Kategori
Non Fakta

Megapolitan Bandung: Mutan [Prolog]

megapolitan bandung

To: andi@exxton.com

Subject: reply

Siapa anda?
Oke. Jika anda bertanya siapa saya, pertanyaan itu mudah saja buat saya jawab. Tapi jika pertanyaannya apa saya ini. Saya pun geleng-geleng kepala. Pertanyaan tak terjawab yang sudah bertahan selama hampir 2 abad lamanya.

Yang saya tau, saya ini kayak Wolverine, superhero rekaan dari Marvel itu. Tapi tanpa cakar.

08.13 PM – 05/12/10

Namanya entah William atau Wilhem. Tapi kurasa Wilhem, lebih Belanda. Untuk nama panjangnya tak bisa kuingat, lidah pribumiku tak mampu untuk mengejanya. Nah, meski bentuk fisikku tak ada rasa-rasa Eropa, si Wilhem tadi yang menanamkan benih diriku ke dalam rahim ibuku. Ya aku seorang Indo, antara suatu kebanggaan dan kehinaan karena dilahirkan dari hasil persenggamaan antara bule dan babu. Yang pasti si Wilhem tadi makhluk yang sangat tidak pantas untuk kupanggil ayah.

Sementara ibuku adalah orang yang sedikit lebih beruntung dibanding wanita lainnya pada zaman itu. Kau seorang pribumi, kau seorang wanita, dan sialnya kau berparas rupawan, maka nasib buruklah yang bakal menimpamu. Berparas cantik jadi sebuah kutukan. Skenario terburuk, dan ini yang paling sering terjadi, adalah kau akan jadi komoditi incaran para mucikari busuk. Apalagi gadis Sunda waktu itu jadi barang termahal dalam bisnis prostitusi skala Asia Tenggara.

Ibuku yang belum genap dua puluh tahun diambil paksa si Wilhem tadi. Bunga desa yang baru mekar ini harus jadi gundik administratur perkebunan teh super luas di wilayah Hindia Belanda. Ya, hidupnya memang sedikit lebih beruntung. Si Wilhem ini boleh kubilang kaum penjajah yang tidak terlalu buruk.