Kategori
Catutan Pinggir

Park Chan Wook, Lelaki yang Menyematkan Sinema Korea dalam Peta

park-chan-wook-slide

Kami sedang di warung mie yang ramai di Paju, Korea Selatan, saat Park Chan Wook mengeluarkan dua kamera dan pemutar musik digital dari tasnya dan meletakkannya di meja kami. “Ini adalah perpanjangan tubuh saya,” katanya.

Chan Wook, yang berusia 54 tahun ini, bisa dibilang sutradara film Korea Selatan yang paling kondang, dikenal secara nasional dan internasional untuk trilogi balas dendamnya tahun 2002-05 — “Symphaty for Mr. Vengeance,” “Oldboy” dan “Lady Vengeance” — film yang membantu membawa sinema Korea ke panggung dunia sekaligus menegaskan Chan Wook sebagai seorang penyelidik ​​yang tak kenal takut atas kekerasan dalam hati orang-orang. Quentin Tarantino menganggapnya sebagai salah satu pembuat film favoritnya, dan Spike Lee sangat mengagumi hit internasional “Oldboy,” yang ia buat ulang pada tahun 2013. Sekarang, Chan Wook mengalihkan perhatiannya pada seks. Tahun lalu, ia merilis film terbarunya, “Aghassi,” atau “The Handmaiden,” sebuah adaptasi dari novel Sarah Waters tahun 2002, “Fingersmith,” yang telah dipuji secara internasional sebagai karya film erotis. Film ini sangat populer di Korea sehingga ia mengilhami komunitas penggemar yang luas yang biasanya hanya terjadi pada para idola K-pop remaja, dengan papan buletin forum internet yang dikhususkan untuk fanfiction, art tribute buatan fan, lencana, stiker, saputangan dan alat tulis, surat dan bahkan lagu rap dengan dialog dari film yang diubah ke beat hip-hop. “Saya tidak pernah merasakan cinta fans yang seperti ini,” katanya.

Jika Chan Wook merasa terkenal, dia tidak menunjukkannya. Secara pribadi, dia merasa sebagai seorang pangeran di pengasingan, meski berada di rumah — menyendiri tapi bak raja, pertanda gelak terlihat di matanya. Sejak tahun 1992, dia telah mengarahkan 10 film layar lebar, dan dia menjalani kehidupan yang tenang di sela-selanya, naik bus ke Seoul, sekitar satu jam perjalanan, untuk makan malam atau pertemuan sesekali. Dia senang menyiapkan mangkuk makanan dan air di garasi untuk kucing liar di sekitarnya, dan dia adalah seorang fotografer yang serius, tidak mencintai apa pun selain berkeliaran dengan kameranya, memotret. Dia masih memiliki sebagian besar, jika tidak semua, dari kamera lawasnya. “Mereka terlalu cantik untuk disingkirkan,” katanya. Dia pernah menjadi fotografer sejak masih mahasiswa di Universitas Sogang, sekolah Yesuit Korea yang bergengsi di Seoul, dan sementara benda-benda yang tadi diletakkannya di atas meja tampak seperti perpanjangan dari dirinya, jelas dia tidak membuat filmnya dengan itu — mereka adalah alat untuk membuat, atau mempertahankan, kepekaannya.

park-chan-wook-slide-xkq2-master675

Sensibilitas itu masih terdefinisikan, setidaknya bagi kebanyakan orang Amerika, dengan trilogi Pembalasan: tiga film yang mengena tentang balas dendam dan kelangsungan hidup, begitu berdarah-berdarah seperti mereka lukiskan sendiri di dalamnya. Chan Wook tidak membayangkan film-film itu sebagai sebuah triptych, trilogi yang berangkai, dan memang lebih baik menganggapnya sebagai tiga renungan berbeda mengenai tema balas dendam, menceritakan kisah orang-orang biasa yang terdorong ke ekstrem yang luar biasa. Reputasi Chan Wook sebagai Mr. Vengeance terlalu sering menunjukkan bahwa filmnya disusun dalam kacamata kekerasan. Lebih tepat untuk mengatakan bahwa matanya dalam detail dan komposisi hampir tidak ada bandingannya, dan saat dia menggali horor viseral — lidah dipotong dengan gunting, gigi ditarik keluar dengan ujung gerutan palu — gambar-gambarnya begitu memukau sehingga menarik Anda alih-alih mengusir Anda. Salah satu adegan paling terkenal di “Oldboy” menampilkan protagonis kelaparan yang melahap seluruh gurita hidup, menggigitnya saat menggeliat di tangan dan mulutnya. Alasan mengapa gambar-gambar ini beresonansi, di zaman ini ketika begitu banyak kekerasan telah membuat manusia tidak manusiawi, adalah bahwa filmnya mengembalikan perasaan lebih kepada pemirsa daripada yang diambil dari mereka, terlahir karena mereka berasal dari cintanya pada orang yang kurang dihargai — orang yang didorong ke tepi keputusasaan dan kemudian melampauinya. Dia mengakui bahwa tumbuh di Seoul di bawah pemerintahan diktator Chun Doo Hwan pada 1979-88 yang seringkali brutal membentuk secara mendalam imajinasinya.

Reputasi Chan Wook untuk kekerasan juga mengabaikan selera humor yang luar biasa yang dengannya dia menciptakan puisi gelapnya. Sutradara ini tidak begitu dikenal karena leluconnya, tapi saya rasa seharusnya diperhatikan juga. Salah satu favoritnya adalah dari “Lady Vengeance”: Sekelompok orang tua berkumpul, masing-masing telah kehilangan anak mereka karena pembunuh yang sama. Lady Vengeance telah menangkapnya dan mengikatnya di ruangan lain sehingga mereka bisa melakukan balas dendam. Dengan mengenakan perlengkapan jas hujan untuk mengantisipasi pertumpahan darah mengerikan yang akan terjadi, masing-masing memegang senjatanya sendiri. Namun, satu orang tampaknya hanya memegang tongkat kecil. Tapi kemudian dia mulai mengeluarkan kapak besar yang tersembunyi di balik bajunya — merakit senjata terbesar dari yang lain.

park-chan-wook-slide-vvcb-master675

Chan Wook seorang otodidak, seorang auteur pembelajar mandiri. Ini bukan karena pilihan; tahun 1980-an di Korea hanya memiliki sedikit sekolah film, dan tidak ada budaya sinematik yang serius baginya untuk terlibat atau diabaikan. Dia hanya punya American Forces Korea Network, sebuah saluran televisi yang terkenal dengan film asing yang disiarkan, seringkali tanpa teks terjemahan. (Jika ada subtitel, cuma berbahasa Inggris, bukan Korea). Chan Wook ingat menontonnya di televisi hitam-putih keluarganya. Kemudian, ia memiliki klub film universitasnya, yang menampilkan rekaman DVD VHS bajakan. “Ketika Anda, katakanlah bahwa Anda masuk ke sekolah film di Amerika atau Prancis, Anda mungkin akan kuliah di tempat mereka mengajarkan Anda tentang Ekspresionisme Jerman dan menunjukkan kepada Anda film-film ekspresionis Jerman ini,” katanya. “Tapi di Korea tidak ada pendidikan sistematis yang bisa saya dapatkan. Bentuknya sporadis, serampangan. Dan mungkin karena itulah film-film saya berakhir dalam bentuk aneh ini, di mana rasanya seperti sebuah campur aduk dari semuanya.”

Dia mengingat film James Bond yang dia lihat di bioskop saat masih bocah — dia tidak ingat yang mana, tapi sangat membuatnya gembira, dia mulai membayangkan film Bond buatannya sendiri. Tapi bukan hanya ceritanya: Dia melihatnya di kepalanya, dari tembakan ke tembakan, memikirkan bagaimana pencahayaan, sudut dan pengeditan bercerita, dan dia mulai merumuskannya sendiri. Ketika saya bertanya kepadanya apakah dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam terjemahan, dia menggelengkan kepalanya. “Saya masih mengerti,” katanya. “Ketika akhirnya saya melihat beberapa dari film-film itu lagi, dengan subtitel, saya tahu bahwa saya telah memahami wajah-wajah, hal-hal yang mereka lakukan.” Dia memuji jenis menonton ini — hanya mampu memahami ungkapan dan tindakan, bukan bahasa — untuk mengembangkan indranya dalam cerita visual. Ada anekdot yang terkenal tentang bagaimana Chan Wook terinspirasi untuk menjadi sutradara film setelah menonton “Vertigo”-nya Hitchcock di perguruan tinggi, dan ini memang benar, tapi dia sudah berpikir seperti sutradara jauh sebelumnya, memikirkan bagaimana menceritakan kisah-kisahnya. Film — gambar ke gambar, wajah ke wajah, bukan di luar bahasa, tapi melampaui bahasa.

Tapi menjadi sutradara film bukanlah karir yang patut untuk orang Korea saat itu. Ketika Chan Wook melamar istrinya pada akhir tahun 80-an, dia berbohong kepada calon mertuanya dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan menjadi seorang profesor, seperti ayahnya yang arsitek. Dia kemudian membuat film pertamanya, yang begitu tak berhasil sehingga Chan Wook sendiri yang jadi satu-satunya pengulas. Dia melakukannya dengan menyamar — seorang kritikus film mengizinkannya untuk menerbitkan review atas namanya setelah sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak dapat mengulasnya karena mereka berteman. (“Mungkin dia tidak punya sesuatu yang bagus buat dikatakan,” kata Chan Wook.) Dia menulis ulasan film dan kritik untuk mendapatkan uang sampai dia membuat film keduanya — dan setelah film itu juga gagal, dia berjuang lagi. “Ini sudah keterlaluan,” kata Chan Wook, “tapi saya mulai berpikir, ‘Apakah seluruh industri bersekongkol untuk benar-benar mengejek saya? Apakah setiap orang berkomplot untuk mengejek saya sampai saya kehabisan tenaga?'” Pada tahun 1999, dia diberi kesempatan untuk membuat sebuah film pendek berjudul “Judgement,” yang terinspirasi oleh runtuhnya sebuah pusat perbelanjaan di Seoul, dan kali ini, dia terlibat dalam membantu rombongan aktor panggung, dan mengadakan pembacaan skrip pertamanya di mana dia mendengarkan para aktor dan bukan hanya memberi tahu mereka pemikirannya. “Saya menyadari para aktor bukan boneka,” katanya. “Katakanlah dalam skenario, ada satu garis dialog, dan saya tidak bisa menemukan yang terbaik. Sebagai sutradara Anda bisa berbicara dengan aktor dengan jujur, dan mengatakan, saya tidak dapat menemukan sesuatu yang lebih baik. Dapatkah Anda memikirkan sesuatu untuk dikatakan? Ini adalah semacam kemewahan yang tak bisa dinikmati seorang novelis.”

Chan Wook memperluas pendekatan ini saat ia membuat film fitur ketiganya, “Joint Security Area,” kisah empat tentara yang menjaga perbatasan Korea Utara dan Selatan, dua di setiap sisi, dan persahabatan terlarang yang mereka lakukan, dan hasil yang tragis. Dia dan para aktor tidak hanya berbagi catatan, tapi juga menjadi teman. “Kami semua masih muda saat itu,” katanya. “Kami akan syuting sampai malam hari dan kemudian sesudahnya, menghabiskan sepanjang malam untuk minum, tidur hanya dua atau tiga jam, kembali bekerja keesokan harinya.” Keberhasilan film ini — menjadi film terlaris di Korea setelah dirilis — menegaskan nilai dari kolaborasi bagi Chan Wook, dan karena itu dia telah bekerja dengan cara ini sejak saat itu, dengan beberapa penyempurnaan — perbanyak tidur, kurangi minum. Film-filmnya dibangun dari percakapan dengan kru intinya yang dimulai dengan baik sebelum dia memulai naskah. Begitu mulai merancang, dia juga mulai mengerjakan ide musik dengan komposernya, yang telah berkolaborasi dengannya sejak “Joint Security Area.” Dia tidak pernah berangkat terlalu jauh untuk pembicaraan ini: Komposer adalah tetangga sebelahnya.

park-chan-wook-slide-9p8e-master675

Lewat “The Handmaiden,” Chan Wook menggunakan seks dengan kekuatan yang sama seperti dia pernah gunakan dalam kekerasan. Dia pada awalnya tertarik pada erotisme intens “Fingersmith,” tentang seorang penipu lesbian di Inggris era Victoria, dan juga latar pedesaan Inggris, namun untuk adaptasinya, dia malah meletakkan ceritanya pada tahun 1930-an Korea yang sedang diduduki Jepang. Chan Wook tertarik dengan cara simpatisan Jepang percaya bahwa Jepang akan memerintah selamanya, dan berharap bisa menghapus identitas Korea. Hasilnya adalah fiksi sejarah stereoskopis yang mewah tentang perbedaan antara obsesi dan cinta, bahkan karena ini juga merupakan cerita tentang apa artinya menjadi orang Korea, ketika dunia, dan bahkan diri Anda sendiri, mencoba untuk mengambilnya dari Anda. Sookee adalah putri seorang pencuri terkenal, bertekad untuk membuat sebuah rekor yang akan membuat dia bisa meninggalkan Korea dan berkeliling dunia. Dia telah dipekerjakan oleh penipu muda, Tuan Fujiwara, untuk membantunya merayu Nona Hideko, seorang bangsawan muda Jepang yang hidup dalam pingitan paman Kouzouki, yang berniat untuk menikahi dia saat dia sudah cukup umur dan mewarisi kekayaannya yang besar. . Sookee akan menjadi pembantu baru Hideko, dan memenuhi tugasnya dari dalam wilayah intim dari kepercayaan nyonya barunya. Tapi saat Sookee pertama kali bertemu Hideko, berlari ke sampingnya setelah dia berteriak minta tolong, dia langsung tertarik padanya, dan segera jatuh cinta padanya. Film ini berasal dari sana dalam serangkaian pembalikan yang menakjubkan, karena karakter sentral mengubah dirinya lagi dan lagi.

Hideko adalah, tidak diketahui oleh Sookee, bukan pewaris tak berdosa yang dipikirkan Sookee, tapi bintang dari kabaret erotis pamannya, muncul dalam pembacaan erotika yang dipentaskan untuk teman-teman orang Jepang dan simpatisan, yang duduk berpakaian putih di dalam perpustakaannya yang elegan, dengan rasa kagum pada Hideko saat dia tampil. Pamannya begitu terpikat pada budaya Jepang sehingga dia menjadi warga negara Jepang yang dinaturalisasi. Dalam film tersebut, bahasa Jepang diucapkan untuk menegaskan kekuatan budaya atau hak istimewa; Bahasa Korea diucapkan sebagai penegasan keintiman dan persahabatan. Salah satu adegan favorit Chan Wook dalam film ini adalah ketika Hideko memanjat pohon ceri untuk menggantung dirinya sendiri. Dia membiarkan dirinya jatuh, siap untuk mati, tapi hanya jatuh sedikit: Saat kamera menyorot ke bawah, Anda melihat Sookee, menantang, memegangi kaki Hideko, menangis karena cinta untuknya. Saat Hideko dan Sookee mengakui perasaan sebenarnya mereka satu sama lain, dan para pecinta ini melarikan diri, mereka mulai berbicara bahasa Korea secara pribadi, akhirnya hidup tanpa bahasa Jepang yang sudah berlangsung hampir seluruhnya.

“The Handmaiden” adalah sebuah fenomena sampai-sampai Yongsan CGV, multipleks besar di salah satu mal Seoul yang paling populer, telah mendedikasikan salah satu teaternya untuk menghormati Chan Wook. Teater dibuat sesuai dengan spesifikasi sutradara, dengan sebuah plakat di bagian luar menyerupainya, dan sebuah galeri tempat dia bisa menampilkan foto dan alat peraga dari filmnya, termasuk salah satu koper Nona Hideko, terlihat seolah-olah dia melupakannya di sana. Terletak di dekat salah satu pangkalan militer utama Amerika di Korea Selatan, ini adalah penghargaan yang pantas untuk masa kecil Chan Wook yang menghabiskan banyak waktu menonton film di American Forces Korea Network: sebuah monumen pribadi, namun juga merupakan perayaan budaya sinematik Korea yang pernah dia rindukan, sekarang tumbuh dengan dan di sekitarnya.

park-chan-wook-slide-9cdo-blog427

Sehari setelah kami pertama kali bertemu, Chan Wook menuntunku mengelilingi rumahnya di Heyri, komunitas seniman di Paju. Setiap rumah di sini memiliki tampilan kontemporer yang khas, namun punya Chan Wook, yang dirancang oleh salah satu arsitek paling terkenal di Korea, Kim Young Joon, menonjol. Ini reka rancang rumah tradisional Korea sebagai dua struktur utama, berdampingan, bergabung dengan serangkaian jalan setapak. Satu sisi adalah untuk Chan Wook dan istri dan anak perempuannya, yang lain untuk orang tuanya (yang telah pindah). Ruang nyaman dan hangat bahkan tampak seluruhnya terbuat dari garis penglihatan. Di beberapa tempat, Anda bisa melihat dari satu sisi rumah sampai ke sisi lain. Selain komposernya, tetangganya juga termasuk Seoul Action School yang jadi stuntmen-nya. Dia harus mendorong motor stunt dari jalan saat dia membawa saya melewati kebunnya.

Ruangan tempat Chan Wook menulis skenario sangat kecil, cuma ada lemari yang panjang, dengan sebuah jendela menghadap ke jalan, dilengkapi dengan meja, kursi dan tidak ada ornamen kecuali pada jam Dieter Rams tahun 1970 yang hanya berdetak saat berganti jam. Ini adalah tempat yang tenang, meski kerahasiaannya yang tertutup agak mengingatkan pada salah satu adegan Chan Wook, dari “Oldboy,” di mana orang yang dipenjarakan di tengah-tengah film berkelahi di sepanjang lorong, dari penjaga ke penjaga, melalui lorong yang sesak, dipersenjatai hanya dengan palu.

Dia membawa saya ke sisi lain rumah. Bagian bawah sebagian besar kosong kecuali untuk mesin pelembab. Di lantai atas, dia telah membuat rumah anak-anak. Sebotol Scotch tergeletak di rak buku. Novel grafis, novel genre dan buku bergambar anak-anak ada di sini, dan saya mencari hal-hal yang saya kenali. Saya melihat sebuah buku berjudul “The Leopard,” meskipun nama pengarangnya berbahasa Korea. Saya bertanya kepadanya apakah ini adalah buku yang ditulis pengarang Italia Giuseppe Tomasi di Lampedusa.

“Bukan,” katanya. “Itu Leopard yang lain.” Dia tertawa. Sebagai renungan, ia menambahkan, “‘The Leopard’-nya Visconti adalah film favorit saya.”

park-chan-wook-slide-42ek-master675

Adaptasi tahun 1963 dari novel Lampedusa tahun 1958 menceritakan tentang seorang bangsawan Sisilia pada tahun 1860-an yang status kelasnya dan seluruh jalannya terancam oleh perang sipil. Chan Wook antara merupakan dan bukan pangeran Burt Lancaster yang bermain di film itu, menyaksikan Claudia Cardinale dan Alain Delon mempermainkan pagutan paksa aristokrasi saat kelas menengah naik. Di satu sisi, dia terlalu membumi untuk itu. Di sisi lain, Korea telah berubah banyak dalam masa hidup Chan Wook daripada pada semua sejarah sebelumnya, dan dengan cara yang sama seperti yang berlaku di Italia pada abad ke-19. Ketika saya bertanya kepadanya mengapa film ini favoritnya, dia berkata, “Menjadi tua, tertinggal dalam perubahan zaman yang cepat — ini adalah pengamatan yang paling elegan tentang hal-hal ini.” Dia tidak tampak seperti seseorang yang merana di belakang zaman, tapi saat kita terus berbicara, dia mengejutkan saya seperti pusat karyanya yang tenang, titik tumpu antara tradisi dan eksperimen, kekerasan dan seksualitas yang kuat, dan percintaan yang tinggi.

Tapi perasaan terbesar yang saya dapatkan tentang dia datang di pengakhiran hari kami. Kami berjalan ke kafe terdekat untuk menyelesaikan pembicaraan kami. Pemilik menunjukkan kami ke ruang makan tertutup untuk privasi dan meninggalkan kami dengan es kopi. Saat memasang perekam, Chan Wook berdiri di belakang ruang makan, memandang ke luar jendela dengan lirih dan fokus sehingga aku ingin tahu apa yang dilihatnya. Sembilan kucing berjajar di dek, induk kucing dan anak-anak kucing dalam perawatannya.

Setelah selesai bicara, Chan Wook menuju ke jendela lagi. Seperti inikah dia, pikir saya. Mr Vengeance mencintai kucing. Saya tidak tahu apa artinya — mungkin hanya itu artinya. Dia tidak memotret mereka atau mencoba melakukan sesuatu lebih dari sekedar berseri-seri. Dia berdiri di sana, saya tidak tahu berapa lama. Saya tidak berani mengganggu. Dan akhirnya, akhirnya, dia berpaling dari mereka, dan bersama-sama, kami pergi.

*

Diterjemahkan dari artikel The New York Times berjudul Park Chan-wook, the Man Who Put Korean Cinema on the Map.

Kategori
Movie Enthusiast

7 Film Cinta Pilihan Suka-Suka Aja

film-cinta

Jika seorang yang enggak becus menendang bola boleh jadi komentator sepakbola, berarti enggak masalah dong orang yang payah kisah cintanya berbagi soal film cinta kesukaannya. Tentu, dengan wawasan film seadanya, daftar bikinan saya ini anggap saja kentut tak berbau. Boleh diamini, sangat boleh dilupakan. Dan tentang film cinta, lebih jauh soal cinta sendiri, nampaknya sebutan ini cakupannya luas. Film laga minim cerita pun ada kisah cintanya, meski kacangan. Jadi apa yang saya bicarakan ketika membicarakan film cinta ini? Jenis cinta yang mana? Hehe, mudahnya, anggap saja judulnya hanya sekadar clickbait, atau umpan klik. Katakanlah, kita duduk berdiskusi sampai berbusa-busa dalam satu meja sambil minum-minum, dengan gin dan tonik atau soju atau kopi, bahas soal cinta, dan ini enggak akan mengarah ke mana pun. Apa dengan menonton film-film ini kita bisa memahami cinta lebih baik? Hmm, saya adalah orang yang salah untuk ditanya. Baiklah, berikut filmnya.

Chungking Express (1994) – Wong Kai War

Antara film Hongkong, Taiwan, dan Cina daratan, nampak mirip, tapi secara kualitas, Hongkong terdepan. Film-film Hongkong keluaran 80-90an yang dibintangi Jackie Chan atau Stephen Chow, begitu akrab dan saya gemari saat masih bocah, bahkan sampai hari ini. Biasanya kisahnya soal polisi atau detektif. Ini juga yang diangkat Wong Kar Wai, berfokus pada dua polisi menyedihkan yang habis dicampakkan, dan patah hati berlarut-larut, namun kemudian keduanya jatuh hati pada lain perempuan; yang satu pada wanita misterius yang berbisnis dalam jaringan bawah tanah, satunya lagi jatuh cinta pada pelayan sebuah kios makanan yang pelamun, yang suka mendengar musik keras-keras. Selain Dreams-nya The Cranberries versi bahasa Mandarin (atau Kanton?), menarik mengikuti monolog interior para protagonisnya. “Jika kenangan bisa dikalengkan, apa bakal ada tanggal kadaluarsanya juga?” tanya si Polisi berkode 223 pada dirinya sendiri, “Jika iya, aku ingin bisa bertahan hingga berabad-abad.”

Tony Takitani (2004) – Jun Ichikawa, Haruki Murakami

Kalau saja Norwegian Wood digarap Ichikawa, mungkin enggak akan mengecewakan para fans Murakami sedunia. Andai saja begitu, tapi sayang dia keburu meninggal. Adaptasi dari cerita pendek berjudul Tony Takitani ini berhasil dengan cemerlang. Merayakan kehampaan dengan asyik. Kehampaan Tony Takitani. Karena namanya kebarat-baratan, Tony dijauhi oleh anak-anak lain dan menghabiskan masa kecil yang soliter. Meskipun berbakat sebagai seniman, gambarnya enggak punya rasa, sehingga saat dewasa, ia mengukir karier sebagai ilustrator teknis. Tony jatuh hati pada seorang wanita muda cantik, Eiko Konuma, yang mengunjungi dia di suatu hari untuk tujuan bisnis. Eiko seperti malaikat di kehidupan sehari-hari Tony, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa terhubung dengan dunia luar. Eiko sempurna, namun satu masalah: dia seorang shopaholic, selalu gemes pengen beli pakaian stylish. Filmnya sendiri mengangkat seluruh cerpennya. Tony Takitani, baik cerpen atau film adaptasinya, adalah sebuah puisi enak buat para masokis pecinta kehampaan dan kesendirian.

Wristcutter: A Love Story (2006) – Goran Dukic, Etgar Keret

Dua hari setelah aku bunuh diri aku mendapat pekerjaan di sebuah restoran pizza. Kalimat pembuka cemerlang sebuah cerita karangan Etgar Keret. Dan seperti dalam Kneller’s Happy Camper, sebagai film adaptasi, mengikuti sebagian besar kerangka novela nyeleneh itu. Berlatar di dunia orang mati yang diperuntukan bagi mereka yang bunuh diri, sebuah dunia tanpa senyum, dan membosankan. Sedih karena putus dengan Desiree, Zia menyilet pergelangan tangannya dan kembali hidup di dunia orang mati tadi. Secara kebetulan, Zia mendapat kabar bahwa Desiree bunuh diri juga beberapa bulan setelahnya. Ia melakukan perjalanan dengan Eugene untuk menemukan mantannya itu, dan di tengah perjalanan mereka menumpangkan Mikal, yang ingin protes karena percaya ada kesalahan yang membuat dirinya dihidupkan kembali di sini. Komikal, cerdas dan aneh. Semacam parodi tingkat lanjut bagi drama No Exit-nya Sartre. Cinta akan selalu ada, setelah kamu bunuh dirimu sekalipun .

The Science of Sleep (2006) – Michel Gondry

Dua tahun setelah Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Gondry bikin lagi film dengan tema pikiran bawah sadar, soal mimpi, dan kali ini lebih surealis. Jika yang pertama soal move on, kali ini soal pendekatan. Setelah kematian ayahnya di Meksiko, Stéphane Miroux, seorang pemuda pemalu, setuju untuk datang ke Paris untuk tinggal bersama ibunya yang janda. Dia mendapat pekerjaan yang membosankan di sebuah kantor pembuatan kalender dan jatuh cinta dengan tetangga sebelahnya yang cantik, Stéphanie. Tapi menaklukkan Stephanie bukan perkara mudah dan satu-satunya solusi yang Stephane lakukan adalah melarikan diri ke dunia mimpi. Brilian dan menghibur. Visualnya nyeleneh dan penuh hipnotis. Bernal, sebagai Stephane, begitu menawan dan komikal. Tentu, saya begitu bersimpati pada Stephane. Laju film ini indah. “Otak adalah hal paling kompleks di alam semesta,” ungkap Stephane, “dan itu tepat di belakang hidung!”

Babel (2006) – Alejandro González Iñárritu

Empat cerita saling terhubung berkat sebuah tembakan. Cerita yang kompleks dan tragis dari kehidupan umat manusia dari berbagai belahan dunia, dan bahwa kita sebenarnya enggak beda-beda amat. Di Maroko, pasangan suami istri yang berselisih paham sedang berlibur untuk mencoba mengatasi perbedaan mereka. Sementara itu, seorang gembala Maroko membeli senapan untuk anak-anaknya agar mereka dapat mengusir serigala jauh-jauh dari kawanan gembalanya. Seorang gadis di Jepang berurusan dengan penolakan, kematian ibunya, hubungan dengan ayahnya yang berjarak, kesadaran diri, dan cacat fisiknya beserta isu-isu lainnya berkaitan dengan kehidupan modern di kota metropolitan bernama Tokyo. Di sisi lainnya, pengasuh asal Meksiko yang harus mengurus dua anak dari pasangan suami istri yang sedang berlibur tadi, memutuskan membawa anak asuhannya itu ke pernikahan anaknya yang berlangsung di Meksiko, untuk kemudian hanya mendatangkan masalah saat perjalanan pulang. Dikombinasikan, keempatnya memberikan cerita yang kuat dan menampilkan bahwa kita, meski tampaknya acak, dengan kultur berbeda, di seluruh dunia ini saling terhubung.

A Separation (2011) – Asghar Farhadi

Berfokus pada pasangan kelas menengah Iran yang hendak bercerai, dan konflik yang timbul ketika sang suami menyewa pengasuh dari kelas bawah untuk mengurus ayahnya yang sudah tua dan menderita Alzheimer. Simin menggugat cerai suaminya Nader dengan harapan bahwa ia dapat membuat kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka di luar negeri. Nader mempekerjakan Razieh, seorang wanita yang sudah menikah, yang menyembunyikan kehamilannya. Suatu hari, karena marah, Nader mendorong Razieh sampai dia keguguran, konflik pun makin mencuat. Seperti kata Leo Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dengan semangat besar dan kehalusan, Farhadi mengubah pertengkaran tak membahagiakan ini menjadi tragedi kontemporer memikat.

The Handmaiden (2016) – Park Chan-Wook

“Tahu apa kecoa soal cinta?” tanya Hideko mengejek lelaki Korea yang telah jadi suaminya, atau suami-suamiannya, yang dulu menjanjikan pernikahannya, atau nikah-nikahannya, bakal jadi pembebasan bukan penjara. Berlatar di Korea pada 1930an saat masa kolonial Jepang, film ini merupakan fantasi erotis tentang seorang ahli waris, pamannya yang sadis juga cabul karena doyan baca Marquis de Sade dan buku erotis lainnya, pembantu setianya yang sebenarnya cuma pura-pura jadi pembantu dan sang lelaki penipu ulung yang mengejar kekayaannya. Ah, saya enggak akan membocorkan ceritanya, yang pasti penuh tipu-tipu di film ini. Selain Train to Busan, di tahun 2016, film arahan Park Chan-Wook ini banyak menyedot perhatian. Inspirasi film ini sendiri adalah dari novel Sarah Waters, Fingersmith, tentang romansa thriller lesbian pada era Victoria. Sinematografinya ciamik, dan adegan ranjangnya sungguh bajingan.

 

Daftar macam apaan ini? Kok enggak ada 500 Days of Summer atau 5 Centimeters per Seconds?  Mana film ini? Mana film bikinan si itu? Film Indonesia enggak ada, nih? Bollywood mana? Cinta apaan, sih? Hehe. Bisa saja saya bikin daftar panjang sampai 100, tapi tetap ada banyak film yang belum saya tonton, dan akan ada banyak pula bermunculan film-film lain. Semoga di masa mendatang, ketika saya lebih arif, dan enggak terlalu malas, mungkin akan saya bikin daftar lainnya. Bagi yang merasa kecewa, silahkan bikin daftar sendiri, kasih saya rekomendasi film yang bagus, dan bagi yang berminat menonton film-film di atas, berterimakasihlah pada internet karena memungkinkan adanya situs berbagi.