kali ini lenggang, dan berharap ada kucing lewat yang bisa diajak bicara. Hanya ada malam.

Kategori
Celotehanku

Adakah yang Bisa Dituliskan dari Band Bernama Pure Saturday?

Jika bukan kemeja, biasanya motif batik, maka pria tambun itu akan tampil di muka umum dengan atasan kaus Pure Saturday. Jika beruntung–sialnya akan selalu beruntung, saya, juga kamu, saat hari kerja bisa mendapatinya siang hari datang ke Kedai Preanger untuk mengasoh, memesan es teh manis, lalu memutar lagu-lagu dari band bergenre alternative atau britpop keras-keras. Ini kantor kedua saya, kelakarnya. Mempunyai anak bernama Kafka, namun berbeda seperti ayah dari pengarang fenomenal kelahiran Ceko yang merupakan pemilik nama tersebut, sulit membayangkan kalau pria bulat itu akan jadi seorang bapak yang bengis dan otoritatif bagi anaknya. Di senja hari Sabtu kemarin (18/06/16), dengan perut yang masih buncit seperti ibu hamil trimester tiga itu masyuk memoderatori Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-48.

clnz9n8wkaektv5

Jadi adakah yang bisa dituliskan dari band bernama Pure Saturday? Pertanyaan bodoh. Sudah jelas bahwa segalanya pasti bisa dituliskan. Untuk menulis profil seorang Pure People–sebutan bagi fans dari band tersebut–saja sangat bisa, itu pun masih banyak yang belum tergali, apalagi untuk menarasikan sebuah band yang lahir tahun 1994 itu. “Entah mau dimulai darimana soal PURE SATURDAY ini, soalnya dari mulai saya mengenal nama Pure Saturday, sampai dekat dengan para personilnya saat ini terlalu banyak cerita untuk dikisahkan,” tulis pria cengos berakun @anggicau itu di blognya dalam Melihat Pure Saturday dari Depan Panggung; A “Pure People” Journey.

“Pure Saturday itu ‘datar’, dalam dua puluh halaman pun sebetulnya kisah mereka bisa selesai, tapi saya mencoba menggali terus sisi menariknya,” ungkap Idhar Resmadi soal proses kreatif pembuatan buku Based on A True Story Pure Saturday (2013) yang menjadi narasumber. Meski dengan suara bising lalu lalang kendaraan di jalan depan, obrolan soal Pure Saturday dan bahasan tentang proses penulisan buku tadi berlangsung asyik, selama dua setengah jam dilewatkan.

Untuk tips menulis, Kang Idhar mengutip tiga prinsip dari Haruki Murakami; bakat, fokus, dan daya tahan. Sebagai fanboy Murakami, saya akan sedikit memberi elaborasi, ketiga prinsip tadi sebenarnya tips menjadi novelis, namun tentu saja bisa diaplikasikan untuk penulis apapun. Soal bakat sendiri adalah tentang ketersediaan ‘sumur inspirasi’ seseorang, maksudnya bahwa ada orang yang bisa terus menimba inspirasinya tanpa henti, ada juga yang bisa cepat habis. Untuk bakat ini, karena semacam karunia, jadi mari arahkan diri ke fokus dan daya tahan tadi. “Bukan cuma buku, untuk menyelesaikan artikel dua halaman saja butuh fokus dan daya tahan,” sebut jurnalis di berbagai media tersebut. Misalnya, Kang Idhar harus mewawancara tiap personal PS dan siap jadi penampung curhat mereka, juga soal menyortir beragam kliping media. Nah, cara jitu agar bisa tetap fokus dan daya tahan terjaga adalah dengan menulis apa yang kita minati dulu. Berhubung fans dari PS sejak lama, ditambah sudah dekat secara personal, Kang Idhar menyebut ketika menulis biografi ini dia juga secara enggak langsung sedang menulis dirinya sendiri.

“Sebetulnya cerita Pure Saturday di buku ini klise, tapi bagaimana kita bisa menggali emosinya,” jelasnya, yang mengaku kalau inspirasinya menulis buku tadi mengacu pada biografi sang basis Blur, Alex James, serta kisah perjalanan Radiohead. Memang, PS sendiri band yang terbilang lempeng, bukan band bertabur skandal, dan tentu saja jika untuk urusan sukses finansial pasti kalah dengan band-band produksi label mayor. Juga, untuk ideologi musiknya sendiri murni sebagai ‘kekinian saat itu’, sebuah tanggapan akan subkultur indies yang sedang mewabah medio 90an. Bagaimanapun, merekam ‘sejarah mungil’ ini lewat jalan menuliskannya adalah upaya membangun ingatan kolektif. “Biografi tentu sebuah riwayat, dan kita bisa mempelajari fakta sosiologis dari rangkaian peristiwa itu,” tambahnya.

Foto: Komunitas Aleut!

Kategori
Celotehanku

Persib dan Literasi Bal-balan

Saat rehat babak pertama laga tandang Persib yang melawat Persiba, saya menulisi akun @simamaung dengan pertanyaan retoris sok puitis: Kenapa sepi dan rindu diciptakan? Hanya tinggal mengklik tombol tweet, beruntungnya saya bukan makhluk yang kelewat iseng. Sebenarnya, enggak masalah sih sedikit jahil dengan salah satu media daring paling akrab di telinga bobotoh ini, hitung-hitung meredakan ketegangan skor kacamata di malam itu–malam Minggu yang niscaya akan jadi jahanam jika tanpa puisi dan Persib.

Sepakbola bukan cuma sebuah permainan, bukan hanya olahraga, ini adalah satu agama, sabda seorang Diego Maradona. Meski enggak tertulis di data KTP, tapi mayoritas warga Bandung sudah bisa dipastikan beragama Persib. Menonton Persib, baik berjamaah ke stadion atau di tempat nobar, atau sendiri-sendiri di rumah masing-masing, adalah ibadah fardlu bagi bobotoh. Maka dalam kegiatan rutin Kelas Literasi Komunitas Aleut! yang rutin diadakan hari Sabtu itu mengundang kawan-kawan pesohor dari @mengbal, @stdsiliwangi, @panditfootball, kang @riphanpradipta, dan kang @dumbq_ berbagi pengalaman, ide, dan informasi seputar sepakbola Bandung dan pengelolaan situs daring yang mereka jalankan.

“Saya lahir di Kediri, dan pernah tinggal di Malang, lalu sekarang tinggal di Bandung. Jadi saya sudah juara tiga kali,” ujar seorang penulis sepakbola yang hadir sore itu, yang kemudian disambut tawa oleh kawan-kawan lainnya. “Dari pengalaman saya itu, budaya sepakbola Bandung masih yang terdepan. Di sini sangat terbuka, kritik adalah hal yang bisa terjadi setiap hari. Di Bandung warga berderet di pinggir jalan menyambut bobotoh, sesuatu yang bahkan di Malang pun tidak terjadi.”

Dengan tajuk ‘Ngawangkong Sepakbola Bandung’, tentu ini hanya sebatas mengobrol ngalor-ngidul, dan memang begitu yang terjadi: Tentang keisengan dan kecintaan yang jadi sesuatu yang menguntungkan, tentang tulisan analisis tim Persib yang justru jadi polemik karena pelatih tim lawan memanfaatkan ini dalam strateginya, tentang perbandingan kultur pendukung antara di Eropa dengan Indonesia, hubungan politik praktis dengan sepakbola, tentang betapa ketatnya redaksi Pandit Football, tentang boroknya persepakbolaan Indonesia dari mulai level tarkam sampai kompetisi yang masih ketarkamtarkaman, bahkan gosip kehidupan percintaan pemain Persib. Beragam topik diobrolkan, dan sayangnya saya pencatat yang payah.

“Bagaimana caranya memulai menulis sepakbola?” tanya seorang kawan yang hadir. Hey, jika kau kesulitan memulai menulis, itu artinya kau masih kurang membaca. Bukan hanya pada teks tertulis, tapi lebih ke arah membaca konteks. Dan sepakbola memang salah satu bahasan yang enggak bakal tuntas untuk terus dibahas dan dibahasakan. Literasi sendiri adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Tentu, ‘Ngawangkong Sepakbola Bandung’ ini bisa dijadikan semacam batu loncatan untuk kegiatan lebih lanjut tentang penulisan bola.

Membaca lebih intelek ketimbang menulis, ujar Jorge Luis Borges sang maestro realisme magis itu. Enggak cuma huruf-huruf dalam buku, pertandingan sepakbola pun termasuk sebuah teks, teks-teks yang bisa dibaca namun belum dialihtuliskan. Lebih-lebih soal Persib, ini adalah ladang realisme magis, yang enggak akan habis digali untuk inspirasi tulisan.

Bermiliar puisi tentang cinta telah dibikin, namun dari berjuta manusia yang mengaku cinta Persib, kenapa tak ada yang menuliskan puisi mengenai kecintaan macam ini? Ah, mungkin ide bagus buat disampaikan pada Simamaung untuk menambah rubrik puisi atau cerpen.

Kategori
Buku Celotehanku

Dio dan Novelnya yang Boleh Kamu Percaya

kamu sabda armandio

Salah satu tugas pertama penulis, tegas Aan Mansyur, adalah membunuh klise! Maka, jika masih memakai protagonis penyuka kopi – sungguh ini sudah sebasi tema senja dalam puisi, janganlah menulis fiksi (kecuali jika kau sudah benar-benar hebat yang mampu menggarap tema-tema pasaran macam begini). Dan Sabda Armandio Alif, menegaskan kepenulisannya, karena belum hebat tadi, dengan menghadirkan sosok protaganis yang berbeda: penyuka mie instan goreng. Dilihat dari diferensiasi ini aja, novel perdana Dio ini layak dibaca.

Sebenarnya sudah lama saya membaca KAMU (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya), tapi berhubung baru kemarin saya mengangkat novel ini untuk Riungan Buku Komunitas Aleut! dan saya pun belum menuliskan resensinya, maka enggak ada salahnya saya ulas novel jenis coming-of-age yang masuk 5 Buku Terbaik 2015 versi majalah Rolling Stones Indonesia ini. Jujur, dulu saya beli novel ini, kagok aja sih kalau cuma ambil kumpulan fiksimini terjemahannya Ronny Agustinus, yang sama-sama dari Moka Media.