Kategori
Celotehanku

Solontongan 20D, Sebuah Elegi

Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam. – Iwan Simatupang, Ziarah

Frasa ‘masa lalu yang indah’ bukan berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja, beruntungnya, orang-orang diberkati bakat mudah melupakannya. Sialnya, kita tak diberi kuasa untuk memilih mana yang harus dilupakan, pikiran kita begitu tengil. Kalau tak jadi gumpalan gelap, masa lalu berubah jadi ingatan fragmentaris, pecah jadi beling, untuk kemudian menggiring manusia pada bakat lainnya: meromantisasi. Inilah yang terjadi saat saya melihat-lihat hampir 1700an foto yang saya kumpulkan dalam folder Kedai Preanger.

Kadang saya terhenti pada sebuah foto, mengamati agak lama, sesekali diperbesar, mencoba mengingat, perasaan hilang timbul, yang seringnya bikin saya tersenyum, senyum dengan rasa sendu. Semua foto adalah memento mori, sebut Susan Sontag. Mengambil foto adalah berpartisipasi dalam kemortalan, kerentanan, dan ketaktetapan orang lain, atau suatu hal. Dengan mengiris suatu momen dan membekukannya, segala foto membuktikan pencairan tanpa henti sang waktu. Karena ia tak ada dalam kendali kita, waktu menjadi mimpi buruk, kabar buruknya mesin waktu hanya ada dalam fiksi ilmiah. Kemarin adalah sesuatu yang tak bisa diulang, difungsikan begitu, hanya untuk dikenang, dan oleh yang sedikit untuk diinsafi. Kiwari, teknologi menyulap kemarin jadi potongan piksel.

Tentu, tak ada tujuan untuk menyaingi Tropenmuseum atau KITLV. Saya sadar termasuk golongan pengarsip yang payah, dan agak malas. Berhubung akhir-akhir ini sedang bergelut dalam persejarahan, saya berpikir kenapa tak mengulik sejarah mungil yang dekat. Folder Kedai Preanger tersebut diisi oleh foto-foto yang terkirim dari grup WhatsApp Komunitas Aleut, sejak April 2016. Foto-foto yang sebagian besarnya untuk konsumsi di grup tersebut, hanya sedikit yang diumbar di media sosial, karena tak Instagramable dan kadang asusila. Gaya estetika visual foto-fotonya merupakan contekan are-bure-boke, kasar-kabur-tak fokus, potretan mana suka, penuh noise, tapi bukan karena ingin meniru fotografer Daido Moriyama, lebih karena kebutuhan praktis dan kemampuan kamera yang segitu-gitunya. Peduli setan dengan decisive moment-nya Henri Cartier-Bresson, inilah potretan yang saya suka, foto-foto yang justru lebih memiliki jiwa.

“Komunitas” nampaknya mengalami penyempitan makna. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. Jarang kita dapati “komunitas” sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan. Apa yang hari ini kita sebut atau rujuk soal komunitas cuma sebatas klub kegemaran. Bukankah kalau secara gramatika, seseorang yang aktif di komunitas bisa disebut komunis?

Selain dari teks-teks Marxis yang saya baca, Komunitas Aleut tampaknya yang berperan menyulap seorang yang anti-sosial ini jadi lebih sosialis. Tampak luar, Komunitas Aleut mungkin cuma dianggap klub jalan-jalan hore keliling bangunan-bangunan kolonial, atau para kutu buku yang ngulik masa lampau. Padahal definisi komunitas yang dipakai adalah dari arti sebetulnya, masyarakat, atau lebih tepatnya “masyarakat mungil” untuk terjun ke masyarakat yang lebih luas. Kedai Preanger adalah ruang belajar tersebut. Bagi saya, Solontongan 20D pernah jadi rumah tangga (bukan hanya karena ada tangga ke lantai dua, tapi saya pikir “rumah tangga” dalam makna kiasan betulan).

Saya tak ingat betul kapan mulai menginap, bahkan menetap di sini. Yang pasti dimulai sejak 2015. Di awal tahun tersebut, terakhir kalinya saya punya kamar kos dan harus meninggalkannya setelah praktek lapangan di RSUD Sumedang usai. Karena jadwal perkuliahan tak terlalu padat, saya dugdag dari rumah di Bandung selatan ke Jatinangor. Kemacetan di Jembatan Citarum sampai Cibaduyut, panjangnya Jalan Sukarno-Hatta beserta lampu merahnya yang menguji kesabaran, kemacetan lainnya dari Cibiru sampai Cileunyi, dan berlaku sebaliknya saat nanti pulang, memunculkan tiga tempat rehat pilihan: masjid, minimarket dan Kedai Preanger.

Kejenuhan akan perpolitikan kampus dan krisis eksistensial yang mendera bikin saya ingin punya semacam pelampiasan yang rada liberal: sastra dan humaniora. Kedai mungil ini menyediakan perpustakaan. Di tahun 2015, Kedai Preanger masih punya pegawai, dan sudah ada dua penghuni tetap, Irfan dan Ghera, ditambah penghuni gaib lainnya, yang katanya nongkrong di tangga. Ketika terlalu malam, atau terlalu malas, untuk pulang ke rumah, saya menginap di sini. Sampai akhirnya justru inilah jadi tempat pulang.

Kedai Preanger ramai di waktu tertentu saja, utamanya saat Kamisan dan Kelas Literasi. Bunga-bunga muncul dan redup, hama-hama terus bermuram durja. Entah siapa dan kapan tercipta istilah “bunga” dan “hama” ini, yang pertama berarti perempuan, yang kedua adalah para penyamun yang mencoba, atau berangan-angan, ingin mendapatkan yang pertama. Selain agar Kedai Preanger makin ramai, antar jemput diciptakan untuk memuluskan langkah para hama tadi, meski seringnya cuma membuat para hama itu naik tingkat jadi tukang ojek gratisan. Untuk urusan ini, saya hanya memercayakan motor saya untuk dipakai antar jemput, biasanya oleh Ajay atau Akay.

Orang-orang hadir dan pergi, membawa suka ria dan patah hati, menciptakan cerita.  Selain jago memoderatori Kelas Literasi, Irfan paling lihai memandu sesi curhat dan menganalisis gosip-gosip percintaan. Waktu terbaik adalah ketika sebelum tidur malam, saat lampu dimatikan. Gelap yang menaungi ruangan menyulap tiap-tiap penginap menjadi Syahrazad, juru cerita dalam Kisah Seribu Satu Malam. Tak semua begitu, selalu ada yang gigih mengunci mulutnya, atau yang masih malu-malu kunyuk. Jujur, meski sering memberi komentar, saya sendiri begitu menutup diri. Saya kadang merasa bersalah karena tak bisa membagi kisah-kisah ajaib.

Jika diadu dengan kedai kopi kiwari yang memakai kusen-kusen kayu berpelitur kinclong dan alat-alat kopi elitis, yang menyetel lagu-lagu sendu dengan suasana adem tanpa bising motor bocah-bocah SMP, Kedai Preanger bakal dilabeli kumuh oleh para hipster. Secara bisnis, berjalan merayap, bahkan terseok-seok, dengan berbagai macam perubahan menu dan pergantian pegawai. Namun, mengingat banyak kedai, kafe, atau  usaha yang sejenis ini ternyata hanya mampu bertahan 1-2 bulan saja, lalu bubar, Kedai Preanger harus berbangga.

Bukan racikan kopi dan teh yang luar biasa, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya, namun ada hal lain yang dapat ditemukan di Kedai Preanger. Kopi hanyalah minuman sederhana yang dibikin ribet oleh manusia modern. Namun, di kedai ini saya belajar meracik kopi sendiri. Memang, jika ditanya soal tektek bengek third wave coffee, saya angkat tangan, tapi barista mana yang bisa memberi kuliah soal sejarah Priangan dan awal mula kopi.

Kierkegaard tak bisa mengajarkan cara merapikan parkir motor, Nietzsche tak bisa mengajarkan cara mengiris bawang, Camus tak bisa mengajarkan cara memecah es batu dalam plastik, Zizek tak bisa mengajarkan cara japri pada seseorang yang ada di grup WA, dan para filsuf lebih memilih memikirkan hal-hal abstrak. Tentu, ada beribu alasan yang bakal diajukan para pemikir itu kenapa mereka langka memikirkan hal-hal praktis.

Selain membaca, mencuci piring jadi kesenangan saya berikutnya. Entah kenapa. Melihat tumpukan piring berminyak dan gelas dengan ampas kopi sisa malam kemarin, dan harum Sunlight, berasa sedang melakoni seorang George Orwell dalam Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London. Terbayang ketika Hemingway nyaman makan di hotel modis di rue de Rivoli, Orwell sedang berpeluh menghadapi piring-piring kotor di dapur bawah dengan perut keroncongan.

Jika Shakespeare & Company punya andil besar bagi Hemingway, maka bagi saya itu adalah Kedai Preanger. Sebagai rumah, ia telah membuka beragam minat: literasi, kopi, cuci piring, jatuh cinta dan bakat romantisasi – kesaktian yang sebenarnya dikuasai betul Abdurahman lain dari Cibeureum. Solontongan 20D telah kembali ke fungsi sebelumnya, cuma ruko.

Kategori
Celotehanku

Apa yang Saya Ketahui Soal Jurnalisme

Bekal wawasan saya tentang jurnalisme adalah dari kuliah di University of Amsterdam, meski cuma ngambil Introduction to Communication Science, mata kuliah dasarnya komunikasi massa, dan ini hanya kuliah online di Coursera–saya juga ikut ambil filsafat dasar di University of Edinburgh, tapi enggak sampai tuntas. Yang saya dapat dari kuliah tadi adalah tentang sejarah komunikasi massa, bahwa komunikasi yang asalnya hanya milik penguasa, menjadi milik publik lewat yang namanya jurnalisme ini. Jika ditarik kebelakang, awal ketertarikan saya pada jurnalisme itu berkat pertama kalinya punya kamera DSLR, mula-mula belajar fotografi, tertarik dengan human interest, tentang memotret interaksi manusia yang merupakan satu topik dalam bidang jurnalistik, kemudian timbul juga keinginan sinting jadi jurnalis perang setelah nonton The Bang Bang Club. Dari fotografi, minat saya bergeser ke sastra, karena sadar bahwa bagaimanapun menggeluti fotografi butuh dana enggak sedikit, berbeda dengan menulis. Dari sini saya berkenalan dengan yang namanya jurnalisme naratif atau jurnalisme sastrawi. “Jurnalisme Sastrawi adalah pintu masuk bagi mereka yang enggak berlatar belakang jurnalistik,” ungkap Idhar Resmadi saat membedah bukunya di Kelas Literasi. Jurnalisme naratif sendiri tulisan bernilai jurnalistik namun dituturkan luwes dengan gaya bercerita, yang sering memasukkan unsur personal, untuk lebih jelasnya bisa baca Masa Depan Narasi. Jika pada Kelas Literasi pada pekan ke-48, kami berada di lantai dasar Kedai Preanger, maka di pekan 67 dan 68, berpindah ke lantai kedua, tempat para hama dan kehampaan berkelindan, untuk belajar dasar-dasar jurnalistik dan penerapannya dalam jurnalisme warga.

Dari Kelas Literasi bertajuk Jurnalisme Warga yang dipandu Ridwan Hutagalung ini saya kembali diarahkan untuk mengenal 9 elemen dasar dari Bill Kovach, yakni: 1) Jurnalisme itu mengejar kebenaran; 2) Komitmen wartawan kepada masyarakat dan kepentingan publik; 3) Jurnalisme itu disiplin menjalankan verifikasi; 4) Independen terhadap sumber berita; 5) Harus menjadi pemantau kekuasaan; 6) Menyediakan Forum bagi masyarakat; 7) Berusaha keras membuat hal penting menjadi menarik dan relevan; 8) Menjaga agar berita proporsional dan komprehensif; 9) Mengutamakan hati nurani. Dengan perkembangan sistem informasi, hadirnya internet, utamanya media sosial, menjadikan jurnalisme jadi makin cair dan memungkinkan setiap orang bisa jadi jurnalis. Lahir Jurnalisme warga, kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Sebagai latihan, ngaleut Blok Tempe yang akan diadakan esoknya harus dituliskan dalam bentuk jurnalisme warga, kemudian di pekan selanjutnya akan dibahas.

“Cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan,” ungkap Gabriel Garcia Marquez, dan mengeluhkan soal jurnalis-jurnalis zaman sekarang lebih tertarik memburu breaking news dan keuntungan serta privelese dari kartu pers mereka ketimbang kreativitas dan etika, seperti yang dicatut dari tulisan Silvana Paternostro, yang diterjemahkan Ronny Agustinus, Tiga Hari Bersama Gabo, yang menceritakan pengalaman lokakaryanya bersama peraih Nobel Sastra 1982 tadi. “Kupandangi sekeliling meja,” tulis Silvana, “Dari 12 peserta, cuma Andrea Varela dan aku yang perempuan.” Situasinya hampir sama, hanya saja tanpa perempuan, Kelas Literasi pekan ke-68 ini disesaki para pejantan, berbeda dengan minggu kemarin yang masih disegarkan dengan kehadiran kaum hawa. Kami membahas tulisan yang dipacak peserta di Instagram atau di blog pribadinya. Saya sendiri belum menyelesaikan tulisan, dan di tengah-tengah diskusi keluar tanpa izin untuk mengambil angin, dan karena terjebak hujan deras, ketiduran di masjid, kembali lagi ke Kedai sebelum bubaran.

Setahun sebelumnya, berkat Komunitas Aleut! saya bisa merasakan jadi seorang jurnalis dan karenanya bisa melahirkan Pernik KAA 2015: Serba-Serbi Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Jika menilik lagi, tentu tulisan saya enggak secanggih sekarang, pun soal wawasan, dan waktu itu belum terlalu akrab dengan Gabo.

Menjelang berakhirnya Kelas Literasi pekan ke-68 tadi, ada bahasan soal penggunaan Instagram sebagai media jurnalisme, saya merekomendasikan untuk melihat-lihat akun AJ+ yang ber-tagline: “news for the connected generation, sharing human struggles and challenging the status quo.” Yang memotret beragam keseharian, dan mengisahkannya. “Kita bikin media baru, Solontongan Plus,” kelakar saya. Solontongan sendiri adalah nama jalan di Buahbatu yang melewati Kedai, dan seorang kawan beberapa waktu kebelakang iseng bikin media bernama Solontongan Pos. Masih dibuat penasaran, setelah bubaran Kelas Literasi, setelah menonton kemenangan Persib atas Persipura, setelah melewati malam Minggu yang begitu-begitu saja, sambil mendengar berulang-ulang Kim Taeyeon dan Blackpink, saya mencari apakah ada sebutan untuk model jurnalisme itu. Saya menemukan istilah ‘Slow Journalism’, bisa dibaca lebih lanjut di Slow Journalism, Kekuatan di Era Serba Cepat. Di tengah gelombang media yang enggak sabaran mau menyajikan berita, sebutlah itu ‘tsunami informasi’ atau ‘polusi notifikasi’, harus lahir jurnalisme berperspektif baru. Tentu, enggak bisa enggak, saya harus mengutip kembali gagasan Gabo, “Cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan.”

Kategori
Celotehanku

Novel Terjemahan Pustaka Jaya

“Kita perlu karya sastra dari negara-negara lain untuk mengembangkan wawasan dan merangsang gagasan kita. Tanpanya, kita bukan cuma mengerdil, namun kelaparan,” tulis kritikus Magnus Linklater, yang saya kutip dari pengantar novel Piramid terjemahan Marjin Kiri–satu penerbit keren yang merasa prihatin karena hari ini kita nyaris tak lagi mengenal perkembangan sastra dunia kontemporer, berbeda dengan masa awal dan pertengahan abad ke-20.

Abdul Moeis menerjemahkan karya klasik Don Quixote. Setelah diumumkan sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 1913, novel Rabindrath Tagore segera ada terjemahannya oleh Muhammad Yamin. Soekarno membaca kemudian mengutip Dante di sana-sini. Bahkan kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an dengan songongnya memproklamasikan diri sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia.” Sampai kini pun, kegiatan penerjemahan buku memang enggak pupus di Indonesia, namun porsinya makin lama makin diserbu novel remaja dan populer. Idealnya, penerbit-penerbit besar dengan dana melimpah semestinya memberi perhatian pada sastra bermutu, bukan melulu tunduk pada pasar. Perlu hadir penerbit yang “menerbitkan buku baik” seperti Pustaka Jaya.

Siapa enggak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya. Pustaka Jaya bisa dibilang sebagai tonggak baru pasca Balai Pustaka, Gunung Agung, Djambatan, dan penerbit-penerbit tua lainnya yang mulai kehabisan nafas. Penulis luar beserta karya-karyanya macam Nikolai Gogol, Fyodor Dostoyevski, Jean-Paul Sartre, John Steinbeck, Emile Zola, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran, Yasunari Kawabata, dan pengarang lainnya diperkenalkan dengan begitu masif. Dengan penerjemah yang enggak main-main, beberapa merupakan penulis kenamaan seperti Sapardi Djoko Damono, NH Dini, Asrul Sani. “Saya punya hutang pada Pustaka Jaya. Tanpanya, saya pasti akan sangat terlambat berkenalan dengan kesusastraan dunia,” sebut esais kondang Zen RS. Belakangan, Kepustakaan Populer Gramedia kembali menerbitkan beragam seri sastra dunia hasil terjemahan Pustaka Jaya (mungkin karena pertimbangan ekonomis, entahlah).

cp4ge8sueaaew0_

Sejak digagas, buku-buku Pustaka Jaya sudah sering dibahas dalam Kelas Literasi Komunitas Aleut! Maka, pada Sabtu 6 Agustus 2016, menginjak pekan ke-54, diusunglah tema “Literasi Pustaka Jaya” yang digelar di Taman Cibeunying. Kebanyakan yang diresensi adalah novel-novel terjemahan.

Saya enggak ikut meresensi, sehingga (sengaja) datang telat. Saat tiba, si mungil Hamdan telah membahas hasil pembacaannya akan novel Notsume Soseki berjudul seperti lagu lawas Element, Rahasia Hati, kemudian diskusi melebar soal penulis Jepang dan fenomena bunuh diri-meski Soseki bukan salah salah satunya. Hamdan sendiri adalah kawan yang sering memanggil saya Murakami, saya jadi bertanya-tanya apakah Ajip Rosidi dipanggil Kawabata juga karena mengagumi dan menerjemahkan karya penulis Jepang ini.

Dataran Tortilla-nya John Steinbeck yang diterjemahkan Djokolelono memang bajingan. Kegokilan Steinbeck dialihbahasakan dengan apik oleh orang yang mencipta beragam slogan asyik; Terus Terang Philips Terang Terus, Susu Saya Susu Bendera, Pria Punya Selera. Pengarang Ahmad Tohari mengakui bahwa lahirnya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sangat dipengaruhi dari hasil pembacaannya pada novel Dataran Tortilla ini. Mbak Nurul yang kebagian merensensi novel ini juga mengiyakan karena menikmati pembacaannya. Kalau saja bukan karena untuk diresensi, saya bacanya bakal dilama-lamain, ungkap wong Bantul itu.

Berbeda dengan Tintin yang mendapat Cinta Pertama-nya Ivan Turgenev, dan mengaku menyerah di tengah jalan karena enggak terlalu paham konteks latarnya. Memang, seringnya saya pun bakal menikmati cerita dalam novel klasik justru setelah membaca di seperempat akhirnya, harus memaksakan diri beradaptasi dengan semesta cerita. Novel klasik Rusia sendiri terkenal berkat kehebatannya dalam menyampaikan beragam konsep psikologi dan hubungan manusia yang kompleks lewat jalan kisah.

Tahun 1980-an Ajip Rosidi pergi ke Jepang dan mendelegasikan Pustaka Jaya kepada orang lain. Sayang beribu sayang, sejak saat itu Pustaka Jaya terpuruk. Pustaka Jaya yang tadinya memiliki standar buku-buku baik yang hendak dicetak, mulai bergeser ke memenuhi selera pasar. Karena semakin merugi, Ir. Ciputra berniat menyarankan Pustaka Jaya ditutup saja. Lalu sekembali dari Jepang, ia menahan keinginan Ir. Ciputra dan lalu membeli saham Pustaka Jaya yang ada di tangan Ir. Ciputra dan berupaya mengembalikan kejayaan Pustaka Jaya. Tapi waktu demi waktu, Pustaka Jaya semakin meredup. Untuk menghidupi Pustaka Jaya, cukup sering Ajip Rosidi menjual hartanya, seperti lukisan untuk menyambung umur Pustaka Jaya. “Saya ingin Pustaka Jaya bisa hidup, sehat, agar buku-bukunya dibeli oleh umum. Dan buku-buku itu penting dilihat dari segi kebudayaan,” tegas Ajip Rosidi.

Kondisi perbukuan banyak merugi dengan kompetisi yang makin berat, lebih-lebih di negara bernama Indonesia. Rezim bestsellerism telah banyak menimbulkan krisis keuangan penerbit-penerbit lama, seperti Djambatan, Balai Pustaka, dan sekarang Pustaka Jaya. “Menulis adalah sebuah bisnis mengerikan, dan menyedihkan,” sebut pengarang Amerika, Ann Patchett, “Tetap bertahan. Itu lebih baik daripada apa pun di dunia.” Haruskah saya berganti nama jadi Ajip dan mengakuisisi Pustaka Jaya?

Kategori
Celotehanku

Adakah yang Bisa Dituliskan dari Band Bernama Pure Saturday?

Jika bukan kemeja, biasanya motif batik, maka pria tambun itu akan tampil di muka umum dengan atasan kaus Pure Saturday. Jika beruntung–sialnya akan selalu beruntung, saya, juga kamu, saat hari kerja bisa mendapatinya siang hari datang ke Kedai Preanger untuk mengasoh, memesan es teh manis, lalu memutar lagu-lagu dari band bergenre alternative atau britpop keras-keras. Ini kantor kedua saya, kelakarnya. Mempunyai anak bernama Kafka, namun berbeda seperti ayah dari pengarang fenomenal kelahiran Ceko yang merupakan pemilik nama tersebut, sulit membayangkan kalau pria bulat itu akan jadi seorang bapak yang bengis dan otoritatif bagi anaknya. Di senja hari Sabtu kemarin (18/06/16), dengan perut yang masih buncit seperti ibu hamil trimester tiga itu masyuk memoderatori Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-48.

clnz9n8wkaektv5

Jadi adakah yang bisa dituliskan dari band bernama Pure Saturday? Pertanyaan bodoh. Sudah jelas bahwa segalanya pasti bisa dituliskan. Untuk menulis profil seorang Pure People–sebutan bagi fans dari band tersebut–saja sangat bisa, itu pun masih banyak yang belum tergali, apalagi untuk menarasikan sebuah band yang lahir tahun 1994 itu. “Entah mau dimulai darimana soal PURE SATURDAY ini, soalnya dari mulai saya mengenal nama Pure Saturday, sampai dekat dengan para personilnya saat ini terlalu banyak cerita untuk dikisahkan,” tulis pria cengos berakun @anggicau itu di blognya dalam Melihat Pure Saturday dari Depan Panggung; A “Pure People” Journey.

“Pure Saturday itu ‘datar’, dalam dua puluh halaman pun sebetulnya kisah mereka bisa selesai, tapi saya mencoba menggali terus sisi menariknya,” ungkap Idhar Resmadi soal proses kreatif pembuatan buku Based on A True Story Pure Saturday (2013) yang menjadi narasumber. Meski dengan suara bising lalu lalang kendaraan di jalan depan, obrolan soal Pure Saturday dan bahasan tentang proses penulisan buku tadi berlangsung asyik, selama dua setengah jam dilewatkan.

Untuk tips menulis, Kang Idhar mengutip tiga prinsip dari Haruki Murakami; bakat, fokus, dan daya tahan. Sebagai fanboy Murakami, saya akan sedikit memberi elaborasi, ketiga prinsip tadi sebenarnya tips menjadi novelis, namun tentu saja bisa diaplikasikan untuk penulis apapun. Soal bakat sendiri adalah tentang ketersediaan ‘sumur inspirasi’ seseorang, maksudnya bahwa ada orang yang bisa terus menimba inspirasinya tanpa henti, ada juga yang bisa cepat habis. Untuk bakat ini, karena semacam karunia, jadi mari arahkan diri ke fokus dan daya tahan tadi. “Bukan cuma buku, untuk menyelesaikan artikel dua halaman saja butuh fokus dan daya tahan,” sebut jurnalis di berbagai media tersebut. Misalnya, Kang Idhar harus mewawancara tiap personal PS dan siap jadi penampung curhat mereka, juga soal menyortir beragam kliping media. Nah, cara jitu agar bisa tetap fokus dan daya tahan terjaga adalah dengan menulis apa yang kita minati dulu. Berhubung fans dari PS sejak lama, ditambah sudah dekat secara personal, Kang Idhar menyebut ketika menulis biografi ini dia juga secara enggak langsung sedang menulis dirinya sendiri.

“Sebetulnya cerita Pure Saturday di buku ini klise, tapi bagaimana kita bisa menggali emosinya,” jelasnya, yang mengaku kalau inspirasinya menulis buku tadi mengacu pada biografi sang basis Blur, Alex James, serta kisah perjalanan Radiohead. Memang, PS sendiri band yang terbilang lempeng, bukan band bertabur skandal, dan tentu saja jika untuk urusan sukses finansial pasti kalah dengan band-band produksi label mayor. Juga, untuk ideologi musiknya sendiri murni sebagai ‘kekinian saat itu’, sebuah tanggapan akan subkultur indies yang sedang mewabah medio 90an. Bagaimanapun, merekam ‘sejarah mungil’ ini lewat jalan menuliskannya adalah upaya membangun ingatan kolektif. “Biografi tentu sebuah riwayat, dan kita bisa mempelajari fakta sosiologis dari rangkaian peristiwa itu,” tambahnya.

Foto: Komunitas Aleut!