Bagaimana Orhan Pamuk Menulis Kotanya

orhan pamuk istanbul

Orhan Pamuk enggak perlu melakukan perjalanan jauh keluar Istanbul untuk memperluas imajinasinya. Semarak melankolia dan kompleksitas keagamaan di tempat kelahirannya, Istanbul, memperkaya masa kecilnya dan terus menginspirasi dirinya. Novel-novelnya, yang hampir semua berlatar di Istanbul, telah membuatnya dirayakan di seluruh dunia, tetapi mungkin dia akan paling lama diingat berkat memoarnya yang sayu tentang kotanya, Istanbul. … Baca Selengkapnya

Cerita Terjemahan: “Perbedaan Antara Cinta dan Siksaan Menunggu” Karya Orhan Pamuk

cinta dan siksaan menunggu orhan pamuk

Tetapi, Ipek tidak segera naik. Dan menunggu adalah sebuah siksaan – yang terburuk sepengetahuan Ka. Sekarang Ka teringat bahwa kepedihan inilah, siksaan saat menanti inilah, yang membuatnya takut jatuh cinta. Sesampainya di kamar, dia membaringkan diri di ranjang, hanya untuk berdiri kembali dan merapikan bajunya. Dia mencuci tangan, merasakan darahnya mengalir meninggalkan lengan, jemari, dan bibirnya. Dengan tangan gemetar, dia menyisir rambut; kemudian, melihat bayangannya sendiri di jendela, dia mengacak-acak rambutnya lagi. Semua ini hanya memakan sangat sedikit waktu, dan akhirnya dia mengarahkan perhatian dan kecemasannya pada pemandangan di luar jendela.

Baca Selengkapnya

Saya Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, dan Menyia-nyiakannya dengan Membaca Sepuasnya

gong yoo goblin

Usianya 22, ketika timbul keyakinan bahwa seni-sastra adalah pilihan hidupnya. Seperti para rasul yang menyepi untuk menanti wahyu, ia mulai memenjarakan diri di antara tumpukan buku dan melahap beragam bacaan tadi, dan harus melewati delapan tahun penuh kesepian dan keputusasaan sampai novel perdananya rilis. Menjadi penulis di negara yang, seperti kata ibunya, enggak akan membeli dan membacanya, tentu suatu keberanian, juga ketololan.

Baca Selengkapnya

Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs

salman rushdie tottenham hotspur

Aku pindah ke London pada Januari 1961, sebagai bocah berusia tiga belas setengah tahun, dalam perjalanan ke sekolah asrama, dan didampingi ayahku. Itu bulan yang dingin, dengan langit biru di siang hari dan halimun hijau saat malam. Kami menginap di Cumberland, di Marble Arch, dan setelah kami berkemas, ayahku bertanya apakah aku ingin melihat pertandingan sepakbola sungguh. (Di Bombay, tempatku dibesarkan, tak ada yang namanya sepakbola; olahraga lokalnya cuma kriket dan hoki.)

Pertandingan pertama yang ayahku ajak untuk kulihat adalah apa yang kemudian aku tahu sebagai sebuah “laga persahabatan” (sebab hasil akhirnya tak akan berdampak apapun) antara tim London Utara bernama Arsenal dan juara dari Spanyol, Real Madrid. Aku tidak tahu kalau lawan yang bertamu itu digadang-gadang sebagai klub terhebat yang pernah ada. Atau di antara pemainnya ada dua orang yang paling hebat, keduanya pemain asing; seorang Hungaria bernama Ferenc Puskas, “jenderal kecil”, dan dari Argentina, Alfredo di Stefano.

Inilah yang kuingat dari pertandingan itu: di babak pertama, Real Madrid mempecundangi Arsenal habis-habisan.

Baca Selengkapnya

Pencarian Sumire, Perempuan yang Sedang Galau di Usia 22

arip sputnik sweetheart murakami

Usia dua puluh dua, bagi Orhan Pamuk, bisa disebut sebagai fase revolusionernya. Sebelum usia tersebut Pamuk berada dalam ambiguitas pilihan kreativitas ihwal dunia seni, mau jadi pelukis atau penyair? Kemudian, dimulai di usia 22 ini, Pamuk memilih untuk mengisolasi dirinya dalam kesunyian kamar dan buku-buku koleksi ayahnya dengan tekad menjadi penulis. Pamuk ‘memenjarakan diri’ dalam timbunan buku selama 8 tahun sebelum bisa menerbitkan novel perdananya! Dan kita tahu, Orhan Pamuk adalah seorang peraih Nobel.

Baca Selengkapnya