Kategori
Blog Celotehanku

Belajar Ngeblog dari Viny JKT48

“Semua harus ditulis. Apa pun!” tegas Pramoedya Ananta Toer, “Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan berguna.”

Lantas kenapa kita harus menulis? Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Ah ya, kutipan dari ‘Anak Semua Bangsa’ ini mungkin suatu saat akan saya gombalkan buat sang istri—semoga aja sih dapatnya penulis (tapi yang lebih semoga bisa beristri sih). Seperti Eka Kurniawan-Ratih Kumala, Sylvia Plath-Ted Hughes, atau sekadar pasangan yang nggak nikah macam Erik Prasetya-Ayu Utami dan Jean-Paul Sartre-Simone de Beauvoir, rasanya bisa beradu kasih dengan dia yang hobi baca dan tulis jadi salah satu impian terbesar saya.

Kategori
Bandung

Mojang Bandung Cantik di Khazanah JKT48

bandung dan jkt48

Pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1896, Meneer Jules Schenk, seorang Preangerplanter, pengusaha perkebunan di Priangan yang royal, memboyong segudang noni-noni Indo-Belanda yang cantik-cantik untuk ‘menghibur’ peserta kongres. Saat itu Bandung mendapat kehormatan sebagai tempat penyelenggaraan kongres pertama Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula, kongres yang kemudian dapat dikatakan berakhir dengan sukses besar. Lewat bisik-bisik peserta kongres, Bandung disebut sebagai “bunganya” Kota Pegunungan di Hindia Belanda. Nah, julukan Bandung sebagai “Kota Kembang” sangat mungkin muncul akibat selentingan ini.

Adanya cap Parijs van Java pun karena memang Bandung layaknya Paris, khususnya soal dunia malamnya. Bisnis prostitusi gemerlapan karena selalu menyalurkan stok-stok cantik layaknya di pusat mode dunia itu.