Kategori
Celotehanku

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

eka kurniawan penulis kapitalis

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Tapi siang menjelang sore itu, ketika mendapat kesempatan untuk bertanya dalam acara bincang-bincang seputar rilis novel terbarunya, saya malah menjelekkan ‘O’; bahwa novel alusi Orwell ini sebuah kesalahan, seperti 1Q84, bagai Indomie beukah (baca: terlalu lama dimasak).

Kategori
Celotehanku

Eka Kurniawan Juga Fans SNSD!

“Saya sebenarnya tak tahu apakah layak disebut seorang Sone atau tidak. Saya tak memasang poster mereka, tak punya t-shirt bergambar mereka.” ungkap penulis yang dianggap sebagai suksesornya Pramoedya Ananta Toer ini di Catatan dari “SMTown World Tour 3 in Jakarta”. “Saya hanya mendengar lagu-lagu mereka, dan menonton video-video mereka di Youtube.”

Siapa sangka sastrawan Indonesia kontemporer lulusan Fakultas Filsafat UGM ini, yang karyanya diterjemahkan ke beragam bahasa dan dinobatkan sebagai 33 Must Read Books for Fall 2015 ini fasih mengabsen member SNSD alias Girls’ Generation – keahlian yang mungkin konyol namun pastinya sulit untuk dipelajari bagi sebagian besar umat manusia (lebih sulit daripada menghafal nama tokoh-tokoh di novel War and Peace-nya Tolstoy atau One Hundred Year of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez).