Kategori
Catutan Pinggir

Eka Belajar Menulis Lewat Penerjemahan

Dulu, demi belajar menulis (karena enggak ada kelas penulisan dan enggak kenal penulis senior), aku sering menerjemahkan karya-karya yang kusuka. Jujur menerjemahkan itu kerjaan senang-senang aja. Awalnya ingin merasakan bagaimana menulis cerita kata per kata. Ternyata beberapa teman minat menerbitkan.

Sudah agak lupa menerjemahkan apa aja. Yang paling ingat, Metamorphosis-nya Kafka. Itu yang pertama kuterjemahkan soalnya. Terus menerjemahkan cerpen-cerpen Maxim Gorky dari Tales of Italy. Belakangan kulihat diterbitkan lagi sama satu penerbit enggak ngomong ke aku! Huh. Aku juga menerjemahkan Cannery Row-nya John Steinbeck, dan banyak belajar gokil dari dia.

Kategori
Blog Celotehanku

Belajar Ngeblog dari Viny JKT48

“Semua harus ditulis. Apa pun!” tegas Pramoedya Ananta Toer, “Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan berguna.”

Lantas kenapa kita harus menulis? Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Ah ya, kutipan dari ‘Anak Semua Bangsa’ ini mungkin suatu saat akan saya gombalkan buat sang istri—semoga aja sih dapatnya penulis (tapi yang lebih semoga bisa beristri sih). Seperti Eka Kurniawan-Ratih Kumala, Sylvia Plath-Ted Hughes, atau sekadar pasangan yang nggak nikah macam Erik Prasetya-Ayu Utami dan Jean-Paul Sartre-Simone de Beauvoir, rasanya bisa beradu kasih dengan dia yang hobi baca dan tulis jadi salah satu impian terbesar saya.

Kategori
Inspirasi

Jadilah Seniman, Sekarang Juga!

Kenapa kita berhenti bermain dan berkreasi? Dengan luwes dan humoris, Young-ha Kim, penulis asal Korea Selatan ini memberi ceramah asyik soal membangkitkan kembali sang seniman yang bersembunyi dalam diri kita di TEDxSeoul.

Ah saat sedang dilanda galau ‘quarter-life crisis’, akhirnya saya dipertemukan dengan tautan super keren dan inspiratif ‘Talks to watch when you don’t know what to do with your life’. Ya, video di atas adalah salah satunya, dengan pembicara seorang penulis kontemporer Korea Selatan sekaligus profesor di Korea National University of Arts. Entah kenapa saya pilih video ini sebagai yang pertama, mungkin karena serasa lagi bercermin kalau ngeliat Young-ha Kim ini. Yang pasti ini salah satu ceramah TEDx yang keren banget.

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. – Pablo Picasso

“Ah gue sibuk, nggak punya waktu buat seni atau apalah namanya.”

“Hey seni nggak bikin perut kenyang. Aku harus pergi sekolah, nyari kerjaan, bla bla bla…”

Dan banyak alasan lain, khususnya karena kita menganggap seni hanya bagi mereka yang berbakat. Padahal kita semua adalah seniman, saat masih kecil kita sangat berbakat, jadi pelukis, jadi penulis, jadi penari, jadi penyanyi, jadi apapun yang kita mau. Tapi kemana si seniman tadi? Ya, kita sendiri yang menguncinya, membuangnya, bahkan membunuh ‘sang seniman kecil’ itu.

Semakin dewasa, kita semakin banyak beralasan.

young ha kim writer tips quote

Tentunya, sebagai pengarang I Have the Right to Destroy Myself dan Your Republic is Calling You, juga karya novel lainnya, Kim Young-ha membeberkan beberapa pencerahan soal menulis, khususnya dalam hal ‘story-telling’. Dia mengutip Roland Barthes yang menyoal novel Flaubert, “Flaubert tidak menulis novel. Dia hanya menghubungkan satu kalimat demi satu kalimat. Ada eros di antar kalimatnya, yang merupakan esensi novel Flaubert.” Ya, novel, pada dasarnya, adalah menulis satu kalimat, kemudian, tanpa melanggar ruang lingkup yang pertama, menulis kalimat berikutnya. Dan kamu terus membuat koneksi.

Ambil contoh kalimat ini: Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar. Ya, ini adalah kalimat pertama dalam Metamorfosis-nya Franz Kafka. Dia menulis kalimat yang enggak benar dan terus melanjutkan kalimatnya untuk membenarkan kalimat pertama itu, dan karya Kafka ini menjadi karya agung di sastra kontemporer.

Yang paling saya suka adalah konsep pengajaran soal menulis cerita dari Young-ha Kim. Dalam kelasnya, ia menyuruh muridnya untuk menuliskan cerita tentang momen paling sial di sekolah, namun harus dengan buru-buru. Menulis dengan tergesa-gesa. Alasannya, ketika kita menulis dengan lambat dan penuh perhitungan, akan muncul yang namanya setan. Yaitu setan yang akan membisikin, “Tulisan apa ini? Jelek amat. Bakal diketawain loh nanti.” Nah, dengan menulis secara ngebut, mudah-mudahan setan tadi nggak bakal ngejar. Dan terbukti, Young-ha Kim menilai kalau tulisan bagus dari para muridnya justru tercipta dari kelas menulis ngebut selama 40-60 menit ini, bukan dari tugas menulis yang di-PR-kan. Harus dicoba nih!

Kategori
Celotehanku

Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Bagi saya, menulis adalah hal yang sulit, sampai hari ini. Saya masih kurang ekspresif dan nggak punya stok kosakata yang melimpah untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis memang benar sebuah pekerjaan yang resah: saya akan gelisah ketika saya kesulitan mencari kata, sebal dengan otak bebal yang gampang mogok. Katanya menulis adalah katarsis, ah bukannya meredakan kegelisahan, menulis malah bikin kadar gelisah saya bertambah.

arif abdurahman goenawan mohamad

Dan ternyata dia pun sama gelisah juga. Bedanya dia menggelisahi Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Modernisme, Nazi-Hitler, Stalin, Mao, Pembangunan, Birokrasi – pendeknya segala bentuk perekayasaan sosial, karena ini semua menggilas eksistensi individu.