Kategori
Korea Fever

Red Velvet Jadi Cewek Bandel

 

SM Entertainment memang misoginis bangsat. Meski menjadi bagian dari SM, satu korporasi hiburan Korea yang superkaya, berarti dikasih kepastian bahwa sebuah idol akan mendapatkan banyak publisitas, namun grup cewek harus berjuang lebih ekstra untuk beberapa waktu sebelum menjadi populer. Padahal sejak menganut politeisme kontemporer, dewi-dewi bikinan SM selalu jadi pilihan saya.

Sebelum 2014, nama grup ini hanya dikenal sebagai jenis kue. Girls Generation atau SNSD debut pada 2007, f(x) debut 2009, kemudian lahir Red Velvet yang bisa dibilang mengawinkan irisan dari dua grup tadi. Mereka memang memulai dengan sebuah konsep dwitunggal yang jarang ditemukan dalam grup cewek, mengadu antara musik pop yang catchy dalam Red, yang dibenturkan dengan suara berbasis RnB yang lambat dalam Velvet.

Sejak terbentuk pada 2014, Red Velvet telah melesat ke superstardom. Mereka terus merilis lagu hit – lagu-lagu Red Velvet selalu menemani saat saya bermotor. Meski memang, sedikit kalah populer dengan saingan Twice dan Blackpink yang debut lebih dini, namun malah menyusul.

Red Velvet telah menjadi pertengahan antara gaya eksperimental f(x) dan musik yang lebih mainstream dari SNSD, dan itulah yang mereka berikan. SNSD dan f(x), sebagai produk, apalagi setelah lama hiatus dan membernya enggak lengkap, sudah enggak terlalu laku. SM pastinya ngelirik buat mengeksploitasi Red Velvet, yang tahun 2017 kemarin saja sampai tiga kali comeback album baru. Dan di awal tahun ini ujug-ujug bikin repack dari album terakhir Perfect Velvet, jadi The Perfect Red Velvet.

Kwintet memainkan kecenderungan retro mereka yang lebih halus pada album yang diperbarui, dengan All Right yang nu-disco dan Time to Love dengan RnB 90-an dan single utama Bad Boy. Lagu yang terakhir dirilis melalui sebuah video musik yang menampilkan Red Velvet dalam nuansa paling gelap, menunjukkan penampilan grup yang terus berkembang sejak awal mula mereka dengan Happiness yang riang gembira di tahun 2014.

Kontras dengan warna pelangi di Peek-A-Boo, Bad Boy mempertontonkan seragam seksi dan pakaian atletik dan baju kasual dengan dandanan gothic, yang menggambarkan Red Velvet sebagai femme fatale. Para member terlihat mencitrakan diri sebagai cewek-cewek nakal, dengan jins robek, stoking jala, dan rambut berantakan. Meskipun enggak terlalu berorientasi pada plot, nuansa berbahaya dari Irene, Seulgi, Wendy dan Joy kontras dengan citra Yeri yang masih muda, yang tampaknya dilindungi yang lain, Seulgi bahkan menutupi telinga Yeri dalam satu adegan.

Koreografi Bad Boy, seperti yang ditampilkan dalam video musik, adalah yang paling seksi yang pernah Red Velvet tunjukkan sejauh ini, diisi dengan goyangan pinggul yang sugestif dan gerakan tangan yang agresif dan tiba-tiba, memberi isyarat dengan saksama ke arah penonton dan menatap tajam ke arah kamera. Kalau dilihat-lihat, koreografinya rada mirip Bad Girl-nya SNSD, dengan lebih sensual.

Sisi Red sangat dipengaruhi oleh euro-pop sementara sisi Velvet lebih ke RnB Amerika 2000an dan pop British 80an. Sisi Velvet adalah kegemaran saya. Bad Boy adalah konsep Velvet yang paling nyangkut selain Be Natural dan Automatic dan One Of These Night.

Kategori
Korea Fever

f(x) = Electric Shock Pop + Estetika Hipster

Sejauh yang saya ingat, f(x) adalah grup idol K-pop pertama yang saya bisa bedakan membernya. Entah SNSD atau adiknya ini dulu, saya agak lupa. Yang pasti, satu masalah sekaligus keasyikan seorang fans K-pop bau kencur adalah mengingat dan membedakan member sebuah grup, baik dari namanya yang meski cuma tiga suku kata tapi sulit disebut, juga muka dan kostumnya yang seringnya seragam.

Satu pertanyaan yang pasti kamu tanyakan pas pertama kali nonton f(x) adalah: Kok ada cowok seorang? Dari sini saja sudah bisa dibuktikan kalau f(x) bisa jadi grup K-pop yang mudah diingat. Ditambah nama-namanya yang sebagai besar memakai alias, makin mudah diingat.

Saya yakin kalau f(x) adalah grup SM Entertainment terbaik yang pernah didebutkan. Sayang, SM kurang bersikap arif. Saya menyukai konsep f(x). Visual mereka sempurna. Ada Amber. Seorang tomboi hardcore dari Los Angeles yang melanggar stereotip cewek di Korea. Dia sering bikin musik yang lumayan dan sangat pede jadi dirinya sendiri. Krystal juga berasal dari Amerika. Meski suaranya bukan yang paling menakjubkan, tapi enak dan unik seperti kakaknya Jessica namun dengan nada lebih berat. Gayanya sangat chic dan karenanya dia bisa memikat baik penggemar cowok dan cewek. Lalu ada Victoria, sang leader. Sungguh seorang dewi dari China. Bukan hanya aktris yang luar biasa tapi dia juga penari yang cantik. Luna adalah gadis yang penuh bakat. Dia penari hebat. Cukup bagus untuk menyaingi Victoria. Meski awalnya penari, ia telah berhasil mengubah dirinya menjadi vokalis bertenaga. Sulli adalah aktris dari dini yang terkenal dengan kecantikannya di usia muda. Dia benar-benar girly tapi juga imut. Komplit. Grup cewek terbaik di SM dan salah satu yang terbaik di skena K-pop.

f(x) dikenal untuk gaya eksperimental dan musik electropop yang eklektik. Mereka adalah satu dari sedikit kelompok K-pop yang diakui secara internasional, menjadi grup K-pop pertama yang tampil di festival beken SXSW yang rutin digelar di Austin, Texas. Selama kunjungan mereka ke Amerika Serikat, f(x) berkolaborasi sama Anna Kendrick dalam sebuah skit komedi untuk Funny Or Die.

Album kedua mereka, Pink Tape, adalah satu-satunya album K-pop yang dimasukkan Fuse dalam 41 Best Albums of 2013. Salah satu lagu dalam album tadi, Airplane, menjadi peringkat ketiga dalam 20 Best K-Pop Songs of 2013 yang dibikin Billboard. Pink Tape memang aduhai. Sejak debutnya, f(x) telah merilis empat album penuh. Bagi saya, lagu debutnya ada lagu debut terbaik dan paling saya sukai.

Pendengar kasual tidak perlu menanamkan diri habis-habisan dalam jagat K-pop untuk bisa mendapat daya tarik musiknya f(x), puji Pitchfork. 4 Wall yang dirilis 2015 lalu menjadi album pertama setelah ditinggal Sulli dan album paling akhir mereka. Semoga SM enggak lupa sama f(x).

Klip video K-pop penuh dengan warna-warna cerah. Ini sangat bagus untuk inspirasi visual. Dari desain set bahkan sampai rambut para idolnya, warna dikoordinasikan dengan hati-hati. Dalam desain, warna bisa menciptakan estetika tertentu. Tingkat saturasi dan vibransi yang berbeda akan memberi rasa yang berbeda. Secara matematis, f(x) bergerak linear bersama estetika. Lebih jauh, f(x) adalah estetika itu sendiri.

Soal kostum panggung, ini yang paling saya sukai. Dibanding SNSD dan Red Velvet, wardrobe yang mereka pakai enggak pernah bikin kecewa. Meski enggak lagi pemotretan majalah mode pun tetap asyik. Di konser tunggal pertamanya, Dimension 4 Docking Station, yang saya tonton di Youtube dengan kualitas cuma 360p, meski panggungnya mungil gitu, tapi dari visual art sampai wardrobe benar-benar sedap.

Periode sudah berubah, sudah banyak grup-grup idol generasi ketiga yang mencuat. Tapi f(x), meski dianggurin melulu, selalu di hati. Bahkan Blackpink pun biasa saja, enggak ada yang kayak f(x) di dunia per-Kpop-an. f(x) akan selalu jadi grup idol terindie, terkeren, terunik, ter-artsy, ter-aesthetic, ter-hipster, ter-swag kesayangan.

Kategori
Korea Fever

Knowing Bros dan Barudak Sekolahan yang Hobi Tubir

Kalau saja Game of Thrones masukin Red Velvet jadi pemainnya, mungkin saja saya bakal rela maraton nonton dari musim pertama. Harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus nonton itu.

Sebab internet menawarkan beragam kesenangan sekaligus kesia-siaan; buku-buku dan status-status sosmed yang selalu terbarukan dan artikel-artikel panjang untuk dibaca, film-film dan video-video Youtube dan serial televisi dan Instagram Stories dan variety show Korea untuk ditonton. Sehingga, sekali lagi saya tegaskan, harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus memilih yang satu ketimbang yang lain.

Gara-gara episode SNSD, saya jadi fans Running Man. Sementara untuk Knowing Bros ini ya karena ada episode dari adiknya ini, Red Velvet. Semuanya berawal dari episode 21, sampai saya jadi kenal barudak gacor yang terdiri dari Kang Hodong, Kim Heechul, Seo Janghoon, Lee Soogeun, Min Kyunghoon, Lee Sangmin, dan Kim Youngchul.

Berhubung lagi promosi lagu baru, episode 84 kemarin menghadirkan kembali Red Velvet. Kali ini dengan formasi lengkap. Saat kemunculannya, barudak Knowing Bros langsung antusias dan memuji karena berkat grup cewek binaan SM Entertainment jadi bintang tamu di episode setahun kebelakang, variety show ini makin meroket. Tentu, saya mengiyakan.

Format Knowing Bros saat ini yang mengeksplorasi konsep sekolah menengah baru ditetapkan dari episode 17. Para member berperan sebagai siswa di kelas sementara bintang tamu akan datang sebagai siswa pindahan. Format ini telah mendapat pujian dari pemirsa yang menyebabkan peningkatan peringkat dan popularitas program yang signifikan setelah beberapa episode ditayangkan. Menghadirkan grup idol, utamanya cewek, tentu pilihan cemerlang. Red Velvet salah satu yang masuk di episode-episode awal itu.

Dibagi dua segmen. Yang utama adalah bagian perkenalan dan tebak-tebakan di ruang kelas. Bintang tamu berdiri di belakang meja guru dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan dirinya yang sudah disiapkan. Beberapa pertanyaannya samar atau sangat pribadi yang oleh bintang tamu mungkin enggak pernah diungkap kepada publik sebelumnya. Tugas barudak Knowing Bros yang menjawabnya. Seringnya dengan main-main. Bintang tamu diberi palu mainan dan punya hak buat menggetok bagi mereka yang jawabannya ngaco.

02_1

Si gempal Hodong dicitrakan sebagai bosnya, yang sangar sekaligus tengil, sementara si jangkung Janghoon jadi ketua murid yang intelek. Si bantet Soogeun digambarkan jadi tangan kanan Hodong, yang koplak. Si ganteng Heechul jadi yang paling gelo sekaligus maniak televisi dengan Kyunghoon yang pendiam namun cabul merupakan bromance goblok. Sangmin yang duduk di kursi paling belakang digambarkan sebagai murid pemalu sekaligus sengsara. Terakhir, yang sering dilupakan, adalah Youngchul yang berkat kegaringannya justru mengundang tawa.

Salah satu atribut memikat dari format ini adalah cara berbicara informal atau “banmal” yang digunakan oleh semua orang tanpa memandang usia atau senioritas mereka. Mengabaikan undak unduk basa Korea yang ketat. Pembicaraan informal juga mendorong para tamu saling berinteraksi satu sama lain seperti yang sering dilakukan siswa, sehingga membuat mereka merasa cukup nyaman untuk saling menggoda.

Namun pada bulan Desember 2016, variety show yang ditayangkan siaran kabel JTBC ini mendapat tindakan disipliner dari Komite Penyiaran Penyiaran Korea Selatan karena menggunakan ucapan enggak senonoh, biasanya kalau bintang tamunya cewek. Ditambah jam penayangannya yang dimundurkan jadi enggak terlalu malam, Knowing Bros jadi rada lembek. Padahal komentar-komentar cabul dan sinis tadi yang paling saya tunggu.

Ada semacam pemahaman umum bahwa musim pertama dari setiap variety show cenderung lebih bagus. Dalam banyak kasus, seringnya begitu. Saat rating makin menanjak namun kemudian turun, seseorang enggak bisa enggak untuk mulai bertanya, mengapa? Mengapa acara ini tidak berjalan sebagus musim lalu? Apakah orang bosan dengan konsepnya? Apa ada variety show saingan lainnya? Knowing Bros, yang diawal enggak diniatkan jadi acara utamanya JTBC namun sekarang populer, bisa saja bakal begini.

Kategori
Korea Fever

7 Single Sistar Untuk Keberlangsungan Musim Panas

Enggak akan ada musim panas lagi. Pembubaran Sistar adalah salah satu kesalahan besar umat manusia yang berdampak pada perubahan iklim.

Sejak debutnya pada 2010 silam, grup cewek beranggotakan Hyorin, Soyou, Bora sama Dasom ini selalu istiqomah memeriahkan musim panas. Mereka jadi ikon ‘summer queen’. Bahkan udah kayak tonggeret yang menandai datangnya musim panas.

Namun Sistar harus layu juga, ikut-ikutan grup K-pop generasi dua yang sudah bubar jalan sebelumnya. Berbeda dengan grup lainnya, Sistar enggak pernah punya skandal atau masalah internal sehingga dikenal begitu dekat satu sama lain bahkan di luar bisnis hiburan. Ini mungkin menjelaskan mengapa mereka masih utuh sampai pembubarannya.

Ada dua mazhab biner dalam grup cewek K-Pop: unyu-unyu dan seksi. Sistar memilih yang kedua. Berkat inilah mereka sering disebut menjual keseksian, bahkan makian binal.

“Salahkan masyarakat, bukan gadis-gadis ini, karena mereka diseksualisasi,” tulis seseorang dalam kolom komentar Youtube di salah satu video klip Sistar. “Itu karena seks menjual dan masih banyak yang membelinya. Jika enggak ada yang membeli, maka enggak akan terjadi. Jadi jangan salahkan Sistar karena menjadi artis penampil. Jika kamu menginginkan gadis yang lebih berkelas, ada teater dan opera, dan kamu tinggal mendukung seni tersebut.”

Kalau soal seksi-seksian, memang iya. Tapi Sistar sebenarnya lebih dari itu. Untuk kualitas vokalnya oke. Dibanding vokalis utama grup-grup bau kencur malah tiap member lebih bisa nyanyi. Sehingga sering jadi penyanyi buat soundtrack drama Korea.

sistar-1

Sistar dan grup K-Pop lainnya memang hanya produk buatan industri. Kasarnya mereka adalah, mencatut judul artikel kolumnis The New Yorker John Seabrook, gadis-gadis pabrikan. K-Pop, layaknya Pop Mie atau Indomie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, diromantisasi dengan promosi, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Sebagai produk, Sistar sudah berhasil. Kegoblogan hanya milik Starship Entertainment.

Sistar telah menyihir kehampaan jadi musim panas. Nah, berikut 7 single Sistar favorit saya. Saya urutkan menurut kesukaan saya.

#7 Loving U

#6 Touch My Body

#5 Give It to Me

#4 Lonely

#3 I Like That

#2 I Swear

#1 Alone

Kategori
Celotehanku

MV Reaction atau Bagaimana Cara Merayakan Sesuatu yang Enggak Penting-Penting Amat

Baca dua ratus buku setahun sebenarnya bukan sesuatu yang wah. Secara matematis, seperti dalam pos How to read 200 books a year, ini perkara yang sangat mungkin. Bahwa dalam waktu yang kita habiskan di media sosial setiap tahunnya, kita sudah bisa baca sampai 200 buku. Tapi di zaman polusi notifikasi hari ini, tentu sulit. Kenapa pula kudu memusingkan diri baca 200 buku ketika kita bisa baca 50.000 komentar sampah juga beragam info hoax yang berseliweran di internet, terus gulir setiap media sosial sampai jauh, nonton video YouTube apapun, dan hal-hal penghabis waktu lainnya selama internet masih nyala?

Khusus untuk YouTube, saya pikir, dan bagi saya pribadi, ini situs paling keparat yang bikin waktu cepat lenyap dengan percuma. Awalnya nonton kuliah filsafat dari Slavoj Zizek atau dari The School of Life, lalu nonton dokumenter BBC tentang John Steinbeck yang menyuarakan Amerika atau liputan Aljazeera tentang kebiasaan orang Korea yang doyan mabok atau reportase VICE soal Yakuza, organisasi kriminal, dan ultra-nasionalis sayap kanan di Jepang, setelah bosen, lalu lihat trailer dari film-film baru, lanjut nonton konser Radiohead di Paris yang bawa lagu True Love Wait atau penampilan Efek Rumah Kaca di Tonight Show NET atau Ice Cream Cake-nya Red Velvet pas di Los Angeles, kemudian video ini, terus video itu, dan ketika melihat jam langsung mengumpat. Youtube dan video-video yang enggak selesai-selesai.

pewdiepie-simulator-cheats-hack-appcheatersxyz-how-visit-rooms-feature-locked-get

Andy Warhol sudah bersabda. Meramalkan bahwa di masa depan semua orang akan menjadi terkenal selama 15 menit. Itu hari ini. Semua orang bisa terkenal, untuk kemudian dilupakan. Ada yang benar-benar menampilkan bakat atau keahliannya, dan yang lain hanya dengan berani memamerkan kebodohannya atau pura-pura membodohkan dirinya, untuk berusaha keras melucu, meski enggak lucu-lucu amat, dan siapa pun itu, asal bisa direkam, tentu punya kans untuk dikenal. Semua bisa jadi seleb lewat Youtube.

Dari liputan Aljazeera tentang Korea Selatan ada juga soal fenomena Mukbang, yakni merekam dirinya ketika sedang menikmati makanan, dan ini jadi tontonan yang bisa sampai jutaan kali dilihat, dan bahkan menjadikan si pelaku tadi jadi semacam seleb, dan tentunya bikin pemasukan juga dari ginian.

Sudah lama saya pengen bikin video ginian, apalagi setelah baca Earn Money by Making MV Reactions in Youtube. Siapa yang enggak mau dapat duit hanya lewat merekam muka sendiri? Haha, oportunis sekali ya. Dalam artikel tadi, disebutkan kalau ada sebuah niche di Youtube, dan ini ada dalam skena K-pop. Sebagai fanboy, tentu ini bukan barang baru bagi saya. Sejak pertama tahu yang namanya MV Reaction, sudah ada keinginan buat bikin juga, tapi entah kenapa baru kemarin bisa terlaksana. Ada dua video reaction yang dibikin, satu India, satunya lagi Korea. Dalam dua hari, yang video reaksi lagu India masih belum melewati 50 view, sementara untuk reaksi Knock Knock-nya Twice udah di atas 800 aja. Seperti yang dibahas dalam artikel tadi.

MV Reaction, sederhananya adalah video di mana seseorang atau lebih menonton sebuah MV atau music video atau video klip dari lagu yang baru dirilis untuk pertama kalinya dan pada saat yang sama memberikan reaksi, baik komentar atau ekspresi. Sering pula, ada komentar yang minta agar si pereaksi tadi mereaksi video klip ini atau itu yang belum pernah ditontonnya, meski sudah lama. Antara si pereaksi dan video musiknya ada dalam satu layar. Video bisa dibuat lewat berbagai program komputer seperti aplikasi ReactorTV, yang makin berkembang popularitasnya sejak KCON 2013, hajatan tahunan Kpop di luar negerinya. Untuk bahasa pengantarnya, masih didominasi oleh Bahasa Inggris, meski sudah banyak juga yang berbahasa Latin, Prancis, Rusia, Arab, sampai Indonesia. Kita bisa nonton bagaimana lebaynya seorang Amerika berakun JREKML dengan jersey Manchester United merekasi Not Today-nya BTS atau empat cowok Filipina di Mississauga, Kanada dengan akun Fresh Baon mereaksi Playing With Fire-nya Blackpink atau gadis-gadis cantik asal Turki yang berakun K-Reactors mereaksi Monster-nya EXO dengan bahasa Turki yang njelimet tapi imut itu atau banyak lainnya. Kenapa pula video macam begini bisa banyak ditonton? Dan kenapa saya pun suka video beginiaan? Entahlah. Mungkin seperti soal fenomena Mukbang tadi. Untuk bacaan lebih lanjut bisa baca Establishing a New Dialogue: The MV Reaction Edition.

Ya, sudah lama pengen bikin MV Reaction, utamanya sama groupie yang suka cultural studies, estetika seni posmodern, dan sudah baca Twilight of the Idols-nya Friedrich Nietzsche. Tapi pas bikin ternyata grogi juga, ya. Bingung mau ngomong apa. Ternyata enggak semudah mainin Pewdiepie’s Tuber Simulator, tapi lebih mudah ketimbang harus baca 200 buku setahun.

 

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

10 Rilisan SM Station Paling Asyik

Musik populer, atau musik pop, bagi saya ibarat Pop Mie, memang kandungan gizinya sedikit, yang jika dikonsumsi kebanyakan dan terus-terusan bakal merusak kesehatan, tapi ini teman setia ketika lapar mendesak. Musik pop, layaknya Pop Mie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, dibesar-besarkan dengan iklan, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Musik hari ini hanya tai, keluh banyak orang, fenomena yang sudah ada bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. Saya pun mengakuinya, meski dengan wawasan musik cemen, bahwa musik pop itu kacangan, enggak menawarkan kebaruan, penuh kedangkalan, dan tentunya: pasaran. Maka, seperti Pop Mie, saya enggak bisa enggak untuk menikmati musik pop sebagai barang konsumsi. K-Pop adalah rasa yang saya sukai.

Lee Sooman sang pendiri SM Entertainment, yang namanya melambung sebagai penyanyi folk, dan pernah membentuk band hard rock, adalah master arsitek K-pop. SM Entertainment adalah perusahaan yang membentuk K-pop, puji majalah bisnis Forbes. SM Station sendiri adalah proyek musik digital yang dicanangkan langsung Lee Sooman, untuk melepaskan satu single tiap hari Jumat selama satu tahun, mulai dari 3 Februari 2016. Dari beragam musik video yang dirilis, saya mencoba memilih 10 yang menurut saya paling asyik, tentu banyak biasnya.

Rain

Kim Taeyeon membuka SM Station dengan lagu bertema hujan; yang menceritakan soal kenangan yang ikut turun beserta kesedihan yang kemudian menyusul.

| Baca: Hujan, Taeyeon dan Sylvia Plath

+

Spring Love

Videonya sendiri memamerkan dua sejoli, Wendy dan Eric Nam, yang tertawa dan bersenang-senang di sebuah taman bermain di suatu kencan yang manis di musim semi, sebuah duet ceria dan romantis tentang persahabatan yang berubah menjadi hubungan cinta.

+

Deoksugung Stonewall Walkway

Im Yoona adalah member pertama yang dapat saya ingat dan bedakan di Girls Generation, saat saya masih belum denger Kpop, dan hanya suka drama Korea saja. Soal akting memang Yoona jagonya, tapi kalau nyanyi, hmm. Suaranya imut, kok. Vokal Yoona yang gemesin dikolaborasi dengan band duo 10cm yang sering mengisi lagu latar ceria di berbagai drakor. Menonton videonya, kita serasa sedang kencan dengan Yoona mengitari tembok Deoksugung, sambil jepret-jepret yang Instagram.

+

Wave

Berkat ini, saya jadi suka EDM. Luna dan Amber berkolaborasi dengan R3hab, nama panggung dari Fadil El Ghoul, yang merupakan seorang DJ dari Belanda berkebangsaan Maroko.

+

No Matter What

Bisa dibilang awal mula kesukaan saya pada lagu ballad Korea adalah berkat Kwon Boa yang menyanyikan lagu latar Inuyasha. Meski di SM Station kali ini Boa sang ratu Kpop menawarkan house upbeat yang riang. Musik electronica mix yang diselingi rap dari Beenzino. Videonya sendiri berupa animasi, bagus sih, tapi saya lebih mengharapkan kalau Boa ngedance di sini.

+

All Mine

Lagi-lagi EDM. Lagu ini adalah EDM upbeat, yang cocok di musim panas, dengan video menampilkan member f(x) yang melakukan self-cam sambil memberi senyum cerah dan tampak benar-benar bahagia ketika persiapan konser di Jepang.

+

Sailing (0805)

Saya pikir jika dibikin lirik Jepang, lagu ini akan sangat cocok jadi soundtrack ending buat anime One Piece. Karena enggak ada yang dikeluarkan SNSD tahun ini, tentu ini sebuah hadiah membahagiakan di ulang tahun mereka yang ke sembilan. Tapi sayang, cuma animasi doang.

+

Dancing King

Jangan pernah berhenti bermimpi! Yoo Jaesuk, yang berusia hampir setengah abad, bisa menjadi member EXO, dan langsung menjadi main vocal, lead dancer, bahkan maknae – kalau dilihat dari jauh. Melihat variety show Infinite Challenge episode 498 makin membuat saya terharu, tentang proyek kolaborasi Jaesuk yang harus mempersiapkan diri tampil di konser EXO di Bangkok. Seperti judulnya, lagunya enak buat dipakai joget, dan ngedab.

+

Always In My Heart

Video menampilkan kedua penyanyi sebagai pasangan yang baru putus, yang masih teringat kenangan saat mereka masih bersama, dan kemampuan akting mereka mengesankan! Dalam hal vokal, suara Joy dan Seulong berbaur lembut dalam lagu bertempo menengah ini.

+

Sweet Dream

Dengan nuansa J-Pop, cerita di videonya memparodikan Crow’s Zero, dengan mendatangkan orang Jepang asli, Momo Twice. Siapa sangka, bromance di variety show Knowing Brother bisa bikin duet beneran. Kim Heechul sendiri yang menulis lagunya. Sebelumnya, di SM Stasion pun Heechul pernah berduet sama Wheein Mamamoo, dan dia yang nulis liriknya. Untuk proses di balik layarnya bisa nonton Knowing Brother episode 51, asli ngakak.