Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

10 Rilisan SM Station Paling Asyik

Musik populer, atau musik pop, bagi saya ibarat Pop Mie, memang kandungan gizinya sedikit, yang jika dikonsumsi kebanyakan dan terus-terusan bakal merusak kesehatan, tapi ini teman setia ketika lapar mendesak. Musik pop, layaknya Pop Mie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, dibesar-besarkan dengan iklan, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Musik hari ini hanya tai, keluh banyak orang, fenomena yang sudah ada bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. Saya pun mengakuinya, meski dengan wawasan musik cemen, bahwa musik pop itu kacangan, enggak menawarkan kebaruan, penuh kedangkalan, dan tentunya: pasaran. Maka, seperti Pop Mie, saya enggak bisa enggak untuk menikmati musik pop sebagai barang konsumsi. K-Pop adalah rasa yang saya sukai.

Lee Sooman sang pendiri SM Entertainment, yang namanya melambung sebagai penyanyi folk, dan pernah membentuk band hard rock, adalah master arsitek K-pop. SM Entertainment adalah perusahaan yang membentuk K-pop, puji majalah bisnis Forbes. SM Station sendiri adalah proyek musik digital yang dicanangkan langsung Lee Sooman, untuk melepaskan satu single tiap hari Jumat selama satu tahun, mulai dari 3 Februari 2016. Dari beragam musik video yang dirilis, saya mencoba memilih 10 yang menurut saya paling asyik, tentu banyak biasnya.

Rain

Kim Taeyeon membuka SM Station dengan lagu bertema hujan; yang menceritakan soal kenangan yang ikut turun beserta kesedihan yang kemudian menyusul.

| Baca: Hujan, Taeyeon dan Sylvia Plath

+

Spring Love

Videonya sendiri memamerkan dua sejoli, Wendy dan Eric Nam, yang tertawa dan bersenang-senang di sebuah taman bermain di suatu kencan yang manis di musim semi, sebuah duet ceria dan romantis tentang persahabatan yang berubah menjadi hubungan cinta.

+

Deoksugung Stonewall Walkway

Im Yoona adalah member pertama yang dapat saya ingat dan bedakan di Girls Generation, saat saya masih belum denger Kpop, dan hanya suka drama Korea saja. Soal akting memang Yoona jagonya, tapi kalau nyanyi, hmm. Suaranya imut, kok. Vokal Yoona yang gemesin dikolaborasi dengan band duo 10cm yang sering mengisi lagu latar ceria di berbagai drakor. Menonton videonya, kita serasa sedang kencan dengan Yoona mengitari tembok Deoksugung, sambil jepret-jepret yang Instagram.

+

Wave

Berkat ini, saya jadi suka EDM. Luna dan Amber berkolaborasi dengan R3hab, nama panggung dari Fadil El Ghoul, yang merupakan seorang DJ dari Belanda berkebangsaan Maroko.

+

No Matter What

Bisa dibilang awal mula kesukaan saya pada lagu ballad Korea adalah berkat Kwon Boa yang menyanyikan lagu latar Inuyasha. Meski di SM Station kali ini Boa sang ratu Kpop menawarkan house upbeat yang riang. Musik electronica mix yang diselingi rap dari Beenzino. Videonya sendiri berupa animasi, bagus sih, tapi saya lebih mengharapkan kalau Boa ngedance di sini.

+

All Mine

Lagi-lagi EDM. Lagu ini adalah EDM upbeat, yang cocok di musim panas, dengan video menampilkan member f(x) yang melakukan self-cam sambil memberi senyum cerah dan tampak benar-benar bahagia ketika persiapan konser di Jepang.

+

Sailing (0805)

Saya pikir jika dibikin lirik Jepang, lagu ini akan sangat cocok jadi soundtrack ending buat anime One Piece. Karena enggak ada yang dikeluarkan SNSD tahun ini, tentu ini sebuah hadiah membahagiakan di ulang tahun mereka yang ke sembilan. Tapi sayang, cuma animasi doang.

+

Dancing King

Jangan pernah berhenti bermimpi! Yoo Jaesuk, yang berusia hampir setengah abad, bisa menjadi member EXO, dan langsung menjadi main vocal, lead dancer, bahkan maknae – kalau dilihat dari jauh. Melihat variety show Infinite Challenge episode 498 makin membuat saya terharu, tentang proyek kolaborasi Jaesuk yang harus mempersiapkan diri tampil di konser EXO di Bangkok. Seperti judulnya, lagunya enak buat dipakai joget, dan ngedab.

+

Always In My Heart

Video menampilkan kedua penyanyi sebagai pasangan yang baru putus, yang masih teringat kenangan saat mereka masih bersama, dan kemampuan akting mereka mengesankan! Dalam hal vokal, suara Joy dan Seulong berbaur lembut dalam lagu bertempo menengah ini.

+

Sweet Dream

Dengan nuansa J-Pop, cerita di videonya memparodikan Crow’s Zero, dengan mendatangkan orang Jepang asli, Momo Twice. Siapa sangka, bromance di variety show Knowing Brother bisa bikin duet beneran. Kim Heechul sendiri yang menulis lagunya. Sebelumnya, di SM Stasion pun Heechul pernah berduet sama Wheein Mamamoo, dan dia yang nulis liriknya. Untuk proses di balik layarnya bisa nonton Knowing Brother episode 51, asli ngakak.

Kategori
Cacatnya Harianku

Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

hama-hama

1

“Hei! Apa semua orang di sini melakukan masturbasi?” Midori bertanya sambil menengadah memandang gedung asrama.

“Mungkin ya.”

“Apa semua laki-laki melakukan masturbasi sambil membayangkan perempuan?”

“Ya, tentu begitu,” kataku. “Aku kira tak ada laki-laki yang melakukan masturbasi sambil memikirkan pasar saham, konjugasi verba, atau Terusan Suez, tentu mereka melakukannya sambil membayangkan perempuan.”

— Haruki Murakami, Norwegian Wood

Bagai Putri Salju terlelap tak berdaya, dengan tanpa penjagaan tujuh kurci di sekelilingnya, mungkin butuh kecupan seorang pangeran agar bisa membuatnya terbangun, sebab rentetan alarm dari ponselnya enggak mempan. Masih tenggelam dalam tidur, lelap di atas ranjang lapuk, dadanya turun naik saat bernapas, bibir tanpa lipstiknya mekar, mulutnya membentuk huruf O. Adegannya hampir-hampir seperti dalam video Jepang dewasa saja, terpikir oleh saya saat sekilas memelototinya. Maka sebelum pikiran enggak-enggak melebar lebih jauh, saya lekas mengalihkan posisi. Saya menghela napas. Beruntung, keinginan untuk melanjutkan tidur lebih mendesak ketimbang gairah seksual. Situasinya, persis seperti nukilan dari draft bab pertama novel saya, Perempuan yang Bercinta dengan Anjing. Menulis novel itu seperti seks, tegas Eka Kurniawan, sialnya saya masih payah dalam menulis, dan untuk seks nampaknya masih jauh lagi, jadi entah kapan novelnya bakal rampung. Bab pembuka dengan subjudul “Bagaimana Cara Memperkosa Temanmu Sendiri” tadi tentu bukan arahan menjadi lelaki bajingan. Bagi saya, enggak sampai menyetubuhi, untuk masturbasi dengan foto kawan perempuan saja saya enggak bisa, bahkan saya segan untuk merancapi member Girls’ Generation. Seperti Toru Watanabe yang dibolehkan Midori agar dirinya dijadikan obyek fantasi seksual, Toru sudah berusaha namun enggak bisa. Ya, saya pun enggak bisa merancap ke sembarang orang, coli pun perlu tatakrama. Yang jadi soal adalah, selain menjadi inspirasi tulisan, rekaman adegan ranjang tadi tentu akan masuk alam bawah sadar. Bersama rekaman selintas lainnya ini akan jadi obyek fantasi seksual saat kita bermimpi basah, dan kita enggak bisa melawan. Kasir Alfamart yang menyapa atau petugas SPBU yang melayani kita mungkin dalam mimpi jadi lawan main yang mengulum kontol kita, atau bisa saja kita bersenggama dengan Scarlett Johansson atau kawan sendiri atau tokoh anime berbikini atau monyet betina atau seorang paman tambun atau bahkan ibu kita sendiri. Ketika terbangun, saya selalu lupa dengan siapa dan bagaimana cara mainnya, tahu-tahu basah. Kita enggak bisa menyalahkan diri kita sebagai seorang cabul. Siapa sih yang bisa mengontrol alam bawah sadar? Apalagi mimpi, utamanya mimpi basah, beserta fantasi seksual tadi, ini sesuatu yang masih mengundang banyak pertanyaan, selalu menarik untuk dibahas, dan dituliskan oleh para pemberani.

2

Aku sering berdiri di depan cermin, bertanya-tanya sampai sejauh mana jeleknya seseorang.

— Charles Bukowski, Ham on Rye

Seperti permukaan bulan, seperti jalanan Bandung selatan yang sering saya lewati, yang entah kapan akan diperbaiki, begitulah kondisi wajah yang harus saya lihat di pantulan cermin. Creep-nya Radiohead tentu sangat menyuarakan keluhan saya, dan yang saya butuhkan How to Disappear Completely dari dunia yang serba menghakimi ini. Ah, sampai kapan saya harus jadi bajingan pembenci diri? Saya selalu membayangkan terbangun dan mendapati diri menjadi Park Bogum saat bercermin dan kabar baik bahwa semua jalan di Bandung selatan akan mulus. Membayangkan sudah pasti enak, kau enggak bisa ereksi atau ejakulasi kalau enggak punya kemampuan kreatif ini, apalagi kalau kau melakukannya swadaya. Ya, ya, membayangkan diri jadi seganteng artis Korea adalah delusi yang diciptakan bisnis kapital. Kita tahu, standar kecantikan hari ini sangat terkait dengan yang namanya industri kapital, lebih tepatnya, standar kecantikan adalah bentukan industri. Sebagai negara maju, Korea Selatan tentu punya andil besar dalam membentuk standar kecantikan ini. Memang salah, tapi apakah benar-benar salah untuk punya keinginan menjadi ganteng? Di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya, yang disebut stimulus supernormal, bahkan ketika rangsangan itu palsu semata. Bunga yang cantik akan lebih menarik hama-hama. Induk burung akan mengabaikan telurnya sendiri untuk kemudian menduduki sarang yang lebih besar, atau mengalihkan makanan dari anak-anak mereka untuk memberi makan anak lain yang punya paruh yang lebih terang. Inti dari stimulus supernormal adalah bahwa imitasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan tarikan kuat dari hal yang nyata. Manusia, kalau boleh disetarakan dengan binatang, tentu punya dorongan bernama stimulus supernormal tadi; suka pamer dan suka pura-pura. Apalagi di masa kekininian, karena katanya masyarakat posmodern itu ditandai dengan superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan atau kelesuan emosi, teknologi reproduktif, pokoknya serba gimmick gitu lah. Jujur, saya tak menampik, saya pun manusia yang ada kecenderungan ingin dianggap lebih; lebih cerdas, lebih keren, lebih unggul. Jadi, seberapa salahkah saya karena membayangkan diri bisa jadi Park Bogum? Lagipula, meski enggak percaya yang namanya Law of Attraction, entah kenapa kalau saya membayangkan dan menulis sompral, bakal kejadian. Seperti dalam film Ruby Sparks. Dia yang terlahir dari perkawinan sel kata dan buah pikiran ini diam-diam mengikuti saya, tulisnya dalam blog pribadinya. Saya setuju dengan gadis Scorpio itu, yang selalu dikerubungi hama-hama dengan stimulus supernormal berlebih. Ketimbang materialis dialektis, saya lebih seorang transedentalis, makanya saya beli novel super tebal Anna Karenina, sebab pernah saya mengarang cerpen kacangan bahwa si tokoh utamanya menemukan belahan jiwanya yang secantik Kim Taeyeon ketika membaca novel karangan Leo Tolstoy itu.

3

Aku pikir ada bahaya besar dalam menulis catatan harian: kau hanya membesar-besarkan segalanya.

— Jean Paul-Sartre, Nausea

Saya membaca kembali cerpen terjemahan saya sendiri Swastika-nya Charles Bukowski dari buku Erections, Ejaculations, Exhibitions and General Tales of Ordinary Madness, dan menemukan keterkaitan dengan kondisi sekarang, bahwa Adolf Hitler masih hidup dan berganti kulit jadi presiden Amerika Serikat. Belajar menulis lewat penerjemahan sungguh sangat membantu saya, apalagi kita tahu para penulis itu sudah jago bermain seks. Masih pagi, gerimis turun, lalu saya lanjut membaca tentang kisah cinta antara Jean Paul-Sartre dan Simone de Beauvoir, sebuah kisah cinta ganjil, di The New Yorker dengan ditemani Girl Who Can’t Break Up, Boy Who Can’t Leave-nya Lessang dan lagu-lagu Korea lainnya. Alkisah, Sartre dan Beauvoir bertemu di Paris pada 1929, Sartre berusia 24, Beauvoir menginjak 21, dan keduanya sedang sama-sama belajar ujian kompetensi agar bisa masuk jadi pengajar di persekolahan Prancis. Beauvoir seorang perempuan jenjang rupawan dan stylish, juga masih punya pacar, tapi ia kemudian jatuh cinta sama Sartre yang bantet, matanya juling, seorang cowok tuna-fashion yang pakai baju kedodoran, mirip bangkong edan, dan Sartre sendiri mengakui keburukrupaannya. Sartre dan Beauvoir terkenal sebagai pasangan dengan kehidupan yang independen, yang bertemu di kafe, tempat mereka menulis buku-buku mereka, dan bebas untuk menikmati hubungan lain, tapi hubungan mereka berdua terpelihara layaknya pasangan yang sudah menikah. Karena enggak mau saling melumpuhkan kebebasan masing-masing, mereka enggan untuk menjalin ikatan pada umumnya. Jika boleh mencatut Sartre; Hama adalah orang lain. Sebagai filsuf, saya menyukai pemikirannya, meski banyak enggak ngertinya, tapi sebagai penulis prosa, saya menikmati karyanya dan sedikit lebih ngerti. Jadi bagaimana cara mengeleminasi hama? Seperti dalam No Exit, menurut tafsiran saya, yang jadi soal bukan orang lain, tapi kesalahan ada pada cara kita memandang orang lain itu, bahwa hama-hama itu adalah yang menggerogoti pikiran kita. Hama-hama penggerutu dalam kepala, itulah yang pertama yang harus kita eleminasi. Bagaimana caranya? Saya pun enggak tahu.

Kategori
Korea Fever

Perempuan yang Membaca Dostoyevsky

Kim Taeyeon, yang paras mukanya terpacak dalam grafiti dekat pertigaan gerbang tol Kopo dan juga di Jalan Stasiun Timur, sedang baca ‘Crime and Punishment’-nya Fyodor Dostoevsky di video musik terbarunya. “Seperti dia pake kaos Guns N’ Roses di klip ‘Why’, kayaknya Taeyeon memang kirim kode buat sayah,” balas Eka Kurniawan setelah saya kasih info tadi. Sebelumnya, di ‘Rain’, Taeyeon terlihat baca ‘Harry Potter and the Order of the Phoenix’, novel seri kelima dari J.K. Rowling. Taeyeon sang sobat literasi, meski cuma pura-pura, tentu saja. Eh, tapi member SNSD emang beneran pada doyan baca, loh. Ini agak snob, tapi saya punya semacam fetish pada perempuan yang membaca, apalagi ketika dia punya selera buku yang sama, membaca sastra klasik Rusia, misalnya. Saya jadi teringat pernah bikin cerpen soal pertemuan dengan perempuan yang membaca dan mengidolakan Dostoyevsky. Cuma cerpen kacangan tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang menarik, saya menggambarkan kalau si perempuan dalam cerpen itu secantik Taeyeon. Siapa lelaki yang enggak bakal jatuh cinta, coba?

‘Rain’ yang moody sekaligus jazzy di musim semi, ‘Why’ dan ‘Starlight’ yang rada RnB saat musim panas, dan kali ini ’11:11′ yang begitu sendu dirilis saat musim gugur. “Ini pukul 11:11,” Taeyeon bernyanyi dengan terlebih dulu diawali petikan gitar yang aduhai, “Ketika tidak ada banyak waktu tersisa untuk hari ini. Ketika kita biasa untuk membuat permintaan dan tertawa. Segalanya mengingatkanku padamu.” Lagu bertempo lambat yang sederhana dengan iringan akustik dan melodi piano minimalis ini merupakan lagu soal mantan, soal hubungan manis yang kemudian kandas. “Semua akan menemukan tempatnya dan pergi,” Taeyeon melantunkan dengan bijaknya. Sebuah pesan yang tulus untuk mengobati rasa sakit dan penderitaan karena patah hati. Seperti sebuah kutipan dari ‘Crime and Punishment’; “Rasa sakit dan penderitaan selalu tidak terelakkan”, yang oleh Haruki Murakami, fanboy dari Dostoyevsky, dipelintir lagi jadi, “Rasa sakit tak bisa dihindari. Tapi penderitaan adalah pilihan.”

Kategori
Celotehanku Korea Fever

Why Taeyeon On the Road?

kim taeyeon why mv jack kerouac quote

Entah kenapa MV terbaru yang aestheticaly-hipsterist-instagramish-pathdaily dan sangat Amerika ini mengingatkan saya pada On the Road-nya Jack Kerouac dan romantisme kebebasan anak muda. Dengan rambut pirang seperti bulu jagung mentah, kemeja flanel merah-biru bertuliskan Queen of Beers (awalnya saya kira Queen of Queers), celana mini gemes, gadis Korea bernama Taeyeon itu ditampilkan berjalan menuju mobil vintage birunya di sebuah gurun tandus dalam adegan awal video musik ini. Sendirian di tengah dataran tandus, yang lokasi gurunnya mungkin enggak jauh lah dari tempat syuting Fly-nya Jessica, atau Ice Cream Cake-nya Red Velvet. Saya sendiri belum selesai baca novel Kerouac itu, tapi premis ceritanya soal seorang yang melakukan perjalanan darat menelusuri Amerika Utara dan Meksiko setelah bercerai dari istrinya. Saya kira enggak lebay untuk mengaitkannya dengan Why ini, karena secara garis besar lagu ini mempertanyakan soal kebebasan hidup (individu) tanpa terikat sebuah hubungan formal penuh tanggung jawab yang mengikat. Entah itu hubungan pernikahan, atau cuma sebatas pacaran. Lebih jauh, bukan cuma asmara, ini semacam gairah masa muda untuk lepas dari beragam ikatan dalam masyarakat. Bebas sebebas-bebasnya.

Untuk memahami Why, sangat perlu untuk menghubungkannya dengan video musik yang rilis sebelumnya, Starlight. Taeyeon yang berandal, yang usil enggak jelas sama mamang-mamang tukang hotdog, sebuah sikap maladaptif yang tercipta karena kehampaan dan kesendirian. 혼자가 익숙했던 회색, 빛의 나의 하루에 (Aku sudah biasa sendiri, hari-hariku selalu kelabu). Datanglah seorang pria, Dean, bagai sebuah cahaya bintang, yang kemudian menjadi katarsis. Nah, entah bagaimana mereka berdua enggak lagi bersama. Intinya, seperti tokoh dalam novel On the Road itu, Taeyeon berpisah dan kembali sendiri. Jelasnya, ini soal move on dan bentuk pelariannya. Ya ya ya, klise emang.

Sungguh, saya enggak bisa enggak untuk terlebih dulu angkat jempol buat SM. Setelah bertahun-tahun konsepnya selalu indoor “dalam kubus” dan membosankan, belakangan ini video-video yang mereka bikin pasti “keluar dari kotak” dengan sinematografi aduhai. Lewat sudut pengambilan gambar, serta saturasi dan gradasi warna yang retro-retro itu, kita tinggal screenshot, tambahi kutipan, dan bisa langsung unggah buat Instagram, Tumblr, atau Path. Begitu aestheticaly-hipsterist-instagramish-pathdaily.

 

Kategori
Celotehanku Korea Fever

Hujan, Taeyeon dan Sylvia Plath

Apa persamaan puisi dan lagu ballad Korea? Bagi saya, keduanya sama-sama enggak bisa saya pahami, namun bisa dirasa. Ya, Bahasa Korea saya nol besar (ada beberapa kata yang tahu sih), seperti halnya kemampuan untuk berpuisi. Bikinkan aku puisi cinta, pinta seseorang suatu kali. Sungguh, saya enggak mampu, jenis apapun puisinya. Saya masih ingat puisi pertama buatan saya, waktu itu SMP, adalah tentang toilet sekolah. Dan itu dungu serta menjijikan, dalam arti sebenarnya. Untuk membaca puisi saja, buat saya, sesulit membaca aksara Hangul.

Dan ketika mendengar lagu Kim Taeyeon tercinta yang baru dirilis 2 Februari kemarin ini, entah kenapa, saya merasakan suasana yang sama ketika membaca puisi-puisinya Sylvia Plath. Ditambah, saat melihat cover art dan lirik terjemahannya, rasanya makin menegaskan spekulasi saya. Seakan-akan lagu Rain ini adalah puisi Plath yang dimusikalisi Taeyeon. Ah, dua perempuan idola saya.

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

Kim Taeyeon, “I” dan Eksistensialisme

Apakah Selandia Baru membayar Taeyeon untuk bikin video klip ini? Entahlah, yang pasti kalau iya, ini bener-bener promosi wisata yang tepat. Sinematografinya asyik, sukses ngambil beragam pemandangan ciamik. Jangan-jangan pihak National Geographic pun ikutan andil pas bikin mv ini.

Musik video ini juga rada banyak mengingatkan saya pada ‘Stars’-nya The Cranberries, dengan lebih ngepop, dan ada selingan rap. Oh ya, permainan drone pun yang makin apik. Ya iya lah, teknologi kekinian sama tahun 2000an emang udah beda, tapi saya akui kalau teknik pengambilan lewat dronenya mantap abis udah kayak Phillip Bloom aja.

Musik instrumennya juga cihuy, apalagi memasuki bagian tengah akhir udah serasa lagi dengerin Coldplay. Kpop dengan aroma Britpop. Dan ada rasa-rasa kayak lagu tema video game gitu, Final Fantasy mungkin. Ya ya ya, saya tak terlalu paham sih, tapi ini tipikal musik pop Barat sebenarnya.

Kalau soal liriknya, maaf karena nggak paham Bahasa Korea, dan belum ada lirik terjemahannya di internet, jadi belum bisa analisis. Tapi kalau ngeliat cerita di video klipnya sendiri, ini tentang kebebasan, lebih jauhnya mungkin tentang pencarian makna hidup. Taeyeon diceritakan nggak nyaman kerja di sebuah kafe, utamanya karena sering dibentak-bentak sang bos. Dan kalau tellah dari judulnya aja deh, “I”, udah ngegambarin soal eksistensialisme gitu lah.

Mencoba  mengelaborasi dari omongannya Kierkegaard sang Bapak Eksistensialisme itu, penggunaan kata “Aku” di sini menjadi sangat penting. Individu sebagai aku adalah yang menjadi aktor dalam kehidupan yang bisa mengambil arah hidupnya sendiri, bukan spektator kehidupannya belaka. Hanya individu yang benar-benar mengarahkan hidupnya yang bisa di sebut bereksistensi.

Mungkin bisa dibilang lagu ini mempertanyakan soal apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Dalam liriknya sendiri sering terdengar pengulangan kata “fly” dan ditampilkan pula kupu-kupu dalam klip sebagai simbol, ini membuat kita bertanya, bisakah manusia bebas terbang sesukanya layaknya kupu-kupu? Adakah kehendak bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. Ah ya, mungkin saya terbang kejauhan.

Yang pasti, ini lagu produksi SM yang paling saya suka sejauh ini, konsepnya beda banget dari yang biasanya. Tipikal musik Barat banget, dengan nuansa semacam alternative rock. Tapi tetap, kalau kata Eka Kurniawan mah mendengarkan Kpop itu seperti membaca novel-novelnya Murakami, Barat yang rasa Timur.