Kategori
Celotehanku

Richard Wright dan Konferensi Bandung

Ketika mengurus kartu pers, ia terkejut betapa ia disambut ramah dan didahulukan antreannya – sebuah perlakuan yang tak terjadi buat seorang kulit hitam di Amerika Serikat. Tatkala datang ke Bandung, ia tergetar. Ia melihat berbagai delegasi dengan latar belakang agama – Islam, Katolik, Buddha, dan Hindu – serta komunis, bisa berbaur menjadi satu. Bagaimana mungkin sebuah negara bayi yang baru berumur sepuluh tahun bisa menghimpun politikus berwarna – kuning, hitam, cokelat, dan sawo matang dari penjuru dunia. Ia tercekam. Menurutnya, pertemuan “umat ras berwarna” itu di luar imajinasi yang pernah dibayangkan oleh penulis-penulis Eropa mana pun. Ia menulis dalam The Color Curtain: A Report on the Bandung Conference:

Pada awal revolusi Rusia, Lenin pernah bermimpi akan membuat pertemuan semacam ini. Pertemuan dari semua unsur ras yang terbuang dan dianggap underdog. Tapi itu tidak pernah terlaksana. Sesungguhnya banyak penulis Barat, seperti H.G. Wells dan Lothrop Stoddard, yang telah memprediksi bakal bangkitnya negara-negara eks kolonial, tapi dalam imajinasi terliar mereka pun mereka tidak pernah membayangkan suatu forum semacam ini bisa terjadi

Sebelumnya, ketika tinggal sebagai seorang ekspatriat di apartemennya di Paris, menjelang Natal 1954, pada suatu sore matanya tertumbuk pada sebuah berita di koran bahwa sebanyak 29 negara Asia dan Afrika eks kolonial akan berkumpul di Bandung membahas masalah rasialisme dan kolonialisme. Ia begitu tergugah oleh simbolisme luar biasa konferensi itu dan merasa terdorong untuk melakukan ziarah pribadi ke pertemuan bersejarah itu. Untuk menutupi biaya perjalanannya, ia membuat kesepakatan dengan Congress for Cultural Freedom – yang nantinya diketahui bahwa lembaga ini disokong CIA.

Ia melakukan perjalanan ke Indonesia, tiba pada 12 April dan balik tiga minggu kemudian pada 5 Mei. Selama di Indonesia, sebagai pengamat tidak resmi ia menghabiskan 18–24 April untuk melaporkan konferensi. Kemudian ia menghabiskan dua minggu sisa perjalanannya di Indonesia untuk berinteraksi dengan berbagai penulis dan intelektual Indonesia, termasuk Mochtar Lubis, Sutan Takdir Alisjahbana, Asrul Sani, Ajip Rosidi, Achdiat Karta Mihardja, Beb Vuyk, dan lainnya. Dia juga memberikan beberapa ceramah: di sebuah acara seni yang diadakan di rumah walikota Jakarta, untuk pertemuan klub studi Takdir Alisjahbana, untuk sekelompok mahasiswa, dan untuk PEN Club Indonesia. Setelah kembali ke Paris, ia bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan bukunya ini dan akhirnya mengirimkannya ke agen sastra pada 20 Juni.

Sejak diterbitkan pada tahun 1956, buku catatan perjalanannya ini menjadi kisah tangan pertama yang sering dikutip dalam narasi Konferensi Asia-Afrika dan kajian pascakolonial. Warisannya terletak pada romantisasi dari persatuan emosional yang ditampilkan di Bandung. Dengan laporan tentang apa yang terjadi di Bandung ini, ia mengambil tempat sentral di panggung internasional dan berfungsi sebagai pertanda perubahan sosial dan politik di seluruh dunia. Dia mendesak negara-negara Barat, yang sebagian besar bertanggung jawab atas kemiskinan dan ketidakpedulian di bekas jajahan mereka, untuk menghancurkan rintangan rasial dan untuk bekerja dengan kepemimpinan negara-negara baru. Lewat buku ini, ia menjadi pendahulu era multikulturalisme dan penganjur transformasi global.

richard-wright

The Color Curtain ditulis Richard Wright, seorang penulis Afro-Amerika. Banyak karyanya, dari puisi, cerpen, novel dan non-fiksi, membahas tema-tema rasial, khususnya yang berkaitan dengan nasib buruk orang-orang Afrika-Amerika selama akhir abad 19 hingga pertengahan 20, yang menderita diskriminasi dan kekerasan di Selatan dan Utara. Pada tahun 1955, Wright adalah seorang novelis yang populer dan sukses dan seorang advokat terkemuka untuk hak-hak Afrika-Amerika, baik di negara asalnya Amerika Serikat maupun di luar negeri. Dia menjadi dikenal oleh khalayak luas pada tahun 1940, dengan keberhasilan novelnya Native Son, dan otobiografinya pada tahun 1945, Black Boy, yang menjadi buku terlaris nomor tiga selama tiga bulan. Tetapi Wright meninggalkan Amerika Serikat pada tahun 1946 untuk menghindari prasangka ras yang terus berlanjut dan mematikan.

Bandung meninggalkan kesan mendalam bagi Wright. Saat pidato pembukaan Sukarno, Wright duduk bersama 376 wartawan lain di balkon. Di Bandung, 17 ribu kilometer dari tanah kelahirannya di Mississippi, untuk pertama kalinya Wright mendengarkan pidato yang menggugahnya. “Ketika saya duduk mendengarkan, saya mulai merasakan hubungan yang mendalam dan organik di sini di Bandung antara ras dan agama, keduanya merupakan kekuatan yang paling dahsyat sekaligus irasional milik manusia,” ujar Wright. “Sukarno tidak bermaksud membangkitkan ‘iblis kembar’, tapi mencoba mengorganisasinya.”

Di Gedung Merdeka, Wright menyimak satu per satu pidato pemimpin negara, dari Sukarno, Ali Sastroamidjojo, Norodom Sihanouk, Sir John Kotelawala, sampai Gamal Abdel Nasser. Wright yang menjadi anggota partai komunis sejak berumur 12 tahun itu menyebutkan dalam bukunya ini bahwa Konferensi Bandung adalah fenomena bertemunya gerakan dan pemikiran di luar kiri atau kanan.

Kategori
Non Fakta

Zeitgeist, Kurt Vonnegut

vonnegut-sevenstoriespress_img

De mortuis nil nisi bonum!” Kata pria di bangku bar di sebelahku. Saat itu hampir mendekati waktu tutup, si bartender pamit pergi sebentar, dan hanya ada kami berdua. Kami duduk berdampingan selama hampir dua jam tanpa bicara. Aku sesekali mempelajari bayangannya di cermin biru di belakang bar, tapi aku tidak menatap matanya sampai dia berbicara—dan apa yang kulihat membuatku terkejut. Dia punya perawakan dan sikap seorang anak muda atletis, belum tiga puluh, tapi matanya—matanya seperti mata orang tua yang sakit dan bingung, seperti pada Raja Lear. “Jangan ceritakan apa-apa selain kebaikan dari orang yang sudah meninggal!” Dia menerjemahkan setelah keheningan yang mengancam.

“Aku sudah tahu,” kataku, “dan aku mengerti.”

Dia tampak puas; Begitu puas, sekaligus kehilangan minat padaku sama sekali. Dia berbicara sendiri pada bayangannya, dengan gerak isyarat. “Mereka tidak akan menemukan pria seperti Omar Zeitgeist lagi,” katanya. “Dan di mana dia sekarang? Dimana pemikir terbesar di masa kita, di sepanjang masa?” Pada titik ini, dia tertawa terbahak-bahak, begitu penuh ironi hingga hampir bergemeletuk.

Aku meninggalkan setalen uang tip di bawah gelasku yang setengah penuh, dan bergerak menuju pintu keluar. Dia menangkap bahuku dengan kasar. “Omar Zeitgeist adalah orang Jerman, satu-satunya manusia di bumi yang tahu tentang bom kosmis,” bisiknya. “Aku pengawalnya.”

“Bom kosmik itu kayak bom Hidrogen?” Aku memberanikan diri.

“Antara bom kosmik ke bom Hidrogen seperti membandingkan gempa dan cegukan,” katanya masam. “Bekerja dengan prinsip yang sama seperti saat terciptanya alam semesta, hanya dibalik.”

“Betapa hebatnya,” kataku.

“Zeitgeist tidak punya laboratorium, mengerjakan semuanya di dalam kepalanya.” Si informan ini mengetuk pelipisnya untuk menggambarkan dan membuat suara berdecak. “Mata-mata lawan kami tahu bahwa dia sedikit lagi dapat memecahkan teka-teki bom kosmik saat perang berakhir. Tidak ada petunjuk yang tersisa dalam pencariannya yang mengikuti penyerahan Jerman. Beberapa resimen penuh pria dari keluarga berada ditugaskan untuk misi tunggal menemukan Zeitgeist. Tidak sedikit dari pencari ini yang ditemukan mengambang di Rhine, Rhône, Elbe, Ruhr, Aller, Altmühl, Unstrut, dan saluran air lainnya, dengan peluru di kepala mereka. Mereka tidak sendirian dalam pencarian mereka.”

“Para komunis, ya?”

“Anda sudah tahu tentang ini?” Dia bertanya dengan heran.

“Hanya tebakan asal.”

“Seperti yang kukatakan,” dia melanjutkan dengan kesal, “di negara antara Yapura dan Putumayo Rivers adalah tanah yang tidak dikenal yang pernah diklaim oleh Kolombia dan Peru. Kolombia menang, jika Anda bilang merebut negara antara Yapura dan Putumayo Rivers disebut memenangkan. Ketika aku mengatakan tanah tak bertuan, aku bermaksud mengatakan bahwa tidak ada orang Kolombia atau Peru yang ingin pergi ke sana, dan bahwa Witotos—dalam arti kata-kata beradab—bukan manusia. Witotos hidup telanjang dan ketakutan kronis terhadap tetangga mereka, dan sangat omnivora. Betapa mengerikan omnivora yang akan kuhadapi ini.” Dia menenggak habis sisa minumannya. “Mereka makan manios, jagung, ubi jalar, kacang, cabai, pisang raja, nanas, rusa, tapir, peccary, sloth, beruang, monyet, dan—” Suaranya tertahan. Dia tersungkur dalam keheningan muram yang berlangsung selama hampir sepuluh menit.

“Omar Zeitgeist—kamu bilang akan menceritakan apa yang menimpanya,” aku melecutnya.

“Aku pergi ke sana,” katanya murung. “Dia ditemukan di Wiesbaden, di Luftschutzraum yang ditelantarkan.”

“Maaf, bisa tunggu sebentar?”

Dia menatapku penuh simpati. “Kenapa, ada apa?”

“Tidak ada,” kataku dalam kebingungan. “Aku tidak tahu apa itu Luftschutzraum.”

“Tidak usah dipikirkan,” katanya sambil mengulurkan tangannya. “Diputuskan bahwa Zeitgeist harus dilarikan ke tempat yang bebas dari para penentang dan para komunis, di mana dia bisa menyelesaikan rincian akhir dari bom kosmis. Sejauh yang diketahui, tidak ada mata-mata komunis antara Yapura dan Putumayo Rivers.” Dia tersenyum sedih. “Yang selalu dikatakan orang Kolombia adalah, ‘Hati-hati terhadap orang Peru,’ dan yang selalu orang Peru katakan, ‘Hati-hati terhadap orang Kolombia.’ Tidak ada yang mengatakan tentang Witotos, dan tidak ada yang tahu apakah belum turun hujan saat Omar Zeitgeist dan aku sampai di sana. Jika mereka memberi tahu, kita semua mungkin punya bom kosmis sekarang.”

“Mungkin saja lebih bagus seperti saat ini,” usulku.

Dia memejamkan mata dan mendesah. “Dari semua kata-kata di dunia tikus dan manusia, yang paling menyedihkan adalah ‘Mungkin saja.'” Dia menghamtam meja bar dengan tinjunya. “Dia sangat brilian, dia bahkan tidak menyadari bahwa dia telah melintasi Atlantik dan terjebak di sebuah gubuk di hutan belukar. Dia pikir dia masih berada di Luftschutzraum yang ditelantarkan, tidak tahu bahwa Jerman sudah jadi negara demokrasi, dan von Hindenburg adalah presiden. Zeitgeist tidak butuh laboratorium, tidak butuh asisten. Dia hanya berpikir, sementara aku menjaganya. Di sanalah kami, hanya kami berdua, dikelilingi oleh hutan hujan tropis dan Witotos. Dia hanya punya satu masalah lagi untuk dipecahkan sebelum bom kosmik siap untuk kemanusiaan. Sangat dekat! ”

“Sedikit lagi, tapi tetap tak tercipta, ‘kan?” Kataku.

“Tak tercipta—tepatnya.” Dia menangis tanpa merasa malu, lalu cemberut. “Witotos itu bodoh dan biadab. Ketololan dan kebiadaban mereka bisa kujelaskan padamu dengan mengatakan bahwa mereka percaya bahwa hujan disebabkan oleh makhluk mirip elf berwarna putih. Mereka menyebut makhluk ini ‘Dilbo’, dan percaya bahwa dia tinggal tersembunyi di hutan. Mereka percaya bahwa jika mereka bisa menangkap dan makan Dilbo dan membuat gendang dari tengkoraknya, mereka bisa memanggil hujan kapan saja mereka inginkan hanya dengan memukul kepala Dilbo. Mereka tidak tahu apa-apa tentang teknik pembuatan hujan dengan es kering dan iodida perak.” Dia menggigit bibirnya. “Sayangnya lagi.

“Bagaimanapun, di sanalah kami, hanya kami berdua, dan satu lagi masalah yang harus dipecahkan. Tiba-tiba, suatu malam, Zeitgeist melompat berdiri dan bergegas memasuki hutan sebelum aku bisa menghentikannya, berteriak, ‘Eureka! Eureka! Eureka!,’ bahasa Yunani yang artinya ‘Aku menemukannya! Aku menemukannya! Aku menemukannya!'” Pria itu menyeka air matanya dan tersenyum dengan berani. “Itu adalah saat yang penuh kemenangan. Dia mungkin orang kulit putih pertama yang meneriakkan bahasa Yunani di antara Putumayo dan Yapura Rivers.” Dia mengerutkan kening. “Kalau saja tidak terjadi musim kering! Seandainya hasil panen manios itu tidak layu dan peccary bergerak ke selatan menuju lubang air baru! Kekeringan, nasib buruk, telah membuat Witotos menjadi gelisah dan tidak sabaran.

“Aku sendirian—Anda bisa membayangkannya. Selama berjam-jam aku menyisir hutan yang gelap itu, memanggil namanya. Tak ada hasil. Akhirnya, saat sinar matahari terbit menerangi puncak pegunungan Andes di barat, aku memutuskan untuk meminta bantuan Witotos.” Di saat ini, informanku ini memejamkan mata, seolah-olah dia memusatkan setiap perhatiannya pada ingatannya, pada saat-saat mengerikan yang ia sedang hidupkan kembali.

“Witotos memiliki sistem telegraf yang efektif dalam bentuk drum-drum besar, yang bisa didengar bermil-mil,” lanjutnya, berusaha menahan suaranya. “Dulu aku terbiasa berdebar-debar, siang dan malam, dan karena itu aku tidak memperhatikan hiruk pikuk yang semakin kencang saat aku mendekati desa mereka. Baru setelah aku sampai di gerbang yang aku sadari ada irama baru dalam suara drum desa. Itu bukan drum yang sama. Kedengarannya tidak seperti drum yang pernah kudengar sebelumnya—seperti pria yang memukuli sebuah mobil tangki kosong dengan palu bola.” Dia mencengkeram lenganku dan meremasnya sampai terasa sakit. “Aku tiba-tiba tahu bahwa hanya satu hal yang bisa membuat keributan yang tidak wajar itu. Witotos yang haus telah menemukan Dilbo!”

“Bukan—?” Aku memulai.

“Zeitgeist,” terengah-engah pria itu. “Ayah dari bom kosmis itu hancur, hilang, akhi—setidak-tidaknya, paling tidak, meninggal. ‘Klang, klang, klang’ adalah suara drum baru Witotos. Sebagai pengawal, aku gagal.”

Dia mengeluarkan sebuah revolver, dan melepaskan enam tembakan ke jukebox, yang berubah warna jadi merah ceri yang menyilaukan kemudian mesinnya mati.

“Apakah turun hujan?” Tanyaku, setelah diam dengan hormat.

“Memang,” kata si informan serius, “tapi tidak sebanyak yang diharapkan para Witotos.”

*

Diterjemahkan dari Requiem for Zeitgeist di The Nation.

Kategori
Catutan Pinggir

Ingatan atas Pembantaian

Pada tahun 1965, seorang penyiar berita Amerika NBC mengumumkan bahwa Bali telah menjadi “lebih indah tanpa para komunis.” Majalah Time melaporkan bahwa penghapusan komunisme di Indonesia adalah “berita terbaik bagi Barat selama bertahun-tahun soal Asia,” sementara James Reston dari New York Times menulis bahwa bangsa Amerika harus merasa lega bahwa “kontrol kepulauan besar dan strategis ini tidak lagi berada di tangan orang yang sangat bermusuhan dengan Amerika Serikat.”

Ini adalah tahun saat pemerintahan Indonesia — yang dipimpin oleh Sukarno, presiden pertama Indonesia dan anti-imperialis yang dikenal karena perlawanan revolusionernya terhadap penjajahan Belanda — digulingkan oleh Suharto, seorang jenderal sayap kanan. Suharto melancarkan kampanye kekerasan yang melanda Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara, yang bikin lebih dari satu juta setengah orang, semua dituduh menentang kediktatoran militer yang baru, ditangkap dan dibantai.

Dalam pembersihan massal mereka terhadap terduga komunis, Suharto dan rekan-rekan jenderalnya melebarkan jaringnya, yang tidak hanya menargetkan para intelektual sayap kiri dan organisator serikat tapi juga para petani tanpa tanah dan etnis Cina. Dan begitu Soeharto mengkonsolidasikan kekuatannya, pembantaian tidak hanya disapu ke bawah karpet. Pembantaian ini didefinisikan ulang sebagai sesuatu yang sah, bahkan heroik.

Pada tahun 2001, Joshua Oppenheimer, seorang sineas muda Amerika, pergi ke Indonesia untuk membuat sebuah film dokumenter tentang sebuah komunitas pekerja perkebunan yang berjuang untuk berserikat setelah kediktatoran Suharto. Oppenheimer sangat ingin bereksperimen dengan metode dokumenter baru, namun mengalami satu hambatan setelah kejadian berikutnya. Para pekerja, yang orang tuanya, bibi, paman, dan kakek neneknya terbunuh beberapa dasawarsa yang lalu, takut hal serupa bisa terjadi pada mereka. Mereka mendesak Oppenheimer untuk mewawancarai pelakunya sebagai gantinya, percaya bahwa sebagai orang asing dia mungkin bisa mengetahui bagaimana keluarga mereka terbunuh.

Mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut masih belum berada di balik jeruji besi dan faktanya, tetap merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Banyak anggota Pemuda Pancasila, satu organisasi paramiliter sayap kanan yang secara terbuka menawarkan pemerasan, pembunuhan massal, dan kejahatan perang.

Film pertama Oppenheimer, The Act of Killing, berpusat pada Anwar Kongo, mantan pemimpin regu mematikan di Medan, sebuah kota berpenduduk sekitar 4 juta orang di Indonesia. Kongo dengan serampangan melenggang melintas di layar, di balik kacamata hitam gelap dan pakaian vintage berwarna hijau limau dan kuning. Dia berbicara tentang kecintaannya pada bintang film seperti Marlon Brando, Al Pacino, dan John Wayne. Dan dia menceritakan kisahnya sendiri tentang bagaimana korban akan memohon untuk dikasihani sebelum dia mencekik mereka sampai mati dengan kawat yang terikat pada sebuah tongkat, satu teknik yang dia pelajari dari sebuah film gangster.

“Boleh saya peragakan?” Dia bertanya kepada Oppenheimer.

Oppenheimer mengusulkan agar Anwar dan teman-temannya melakonkan kembali kejahatan mereka dengan rias wajah dan dekor, seolah-olah mereka sedang syuting, dan mereka pun menyetujui saran tersebut. Hasilnya adalah serangkaian film fantasmagoric. Para penjagal membayangkan diri mereka sebagai jagoan, atau, dalam kata-kata mereka, sebagai preman, “orang bebas”.

Dalam satu adegan, para penjagal tersebut melancarkan serangan ke sebuah desa di mana seluruh keluarga dibakar beserta rumahnya dan dibantai. Di tempat lain, Anwar ditutup matanya dengan darah buatan yang melumuri dahinya. Herman Koto, seorang gangster dan pemimpin paramiliter, menggalur pisau di wajahnya sementara Anwar memohon belas kasihan. Kemudian, Anwar menonton rekaman itu dan bertanya, “Apakah orang-orang yang saya siksa merasakan seperti yang saya rasakan di sini?” Oppenheimer menanggapi, tanpa sorotan kamera, “Orang-orang yang Anda siksa merasakan jauh lebih buruk.”

Film selanjutnya Oppenheimer, The Look of Silence, dimulai dengan cuplikan serupa. Dua mantan pemimpin pasukan penjagal membawa Oppenheimer ke tepi Sungai Ular Sumatera Utara sambil dengan penuh sukacita mengenang bagaimana mereka membantu tentara melenyapkan 10.500 orang, memenggal mereka sebelum melemparkan mayat mereka ke dalam air. Saat kedua pria itu tersenyum ke arah kamera, Oppenheimer men-zoom out, dan kita menyadari bahwa kita tidak sendirian menyaksikan kesaksian tentang pembunuhan massal ini. Kita bergabung dengan Adi, seorang pemuda yang saudaranya Ramli dipenggal secara brutal di lokasi ini.

Jika The Act of Killing didominasi oleh kekasaran sinematik dan dihantui oleh korban yang absen, The Look of Silence berfokus pada apa artinya menjadi penyintas dalam kenyataan seperti itu, dipaksa untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari di bawah pengawasan orang-orang yang membunuh orang yang dicintainya.

Adi, karakter sentral film tersebut, adalah seorang ahli optometri yang Oppenheimer dapati melakukan pemeriksaan mata pada pelaku pembunuhan kakaknya. Sementara mencocokkan kacamata, Adi dengan tenang bersikeras bahwa mereka menerima tanggung jawab atas tindakan mereka. Dia dipenuhi dengan frustrasi atau penyangkalan, para pembunuh tidak mampu atau tidak mau melihat kejahatan mereka.

Dalam The Look of Silence dan The Act of Killing, kita melihat kedekatan Oppenheimer pada sineas Prancis Jean Rouch. Menolak gagasan bahwa pembuat film adalah “lalat di dinding,” Rouch memahami pembuatan film kurang menggambarkan kenyataan daripada tentang menciptakan kebenarannya sendiri. Dan dia mendorong subyeknya untuk berperan kreatif dalam pembuatan filmnya dan secara terbuka mendiskusikan perannya sendiri sebagai penghasut peristiwa yang terjadi — sebuah keberangkatan radikal dari dokumenter tradisional.

Dengan cara ini, film Oppenheimer juga mirip dengan Shoah dari Claude Lanzmann, yang oleh Lanzmann disebut “sebuah fiksi atas kenyataan.” Banyak adegan di Shoah merupakan lakon rekaan, termasuk jurai terkenal di mana Abraham Bomba, pensiunan tukang cukur yang telah memotong rambut di Treblinka, berpura-pura untuk memotong rambut teman sambil menceritakan kisahnya di sebuah tempat cukur di Israel.

Seperti Lanzmann, Oppenheimer menolak rekaman arsip, menyusun filmnya seputar wawancara dengan para saksi kekejaman. Dia tertarik pada bagaimana sejarah bergema saat ini, sebagai trauma. Pemandangan Indonesia yang rimbun sama berhantunya seperti lintasan kereta api dalam Shoah.

Namun, tidak seperti Shoah, Oppenheimer mengeksplorasi pembantaian yang masih belum diakui. Di Indonesia, penyangkalan ditopang oleh pelaku yang berkuasa dan oleh korban yang selamat, yang dengannya ancaman kekerasan baru sangat nyata (sebagaimana dibuktikan oleh daftar panjang anggota kru Indonesia yang tidak disebutkan namanya dalam kreditnya).

Para pembunuh mengulangi mantra yang sama: masa lalu telah berlalu. Jika Anda terus membuat masalah di masa lalu, itu akan terjadi lagi cepat atau lambat. Lupakan dan teruskan. Bahkan korban selamat dari pembantaian Sungai Ular menggemakan sentimen ini karena ketakutan, atau mungkin kelelahan: “Masa lalu ditutup-tutupi. Luka telah sembuh.”

tlos_fruit

Namun luka itu masih menganga bagi keluarga Adi. Kita bertemu ibu Adi yang sudah tua, Rohani, yang sedang mencuci pakaian dan bersenandung tentang anaknya Ramli. Kata-katanya menjadi saksi kengerian masa lalu dan penolakannya untuk memutuskan hubungan dengan ingatan anaknya. Dia mengatakan kepada Adi bahwa dia adalah pengganti Ramli, bahwa tanpanya dia tidak akan dapat terus hidup setelah tragedi yang mengguncang keluarganya dan seluruh desa.

Dalam catatan persnya, Oppenheimer menjelaskan bahwa ia menemukan keluarga Adi karena “Ramli” menjadi sebuah nama yang hampir identik dengan pembantaian tersebut. Berbeda dengan ribuan korban yang hilang di malam hari, Ramli dibunuh di depan umum. Korban selamat berbicara tentang Ramli karena ada saksi pada saat-saat terakhirnya, saat para pembunuh meninggalkan tubuhnya di perkebunan kelapa sawit kurang dari dua mil dari rumah orang tuanya.

Oppenheimer menulis, “Berbicara tentang ‘Ramli’ dan pembunuhannya adalah untuk mencubit diri sendiri untuk memastikan seseorang terbangun, sebuah peringatan akan kebenaran, peringatan masa lalu, sebuah peringatan untuk masa depan.” Adi, lahir setelah pembantaian, tidak takut untuk mengulurkan tangan buat “mencubit” yang lain, menuntut jawaban dan pengakuan atas pembunuhan saudaranya. Pembuatan film Oppenheimer adalah kesempatan bagi Adi untuk memprovokasi percakapan yang tidak akan terjadi.

Dalam The Act of Killing, para pelaku bersenang-senang dengan penampilan mereka sendiri, didorong oleh kehadiran kamera Oppenheimer. Namun, dalam The Look of Silence, Adi menjadi provokator.

Ketegangan dan kebenaran terungkap bukan melalui pertunjukan atau drama tapi melalui percakapan sederhana. Film ini menggambarkan satu pertemuan demi pertemuan berikutnya, Adi duduk dengan para pembunuh saudaranya. Dia bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan, bagaimana perasaan mereka tentang hal itu, dan bagaimana mereka dapat mendamaikan tindakan mereka dengan Islam.

Dia mengungkapkan dirinya sebagai saudara korban pada setengah jalan saat setiap pemeriksaan mata. Biasanya pada saat ini sikap pelaku secara drastis berubah dari ketidakpedulian dingin menjadi suatu pembelaan dan pengabaian. Seorang wanita berbicara kepada pembuat film secara langsung: “Saya menyambut Anda di sini, Joshua, dan sekarang saya tidak menyukaimu lagi.”

Salah satu pertunjukan penyangkalan yang paling mengejutkan melibatkan kejahatan Amir Hasan, salah satu jenderal Komando Aski terkemuka, yang sebelumnya membual (tentang film) tentang perannya dalam pertumpahan darah dan bahkan menerbitkan sebuah buku tentang perbuatannya. Dalam sebuah adegan di dekat pengakhiran film, janda Hasan dan anak laki-lakinya menyangkal pengetahuan tentang partisipasi ayah mereka dalam pembunuhan tersebut, bahkan setelah Adi menghadapkan mereka dengan rekaman lama.

Sementara Oppenheimer pada awalnya menganggap adegan itu sebagai “kegagalan total” karena khayalan keluarga tersebut, dia akhirnya memutuskan penyangkalan tersebut “dengan jujur menunjukkan keadaan Indonesia saat ini.” Ini adalah penolakan yang sama terhadap kenyataan yang menyebabkan pembatalan dua puluh lima pemutaran film The Look of Silence. Dalam beberapa hari setelah rilis film Desember 2014, polisi dan tentara mulai mengorganisir kelompok preman, yang mengancam akan menyerang penayangan.

Meski penyangkalan merajalela, baik di film maupun dalam beragam sambutannya, Adi berhasil menusuk kesunyian. Klimaks emosional dari film berpusat pada konfrontasi antara Adi dan seorang pelaku yang putrinya duduk di sampingnya. Saat si lelaki tua menjelaskan bagaimana dia meminum darah korbannya, sebuah tindakan takhayul yang dianggap oleh banyak pembunuh untuk mencegah kegilaan, putrinya terlihat terguncang. Pada saat kerentanan akut ini, putrinya yang menawarkan permintaan maaf, mengklaim bahwa dia tidak menyadari keparahan tindakan ayahnya, dan memohon kepada Adi atas pengampunannya.

Look of Silence menyelidiki keheningan yang ada di dalam keluarga dan antar generasi. Kemudian dalam film tersebut Adi mengunjungi pamannya, mantan penjaga penjara yang bersekongkol dalam kematian Ramli. Paman tua itu mencoba membela diri dengan mengklaim bahwa dia hanya mengikuti perintah. Ibu Adi tidak menyadari keterlibatan kakaknya. Hanya melalui film Oppenheimer dan penyelidikan Adi, keheningan keluarga mulai terurai.

Mungkin percakapan antar generasi yang paling penting terjadi antara Adi dan anak laki-laki dan putrinya yang muda, yang kejenakaannya menyenangkan memberikan sedikit sentuhan komikal sepanjang film ini. Dalam sebuah adegan di ruang kelas, kita duduk bersama anak-anak Adi sementara sang guru memberi mereka narasi sejarah yang disponsori negara. “Komunis itu kejam,” tegasnya, “dan mereka tidak percaya pada Tuhan.”

“Jika kalian memberontak terhadap negara, kalian masuk penjara. Jadi mari kita sampaikan kepada para pahlawan yang berjuang untuk membuat negara kita menjadi demo. . . ? ”

“Demokrasi!” Kelas merespon serentak.

Kemudian, Adi duduk bersama anak-anaknya, mencoba menjelaskan kepada mereka tentang kebenaran — bahwa “komunis” tidak dikirim ke penjara, namun diburu dan dieksekusi. Kesenjangan antara pendidikan anak-anaknya dan kenyataan harian Adi tentang ketidakadilan yang ditekankan kembali mengundang pertanyaan: apakah percakapan ini akan terjadi jika Oppenheimer tidak membuat film ini?

Namun, The Look of Silence lebih dari sekedar menggali rahasia keluarga dan masyarakat. Ini merupakan redefinisi pembantaian dalam konteks internasional, dan menunjuk sebuah jari yang menuduh peran Amerika dalam pembantaian tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Southeast Asian Times, sejarawan Brad Simpson mengatakan bahwa AS memandang pembunuhan massal tersebut sebagai “teror yang manjur,” sebuah blok bangunan penting dari “kebijakan kuasi-neoliberal yang akan diusahakan Barat di Indonesia setelah penggulingan Sukarno.”

Saat ini, pekerja perkebunan yang serikat pekerjanya dimaksudkan Oppenheimer untuk didokumentasikan itu menolak keadilan atas kejahatan masa lalu dan dikepung oleh sistem ekonomi yang menahan mereka dalam kemiskinan terus-menerus. Kebijakan Perang Dingin tentang privatisasi, perdagangan bebas, deregulasi, dan penghematan terus berlanjut. Karena kesenjangan kekayaan meningkat di seluruh Indonesia, pemerintah menjual sumber daya alam negara tersebut kepada perusahaan multinasional dan mendorong tindakan lain yang mengakibatkan degradasi lingkungan dan penggundulan hutan.

Look of Silence adalah bukti kekerasan budaya, ekonomi, dan politik, dan berpotensi memicu dialog baru dalam iklim di mana pembentukan komite kebenaran dan rekonsiliasi telah dihentikan secara konsisten. Setelah kediktatoran Suharto berakhir pada tahun 1998, Indonesia mendirikan Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk mengadili mereka yang dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Namun ketiga puluh empat pelaku yang dibawa ke pengadilan sampai saat ini telah dibebaskan atau telah menjatuhkan hukuman banding mereka.

Menjelang akhir film, ayah Adi yang buta, yang berusia lebih dari seratus tahun, merangkak di lantai semen, mendorong dirinya maju dengan tinjunya, kepalanya menyentuh binatu yang tergantung. Dia memanggil entah pada siapa: “Saya berada di rumah orang asing. Tolong! Saya tersesat!” Ibu Adi membimbingnya kembali ke tempat yang aman dan kemudian duduk bersamanya untuk menceritakan kisah Ramli, yang ayahnya tidak ingat.

Momen ini membawa ke permukaan kesedihan yang sangat besar dari kenangan yang memudar dalam keluarga, masyarakat, dan dunia di mana rasa sakit keluarga Adi terlupakan, tidak dikenali, dan dibungkam. Jika The Act of Killing memperlihatkan fiksi yang mendukung dinding rumah orang asing itu, The Look of Silence menuntun kita melalui interiornya, menemukan kenangan dan potongan kebenaran di sudut-sudutnya, di balik dindingnya.

*

Diterjemahkan dari Memories of Massacre yang dirilis Jacobin tentang dua film Joshua Oppenheimer yang menangkap luka panjang akan tragedi pembantaian di Indonesia. Ditulis Shimrit Lee, kandidat PhD dalam Kajian Timur Tengah dan Islam di New York University.