Kategori
Celotehanku

Bagaimana Orhan Pamuk Menulis Kotanya

istanbul orhan pamuk

Orhan Pamuk enggak perlu melakukan perjalanan jauh keluar Istanbul untuk memperluas imajinasinya. Semarak melankolia dan kompleksitas keagamaan di tempat kelahirannya, Istanbul, memperkaya masa kecilnya dan terus menginspirasi dirinya. Novel-novelnya, yang hampir semua berlatar di Istanbul, telah membuatnya dirayakan di seluruh dunia, tetapi mungkin dia akan paling lama diingat berkat memoarnya yang sayu tentang kotanya, Istanbul.

Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, V.S. Naipul – mereka adalah penulis-penulis dunia yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antar bahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaan akar; tetapi imajinasiku menuntutku untuk tetap tinggal di kota yang sama, di jalan yang sama, di rumah yang sama, menatap pemandangan yang sama. Takdir Istanbul adalah takdirku: aku terikat pada kota ini sebab ia telah menjadikanku seperti diriku sekarang ini.

Pamuk, seorang pendongeng dengan kekuatan Kisah Seribu Satu Malam, menceritakan kisah kota secara personal, berbagi pengetahuan sejarahnya, kisah keluarganya, dan hubungan pribadinya. Bayangkan berjalan dan mengenali setiap sudut yang Pamuk sebutkan. Bayangkan pergi ke pasar dan menikmati warna dan rasa rempah-rempah yang ia gambarkan, mendengarkan suara-suara penjual dan pembeli yang ramai, terlibat dalam dialog sehari-hari yang mungkin tidak kita pahami, tetapi terasa dekat, karena kita memiliki suara Pamuk di kepala kita. Bayangkan perasaan terhubung ke dunia yang benar-benar asing melalui karya seorang penulis yang tahu bagaimana melintasi jembatan antara Asia dan Eropa.

Buku ini adalah campuran dari otobiografi, sejarah, sastra dan melankoli, atau lebih tepatnya belas kasihan diri, yang tak ada habisnya. Sebagai memoar, tak disusun secara kronologis, dan tak cukup biografis. Memoar yang ditulis para pemurung, semisal The Unabridged Journals of Sylvia Plath dan Di Bawah Langit Tak Berbintang-nya Utuy Sontani, layaknya lubang hitam yang selalu berhasil menyedot saya. Pamuk menulis buku ini ketika dia berada di ambang depresi. Dalam sebuah wawancara ia mengenang: “Hidupku, karena begitu banyak hal, berada dalam krisis; Aku tidak ingin membahas detailnya: perceraian, ayah sekarat, masalah profesional, masalah dengan ini, masalah dengan itu, masalah dengan semuanya, semuanya gawat. Aku pikir jika aku menjadi lemah aku akan mengalami depresi. Tetapi setiap hari aku akan bangun dan mandi air dingin dan duduk dan mengingat dan menulis, selalu memperhatikan keindahan buku itu.”

Kemurungan Pamuk ditunjang pula oleh sebuah melankolia kolektif bernama Huzun, yang sering ia bahas di buku ini. Setiap kali sebuah kerajaan jatuh; yang baru lahir dari puing-puingnya memberi orang kesempatan lagi untuk hidup, dan siklus ini berlanjut dan masih berlanjut. Pergulatan terus-menerus ini membawa kesedihan; kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai, kesedihan karena kehilangan budaya dan adanya harapan akan kehidupan baru, untuk memulai kembali. Perasaan ini tidak seperti yang lain, dan setiap warga kota Istanbul, baru atau lama menderita olehnya, tidak peduli dari distrik mana mereka berasal, dan amat jelas Pamuk begitu menginsafi Huzun, bahkan mungkin meromantisasinya.

Kekaisaran Istanbul sudah runtuh, dan beragam peninggalan yang tersisa terus lenyap oleh para pengembang, kebakaran, dan penelantaran. Hari ini adalah Republik Turki, negara bangsa sekuler ciptaan Ataturk, berorientasi Barat, yang dihomogenisasi. Istanbul bukan lagi kota konsekuensi, apalagi ibu kota dunia. Ini adalah tempat terpencil yang tenggelam dalam reruntuhannya sendiri. “Secara umum, aku tidak suka mengeluh,” tulis Pamuk, “aku telah menerima kota tempatku dilahirkan dengan cara yang sama sepertiku menerima tubuhku”. Pamuk sendiri adalah produk dari revolusi Ataturk. Dilahirkan pada tahun 1952 di sebuah keluarga yang suka bertengkar dan tak beragama, dikelilingi oleh “orang-orang positivis yang menyukai matematika”, ia tumbuh dewasa di sebuah gedung apartemen milik keluarga di distrik kelas atas Nisantasi, bebas membaca Freud dan Sartre dan Faulkner, minum alkohol, dan berhubungan dengan seorang siswi sekolahan.

Sebagai seorang pelukis muda, ia melihat kotanya melalui tulisan-tulisan bergambar dan tertulis yang ditinggalkan oleh orang-orang Eropa yang berkunjung, dan juga melalui empat penulis Turki terdahulu. Pamuk berhutang pada Barat – pada ketepatan arsitektural dari novel-novelnya, pada lompatannya yang meyakinkan dari introspeksi Proustian ke sihir naratif yang mengingatkan pada Borges dan Gabriel García Márquez.

Ingatan pribadi penulis jalin-menjalin dengan esai sastra tentang penulis dan seniman yang terhubung dengan cara tertentu ke Istanbul. Satu bab didedikasikan untuk Antoine Ignace Melling, seorang seniman Barat abad ke-19 yang membuat ukiran tentang Konstantinopel. Penulis Istanbul favorit Pamuk, yang berarti inspirasi baginya dan juga menjadi tokoh bukunya, adalah Yahya Kemal Beyatlı, Reşat Ekrem Koçu, Abdülhak Şinasi Hisar, Ahmet Rasim dan Ahmet Hamdi Tanpınar. Penulis perjalanan Barat favoritnya memainkan peran yang sama seperti Gérard de Nerval, Théophile Gautier dan Gustave Flaubert.

Untuk menikmati jalan-jalan kecil di Istanbul, untuk menghargai tanaman anggur dan pepohonan yang memberkati puing-puing ini dengan keindahan tak terduga, pertama-tama kita harus menjadi “orang asing” bagi semua itu.

“Istanbul” berhenti ketika Pamuk masih seorang pemuda, yang galau. Ditekan oleh rasa bersalah tetapi dipicu oleh kehidupan borjuis yang dipetakan oleh ibunya, Pamuk melangkah keluar ke jalan-jalan Istanbul yang memberi penghiburan. Untuk kemudian mengalami konklusi dramatis. Dalam baris perpisahan kepada ibunya, dan juga kepada pembaca, karena ini adalah kata-kata terakhir buku itu, Pamuk berkata: “Aku tidak ingin menjadi seorang seniman … aku akan menjadi seorang penulis.”

 

Kategori
Non Fakta

Perbedaan Antara Cinta dan Siksaan Menunggu, Orhan Pamuk

cinta dan siksaan menunggu orhan pamuk

Tetapi, Ipek tidak segera naik. Dan menunggu adalah sebuah siksaan – yang terburuk sepengetahuan Ka. Sekarang Ka teringat bahwa kepedihan inilah, siksaan saat menanti inilah, yang membuatnya takut jatuh cinta. Sesampainya di kamar, dia membaringkan diri di ranjang, hanya untuk berdiri kembali dan merapikan bajunya. Dia mencuci tangan, merasakan darahnya mengalir meninggalkan lengan, jemari, dan bibirnya. Dengan tangan gemetar, dia menyisir rambut; kemudian, melihat bayangannya sendiri di jendela, dia mengacak-acak rambutnya lagi. Semua ini hanya memakan sangat sedikit waktu, dan akhirnya dia mengarahkan perhatian dan kecemasannya pada pemandangan di luar jendela.

Dia berharap akan melihat Turgut Bey meninggalkan hotel bersama Kadife. Mungkin mereka keluar saat dia berada di dalam kamar mandi. Tetapi, jika memang itu yang terjadi, Ipek tentunya sudah ada di kamarnya sekarang. Mungkin Ipek berada di kamar yang dilihatnya kemarin malam, membedaki wajahnya dan mengolesi lehernya dengan parfum. Membuang-buang sedikit waktu yang mereka miliki bersama saja! Tidakkah Ipek memahami betapa Ka mencintainya? Apa pun yang sedang dilakukan Ipek, itu tidak sepadan dengan kepedihan yang dirasakan Ka saat ini; Ka akan mengatakan semuanya kepada Ipek jika wanita itu akhirnya muncul. Tetapi, akankah Ipek datang? Bersama setiap waktu yang berlalu, Ka menjadi semakin yakin bahwa Ipek telah berubah pikiran.

Ka melihat sebuah kereta kuda mendekati hotel; dikawal oleh Zahide Hanim dan Cavit si resepsionis, Turgut Bey dan Kadife memanjat naik, lalu menutup lapisan terpal di kereta itu. Tetapi, kereta itu tak kunjung bergerak. Ka memandang lapisan salju di atap kereta bertambah tebal dan tebal; di bawah cahaya lampu-lampu jalanan, setiap kepingan salju tampak semakin membesar. Saat itulah Ka merasa waktu seolah-olah berhenti; ini membuatnya gila. Tepat ketika itu, Zahide berlari ke luar dan memasukkan sesuatu yang tidak terlihat oleh Ka ke dalam kereta. Kendaraan itu pun mulai bergerak, dan jantng Ka berdegup semakin kencang.

Tetapi, Ipek tak kunjung datang.

Apakah perbedaan antara cinta dan siksaan menunggu? Seperti cinta, siksaan menunggu muncul dari otot-otot yang terletak di suatu tempat di bagian atas perut, tetapi sensasi itu segera menyebar ke dada, ke paha, dan ke kening, sebelum kemudian menguasai seluruh tubuh dengan kekuatan yang melumpuhkan. Ka mendengarkan suara-suara dari bagian lain hotel, berusaha menduga-duga apa yang sedang dilakukan Ipek. Ka melihat seorang wanita di jalan, dan, meskipun sosoknya sama sekali berbeda dengan Ipek, dia berpikir bahwa wanita itu Ipek. Betapa cantiknya salju yang sedang jatuh dari langit!

Saat dirinya masih kecil, saat dia dan teman-teman sekelasnya berduyun-duyun memasuki kantin sekolah untuk mendapatkan suntikan, saat aroma makanan yang bercampur dengan aroma iodin berputar-putar di dalam kepalanya, perutnya terasa mulas seperti ini, dan dia ingin mati saja. Dia mendambakan rumahnya, kamarnya sendiri. Sekarang dia berada di kamar mengenaskannya di Frankfurt. Datang ke Kars adalah sebuah kesalahan besar! Puisi-puisi baru pun sudah tidak lagi mendatanginya sekarang. Dia sangat merana. Meskipun begitu, dia berusaha menenangkan diri dengan berdiri di dekat jendela yang hangat, menyaksikan hujan salju; setidaknya ini lebih baik daripada meregang nyawa. Tetapi, jika Ipek tidak segera datang, mau tidak mau dia akan mati.

Lampu-lampu seketika padam.

Ini adalah pertanda, pikir Ipek, yang dikirim khusus untuknya. Mungkin Ipek tidak datang karena dia mengetahui tentang pemadaman listrik yang akan terjadi. Ka memandang ke jalan yang gelap di bawahnya, mencari tanda-tanda kehidupan, sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa Ipek tidak datang. Dia melihat sebuah truk – apakah itu truk tentara? Bukan, pikirannya menipunya. Begitu pula bunyi langkah kaki di tangga yang didengarnya. Tidak ada yang datang. Ka meninggalkan jendela dan berbaring kaku di ranjang. Rasa nyeri yang dimulai di perutnya sekarang telah menyebar ke jiwanya; dia sendirian di dunia ini, dan tak ada yang bisa disalahkan kecuali dirinya sendiri. Kehidupannya sia-sia; dia akan mati di sini, dalam keadaan menderita dan kesepian. Kali ini, dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berlari seperti tikus ke lubangnya di Frankfurt. Ketidakbahagiaan yang begitu parah membuatnya berduka dan putus asa. Lebih buruk lagi, dia tahu bahwa, seandainya dia mengambil tindakan yang lebih pintar, hidupnya akan jauh lebih bahagia. Dan, yang terburuk adalah mengetahui bahwa tidak seorang pun melihat ketakutan, penderitaan, dan kesepian yang dirasakannya. Seandainya Ipek mengetahui hal ini, dia akan langsung naik tanpa menunda-nunda! Seandainya ibunya melihatnya dalam keadaan ini … Hanya ibunyalah satu-satunya orang di dunia ini yang akan memahaminya; wanita itu akan membelai rambutnya dan menenangkannya.

Es di jendela mengeluarkan pendar oranye dari cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu bangunan di sekitar hotel. Biar saja salju terus turun, pikir Ka. Biar saja salju turun berhari-hari dan berbulan-bulan. Biar saja salju mengubur Kota Kars sehingga tidak ada lagi yang bisa menemukannya. Dia ingin tidur di ranjangnya dan baru terbangun saat matahari bersinar cerah pada suatu pagi, dan dia kembali menjadi anak-anak, bersama ibunya.

Terdengarlah ketukan di pintu. Jika sudah begini, Ka mengatakan kepada dirinya sendiri, bisa saja yang mengetuk pintunya adalah seseorang dari dapur. Tetapi, dia menghambur ke pintu, dan saat membukanya, dia dapat merasakan keberadaan Ipek.

“Dari mana saja kamu?”

“Apakah aku terlambat?”

Tetapi, Ka seolah-olah tidak mendengar kata-kata Ipek. Dia langsung mememluk Ipek dengan sekuat tenaga; dia menempelkan kepala ke leher Ipek dan membenamkan wajah ke rambutnya; dan dia berdiam di sana, tidak menggerakkan sedikit pun ototnya. Ka merasakan kebahagiaan yang begitu besar, sehingga siksaan menunggu yang baru saja menderanya sekrang terasa absurd. Tetapi, siksaan itu telah menggerogotinya sebegitu rupa, sehingga, Ka berpikir, karena itulah dia bisa sangat mensyukuri kehadiran Ipek. Dan, untuk apakah dia menuntut penjelasan Ipek tentang keterlambatannya: bahkan meskipun mengetahui bahwa dirinya tidak berhak melakukan hal itu, Ka terus-menerus mengeluh. Tetapi, Ipek bersikeras bahwa dirinya naik segera setelah ayahnya pergi. Memang, dia berhenti sebentar di dapur untuk memberikan satu atau dua perintah berkenaan dengan makan malam kepada Zahide, tapi itu hanya memakan waktu satu menit. Maka, Ka pun menjadi pihak yang lebih bergairah dan rapuh di antara mereka berdua. Bahkan sejak awal hubungan mereka, Ka telah membiarkan Ipek memegang kendali. Dan, bahkan jika ketakutan Ka akan terlihat lemah menggerakannya untuk menutup-nutupi dampak perasaan tersiksa yang disebabkan oleh Ipek, dia masih harus berurusan dengan rasa tidak amannya. Lagi pula, bukankah cinta berarti berbagi segalanya? Apakah cinta jika bukan hasrat untuk membagi semua pikiran kita? Dia membeberkan rentetan pikirannya kepada Ipek dengan napas tertahan, seolah-olah sedang membocorkan sebuah rahasia gelap.

“Sekarang, singkirkanlah semua itu dari kepalamu,” kata Ipek. “Aku datang ke sini untuk bercinta denganmu.”

Mereka berciuman. Dengan kelembutan yang mendatangkan kenyamanan bagi Ka, mereka menjatuhkan diri ke ranjang. Bagi Ka, yang telah empat tahun tidak bercinta, rasanya seperti mendapatkan mukjizat. Maka, meskipun kenikmatan melanda tubuhnya, pikiran sadarnya masih bisa mengingatkannya bahwa dia sedang berada dalam momen yang indah. Sama seperti pengalaman seksualnya yang pertama, bukan hanya tindakan dan pikiran tentang bercinta yang menguasai dirinya. Selama sesaat, kesadarannya melindunginya dari gairah yang meledak-ledak. Detail-detail dari film-film porno yang membuatnya kecanduan di Frankfurt membanjiri kepalanya, menciptakan sebuah aura fantasi yang sepertinya jauh dari logika. Tetapi, dia tidak membayangkan adegan-adegan itu untuk membuat dirinya terangsang; dia sedang merayakan fakta bahwa pada akhirnya dia dapat mewujudkan berbagai fantasi yang selama ini bermain-main di dalam pikirannya. Maka, bukan hanya Ipek seorang yang membuat Ka terangsang, melainkan juga bayangan-bayangan cabul; dan mukjizat yang dirasakannya tidak berasal dari keberadaan Ipek tetapi dari fakta bahwa dia dapat mewujudkan fantasinya di atas ranjang bersama Ipek.

Baru ketika Ka melepas baju Ipek dengan kecanggungan yang nyaris mendekati kekasaran, dia melihat diri Ipek yang sesungguhnya. Payudaranya yang ranum, kulit leher dan bahunya yang sangat lembut, aroma tubuhnya yang terasa aneh dan asing. Ka menyaksikan pantulan sorot lampu putih di tubuh Ipek. Kadang-kadang, mata Ipek berbinar, dan itu membuat Ka ketakutan. Kedua mata itu memancarkan keyakinan yang mendalam: Ka khawatir Ipek tidak serapuh yang diinginkannya. Karena itulah Ka menjambak rambut Ipek, supaya Ipek merasa kesakitan; karena itulah dia menikmati kesakitan Ipek sehingga dia kembali menjambak rambut Ipek; karena itulah dia menyuruh Ipek melakukan beberapa tindakan lain yang juga berasal dari film porno yang masih berlangsung di dalam kepalanya; dan, karena itulah dia memperlakukan Ipek dengan sangat kasar – untuk mengimbangi musik di dalam kepalanya, yang sangat dalam dan primitif. Saat melihat bahwa Ipek menikmati kekasarannya, perasaan unggul yang mendatangi Ka memunculkan kasih sayang yang hangat. Dia memeluk Ipek erat-erat; sekarang, dia tidak hanya berharap dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan Kars, dia juga ingin menyelamatkan Ipek. Tetapi, saat menyadari bahwa reaksi Ipek sepadan dengan gairahnya sendiri yang menggebu-gebu, Ka segera melepaskannya. Di dalam benaknya, dia dapat memegang kendali dan melakukan aneka gerakan akrobatik seksual itu dengan keluwesan yang mengagetkan. Tetapi, saat entah bagaimana pikirannya menjauh, dia dapat merengkuh Ipek dengan gairah yang sangat mendekati kekejaman; dan pada saat seperti itu, Ka ingin menyakiti Ipek.

Menurut catatan yang dibuat Ka tentang caranya bercinta – catatan yang kurasa harus kubagi dengan para pembacaku – hasratnya akhirnya terlampiaskan, dan mereka saling berpelukan begitu erat sehingga dunia seoalah-olah tidak ada lagi dalam ingatan mereka. Catatan yang sama juga mengungkapkan bahwa Ipek menangis tersedu-sedu saat semua itu berakhir.

Paranoia mendera Ka saat sekarang dia memikirkan apakah ini alasan dia diberi kamar yang terletak di sudut paling terpencil di hotel ini. Kenikmatan yang mereka rasakan saat saling menyakiti sekarang mendatangkan kembali rasa kesepian yang telah mereka akrabi. Dalam bayangan Ka, kamar terpencil di koridor terpencil ini telah melepaskan diri dari hotel dan melayang menuju sudut paling terpencil di kota yang sunyi ini. Dan, Kota Kars tampak begitu hening sehingga dunia sepertinya telah tiba di titik akhir. Dan, hujan salju terus turun.

Mereka berbaring lama di ranjang, berdampingan, memandang salju tanpa berkata-kata. Dari waktu ke waktu, Ka menolehkan kepala untuk menyaksikan hujan salju di mata Ipek.

*

Nukilan bab 28 dari novel Salju karya Orhan Pamuk

Kategori
Cacatnya Harianku

Saya Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, dan Menyia-nyiakannya dengan Membaca Sepuasnya

c0mbly0ukaqssxm

Usianya 22, ketika timbul keyakinan bahwa seni-sastra adalah pilihan hidupnya. Seperti para rasul yang menyepi untuk menanti wahyu, ia mulai memenjarakan diri di antara tumpukan buku dan melahap beragam bacaan tadi, dan harus melewati delapan tahun penuh kesepian dan keputusasaan sampai novel perdananya rilis. Menjadi penulis di negara yang, seperti kata ibunya, enggak akan membeli dan membacanya, tentu suatu keberanian, juga ketololan. Di usia yang sama, saya mendapat suntikan kedunguan, seperti Nobelis asal Turki itu, ingin jadi penulis. Penulis seperti apa? Saya enggak tahu. Sastrawan, maksudnya? Hmm, bahkan saya masih bingung apa itu dan untuk apa ada sastra. Ingin menulis novel? Ya, ini memang satu impian saya. Maka saya mengikuti langkah penulis yang jadi pendukung tim sepakbola Fenerbahçe itu. Baca, baca, baca, seperti yang sering ditulis dalam tips untuk menulis. Tapi, makin banyak membaca, malah makin bikin saya bingung, akan segala hal. Juga rasa bimbang. Bahwa saya sebenarnya lebih berbakat berak ketimbang menulis. Saya nampaknya bisa merasakan apa yang dialami Orhan Pamuk tadi. Ah, haruskah saya menjalani masa-masa sialan ini sampai usia 30 seperti dia? Kini, sudah melewati setahun perjalanan untuk menjadi The Naive and Sentimental Novelist, dan nampaknya kudu mencari jalan dari penulis lain. Jadi pemilik bar, atau tukang cuci piring, misalnya. Tapi sial, mereka pun enggak bisa lepas jadi seorang pembaca rakus.

Membaca lebih penting ketimbang menulis, sebut seorang penulis asal Chili. Membaca, tambahnya dalam tulisan lain, seperti berpikir, seperti berdoa, seperti berbincang dengan seorang kawan, seperti mengejawantahkan ide-idemu, seperti menyimak ide-ide orang lain, seperti mendengarkan musik, seperti melihat pemandangan, seperti berjalan-jalan di pantai. Saya membaca sampai sepuluh bukunya di tahun ini. Apa yang menarik darinya? Ngalor-ngidul seenak udel, yang sering membuat saya balik bertanya, Cerita apaan sih? Novel The Savage Detectives dan kumpulan bacotannya di The Last Interview-nya, adalah bacaan mengasyikan, dan penting buat saya di tahun ini. Jika suatu saat diwawancarai soal siapa penulis favorit saya, maka penulis bernama Roberto Bolano ini yang bakal saya sebut. Dan semoga di saat itu, saya mampu menjawab selincah dan secemerlang Bolano. Nasibnya hampir mirip Franz Kafka, karya-karya Bolano diterjemahkan dan diperhatikan, justru setelah mereka meninggal. Bolano meninggal pada 2003. Beberapa hari ke belakang, saya bisa ngobrol singkat dengan Ronny Agustinus, aktor penting di balik penerbit Marjin Kiri, juga penerjemah favorit saya, dan bertanya siapa penulis dunia yang lagi panas hari ini. Bolano, Roberto Bolano, jawabnya. Apa bakal menerbitkan terjemahan karyanya? tanya saya. Wah, susah juga, timpalnya ragu, bukan soal menerjemahkan, tapi lebih ke arah hak cipta yang masih mahal. Saya sendiri membaca Bolano dalam bahasa Inggris, dan dari buku digital hasil mengunduh ilegal. Membajak, saya kira, adalah perlawanan paling mudah pada kapitalisme. Ditambah, membaca adalah pekerjaan mulia. Aku berubah dari seorang pembaca bijaksana menjadi seorang pembaca yang rakus, ungkap Bolano dalam tulisan Who Would Dare? (terjemahan saya: Curi Buku Ini), dan dari seorang pencuri buku menjadi pembajak buku. Nampaknya, saya tengah menapaki langkah dia. Silahkan unduh beragam buku Bolano, atau penulis lainnya, sepuasnya di perpustakaan daring saya ini.

goodreads-2016

Mempunyai bahasa ibu, patut disyukuri. Bisa dibilang bahasa utama saya adalah Sunda, bukan Indonesia. Meski memang untuk membaca, saya hanya menyelesaikan tiga buku: Si Pucuk Kalumpang, dongeng Sunda baheula yang dituliskan kembali oleh Ajip Rosidi, Hujan Munggaran, kumpulan cerpen dari Ayatrohaedi, dan Palika jeung Jin, saduran salah satu fragmen cerita Seribu Satu Malam oleh Moh. Ambri. Soal terjemahan, ada beragam penulis dunia yang telah dialihbahasakan ke Sunda. Palika jeung Jin sendiri adalah saduran dari cerita The Fisherman and the Jinnie, dan yang membuatnya menarik adalah diselipkannya wawacan, penulisan prosa yang berbentuk puisi. Pengalaman yang menyenangkan. Tapi, kalau dipikir-pikir, kemampuan membaca bahasa Inggris saya nampaknya lebih baik ketimbang membaca teks Sunda.

Seperti yang saya bilang tadi, bahasa Indonesia hanya jadi bahasa kedua. Sampai sekarang, saya masih kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Indonesia. Membaca penulis Indonesia tentu pilihan yang tepat. Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dari Paman Yusi adalah bacaan paling membahagiakan, dan bikin banyak pembaca menganjingkannya. Di Tanah Lada-nya Ziggy Z. juga menyenangkan, saya iri pada penulis muda yang sealmamater, seangkatan, dan seusia ini. Apalagi di tahun ini, dia menjadi jawara di Sayembara Novel DKJ. Tentu, karya-karyanya akan saya tunggu. Untuk kumpulan cerpen, Bakat Menggonggong-nya Dea Anugerah dan Metafora Padma-nya Bernard Batubara enggak boleh dilewatkan. Saya pikir, saya masih belum banyak baca penulis-penulis Indonesia.

Saat ini hanya tiga bahasa yang saya kuasai. Untuk bisa mengakses lebih banyak bacaan, belajar bahasa asing selain Inggris tentu jadi sesuatu yang mendesak. Saya sempat belajar bahasa Jepang di SMA dan perkuliahan, dan kemarin-kemarin bahasa Korea, meski cuma tingkat dasar. Entah kenapa, orang Jepang sangat paham soal kehampaan dan keresahan batin. Penulis Jepang selalu saya sukai. Ryunosuke Akutagawa, Yasunari Kawabata, dan duo Murakami – Haruki Murakami dan Ryu Murakami, adalah yang banyak saya baca. Begitupun dengan Korea, setelah suka dramanya, teknologinya, musiknya, program hiburannya, saya nampaknya menyukai kesusasteraannya. Meski baru sedikit yang saya baca, Han Kang salah satunya, dengan novel The Vegetarian yang memenangkan Man Booker Prize tahun ini. K-lit tampak menjanjikan.

Kalau diibaratkan traveling, saya sudah melancong ke berbagai belahan dunia, serta melintas ruang waktu. Belum terlalu luas, sih. Amerika Latin sudah pasti harus dikunjungi. Dua maestro sebelum Bolano, Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Marquez perlu saya baca. Juga membaca Pablo Neruda, meski saya sampai sekarang enggak ngerti puisi. Beralih ke Amerika di atasnya, saya terkesima ketika menyambangi para penulis Lost Generation dan Beat Generation. Memadat amphetamine sambil mendengar musik jazz bersama Jack Kerouac, Allen Ginsberg, dan William Burroughs sungguh seru. Howl, Kaddish and Other Poems-nya Ginsberg menyuarakan amarah dan kegilaan saya. Enggak lupa, menyapa John Steinbeck dan Kurt Vonnegut. Begitu Amerika. Menyebrang ke Eropa, di Inggris Raya, bertemu James Joyce yang mengisahkan kegelisahan identitasnya dalam A Portrait of the Artist as a Young Man, kemudian menonton kemenangan Leicester bersama Julian Barnes. Lanjut ke Prancis, ada Albert Camus dan Jean Paul-Sartre yang saling duduk membelakangi di teras sebuah kedai kopi. Saya mengobrol dengan keduanya, dan lebih menyukai bersama Camus. Mungkin karena dia berzodiak Scorpio, sama seperti saya. Di Jerman, menyapa Herman Hesse dan Kafka. Karl Marx juga, ternyata kekirian itu asyik. Melipir ke Spanyol, bertamu ke sohibnya Bolano, Enrique Vila-Matas di Barcelona, sang pengejek nyaris sempurna bagi kesusastraan. Melaju ke paling timur, meski dingin menusuk penis, ziarah ke Rusia saat masa Tsar adalah keharusan. Berguru pada Fyodor Dostoyevsky dan Leo Tolstoy. Eropa begitu melimpah, saya kesulitan untuk memilih harus ke mana dulu. Tapi terlalu lama diam di Eropa katanya bikin kita jadi songong. Maka lanjut ke Asia. Cina? Wah, belum. Arab? Hmm, dikit. Afrika? Haha. Ternyata saya masih cemen.

goodreads-2016-143

Sejauh ini, jika untuk fiksi, saya doyan tema coming-of-age, sedangkan untuk non-fiksi, saya menyukai memoar. In the Name of Identity-nya Amin Maalouf ada di urutan nomor wahid. A Moveable Feast, meski Hemingway bilang kalau ini cuma karangan fiksi, beserta Di Bawah Langit Tak Berbintang dari Utuy Tatang Sontani, dan What I Talk About When I Talk About Running-nya Haruki Murakami adalah memoar yang cocok dibaca buat saya dan kamu yang masih muda dan punya cita-cita pengen jadi penulis dan galau karenanya. Tambahkan pula kumpulan esai dari Mario Vargas-Llosa, Letters to a Young Novelist. Juga autobiografi berbentuk novel dari Vila-Matas, Never Any End to Paris dan Bartleby & Co., yang benar-benar bangsat.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan soal buku-buku yang saya baca tahun ini, tapi pasti membosankan, dan saya enggak ingin disebut sombong. Membaca, bagi saya, selalu menyenangkan. Tapi, karena membaca yang saya lakukan saat ini sebagai proses untuk jadi penulis, mengurangi kenikmatan seperti ketika membaca hanya semata-mata sebagai eskapisme. Ada beragam macam pretensi ketika saya membaca. Juga, yang sebenarnya, yang saya lakukan untuk mengejar ketertinggalan, hanya untuk mengejar kuantitas, hanya agar bisa menambahkan jumlah buku di Goodreads, lebih jauh, hanya untuk dianggap keren. Seperti traveler yang pongah karena sudah pergi ke sana kemari. Entahlah, apapun itu, meski saya masih bingung akan mengarah ke mana, harus ada alasan agar saya terus membaca. Saya ingin bisa lagi menemukan kenikmatan membaca, layaknya sang panglima perang yang dikutuk hidup abadi menjadi goblin sampai ia bisa menemukan cinta pertamanya setelah beratus-ratus tahun kemudian, dia menanti kematian dengan hiburan berupa membaca buku.

%eb%8f%84%ea%b9%a8%eb%b9%84-ost-part-4-%ed%81%ac%eb%9f%ac%ec%89%ac-crush-beautiful-mv-youtube-mkv_snapshot_00-16_2016-12-28_19-44-25

 

 

Kategori
Celotehanku

Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs

salman rushdie tottenham hotspurs

Aku pindah ke London pada Januari 1961, sebagai bocah berusia tiga belas setengah tahun, dalam perjalanan ke sekolah asrama, dan didampingi ayahku. Itu bulan yang dingin, dengan langit biru di siang hari dan halimun hijau saat malam. Kami menginap di Cumberland, di Marble Arch, dan setelah kami berkemas, ayahku bertanya apakah aku ingin melihat pertandingan sepakbola sungguh. (Di Bombay, tempatku dibesarkan, tak ada yang namanya sepakbola; olahraga lokalnya cuma kriket dan hoki.)

Pertandingan pertama yang ayahku ajak untuk kulihat adalah apa yang kemudian aku tahu sebagai sebuah “laga persahabatan” (sebab hasil akhirnya tak akan berdampak apapun) antara tim London Utara bernama Arsenal dan juara dari Spanyol, Real Madrid. Aku tidak tahu kalau lawan yang bertamu itu digadang-gadang sebagai klub terhebat yang pernah ada. Atau di antara pemainnya ada dua orang yang paling hebat, keduanya pemain asing; seorang Hungaria bernama Ferenc Puskas, “jenderal kecil”, dan dari Argentina, Alfredo di Stefano.

Inilah yang kuingat dari pertandingan itu: di babak pertama, Real Madrid mempecundangi Arsenal habis-habisan.

*

salman rushdie books

Di atas merupakan serpihan sebagian esei ‘The People’s Game’ dari Salman Rushdie di The New Yorker yang saya terjemahkan, karena tulisan berbayar hanya segitu aja. Intinya, dalam esei yang dirilis 31 Mei 1999 ini, sang penulis ‘Midnight’s Children’ ini menuliskan tentang kecintaannya pada sepakbola, terutama klub Tottenham Hotspurs. Dia melihat pertandingan pertama di London pada tahun 1961, antara Arsenal dan Real Madrid tadi. Cerita tentang Piala Dunia dan soal penjaga gawang. Tentang kemarahan berkepanjangan seorang Pat Jennings, kiper brilian, yang dipindahkan dari Spurs ke Arsenal. Tentang yel-yel yang dinyanyikan oleh orang banyak. Tentang nasib tim Spurs yang berubah lebih baik setelah mempekerjakan mantan manajer sang rival Arsenal, George Graham. Rushdie juga menggambarkan pertandingan di Wembley antara Spurs dan Leicester.

Ah ya, sebelumnya sudah pada kenal Salman Rushdie kan? Dan tau juga kalau ada klub sepakbola bernama Tottenham Hotspur FC? Sir Ahmad Salman Rushdie sendiri merupakan novelis dan esais, dikenal lewat gaya realisme magisnya, namun namanya makin melambung karena membuat novel kontroversial, ‘The Satanic Verses’, Ayat-Ayat Setan, yang membikin Ayatollah Khomenei mengeluarkan fatwa mati buatnya, dan siapa saja yang bisa menghabisi Rushdie bakal dihadiahi satu milyar Rial (sekitar 450 juta rupiah) pada tahun 1989. Bahkan, sekarang ‘bounty’-nya dinaikan lagi sampai 600.000 dollar! (sekitar 8 triliun rupiah!) Udah kayak Monkey D. Luffy di One Piece aja lah, keren!

Lihat: Independent – Salman Rushdie: Iranian state media renew fatwa on Satanic Verses author with $600,000 bounty

Kalau Tottenham Hotspurs? Ya, ya, pasti kalau sama Arsenal kenal, nah, Spurs ini klub sekotanya di London utara. Memang, Spurs bisa dibilang tim medioker, bahkan di film Green Street Hooligan, Pete Dunham berkelakar: “Tottenham… klub tai, juga pendukungnya tai … Yids, mereka disebutnya. Aku benar-benar pernah melempar kacung utama mereka melalui jendela kotak telepon tempo hari.” Jadi kenapa Rushdie masih mendukung klub tai ini?

“Kenapa kau mendukung Tottenham Hotspur?” Rushdie tertawa. “Kamu harus jadi seorang yang taat. Aku datang ke Inggris pada tahun 1961 dan itulah tahun paling baik buat Spurs – terakhir kali mereka memenangkan Liga Championship. Jika kau mendukung sebuah tim yang gagal untuk memenangkan liga selama 44 tahun, ini seperti semacam kultus.”

Time Out London: Salman Rushdie: Interview 

“Ini seperti agama. Tak ada ‘kenapa’,” jawab Orhan Pamuk sang penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra 2006 ketika ia ditanya kenapa menyukai Fenerbahçe. Ya, seperti agama Islam, untuk menjadi bobotoh Persib merupakan warisan dari orangtua. Dan untuk memberikan dukungan kepada keduanya, mungkin, kau enggak butuh yang namanya logika. Sesederhana itu. “Klub tradisional yang saya dukung dalam keadaan menang atau kalah, dalam kejayaan maupun keterpurukan cuma satu,” tulis Eka Kurniawan di pos Sepakbola, “Persib Bandung.”

[tweet https://twitter.com/SalmanRushdie/status/128140779402182657 align=’center’]

Sebagai warga Indonesia, saya pendukung Persib Bandung (seperti Eka Kurniawan), dan sebagai warga dunia, saya pendukung Tottenham (seperti Rushdie), Fenerbahce (seperti Pamuk), dan saya membayangkan apakah Roberto Bolano juga seorang pendukung Barcelona. Kalau iya, makin cinta deh sama mereka.

Kategori
Buku Celotehanku

Pencarian Sumire, Perempuan yang Sedang Galau di Usia 22

Usia dua puluh dua, bagi Orhan Pamuk, bisa disebut sebagai fase revolusionernya. Sebelum usia tersebut Pamuk berada dalam ambiguitas pilihan kreativitas ihwal dunia seni, mau jadi pelukis atau penyair? Kemudian, dimulai di usia 22 ini, Pamuk memilih untuk mengisolasi dirinya dalam kesunyian kamar dan buku-buku koleksi ayahnya dengan tekad menjadi penulis. Pamuk ‘memenjarakan diri’ dalam timbunan buku selama 8 tahun sebelum bisa menerbitkan novel perdananya! Dan kita tahu, Orhan Pamuk adalah seorang peraih Nobel.