Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Dewata dan Residensi ala Thoreau

dewata jalan makadam gunung tilu momotoran

Beragam skenario horror berdesakan di ubun-ubun, beberapanya imajinasi sumbangan dari H.P. Lovecraft dan Abdullah Harahap: seorang kawan hilang diculik dedemit, jalanan yang enggan mengarah kemana pun, pohon tumbang, bandit dengan celurit karatan menghadang di depan, ada makhluk mengerikan yang mengintai di balik pepohonan, yang sembunyi dan akan tampil tepat di depan wajah saat berbalik, apakah itu ular raksasa penghuni Gunung Tilu, atau harimau siluman, atau surili bertentakel, atau bahkan Tyrannosaurus Rex yang terlempar dari periode Cretaceous, atau batuan di jalan makadam yang berserikat jadi monster Golem setinggi tiga kaki. Kegelapan dan keterasingan selalu membobol kotak pandora dalam kepala. Nyatanya, selama dua jam perjalanan pulang dari Dewata ke Rancabolang, hanya menyisakan pegal-pegal, kantung kemih yang perlu dikuras dan keinginan untuk membakar rokok.

Sejujurnya, karena selalu memikirkan skenario terburuk, dan tumpukan bacotan dari para pemikir, justru saya bisa kalem. Dengan tetap fokus menunggang kuda besi di jalan makadam tadi, saya malah terus menyibukkan diri memikirkan Mythologies-nya Roland Barthes yang baru rampung setengah. Hantu-hantu yang lebih mengancam bernama mitos-mitos kontemporer dan alienisasi, justru menanti di belantara kota, bukan dalam kegelapan hutan.

Saya menyedot rokok lebih dalam. Rokok mungkin adalah dupa, mengundang apapun yang melayang di udara untuk bertamu ke dalam pikiran. Saya selalu memikirkan sebuah rumus: bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Artinya, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya. Atau, karena opsi pertama begitu sukar, yang termudah adalah dengan menurunkan ekpektasi, sesuatu yang lebih mudah, meski kadang enggak mudah, untuk diubah. Rumus ini pun dipakai untuk meredakan ketakutan. Karena setiap ketakutan berasal dari segala yang tak terjelaskan, maka selalu pikirkan skenario terburuk yang terjelaskan. Ah, saya terdengar seperti seorang motivator ketimbang eksistensialis. Lebih baik menyimpan energi yang tersisa, ada empat motor yang harus diturunkan dari truk.

Meski masih berada di kawasan hutan lindung Gunung Tilu, dan untuk mencapai minimarket terdekat di Ciwidey masih lama lagi, setidaknya jalan makadam sepanjang 14 km terlewati. Semua kawan sampai dengan utuh, seperti empat pion saya yang lengkap masuk dalam game Ludo yang dimainkan tadi saat magrib masih di Dewata. Dengan kesabaran dan taktik sedikit Machiavellian, ditambah keberuntungan, saya jadi jawara dalam permainan yang telah ada sejak dinasti Mughal India itu. Rute Dewata-Rancabolang ibarat jalur petak-petak memutar yang harus dilalui pion Ludo dengan telaten dan penuh perhitungan, bedanya enggak ada persaingan, dan semua berjalan beriringan.

Kalau sebentar saja di Dewata, saya bisa sebijak ini, mungkin harus ada program residensi menyepi di kaki Gunung Tilu. Pantas saja, pendaki gunung semodel Fiersa Besari lihai memproduksi untaian prosa genit.

Dewata di Kedalaman Gunung Tilu

Kelebatan hutan hujan dataran tinggi yang didominasi saninten, rasamala, kiputri, pasang, teureup, puspa, kondang, tunggeureuk di kanan kiri bakal menyambut kita saat memasuki kawasan cagar alam Gunung Tilu. Kawasan ini mencakup tiga kecamatan, yakni Ciwidey, Pasirjambu, dan Pangalengan, dengan kawasan berbukit bergunung di ketinggian 1.150–2.344 meter di atas permukaan laut. Ditetapkan sebagai cagar alam pada 1978, Gunung Tilu menjadi rumah setidaknya bagi bajing, monyet ekor panjang, owa jawa, kijang, lutung, burung dederuk, perkutut, dan ular sanca. Di kawasan inilah perkebunan teh Dewata terletak.

Kemungkinan besar, sejak dibuka pada 1932, jalan menuju perkebunan teh Dewata selalu merujuk pada Practical Essay on the Scientific Repair and Preservation of Roads-nya John McAdam. Satu-satunya rute paling memungkinkan saat musim hujan, hanya lewat jalan makadam yang masuk dari Pasirjambu ini. Berbeda dengan Alex White dan Darby Stanchfield dalam dokumenter cum iklan Pure Leaf yang menggunakan mobil offroad, mereka enggak bisa merasakan previlase pemicu adrenalin bernama momotoran di jalur makadam.

Dewata, saya pikir pilihan paling tepat untuk mempraktekkan satu buku Henry David Thourea, Walden; or, Life in the Woods. Teks itu merupakan cerminan hidup sederhana di alam, karya tersebut merupakan bagian deklarasi pribadi tentang kemerdekaan, eksperimen sosial, pengembaraan spiritual, satire, dan sampai tingkat tertentu, sebuah manual untuk kemandirian.

Pertama kali diterbitkan pada tahun 1854, Walden merinci pengalaman Thoreau selama dua tahun, dua bulan, dan dua hari di sebuah pondok yang dibangunnya di dekat kolam Walden, di tengah hutan yang dimiliki oleh teman dan mentornya Ralph Waldo Emerson. Thoreau menggunakan waktu ini untuk menulis buku pertamanya, A Week on the Concord and Merrimack Rivers. Thoreau mengobservasi berbagai fenomena alam, bukan hanya secara metaforis dan puitis, juga sama ilmiahnya. Dengan menarik diri dari masyarakat, Thoreau justru bisa mendapatkan pemahaman masyarakat yang lebih obyektif melalui introspeksi diri. Hidup sederhana dan kemandirian adalah tujuan lain Thoreau, dan keseluruhan proyek terinspirasi oleh filsafat transendentalis, tema sentral Periode Romantik di Amerika.

Nampaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Komite Buku Nasional perlu mencoba upaya Thoreau ini, mengirim para penulis selama berbulan-bulan ke kedalaman Gunung Tilu, menjauhkannya dari kebisingan kehidupan urban dan polusi distraksi. Lagipula, perkebunan teh Dewata menyediakan mes yang bisa diinapi, dan orang-orang baik yang siap membantu tanpa pamrih. Terdengar kampungan? Bukankah kampungan merujuk pada mereka yang menolak tunduk pada mekanisme pasar dan budaya hedonis serta ketergesaan manusia modern.

 

 

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Tak Ada Prabu Siliwangi di Sancang

Manusia bergerak melajui zaman dengan salah satu kemampuan utama yang enggak dipunyai hewan lain: fiksiYuval Noah Harari, dalam Sapiens: A Brief History of Humankind, menyebutkan bahwa manusia doyan fiksi, baik itu mitos yang menertibkan manusia, juga yang berupa fitnah yang memecah belah. Agama, negara dan uang, menurut Harari, adalah fiksi manusia yang memungkinkan kolaborasi dan organisasi dalam skala besar, juga sebaliknya, perpecahan dan kerusakan. Hanya Sapiens yang bisa mempercayai cerita macam ini. Inilah sebabnya mengapa kita menguasai dunia, dan saudara terdekat kita simpanse dikurung di kebun binatang dan laboratorium penelitian.

“Mana hutannya? Kok cuma pohon-pohon begini?” seseorang bertanya saat kami berhenti untuk melihat pohon Kaboa besar dekat sisi jalan. Saya lupa lagi siapa yang bertanya, tapi jelas pertanyaannya diarahkan pada saya, dan saya hanya menjawab dengan diam, antara pura-pura enggak mendengar dan menganggap itu hanya pertanyaan retoris. Tentu, saya punya jawaban sederhanya: ini konsekuensi dari penguasaan manusia. Ekses dari konsepsi antroposentrisme ala Francis Bacon yang menekankan pada dominasi serta penguasaan alam atas nama pembangunan ekonomi, logika lumrah yang tercipta dalam sistem kapital. Jawaban ini hanya saya simpan dalam kepala, lebih arif untuk pura-pura menatap pohon kaboa yang mencengkram batu besar itu.

Sebelum secara langsung melintasi Hutan Sancang, yang ada di pikiran saya adalah sebuah hutan belukar dengan pohon-pohon kekar menjulang dan rapat. Di seberang jalan, ke arah selatan menuju Samudera Hindia, memang masih tertutup. Hutan ini dikelola oleh Departemen Kehutanan dan memiliki luas kawasan 2.157 ha. Wilayah Sancang berada di ketinggian 0-3 m dpl. Di sana, lutung, monyet, dan aneka burung masih berkeliaran, dengan flora yang lebih variatif. Sementara di sini, ke arah utara memang berbatasan dengan perkebunan karet Miramare.

Dalam tulisan Usep Romli berjudul Hutan-hutan Legenda Tatar Sunda, disebutkan bahwa hingga pertengahan tahun 1980-an, Hutan Sancang sebagai hutan tutupan suaka margasatwa masih terbilang utuh, tetapi segera mengalami degradasi hebat seiring dengan penyerobotan dan pembalakan liar pada tahun 1998. Area Hutan Sancang kini menyempit karena sebagian terkena pembangunan jalur jalan lintas selatan. Kekayaan flora dan faunanya juga kian menyusut. Macan tutul dan banteng sudah lama hilang.

Hutan Sancang dikenal karena dipercaya sebagai tempat menghilangnya Prabu Siliwangi yang sedang dikejar putranya Kian Santang untuk diislamkan. Dalam budaya pop kiwari, Yayan Jatnika mengabadikan kisah ini dalam lagu Sancang. Soal ini, Irfan Teguh, seorang fans Usep Romli, pernah menuliskannya dalam Maung dan Prabu Siliwangi: Mitos atau Fakta? Maung atau harimau punya posisi yang cukup dalam bagi kesadaran orang Sunda.

Sancang sendiri merupakan jenis maung yang mempunyai belang hitam memanjang vertikal dari kepala hingga ekor. Mitosnya, sementara Prabu Siliwangi berubah jadi harimau putih, pengikutnya jadi maung Sancang. Kepercayaan lainnya menyebutkan kalau pengikutnya ini berubah jadi pohon kaboa yang hanya bisa ditemui di hutan Sancang ini. Yang nyeleneh, mungkin karena fiksi ini sudah kadaluarsa, para pengikut Prabu Siliwangi yang jadi kaboa itu ditebang untuk dijual di toko online dengan harga dari dua ratus ribu sampai belasan juta.

Menyoal kerusakan hutan, nampaknya kita butuh fiksi yang lebih kuat. Keberadaan dedemit atau roh penjaga yang bakal bikin petaka jika manusia berlaku merusak enggak bisa diandalkan lagi. Masalah utamanya selalu karena kekuatan kita bergantung pada fiksi kolektif, kita enggak pandai membedakan antara fiksi dan kenyataan. Diperlukan mitos-mitos terbarukan untuk menertibkan manusia modern.

Saya teringat film dari Studio Ghibli, Princess Mononoke (1997). Ada pertentangan pandangan yang disampaikan Hayao Miyazaki dengan apik. Modernis lawan environmentalis. Dua kelompok yang hingga hari ini terus berselisih membawa pahamnya masing-masing. Ini bukan cerita sederhana soal dikotomi antara mana yang baik mana yang jahat, tapi tentang bagaimana manusia, hewan hutan, dan alam memperjuangkan bagian mereka masing-masing dalam sebuah tatanan hidup baru yang muncul.

Dalam cerita rakyat di hutan Sancang ini kita menghadapi hal serupa. Katakanlah, Prabu Siliwangi mewakili sisi enviromentalis, sementara Kian Santang menawarkan modernitas. Kenapa bisa muncul antagonisme semacam ini? Dalam Capital, Karl Marx menyebutkan bahwa melalui kerja, manusia berupaya untuk mengelola metabolisme antara dirinya dan alam. Akan tetapi dikarenakan relasi produksi serta pemisahan desa-kota yang antagonistik, proses metabolistik ini menciptakan apa yang disebutnya sebagai ‘keretakan yang tak dapat diperbaiki’. Relasi metabolistik manusia dan alam akan selalu berhadapan secara antagonistik akibat kepentingan kapital untuk memaksimalisasi keuntungan.

Di sini, saya enggak setuju dengan konsep kembali ke alam dan enggak mau jadi pengikut Prabu Siliwangi. Dalam artian kita menanggalkan peradaban kita dan kembali masuk hutan, berselimut kembali dalam fiksi manusia goa. Mustahil untuk memundurkan kereta sejarah. Atau, yang lebih parah, ‘kembali ke alam’ hanya jadi jargon turisme. Bukan berarti juga, terlalu dogmatis pada sisi Kian Santang. Ingat, modernitas punya tendensi memaksa bahkan seringnya bersifat destruktif.

Konsepsi Marx tentang alam sangat dipengaruhi teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Darwin, alam beserta mahluk hidup di dalamnya dipahami sebagai sesuatu yang selalu berevolusi, selalu berubah. Evolusi ini sendiri adalah proses sejarah alam yang terbuka yang dipandu oleh kontingensi, yang dimungkinkan untuk dijelaskan secara rasional. Perubahan bersama (coevolution) antara manusia dengan alam yang mengarah pada metabolik, secara material dialektis, bisa diimajinasikan dan direalisasikan.

Komponen yang esensial dari konsep metabolisme adalah adanya gagasan bahwa relasi antara masyarakat dan alam ini adalah dasar yang membuat jaring interaksi kehidupan yang kompleks dapat berlanjut dan pertumbuhan menjadi mungkin. Ada jawaban bagi keterbatasan ilusi ideologi pengetahuan yang menjadikan alam tidak lebih sebagai medium komoditas. Upaya untuk mendamaikan Prabu Siliwangi dengan Kian Santang, modernitas dengan enviromentalisitas, dan antroposentrisme dengan ekosentrisme bukan sesuatu yang mustahil.

Bacaan lebih lanjut: 1) John Bellamy Foster – Marx’s Ecology: Materialism and Nature, 2) Saras Dewi – Ekofenomenologis: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam

Sampailah pada titik yang selalu bikin saya merasa geram. Saat kita merasa tahu akan mekanisme yang berlaku, dan yang enggak atau belum berlaku, namun semua itu hanya ada dalam ruang gagasan. Paling banter hanya sampai merasa simpati. Inilah yang bahaya, karena sebatas bersimpati bikin kita merasa sudah melakukan sesuatu, dan hanya terhenti sampai sini, nyatanya enggak ada yang berubah, berakhir jadi omong kosong. Mungkin juga, ide-ide radikal di era modern bukan optimisme menuju utopia melainkan metode koping lainnya, menggantikan takhayul zaman kuno, untuk mendefinisikan kekuatan kompleks yang mengendalikan kehidupan. Di titik ini, saya hanya bisa membayangkan fiksi yang sangat mungkin menggerakkan manusia agar memikirkan isu lingkungan ini, sebuah distopia betulan: Dibutuhkan bencana ekologis yang benar-benar serius.

*

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

John Berger atau Seni Momotoran ala Komunitas Aleut

Riding has become a pas de deux.  Rider and road are partners dancing.  It can even happen that you fall in love.

  • John Berger

Kalau bulan bisa ngomong, dan motor bisa nulis. Sayangnya tidak. Kalau saja saya bisa merenungkan dan merumuskan pengalaman dan menuliskannya sebaik John Berger. Sayangnya belum. Tapi kalau sekadar berandai-andai, terus-terusan begitu, tak akan ada yang tercipta. Pengalaman momotoran tiap minggu selama sebulan kemarin hanya akan lenyap begitu saja. Tak akan ada yang tertuliskan.

Oke, pertama-tama siapa itu Berger? Singkatnya, dia itu kritikus seni, pelukis, novelis, dan penyair. Seorang intelektual dan humanis Marxis yang meninggal Januari 2017 kemarin, yang banyak pemikirannya akan terus hidup. Lalu apa hubungannya Berger dan motor? Dia juga seorang motoris. Tonton John Berger or The Art of Looking (2016), dan kita bakal melihat seorang aki-aki di usia 90 masih gagah naik motor gede Honda CBR1100XX alias Blackbird. Ini boleh diikuti atau tidak, saat tinggal di pedesaan Prancis, dia hobi membawa motor tadi di jalanan pegunungan Alpen dengan kecepatan tinggi. Yang pasti, beragam pemikirannya soal momotoran sesuatu yang enggak boleh dilewatkan.

Dalam Bento’s Sketchbook, Berger menyebut bahwa selama bertahun-tahun dia terpesona oleh hubungan paralel antara tindakan mengemudikan motor dan tindakan melukis. Hubungan itu mempesonanya karena bisa mengungkapkan suatu rahasia. Tentang apa? Tentang perpindahan dan penglihatan. Bahwa melihat membuat kita lebih dekat. Kamu mengendarai motor dengan matamu, dengan pergelangan tanganmu dan dengan bersandar pada tubuhmu. Matamu yang paling penting dari ketiganya. Motor mengikuti dan membelok ke arah apapun yang diarahkan. Ini menuruntukan penglihatanmu, bukan pikiranmu. Tidak ada pengemudi kendaraan roda empat yang bisa membayangkan ini. Jika kamu melihat dengan susah payah halangan yang ingin kamu hindari, ada risiko besar justru kamu akan menabraknya. Lihatlah dengan tenang jalan di hadapan dan motor akan menempuh jalan itu.

Berger juga menerangkan dalam Keeping a Rendezvous, bahwa momotoran mendekatkan kita dengan dunia. Sebabnya selain perlengkapan pelindung yang dikenakan, enggak ada apa-apa lagi antara kita dan dunia saat bermotor. Udara dan angin menekan langsung. Karena kita berada di atas dua roda dan bukan empat, kita lebih dekat ke tanah. Dengan lebih dekat berarti lebih intim. Membungkuk menghasilkan efek intim lainnya. Setiap garis kontur di peta yang kita lewati berarti poros keseimbangan kita ikut berubah. Persepsi ini bersifat visual tapi juga taktil dan ritmis. Seringkali tubuh kita tahu lebih cepat dari pada pikiran kita.

Lebih jauh, Berger menyebut momotoran sebagai pas de deux. Dansa berpasangan. Pengendara dan jalanan adalah mitra menari.

Saya enggak tahu di Eropa sana apakah ada touring motor dan Berger pernah ikutan atau tidak. Sudah bisa dipastikan, Berger belum pernah merasakan bermotor beriringan di jalanan di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Sebulan kebelakang ini Komunitas Aleut memang masih melakukan ngaleut tiap minggunya. Tapi aleut-aleutan dengan motor.

Saya setuju dengan pemikirannya bahwa dengan momotoran membuat kita lebih intim dengan dunia. Semakin sedikit perlengkapan pelindung yang dikenakan, justru makin membuat kita membumi. Tentu saja, keamanan tetap nomor satu. Tapi, setelah saya rasakan, hanya dengan memakai sandal jepit, jaket biasa bahkan cuma kemeja flanel, di sunblock serta body lotion dan barang bawaan seadanya malah membuat saya makin nyaman, bahkan aman. Karena secara psikologis merasa sedang momotoran di kampung sendiri. Meski saya sedang di Sinumbra, Agrabinta, Jampang, Bayah, Darangdan, Tanggeung, Sindangbarang, atau kawasan Priangan lain. Seperti warga lokal.

Enggak seperti kelompok touring motor lain yang seringnya meminggirkan yang lain saat kelompoknya lewat jalanan tertentu, dan biasanya dengan kecepatan edan, momotoran bersama di Komunitas Aleut justru menawarkan keselowan. Enggak sok jago, kecuali yang baru ikutan. Karena memang enggak ada yang jago. Yang paling nyeleneh, dengan hanya motor-motor biasa buat jalanan perkotaan, dan seringnya motor itu jarang diservis, justru doyan menguji kekuatan dengan sengaja memilih rute jalan terpencil dan yang bikin sinting. Masuk hutan, lewat tanjakan curam, turunan licin, melintas jalanan berlubang, berbatu, berlumpur, bahkan jalan yang enggak ada jalannya, dan asyiknya itu semua seringnya dilakukan pas gelap.

Jika Berger hanya bermotor sendiri, maka momotoran di Komunitas Aleut pasti bakal dapat pasangan. Pasangan yang mengisi jok belakang. Itupun kalau mencukupi. Soal pemasangan ini pun sangat politis. Biasanya malam sebelum keberangkatan, ditentukan siapa dengan siapa. Pegiat aktif yang luwes biasanya bakal dipasangkan dengan anggota baru. Tujuannya agar si anggota baru tadi kerasan, sehingga ikut lagi dan lagi. Bahkan, sudah jadi rahasia umum, pemasangan ini jadi semacam biro jodoh. Selain itu, lewat momotoran, kita bisa tahu sifat asli seseorang, karena dalam kondisi lelah secara otomatis topeng seseorang akan terbuka. Mana yang culas atau egois, dan mana yang memang benar-benar berkesadaran secara kelompok.

“Kemudian saya mulai melihat sesuatu yang tidak begitu konseptual namun fenomenologis, berkaitan dengan pengalaman,” ungkap Berger saat diwawancara di pameran lukisannya di London. “Kontur di peta, sungai-sungai, jalan-jalan, barisan pegunungan, mulai membentuk metafora tentang tubuh pengendara dan motornya. Dengan cara yang aneh kamu menjadi perjalanan yang telah kamu buat, sampai perjalanan yang akan dijalani selanjutnya. Kamu memakannya dan kamu memberakkannya; Perjalanan merasuk dalam tubuhmu.”

 

Kategori
Celotehanku

Apa yang Saya Ketahui Soal Jurnalisme

Bekal wawasan saya tentang jurnalisme adalah dari kuliah di University of Amsterdam, meski cuma ngambil Introduction to Communication Science, mata kuliah dasarnya komunikasi massa, dan ini hanya kuliah online di Coursera–saya juga ikut ambil filsafat dasar di University of Edinburgh, tapi enggak sampai tuntas. Yang saya dapat dari kuliah tadi adalah tentang sejarah komunikasi massa, bahwa komunikasi yang asalnya hanya milik penguasa, menjadi milik publik lewat yang namanya jurnalisme ini. Jika ditarik kebelakang, awal ketertarikan saya pada jurnalisme itu berkat pertama kalinya punya kamera DSLR, mula-mula belajar fotografi, tertarik dengan human interest, tentang memotret interaksi manusia yang merupakan satu topik dalam bidang jurnalistik, kemudian timbul juga keinginan sinting jadi jurnalis perang setelah nonton The Bang Bang Club. Dari fotografi, minat saya bergeser ke sastra, karena sadar bahwa bagaimanapun menggeluti fotografi butuh dana enggak sedikit, berbeda dengan menulis. Dari sini saya berkenalan dengan yang namanya jurnalisme naratif atau jurnalisme sastrawi. “Jurnalisme Sastrawi adalah pintu masuk bagi mereka yang enggak berlatar belakang jurnalistik,” ungkap Idhar Resmadi saat membedah bukunya di Kelas Literasi. Jurnalisme naratif sendiri tulisan bernilai jurnalistik namun dituturkan luwes dengan gaya bercerita, yang sering memasukkan unsur personal, untuk lebih jelasnya bisa baca Masa Depan Narasi. Jika pada Kelas Literasi pada pekan ke-48, kami berada di lantai dasar Kedai Preanger, maka di pekan 67 dan 68, berpindah ke lantai kedua, tempat para hama dan kehampaan berkelindan, untuk belajar dasar-dasar jurnalistik dan penerapannya dalam jurnalisme warga.

Dari Kelas Literasi bertajuk Jurnalisme Warga yang dipandu Ridwan Hutagalung ini saya kembali diarahkan untuk mengenal 9 elemen dasar dari Bill Kovach, yakni: 1) Jurnalisme itu mengejar kebenaran; 2) Komitmen wartawan kepada masyarakat dan kepentingan publik; 3) Jurnalisme itu disiplin menjalankan verifikasi; 4) Independen terhadap sumber berita; 5) Harus menjadi pemantau kekuasaan; 6) Menyediakan Forum bagi masyarakat; 7) Berusaha keras membuat hal penting menjadi menarik dan relevan; 8) Menjaga agar berita proporsional dan komprehensif; 9) Mengutamakan hati nurani. Dengan perkembangan sistem informasi, hadirnya internet, utamanya media sosial, menjadikan jurnalisme jadi makin cair dan memungkinkan setiap orang bisa jadi jurnalis. Lahir Jurnalisme warga, kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Sebagai latihan, ngaleut Blok Tempe yang akan diadakan esoknya harus dituliskan dalam bentuk jurnalisme warga, kemudian di pekan selanjutnya akan dibahas.

“Cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan,” ungkap Gabriel Garcia Marquez, dan mengeluhkan soal jurnalis-jurnalis zaman sekarang lebih tertarik memburu breaking news dan keuntungan serta privelese dari kartu pers mereka ketimbang kreativitas dan etika, seperti yang dicatut dari tulisan Silvana Paternostro, yang diterjemahkan Ronny Agustinus, Tiga Hari Bersama Gabo, yang menceritakan pengalaman lokakaryanya bersama peraih Nobel Sastra 1982 tadi. “Kupandangi sekeliling meja,” tulis Silvana, “Dari 12 peserta, cuma Andrea Varela dan aku yang perempuan.” Situasinya hampir sama, hanya saja tanpa perempuan, Kelas Literasi pekan ke-68 ini disesaki para pejantan, berbeda dengan minggu kemarin yang masih disegarkan dengan kehadiran kaum hawa. Kami membahas tulisan yang dipacak peserta di Instagram atau di blog pribadinya. Saya sendiri belum menyelesaikan tulisan, dan di tengah-tengah diskusi keluar tanpa izin untuk mengambil angin, dan karena terjebak hujan deras, ketiduran di masjid, kembali lagi ke Kedai sebelum bubaran.

Setahun sebelumnya, berkat Komunitas Aleut! saya bisa merasakan jadi seorang jurnalis dan karenanya bisa melahirkan Pernik KAA 2015: Serba-Serbi Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Jika menilik lagi, tentu tulisan saya enggak secanggih sekarang, pun soal wawasan, dan waktu itu belum terlalu akrab dengan Gabo.

Menjelang berakhirnya Kelas Literasi pekan ke-68 tadi, ada bahasan soal penggunaan Instagram sebagai media jurnalisme, saya merekomendasikan untuk melihat-lihat akun AJ+ yang ber-tagline: “news for the connected generation, sharing human struggles and challenging the status quo.” Yang memotret beragam keseharian, dan mengisahkannya. “Kita bikin media baru, Solontongan Plus,” kelakar saya. Solontongan sendiri adalah nama jalan di Buahbatu yang melewati Kedai, dan seorang kawan beberapa waktu kebelakang iseng bikin media bernama Solontongan Pos. Masih dibuat penasaran, setelah bubaran Kelas Literasi, setelah menonton kemenangan Persib atas Persipura, setelah melewati malam Minggu yang begitu-begitu saja, sambil mendengar berulang-ulang Kim Taeyeon dan Blackpink, saya mencari apakah ada sebutan untuk model jurnalisme itu. Saya menemukan istilah ‘Slow Journalism’, bisa dibaca lebih lanjut di Slow Journalism, Kekuatan di Era Serba Cepat. Di tengah gelombang media yang enggak sabaran mau menyajikan berita, sebutlah itu ‘tsunami informasi’ atau ‘polusi notifikasi’, harus lahir jurnalisme berperspektif baru. Tentu, enggak bisa enggak, saya harus mengutip kembali gagasan Gabo, “Cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan.”

Kategori
Cacatnya Harianku

Americano, Indocafe dan Secangkir Sepi

coffee

1

Bisa saja saya menikamnya dengan pisau dapur, dan yang ia perbuat justru membalas senyum. Mungkin sedikit meringis, dengan tetap penuh jatmika. Sikap kalem yang hanya dimiliki para bestari, ketenangan yang serupa permukaan kopi yang sering ia bikin. Selepas maghrib, bersama saya sebagai seorang teman ngobrol yang payah, entah kenapa perbincangan kami mengarah soal perbedaan Americano dengan long black. Saya sendiri lupa penjelasannya, keduanya sama-sama kopi berair, hanya berbeda soal mana yang pertama dimasukan, air dulu, atau kopi dulu. Dia lalu bertanya tentang siapa saja penulis yang suka ngopi. Hmm, banyak sih, jawab saya, Camus, Albert Camus, dia doyan bengong di kedai kopi. Terus Flaubert, lanjut saya, dia sehari minum kopinya bisa sampai 50 gelas, dan mati karena ginjalnya rusak. Perlu dikoreksi: Bukan Gustave Flaubert, tapi Honore de Balzac, saya salah sebut. Kalau Murakami suka ngopi? tanyanya. Minum wine dan ngebir dia mah, sebut saya, langsung terpikir kalau kami berdua sudah seperti protagonis dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin dengan dialog sok intelek ini. Dia sendiri sering memanggil saya dengan nama belakang penulis Jepang itu, entah olok-olok yang benar, karena Murakami sendiri berarti desa atas. Apakah dia mengejek kalau saya orang udik, saya yakin dia enggak tahu akan hal ini. Penulis dari rahim Kabupaten mah kebanyakan pemurung, puji seorang kawan lain, ditujukan bagi saya. Si barista mungil bernama Hamdan ini pun orang Kabupaten. Harusnya saya bersyukur dipanggil Murakami. Perbincangan kami ini berada di depan Alfamart persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Alkateri, sebelah barat Mesjid Agung. Kopi di Alfamart lebih bagus ketimbang Circle K, nasihatnya suatu kali, hasil analisanya sendiri. Di malam lain, dia menanyakan sesuatu yang konyol, kalau diberi kesempatan kencan buta semalam mau sama idola K-pop siapa? Dasom member Sistar, saya asal sebut. Dia menggeleng enggak tahu siapa, tentu. Bukan kenapa-kenapa, karena idol cantik itu punya cita-cita bikin buku kumpulan esai sebelum menginjak 30. Dengan Americano racikan Hamdan, dan mungkin dia berbaik hati bakal menyetelkan musik jazz, tentu soal tulis menulis ini bakal jadi bahasan yang setidaknya bisa membuat saya bisa bicara. Klise a la drama Korea, memang; skenario yang halusinatif, iya.

2

Seperti orang yang duduk di hadapan saya, selalu dibuat iri oleh manusia yang bisa merangkai dua ratus tiga puluh kata per menit. Saya setia menjadi pendengar bualan Iwang, namun mencuri pandang ke arah Jalan Solontongan beserta lalu lalangnya. Hanya dengan menonton laju gerak manusia, sering muncul pemikiran mengada-ada. Kehidupan, bagi saya, seperti ketika kau hendak menyeberang jalan, melirik kanan-kiri, memastikan bahwa kau akan selamat sampai seberang jalan, namun saat melangkah tanpa disangka-sangka sebuah Boeing 747 mendarat darurat dan menggilasmu. Hidup sialan ini hanya sekumpulan kesialan, ketidaksialan dan kesia-siaan. Ah, tahu apa saya soal hidup? Hanya bocah manja yang hobi mengeluh. Pria yang sedang mendongeng di hadapan saya, yang usianya dua kali lipat dari saya, tentu lebih mengerti, setidaknya punya lebih banyak pengalaman. Saya membayangkan apakah saya bisa menginjak usianya. Suatu kali saya mengetes soal kepribadian di internet, dan mendapati kalau Jim Morrison dan Kurt Cobain berbagi watak dengan saya, mati di usia 27 mungkin suatu kehormatan. Semakin menua, saya justru jadi seorang bajingan pembenci diri. Haruskah aku bunuh diri atau minum secangkir kopi? ujar seorang pemikir dari Prancis. Ah, nampaknya saya perlu ngopi.

Rip, ga ngopi? Iwang selalu inisiatif menawari. Saya beri selembar lima ribu pada Iwang. Indocafe atau ABC Susu, pinta saya. Dia enggak masuk ke dalam Kedai Preanger, tentu, melainkan membelinya di kios kecil di seberang jalan. Dia menyeberang, sialnya enggak ada pesawat jatuh. Selain tangan saya sendiri, Iwang adalah lelaki bejat yang sering meremas penis saya, entah apa motifnya, yang pasti ini sudah bisa dipidanakan sebagai kasus pelecehan seksual. Hobinya emang omong cabul, dia bahkan pernah membeberkan pengalaman pribadinya, saat masa muda penuh berahinya, dan meminta saya untuk menuliskan ceritanya. Memang sebiru Almost Transparent Blue-nya Murakami. Ryu bukan Haruki. Anjing, saya makin iri dengan pengalaman percintaannya. Iwang balik sambil membawa dua gelas plastik berisi cairan coklat panas, juga dua linting rokok yang disembunyikan di sakunya. Mana kembaliannya? tanya saya bercanda. Dia terkekeh, selalu begitu. Kami sama-sama menyesap cairan berasa kopi ini. Jika bokep mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka kopi jagung pun enggak ubahnya kopi betulan. Iwang sendiri ketika mencicipi Americano, atau kopi tubruk Lanang saya, justru mengeluarkan ekspresi muka serupa kukus.

3

Bagus. Kopi bagus untukmu. Ada kafein di dalamnya. Kafein, kami di sini. Kafein menempatkan si pria di atas kuda si wanita dan si wanita dalam kubur si pria. – The Sun Also Rise, Ernest Hemingway

Di Kedai Preanger. Sinar matahari pagi memaksa masuk lantai dua Kedai Preanger. Berhasil bikin saya makin enggak nyaman untuk melanjutkan tidur. Saya terbangun seperti kecoa besar tertelungkup, yang membutuhkan sebuah ledakan bom hidrogen untuk bisa menjauhkan saya dari ranjang usang itu. Akay sudah duduk di depan laptopnya, terpampang Microsoft Word di layar. Ada segelas kopi panas di atas meja sampingnya. Saya bangkit, dan tanpa minta izin langsung menyeruputnya. Bukannya menghardik, dia malah bertanya: Rip, ajarin bikin dialog lah. Saya enggak menjawab, pura-pura masih mengantuk. Rupanya dia sedang menulis cerpen.

Beberapa minggu sebelumnya, Kelas Literasi mengkhususkan untuk saling meresensi blog masing-masing, saya sengaja enggak ikut mendaftarkan diri. Aneh memang, lewat blog ini saya tentu saja menulis agar dibaca orang, tapi di sisi lain ada perasaan enggak nyaman ketika tulisan saya dibaca orang, tentu soal resiko disalahpahami dan dihakimi. Saya juga semakin bingung soal kenapa saya menulis, kenapa saya ngeblog, lebih jauh kenapa saya hidup, mereka yang menyebut dirinya penulis harusnya dikasihani, termasuk diri saya ini. Dan jika membandingkan dengan blog kawan lain, justru saya merasa malu akan blog ini. Mereka bisa menulis dengan jujur, dengan bahasa asyik. Lebih-lebih blog kepunyaan Akay, yang berkat salah satu postingannya bisa mendatangkan tambatan hatinya.

Setelah tulisan si pria tentang si gadis, mereka melepas rindu dengan bertemu. Di suatu malam Minggu di bagian luar Kedai Preanger. Saya dan Iwang memperhatikan dari dalam. Iwang mungkin sembari memikirkan pacar jauhnya di Ciamis. Akay mengantar pulang si gadis yang menyisakan segelas latte yang masih penuh. Saya, tentu tanpa minta izin, menyesap latte itu, menonton jalan Solontongan yang kali ini lenggang, dan berharap ada kucing lewat yang bisa diajak bicara. Hanya ada malam.

Kategori
Celotehanku

Novel Terjemahan Pustaka Jaya

“Kita perlu karya sastra dari negara-negara lain untuk mengembangkan wawasan dan merangsang gagasan kita. Tanpanya, kita bukan cuma mengerdil, namun kelaparan,” tulis kritikus Magnus Linklater, yang saya kutip dari pengantar novel Piramid terjemahan Marjin Kiri–satu penerbit keren yang merasa prihatin karena hari ini kita nyaris tak lagi mengenal perkembangan sastra dunia kontemporer, berbeda dengan masa awal dan pertengahan abad ke-20.

Abdul Moeis menerjemahkan karya klasik Don Quixote. Setelah diumumkan sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 1913, novel Rabindrath Tagore segera ada terjemahannya oleh Muhammad Yamin. Soekarno membaca kemudian mengutip Dante di sana-sini. Bahkan kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an dengan songongnya memproklamasikan diri sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia.” Sampai kini pun, kegiatan penerjemahan buku memang enggak pupus di Indonesia, namun porsinya makin lama makin diserbu novel remaja dan populer. Idealnya, penerbit-penerbit besar dengan dana melimpah semestinya memberi perhatian pada sastra bermutu, bukan melulu tunduk pada pasar. Perlu hadir penerbit yang “menerbitkan buku baik” seperti Pustaka Jaya.

Siapa enggak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya. Pustaka Jaya bisa dibilang sebagai tonggak baru pasca Balai Pustaka, Gunung Agung, Djambatan, dan penerbit-penerbit tua lainnya yang mulai kehabisan nafas. Penulis luar beserta karya-karyanya macam Nikolai Gogol, Fyodor Dostoyevski, Jean-Paul Sartre, John Steinbeck, Emile Zola, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran, Yasunari Kawabata, dan pengarang lainnya diperkenalkan dengan begitu masif. Dengan penerjemah yang enggak main-main, beberapa merupakan penulis kenamaan seperti Sapardi Djoko Damono, NH Dini, Asrul Sani. “Saya punya hutang pada Pustaka Jaya. Tanpanya, saya pasti akan sangat terlambat berkenalan dengan kesusastraan dunia,” sebut esais kondang Zen RS. Belakangan, Kepustakaan Populer Gramedia kembali menerbitkan beragam seri sastra dunia hasil terjemahan Pustaka Jaya (mungkin karena pertimbangan ekonomis, entahlah).

cp4ge8sueaaew0_

Sejak digagas, buku-buku Pustaka Jaya sudah sering dibahas dalam Kelas Literasi Komunitas Aleut! Maka, pada Sabtu 6 Agustus 2016, menginjak pekan ke-54, diusunglah tema “Literasi Pustaka Jaya” yang digelar di Taman Cibeunying. Kebanyakan yang diresensi adalah novel-novel terjemahan.

Saya enggak ikut meresensi, sehingga (sengaja) datang telat. Saat tiba, si mungil Hamdan telah membahas hasil pembacaannya akan novel Notsume Soseki berjudul seperti lagu lawas Element, Rahasia Hati, kemudian diskusi melebar soal penulis Jepang dan fenomena bunuh diri-meski Soseki bukan salah salah satunya. Hamdan sendiri adalah kawan yang sering memanggil saya Murakami, saya jadi bertanya-tanya apakah Ajip Rosidi dipanggil Kawabata juga karena mengagumi dan menerjemahkan karya penulis Jepang ini.

Dataran Tortilla-nya John Steinbeck yang diterjemahkan Djokolelono memang bajingan. Kegokilan Steinbeck dialihbahasakan dengan apik oleh orang yang mencipta beragam slogan asyik; Terus Terang Philips Terang Terus, Susu Saya Susu Bendera, Pria Punya Selera. Pengarang Ahmad Tohari mengakui bahwa lahirnya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sangat dipengaruhi dari hasil pembacaannya pada novel Dataran Tortilla ini. Mbak Nurul yang kebagian merensensi novel ini juga mengiyakan karena menikmati pembacaannya. Kalau saja bukan karena untuk diresensi, saya bacanya bakal dilama-lamain, ungkap wong Bantul itu.

Berbeda dengan Tintin yang mendapat Cinta Pertama-nya Ivan Turgenev, dan mengaku menyerah di tengah jalan karena enggak terlalu paham konteks latarnya. Memang, seringnya saya pun bakal menikmati cerita dalam novel klasik justru setelah membaca di seperempat akhirnya, harus memaksakan diri beradaptasi dengan semesta cerita. Novel klasik Rusia sendiri terkenal berkat kehebatannya dalam menyampaikan beragam konsep psikologi dan hubungan manusia yang kompleks lewat jalan kisah.

Tahun 1980-an Ajip Rosidi pergi ke Jepang dan mendelegasikan Pustaka Jaya kepada orang lain. Sayang beribu sayang, sejak saat itu Pustaka Jaya terpuruk. Pustaka Jaya yang tadinya memiliki standar buku-buku baik yang hendak dicetak, mulai bergeser ke memenuhi selera pasar. Karena semakin merugi, Ir. Ciputra berniat menyarankan Pustaka Jaya ditutup saja. Lalu sekembali dari Jepang, ia menahan keinginan Ir. Ciputra dan lalu membeli saham Pustaka Jaya yang ada di tangan Ir. Ciputra dan berupaya mengembalikan kejayaan Pustaka Jaya. Tapi waktu demi waktu, Pustaka Jaya semakin meredup. Untuk menghidupi Pustaka Jaya, cukup sering Ajip Rosidi menjual hartanya, seperti lukisan untuk menyambung umur Pustaka Jaya. “Saya ingin Pustaka Jaya bisa hidup, sehat, agar buku-bukunya dibeli oleh umum. Dan buku-buku itu penting dilihat dari segi kebudayaan,” tegas Ajip Rosidi.

Kondisi perbukuan banyak merugi dengan kompetisi yang makin berat, lebih-lebih di negara bernama Indonesia. Rezim bestsellerism telah banyak menimbulkan krisis keuangan penerbit-penerbit lama, seperti Djambatan, Balai Pustaka, dan sekarang Pustaka Jaya. “Menulis adalah sebuah bisnis mengerikan, dan menyedihkan,” sebut pengarang Amerika, Ann Patchett, “Tetap bertahan. Itu lebih baik daripada apa pun di dunia.” Haruskah saya berganti nama jadi Ajip dan mengakuisisi Pustaka Jaya?