Kategori
Celotehanku

Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Bagi saya, menulis adalah hal yang sulit, sampai hari ini. Saya masih kurang ekspresif dan nggak punya stok kosakata yang melimpah untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis memang benar sebuah pekerjaan yang resah: saya akan gelisah ketika saya kesulitan mencari kata, sebal dengan otak bebal yang gampang mogok. Katanya menulis adalah katarsis, ah bukannya meredakan kegelisahan, menulis malah bikin kadar gelisah saya bertambah.

arif abdurahman goenawan mohamad

Dan ternyata dia pun sama gelisah juga. Bedanya dia menggelisahi Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Modernisme, Nazi-Hitler, Stalin, Mao, Pembangunan, Birokrasi – pendeknya segala bentuk perekayasaan sosial, karena ini semua menggilas eksistensi individu.

Kategori
Catutan Pinggir

Lokalisme

a footpath to rembang henri cartier bresson
@ Henri Cartier-Bresson, A Footpath to Rembang (LIFE Magazine)

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 2 November 1985

Tuhan hanya menciptakan satu bumi, tapi kemudian lahirlah bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa itu pun membentuk negara masing-masing. Tembok-tembok pun tegak, dan sejak itu manusia tak tahu persis hendak bagaimana lagi.

Sebab, yang terjadi adalah semacam kekacauan, meskipun kadang-kadang tanpa darah. “Jelaslah,” kata Voltaire di abad ke-18, “bahwa sebuah negeri hanya bisa mendapat apabila sebuah negeri lain merugi.”

Pada mulanya, yang disebut mendapat terbatas pada pengertian memperoleh logam mulia. Yang disebut negeri tentu saja, kurang-lebih, sang penguasa. Kepentingan nasional berarti kepentingan raja, atau kalangan yang menentukan di atas. Kata-kata seorang bangsawan Castilia yang mengingatkan Raja Filipe III dari Spanyol tentang realitas itu agaknya berlaku buat siapa saja, setidaknya di abad ke-17 itu: “Kekuatan Paduka terdiri atas perak; pada hari perak habis, perang tak akan dapat dimenangkan.”

Kategori
Celotehanku

Kewajiban Asasi Manusia

kewajiban asasi manusia
Gambar asli dari WriteNow

Mungkin karena lagi momen kemerdekaan RI, entah kenapa jadi ada rasa kangen sama mata pelajaran Kewarganegaraan. Pengen bahas aja seputar pelajaran yang pas Orde Baru namanya PMP, namun pas saya SD jadi PPKn, dan terakhir pas saya SMP ganti lagi jadi PKn. Rindu lah sama pelajaran yang jadi sumber nilai memuaskan di rapot ini.

Okeh, yang saya akan bahas tentang topik paling dasar yang diajarkan ketika masih SD, tentang bab hak dan kewajiban. Pasti sudah sangat paham, antara hak dan kewajiban ini merupakan dua perkara yang ga mungkin bisa dipisahkan. Harus seimbang. Ketika menuntut hak, maka kewajiban jangan ditinggalkan.

Anehnya, orang lebih sering menuntut hak ketimbang menuntaskan kewajiban. Karena saking menjungjung tinggi hak tadi, Kewajiban Asasi Manusia jadi istilah yang langka. Memang, menurut bapak psikoanalisa, Sigmund Freud, setiap manusia punya ego masing-masing. Sifat ego ini adalah ingin selalu berada dalam zona nyaman, aman, senang, dan bahagia.