Kategori
Bandung Celotehanku

Mengidruskan Bandung Lautan Api

Revolusi kemerdekaan Indonesia adalah suatu episode sejarah yang dramatis; sebuah drama yang mengadu tujuan rasional dengan sentimen emosional; mengawinkan realitas dengan mitos.

Masalahnya, yang kita terima hari ini, lebih banyak berupa warisan mitos penuh bunga-bunga. Ambil contoh bambu runcing yang sering disimbolkan alat perjuangan, pernahkah berpikir bagaimana ngerinya ketika benda ini menerobos badan seorang manusia, darah muncrat dan mungkin ada usus terburai?

Kategori
Celotehanku

Cicerone

Apa yang ada di kepala, untuk dirumuskan dalam dunia ide, apa yang keluar dari mulut, setelah diartikulasikan dalam bahasa, apa yang masuk ke telinga orang lain, untuk diolah dan dipahami, setiap tahapannya bagai saluran air yang makin menyempit, tambahkan pula tumpukan sampah atau endapan tanah. Tiap informasi yang mengalirinya akan terus terdistorsi. Inilah masalah komunikasi yang niscaya ada, dan ini pula alasan kenapa saya lebih doyan diam ketimbang bicara. Saya terlalu takut terhadap kesalahpahaman, padahal ini masalah yang selalu ada. Upaya terbaik tentu menjembatani jurang komunikasi tadi, namun saya, dan mungkin sebagian yang lain, lebih memilih untuk mengambil jalan sebaliknya.

Tak mampu menemukan kata yang tepat adalah salah satu dari banyak masalah yang saya punya. Saya sering berpikir apapun yang saya katakan tak akan membantu, jadi seringnya saya memilih diam saja. Tenggelam dalam pikiran atas beragam hal yang tak bisa saya atasi, seperti terlalu memikirkan masalah komunikasi ini, lagi-lagi, adalah salah satu masalah yang selalu menyiksa saya. Ingin sekali saya menganggap segala ini hanya hal yang sepele, tapi entah kenapa saya terlalu suka memasalahkan segalanya.

Tukang bacot memang lebih cocok jadi pemandu, dan saya kudu mundur. Namun, karena di malam sebelumnya saya terlalu anteng nonton film Netflix bajakan hasil unduh dari The Pirate Bay, saya ujug-ujug ditunjuk jadi pemateri untuk Ngaleut Sejarah Kereta Api di Kota Bandung. Ada sekitar 70an yang mendaftar, jika setengahnya saja yang datang tetap bikin tegang. Bukan pemahaman materi yang jadi masalah, tentu saja. Yang dibutuhkan adalah memanggil arwah seorang Cicero.

cicerostatue

Marcus Tullius Cicero adalah seorang negarawan Romawi, orator, pengacara dan filsuf, yang menjabat sebagai konsul pada tahun 63 SM. Cicero dianggap salah satu orator dan penggaya prosa terbesar dari Romawi. Sebagai seorang yang berwawasan luas sekaligus punya kefasihan berbicara, namanya diabadikan dalam istilah lawas bagi pemandu: Cicerone. Istilah Cicerone pertama kali dipakai sekitar abad ke-16, merujuk pada seorang ahli keantikan terpelajar yang menunjukkan dan menjelaskan kepada orang asing tentang negaranya. Pemandu yang membawa pengunjung dan turis ke museum, galeri, atau tempat bersejarah lainnya, kemudian menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perkara arkeologis, historis atau artistiknya.

Pemandu memang salah satu profesi tertua di dunia. Kathleen Lingle Pond dalam The Professional Guide: Dynamics of Tour Guiding membagi sejarah pemanduan dalam empat periode, fokusnya memang cuma Barat. Ada banyak referensi khusus dalam catatan sejarah, dari Kekaisaran Romawi hingga Abad Pertengahan, sepanjang Renaissance dan menuju Zaman Modern. Perkembangan besar mula pariwisata berasal sejak era kerajaan-kerajaan besar (3000 SM hingga 500 M). Selama periode ini bepergian sangat berbahaya dan menghabiskan waktu. Bangsa Persia, Asiria, dan Mesir sering melakukan perjalanan melalui jalur darat dan air. Aktivitas ini terus meningkat dan demikian juga jumlah pemandu, mereka yang membantu orang yang bepergian ke negeri seberang. Tahap kedua adalah periode antara jatuhnya Romawi dan sebelum Renaissance: Abad Pertengahan sekitar 500 hingga 1500. Pada saat itu, ziarah agama adalah jenis perjalanan yang paling umum dilakukan oleh kelas menengah dan atas. Jatuhnya Romawi mengakibatkan penurunan ekonomi dan kekacauan dalam tatanan sosial. Keselamatan dan keamanan para pengelana menjadi perhatian; karena itu preferensi pemandu kudu berfungsi sebagai pandu, pengawal keselamatan dan pelindung. Fase ketiga mengarah pada periode Renaissance dan era penjelajahan sekitar 1500 sampai 1700. Selama masa Renaisance, para pemuda kelas atas melakukan “Grand Tour” untuk alasan budaya dan pendidikan. Para pelancong ini diharapkan untuk memperkaya pengetahuan mereka melalui perjalanan panjang sambil ditemani oleh pemandu. Dari sini muncul profesi Cicerone, seorang pemandu yang diharapkan menguasai banyak wawasan, fasih berbicara dan punya kemampuan multi-bahasa layaknya Cicero.

Pemanduan memang seringnya dihubungkan dengan turisme. Asal historis pariwisata bisa ditemukan dalam budaya kelas atas bangsa Yunani dan Romawi kuno. Stephen Page dan Joanne Connell dalam Tourism: A Modern Synthesis menyatakan bahwa “para wisatawan awal ini mengejar kesenangan dan relaksasi di daerah-daerah yang jauh dari pusat ibukota dan kota-kota, hal ini memberi contoh turisme kiwari: pengejaran kesenangan di lokasi yang jauh dari kehidupan sehari-hari dan penggunaan waktu senggang seseorang untuk tujuan non-kerja.”

 

Ngaleut Sejarah Kereta Api di Kota Bandung (6/1/19) | Foto: @akangichan

Sebagian orang yang tertarik ngaleut mulanya memang untuk mengisi waktu senggangnya di Minggu pagi, niatnya berwisata. Bentuk kegiatan ngaleut memang mengadopsi tur jalan kaki, secara amatir – dalam artian tak berbayar, kecuali untuk registrasi keanggotan yang tak seberapa. Jalan kaki adalah cara termudah untuk membaca sejarah. Sejarawan A. L. Rowse dalam Apa Guna Sejarah? memberi wejangan: “Anda mungkin berpikir bahwa dibutuhkan buku-buku sebanyak satu perpustakaan untuk mulai mempelajari sejarah. Tidak sama sekali. Yang Anda butuhkan hanyalah sepasang sepatu yang kuat, sebuah pensil, dan buku catatan.”

Seringnya ngaleut berupa pemanduan. Siapa saja bisa jadi pemandu, tak perlu sertifikasi, hanya butuh kemauan untuk belajar. Minggu ini hanya pendengar, minggu depan sangat boleh jadi pemandu. Tentu saja, pemandu yang dimaksud di sini bukan dalam definisi kontemporer secara profesional, sehingga kesalahan bukan dianggap sebagai dosa justru suatu proses belajar. Pemanduan saat ngaleut disengaja tanpa bantuan pengeras suara, harus melawan bising lingkungan sekitar. Ini melatih si pemandu (contoh: bagaimana membangun rasa percaya diri, bagaimana cara menarik perhatian pendengar, bagaimana cara memilah informasi), sekaligus membuat si peserta ngeh bahwa untuk mendapatkan wawasan perlu kerja lebih (contoh: mendekat ke sumber suara, berusaha terus menyimak, bertanya).

Ketiadaan moderator, speaker, kursi yang empuk, presentasi PowerPoint, suasana ruang yang tenang dan sejuk, serta minuman di atas meja yang bisa langsung diteguk, bikin saya jadi pembicara yang sungguh buruk. Apa yang ada di kepala, apa yang keluar dari mulut, apa yang masuk ke telinga orang lain, dan dilema ini menyerang saya kembali. “Docere, delectare, et movere,” tulis Cicero dalam Orator pada 46 SM. Bahwa seorang orator harus bisa untuk membuktikan tesisnya kepada pendengar, untuk menyenangkan pendengar, dan menggerakkan pendengar secara emosional. Kejelasan emosional bahasa puitik menjadi bagian dari alat retorika untuk membujuk pendengar. Saya berharap agar dirasuki Cicero.

Kategori
Celotehanku

Yang Belum Kering di Kampung Dobi

kampung dobi celana

Hampir tiap subuh, selama bertahun-tahun, ibu saya mencuci pakaian kami sekeluarga dengan tangannya, dengan berjongkok. Air cucian bikin kakinya pecah-pecah. Ibu saya mulai tak kuat berlama-lama jongkok. Mesin cuci merk Korea bekas kemudian hadir di rumah kami. Meski enggak sampai meruntuhkan budaya patriarkis, setidaknya ia meringankan beban kerja domestik ibu saya. Mesin cuci, seperti mesin lainnya, datang bak juru selamat, menawarkan jalan yang lebih baik dan menyisakan kita pada romantisasi akan hari-hari lalu sebelum ia ada. Bunyi sikatan pada cucian, yang konstan, melodis dan menenangkan berganti jadi deru mekanis yang membosankan.

Mesin cuci adalah ia yang bertanggung jawab mematikan sebuah binatu komunal di satu kampung di Kebon Kawung. Seperti Kebon Kawung yang sekarang cuma ada satu dua pohon arennya, Kampung Dobi hanya tinggal nama, ditinggal para dobi, atau tukang cuci, yang sudah terlalu kemarin untuk bersaing melawan mesin. Sama nasibnya seperti sumber air di sana yang bernama Ciguriang, yang mungkin sudah ditinggal pergi sang guriang, atau penunggunya, karena makin seret.

Menyusur Kampung Dobi, Memeras yang Terkenang

Kampung Dobi menjadi tema ngaleut Minggu ini (9/12). Titik kumpul di Stasiun Bandung.

dobi wasserij kebon kawung

Stasiun yang dibuka pada 1884 ini punya kaitan erat dengan hadirnya tempat binatu komunal ini. Jalur Bandung-Batavia yang dipakai untuk mempercepat pengangkutan hasil perkebunan yang dimiliki para tuan tanah di Priangan, kemudian ikut menarik masuk para manusia dari lain kota. Mereka yang datang tentu perlu dijamu, maka tumbuh hotel dan penginapan. Agar para penginap nyaman, seprei-seprei misalnya, harus selalu diganti yang bersih. Dari sini bisa ditarik benang merahnya, tukang cuci amat diperlukan. Di saat itu, air Ci Kapundung masih bersih, penduduk sehari-hari mandi dan mencuci pakaian di tepiannya – sampai ada satu kampung bernama Pangumbahan, tempat mencuci. Aktivitas sehari-hari itu tak ada salahnya untuk dikomodifikasi, jadi jasa yang bisa menghasilkan duit. Memang, cuci mencuci aktivitas yang telah ada jauh sebelum stasiun dibuka, namun titik itu menjadi momen saat Bandung mulai menjadi sebuah kota. Dengan lokasi strategis di dekat pusat kota, ditambah ada sumber mata air terbuka, Kebon Kawung menelurkan Kampung Dobi.

Kisah soal Kampung Dobi dituliskan oleh Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya. Rute ngaleut secara kebetulan melewati sang kuncen Bandung itu. Saya diserahkan tugas untuk memandu ke rumahnya, dengan lupa-lupa ingat, saya harus menemukan Jalan H. Mesri. Terus susuri Jalan Kebon Kawung seberang stasiun kereta ke arah barat, ada beberapa jalan mungil yang memakai nama-nama orang. Rumah Haryoto Kunto, yang sekarang menyisakan koleksi buku-bukunya, terdapat di Jalan H. Mesri No. 3. Yang tadinya cuma diniatkan sekedar mampir selewatan, kami bisa memasuki rumahnya.

Menurut Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya, dengan membayar satu sen, para tukang dobi bisa menggunakan air sesukanya dari Ciguriang. Di malam hari, di bawah nyala obor, mereka rampungkan pekerjaannya sampai terbit subuh. Beberapa keluarga menekuni profesi tukang binatu secara turun-temurun. Di Kebon Kawung tumbuh pula industri rumah tangga bikin tong wadah air yang terbuat dari jati. Selain untuk menampung air, tahang kayu ini digunakan buat merendam cucian. Sesuai namanya, Kebon Kawung zaman baheula ditumbuhi pohon aren yang punya daya serap air tinggi. Air selalu ngocor untuk mencuci.

Lokasi Kampung Dobi tepat di belakang GOR Pajajaran. Dari Jalan H. Mesri, dari rumah Haryoto Kunto, untuk menuju Kampung Dobi, lurus terus mengikuti jalan ke arah utara, bakal ada gang sempit di sebelah kanan. Memasuki Kampung Dobi sungguh ajaib, seperti diterbangkan ke lain dunia, masih ada kampung di tengah kota. Entok masyuk berenang, kodok berloncat, sampai ada bocah yang nyemplung ke kolam karena dijahili temannya. Kolam ini, yang di sampingnya berdiri masjid, yang dinamakan Ciguriang. Dekat di situ, ada kompleks pemakaman kecil, yang di dalamnya terdapat kuburan H. Mesri. Senasib seperti kolam yang makin surut, kampung ini pun makin menyempit.

Satu kebetulan mengundang kebetulan lainnya. Kami bisa mendengar cerita dari cucu seorang tukang dobi. Ernawati Sutarna, mengaku saat masih bocah masih menyaksikan para tukang dobi bekerja, bahkan ikut membantu. Ia menjelaskan beberapa teknik mencuci, yang pernah saya lihat juga saat ibu sedang mencuci dulu. Ia mengingat ditugaskan untuk mengantarkan seprai-seprai habis cuci, yang dibungkus dengan kain, dengan ikatan seperti membungkus makanan ala Jepang. Jangan dijingjing atasnya, harus dipangku, kenangnya, masih ingat akan instruksi yang diberikan saat bocah dulu. Saat kami menyebut Basa Bandung Halimunan-nya Us Tiarsa, Teh Erna langsung menyahut kalau dia adalah keponakan sang penulis. “Orangtua Emang (Us Tiarsa) juga dobi,” timpalnya.

Di musim kemarau tahun 1982, untuk pertama kalinya sumber air Ciguriang kering. Medio 90an awal dobi mulai lenyap. Di seberang dunia sana, di Mumbai, India, ada Dhobi Ghat yang sama seperti kampung binatu di Kebon Kawung ini. Dhobi Ghat telah ada sejak 1890, dan masih ada sampai sekarang, bahkan diganjar penghargaan sebagai binatu luar ruangan terbesar di dunia, dan menjadi atraksi turis. Berbeda dengan Kampung Dobi di sini, yang mungkin bakal berakhir nahas seperti kampung-kota kebanyakan. Terdesak, dan seringnya lenyap.

Kalau pun lenyap, meski saya enggak berharap begini, semoga masih meninggalkan cerita yang tak pernah kering. Inilah mungkin kenapa saya menulis.

 

 

Kategori
Celotehanku

Yang Kita Bicarakan Ketika Membicarakan Cinta Pertama

capolaga api ungun

Wanci janari dan serangan kantuk serta dingin di Capolaga membuat kami membubarkan diri, masuk ke tenda kemudian sleeping bag masing-masing. Karena tenda laki-laki terlalu padat (serta resiko kebisingan), saya dan beberapa kawan terpaksa tidur di luar. Suara aliran sungai begitu menentramkan. Meski sudah memenjamkan mata, saya masih belum bisa tertidur, disibukkan beragam loncatan-loncatan pikiran. Sebelumnya, malam itu, kami saling curhat soal sesuatu yang tampak cengeng dan kacangan: cinta pertama.

Saya ingin berpikir bahwa jatuh cinta cuma reaksi kimia yang memaksa hewan untuk berkembang biak. Freud sangat mengiyakannya sejak lama. Sejarah peradaban dan budaya, membuat kita berbeda dengan bebek atau anjing, yang bisa seenaknya bersenggama tanpa tahu malu di mana dan kapan saja. Berahi, yang merupakan proses biologis, oleh manusia diromantisir, dan karenanya cuma manusia yang punya konsep cinta.

Membicarakan cinta pertama berarti membicarakan cinta romantis. Secara historis, istilah roman berasal dari gagasan-gagasan kesatria abad pertengahan sebagaimana tertuang dalam sastra romansa dari masa itu. Ksatria biasanya terlibat dalam hubungan non-seks dan non-nikah dengan wanita bangsawan yang mereka layani. Hubungan-hubungan ini sangat rumit dan diritualkan dalam suatu kompleksitas yang dirumuskan dalam kerangka tradisi. Dalam hal cinta kasih sayang ini, “kekasih” tidak selalu merujuk pada mereka yang terlibat dalam tindakan seksual, tetapi lebih kepada tindakan kepedulian dan keintiman emosional. Cinta kasih sayang ini sering menjadi subyek trubadur, para pengelana-penyair-penyanyi di abad pertengahan, dan biasanya konsep cinta ini dapat ditemukan dalam usaha artistik seperti narasi liris dan prosa puitis pada masa itu.

Warisan mereka masih tertancap kuat sampai kiwari. Melalui pemopuleran yang tak lekang waktu dalam seni dan sastra tentang kisah-kisah para ksatria dan putri, raja dan ratu, kesadaran yang formatif dan berdiri lama ini membentuk semacam ideal hubungan antara pria dan wanita. Kemudian muncul Romantisisme, juga dikenal sebagai era Romantik, yakni gerakan artistik, sastrawi, musikal dan intelektual yang berasal dari Eropa menjelang akhir abad ke-18. Romantisisme ditandai dengan penekanan pada emosi dan individualisme serta glorifikasi akan masa lalu dan alam, serta adanya penggalian terhadap tradisi abad pertengahan. Munculnya Romantisisme dan manusia-manusia yang selalu meromantisir membentuk persepsi kita tentang cinta. Romantisisme, yang hari ini termanifestasi dalam beragam medium, menjadi tempat kita belajar tentang cinta, tentang naksir seseorang, tentang momen sekejap mata seseorang bertemu orang lain di seberang ruangan dan bagaimana hal cemen begitu mengarah pada kebahagiaan selamanya.

Cinta pertama, kenangan yang terus menghantui dan asam manis dalam jiwa kita, menarik kita kembali ke apa yang pernah, dan tidak akan pernah bisa terjadi lagi. Mengapa yang satu ini harus ada di otak kita secara berbeda dari yang lain, bahkan ketika yang lain lebih panjang dan lebih baik? Sebenarnya tak ada yang ajaib tentang cinta pertama, kecuali bahwa hal itu menjadi yang pertama. Pengalaman pertama akan selalu membekas. Itulah pengalaman pertamamu ketika jantungmu berdetak sedikit lebih cepat, kelenjar-kelenjar terbuka mengeluarkan tetes peluh penuh rahasia, dan tubuhmu mulai memproduksi hormon-hormon, yang membuatmu merasa sedikit pusing namun hangat di dalam. Apalagi jatuh cinta bisa dibilang sesuatu yang menakutkan – kamu takut akan ditolak, kamu takut tak bisa memenuhi harapan cinta pertama, takut dia tak akan hidup selamanya denganmu. Kecemasan adalah bagian besar dari jatuh cinta, terutama untuk pertama kalinya.

Cinta pertama menciptakan pengalaman pertamamu tentang peduli pada seseorang secara paripurna, timbulnya beragam distraksi, ketaksabaran, kegelisahan karena takut ditinggalkan, rasa aman serta nyaman dan campur aduk lainnya. Karena biasanya terjadi saat kita masih remaja, masa-masa saat segala hal kita romantisir, cinta pertama menjadi kisah yang akan selalu kita ingat. Bagaimana kamu mencari tahu siapa namanya, di mana rumahnya, apa nomor ponselnya, bagaimana kamu begitu mengejar seseorang dan ingin mengenalnya lebih dalam, ingin lebih dekat dengannya, bagaimana kamu begitu gagap berbicara dengannya, bagaimana kamu memberinya serangan gombalan kacangan, menghadiahinya bunga atau coklat atau kejutan-kejutan tak terduga, memboncengnya, mengajarinya main gitar, mengajak makan atau nonton bareng, bagaimana ciuman pertamamu dan beragam pengalaman yang bikin kamu berbunga-bunga.

Selanjutnya, alasan kenapa cinta pertama begitu membekas karena itu adalah pertama kalinya kamu mengalami yang namanya patah hati. Apakah dia yang mengakhirinya, atau kamu, atau waktu dan tempat yang memisahkan kalian berdua, kenyataannya adalah bahwa kamu tak yakin kamu menginginkan hal itu berakhir. Jadi di sinilah kamu, mencoba menerima kenyataan bahwa hubunganmu sudah berakhir. Seringkali, bukan benar-benar cinta pertamamu yang kamu rindukan, tetapi perasaan yang kamu alami ketika kamu bersamanya. Kamu kehilangan koneksi, gairah, keintiman, perasaan yang diinginkan. Kamu merindukan cara dia membuatmu merasa lebih dari orang yang sebenarnya.

Jika yang dimaksud cinta pertama adalah pacaran pertama, saya belum pernah mengalaminya. Untuk urusan jatuh cinta dan memberanikan diri mengejar seseorang, baru belakang ini saya alami, sangat datang terlambat. Perasaan yang hanya saya ketahui lewat penggambaran di novel atau film, dan saya sinis karenanya, akhirnya saya rasakan sendiri: kegamangan berbunga-bunga, ketika udara terasa lebih menyegarkan, langit tampak lebih biru, senja tampak lebih sendu, yang bikin orang dapat menghabiskan hingga 85% dari waktu bangunnya untuk memikirkan si dia, yang mengukir senyum ketika menatap fotonya. Pengalaman yang kawan-kawan lain curhatkan, tentang cinta pertamanya di masa remaja, baru saya rasakan baru-baru ini, di usia pertengahan duapuluhan. Menunggu dua jam lebih agar bisa menjemput pulang, siksaan untuk menciptakan obrolan, menanti update status WhatsApp agar bisa mengirim chat, belajar cara mengirim Go-Food dan hal-hal yang bikin saya heran kenapa bisa melakukannya. Saya sendiri suka menonton drama Korea, tapi jika saya sendiri yang harus memerankannya dalam kehidupan nyata, justru saya merasa jijik. Selama sekitar dua tahun, dia hanya teman perempuan cantik biasa dan sekarang, dia jadi yang pertama membikin saya melakukan ketololan terbesar sepanjang hidup saya. Mungkin, apa yang saya bicarakan ketika membicarakan cinta pertama adalah tentang dia, dan saya terlalu pecundang untuk membuka perasaan saya.

 

 

 

Kategori
Celotehanku

Tarawangsa Rancakalong dan Yang Berbeda di Seren Taun Cigugur

IMG-20180901-WA0016

Gudang Garam Merah batal saya sundut, terpacak papan larangan merokok di dalam Paseban Tri Panca Tunggal. Gesekan sebuah dawai dan petikan dawai lainnya sedang melantun, diperkeras lewat speaker. Saya memilih duduk di area sudut kiri aula besar itu. Malam itu, di Cigugur, Kuningan, dalam rangkaian acara Seren Taun, ditanggap kesenian rakyat bernama Tarawangsa. Namun ada yang berbeda. Saya cuma sekali menonton Tarawangsa di Rancakalong, Sumedang, memang, tapi perbedaannya terasa jelas.

Na(ng)gapan
sada canang
sada gangsa
tumpang kembang
sada kumbang tarawangsa ngeui(k)
sada titilar
ri(ng) bumi
sada tatabeuhan Jawa
sada gobeng direka cali(n)tuh di a(n)jung
sada handaru kacapi la/ng/nga
sada keruk sagunga

Terdengar bunyi-bunyian
suara canang
suara gamelan tumpang kembang
suara kumbang dan tarawangsa menyayat
suara peninggalan bumi
suara gamelan Jawa
suara baling-baling ditingkahi calintuh di dangau
suara deru kecapi penuh khawatir
suara sedih semua

  • Naskah Sang Sewaka Darma, 1021 Saka/1099 M

Dalam naskah di atas, tarawangsa merupakan sebutan buat sebuah alat musik. Seperti gitar, banjo, biola, kecapi, harpa, dan ukulele, jika merujuk klasifikasi Curt Sachs, tarawangsa ini masuk kordofon. Alat musik yang membuat suara lewat string atau senar yang bergetar. Tarawangsa jika klasifikasinya dipersempit, masuk dalam spesies “lute”. Sachs mendefinisikan terminologi ini dalam The History of Musical Instruments sebagai alat musik yang “terdiri dari bagian badan, dan leher yang fungsinya baik sebagai pegangan dan sebagai sarana peregangan senar dari bagian badan.”

Tarawangsa dari segi bentuk dan cara memainkan mirip rebab. Ukuran tarawangsa lebih jangkung daripada rebab. Rebab sendiri baru muncul di tanah Jawa sekitar abad 15-16, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam. Jika kembali merujuk titimangsa naskah di atas, tarawangsa lebih tua ketimbang kehadiran rebab.

Tarawangsa di Rancakalong, Sumedang. (28/07/18)

Dalam ensambel, tarawangsa berfungsi sebagai pembawa melodi atau memainkan lagu, dan ada satu kordofon lain bernama jentreng sebagai pengiring. Jentreng mirip kecapi. Sehingga pemain tarawangsa terdiri dari dua orang: pemain tarawangsa dan pemain jentreng. Kedua pemain Tarawangsa terdiri dari lelaki, dengan usia rata-rata 50–60 tahunan, atau mudahnya aki-aki. Melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula Saehu, sebutan untuk seorang saman, disusul para penari laki, setelah beres satu lagu, dilanjut penari perempuan. Kemudian hadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan bisa ikut menari.

Kesenian Tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu, yaitu di daerah Rancakalong, Cibalong, Cipatujah, Banjaran, dan Kanekes. Tarawangsa biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Sering dikaitkan pula pada budaya penghormatan untuk Dewi Sri dan para leluhur. Tarian tarawangsa tak terikat oleh aturan-aturan pokok, kecuali gerakan-gerakan khusus yang dilakukan Saehu, sehingga orang biasa bisa ikut menari.

Menari dalam kesenian Tarawangsa bukan hanya merupakan gerak fisik semata, melainkan berkaitan dengan hal-hal metafisik sesuai dengan kepercayaan si penari. Oleh karena itu tak heran apabila para penari sering mengalami kondisi tak sadarkan diri atau trance, baik secara mistik atau psikologis, atau keduanya secara bersamaan. Trance dan musik dalam tradisi shamanistik memang suatu hal yang lumrah. Meski memang, ritual shamanistik merupakan sebuah pertunjukan ritual alih-alih sekadar pertunjukan musik. Seorang shaman yang aktif bakal memasuki dunia roh, bernegosiasi dengan mereka. Begitu yang diperbuat Saehu dalam Tarawangsa. Di sisi lain, ada medium, yang menjadi penerima pasif dari roh atau dewa-dewa atau Tuhan. Musik dalam tradisi shamanistik biasanya berdurasi panjang, mesmerik, nyaring dan intens, dengan klimaks dari intensitas dan volume yang begitu ritmik agar sang medium dapat merespon dengan masuk ke keadaan trance. Medium dalam Tarawangsa berarti para penari tadi.

Dalam perkembangan modern, jejak tradisi shamanistik ini ikut terwarisi, apalagi medio 60an. Oleh barudak psychedelia, subkultur yang menggunakan obat-obatan seperti LSD, jamur-jamuran, DMT dan candu lainnya (baca novel dari Jack Kerouac atau William Burroughs) untuk mencapai ketaksadaran. Upaya untuk mendapat kondisi psikedelik ini erat kaitannya dengan tradisi shamanistik, apalagi era tersebut sedang tren gaya hidup yang mengadopsi ajaran zaman baheula dan budaya Timur. Dalam musik, untuk mengakomodasi kondisi trance, setiap genre sering dipermak dan kemudian dibumbui label “psychedelic” atau “acid”.

Ini mungkin analogi super ngaco untuk Tarawangsa: Pemain tarawangsa dan jentreng merupakan band The Byrds (memainkan Eight Miles High, misalnya) dan Saehu sebagai Benzedrine, sehingga para penari atau audiens bisa enjoy menikmati ketaksadarannya. Tentu saja, saya menulis ini bukan dalam kondisi trance. Saya hanya berusaha menunjukkan kalau pola atau ritual manusia akan selalu sama, yang berubah hanya detailnya.

Tapi enggak ada trance saat penanggapan Tarawangsa di Seren Taun Cigugur. Begitu yang saya lihat. Salah siapa, atau apa? Jika menilik naskah Sang Sewaka Darma, kita bisa tahu kalau musik yang dimainkan dalam Tarawangsa itu “ngeuik”, atau menyayat. Musik yang “penuh khawatir” dan “suara sedih semua”. Tarawangsa di Seren Taun Cigugur kemarin kurang menyayat. Ada semacam pilu yang menekan saya ketika mendengar tarawangsa di Rancakalong, seperti kekasih tercintamu yang justru menikammu dari belakang dan mematahkan hatimu. Meski speaker di Rancakalong rombeng, justru makin memberi nuansa sendu, ketimbang speaker di Cigugur yang kelewat bagus. Di Cigugur, hanya mendayu, tak sampai menyayat.

Tarawangsa di Rancakalong terdiri dari dua kelompok lagu, yakni lagu-lagu pokok dan lagu-lagu pilihan. Lagu pokok terdiri dari lagu Pangemat/pangambat, Pangapungan, Pamapag, Panganginan, Panimang, Lalayaan dan Bangbalikan. Pilihan lagu di Rancakalong memang lebih beragam ketimbang daerah lain. Di Cigugur, yang saya dengar cuma dua lagu yang dimainkan. Itu pun, durasinya dipangkas, dan klimaksnya kurang, seperti seorang pemurung yang kecepetan ejakulasi saat masturbasi sehingga enggak dapat nikmatnya orgasme.

Enggak ada yang menari sampai trance, hanya ada kepura-puraan. Bahkan tak sedikit yang menunjukkan ekspresi bosan. Seren Taun Cigugur memang difungsikan sebagai gelaran festival, sehingga Tarawangsa yang ada murni sebagai tontonan.

Satu lagi yang bikin Tarawangsa di Cigugur enggak terasa masyuk adalah kondisi yang kurang berasap. Dalam tradisi shamanistik, asap juga jadi elemen penting untuk menggiring trance. Apalagi di psychedelia, ganja kudu ngebul. Saat di Rancakalong, para tetua duduk melingkar dan mulutnya bagai corong lokomotif, tak henti terus meloloskan rokok. Kaleng-kaleng cat Pylox yang disulap jadi asbak begitu penuh. Memang, Tarawangsa sering pula diadakan langsung di dalam rumah, dan asapnya, campuran dari menyan dan rokok, begitu pekat.  Malam itu, di Seren Taun Cigugur, dalam Paseban Tri Panca Tunggal, setelah menonton dua lagu, saya memutuskan keluar. Gudang Garam Merah dalam saku meminta untuk dibakar. Apalagi yang paling menyayat selain Tarawangsa Rancakalong dan kesunyian masing-masing?

 

 

Kategori
Celotehanku

Solontongan 20D, Sebuah Elegi

Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam. – Iwan Simatupang, Ziarah

Frasa ‘masa lalu yang indah’ bukan berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja, beruntungnya, orang-orang diberkati bakat mudah melupakannya. Sialnya, kita tak diberi kuasa untuk memilih mana yang harus dilupakan, pikiran kita begitu tengil. Kalau tak jadi gumpalan gelap, masa lalu berubah jadi ingatan fragmentaris, pecah jadi beling, untuk kemudian menggiring manusia pada bakat lainnya: meromantisasi. Inilah yang terjadi saat saya melihat-lihat hampir 1700an foto yang saya kumpulkan dalam folder Kedai Preanger.

Kadang saya terhenti pada sebuah foto, mengamati agak lama, sesekali diperbesar, mencoba mengingat, perasaan hilang timbul, yang seringnya bikin saya tersenyum, senyum dengan rasa sendu. Semua foto adalah memento mori, sebut Susan Sontag. Mengambil foto adalah berpartisipasi dalam kemortalan, kerentanan, dan ketaktetapan orang lain, atau suatu hal. Dengan mengiris suatu momen dan membekukannya, segala foto membuktikan pencairan tanpa henti sang waktu. Karena ia tak ada dalam kendali kita, waktu menjadi mimpi buruk, kabar buruknya mesin waktu hanya ada dalam fiksi ilmiah. Kemarin adalah sesuatu yang tak bisa diulang, difungsikan begitu, hanya untuk dikenang, dan oleh yang sedikit untuk diinsafi. Kiwari, teknologi menyulap kemarin jadi potongan piksel.

Tentu, tak ada tujuan untuk menyaingi Tropenmuseum atau KITLV. Saya sadar termasuk golongan pengarsip yang payah, dan agak malas. Berhubung akhir-akhir ini sedang bergelut dalam persejarahan, saya berpikir kenapa tak mengulik sejarah mungil yang dekat. Folder Kedai Preanger tersebut diisi oleh foto-foto yang terkirim dari grup WhatsApp Komunitas Aleut, sejak April 2016. Foto-foto yang sebagian besarnya untuk konsumsi di grup tersebut, hanya sedikit yang diumbar di media sosial, karena tak Instagramable dan kadang asusila. Gaya estetika visual foto-fotonya merupakan contekan are-bure-boke, kasar-kabur-tak fokus, potretan mana suka, penuh noise, tapi bukan karena ingin meniru fotografer Daido Moriyama, lebih karena kebutuhan praktis dan kemampuan kamera yang segitu-gitunya. Peduli setan dengan decisive moment-nya Henri Cartier-Bresson, inilah potretan yang saya suka, foto-foto yang justru lebih memiliki jiwa.

“Komunitas” nampaknya mengalami penyempitan makna. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. Jarang kita dapati “komunitas” sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan. Apa yang hari ini kita sebut atau rujuk soal komunitas cuma sebatas klub kegemaran. Bukankah kalau secara gramatika, seseorang yang aktif di komunitas bisa disebut komunis?

Selain dari teks-teks Marxis yang saya baca, Komunitas Aleut tampaknya yang berperan menyulap seorang yang anti-sosial ini jadi lebih sosialis. Tampak luar, Komunitas Aleut mungkin cuma dianggap klub jalan-jalan hore keliling bangunan-bangunan kolonial, atau para kutu buku yang ngulik masa lampau. Padahal definisi komunitas yang dipakai adalah dari arti sebetulnya, masyarakat, atau lebih tepatnya “masyarakat mungil” untuk terjun ke masyarakat yang lebih luas. Kedai Preanger adalah ruang belajar tersebut. Bagi saya, Solontongan 20D pernah jadi rumah tangga (bukan hanya karena ada tangga ke lantai dua, tapi saya pikir “rumah tangga” dalam makna kiasan betulan).

Saya tak ingat betul kapan mulai menginap, bahkan menetap di sini. Yang pasti dimulai sejak 2015. Di awal tahun tersebut, terakhir kalinya saya punya kamar kos dan harus meninggalkannya setelah praktek lapangan di RSUD Sumedang usai. Karena jadwal perkuliahan tak terlalu padat, saya dugdag dari rumah di Bandung selatan ke Jatinangor. Kemacetan di Jembatan Citarum sampai Cibaduyut, panjangnya Jalan Sukarno-Hatta beserta lampu merahnya yang menguji kesabaran, kemacetan lainnya dari Cibiru sampai Cileunyi, dan berlaku sebaliknya saat nanti pulang, memunculkan tiga tempat rehat pilihan: masjid, minimarket dan Kedai Preanger.

Kejenuhan akan perpolitikan kampus dan krisis eksistensial yang mendera bikin saya ingin punya semacam pelampiasan yang rada liberal: sastra dan humaniora. Kedai mungil ini menyediakan perpustakaan. Di tahun 2015, Kedai Preanger masih punya pegawai, dan sudah ada dua penghuni tetap, Irfan dan Ghera, ditambah penghuni gaib lainnya, yang katanya nongkrong di tangga. Ketika terlalu malam, atau terlalu malas, untuk pulang ke rumah, saya menginap di sini. Sampai akhirnya justru inilah jadi tempat pulang.

Kedai Preanger ramai di waktu tertentu saja, utamanya saat Kamisan dan Kelas Literasi. Bunga-bunga muncul dan redup, hama-hama terus bermuram durja. Entah siapa dan kapan tercipta istilah “bunga” dan “hama” ini, yang pertama berarti perempuan, yang kedua adalah para penyamun yang mencoba, atau berangan-angan, ingin mendapatkan yang pertama. Selain agar Kedai Preanger makin ramai, antar jemput diciptakan untuk memuluskan langkah para hama tadi, meski seringnya cuma membuat para hama itu naik tingkat jadi tukang ojek gratisan. Untuk urusan ini, saya hanya memercayakan motor saya untuk dipakai antar jemput, biasanya oleh Ajay atau Akay.

Orang-orang hadir dan pergi, membawa suka ria dan patah hati, menciptakan cerita.  Selain jago memoderatori Kelas Literasi, Irfan paling lihai memandu sesi curhat dan menganalisis gosip-gosip percintaan. Waktu terbaik adalah ketika sebelum tidur malam, saat lampu dimatikan. Gelap yang menaungi ruangan menyulap tiap-tiap penginap menjadi Syahrazad, juru cerita dalam Kisah Seribu Satu Malam. Tak semua begitu, selalu ada yang gigih mengunci mulutnya, atau yang masih malu-malu kunyuk. Jujur, meski sering memberi komentar, saya sendiri begitu menutup diri. Saya kadang merasa bersalah karena tak bisa membagi kisah-kisah ajaib.

Jika diadu dengan kedai kopi kiwari yang memakai kusen-kusen kayu berpelitur kinclong dan alat-alat kopi elitis, yang menyetel lagu-lagu sendu dengan suasana adem tanpa bising motor bocah-bocah SMP, Kedai Preanger bakal dilabeli kumuh oleh para hipster. Secara bisnis, berjalan merayap, bahkan terseok-seok, dengan berbagai macam perubahan menu dan pergantian pegawai. Namun, mengingat banyak kedai, kafe, atau  usaha yang sejenis ini ternyata hanya mampu bertahan 1-2 bulan saja, lalu bubar, Kedai Preanger harus berbangga.

Bukan racikan kopi dan teh yang luar biasa, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya, namun ada hal lain yang dapat ditemukan di Kedai Preanger. Kopi hanyalah minuman sederhana yang dibikin ribet oleh manusia modern. Namun, di kedai ini saya belajar meracik kopi sendiri. Memang, jika ditanya soal tektek bengek third wave coffee, saya angkat tangan, tapi barista mana yang bisa memberi kuliah soal sejarah Priangan dan awal mula kopi.

Kierkegaard tak bisa mengajarkan cara merapikan parkir motor, Nietzsche tak bisa mengajarkan cara mengiris bawang, Camus tak bisa mengajarkan cara memecah es batu dalam plastik, Zizek tak bisa mengajarkan cara japri pada seseorang yang ada di grup WA, dan para filsuf lebih memilih memikirkan hal-hal abstrak. Tentu, ada beribu alasan yang bakal diajukan para pemikir itu kenapa mereka langka memikirkan hal-hal praktis.

Selain membaca, mencuci piring jadi kesenangan saya berikutnya. Entah kenapa. Melihat tumpukan piring berminyak dan gelas dengan ampas kopi sisa malam kemarin, dan harum Sunlight, berasa sedang melakoni seorang George Orwell dalam Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London. Terbayang ketika Hemingway nyaman makan di hotel modis di rue de Rivoli, Orwell sedang berpeluh menghadapi piring-piring kotor di dapur bawah dengan perut keroncongan.

Jika Shakespeare & Company punya andil besar bagi Hemingway, maka bagi saya itu adalah Kedai Preanger. Sebagai rumah, ia telah membuka beragam minat: literasi, kopi, cuci piring, jatuh cinta dan bakat romantisasi – kesaktian yang sebenarnya dikuasai betul Abdurahman lain dari Cibeureum. Solontongan 20D telah kembali ke fungsi sebelumnya, cuma ruko.