Kategori
Non Fakta

Standar Operasional Praktek

“Rileks aja ya pak, tahan sebentar”.

Dengan tangan yang sedikit bergetar tegang, aku membilaskan kapas beralkohol di area vena tangan pasien yang tengah terkapar di kasur putih yang tampak agak kucel. Kubilas daerah penyuntikan tadi dengan penuh perasaan, seanggun mungkin yang dapat ku lakukan. Pasienku nampaknya tak keberatan, tak merespon sama sekali.

Kapas kubuang, lalu aku ambil abocath, semacam jarum suntik yang digunakan untuk transfusi darah, dari wadah besi penuh jarum suntik yang kuletakan tepat di samping tangan pasienku yang putih pucat.

Okay, tarik napas dan tahan ya pak, tetap rileks”, abocath sudah sangat siap untuk disuntikan, dan pasienku tetap tenang membisu.

Eh, nyuntik harus berapa derajat sih?”, suara wanita yang sudah duduk menemani pasienku sejak sebelum aku masuk kamar itu membuatku harus menunda tindakan penyuntikan. Mengagetkanku. Menambah sedikit rasa tegangku.

“45 derajat bu”

“Nah. Itu emang udah 45 derajat ya? Agak naik lagi coba”

“Segini ya bu?”, aku menatap wanita dengan jilbab merah menyala itu disertai senyuman palsu yang tercampur rasa tegang. Dengan bangganya, aku memperlihatkan derajat penyuntikan yang kuduga sekarang sudah sesuai dengan ekpektasinya. Wanita berumur hampir kepala tiga itu cuma mengangguk kecil, mengiyakan.