Kategori
Non Fakta

Ayam dan Penari, Yasunari Kawabata

ayana jkt48

Seorang penari mengepit seekor ayam – meskipun tengah malam si penari niscaya tidak mau. Bukan ia sendiri yang memeliharanya. Ibunya yang memelihara ayam itu. Jika seandainya ia menjadi penari yang terkemuka mungkin ibunya takkan mau lagi memelihara ayam.

*

“Kami akan bersenam telanjang di atas atap rumah.”

Mendengar itu ibunya terkejut.

“Bukan hanya satu-dua orang. Empat atau lima puluh orang berbaris dan bersenam seperti para pelajar wanita. Walaupun telanjang, tapi hanya kaki saja yang telanjang.”

Kategori
Non Fakta

Penari Izu, Yasunari Kawabata [3/3]

penari izu yasunari kawabata

5

Anak wayang itu masing-masing membawa barang-barang yang mereka bawa ketika melalui Puncak Amagi. Dalam pelukan tangan si ibu anak anjingnya meletakkan kaki depan, nampak seperti sudah biasa bepergian. Setelah melalui Yugano kami memasuki gunung. Matahari pagi di atas laut menghangatkan punggung gunung itu. Kami memandang ke arah matahari pagi itu. Di muara Kawazu terbentang terang pantai Kawazu.

“Itu ‘kan pulau Oshima!”

“Itu kelihatan sebesar itu, bukan? Silakan datang, ya,” kata si penari.

Mungkin langit musim gugur ini terlalu cerah, sehingga laut di bawah matahari kelihatan agak kabur seperti musim bunga. Dari sini kami harus berjalan kaki menempuh kira-kira dua puluh kilometer sampai di Shimoda. Untuk sementara laut kadang-kadang nampak, kadang-kadang terhalang. Chiyoko mulai bernyanyi dengan santainya.

Di tengah jalan ketika ditanyai apakah akan mengambil jalan pintas yang kira-kira dua kilometer lebih pendek menerobos gunung ataukah jalan raya yang lurus dan menyenangkan ditempuh, aku memang memilih jalan pintas.

Jalan itu sangat curam, dirimbuni pohon-pohonan, sehingga kami bisa terpeleset pada tumpukan dedaunan yang membusuk. Karena aku terengah-engah, malahan kupercepat langkah sambil menangkupkan telapak tangan di atas lutut. Dengan segera rombongan itu tertinggal, dan hanya suara mereka saja yang terdengar dari antara pohon-pohonan. Hanya si penari yang  tetap menyusulku dengan langkah-langkah yang pendek dan cepat sambil mengangkat ujung bawah kimononya. Dia berjalan kira-kira dua meter di belakangku dan dia tak mau memperpendek atau memperpanjang jarak itu. Ketika  aku menoleh dan menyapanya, dia rupanya terkejut dan sambil tersenyum menjawab. Ketika ia  menyapaku, kutunggu supaya ia dapat mengejarku, tetapi ia juga berhenti berjalan dan tidak mau melangkah sampai aku berjalan lagi. Ketika jalan kian curam dan berliku-liku, kupercepat lagi langkahku, si penari terus juga mengikutiku dengan jarak yang tetap dua meter di belakangku. Gunung tetap tenang. Anggota rombongan yang lain jauh tertinggal di belakang sehingga suaranya pun tidak kedengaran.

“Rumah Tuan di mana di Tokyo?”

“Ya, aku tinggal di asrama sekolah.”

“Saya juga tahu Tokyo, karena saya pernah menari di sana waktu musim sakura berkembang. Waktu itu saya masih kecil, sehingga tidak ingat apa-apa lagi.”

Lalu si penari bertanya juga antara sebentar:

“Apa ayah Tuan masih ada?”

“Pernahkah Tuan ke Kofu?”

Diceritakannya pula tentang keinginannya melihat film di Shimoda, tentang bayi yang meninggal itu, dan tentang yang lain-lain.

Kami tiba di puncak gunung. Si penari meletakkan taiko di atas bangku di antara rerumputan yang sudah menguning lalu disapunya keringat dengan saputangan. Dan ia mencoba mengibaskan debu di kakinya tapi tiba-tiba berjongkok di dekat kakiku mengibaskan debu pada ujung bawah hakama yang kupakai. Tapi karena aku dengan cepat menarik diri, si penari terjatuh ke tanah di atas lututnya. Ia tetap sambil berjongkok mengitariku mengebas-ngebas debu, lalu ia menurunkan ujung kimono yang tadi diangkatnya itu, dan berkata kepadaku yang berdiri sambil bernafas megap-megap,

“Silakan duduk.”

Tepat di samping  bangku itu hinggap sekawanan burung kecil. Begitu tenang di sekitar itu, sehingga kedengaran suara daun kering gemersik pada ranting yang dihinggapi burung-burung itu.

“Mengapa Tuan berjalan begitu cepat?”

Rupanya si penari kegerahan. Ketika kuketuk taikonya dengan ujung jariku bem-bem-bem, burung-burung itu lari terbang.

“Aku ingin minum.”

“Saya pergi mencari air.”

Tak lama kemudian si penari kembali dengan tangan hampa dari balik pohon-pohonan.

“Apa yang kaulakukan selama di Oshima?”

Lalu si penari mulai bercerita tentang hal yang tak dapat kuterka sambil menyebut nama dua tiga orang wanita. Rupanya ceritanya bukan tentang Oshima melainkan tentang Kofu. Agaknya tentang teman-temannya di Sekolah Dasar yang sempat diikutinya sampai kelas II saja. Diceritakannya hal-hal dari masa itu sesuai dengan yang muncul dalam ingatannya.

Kami menunggu kira-kira sepuluh menit, barulah tiba tiga orang muda di puncak gunung itu. Si ibu baru sampai sepuluh menit lebih kemudian.

Ketika turun aku bersama Eikichi sengaja berangkat lebih lambat sambil bercakap-cakap. Ketika kami baru berjalan kira-kira dua ratus meter kembalilah si penari berlari dari bawah.

“Ada mataair di bawah. Datanglah cepat-cepat, karena kami tunggu tanpa meminumnya lebih dahulu.”

Demi mendengar ada air, aku pun berlari. Dari celah-celah batu gemercik air jernih mengalir. Di sekitarnya berdiri wanita-wanita itu.

“Silakan Tuan minum dulu. Sekali kami memasukkan tangan ke dalamnya akan menjadi keruh dan kami kira airnya tidak bersih lagi kalau sudah diminum oleh wanita,” kata si ibu.

Aku menyiduk air dingin itu dan minum. Wanita-wanita itu enggan meninggalkan tempat itu. Mereka menyeka keringatnya dengna handuk yang dicelupkan ke dalam air itu yang kemudian diperasnya.

Ketika kami tiba di jalan Shimoda setelah turun dari gunung itu kelihatan tidak sedikit asap orang yang sedang membuat arang. Kami beristirahat sambil duduk di atas balok-balok kayu di tepi jalan. Si penari berjongkok di jalan dan menyisir bulu anak anjing yang panjang dan tebal dengan sisir yang berwarna merah muda.

“Bisa patah gigi sisir itu!” kata si ibu memperingatkan.

“Tidak apa-apa. Nanti saya beli yang baru di Shimoda.”

Karena sejak di Yugano aku hendak diberi sisir yang biasanya ditusukkan di bagian depan rambutnya itu, maka kupikir tidaklah patut sisir itu dipakai menyisir anjing.

Melihat setumpuk bambu yang terletak di seberang jalan aku dan Eikichi berangkat lebih dulu sambil berkata, itu cocok buat tongkat. Si penari berlari menyusul kami. Ia membawa sepotong bambu besar yang lebih tinggi dari badannya.

“Untuk apa itu?” tanya Eikichi. Lalu ia nampak bimbang, dan disodorkannya bambu itu kepadaku.

“Ini saya berikan kepada Tuan sebagai tongkat. Saya ambil yang paling besar.”

“Itu tidak boleh. Yang besar mudah diketahui bahwa dicuri dan tidak baik kalau dilihat orang. Cepat kembalikan.”

Si penari kembali ke tumpukan bambu dan datang lagi berlari. Kali ini diberikannya bambu sebesar jari tengah kepadaku. Lalu ia terjatuh menyandarkan punggungnya pada pematang sawah dengan nafas terengah-engah menunggu kedatangan wanita-wanita yang lain.

Aku dan Eikichi selalu berjalan kira-kira sepuluh meter lebih dahulu.

“Tidak apa-apa kalau dicabut dan diganti dengan gigi emas.” Suara si penari kebetulan saja tertangkap oleh telingaku lalu aku menoleh dan melihat si penari berjalan berdampingan dengan Chiyoko, sedang si ibu dan Yuriko berjalan sedikit di belakang. Rupanya Chiyoko tidak tahu bahwa aku melihat kepadanya dan berkata:

“Ya betul. Bagaimana memberitahu dia, ya.”

Rupanya mereka bercerita tentang aku. Barangkali Chiyoko berbicara tentang gigiku yang tidak rapi teratur, maka si penari sampai membicarakan gigi emas itu. Rupanya mereka berbicara tentang wajahku tapi karena aku merasa begitu akrab dengan mereka, aku tidak merasa tersinggung ataupun ingin memasang telinga. Untuk beberapa lama mereka berbicara dengan suara rendah dan kemudian terdengar si penari berkata:

“Dia orang baik.”

“Ya betul. Rupanya dia orang baik.”

“Betul dia orang baik. Orang baik betul-betul baik, ya.”

Ucapannya itu bernada sederhana dan terus terang. Suara polos seorang anak-anak yang melontarkan pikirannya. Aku sendiri secara terus terang bisa mengatakan bahwa aku orang baik. Aku mengangkat mata dengan perasaan senang dan memandang gunung-gunung di sekitarku. Samar-samar ada rasa sakit di belakang kelopak mataku. Aku yang sudah berumur dua puluh tahun, setelah merenung dalam-dalam kalau-kalau tabiatku menjadi tidak lurus lagi terpengaruh kemurungan yang menekan, melakukan perjalanan ke Izu. Karena itu aku sangat berterima kasih kalau dipandang sebagai orang baik dalam arti yang umum berlaku di masyarakat. Gunung-gunung mulai kelihatan terang, artinya kami sudah dekat ke laut Shimoda. Aku menebas ujung-ujung rumput musim rontok dengan mengayunkan tongkat bambu.

Di tengah jalan kami lihat di tempat masuk dusun-dusun ada terpancang papan pengumuman:

Dilarang Masuk Kampung Ini Pengemis dan Anak Wayang

6

Rumah penginapan sederhana Koshuya segera kami dapati setelah masuk ke Shimoda dari arah utara. Aku masuk ke bilik tingkat dua serupa loteng mengikuti rombongan anak wayang itu. Tak ada langit-langit. Kalau duduk di samping jendela yang menghadapi jalan, kepala kami menyundul bagian bawah atap.

“Apa bahumu tidak sakit?” begitu si ibu berkali-kali bertanya kepada si penari. “Apa tanganmu tidak sakit?”

Si penari dengan indahnya meniru dengan indahnya cara memukul taiko.

“Tidak. Saya bisa main. Saya bisa main.”

“Wah, mujur sekali.”

Aku mencoba menjinjing taiko itu.

“Ini cukup berat, ya.”

“Itu lebih berat daripada yang Tuan duga. Lebih berat daripada tas Tuan,” kata si penari sambil tertawa.

Anak-anak wayang itu bersalaman dengan riuhnya dengan para tamu yang lain di rumah penginapan itu. Para tamu itu semuanya juga orang seperti anak-anak wayang atau pedagang keliling. Rupanya pelabuhan Shimoda itu sarang gelandangan. Si penari memberikan mata uang tembaga kepada anak-anak rumah penginapan itu yang berlari-lari anjing masuk ke biliknya. Ketika aku mau meninggalkan Koshuya, si penari lebih dahulu ke genkan, dan sambil mengatur getaku, dia bergumam seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri:

“Harap Tuan membawa saya menonton filem.”

Diantar sampai di tengah jalan oleh seorang laki-laki yang mukanya seperti bajingan, aku dan Eikichi masuk rumah penginapan yang konon dimiliki oleh bekas walikota. Setelah mandi aku bersama Eikichi makan siang dengan lauk ikan segar.

“Dengan ini belilah bunga dan sajikan pada selamatan besok,” kataku dan memberikan bungkusan uang sedikit kepada Eikichi sebelum kembali. Aku mesti pulang ke Tokyo dengan kapal besok pagi. Sudah tipis uang perjalananku. Karena aku mengatakan bahwa sebabnya urusan sekolah, mereka pun tidak memaksaku menunda kepulanganku.

Belum lagi tiga jam sehabis makan siang, aku makan malam. Dan aku seorang diri menyeberang jembatan ke sebelah utara Shimoda. Aku naik gunung Shimoda Fuji dan memandang ke arah pelabuhan. Di tengah perjalanan kembali aku singgah di Koshuya dan kudapati mereka sedang makan dengan torinabe.

“Bagaimana kalau Tuan makan walau hanya sesuap? Walaupun tidak bersih karena telah dijamah oleh sumpit wanita. Barangkali akan dapat menjadi buah pembicaraan yang akan ditertawakan kemudian hari,” si ibu berkata sambil mengeluarkan cawan dan sumpit dari dalam yanagigori dan disuruhnya Yuriko pergi mencucinya.

Sekali lagi aku diminta supaya menunda keberangkatanku sehari lagi karena keesokan harinya hari keempat puluh sembilan kematian bayi itu, tapi aku tidak menerima usul itu, dengan alasan ada urusan sekolah. Si ibu berkata berulang kali:

“Kalau begitu nanti pada musim dingin kami semua pergi menjemput Tuan sampai kapal. Silakan beritahu tanggal kedatangan Tuan. Kami menanti-nanti Tuan. Kami tak mau Tuan menginap di rumah penginapan, kami pasti menjemput Tuan sampai kapal.”

Ketika dalam bilik hanya ada Chiyoko dan Yuriko saja, aku mengajak mereka menonton filem. Tapi Chiyoko menekan perutnya.

“Saya kurang enak badan, saya lemah karena berjalan begitu jauh,” katanya dan merumukkan tubuhnya dengan wajah yang pucat-lesi. Yuriko kaku menundukkan kepala. Si penari bermain-main dengan anak-anak rumah penginapan di ruang bawah. Ketika dilihatnya aku ia merengek sambil memeluk tubuh si ibu supaya diizinkan pergi menonton filem, tapi seolah-olah kehilangan muka ia kemudian dengan lengah datang kepadaku, mengatur getaku.

“Bagaimana ini? Apa salahnya kalau sendiri saja dibawa menonton?” kata Eikichi, tapi rupanya si ibu tidak mengabulkan juga. Aku sungguh merasa heran, mengapa ia tidak boleh seorang diri. Ketika aku keluar dari genkan, si penari sedang mengelus-elus kepala anak anjing. Sikapnya betul-betul pura-pura tidak mempedulikan aku sehingga aku tidak berani menyapanya. Rupanya ia tak berdaya lagi untuk menengadahkan mukanya dan melihat padaku.

Aku menonton filem seorang diri. Seorang wanita membacakan keterangan tentang filem di bawah lampu kecil. Segera aku keluar dan pulang ke rumah penginapan. Sambil bertopang dagu di ambang jendela, lama juga aku memandang kota malam. Kota yang gelap. Terasa selalu terdengar samar-samar bunyi pukulan taiko di kejauhan. Entah apa sebabnya, air mataku bercucuran.

7

Pada pagi keberangkatanku, ketika jam tujuh aku sedang makan, Eikichi memanggilku dari jalan. Ia mengenakan haori hitam yang memakai tanda silsilah keluarga. Rupanya ia berpakaian resmi untuk melepasku. Tidak nampak para wanita. Seketika itu juga aku merasa lengang. Eikichi masuk ke bilik dan berkata:

“Semuanya juga ingin melepas Tuan, tetapi tadi malam mereka tidur larut sekali dan tidak bisa bangun pagi-pagi. Maafkan mereka tidak bisa mengantar. Ada pesan dari mereka, jangan lupa Tuan datang berkunjung pada musim dingin karena mereka tetap menunggu Tuan.”

Sudah dingin angin pagi musim gugur dalam kota. Di tengah jalan Eikichi berbaik hati membelikan aku empat bungkus rokok Shikishima, kesemak dan obat penyegar mulut Kaoru.

“Nama adik saya juga Kaoru,” kata Eikichi sambil tersenyum samar. “Di dalam kapal, jeruk kurang baik dimakan, tapi kesemak bisa dimakan sebanyak-banyaknya. Itu bisa juga mengobati mabuk laut.”

“Aku berikan ini padamu.”

Aku membuka topi pemburuku dan kukenakan di atas kepalanya. Lalu kukeluarkan dari dalam tasku, topi seragam sekolahku dan sambil meratakan kerut-likunya kami berdua tertawa-tawa.

Ketika kami mendekati tempat naik kapal, sosok tubuh si penari yang berjongkok di tepi laut menyerbu ke dalam hatiku. Ia tetap tidak bergerak sampai kami tiba di dekatnya. Lalu dia menundukkan kepala diam-diam. Melihat ia masih bersolek seperti ketika ia mengadakan pertunjukan tadi malam, hatiku lebih tersentuh. Warna merah di ekor matanya menimbulkan kesan lebih gagah kekanak-kanakan pada wajahnya yang seolah-olah marah. Lalu Eikichi berkata:

“Yang lain juga datang?”

Si penari menggelengkan kepala.

“Semuanya masih tidur?”

Si penari mengangguk.

Selama Eikichi pergi untuk membeli karcis kapal dan karcis bargas aku berkali-kali mencoba menyapa si penari, tapi ia tidak mengeluarkan sepatah kata juga sambil tetap memandangi tempat pertemuan terusan kecil bergabung dengan laut. Sebelum perkataanku selesai, ia sering hanya mengangguk-angguk.

Justru ketika itu datang mendekati seorang laki-laki yang rupanya seperti pekerja kasar dan berkata:

“Nenek, Tuan ini mungkin baik. Tuan mahasiswa mau pergi ke Tokyo, bukan? Saya kira saya mempercayai Tuan. Kalau Tuan tak keberatan, dapatkah saya menitipkan nenek ini kepada Tuan? Kasihan nenek ini. Anak laki-lakinya dulu bekerja di tambang perak di Rendaiji, tapi karena terjangkit flu baru-baru ini, dia beserta istrinya meninggal. Hanya tinggal cucunya sebesar-besar ini tiga orang. Apa boleh buat, kami sama-sama berunding untuk mengembalikan nenek ini ke kampung halamannya. Itu di Mito. Tapi nenek ini tak tahu apa-apa jadi kalau nanti sampai di Reiganjima, harap Tuan menaikkan mereka ke dalam kereta listrik yang menuju ke Ueno. Kami kuatir ini akan sangat menyusahkan Tuan, tapi kami dengan sungguh-sungguh meminta Tuan dengan sepenuh hati. Kalau Tuan melihat keadaan mereka seperti itu, tentu Tuan juga akan merasa kasihan kepada mereka.”

Pada punggung si nenek yang berdiri terbengong itu, terikat seorang bayi yang masih menyusu. Dua orang anak perempuan yang masing-masing memegang tangan si nenek sebelah kiri dan kanan, yang sulung kira-kira berumur lima tahun, yang kedua kira-kira tiga tahun. Dari bungkusan furoshiki yang kotor itu kelihatan nigirimeshi dan umeboshi. Lima-enam orang pekerja tambang  sedang membujuk si nenek. Aku dengna segala senang hati menerima permintaan mereka.

“Kami betul-betul minta tolong.”

“Kami sangat berterima kasih. Sebetulnya kami yang mesti mengantar nenek ini sampai Mito, tapi maklumlah, itu tidak bisa,” begitulah para pekerja tambang itu memberi salam kepadaku.

Bargas itu keras terayun-ayun. Si penari tetap mengatupkan mulut dan tetap memandang satu arah. Ketika aku mau memegang tangga tali dan menoleh kepadanya, si penari rupanya mau mengucapkan selamat jalan tapi itupun tak jadi dan sekali lagi ia hanya mengangguk saja. Bargas itu berangkat kembali. Eikichi melambai-lambaikan topi pemburu yang kuberikan padanya tadi. Setelah bargas itu agak jauh, barulah si penari melambai-lambaikan sesuatu yang berwarna putih.

Kapal api keluar dari laut Shimoda, sampai waktu itu aku tetap menatap ke arah pulau Oshima di tengah laut sambil bersandar pada langkan kapal. Terasa padaku perpisahanku dengan si penari seolah terjadi jauh di masa silam. Ketika aku mengintip bilik kapal ingin mengetahui bagaimana keadaan si nenek, kulihat di sekitarnya duduk orang-orang yang membujuknya. Baru aku merasa tenteram dan masuk ke dalam bilik di sebelahnya. Tinggi sekali ombak di Sagaminada. Bila aku duduk kadang-kadang oleng ke kiri atau ke kanan. Anak kapal berkeliling membawa kanadarai. Aku berbaring dengan tasku sebagai bantal. Kepalaku kosong dan waktu berlalu tak kurasa. Air mata bercucuran di atas tasku. Karena pipiku terasa dingin, aku membalikkan tas itu. Si sampingku tidur seorang anak laki-laki. Ia anak pemilik pabrik di Kawazu dan mau ke Tokyo bersiap-siap untuk mengikuti ujian masuk sekolah, karena itulah agaknya ia menyukaiku yang mengenakan topi seragam SMA Daiichi. Setelah kami bercakap-cakap sebentar, ia berkata:

“Apakah Tuan mendapat kemalangan?”

“Oh tidak. Saya baru saja berpisah dengan seseorang.”

Aku berkata begitu terus terang, tak peduli apapun juga, walau dilihat orang aku menangis. Aku tidak berpikir apa-apa. Hanya terasa seperti tidur tenteram dalam kepuasan yang menyegarkan.

Tanpa setahuku laut sudah gelap dan kelihatan cahaya lampu kota Ajiro dan Atami. Kulitku terasa dingin, dan perutku lapar. Anak laki-laki itu membuka bungkusan takenokawa. Aku makan sushi yang dibungkus dengan rumput laut seakan aku lupa bahwa makanan itu milik orang lain. Lalu aku menyerbu masuk ke dalam mantel anak itu. Aku merasakan kehampaan yang indah, sehingga dapat begitu saja menerima kebaikan orang lain. Aku merasa sewajarnya saja bahwa keesokan paginya aku mengantar nenek itu sampai ke stasiun Ueno dan membelikannya karcis ke Mito. Terasa olehku segala sesuatu berpadu menjadi satu.

Lampu bilik kapal dimatikan. Semakin kuat bau laut dan ikan mentah yang termuat dalam kapal. Dalam kegelapan aku merasakan hangatnya tubuh anak itu dan kubiarkan air mataku bercucuran. Aku merasa kenikmatan yang manis seolah-olah otakku menjadi air jernih yang terus merembes keluar sehingga tidak meninggalkan apa-apa lagi.

1926

*****

yasunari kawabata

Yasunari Kawabata (川端 康成, lahir di Osaka, 14 Juni 1899 – meninggal di Zushi, Kanagawa, 16 April 1972) adalah seorang pengarang Jepang pertama yang memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1968. Karya-karyanya hingga kini masih dibaca bahkan di dunia internasional.

Kawabata menjadi terkenal lewat cerpen Penari Izu yang ditulis pada 1926, karena kisahnya yang mengeksplorasi erotisisme cinta anak muda ini disenangi pembaca. Kawabata memakai tokoh yang melankolis dengan menyelipkan kepahitan dalam kemanisan ceritanya. Kebanyakan karyanya di kemudian hari menjelajahi tema-tema seperti ini.

Cerita Penari Izu ini merupakan terjemahan langsung dari Bahasa Jepang oleh Ajip Rosidi dan Matsuoka Kunio yang diterbitkan dalam kumcer Penari-Penari Jepang.

Kategori
Non Fakta

Penari Izu, Yasunari Kawabata [2/3]

penari izu yasunari kawabata

3

Keesokan paginya lewat jam sembilan si laki-laki mengunjungiku di rumah penginapanku. Aku yang ketika itu baru bangun mengajaknya pergi mandi. Hari itu cerah dan agak hangat seperti patutnya di Izu Selatan. Anak sungai yang airnya naik di bawah tempat mandi tertimpa sinar matahari yang hangat. Terasa olehku rasa risau tadi malam bagaikan mimpi belaka. Dan aku menyapa si laki-laki itu,

“Rupanya sangat ramai sampai larut tadi malam, ya.”

“O, biasa saja. Kedengaran?”

“Memang kedengaran.”

“Mereka orang sini. Orang setempat biasanya terlalu ribut, jadi tidak menyenangkan.”

Karena caranya berkata seolah-olah tak mempedulikan hal seperti itu, aku pun terdiam.

“Di tempat mandi seberang sana ada perempuan-perempuan rombongan saya, lihat, mereka tertawa-tawa, mungkin kepada kita.”

Mengikuti arah telunjuknya aku pun melihat ke tempat mandi umum di seberang sungai. Dan di balik uap samar-samar kelihatan tujuh atau delapan sosok tubuh telanjang.

Dari dalam tempat mandi yang agak gelap tiba-tiba seorang wanita keluar lari bertelanjang dan berdiri di tempat membuka pakaian seakan-akan mau terjun ke tepi sungai dan berteriak-teriak sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia telanjang bulat. Handuk pun tidak dipakainya. Itulah si penari. Waktu aku memandang tubuhnya yang telanjang yang putih dengan kaki yang ruasnya panjang seperti pohon kiri, aku merasa dalam hatiku mengalir mataair yang jernih, dan menghembuskan nafas panjang dan tertawa lembut. Ternyata ia masih anak-anak. Begitu masih anak-anak, sehingga berani melompat ke luar ke sinar matahari dan berdiri atas ujung kaki memanjangkan tubuhnya karena gembira melihat kami. Karena aku segar dan gembira, aku terus tertawa lembut. Otakku menjadi jernih. Aku terus tersenyum.

Karena rambutnya sangat lebat, aku semula mengira si penari berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. Apalagi ia berpakaian serupa gadis remaja, aku ternyata salah duga sama sekali.

Setelah aku kembali ke bilik bersama si laki-laki, tak lama kemudian gadis yang paling tua datang ke halaman rumah penginapanku dan melihat-lihat kebun bunga seruni. Si penari datang meniti jembatan sampai di tengah.

Perempuan empat puluhan keluar dari tempat mandi umum dan memandang ke arah dua gadis itu. Si penari mengangkat bahu seolah-olah berkata ia mau pulang karena mungkin dimarahi dan tersenyum, kemudian kembali dengan langkah cepat. Perempuan empat puluhan tiba di jembatan dan berseru kepadaku,

“Silakan datang main-main.”

“Silakan datang main-main.”

Gadis yang paling tua juga berkata begitu dan kesemua perempuan itu kembali ke rumah penginapannya. Si laki-laki terus berbicara denganku sampai petang hari.

Pada malam itu pada waktu aku bermain go dengan seorang pedagang kertas borongan, tiba-tiba saja kedengaran bunyi taiko dari halam rumah penginapanku. Aku mencoba berdiri.

“Ah, itu datang rombongan anak wayang.”

“Oh, yang begitu sama sekali tak menarik hati. Nah, sekarang giliran Tuan. Tadi saya menaruh di sini,” katanya. Ia asyik bermain go sambil mengetuk-ngetuk papan go itu. Sementara aku merasa tidak tenteram, rupanya rombongan penari itu hendak pulang. Si laki-laki meneriakkan salam dari halaman,

“Selamat malam!”

Aku keluar ke lorong dalam penginapan dan mengajak mereka masuk. Sebentar mereka berbisik-bisik, lalu masuk ke pintu depan. Di belakang si laki-laki ketiga gadis itu seorang demi seorang memberi hormat sambil duduk bersimpuh membungkukkan kepala seperti geisha.

“Selamat malam.”

Di atas papan go, aku mulai keteter.

“Kalau begini, apa boleh buat, saya tak bisa apa-apa lagi. Menyerah.”

“Masa begitu, saya yang terdesak. Bagaimanapun ini pertandingan yang sangat seru.”

Pedagang itu melihat kepada rombongan itu pun tidak. Dan setelah menghitung mata papan go satu demi satu, ia lebih hati-hati lagi menaruh batunya. Perempuan-perempuan itu setelah menaruh shamisen dan taiko di sudut, lalu mulai bermain gomoku narabe di atas papan catur. Sementara itu aku kalah dalam pertandingan go yang sebetulnya dapat kumenangkan. Tapi pedagang itu berkali-kali mendesakku.

“Bagaimana sekali lagi? Saya minta Tuan bermain sekali lagi.”

Tapi aku tersenyum saja, yang tak mengandung arti apa-apa. Akhirnya ia pun kehilangan semangatnya dan berdiri.

Gadis-gadis itu datang mendekati papan go.

“Malam ini masih mau mengadakan pertunjukan?”

“Mau juga,” kata laki-laki itu dan melihat kepada gadis-gadis itu, “Bagaimana ya, malam ini kita berhenti saja dan duduk-duduk di sini.”

“Setuju! Senang sekali!”

“Apa tidak akan dimarahi?”

“Tidak apa. Kalaupun berkeliling, pasti takkan ada lagi orang yang akan menanggap.”

Lalu mereka bermain gomoku narabe dan lain-lain sampai lewat jam dua belas, baru pulang.

Setelah mereka pergi, aku sama sekali tak bisa tidur, lalu keluar ke lorong dan memanggil si pedagang kertas,

“Pak! Pak!”

“Yaaa!” sahutan penuh semangat si pedagang yang usianya hampir enam puluh tahun itu sambil melompat dari biliknya.

“Malam ini kita bermain semalam suntuk! Sampai pagi!”

Aku juga merasa sangat bersemangat untuk bertanding.

4

Kami berjanji akan berangkat meninggalkan Yugano jam delapan pagi keesokan harinya. Aku mengenakan topi pemburu yang kubeli di toko di samping tempat mandi umum, dan kusembunyikan topi seragam sekolahku dalam tas. Aku menuju ke rumah penginapan mereka yang letaknya di pinggir jalan besar. Shoji di tingkat dua semuanya terbuka, jadi tanpa berpikir panjang aku naik ke sana; tapi kudapati anggota rombongan itu masih dalam futon. Aku merasa kikuk dan-terpaku berdiri di lorong.

Dalam futon dekat kakiku si penari merah padam menutupi mukanya dengan kedua belah tangan. Ia tidur bersama dengan gadis yang pertengahan dalam satu futon. Masih tinggal bedaknya yang tebal semalam. Dan warna merah pada bibir dan ekor matanya meleleh sedikit. Rupa si penari itu tidur yang sangat memilukan menyayat hatiku. Ia membalik seakan-akan tersilau. Dan sambil menutupi muka dengan kedua belah tangannya ia menyelinap keluar dari futon dan duduk di lorong.

“Banyak terima kasih atas kebaikan Tuan tadi malam,” demikian ucapan salamnya yang lembut sehingga aku yang masih berdiri tergugup.

Si laki-laki tidur bersama dengan gadis yang paling tua di dalam sebuah futon. Sebelumnya aku tak pernah tahu bahwa mereka suami-isteri.

“Saya minta beribu-ribu maaf. Sebetulnya kami merencanakan untuk berangkat hari ini, tapi rupanya malam ini akan ditanggap, jadi kami menunda keberangkatan sehari lagi. Kalau Tuan ingin benar berangkat hari ini, kita nanti bisa bertemu lagi di Shimoda. Karena kami rencananya mau menginap di rumah penginapan Koshuya, maka Tuan akan mudah menemui kami,” demikian kata perempuan empat puluh tahunan itu sambil bangkit dari tidurnya. Aku merasa seolah-olah ditolak oleh mereka.

“Bagaimana kalau Tuan juga berangkat besok? Ibu ini tetap mau menunda keberangkatan sampai besok. Lebih baik melanjutkan perjalanan dengan berkawan. Mari kita berangkat bersama besok saja,” kata si laki-laki dan ditambah oleh perempuan empat puluhan itu.

“Ya begitu saja, Tuan, berangkat besok, ya. Kami minta maaf karena kami berbuat sesuka hait walaupun Tuan sangat baik hati menyertai kami. Walau bagaimana juga besok pasti kami berangkat. Lusa adalah hari yang keempat puluh sembilan untuk memperingati bayi kami yang mati dalam perjalanan. Pada hari itu kami bermaksud hendak mengadakan selamatan ala kadarnya di Shimoda, dan supaya bisa tiba di Shimoda sebelum itu, kami selama ini berjalan bergegas. Sebetulnya saya minta maaf karena memberanikan diri meminta sudi apalah kiranya Tuan datang pada selamatan itu. Saya berani berkata begitu karena kita dapat bergaul seperti ini adalah berkat suatu keajaiban.”

Aku setuju menunda keberangkatanku satu hari dan turun ke bawah.

Sambil menunggu mereka semua bangun, aku bercakap-cakap dengan pelayan rumah penginapan itu di tempat penerimaan tamu. Si laki-laki datang mengajakku berjalan-jalan. Berjalan beberapa lama di jalan raya ke arah Selatan, kami temui sebuah jembatan yang indah. Sambil bersandar pada langkan jembatan itu, ia mulai lagi menceritakan hidupnya. Dikatakannya bahwa ia pernah ikut sebuah kelompok drama modern di Tokyo untuk beberapa lama. Sekarang pun ia sekali-sekali mengadakan pertunjukan drama di pulau Oshima. Pernah kulihat dari bungkusan furoshiki mereka sarung pedang menonjol keluar. Dia berkata bahwa kadang-kadang ia pun meniru-niru main sandiwara di ruang tamu. Di dalam yanagigori ada tersimpan pakaian sandiwara atau alat-alat dapur seperti cawan atau kuali.

“Saya akhirnya jatuh begini karena menyalahgunakan hidupku sendiri, tapi abang saya di Kofu tetap meneruskan usaha keluarga. Jadi boleh dibilang, saya di dunia ini tak ada gunanya lagi.”

“Aku kira Bung ini orang Nagaoka.”

“Oh, begitu. Gadis yang paling tua itu isteri saya. Umurnya satu tahun lebih muda daripada Tuan, jadi sekarang ia sembilan belas dan dalam perjalanan ia melahirkan bayi yang kedua sebelum genap bulannya. Dan bayinya hanya hidup satu minggu saja. Dan isteriku masih belum sembuh benar. Perempuan tua itu ibu kandung isteri saya. Penari itu adik saya.”

“Oh begitu. Saya ingat Bung pernah bilang bahwa punya adik yang berumur empat belas tahun….”

“Dialah maksud saya. Saya tidak ingin adik saya hidup seperti ini, tetapi sayang ada berbagai hal yang memaksa kami hidup begini.”

Lalu ia meneruskan ceritanya bahwa ia bernama Eikichi dan isterinya bernama Chiyoko dan adiknya bernama Kaoru. Dikatakannya pula gadis yang satu lagi bernama Yuriko dan tujuh belas tahun umurnya, dialah yang lahir di pulau Oshima dan mereka mempekerjakannya. Eikichi menjadi sangat sentimental sehingga wajahnya nampak seperti mau menangis dan tetap menatap air sungai yang mengalir.

Sekembali dari berjalan-jalan itu, kudapati si penari yang sudah mencuci bersih bedak dari mukanya, berjongkok di tepi jalan sambil mengelus-elus kepala seekor anjing. Aku mau kembali ke rumah penginapanku sendiri dan berkata kepadanya:

“Silakan datang main-main!”

“Ya, tapi kalau sendirian, bagaimana, ya….”

“Bersama dengan abangmu.”

“Ya, segera kami datang.”

Tak lama kemudian Eikichi datang ke penginapanku.

“Yang lain?”

“Mereka suka dimarahi ibu.”

Tapi sementara kami berdua bermain gomoku narabe, gadis-gadis itu menyeberangi jembatan dan terus naik ke tingkat dua. Seperti biasa mereka duduk di lorong memberi salam dengan hormatnya. Mereka duduk dengan ragu. Yang pertama kali berdiri adalah Chiyoko, yang berkata:

“Ini kamarku, kalian jangan segan-segan, silakan masuk!”

Setelah duduk-duduk kira-kira satu jam, mereka pergi ke tempat pemandian dalam rumah penginapan. Aku berulang kali diajak mereka untuk mandi bersama, tapi karena di antara mereka ada tiga orang perempuan muda aku berbohong dengan berkata bahwa aku mandi nanti saja. Si penari sehabis mandi segera datang kepadaku.

“Saya ingin menggosok bahu Tuan, karena itu silakan mandi sama-sama kami, kata kakak saya,” begitu disampaikannya pesan Chiyoko.

Aku tidak pergi mandi, tapi bermain gomoku narabe dengan si penari. Di luar dugaanku, dia pandai bermain. Kalau bertanding, Eikichi atau perempuan-perempuan yang lain dengan mudah saja kukalahkan. Dalam pertandingan gomoku aku biasanya dapat mengalahkan hampir semua orang. Tapi dengan si penari aku mesti berusaha sekuat tenaga. Aku senang juga karena tak usah berpura-pura salah langkah. Karena kami hanya berdua saja, mula-mula ia harus mengulurkan tangannya jauh-jauh untuk menggerakan batu, tetapi karena semakin asyik bermain, sedikit demi sedikit ia menjadi seakan menutupi papan permainan. Rambutnya yang luar biasa indah itu hampir mengenai dadaku. Tiba-tiba mukanya merah padam dan melompat ke luar membiarkan batunya begitu saja sambil berkata:

“Maafkan, saya akan dimarahi.”

Kelihatan si ibu berdiri di tempat pemandian umum. Chiyoko dan Yuriko juga tergesa-gesa sehabis mandi lari pulang tanpa singgah di kamar tingkat dua.

Hari itu juga Eikichi duduk-duduk di bilik penginapanku dari pagi sampai petang. Induk semang rumah penginapan yang rupanya polos dan lemah-lembut memberi nasihat padaku dengan menyatakan bahwa sangatlah sayang memberi makan kepada makhluk serupa itu.

Pada malam hari  ketika aku mengunjungi rumah penginapan mereka yang sederhana, gadis penari itu sedang berlatih bermain shamisen, diajari oleh si ibu. Ketika melihat aku ia berhenti berlatih, tapi segera mengambil shamisennya kembali karena diperintah oleh si ibu. Setiap kali nada suaranya meninggi, si ibu berkata:

“Bukankah aku bilang supaya jangan mengeluarkan suara?”

Eikichi dipanggil ke ruang tamu tingkat dua ryoriya di sebelah dan kelihatan ia seperti berkecumik.

“Apa itu?”

“Itu utai.”

“Utai? Ganjil juga.”

“Karena dia seorang serba bisa, yaoya, kita tak bisa tahu apa yang akan dipertunjukannya.”

Ketika itu fusuma dibuka oleh seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun yang disebut tukang burung yang menginap juga di situ. Dia memanggil anak-anak gadis dari rombongan penari itu, mau mengajak mereka makan. Gadis penari dan Yuriko sama-sama pergi ke bilik sebelah sambil membawa sunpit. Mereka  mulai makan torinabe sisa tukang burung itu. Ketika mereka kembali ke biliknya, tukang burung itu menepuk bahu si penari perlahan. Wajah si ibu tampak seram menakutkan.

“Hai, jangan sentuh gadis itu, ia masih perawan!”

Si gadis penari berkata kepada si tukang burung, “Paman! Paman!” dan meminta supaya dibacakan cerita Mito Komon Manyuki. Tetapi tukang burung itu berdiri dan pergi. Mungkin karena si  penari tak  berani langsung memintaku untuk membacakannya, maka dia  membujuk si ibu supaya memintaku membacakan buku  itu. Kuambil buku itu dengan sesuatu harapan. Sebagaimana kuharapkan, si penari segera  mendekatiku. Waktu aku mulai membaca, mukanya hampir menyentuh bahuku, dengan wajah bersungguh-sungguh matanya berkilauan menatap dahiku, tidak mengedip. Agaknya begitulah sikapnya kalau dibacakan  buku. Tadi juga mukanya seperti bersatu dengan tukang burung itu. Itu juga tadi kulihat. Hitam matanya yang besar dan berkilau begitu jernih, itulah miliknya yang paling indah. Garis yang berlipat di bawah alisnya begitu jelita, sehingga tak  terkatakan. Dan tawanya seperti bunga. Perumpamaan tawanya seperti bunga, betul-betul tepat untuk melukiskannya.

Tidak lama kemudian datanglah pelayan ryoriya menjemput si  penari. Setelah si penari mengenakan pakaian, ia berkata kepadaku:

“Saya segera akan kembali, harap tunggu  di sini untuk membacakan  sambungan cerita itu.”

Lalu dia keluar ke gang dan menekankan  kedua telapak tangannya ke  lantai memberi hormat.

“Mari!”

“Jangan sekali-kali menyanyi!” kata si ibu dan si penari mengangguk sedikit sambil menjingjing taiko. Si ibu menoleh kepadaku.

“Sekarang saatnya ia berubah suara.”

Si penari duduk di bilik tingkat kedua ryoriya dan memukul taiko. Sosok tubuhnya dari belakang nampak seakan-akan dia berada di ruang tamu  sebelah saja. Bunyi taiko terasa menyegarkan dan membuat hatiku gembira menari.

“Kalau ada taiko, ruang tamu menjadi riang gembira.” Si ibu pun memandang ke arah sana.

Chiyoko dan Yuriko juga pergi ke sana.

Kira-kira satu jam kemudian, mereka berempat kembali bersama-sama.

“Ini saja….” sipenari membiarkan jatuh beberapa keping uang loamperakke telapak tangan siibu. Setelah itu untuk beberapa lama saya membacakan  Mito Komon Manyuki. Lalu mereka berbicara  lagi tentang bayi yang mati dalam perjalanan. Mereka bilang bayi itu  begitu bening seperti air saja. Menangis pun ia tak mampu, tapi masih bernafas selama  seminggu.

Simpatiku yang biasa saja rupanya sudah meresap ke dalam diri mereka karena aku  tidak punya rasa penasaran ataupun  keinginan mengejek mereka, dan aku lupa bahwa mereka adalah jenis makhluk anak wayang keliling. Tanpa setahuku, aku pun sudah mereka tetapkan untuk ikut terus sampaike mereka di Oshima.

“Baik sekali kalau Tuan tinggal di rumah yang sekarang dihuni oleh si kakek. Rumah itu luas  dan kalau si kakek disuruh pergi dari sana, suasananya tenang sekali. Tuan boleh tinggal  sesuka Tuan dan bisa belajar.” Demikian mereka berbicara satu sama lain dan juga kepadaku.

“Kami punya dua buah rumah kecil dan rumah yang ada di gunung boleh dikatakan kosong.”

Sudah mereka tetapkan juga bahwa mereka akan mempertunjukan sandiwara di pelabuhan Habu dengan bantuanku pada tahun baru yang akan  datang.

Ternyata kepadaku perjalanan mereka tidak terburu-buru seperti yang kukira semula, melainkan santai tanpa melewatkan bau ladang. Terasa juga kepadaku mereka semua diikat oleh kasih sayang kekeluargaan karena mereka anak beranak sesaudara. Hanya Yuriko yang mendapat upah, sekarang pada usia mulai tahu malu dan segan, selalu diam-diam saja di depanku.

Lewat tengah malam aku meninggalkan rumah penginapan mereka. Gadis-gadis itu keluar mengantarkan. Si penari mengatur letak getaku. Ia melongokkan kepalanya dari pintu memandang langit yang terang.

“Itu bulan. Besok kita akan berada di Shimoda. Alangkah senangnya! Kita mengadakan selamatan empat puluh sembilan hari kematian bayi itu dan ibu membelikan saya sisir, dan hal-hal lain. Harap Tuan mengajak saya menonton  film.”

Pelabuhan Shimoda itu kota yang diliputi suasana yang dikenang oleh anak-anak wayang yang berkeliling di sekitar Izu dan Sagami sebagai kampung halamannya dalam perjalanan mereka.

*****

yasunari kawabata

Yasunari Kawabata (川端 康成, lahir di Osaka, 14 Juni 1899 – meninggal di Zushi, Kanagawa, 16 April 1972) adalah seorang pengarang Jepang pertama yang memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1968. Karya-karyanya hingga kini masih dibaca bahkan di dunia internasional.

Kawabata menjadi terkenal lewat cerpen Penari Izu yang ditulis pada 1926, karena kisahnya yang mengeksplorasi erotisisme cinta anak muda ini disenangi pembaca. Kawabata memakai tokoh yang melankolis dengan menyelipkan kepahitan dalam kemanisan ceritanya. Kebanyakan karyanya di kemudian hari menjelajahi tema-tema seperti ini.

Cerita Penari Izu ini merupakan terjemahan langsung dari Bahasa Jepang oleh Ajip Rosidi dan Matsuoka Kunio yang diterbitkan dalam kumcer Penari-Penari Jepang.

Kategori
Non Fakta

Penari Izu, Yasunari Kawabata [1/3]

penari izu yasunari kawabata

1

Ketika kukira jalan berliku-liku mendaki yang kutempuh itu mendekati puncak Amagi, hujan pun turun renyai, membuat hutan sugi nampak putih meruap naik dari kaki gunung mengejarku dari belakang.

Usiaku dua puluh. Aku mengenakan topi murid Sekolah Menengah Atas dan memakai hakama di bawah kimono berwarna dasar biru tua dengan corak putih sambil menyandang tas sekolah pada bahu. Hari itu adalah hari yang keempat aku berjalan seorang diri di daerah Izu. Malam pertama aku menginap di pemandian air panas Shuzenji, dua malam berikutnya di pemandian air panas Yugashima dan sekarang menempuh jalan naik menuju ke Amagi dengan memakai geta yang tinggi. Sambil menikmati pemandangan musim gugur di pegunungan dan lembah serta jurang yang dalam, aku berjalan bergegas, dengan hati berdebar karena adanya semacam harapan. Sementara itu butir-butir hujan yang besar-besar mulai berjatuhan menimpa tubuhku. Aku berlari-lari mendaki jalan yang curam dan berliku-liku. Dengan susah payah akhirnya aku tiba di sebuah warung teh yang terletak di sebelah utara puncak Amagi. Aku merasa lega. Namun seketika itu juga aku tertegun di depan pintu masuk warung itu, karena harapanku ternyata terwujud. Betul-betul terwujud. Di sana kudapati serombongan anak wayang yang sedang beristirahat.

Seorang penari wanita yang melihatku tertegun segera bangkit dan menarik zabuton yang dipakainya, kemudian membalikkannya dan menaruhnya di sampingku.

“Oooo,” kataku dan aku duduk di atas zabuton itu. Setelah berlari-lari menempuh jalan yang mendaki aku masih terengah-engah dan begitu terperanjat sehingga ucapan terima kasihku tersekat di kerongkongan.

Karena tepat benar berhadapan dengan penari itu, aku gugup mengambil rokok dari tamoto kimonoku. Penari itu segera mengambil tempat abu rokok dari depan seorang wanita kawannya, lalu meletakkannya di dekatku. Aku diam saja.

Penari itu kukira berumur tujuh belas tahun. Rambutnya diandam besar-besar secara model lama yang aneh bentuknya, sehingga aku pun tidak mengenal nama andaman itu. Andaman rambut itu membuat wajahnya yang berbentuk telur yang anggun itu nampak kecil tetapi menimbulkan keseimbangan yang indah. Ia nampak bagaikan lukisan gadis dalam roman sejarah yang rambutnya dengan sengaja digambar lebih besar. Kawan-kawan anggota rombongannya terdiri atas seorang perempuan yang berumur empat puluhan, dua orang perempuan muda, dan seorang laki-laki yang kira-kira berusia dua puluh lima atau dua puluh enam yang memakai hanten yang bertuliskan nama rumah penginapan di tempat pemandian air panas Nagaoka.

Sebelumnya aku pernah melihat rombongan penari ini dua kali. Yang pertama di dekat jembatan Yugawa, ketika aku sedang menuju ke Yugashima dan rombongan itu sedang menuju ke Shuzenji. Waktu itu dalam rombongan tersebut ada tiga orang wanita muda, dan penari itu menjinjing taiko. Aku berulang kali menoleh untuk memandang mereka dan pada waktu itu aku merasa sayu, perasaan yang biasa dialami oleh orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Pada malam kedua aku di penginapan Yugashima, mereka datang di sana dan menyelenggarakan pertunjukan. Sambil duduk di atas tangga, aku asyik menontonnya menari di atas lantai papan dekat pintu masuk depan. Pada hari sebelumnya mereka menginap di Shuzenji dan malam itu mereka menginap di Yugashima, kukira keesokan harinya mereka pasti menuju ke arah Selatan ke tempat pemandian air panas Yugano dengan melalui puncak Amagi. Aku akan bisa mengejar mereka di tengah jalan gunung yang berliku-liku di sekitar Amagi. Dengan harapan seperti itu aku berjalan bergegas, tapi ternyata aku bertemu dengan mereka di warung teh, ketika berteduh dari hujan. Karena itulah aku gugup.

Tak lama kemudian wanita tua pelayan warung itu memimpinku ke bilik yang lain. Rupanya bilik itu jarang dipakai, serta terbuka ke berbagai arah. Ketika aku melihat ke arah bawah, maka nampaklah jurang indah yang dalam sekali, sehingga dasarnya tak dapat kucapai oleh pandanganku. Bulu romaku berdiri dan aku merasa gamang sedang gigiku gemeletuk. Kepada pelayan tua yang tadi yang datang membawa teh, aku berkata, dingin.

“Oh ya, Tuan basah kuyup. Silakan ke mari dan berdiang sebentar, keringkan pakaian tuan,” sambil berkata begitu perempuan itu mengajakku ke bilik duduknya, hampir menuntunku.

Di kamar itu ada perapian dan ketika kubuka shoji, menyergaplah udara panas dari api. Aku agak ragu-ragu berdiri di ambang. Di dekat perapian itu duduk bersila seorang tua yang badannya agak tembam seperti orang mati tenggelam. Dan dia mengarahkan matanya yang busuk menguning sampaipun pada hitam matanya dengan malas kepadaku. Di sekitarnya bertumpuk-tumpuk surat-surat tua dan kantung kertas dan di tengah-tengah tumpukan kertas itu ia nampak duduk terbenam. Aku tertegun melihat makhluk gunung ganjil yang duduk seperti tak bernyawa itu.

“Saya agak malu Tuan melihat tubuhnya yang memalukan, tapi saya harap Tuan jangan cemas karena ia adalah suami saya yang sudah tua. Mungkin tubuhnya menjijikan orang, tapi karena ia tak bisa bergerak sama sekali saya harap Tuan bisa memaafkannya.”

Begitulah dia minta maaf, lalu dia berbicara tentang suaminya itu, bahwa ia sudah lama lumpuh sehingga seluruh tubuhnya sudah kaku. Tumpukan kertas itu adalah surat-surat dari seluruh negeri yang memberi keterangan tentang penyakit lumpuh tersebut dan kantung-kantung kertas itu adalah bekas wadah obat. Si kakek tua itu kalau mendengar dari pelancong yang lewat di sana, atau melihat iklan dalam surat kabar tentang obat penyakitnya, selalu ia meminta keterangan tentang cara pengobatannya dan selalu membeli obat itu. Dan segala surat dan kantung obat itu tak satu pun dibuang, melainkan ditaruhnya di sekitarnya dan ia terus memandang tumpukan kertas tersebut. Dalam waktu yang sekian lama, akhirnya tumpukan kertas itu membentuk sebuah gunung.

Aku tidak tahu bagaimana menjawab si perempuan tua, melainkan hanya menunduk saja di dekat perapian. Terasa warung teh itu bergegar karena ada mobil yang lewat di jalan. Sekarang musim rontok, tapi udara sudah dingin dan mungkin tak lama lagi puncak ini akan ditutupi salju, tapi aku agak heran mengapa si kakek tidak turun dari sini. Dari pakaianku membubung uap dan nyala api itu kuat sekali sehingga kepalaku terasa pusing. Perempuan itu pergi ke depan dan berbicara dengan perempuan dalam rombongan anak wayang itu.

“Oh, begitu ya. Jadi sudah sebesar ini anak kecil yang dahulu kaubawa ya. Dia nampak baik dan kau beruntung sekali. Dia menjadi secantik ini. Anak gadis memang cepat menjadi besar.”

Kira-kira satu jam kemudian, terdengarlah suara-suara yang menandakan bahwa rombongan itu akan berangkat. Aku pun sebenarnya tak dapat berleha-leha tetapi merasa kikuk dan cemas sehingga tidak berani berdiri untuk pergi. Walaupun mereka sudah biasa berjalan, tapi mereka perempuan. Kalaupun aku ketinggalan satu atau setengah mil, aku akan dapat mengejar mereka dengan lari satu lintasan. Sambil berpikir begitu aku duduk di depan perapian dengan perasaan gelisah. Tetapi setelah rombongan itu berangkat lamunanku melonjak lebih bebas. Aku bertanya kepada pelayan tua yang melepas rombongan itu,

“Mereka menginap di mana malam ini?”

“Makhluk seperti itu tak pernah diketahui dimana akan menginap. Kalau ada peminat dimana saja mereka mau bermalam. Saya kira mereka tak punya rencana akan menginap dimana malam ini.”

Perkataan pelayan tua yang sangat menghina mereka itu, menyinggung perasaanku, sehingga aku sampai berpikir untuk mengundang mereka menginap di kamarku saja.

Hujan mulai tipis mereda, dan puncak-puncak gunung menjadi jelas kelihatan. Walaupun berulang-ulang ditahan oleh pelayan tua itu agar menunggu barang sepuluh menit lagi, kerena sepuluh menit lagi alam akan terang kembali, namun aku tak bisa duduk tenteram.

“Kakek tua, jagalah kesehatan karena udara mulai dingin!” sambil berkata demikian dari dalam hati yang tulus aku pun berdiri. Kakek itu mengangguk sedikit sambil mengejapkan matanya yang kuning seakan-akan pelupuk matanya itu berat sekali.

“Tuan! Tuan!” sambil berteriak demikian pelayan tua itu mengejarku. “Ini terlalu banyak. Maaf…”

Dia mengambil tasku, dan memeluknya seakan tak mau melepaskannya. Dan walau berkali-kali kutolak, ia tetap mau mengantarkan aku beberapa jauhnya. Maka sejauh kurang lebih seratus meter ia terus berlari-lari anjing mengikutiku sambil mengulangi kalimat-kalimatnya yang tadi.

“Ini terlalu banyak. Maaf… Tak saya layani Tuan secara layak. Saya akan selalu mengingat wajah Tuan. Kalau lain kali Tuan singgah, saya akan membalas kebaikan Tuan. Jangan lupa singgah kalau lain kali Tuan lewat di daerah ini. Saya tidak akan melupakan Tuan.”

Karena aku hanya memberinya sekeping logam lima puluh sen, aku merasa terharu sehingga terasa air mataku tergenang. Tetapi aku ingin mengejar rombongan penari itu, maka wanita tua yang terhuyung-huyung mengikutiku itu, terasa agak mengganggu. Ia terus mengikutiku sampai terowongan di puncak.

“Terima kasih, silahkan segera kembali, karena si kakek sendiri saja menunggu!” kataku kepada pelayan tua itu. Dan akhirnya dia menyerahkan tas itu kepadaku.

Begitu masuk terowongan yang gelap, tetesan-tetesan air yang dingin jatuh. Dan di depan, agak jauh, nampak terang mulut terowongan yang menuju ke arah Izu Selatan.

2

Dari tempat keluar terowongan itu terjulurlah jalan yang sebelah sisinya berpagar yang dicat putih, menurun bagaikan ular. Agak jauh di bawah, bagaikan dalam sebuah pemandangan buatan, nampaklah rombongan penari itu. Sebelum aku berjalan kira-kira enam ratus meter, mereka sudah terkejar. Tapi karena aku tak dapat begitu saja memperlambat jalanku, maka aku mendahului mereka seakan-akan tidak mempedulikannya. Laki-laki yang berjalan sekitar lima puluh langkah di depanku segera setelah melihatku, berhenti.

“Sungguh cepat Tuan berjalan. Untung juga cuaca sudah cerah kembali.”

Aku merasa lega dan mulai berjalan bersama dengan laki-laki itu. Ia tak henti-hentinya bertanya kepadaku tentang berbagai macam hal. Melihat kami bercakap-cakap, perempuan-perempuan dari rombongan itu berderap berlari mengejar kami.

Laki-laki itu menggendong sebuah yanagigori yang besar.

Perempuan yang berumur empat puluhan itu mendekap seekor anak anjing dan gadis yang paling tua menjinjing bungkusan dari kain dan gadis yang tengah membawa yanagigori juga. Mereka masing-masing membawa barang bawaan yang cukup besar. Gadis penari itu menggendong taiko dan penyangganya. Perempuan yang berumur empat puluhan itu juga mengajakku bicara sekali-sekali.

“Dia siswa SMA,” bisik anak gadis yang paling tua itu kepada si penari. Ketika aku menoleh kepadanya, ia berkata sambil tersenyum.

“Betul, ‘kan? Saya tahu hal itu. Ada juga siswa SMA yang datang ke pulau kami.”

Rombongan itu orang Habu, pelabuhan di pulau Oshima. Mereka berkata bahwa sejak meninggalkan pulau itu pada musim semi mereka terus mengembara, tapi sekarang udara sudah mulai dingin dan mereka tidak siap untuk menghadapi musim dingin, jadi setelah tinggal kira-kira sepuluh hari di Shimoda, mereka akan pulang ke kampungnya dari tempat pemandian air panas Ito. Ketika mendengar nama pulau Oshima, perasaanku menjadi tergerak. Aku memandangi lagi ambut penari itu yang indah. Aku menanyakan bermacam-macam hal tentang pulau Oshima.

“Banyak mahasiswa yang datang untuk berenang di Oshima, bukan?” kata penari itu kepada kawannya.

“Mungkin pada musim panas, ya,” kataku sambil menoleh kepada si penari. Si penari nampak gugup dan rupanya ia menyahut dalam suara kecil,

“Pada musim dingin juga….”

“Musim dingin juga?”

Si penari tersenyum memandang kepada kawannya.

“Bisa berenang di musim dingin juga?” tanyaku sekali lagi. Si penari mukanya merah padam dan mengangguk sedikit dengan wajah sungguh-sungguh.

“Tolol anak ini!” kata perempuan empat puluhan itu sambil tertawa.

Kami menempuh perjalanan kira-kira dua belas kilometer di jalan menurun sampai di Yugano sepanjang lembah sungai Kawazu. Setelah melewati puncak, warna gunung dan langit pun nampak seperti di daerah Selatan. Aku dan si laki-laki terus berbicara sehingga kami menjadi akrab. Melalui dusun-dusun yang kecil seperti Onigori dan Nashimoto, kami tiba di tempat dari mana nampak atap-atap jerami rumah Yugano di kaki gunung, lalu aku memberanikan diri berkata kepada si laki-laki bahwa aku akan menyertai mereka sampai Shimoda. Ia sangat gembira.

Ketika sampai di rumah penginapan yang sederhana di Yugano, perempuan empat puluhan itu berwajah mau berkata bahwa kami berpisah, tapi si laki-laki berbaik hati berkata,

“Tuan ini mau menyertai kita.”

“Ooo begitu. Dalam perjalanan lebih baik berkawan. Begitu juga dalam hidup, saling tolong-menolong. Mungkin Tuan akan dapat menghilangkan rasa jemu kalau bersama kami, walaupun kami hina. Silahkan naik dan beristirahat sebentar,” sahutnya dengan acuh tak acuh. Gadis-gadis itu serentak melihat kepadaku dan membisu dengan wajah tak peduli, tapi kemudian mereka jadi agak kemalu-maluan memandangku.

Kami sama-sama naik ke bilik tingkat dua dan meletakkan barang-barang. Tatami dan fusuma sudah usang dan kotor. Si penari membawa teh dari bawah. Ketika duduk di depanku wajahnya merah padam dan tangannya gemetar sehingga cangkir teh hampir jatuh dari alasnya, supaya jangan jatuh dia mau meletakkannya di atas tatami, tetapi tertumpah juga. Ia begitu kemalu-maluan sehingga aku sendiri merasa heran.

“Oh, sungguh menjengkelkan! Anak kecil ini rupanya sudah mulai tahu cinta. Bagaimana ini…?” demikian kata perempuan empat puluhan itu takjub sambil mengernyitkan kening, lalu dilemparkannya sehelai handuk. Handuk itu dipungut oleh si penari dan dipelnya tatami dengan perasaan kikuk.

Mendengar perkataannya yang sama sekali di luar dugaan aku jadi merenungi diriku sendiri. Harapanku untuk mengundang mereka dalam bilikku, seperti pernah timbul dalam hatiku ketika mendengar mereka diejek oleh pelayan tua itu, menjadi lenyap.

Sementara itu tiba-tiba perempuan empat puluhan berkata, “Bagus betul pakaian Tuan,” dan ia menatap padaku. “Corak kimono Tuan ini sama benar dengan pakaian anakku Tamizi. Betul ya, coraknya sama, ya?” demikian ia berkali-kali mendesak gadis di sampingnya supaya menyetujui perkataannya, lalu berkata kepadaku pula:

“Di kampung saya ada anakku yang masih bersekolah. Sekarang saya ingat kepadanya, karena corak kimono Tuan kebetulan sama dengan corak kimononya. Sekarang ini mahal sekali corak tenunan begitu. Jadi sangat susah, ya.”

“Sekolahnya di mana?”

“Sekarang dia duduk di kelas lima SD.”

“Oh, di kelas lima…”

“Ia bersekolah di Kofu. Walaupun sudah lama tinggal di Oshima, sebetulnya kami berasal dari Kofu di Kai.”

Sesudah beristirahat kira-kira satu jam, si laki-laki membawaku ke rumah penginapan yang lain. Tadinya aku mengira aku pun akan menginap di rumah penginapan yang sederhana itu bersama dengan mereka. Dari jalan besar kami menyimpang ke lorong berkerikil dan melalui tangga batu lalu berjalan menurun kira-kira seratus meter dan menyeberangi jembatan di samping tempat pemandian umum yang terletak di sebelah anak sungai. Di seberang jembatan itulah halaman penginapan.

Waktu aku mandi berendam dalam pemandian di dalam penginapan itu, datanglah si laki-laki. Dia bercerita bahwa umurnya dua puluh empat dan isterinya mengalami dua kali kematian anak karena keguguran dan karena lahir terlalu dini. Tadinya aku mengira ia orang tempat pemandian air panas Nagaoka, karena dia mengenakan pakaian yang memakai cap tempat itu. Dan karena wajahnya dan caranya bicara cukup terpelajar maka kukira ia suka tertarik kepada apa saja atau jatuh cinta kepada salah seorang gadis anggota rombongan itu, sehingga ia menggabungkan diri sambil membawakan barang-barangnya.

Segera sesudah mandi, aku makan siang. Aku berangkat dari Yugashima pukul delapan pagi, sedangkan waktu itu hampir pukul tiga.

Ketika mau pulang si laki-laki mengucapkan salam sambil menengadah dari halaman.

“Belilah kesemak, ini, maafkan saya melemparkannya dari tingkat atas,” kataku sambil melemparkan bungkusan uang. Dia menolak dan mau berjalan terus, tapi karena dilihatnya uang itu tergeletak di halaman, dia kembali lagi dan memungutnya dan melemparkannya kembali kepadaku sambil berkata,

“Tuan jangan begitu!”

Bungkusan itu jatuh di atas atap jerami. Kulemparkan sekali lagi, kali ini diterimanya dan dibawanya pulang.

Menjelang senja turun hujan lebat. Gunung-gunung yang jauh maupun yang dekat tak kelihatan bedanya, menjadi putih belaka. Air yang mengalir di anak sungai depan penginapan warnanya cepat saja menjadi kuning dan keruh, alirannya menjadi deras. Aku kira dalam hujan selebat itu rombongan penari itu takkan datang mengadakan pertunjukan, tapi aku tak bisa sabar hanya duduk-duduk saja sehingga sampai dua-tiga kali aku pergi mandi. Bilikku taram temaram. Sebuah lampu listrik tergantung pada kamoi menerangi dua buah bilik melalui fusuma penyekat yang dilubangi empat persegi.

Tung-tung-tung-tung… samar-samar kudengar bunyi taiko melalui suara hujan lebat. Aku menggeser pintu seolah-olah mencabiknya saja, lalu melongokan kepala. Bunyi taiko itu terdengar seolah-olah mendekat. Hujan dan angin menerpa kepala. Sambil memejamkan mata dan memasang telinga, aku ingin tahu mereka yang membawa taiko bagaimana bisa sampai ke sini melalui jalan mana. Tak lama kemudian terdengar bunyi shamisen. Juga teriakan perempuan yang panjang-panjang. Juga suara tawa beramai-ramai. Ternyata anak-anak wayang itu diminta mengadakan pertunjukan di ruangan tamu sebuah ryoriya yang terletak berhadapan dengan penginapan mereka. Sekarang dapat kubedakan suara wanita dua-tiga orang dengan suara laki-laki tiga-empat orang. Aku menunggu dengan harapan bila mereka sudah selesai mengadakan pertunjukan di sana, akan datang ke tempatku. Tapi rupanya minum-minum sake itu terlalu ramai sehingga boleh dikatakan ribut saja. Kadang-kadang terdengar pekik wanita membelah kegelapan malam seperti halilintar. Aku menajamkan sarafku dan tetap duduk dengan pintu terbuka. Setiap mendengar bunyi taiko itu, dadaku menjadi lega sedikit.

“Penari itu masih duduk di tempat minum-minum sake, sambil memukul taiko.”

Kalau bunyi taiko itu berhenti, aku merasa tak tahan. Seolah tenggelam ke dasar gemercik hujan.

Beberapa lama kemudian terdengar derap langkah, entah karena mereka berkejar-kejaran entah karena menari berputar-putar, lalu tiba-tiba berhenti dan suasana hening. Aku menajamkan mata. Aku mencoba melihat mengapa sebabnya maka suasana menjadi hening. Aku ingin melihat menembus gelap malam. Aku risau jangan-jangan si penari dinodai orang malam ini.

Bahkan setelah aku membaringkan diri di atas futon sesudah menutup pintu geser itu, dadaku tetap risau. Aku pergi mandi lagi. Dengan ganas aku mengaduk air panas. Hujan berhenti dan bulan terbit. Malam musim gugur yang dicuci oleh hujan menjadi terang sejernih-jernihnya. Aku kira aku takkan bisa berbuat apa-apa walaupun aku lari ke luar dari tempat mandi dengan kaki telanjang. Waktu sudah lewat jam dua.

*****

yasunari kawabata

Yasunari Kawabata (川端 康成, lahir di Osaka, 14 Juni 1899 – meninggal di Zushi, Kanagawa, 16 April 1972) adalah seorang pengarang Jepang pertama yang memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1968. Karya-karyanya hingga kini masih dibaca bahkan di dunia internasional.

Kawabata menjadi terkenal lewat cerpen Penari Izu yang ditulis pada 1926, karena kisahnya yang mengeksplorasi erotisisme cinta anak muda ini disenangi pembaca. Kawabata memakai tokoh yang melankolis dengan menyelipkan kepahitan dalam kemanisan ceritanya. Kebanyakan karyanya di kemudian hari menjelajahi tema-tema seperti ini.

Cerita Penari Izu ini merupakan terjemahan langsung dari Bahasa Jepang oleh Ajip Rosidi dan Matsuoka Kunio yang diterbitkan dalam kumcer Penari-Penari Jepang.