Kategori
Catutan Pinggir

Troubadour, Roberto Bolaño

history-of-ideas-love-youtube-mkv_snapshot_02-19_2016-12-15_07-30-00

Apa yang troubadour katakan pada kita hari ini? Apa sumber daya tarik mereka, keunggulan mereka? Saya sendiri tidak tahu. Saya ingat bahwa saya terinspirasi untuk membaca mereka gara-gara Pound, dan terutama berkat studi njelimet Martín de Riquer. Sejak saat itu, sedikit demi sedikit saya mulai mengumpulkan buku dan antologi yang ada nama-nama Arnaut Daniel, Marcabrú, Bertran de Born, Peire Vidal, Giraut de Bornelh. Dengan dasar perdagangan, sebagian besar mereka adalah musafir dan pengeliling dunia. Beberapa hanya bepergian ke satu atau dua provinsi, tapi ada yang melintasi Eropa, berperang sebagai tentara, mengarungi Mediterania, mengunjungi negeri-negeri Muslim.

Carlos Alvar membuat perbedaan antara troubadour, trouvères, dan minnesingers. Perbedaan paling kentara adalah soal geografis. Troubadour kebanyakan dari selatan Perancis, Provençal, meski beberapa ada dari Catalan. Trouvères berasal dari utara Perancis. Minnesingers dari Jerman. Waktu, yang belum menghapus nama mereka dan beberapa karya-karya mereka, akhirnya akan menghapus perbedaan-perbedaan kebangsaan tadi.

Ketika saya masih muda, di Mexico City, kami memainkan permainan di mana kami membagi diri menjadi jagoan dari trobar leu dan trobar clus. Trobar leu, tentu saja, lagu ringan, sederhana dan dimengerti semua orang. Trobar clus, sebaliknya, gelap dan buram, bisa dibilang kompleks. Meskipun kekayaan konseptual, bagaimanapun, trobar clus seringnya lebih kejam dan brutal ketimbang trobar leu (yang umumnya halus), seperti Góngora tulis saat menjadi pesakitan, atau lebih tepatnya, seperti foreshadowing dalam bintang hitamnya Villon.

Karena kami masih muda dan masa bodoh, kami tidak tahu bahwa trobar clus pada gilirannya dapat dibagi menjadi dua kategori, trobar clus yang biasa, dan trobar ric, yang seperti namanya menunjukkan ayat mewah, penuh hiasan, dan umumnya kosong. Dengan kata lain: trobar clus terjebak di lorong-lorong akademisi atau pengadilan, trobar clus melucuti vertigo kata-kata dan kehidupan. Kita tahu bahwa tanpa troubadour tidak akan pernah ada dolce stil novo Italia, dan tanpa dolce stil novo tidak akan ada Dante, tapi apa yang kita paling sukai adalah hidup yang dibuang-buang dari beberapa troubadour. Sebagai contoh: Jaufre Rudel, yang jatuh cinta secara harfiah hanya karena desas-desus tentang istri bangsawan yang tinggal di Tripoli, menyeberangi Mediterania yang sedang dilanda perang salib, jatuh sakit, dan berakhir di sebuah penginapan Tripoli, di mana si istri bangsawan, menyadari bahwa di sini adalah orang yang merayakan dirinya lewat banyak lagu dan puisi, datang dan membolehkan Rudel — yang kini hanya menunggu kematian — untuk menyandarkan kepalanya di pangkuannya.

Saya tidak tahu apa yang mereka katakan kepada kita hari ini, para troubadour itu. Jauh di abad kedua belas, mereka tampaknya naif. Tapi saya tidak akan terlalu yakin tentang hal itu. Saya tahu mereka telah menciptakan konsep cinta, dan mereka juga menemukan atau menciptakan kembali kebanggaan menjadi penulis, tentang memandang tanpa rasa takut ke kedalaman.

*

Diterjemahkan dari Troubadours dalam Between Parentheses.

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Kategori
Catutan Pinggir

Curi Buku Ini

galeria-de-libros-providencia-tna-05

Buku-buku yang paling kuingat adalah yang aku curi di Mexico City saat berusia enam belas sampai sembilan belas, dan yang aku beli di Cile ketika aku berusia dua puluhan, selama beberapa bulan pertama kudeta. Di Meksiko ada sebuah toko buku yang menakjubkan. Dinamakan Toko Buku Kaca dan berada di Alameda. Dindingnya, juga langit-langitnya, terbuat dari kaca. Kaca dan balok-balok besi. Dari luar, tampaknya tempat yang mustahil untuk bisa mengutil. Sekalipun demikian sikap kehati-hatian itu dikalahkan atas godaan untuk mencoba dan setelah beberapa saat aku membuat langkah. Buku pertama yang jatuh ke tanganku adalah volume kecil dari Pierre Louÿs, dengan halaman setipis kertas Alkitab, aku tidak ingat sekarang apakah itu Aphrodite atau Songs of Bilitis. Aku tahu aku masih enam belas dan bahwa untuk sementara waktu Louÿs menjadi semacam panduan bagiku. Lalu aku mencuri buku-buku karya dari Max Beerbohm (The Happy Hypocrite), Champfleury, Samuel Pepys, Goncourt bersaudara, Alphonse Daudet, dan Rulfo dan Arreola, penulis Meksiko yang pada saat itu masih berlatih, dan yang aku temui di suatu pagi di Avenida Niño Perdido, jalanan sesak yang sekarang hilang dari petaku tentang Mexico City hari ini, seakan Niño Perdido hanya ada dalam imajinasiku, atau seolah-olah jalan, dengan toko-toko bawah tanah dan penampil jalanan benar-benar telah lenyap, sama sepertiku yang tersesat pada usia enam belas.

Dari kabut di masa itu, dari beragam serangan tak kasat mata, aku ingat banyak buku puisi. Buku-buku dari Amado Nervo, Alfonso Reyes, Renato Leduc, Gilberto Owen, Heruta dan Tablada, dan para penyair Amerika, seperti General William Booth Enters Into Heaven, oleh Vachel Lindsay yang agung. Tapi ada sebuah novel yang menyelamatkanku dari neraka dan langsung menjerembabkanku kembali ke dasar. Novel itu The Fall, oleh Camus, dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan itu aku ingat seakan membeku dalam suatu cahaya remang-remang, cahaya sunyi di waktu malam, meskipun aku membacanya, melahapnya, dalam cahaya pagi Mexico City yang luar biasa yang berkilau—atau berkilauan—dengan cahaya merah dan hijau diselubungi bercak noda, di sebuah bangku di Alameda, tanpa uang dan sepanjang hari di hadapanku, pada kenyataannya seluruh hidupku di hadapanku. Berkat Camus, segalanya berubah. Aku ingat edisinya: itu buku dengan huruf cetak sangat besar, seperti pada bacaan anak SD, ramping, dengan sampul terbuat dari kain, dengan gambar menghebohkan pada jilidnya, satu jenis buku yang sulit untuk dicuri dan salah satu yang aku tidak tahu apakah harus menyembunyikan di bawah lenganku atau di ikat pinggangku, karena itu bakal tampak di bawah blazer pelajarku, dan pada akhirnya aku membawanya keluar di depan mata semua pegawai di Toko Buku Kaca, yang merupakan salah satu cara terbaik untuk mencuri dan yang aku pelajari dari cerita Edgar Allan Poe.

Setelahnya, setelah aku mencuri buku itu dan membacanya, aku berubah dari seorang pembaca bijaksana menjadi seorang pembaca yang rakus dan dari seorang pencuri buku menjadi pembajak buku. Aku ingin membaca semuanya, yang dalam kepolosanku seperti ingin menemukan atau coba menemukan cara kerja tersembunyi soal kebetulan yang menyebabkan tokoh Camus untuk menerima nasib yang mengerikan itu. Seperti yang telah diprediksi, perjalananku sebagai pembajak buku itu panjang dan berbuah manis, tapi suatu hari aku tertangkap. Untungnya, itu tidak di Toko Buku Kaca tetapi di Toko Buku Gudang, yang sekarang—atau dulu—berada di seberang Alameda, ada di Avenida Juárez, dan seperti namanya, merupakan sebuah gudang besar di mana buku-buku terbaru dari Buenos Aires dan Barcelona menumpuk di gundukan berkilauan. Penangkapanku begitu memalukan. Seolah-olah para samurai toko buku itu telah memberi harga untuk kepalaku. Mereka mengancam akan mengusirku keluar dari negara itu, untuk memukuliku di gudang bawah tanah di Toko Buku Gudang, yang bagiku terdengar seperti diskusi antara neo-filsuf tentang kehancuran atas kehancuran, dan pada akhirnya, setelah musyawarah yang panjang, mereka membiarkanku pergi, meskipun setelah menyita semua buku yang aku punya, di antaranya The Fall, yang tidak satu pun yang aku curi dari sana. Tak berapa lama setelah kejadian itu aku pindah ke Chili. Jika di Meksiko aku bertemu dengan Rulfo dan Arreola, di Chile yang sama juga terjadi pada Nicanor Parra dan Enrique Lihn, tapi aku pikir satu-satunya penulis yang aku lihat adalah Rodrigo Lira, berjalan cepat pada malam yang berbau gas air mata. Kemudian datang kudeta dan setelah itu aku menghabiskan waktuku mengunjungi toko buku di Santiago sebagai cara murah bertahan dari kebosanan dan kegilaan. Tidak seperti toko-toko buku Meksiko, toko buku di Santiago tidak memiliki pegawai dan hanya dijalankan oleh satu orang, biasanya oleh sang pemilik. Di sana aku membeli Obra gruesa [Edisi Lengkap] dan Artefactos-nya Nicanor Parra, dan buku dari Enrique Lihn dan Jorge Teillier yang akan segera hilang dan yang merupakan bacaan penting bagiku; meskipun penting bukanlah kata yang tepat: buku-buku membantuku bernapas. Tapi bernapas juga bukan kata yang tepat.

Apa yang paling aku ingat tentang kunjunganku ke beberapa toko buku itu adalah mata penjual bukunya, yang kadang-kadang tampak seperti mata seorang yang gantung diri dan kadang-kadang tampak seperti seseorang yang menonton film yang bikin ngantuk, yang sekarang aku tahu bahwa ada sesuatu yang lain. Aku tidak ingat pernah melihat toko buku yang lebih sepi dari ini. Aku tidak mencuri satu buku pun di Santiago. Buku-bukunya murah dan aku membelinya. Di toko buku terakhir yang aku kunjungi, saat aku melalui deretan novel-novel lawas Perancis, si penjual buku, seorang pria tinggi kurus berusia sekitar empat puluh, tiba-tiba bertanya apakah aku pikir suatu tindakan tepat bagi seorang penulis untuk merekomendasikan karyanya sendiri kepada seorang yang dijatuhi hukuman mati. Penjual buku itu berdiri di sudut, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan dia punya jakun yang bergetar saat ia berbicara. Aku mengatakan itu kelihatannya tidak tepat. Orang terhukum seperti apa yang kita bicarakan? aku bertanya. Penjual buku itu menatapku dan berkata bahwa ia tahu lebih dari seorang novelis yang merekomendasikan bukunya sendiri kepada seorang pria yang sedang di ambang kematiannya. Kemudian dia mengatakan bahwa kita sedang berbicara tentang para pembaca putus asa. Aku hampir tidak memenuhi syarat untuk menilai, katanya, tetapi jika bukan aku, tidak akan ada yang mau.

Buku apa yang akan kamu berikan kepada orang terhukum? dia bertanya. Aku tidak tahu, kataku. Aku juga tidak tahu, kata penjual buku, dan aku pikir itu mengerikan. Buku apa yang orang-orang putus asa baca? Buku apa yang mereka sukai? Bagaimana kamu membayangkan ruang baca seorang pria terhukum? dia bertanya. Aku tidak tahu, kataku. Kamu masih muda, aku tahu, katanya. Dan kemudian: itu seperti Antartika. Bukan seperti Kutub Utara, tapi seperti Antartika. Aku teringat hari-hari terakhir [tokoh pada Edgar Allan Poe] Arthur Gordon Pym, tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Mari kita lihat, kata penjual buku, apakah ada pemberani yang bakal menyerahkan novel ini di pangkuan seorang pria yang mendapat hukum mati? Dia mengambil sebuah buku yang masih baik dan kemudian dia melemparkannya ke tumpukan. Aku membayar dan pergi. Ketika aku berbalik untuk pergi, penjual buku itu mungkin tertawa atau menangis. Saat aku melangkah keluar aku mendengar dia berkata: Bajingan arogan seperti apa yang berani melakukan hal macam begitu? Dan kemudian dia berkata sesuatu yang lain, tapi aku tidak bisa mendengar soal apa.

*

Diterjemahkan dari Who Would Dare? dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches (1998-2003).

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Foto: Feria Permanente del Libro Usado de Providencia

Kategori
Korea Fever

Pop Coreano di Amerika Latin

“Di Chili, kami enggak punya sesuatu yang seperti K-pop. Lagu di sini kebanyakan sarat unsur politik dan sosial yang kolot, meski kami pun punya yang namanya irama Latin,” seorang gadis belia asal Santiago, yang berkumpul dengan kawan-kawan di taman tiap minggu untuk berlatih gerakan tarian K-pop terbaru (kalau di Bandung mah kayak di Taman Balaikota), mengatakan kepada kantor berita Yonhap, yang kemudian dilansir Time dalam Forget Politics, Let’s Dance: Why K-Pop Is a Latin American Smash. “Lagu-lagu Korea membuat saya menari dan tersenyum. Apa lagi yang dibutuhkan?”

Jika ada yang bertanya pada saya apa yang saya ketahui tentang Amerika Latin, barangkali saya akan langsung membayangkan kudeta militer, gaucho yang menunggang kuda, genre sastra realisme magis, para pemberontak Zapatista yang meski sedang dalam sengketa masih sempat-sempatnya baca puisi, perang antar geng dan kartel narkoba yang lebih aduhai ketimbang game Grand Theft Auto, serta para wanitanya yang rajin menang kontes kecantikan. Ya, sejauh yang saya tahu soal Amerika Latin, khususnya Chili, hanya melulu soal sepakbola, konstelasi politik dan kesusasteraannya; Pablo Neruda, Roberto Bolano dan Alejandro Zambra merupakan penulis asal Chile yang saya kenal, serta sukai. Tentu, yang kita yakin kita tahu akan sesuatu, apa pun itu, sebenarnya enggak lebih dari gambaran luar saja. Imajinasi yang terbentuk dari By Night in Chile-nya Bolano seakan luntur. Sebab Chili, bersama dengan Meksiko dan Peru, dinobatkan sebagai basis massa terbanyak yang terinfeksi gelombang hallyu.

Peru K Pop

Bukti paling mudahnya adalah banyaknya terjemahan subtittle video dan kolom komentar di Youtube yang berbahasa Spanyol. Bahkan, saya harus berterimakasih pada seorang fans K-pop asal Chili yang meski hanya dengan kualitas 360p telah berbaik hati mengunggah f(x) The 1st Concert ‘Dimension4 – Docking Station’ in Japan. Chili, yang saya tahu, pernah mengalami rezim sama seperti di Indonesia; Pinochet di Chili, Suharto di sini. Saya dan si pengunggah itu termasuk generasi setelahnya yang enggak mengalami masa tadi; generasi milenial di tengah pusaran banjir informasi, generasi yang sama-sama terpapar budaya pop dari Asia lainnya, Jepang dengan manga anime. Ada banyak fans f(x) di Chili ini, ungkapnya.

Musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang, sebut Eka Kurniawan dalam pos Identitas. Pengarang yang gandrung sastra Amerika Latin dan seorang Sone yang berbias Taeyeon ini lebih jauh menjelaskan bahwa apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik global: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan koreografi dirancang oleh seniman Jepang. K-pop sebagai identitas yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, menjadi semacam produk. Seperti Pop Mie, sebenarnya minim gizi, tapi seenggaknya bisa menahan lapar. Memang, K-pop telah jadi ekspor terbesar Korea Selatan.

Dalam penelitiannya, The K-pop Wave: An Economic Analysis, Profesor Patrick Messerlin menemukan bahwa “artis K-pop menunjukan kesopanan dan pengendalian diri,” dan “bersikeras bekerja keras dan belajar lebih banyak” selama penampilan publik, sesuatu yang artis pop Barat tidak lakukan. Ada semacam nilai-nilai Confusius. Musik mereka “baru, warna-warni dan ceria,” dan bukan “sebuah orde lama,” sesuatu yang akan dengan mudah menarik jutaan anak muda Amerika Selatan, yang hidup dalam tantangan ekonomi yang banyak dan rezim non-demokratik pada umumnya. Energi positif K-pop adalah dunia yang jauh dari sesuatu yang introspektif, meletihkan dan kadang-kadang muram seperti dalam rock Anglophone, indie dan emo. “[Orang-orang Korea] mengatakan, ‘Kami memahami masalahmu,'” Messerlin menjelaskan, “‘Kami pernah melalui itu juga,'” mengacu pada Perang Korea dan kejatuhan ekonomi akhir 1990-an.

Soal pemberitaan akan kesuksesan penyebaran hallyu di Amerika Latin ini mendapat kritikan dari Wonjung Min, profesor dan kepala bagian Asian Studies di Universitas Katolik Chili. Memang ini sebuah subkultur, tapi tidak seheboh yang diberitakan media.

“Meskipun Anda tidak akan percaya, di Peru grup K-pop malah jadi lebih populer ketimbang Justin Bieber, Lady Gaga atau Demi Lovato,” sebut Diana Rodriguez, yang memanfaatkan tren dengan menyelenggarakan kontes tari Korea di seluruh Peru, seperti dilansir Inquirer dalam K-Pop invades Latin American countries. Sentimen terhadap Amerika Utara pun disinyalir jadi salah satu faktor kenapa K-pop jadi lebih diterima.

Suatu hari di Meksiko, Maya Sánchez secara acak mengklik video grup Korea Big Bang. Tentu, dia enggak paham liriknya, tapi dia kemudian menyukai gayanya yang ‘menyilaukan mata’ itu. Sejak saat itulah dia jadi fans K-pop. “Saya bosan nonton video dari penyanyi pop yang sama dari Amerika Serikat kayak Selena Gomez dan Miley Cyrus,” kata Sánchez. “Cuma gitu-gitu aja.”

Dari Meksiko, balik lagi ke Peru. “Saya sudah menyukai K-pop sejak saya masih berusia 10 tahun,” ungkap Araceli Galan, mahasiswa berusia 19 tahun di sebuah universitas lokal. “Saya belajar segala sesuatu dari internet karena di sini di Peru enggak banyak diputar radio atau televisi.”

Internet, utamanya Youtube, punya peranan kunci dalam penyebaran gelombang Korea ini. Untuk lebih jelasnya berupa riset dan data dapat dibaca di jurnal ilmiah bikinan María del Pilar Álvarez ini: Who are the fans? Understanding the K-pop in Latin America. (Anjir, saya maulah jadi peneliti Hallyu studies)

“Ayah saya mendengarkan rock berbahasa Inggris; dia enggak suka K-pop sama sekali,” kata Galan. Tentu, akan selalu ada orang tua macam begini, seperti Mario Vargas Llosa dalam How Global Entertainment Killed Culture, bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. “Dia bilang ke saya, ‘Mengapa kamu dengerin musik begitu jika kamu enggak ngerti bahasa Korea?” Dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia pun enggak tahu gimana ngomong bahasa Inggris. Musik itu hanya perlu dirasa, kok.”

pic-1_custom-16998febef257b7b5e7445fcfa45c160155841c6-s800-c85

“K-Pop benar-benar mengubah hidup saya,” ungkap Samantha Alejandra asal Mexico City dalam Meet Latin America’s Teenage Korean Pop Fanatics, sebuah romantisme yang dirasakan pula para hijaber doyan kpop di Indonesia atau Malaysia atau di Timur Tengah, yang membuat geram orang-orang soleh lainnya, untuk kemudian memfatwakan haram pada barang impor ini. “Saya kecanduan,” tegas Alejandra.

Pertanyaan menarik adalah, sebagai sekumpulan massa, akankah fans K-pop ini jadi semacam gerakan counterculture seperti halnya The Beatles yang berkat popularitas bisa menginspirasi gerakan perdamaian pada medio 60an? Beberapa waktu lalu, dalam suatu protes yang dilakukan para mahasiswa Ewha Woman University, ketika pihak kampus meminta bantuan ratusan aparat, mereka tetap tegar dan menyemangati diri dengan lagu ‘Into the New World’-nya SNSD. Atau, bagaimana orang Korea Utara yang rela mendekat ke perbatasan hanya untuk mendengar lagu-lagu Kpop yang disetel keras-keras Selatan di zona demiliterisasi, yang disebut ‘Popaganda’, tes nuklir dari pihak Pyongyang dibalas ‘Let Us Just Love’-nya Apink. Atau, seperti suporter bola, karena sifat fanatismenya sama, akan disusupi paham fasis, misalnya suporter Boca Juniors yang disebut dalam Nazi Literature in the Americas-nya Bolano, ada agenda sayap-kanan ultranasionalisnya?

Kategori
Non Fakta

Kartu Dansa, Roberto Bolaño

roberto bolano dance cardI. Ibuku membacakan puisi Neruda kepada kami di Quilpue, Cauquenes, dan Los Angeles. 2. Sebuah buku: Veinte poemas de amor y una cancion desesperada (Dua Puluh Puisi Cinta dan Dendang Keputusasaan), Editorial Losada, Buenos Aires, 1961. Pada halaman judul, terpampang foto Neruda dan sebuah catatan yang menjelaskan bahwa edisi ini perayaan untuk cetakan kesejuta. Benarkah jutaan kopi Veinte poemas telah dicetak pada 1961? Atau catatan itu merujuk pada semua karya-karya Neruda? Yang pertama, kukira, meski kedua kemungkinan tadi masih mengganggu, dan tak terbayangkan sampai sekarang.