Kategori
Celotehanku

Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Bagi saya, menulis adalah hal yang sulit, sampai hari ini. Saya masih kurang ekspresif dan nggak punya stok kosakata yang melimpah untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis memang benar sebuah pekerjaan yang resah: saya akan gelisah ketika saya kesulitan mencari kata, sebal dengan otak bebal yang gampang mogok. Katanya menulis adalah katarsis, ah bukannya meredakan kegelisahan, menulis malah bikin kadar gelisah saya bertambah.

arif abdurahman goenawan mohamad

Dan ternyata dia pun sama gelisah juga. Bedanya dia menggelisahi Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Modernisme, Nazi-Hitler, Stalin, Mao, Pembangunan, Birokrasi – pendeknya segala bentuk perekayasaan sosial, karena ini semua menggilas eksistensi individu.

Kategori
Argumentum in Absurdum Celotehanku

Kinal dan Bahaya Laten Idolisme

Dilematis sih. Saya banyak setuju sama asas pemikiran Karl Marx, sehingga rada benci terhadap sistem kapitalisme. ┬áTapi ya gimana, industri hiburan sungguh setan yang menjerat kaum kekinian. Saya masih teracuni dunia k-pop, masih jadi Sone (fans Girls’ Generation), dan sekarang mulai jatuh cinta sama JKT48, beberapa personilnya aja sih, belum jadi wota atau apalah namanya.

Ya konsekuensi akan sebuah kesendirian. Butuh penyaluran, tapi kepada apa? Dan munculah gejala idolisme sebagai opsi pelampiasan itu. Di era media sosial sekarang, antara seleb sebagai idol dan fans sebagai pengidol dibuat makin dekat, meski memang masih berjarak, semu, dan artifisial. Tapi nggak mengapa lah, siapa lagi coba yang mau ngasih semangat, ngucapin selamat pagi, ngingetin waktunya sholat, sampai pamerin selfie yang menggoda iman? Itulah yang dilakukan para personel JKT48 lewat akun Twitter-nya, dan satu di antara mereka yang saya suka banget adalah Devi Kinal Putri.